2 SMA di Kudus Terapkan Lima Hari Sekolah

Warga melintas di depan gedung SMA 1 Kudus, Jumat. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Dua SMA di Kudus sudah menerapkan progam sekolah full day school (FDS) lima hari. Yakni SMA 1 Kudus dan SMA 2 Kudus.  FDS sudah diterapkan beberapa hari lalu.

Plt Kepala SMA 1 Kudus, Sutarsih, didampingi Waka Kurikulum, Teguh, mengatakan bahwa sesuai dengan surat edaran Gubernur Jawa Tengah yang diterima. SMA/SMK sederajat akan diberlakukan lima hari sekolah. Untuk itu sekolahnya segera menerapkan hal tersebut.

“Ini sudah berjalan semenjak Senin (17/7/2017) lalu. Dan Rencananya akan diberlakukan selama satu semester ini, sesuai dengan pedoman surat edaran gubernur,” kata Sutarsih.

Menurut dia,  penerapan sekolah sehari penuh itu siswa harus masuk pada pukul 06.40 WIB. Kemudian akan pulang pada pulang pukul 15.45 WIB. Sementara khusus Jumat, para siswa akan masuk pada pukul 06.40 WIB dan pulangnya pukul 15. 15 WIB. Dan tiap hari, kegiatan ekstrakurikuler dilakukan mulai pukul 16.00 WIB hingga 17.30 WIB.

“Istirahat pertama  dilakukan pada jam 09.15 WIB sampai jam 09.30 WIB.   Istirahat kedua dari jam 11.45 WIB hingga  12.45 WIB. Pada istirahat kedua digunakan untuk makan siang, dan salat,” terangnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

PCNU Kudus Akan Sampaikan Keberatannya Soal Full Day School ke Presiden di Semarang


Ketua PCNU Kudus Abdul Hadi. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – PCNU Kudus akan mendatangi undangan halal bihalal dari PWNU Jateng di Kota Semarang, Sabtu (22/7/2017) malam. Mereka akan mendelegasikan 18 orang anggota, guna memenuhi undangan tersebut. Direncanakan, acara akan didatangi Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Ketua PCNU Kudus Abdul Hadi, menyatakan, pihaknya akan memenuhi undangan tersebut. “Dalam kesempatan itu, kami akan ikut menyampaikan ke pak presiden agar mempertimbangkan Full Day School,” katanya kepada MuriaNewsCom di Kudus, Kamis (20/7/2017).

Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tentang 5 Hari Sekolah itu memang memunculkan banyak pro-kontra. Pihaknya menuturkan beberapa dampak Full Day School. Pemberlakuan full day school ditinjau dari berbagai sisi lebih banyak mengandung madlarat (bahaya) daripada mashlahatnya (manfaatnya). Dari sisi kultural, mengancam pendidikan karakter yang selama ini diajarkan di dalam madrasah diniyah. Dari sisi sarana dan prasarana masih banyak sekolah, bahkan rata-rata, belum memadai.

Dia membeberkan dampaknya, di antaranya pada kegiatan agama siswa. Seperti kegiatan hari Jumat, yang mana kesulitan dalam​ menjalankan ibadah sholat Jumat, karena lokasi yang terbatas. Tak hanya itu, sekolah diniyah juga akan kacau. Sekolah yang sampai sore, dipastikan mengurangi jumlah siswa di TPQ dan madrasah diniyah. Dan itu akan menggangu mereka dalam memahami agama.

“Kami juga sudah bertemu dengan Disdikpora Kudus. Kepada mereka, kami sampaikan jangan sampai kebijakkan dilaksakan. Jika sampai berjalan, sekolah dasar yang akan kena imbasnya,” ucapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Sekolah di Jepara Tolak Gagasan Mendikbud “Full Day School” 

Ali Maftuh-Dikpora e

Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Jepara Ali Maftuh. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Mayoritas sekolah di Kabupaten Jepara menolak wacana sekolah sehari penuh atau “Full Day School”, yang dikeluarkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy baru-baru ini. Penolakan itu terlihat ketika wacana Full Day School diwacanakan oleh Gubernur Jawa Tengah.

“Ini diwacanakan oleh Mendikbud. Sebelumnya juga ada wacanakan sekolah sehari dari Gubernur Ganjar. Saat diwacanakan oleh Gubernur, hasil voting SD dan SMP menolak dan merasa keberatan,” ujar Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Jepara Ali Maftuh, Selasa (9/8/2016).

Menurutnya, alasan yang disampaikan sekolah, sebagian besar siswa SD di Jepara setelah pulang sekolah, pada siang hari menempuh studi di madrasah diniah. Sementara, bagi siswa SMP alasan penolakannya berkait transportasi umum.

“Di Jepara, transportasi umumnya kan tidak sampai sore. Rata-rata siswa SMP dari berbagai daerah, sehingga kalau pulang sore kendalanya di transportasi juga,” kata Ali.

Ia menambahkan, di Jepara rata-rata siswa tingkat SD hingga SMP juga berstudi di madrasah, atau Taman Pendidikan Quran (TPQ). Madrasah itu, mulai siang sampai sore hari. Malamnya anak-anak belajar di rumah. Menurut dia, mengajarkan ilmu agama tidak cukup kalau hanya mengandalkan pelajaran di sekolah saja

Hal itu juga disampaikan salah satu wali murid SD di Kecamatan Nalumsari, Nur Kholis. Menurutnya, kebutuhan anak tidak hanya bekal pendidikan di sekolah. Pertumbuhan kepribadian anak juga membutuhkan bersosialisasi di masyarakat.

“Kalau anak pulang sore, terus kapan kesempatan bermain dengan teman di tengah-tengah masyarakat,” kata Kholis kepada MuriaNewsCom.

 

Editor : Akrom Hazami