Tim Ahli Purbakala Mulai Buatkan Replika Fosil Stegodon di Banjarejo Grobogan

Tim ahli purbakala mulai melakukan tahapan pembuatan replika fosil stegodon di lokasi penemuan di areal sawah di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Tim ahli purbakala dari sejumlah instansi masih terus melakukan kegiatan penelitian dan penyelamatan temuan fosil stegodon di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan.

Setelah melakukan serangkaian penelitian dan pengumpulan data, tim ahli mulai mengerjakan tahapan selanjutnya. Yakni, membuat replika fosil stegodon di lokasi penemuan di areal sawah di Dusun Kuwojo.

Kades Banjarejo Ahmad Taufik menyatakan, pembuatan replika dilakukan oleh empat tim ahli. Masing-masing, dua orang dari BPSMP Sangiran dan dua orang lainnya dari BPCB Jawa Timur.

“Pembuatan replika juga dibantu beberapa orang dari Komunitas Peduli Fosil Banjarejo.

Diperkirakan butuh waktu 10 hari untuk pembuatan replika fosil sampai jadi,” jelasnya, Jumat (11/8/2017) .

Taufik menyatakan, ada beberapa tahapan yang dilakukan dalam pembuatan replika tersebut. Antara lain, membuat negatif di atas fosil. Setelah itu baru membuat cetakan positifnya dan dilanjutkan pengecatan.

Setelah replika jadi, fosil asli di lokasi penemuan akan diangkat guna dilakukan konservasi. Usai pengangkatan replika gantian ditempatkan di lokasi penemuan yang nantinya akan dijadikan sebagai museum lapangan.

Editor : Akrom Hazami

Ganjar Pranowo Dukung Pendirian Museum Purbakala di Banjarejo Grobogan

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Bupati Grobogan Sri Sumarni saat melangsungkan kunjungan ke  lokasi penemuan fosil gajah purba jenis stegodon di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo, Rabu (2/8/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mendukung upaya pendirian museum purbakala di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan. Hal itu disampaikan Ganjar saat melangsungkan kunjungan ke  lokasi penemuan fosil gajah purba jenis stegodon di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo, Rabu (2/8/2017).

Sebelum ke lokasi penemuan fosil, Ganjar sempat singgah sebentar di rumah Kades Ahmad Taufik. Tujuannya, untuk melihat ratusan koleksi benda purbakala dan cagar budaya yang sudah ditemukan dalam beberapa tahun terakhir. Alunan musik tradisional berupa kotekan lesung menyambut kedatangan Ganjar bersama Bupati Grobogan Sri Sumarni.

“Potensi purbakala di Desa Banjarejo ini luar biasa sekali. Saya selaku gubernur akan mendorong agar di Banjarejo bisa berdiri sebuah museum purbakala. Jadi, nanti kita punya museum Sangiran dan Banjarejo,” tegasnya.

Ganjar menyatakan, dia sudah menjalin komunikasi intensif dengan bupati dan balai purbakala supaya kawasan Banjarejo ditetapkan sebagai sebuah situs. Tujuannya, agar potensi yang ada bisa dilindungi dan diselamatkan.

Menurut Ganjar, dengan adanya museum nantinya Desa Banjarejo akan bisa jadi destinasi wisata baru di Jawa Tengah. Selain itu, dengan potensi purbakala yang luar biasa diharapkan bisa jadi tempat penelitian oleh banyak pihak.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Setelah Diperlebar, Ditemukan Lagi Fosil Hewan Purba di Banjarejo Grobogan

Fosil hewan purbakala baru ditemukan di lokasi penemuan stegodon di Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)obog

MuriaNewsCom, Grobogan – Pelebaran lokasi penemuan fosil gajah purba jenis stegodon di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, membawa hasil yang mengejutkan. Hal ini menyusul ditemukannya beberapa fosil hewan purbakala baru di lokasi pelebaran.

Fosil yang ditemukan ini boleh dibilang juga cukup mengejutkan. Sebab, bukan merupakan fosil dari potongan tubuh stegodon. Tetapi, berasal dari spesies hewan purbakala jenis lainnya.

Kades Banjarejo Ahmad Taufik menyatakan, sedikitnya ada beberapa potongan fosil yang sudah terlihat.  Antara lain, satu potongan fosil berbentuk seperti tanduk. Kemudian, ada beberapa potongan fosil gigi buaya. Benda purbakala baru ini ditemukan pada areal pelebaran di sebelah utara lokasi ditemukannya fosil stegodon.

“Fosil berbentuk tanduk diperkirakan dari spesies banteng purba. Untuk kepastiannya, masih akan diteliti oleh tim ahli purbakala yang masih melangsungkan penelitian lapangan di lokasi,” jelasnya.

Dijelaskan, dalam upaya penyelamatan temuan fosil gajah purba jenis stegodon memang dilakukan pelebaran areal penemuan, sejak beberapa hari lalu. Semula luas areal penemuan fosil stegodon berukuran 4 x 5 meter saja. Kemudian, lokasinya akan dilebarkan hingga ukuran sekitar 10 x 10 meter.

Menurut Taufik, pelebaran areal itu dilakukan untuk memudahkan dalam upaya penyelematan temuan fosil. Selain itu, langkah ini juga bertujuan untuk mendeteksi kemungkinan masih adanya potongan fosil disekitarnya.

“Dari perkiraan tim ahli, sekitar lokasi itu masih ada fosil yang terpendam. Makanya, areal perlu dilebarkan untuk memastikan prediksi tersebut. Prediksi ini ternyata akurat dengan munculnya fosil baru,” katanya.

Selain melebarkan lokasi penemuan, tim ahli sebelumnya juga sudah melakukan beberapa kegiatan. Yakni, mengumpulkan berbagai data lapangan dan mendokumentasikan lokasi dan fosil yang sudah terlihat.

Editor : Akrom Hazami

 

Tim Ahli Purbakala Mulai Kaji Penemuan Fosil Stegodon di Banjarejo Grobogan

Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Sukronedi (baju biru) saat meninjau lokasi penemuan fosil stegodon di Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Upaya penyelamatan temuan fosil gajah purba jenis stegodon di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus mulai dilakukan tim ahli purbakala dari beberapa instansi. Pada tahap awal, tim ahli masih akan melakukan kajian di lokasi penemuan fosil yang berada di areal sawah di Dusun Kuwojo.

“Ada beberapa tahapan yang kita lakukan dalam upaya penyelamatan temuan fosil stegodon. Tahap pertama kita lakukan kajian dulu,” kata Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Sukronedi, Kamis (13/7/2017).

Menurut Sukron, sebelum melangsungkan kajian, pada bulan puasa lalu pihaknya sudah menurunkan tim kecil ke Banjarejo buat melakukan observasi lapangan. Setelah melihat kondisi di lapangan, fosil yang ditemukan ternyata di luar prediksi.

“Ternyata fosil yang sudah terlihat terdiri dari beberapa bagian tubuh satu individu hewan purba. Ini merupakan temuan yang sangat luar biasa. Semula kita perkirakan penemuan fosil biasa seperti sebelumnya,” jelasnya.

Dari observasi lapangan dan data awal yang didapat, tim memutuskan tidak akan buru-buru mengangkat fosil dari dalam tanah. Sebab, tim akan melakukan penelitian dan mengumpulkan banyak data dari lokasi penemuan fosil tersebut.

“Penemuan fosil terbaru di Banjarejo ini sangat istimewa. Di situs Sangiran saja belum pernah ditemukan fosil gajah purba atau stegodon selengkap ini. Sebelumnya, fosil stagodon yang ditemukan cukup lengkap ada di situs Pati Ayam, Kudus,” jelasnya.

 

Sukron menjelaskan, tim yang dikirimkan ke Banjarejo saat ini cukup lengkap dan berasal dari berbagai latar belakang keahlian. Tim ini akan melakukan penelitian, pengkajian, penyelamatan dan mengungkap nilai-nilai penting dari penemuan benda purbakala terbaru yang ada di Banjarejo.

“Kajian dan penelitian kita lakukan sampai September. Untuk pengangkatan fosil kita lakukan pada tahap terakhir setelah kajian dan penelitian rampung,” tambah Sukron.

selain BPSMP, ada instansi lain yang akan mengirimkan tim ahli. Antara lain, Balai Arkeologi Yogyakarta, Balai Konservasi Borobudur, Balai Pelestarian Cagar Budaya Jateng. Kemudian, dukungan juga akan diberikan dari Dinas Kebudayaan Jateng, Disporabudpar Grobogan serta komunitas fosil Banjarejo.

 

Editor : Akrom Hazami

7 Ribu Pengunjung Hadiri Pameran Purbakala di Grobogan

Pengunjung pameran purbakala di gedung Wisuda Budaya pada hari terakhir masih tetap ramai (MuriaNewsCom / Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pelaksanaan pameran purbakala yang diselenggarakan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran untuk pertama kalinya dinilai sukses. Indikasinya, dalam pameran yang berlangsung selama lima hari itu dibanjiri pengunjung.

“Kita baru pertama bikin pameran di Grobogan. Namun, animo pengunjung saya nilai luar biasa. Terima kasih pada semua pihak yang ikut mendukung pelaksanaan pameran purbakala ini,” kata Kepala BPSMP Sangiran Sukronedi, Selasa (28/3/2017).

Ia berharap, dari pelaksanaan pameran bisa mendatangkan manfaat bagi pengunjung. Setidaknya, mereka punya tambahan pengetahuan seputar dunia kepurbakalaan. Baik yang berasal dari Museum Sangiran maupun benda purbakala yang ditemukan di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus.

Pameran yang dilangsungkan di gedung Wisuda Budaya ini dibuka Jumat (24/3/2017). Pada hari pertama, jumlah pengunjung hanya berkisar 600 orang.

Kemudian pada dua hari berikutnya, Sabtu dan Minggu, jumlah pengunjung membeludak. Dalam dua hari tersebut, pengunjung per hari hampir mencapai angka 2.000 orang.

Banyaknya pengunjung pada dua hari ini disebabkan adanya penambahan jam buka pameran hingga pukul 21.00 WIB, khusus untuk Sabtu dan Minggu. Sebelumnya, pameran dibuka hingga pukul 18.00 WIB.

Pada Senin kemarin, jumlah pengunjung sekitar 1.600 orang. Sedangkan, pada Selasa ini atau hari terakhir, pengunjung yang melihat koleksi benda purbakala masih terus mengalir. Hingga pukul 17.00 WIB atau satu jam sebelum ditutup, pengunjung yang datang tercatat sudah lebih dari 1.500 orang.

“Menjelang penutupan, masih banyak pengunjung yang datang. Selama lima hari pameran disini, pengunjung selalu ramai,” kata penanggung jawab pameran Iwan Setiawan.

Iwan menyatakan, selain menyampaikan informasi langsung pihaknya juga membagikan buku sejarah Museum Sangiran pada pengunjung pameran. Total buku yang dibagi sekitar 200 eksemplar. 

Editor : Akrom Hazami

Warga Selfie Bareng Manusia Purbakala di Grobogan

Pengunjung pameran purbakala sedang bersiap selfie di dekat patung manusia purba Homo Erectus (MuriaNewsCom / Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Keberadaan rekonstruksi tiga patung manusia purba Homo Erectus dalam pameran pubakala yang diselenggarakan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran menjadi daya tarik paling banyak bagi pengunjung. Indikasinya, sebagian besar pengunjung menyempatkan diri untuk berfoto ria dengan patung tersebut.

Tiga patung manusia purba ini terdiri laki-laki, perempuan, dan anak. Patung ini diletakkan pada tengah lokasi pameran di tempat yang dibuat mirip sebuah taman dan dihiasi pohon kertas.

“Pameran ini merupakan kesempatan bagus untuk melihat dari dekat benda-benda purbakala. Selama ini, benda-benda ini hanya diketahui dari buku atau lewat internet,” kata guru IPS MTs Manba’ul A’laa Purwodadi Eka Kristiana yang mengunjungi pameran bersama ratusan siswa.

Menurut Eka, pada pemeran hari pertama ini, dia mengajak sekitar 100 siswa. Rencananya, semua siswa akan diajak menyaksikan pameran purbakala secara bergiliran hingga hari terakhir.

“Saya sangat mengapresisasi adanya pameran purbakala ini. Sebab, bisa jadi kesempatan bagi anak-anak untuk belajar dan melihat langsung aneka koleksi benda purbakala. Oleh sebab itu, saya usahakan supaya semua siswa bisa berkunjung. Terlebih pengunjung pameran ini tidak dipungut biaya alias gratis,” imbuhnya.

Hingga sore hari, sudah ada ratusan orang yang berkunjung ke tempat pameran di gedung Wisuda Budaya Purwodadi. Sebagian besar pengunjung yang datang adalah para pelajar dari sejumlah sekolah yang ada di Purwodadi. Meski demikian, banyak juga masyarakat umum yang juga berdatangan ke lokasi pameran.

Rencananya, pameran bakal digelar hingga 28 Maret mendatang. Pameran dibuka mulai pukul 09.00-18.00 WIB.

Editor : Akrom Hazami

Ratusan Pelajar Kunjungi Pameran Purbakala di Gedung Wisuda Budaya Grobogan

Sejumlah pelajar sedang serius mengamati fosil manusia purba yang dipajang dalam pameran purbakala di Gedung Wisuda Budaya (MuriaNewsCom / Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pameran purbakala yang diselenggarakan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran tampaknya mendapat sambungan hangat. Indikasinya, sudah ada ratusan orang yang berkunjung ke tempat pameran di gedung Wisuda Budaya Purwodadi pada hari perdana, Jumat (24/3/2017).

Sebagian besar pengunjung yang datang adalah para pelajar dari sejumlah sekolah yang ada di Purwodadi. Meski demikian, banyak juga masyarakat umum yang juga berdatangan ke lokasi pameran. Rencananya, pameran bakal digelar hingga 28 Maret mendatang. Pameran dibuka mulai jam 09.00-18.00 WIB.

Kepala BPSMP Sangiran Sukronedi menyatakan, tujuan digelarnya pameran adalah untuk menyebar luaskan informasi kepurbakalaan, baik dari Sangiran dan Banjarejo bagi masyarakat luas.

Khususnya, buat kalangan pelajar. Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Grobogan untuk memobilisasi siswa sekolah guna menyaksikan pameran sekaligus menimba ilmu kepurbakalaan.

“Bagi pengunjung pameran tidak dipungut biaya alias gratis. Oleh sebab itu, kami berharap pameran nanti bisa dimanfaatkan untuk menambah pengetahuan,” kata Sukron yang sudah terlihat di lokasi pameran sejak pukul 08.00 WIB.

Editor : Akrom Hazami

 

Koleksi Purbakala Museum Sangiran Bakal Dipamerkan di Grobogan

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Grobogan – Puluhan koleksi purbakala yang tersimpan di Museum Sangiran dalam waktu dekat bakal bisa disaksikan di Grobogan. Sebab, pihak Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran akan mengadakan pameran di Kota Purwodadi.

“Lokasi pameran akan ditempatkan di gedung Wisuda Budaya Purwodadi. Jadwalnya, dari tanggal 24-28 Maret,” ungkap Kepala BPSMP Sangiran Sukronedi, saat dihubungi lewat ponselnya, Selasa (21/3/2017).

Menurut Sukron, dalam pameran nanti, pihaknya sudah menyiapkan aneka koleksi yang bakal dipajang. Antara lain, rekonstruksi patung keluarga manusia purba Homo Erectus. Terdiri dari laki-laki, perempuan dan anak.

Selain itu, aneka benda purbakala lainnya juga sudah disiapkan. Seperti fosil hewan laut, gajah dan banteng yang usianya berkisar 500 ribu tahun.

Kemudian ada pula serangkaian acara pemutaran film tentang kepurbakalaan dan sejarah berdirinya Museum Sangiran. Di samping koleksi dari situs Sangiran, pihaknya juga akan menampilkan aneka benda purbakala yang ditemukan di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus.

“Jadi tidak hanya koleksi Sangiran saja yang akan dipamerkan. Kita juga sediakan stan khusus untuk benda-benda purbakala dari Banjarejo,” jelasnya.

Sukron menyatakan, tujuan digelarnya pameran adalah untuk menyebar luaskan informasi kepurbakalaan, baik dari Sangiran dan Banjarejo bagi masyarakat luas.

Khususnya, buat kalangan pelajar. Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Grobogan untuk memobilisasi siswa sekolah guna menyaksikan pameran sekaligus menimba ilmu kepurbakalaan.

“Bagi pengunjung pameran tidak dipungut biaya alias gratis. Oleh sebab itu, kami berharap pameran nanti bisa dimanfaatkan untuk menambah pengetahuan,” imbuhnya. 

Editor : Akrom Hazami

Perhiasan Emas Kuno yang Ditemukan di Banjarejo Grobogan Ternyata Replika Bunga Padma

Warga menunjukkan replika dari bunga Padma, yang lazim digunakan pada masa era Hindu di Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Anggapan banyak pihak yang menyatakan jika perhiasan emas yang ditemukan di Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, adalah jenis bunga mawar atau teratai ternyata salah. Sebab, berdasarkan penjelasan Kepala Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah Tri Hartono, penemuan terbaru di Banjarejo itu diidentifikasikan replika dari bunga Padma.

“Bunga Padma lazim digunakan pada masa Hindu. Jadi kemungkinan besar, perhiasan emas itu merupakan peninggalan era Hindu,” katanya pada wartawan di Grobogan, Senin (6/3/2017).

Menurutnya, bunga Padma dalam sudut pandang Hindu melambangkan kesucian. Diperkirakan, perhiasan yang ditemukan itu umurnya sudah ratusan tahun.

Terkait dengan maraknya penemuan benda bersejarah di Desa Banjarejo perlu adanya penetapan lokasi sebagai situs. Untuk prosedur penetapannya melalui serangkaian tahapan mulai dari BPCB Jateng, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Grobogan, Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Grobogan dan Bupati Grobogan.

“Penetapan situs ini penting agar tidak terjadi kerusakan di lokasi yang diduga kuat memiliki banyak benda bernilai historis,” ungkap Tri.

 Baca juga : 

Heboh,Emas Berbentuk Bunga Mawar Muncul dari Bumi Banjarejo Grobogan

Perhiasan Emas Berbentuk Bunga Mawar yang Ditemukan di Sawah Ini Sempat Dikira Barang Mainan

 

Seperti diberitakan, bentuk perhiasan emas berbentuk bunga yang ditemukan di Banjarejo ukurannya tidak terlalu besar. Panjang dari ujung kuncup bunga hingga pangkal tangkainya sekitar 4 cm. Lebar kelopak bunga antar ujungnya juga berkisar 4 cm.

Bagian bunga dalam perhiasan yang diduga sebuah tusuk konde itu ada beberapa lapisan. Paling bawah ada lima helai kelopak bunga yang sudah mekar.

Sementara di atasnya ada beberapa helai yang akan mekar dan ada yang terlihat masih seperti kuncup. Dibagian bawah kelopak terdapat tangkai bunga sepanjang 2 cm yang juga berlapis emas.

“Ukuran perhiasan ini memang tidak terlalu besar. Beratnya sekitar 7,6 gram,” ungkap Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik.

Perhiasan ini ditemukan Sugiyanto, warga Dusun Medang bertepatan dengan Hari Jadi ke-291 Kabupaten Grobogan, Sabtu (4/3/2017) kemarin. Lokasi penemuannya berada di areal sawah di Dusun Medang. Tepatnya, sekitar 100 meter di selatan tanah keramat yang diyakini sebagai tempat berdirinya bangunan keraton kerajaan Medangkamulan.

Editor : Akrom Hazami

Selama 2 Pekan, Puluhan Benda Purbakala Banjarejo Grobogan Akan Pindah Tempat

Aktivitas penelitian fosil di Banjarejo, Gabus, Kabupaten Grobogan, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bagi yang ingin berkunjung ke Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, untuk melihat benda bersejarah sebaiknya ditunda dulu. Sebab, mulai Minggu (26/2/2017) besok hingga dua pekan mendatang, sebagian besar benda bersejarah di Banjarejo akan dipindahkan ke lapangan Kelurahan Grobogan, Kecamatan Grobogan.

Kades Banjarejo Ahmad Taufik menyatakan, dipindahkannya sebagian koleksi itu dalam rangka memeriahkan pameran budaya yang digelar dalam rangka memperingati HUT ke-291 Kabupaten Grobogan. Pihak panitia meminta partisipasi supaya koleksi benda purbakala dan cagar budaya dari Banjarejo bisa ditampilkan dalam pameran tersebut.

“Kita ikut menyemarakkan pameran dengan membawa koleksi kesana. Kalau tidak salah, acaranya sampai 12 Maret bertempat di lapangan sepak bola Kelurahan Grobogan. Selain dari Banjarejo, ada berbagai stan lainnya yang berpartisipasi dalam pameran,” jelasnya.

Terkait dengan agenda tersebut, Taufik meminta bagi masyarakat yang ingin melihat koleksi benda purbakala atau cagar budaya supaya datang saja ke Kelurahan Grobogan selama pameran. Sebab, hampir 70 persen koleksinya dipajang dalam pameran tersebut.

“Bagi yang mau lihat koleksi silakan nanti datang ke acara pameran. Soalnya sebagian besar koleksi kita bawa kesana. Yang dirumah tinggal sedikit,” ujar Taufik.

Editor : Akrom Hazami

 

Diguyur Hujan Deras, Puluhan Warga Banjarejo Grobogan Tetap Betah Nonton Film di Balai Desa

Warga menonton film tentang purbakala di Balai Desa Banjarejo, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski cuaca hujan deras, acara pemutaran film yang digelar Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran di Balai Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus tetap digelar, Kamis (16/2/2017) malam. Puluhan warga, mulai anak-anak hingga orang tua tetap berdatangan untuk melihat tontonan gratis tersebut.

Pemutaran film dimulai sekitar pukul 19.30 WIB. Beberapa peralatan yang sebelumnya ditempatkan di halaman terpaksa dipindah di teras balai desa lantaran kena guyuran hujan. Sebuah film dokumenter berisi perjalanan sejarah purbakala hingga berdirinya Museum Sangiran jadi tontonan perdana. Film ini berdurasi sekitar 30 menit. Setelah itu, ada satu film lagi yang diputar. Yakni, film petualangan dengan titel ‘Para Pemburu Gajah’.

Film petualangan ini mengisahkan keberanian lima orang anak yang sedang berkemah untuk menyelamatkan seekor anak gajah Sumatera dari incaran pemburu. Lima anak ini merasa terpanggil untuk menyelamatkan gajah Sumatera karena populasinya sudah terancam punah. Dalam film ini juga mengisahkan kekompakan dan kesetiakawanan anak-anak tersebut dalam upaya menyelamatkan anak gajah tersebut.“Filmnya bagus. Kebetulan, saya senang sama binatang gajah,” kata Faris, salah seorang bocah yang menyaksikan pemutaran film tersebut.

Kades Banjarejo Ahmad Taufik mengaku salut dengan animo warganya yang tetap bersedia hadir menyaksikan pemutaran film meski kondisi hujan deras sejak magrib. “Saya perkirakan ada 50 orang yang hadir di sini. Kalau cuaca cerah, yang nonton di balaidesa pasti penuh orang,” katanya, di sela-sela pemutaran film.

Taufik menilai, pemutaran film Para Pemburu Gajah dinilai sangat cocok. Sebab, film itu mengisahkan sebuah usaha untuk menyelamatkan sesuatu yang dinilai sangat berharga supaya keberadaannya tetap lestari. “Dari film ini saya berharap bisa memicu semangat warga untuk ikut menyelamatkan barang berharga yang adai di Banjarejo. Yakni, benda purbakala dan cagar budaya,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala BPSMP Sangiran Sukronedi menyatakan, selama dua pekan, pihaknya melangsungkan kegiatan penelitian di Banjarejo. Di sela-sela penelitian, ada beberapa kegiatan lain yang dilakukan. Yakni, menggelar sosialisasi pelestarian benda purbakala dan pemutaran film. 

Editor : Akrom Hazami 

Temukan Fosil di Banjarejo Grobogan, Ini Cara Merawatnya Agar Tak Rusak

Warga Desa Banjarejo mengikuti acara sosialisasi yang diselenggarakan BPSMP Sangiran di balai desa setempat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Kepala BPSMP Sangiran Sukronedi membeberkan cara merawat benda purbakala saat ditemukan. Hal itu bertujuan agar fosil tidak rusak. Itu disampaikan di Balai Desa Banjarejo Grobogan, Kamis (16/2/2017).

Menurut Sukronedi, ada beberapa hal yang perlu disampaikan pada masyarakat terkait dengan banyaknya penemuan benda purbakala atau cagar budaya di Desa Banjarejo dalam beberapa tahun terakhir. Antara lain soal Undang-Undang No 11 tahun 2010 tentang cagar budaya. Penyampaikan materi ini sangat penting agar masyarakat bisa paham dengan masalah tersebut.

Selanjutnya, masalah penyelamatan terhadap temuan yang terjadi juga disampaikan pada masyarakat. Utamanya, perihal pengangkatan fosil yang terpendam di dalam tanah. “Idealnya, kamilah yang melakukan pengangkatan, namun karena kondisi tertentu warga boleh melakukan pengangkatan fosil. Meski demikian, tata cara pengangkatan itu perlu kita berikan agar tidak terjadi kesalahan atau kerusakan,” kata Sukron.

Selain kehati-hatian, ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan dalam pengangkatan fosil. Misalnya, peralatan yang perlu disiapkan, dokumen foto posisi fosil sebelum diangkat dari berbagai sudut. Tidak kalah penting yang perlu dilakukan adalah mencatat data terkait pengangkatan fosil. Seperti, arah mata angin dari posisi fosil yang ditemukan, ukuran kedalaman tanah atau penggalian.

Kemudian, sebelum ditutup lagi lokasi penemuan, perlu diberi tanda dengan plastik atau bahan lainnya pada tempat fosil berada.  Ini penting jika suatu saat dilakukan lagi penggalian untuk memeriksa sampel tanah yang ada disitu. Dengan adanya tanda maka penelitian bisa dilakukan dengan tepat.

Satu hal lagi, setelah ditutup atau diuruk, lokasi penemuan hendaknya diberi tanda. Misalnya, dikasih tiang pancang dari kayu atau bambu untuk memudahkan mencari lokasi tersebut dikemudian hari.

Editor : Akrom Hazami

Jejak Manusia Purba Ditemukan di Banjarejo Grobogan, Ini Indikasinya

Ketua Tim Penelitian BPSMP Sangiran Wahyu Widianta (kaos hitam) dan Kades Banjarejo Ahmad Taufik menunjukkan bola batu yang berhasil ditemukan . (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan  – Perkiraan banyak pihak jika ada manusia purba yang sempat hidup di sekitar Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, tampaknya mulai mendekati kebenaran. Hal ini menyusul adanya penemuan benda terbaru yang didapat Tim dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran saat melangsungkan penelitian di Desa Banjarejo sejak 10 hari lalu.

Benda yang ditemukan ini berupa bola batu. Jumlahnya ada tujuh. Sesuai namanya, benda ini bentuknya bulat. Benda ini hampir seukuran bola yang dipakai untuk olahraga tolak peluru. Bola batu ada yang bentuknya bulat simetris dan ada yang pinggirnya agak pipih seperti disayat. Bola batu paling besar berdiameter sekitar 10 cm dan yang kecil sekitar 7 cm. Beratnya sekitar 0,5 sampai 1 kg.

“Bola batu ini kita perkirakan merupakan salah satu peralatan yang dipakai manusia purba. Tepatnya, untuk alat berburu. Di Museum Sangiran sudah ada banyak koleksi bola batu,” Ketua Tim Penelitian BPSMP Sangiran Wahyu Widianta saat ditemui di Desa Banjarejo, Kamis (16/2/2017).

Bola batu berwarna kuning emas itu bisa digunakan berburu dengan cara dilemparkan pada sasaran yang dituju. Biasanya, hewan berukuran kecil semisal kijang. Bisa juga digunakan dengan diikat dengan tali sepanjang 1-1,5 meter, kemudian diputar dengan tangan dan dilemparkan pada sasaran. “Dalam film-film ada cara berburu seperti itu. Yakni, menggunakan batu yang diikat dengan seutas tali,” terang pengkaji pengembangan situs manusia purba BPSMP Sangiran itu.

Menurut Wahyu, bola batu itu ditemukan dalam kotak eskavasi yang bertempat di tegalan Dermo di sebelah utara Dusun Nganggil. Bola batu ditemukan saat dilakukan penggalian tanah di kotak eskavasi pada kedalaman 80 cm sampai 1,7 meter.  Dengan adanya bola batu maka kemungkinan adanya manusia purba yang hidup di sekitarnya cukup besar. Hanya saja, lokasi pasti di mana pusat peradaban manusia purba masih perlu diteliti lebih lanjut.

Wahyu menambahkan, selain bola batu, ada peralatan hidup lainnya dari batu yang digunakan manusia purba. Seperti, batu pipih berbentuk seperti pisau atau kapak untuk memotong benda keras. Ada juga ujung batu runcing tipis yang biasanya dipakai untuk menyayat atau menguliti hewan buruan. “Ada juga peralatan yang dibikin dari patahan tulang hewan besar dan kulit kerang yang keras dan ujungnya tajam,” imbuhnya. 

Editor : Akrom Hazami

Penemuan Fosil di Banjarejo Grobogan Melimpah, Proses Identifikasi Dilembur

Tim Ahli Purbakala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran saat melangsungkan kegiatan penelitian di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Hasil yang didapat tim Ahli Purbakala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran saat melangsungkan kegiatan penelitian di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus di luar prediksi. Benda purbakala yang ditemukan jumlahnya melebihi perkiraan.

Kades Banjarejo Ahmad Taufik menyatakan, selama 10 hari di Banjarejo, tim dari BPSMP Sangiran sudah berhasil menemukan hampir 500 potongan fosil. Ratusan fosil yang ditemukan itu terdiri dari berbagai ukuran. Mulai sebesar ibu jari sampai sebesar lengan orang dewasa.

“Terus terang, saya sendiri juga kaget dengan hasil yang didapat dari penelitian kali ini. Jumlahnya banyak banget,” kata Taufik, Rabu (15/2/2017).

Dibandingkan saat penelitian bulan Maret tahun 2016, jumlah fosil yang ditemukan kali ini dinilai lebih banyak. Jumlah potongan fosil yang didapat kemungkinan masih bisa bertambah lagi. Sebab, tim ahli masih terus melakukan penelitian di lapangan.

“Untuk lokasi penemuan potongan fosil tersebut berada di banyak tempat. Mulai dari pinggiran Sungai Lusi di sebelah utara Desa Banjarejo hingga di Dusun Ngrunut dan Medang. Hingga hari ini, tim ahli masih di lapangan untuk melanjutkan penelitian,” katanya.

Menurut Taufik, banyaknya benda purbakala yang ditemukan itu menyebabkan tim peneliti cukup kewalahan dan butuh waktu lembur untuk melakukan proses identifikasi. Yakni, menentukan jenis hewan dan bagian tubuh apakah potongan fosil tersebut. Misalnya, potongan tanduk, ekor, kepala, gigi, kaki atau bagian tubuh lainnya.

“Proses identifikasi ini harus spesifik dan dikasih label. Potongan fosil  dipilah-pilah berdasarkan bagian tubuh maupun jenis hewannya. Lantaran jumlahnya banyak sekali, tim identifikasi harus lembur sampai dini hari,” jelasnya.

Jenis hewan purba berdasarkan fosil yang ditemukan selama ini berasal dari sekitar 12 spesies binatang. Antara lain, gajah, badak, kuda nil, penyu, banteng, kerbau, buaya, kerang, antelope, menjangan, hiu dan hewan laut lainya.

Pelaksanaan penelitian rencananya akan berakhir Sabtu (18/2/2017) mendatang. Sebelum mengakhiri kegiatan, proses identifikasi potongan fosil yang ditemukan sudah harus rampung. Oleh sebab itu, pelaksanaan identifikasi terpaksa dilembur agar selesai sesuai tenggat waktu yang ditentukan.

Editor : Akrom Hazami

Obok-obok Banjarejo, Tim PurbakalaSangiran Temukan Ratusan Fosil

Tim Ahli Purbakala BPSMP Sangiran melakukan penelitian di Banjarejo dan berhasil memukan ratusan fosil hewan purba. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski sudah banyak ditemukan, koleksi benda purbakala di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus belum habis. Buktinya, dalam sepekan terakhir, berhasil ditemukan ratusan potongan fosil hewan purba di berbagai lokasi.

Benda purbakala ini bukan ditemukan warga setempat, seperti biasanya. Tetapi, didapatkan Tim ahli purbakala dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran yang melangsungkan penelitian di Desa Banjarejo, sejak seminggu lalu.

“Selama seminggu sudah banyak potongan fosil yang ditemukan tim ahli BPSMP Sangiran. Kira-kira ada 250 potongan fosil hewan purba,” jelas Kades Banjarejo Ahmad Taufik, Senin (13/2/2017).

Ratusan fosil yang ditemukan itu terdiri dari berbagai ukuran. Mulai sebesar ibu jari sampai sebesar lengan orang dewasa. Saat ini, fosil yang ditemukan masih dikumpulkan dan nantinya akan diidentifikasi.

Untuk lokasi penemuan potongan fosil tersebut berada di banyak tempat. Mulai dari pinggiran Sungai Lusi di sebelah utara Desa Banjarejo hingga di dusun Ngrunut dan Medang.

“Sudah banyak titik yang digali oleh tim ahli. Rencananya, mereka disini hingga 18 Februari mendatang,” kataTaufik.

Kepala BPSMP Sangiran Sukronedi menyatakan, tim peneliti yang ditugaskan ke Banjarejo berjumlah sekitar 12 orang yang terdiri dari berbagai latar belakang keahlian. Penelitian ini merupakan tindaklanjut dari kegiatan serupa yang dilakukan bulan Maret 2016 lalu.

Kegiatan penelitian nanti hampir sama dengan yang dilakukan tahun lalu. Yakni, melakukan penelitian, pengkajian dan mengungkap nilai-nilai penting dari penemuan benda purbakala terbaru yang ada di Banjarejo. Misalnya, soal struktur tanah, dan titik penemuan benda purbakala. Kemudian tim akan melakukan upaya konservasi, registrasi, dan identifikasi penemuan benda purbakala terbaru

“Kegiatannya hampir sama dengan tahun 2016. Namun, areal penelitian akan diperluas lagi. Hal itu untuk menentukan zona perlindungan situsnya,” kata Sukron.

Editor : Akrom Hazami

Banjarejo Grobogan, Desa Fosil yang Terus Ngehits

Akrom Hazami red_abc_cba@yahoo.com

Akrom Hazami
red_abc_cba@yahoo.com

PERSOALAN pariwisata yang kurang tergarap, atau setengah hati dipedulikan, kerap terjadi di sejumlah daerah. Biasanya, ribuan alasan mengemuka dan akan dibenturkan dengan keterbatasan. Khususnya cara dan bagaimana suatu objek wisata bisa dikembangkan.

Tapi itu tidak berlaku bagi wilayah yang pintar. Wilayah yang cerdas mengembangkan potensinya menjadi nilai wisata dan menguntungkan. Untung untuk warga, untung untuk pengelola, dan untung pula bagi pemerintah kabupatennya.

Di antaranya adalah Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan. Berkat kreativitas yang tiada henti, Banjarejo menjelma menjadi desa wisata yang bikin penasaran masyarakat. Pentolan warganya adalah Kades Banjarejo Ahmad Taufik. Lewat tangan dinginnya, dan dukungan warga, upaya pengembangan wisata nan kreatif pun dilakukan. Selain desa ini punya potensi yang menjual, pengemasan menarik pun juga ditempuh.

Alhasil, nama desa ini kian diperhitungkan sebagai objek wisata kekinian. Desa Banjarejo dulunya tak begitu dikenal. Beberapa waktu terakhir, di desa ini kerap ditemukan benda purbakala. Satu di antaranya adalah ditemukannya fosil gajah purba stegodon. Gajah purba yang diperkirakan pernah hidup di Banjarejo dua juta tahun lalu pun meninggalkan jejaknya.

Stegodon adalah gajah purba raksasa yang hidup di masa Pleistosen. Fosil gajah purba yang ditemukan adalah kepala, rahang, kaki, dan gading. Fosil itu tersimpan rapi di rumah milik Taufik. Rumah kades tersebut kini jadi museum dadakan. Fosil gading berukuran 2,83 meter jadi hal yang mengundang perhatian. Selain juga ada fosil kepala kerbau raksasa, yang ukurannya bikin penasaran warga.

Lantas, apakah warga puas punya museum dadakan? Tidak. Warga mengemas wisata dengan elegan. Kades melakukan survei ke sejumlah tempat, seperti di Magelang dan Sleman DIY. Hasilnya, ide cerdas pun dibawa. Singkatnya, warga menyediakan areal cantik untuk berfoto. Dengan segala modifikasi ciamik, mereka ingin memanjakan wisatawannya. Tentu ini jadi surga bagi mereka yang berhobi foto selfie atau swafoto.

Selain ditempatkan di rumahnya yang jadi museum, photobooth juga disediakan di lokasi wisata alam bekas sumur minyak tua yang dikenal dengan nama Buran. Tempat pengeboran minyak tersebut, sekarang ini jadi salah satu favorit pengunjung yang datang ke Desa Banjarejo. Lokasi lainnya adalah di tanah tegalan milik Mbah Lamidi. Jarak sumur dari perkampungan penduduk sekitar satu kilometer jauhnya dan tempatnya memang agak terpencil.

Bentuk sumur ini menyerupai lingkaran dengan diameter 7 meter dan kedalamannya diperkirakan lebih dari 10 meter. Dari jarak sekitar 5 meter dari sumur sudah tercium bau menyengat, seperti bau solar. Sumur minyak ini merupakan sisa peninggalan zaman Belanda. Lokasi Buran ini menarik dan unik. Sekarang, banyak pengunjung yang minta diantar kesana setelah melihat koleksi benda bersejarah di museum.

Tak heran jika masa libur tiba, Desa Wisata Banjarejo selalu mengundang daya tarik pengunjung. Seperti libur Imlek, beberapa hari lalu, wisatawan mencapai sekitar 500 orang. Saat Natal dan Tahun Baru 2017 lalu, jumlah wisatawannya mencapai 1.000 orang. Mereka datang dari dalam kota, dalam provinsi, hingga luar provinsi.

Apa yang dilakukan Banjarejo, bisa ditiru dan dimodifikasi di daerah lain. Tanpa bantuan pemerintah, wisatanya tetap bisa maju. Semangat pantang menyerah, dan terus berinovasi, membuat desa wisata dikenal dengan sendirinya. (*)

Tim Ahli Purbakala BPSMP Sangiran Bakal Gelar Penelitian Lagi di Banjarejo Grobogan

 

 

Tim ahli purbakala dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran saat melangsungkan penelitian di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus bulan Maret 2016 lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tim ahli purbakala dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran saat melangsungkan penelitian di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus bulan Maret 2016 lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Tim ahli purbakala dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran dijadwalkan bakal melangsungkan penelitian lagi di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. Rencananya, kegiatan penelitian akan dilangsungkan pertengahan Februari mendatang.

“Iya, kita ada rencana gelar penelitian lagi di Banjarejo. Nanti pada minggu kedua bulan Februari,” ungkap Kepala BPSMP Sangiran Sukronedi saat dihubungi lewat ponselnya, Selasa (17/1/2017).

Menurutnya, tim peneliti yang ditugaskan ke Banjarejo berjumlah sekitar 12 orang yang terdiri dari berbagai latar belakang keahlian. Penelitian ini merupakan tindaklanjut dari kegiatan serupa yang dilakukan bulan Maret 2016.

Kegiatan penelitian nanti hampir sama dengan yang dilakukan tahun lalu. Yakni, melakukan penelitian, pengkajian dan mengungkap nilai penting dari penemuan benda purbakala terbaru yang ada di Banjarejo. Misalnya, soal struktur tanah, dan titik penemuan benda purbakala. Kemudian tim akan melakukan upaya konservasi, registrasi, dan identifikasi penemuan benda purbakala terbaru

“Kegiatannya hampir sama dengan tahun 2016. Namun, areal penelitian akan diperluas lagi. Hal itu untuk menentukan zona perlindungan situsnya,” kata Sukron.

Sementara itu, Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik ketika dimintai komentarnya mengaku senang dengan bakal adanya penelitian lagi yang dilakukan pihak BPSMP Sangiran. “Saya barusan dapat pemberitahuan dari BPSMP Sangiran soal bakal adanya penelitian lagi di sini. Kami sangat berterima kasih atas perhatian yang diberikan pihak BPSMP,” katanya.

Menurutnya, pada penelitian tahun lalu, banyak hal yang sudah dilakukan tim ahli BPSMP selama melangsungkan penelitian hampir sebulan lamanya. Antara lain, mereka sudah berhasil mengidentifikasi ratusan potongan fosil purba yang sudah berhasil ditemukan selama beberapa waktu terakhir.

“Kalau boleh saya bilang, kerja tim ahli dari BPSMP saat penelitian lalu luar biasa. Ratusan fosil yang ada sudah teridentifikasi,” katanya.

Dari proses identifikasi yang sudah dilakukan, potongan fosil itu berasal dari 17 jenis hewan purba. Antara lain, gajah, badak, kuda nil, penyu, banteng, kerbau, buaya, sapi, hiu, babi, antelop, menjangan dan kerang.

Selain jenis hewan, potongan fosil yang ada juga bisa diidentifikasi berdasarkan bagian tubuhnya. Misalnya, potongan tanduk, ekor, kepala, gigi, kaki atau bagian tubuh lainnya.

Dengan teridentifikasinya fosil tersebut nantinya akan banyak manfaat yang didapat. Seperti memudahkan dalam menata dalam tempat penyimpanan. Yakni, dengan mengelompokkan fosil berdasarkan jenis hewannya.

“Selain itu, tim ahli juga berhasil merekonstruksi fosil gading gajah purba dan sempat ikut menemukan fosil gading lagi saat penelitian di sini. Jadi, banyak sekali bantuan yang kita dapat dari penelitian tahun lalu. Kita harapkan, dalam penelitian nanti lebih banyak lagi hasil yang didapatkan,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

Budi Setyo Utomo, Perangkat Desa Banjarejo yang Jago Menemukan Benda Purbakala

 

Budi Setyo Utomo saat menyerahkan penemuan kepala banteng purba pada Bupati Grobogan Sri Sumarni ketika peresmian Desa Wisata Banjarejo bulan Oktober 2016. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Budi Setyo Utomo saat menyerahkan penemuan kepala banteng purba pada Bupati Grobogan Sri Sumarni ketika peresmian Desa Wisata Banjarejo bulan Oktober 2016. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Melihat penampilannya yang sederhana dan bersahaja memang terkesan biasa saja. Tetapi, siapa sangka di balik kesederhanaannya, pria ini ternyata punya talenta luar biasa. Yakni, mampu mendeteksi keberadaan benda purbakala yang ada di desanya.

Ya, pria ini adalah Budi Setyo Utomo yang sehari-harinya menjabat sebagai Kaur Kesra Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. Banyaknya temuan benda purbakala di Banjarejo tidak bisa dipisahkan dengan sosok pria berusia 37 tahun itu.

Dari cerita warga setempat, Budi memang sudah lama dikenal mahir untuk mendeteksi keberadaan fosil yang terpendam dalam tanah.

Selain yang berukuran kecil, beberapa fosil berukuran besar juga sudah ditemukan yang akrab dipanggil Mbah Modin itu. Antara lain, penemuan fosil kepala kerbau raksasa pada bulan September 2015. Kemudian, beberapa bulan berikutnya, Budi

berhasil mengendus keberadaan fosil gading gajah purba dan bagian tempurung kepala banteng purba. Beberapa waktu sebelumnya, beragam potongan fosil juga bisa ditemukan di lokasi yang berbeda tetapi masih di kawasan Desa Banjarejo.

Temuan terbaru adalah fosil kepala banteng purba yang berusia hampir 1 juta tahun. Fosil ini sempat diperlihatkan pada Bupati Grobogan Sri Sumarni saat meresmikan Desa Wisata Banjarejo akhir Oktober lalu.

“Kehebatan Pak Budi dalam urusan fosil sudah tidak diragukan lagi. Bahkan, beberapa warga memberikan julukan Profesor Fosil padanya,” ungkap beberapa warga Banjarejo.

Meski bukti hasil penemuannya sudah tidak terhitung banyaknya namun saat dikonfirmasi masalah ini, Budi selalu bersikap merendah. Ia selalu mengaku tidak punya keahlian khusus dalam masalah penemuan fosil.

“Apa yang diceritakan orang itu saya kira terlalu berlebihan. Saya hanya kebetulan saja bisa menemukan fosil-fosil ini. Dalam menemukan fosil ini saya hanya belajar dari alam dan insting. Saya tidak punya ilmu khusus apalagi japa mantra buat mendapatkan fosil,” kata lulusan MTs itu.

Dari pengalaman yang dimiliki, Budi menyatakan jika potensi fosil yang ada di desanya masih cukup banyak. Hampir semua dusun menyimpan kekayaan fosil. Hanya saja, kedalaman fosil yang terpendam dalam tanah itu berbeda-beda.

Meski demikian, untuk bisa mengeluarkan fosil itu bukan pekerjaan mudah. Sebab, butuh dana untuk penggalian serta peralatan yang lebih memadai. Harapannya, pihak terkait nantinya bisa mengambil alih upaya penggalian dan dia siap membantu untuk memperlihatkan kekayaan purbakala yang tersimpan di bumi Banjarejo.

Bapak dua anak itu mengaku bangga karena selama ini, sudah ribuan orang yang berkunjung ke Banjarejo untuk melihat koleksi benda purbakala dan cagar budaya. Dia juga merasa bangga karena berhasil bertemu dengan salah satu pengunjung ternama. Yakni,  ahli arkeologi ternama di dunia dari Perancis, Profesor Francois Semah beserta istrinya Anne Marie Semah, Rabu (30/11/2016).

“Saat kesini saya sempat bertemu dan berharap mereka mau melakukan penelitian kesini. Mereka menjajikan akan datang tahun depan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik mengakui jika jasa perangkatnya dalam penemuan fosil purbakala itu sangat besar. Dia berharap, agar dalam waktu mendatang bisa ditemukan lagi benda purbakala untuk menambah koleksi yang saat ini masih tersimpan di rumahnya.

Editor : Akrom Hazami

Pecinta Fosil Banjarejo Grobogan Belajar ke Museum Sangiran

uplod jam 17 museum sangiran (e)

Anggota Komunitas Pecinta Fosil (Komcil) Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus melangsungkan kunjungan ke Museum Purbakala Sangiran untuk menimba ilmu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Anggota Komunitas Pecinta Fosil (Komcil) Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus mendapat kesempatan istimewa. Yakni, menimba berbagai ilmu seputar dunia purbakala. Hal itu didapatkan, ketika mereka diajak Kades Banjarejo Ahmad Taufik piknik.

“Jangan salah, lho. Pikniknya ini lokasinya bukan di pantai, gunung atau tempat keramaian. Tetapi di Museum Purbakala Sangiran,” kata Taufik, Kamis (28/4/2016).

Menurutnya, ada 18 orang yang dibawa ke Sangiran untuk melihat aneka koleksi benda purbakala yang ada. Semua anggota Komcil itu adalah warga Desa Banjarejo.

Mereka inilah, selama ini yang menjadi salah satu bagian penting dalam penemuan benda purbakal di Banjarejo.  Sudah seringkali mereka ini menemukan fosil purba dan selanjutnya diserahkan agar menjadi tambahan koleksi dari penemuan sebelumnya.

“Upaya pelestarian benda purbakala di Banjarejo selama ini sudah didukung banyak pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Salah satunya adalah anggota komunitas ini. Salah satu yang jago menemukan fosil adalah Pak Budi Setyo Utomo. Dia ini adalah perangkat desa yang menjabat Kaur Kesra Dusun Kuwojo,” cetus Taufik.

Ia menjelaskan, tujuan ke Sangiran bukan untuk rekreasi. Tetapi lebih dari itu, yakni untuk belajar mengenai benda purbakala yang ada.

Selain melihat bentuk aneka benda purbakala, anggota komunitas bisa bertanya lebih jauh dengan pakar yang ada di museum tersebut. Kebetulan, sebagian ahli purbakala itu sudah dikenal baik karena sempat ikut dalam penelitian di Banjarejo, bulan Maret lalu.

“Koleksi di Banjarejo saat ini sudah tambah banyak. Tetapi dibandingkan dengan di Sangiran belum ada apa-apanya. Makanya, inilah kesempatan baik untuk menimba ilmu. Dengan demikian, kalau nanti ada pengunjung yang datang ke Banjarejo, mereka setidaknya bisa memberikan penjelasan,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :

Gara-gara Fosil, Kades Banjarejo Grobogan jadi Pemandu Dadakan

Gara-gara Fosil, Kades Banjarejo Grobogan jadi Pemandu Dadakan

uplod jam 21 kades dadi pemandu foisl (e)

Para pelajar dari sedang berkunjung ke Banjarejo untuk melihat koleksi benda purbakala dan cagar budaya yang ada. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Kades Banjarejo, Kecamatan Gabus Ahmad Taufik seharian ini, Selasa (26/4/2016) terpaksa harus bertugas jadi guide atau pemandu. Karena seharian, ada ratusan pelajar yang bertandang ke rumahnya. Tujuannya, untuk melihat ratusan koleksi benda purbakala maupun cagar budaya yang untuk sementara memang disimpan di rumahnya.

Ada dua rombongan pelajar dari dua sekolah yang datang. Pagi harinya, ada puluhan siswa SDN 02 Bendoharjo, Kecamatan Gabus yang berkunjung ditemani beberapa guru.

Beberapa saat setelah rombongan ini pulang, giliran siswa dari MA Al Mubarok, Kecamatan Ngaringan yang datang. Jumlah rombongannya sekitar 50 orang termasuk guru dan kepala sekolahnya.

Adanya kunjungan ini sudah pasti bikin Taufik lumayan sibuk. Soalnya, dia harus memberikan penjelasan pada berbagai pertanyaan yang dilontarkan pada siswa tersebut.

“Semaksimal mungkin, saya jelaskan pada mereka apa yang tadi sempat ditanyakan. Karena memang bukan ahlinya maka saya hanya bisa menjelaskan secara umum saja. Untungnya, berbagai benda purbakala ini sudah banyak dikasih label oleh tim dari BPSMP Sangiran saat melangsungkan penelitian bulan Maret lalu,” jelas pria yang punya hobi mendaki gunung itu.

Menurutnya, pada pertengahan bulan Maret lalu, ada kunjungan ratusan siswa SMPN 2 Ngaringan. Selain melihat koleksi benda bersejarah, mereka ini sengaja datang ke Banjarejo untuk merayakan dies natalis ke-14 SMPN 2 Ngaringan. Di samping itu, juga ada siswa dari beberapa sekolah baik dari Grobogan dan luar kota yang sudah datang ke desanya.

“Selama ini, memang sudah banyak pengunjung dari rombongan siswa sekolah. Saya selaku kepala desa, mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian dari semua pihak yang sudah bersedia datang ke Banjarejo. Terus terang, kepedulian mereka kesini sudah membuat kami bahagia,” terang Taufik.

Editor : Akrom Hazami

2 Siswa Temukan Fosil di Banjarejo Grobogan, Keren!

uplod jm 13 (e)

Irfan (kiri) dan Abrori, menunjukkan fosil temuan yang akan diserahkan pada Kades Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Kepala Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Ahmad Taufik, kaget didatangi dua bocah di rumahnya, Senin (25/4/2016). Dua bocah yang baru kelas dua di SDN 02 Banjarejo itu datang untuk menyerahkan fosil yang ditemukan sehari sebelumnya.

“Saya tadi sudah di kantor ketika ditelepon kalau ada tamu dua anak SD tersebut. Saya kira tadi ada suatu masalah yang menimpa dua anak ini. Ternyata mereka datang untuk menyerahkan temuan fosil,” kata Taufik.

Menurutnya, kedua bocah tersebut masing-masing Abrori dan Irfan. Abrori menyerahkan delapan fosil potongan gigi hewan purba. Yakni, 3 gigi gajah, 4 gigi banteng, dan 1 gigi babi. Sedangkan temuan Irfan berupa 1 gigi buaya sungai.

“Abrori menemukan fosil tersebut saat bermain di pinggiran sungai di Dusun Nganggil. Sedangkan Irfan dapat fosilnya di pekarangan rumahnya sendiri,” jelas Taufik.

Penyerahaan fosil dilakukan sembari keduanya berangkat sekolah. Kebetulan, letak sekolah dan rumah Taufik saling berhadapan.

“Murid kelas dua itu kebetulan masuknya agak siang, jam 9.30 WIB. Keduanya tadi ke sini sekitar jam 08.30 WB. Sebelum jam masuk, saat istirahat atau setelah pulang, biasanya anak-anak itu pada lihat-lihat koleksi fosil,” terangnya.

Ia menambahkan, beberapa minggu sebelumnya juga sudah ada sejumlah anak yang membawa potongan benda untuk diperlihatkan. Dari benda-benda tersebut, sebagian ternyata merupakan fosil dan ada pula yang berupa batuan biasa.

“Dalam sebulan terakhir ada beberapa bocah yang datang sambil menyerahkan benda temuan. Setelah dicek, ternyata benda yang dibawa ada yang merupakan potongan tubuh hewan purba. Fosil potongan tubuh beberapa hewan purba itu ditemukan bocah-bocah itu ketika bermain dipinggiran sawah,” katanya.

Ia menambahkan, selama ini, anak-anak di desanya sering dilibatkan untuk membersihkan fosil yang baru ditemukan. Langkah ini sebagai salah satu upaya edukasi pada mereka agar peduli dengan benda bersejarah di desanya.

Taufik mengaku sangat bangga dengan langkah anak-anak yang mau menyerahkan benda purbakala yang ditemukan. Sebagai bentuk penghargaan, anak-anak yang menemukan benda purbakala itu dia berikan hadiah khusus.

“Hadiahnya tidak istimewa kok. Mereka ada yang saya belikan bakso kelilingan atau tak kasih ikan lele,” cetusnya sembari tertawa.

Selama ini, dia pun sudah mengimbau kepada semua warganya agar bersedia menyerahkan benda bersejarah yang ditemukan untuk dikumpulkan jadi satu di “Museum Purbakala Banjarejo”.

“Selain anak-anak, banyak orang tua yang sudah menyerahkan benda temuan kesini. Baik, benda purbakala berupa fosil maupun benda cagar budaya. Kesadaran warga untuk menyerahkan benda temuan sekarang ini makin meningkat dan ini sangat membanggakan,” pungkas Taufik.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :

Fosil Gading Gajah Satu Juta Tahun Ditemukan lagi di Banjarejo 

 

Fosil Gading Gajah Satu Juta Tahun Ditemukan lagi di Banjarejo

Seorang pengunjung Museum Banjarejo sedang mengamati potongan gading gajah purba yang baru ditemukan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Seorang pengunjung Museum Banjarejo sedang mengamati potongan gading gajah purba yang baru ditemukan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebuah fosil gading gajah purba berhasil ditemukan lagi di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Senin (18/4/2016). Gading yang diperkirakan berusia satu juta tahun itu berhasil ditemukan oleh beberapa anggota Komunitas Fosil Banjarejo secara tidak sengaja.

Ceritanya, selepas hujan deras yang mengguyur Desa Banjarejo pada siang hari, beberapa anggota komunitas mencoba mengecek lokasi tebing di pinggiran kebun jati yang ada di sebelah utara Dusun Barak. Hal itu dilakukan karena setelah hujan biasanya tebing yang di bawahnya ada parit kecil itu sering longsor.

“Nah saat melakukan observasi di situ, memang tebingnya longsor. Di antara longsoran itu ternyata ada gading gajah purba. Setelah ditemukan, gading itu langsung diserahkan pada saya,” kata Kades Banjarejo, Ahmad Taufik.

Sayangnya, gading yang ditemukan ini kondisinya tidak utuh. Kira-kira hanya hanya sepertiga bagian. Yakni dari bagian tengah hingga ujung. Sementara bagian tengah hingga bawah tidak ada.
“Kemungkinan bagian yang lainnya sudah lapuk. Potongan gading ini panjangnya 70 cm, lebar bawah 10 cm dan ujungnya 4 cm,” terangnya.

Menurutnya, sekitar sebulan sebelumnya, tepatnya Senin (21/3/2016) di lokasi yang sama juga berhasil ditemukan gading gajah purba. Gading ini ditemukan tim ahli purbakala dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran yang saat itu tengah melangsungkan penelitian di Desa Banjarejo.

“Lokasi penemuan gading oleh tim Sangiran juga sama di situ. Lokasi penemuan hanya berjarak sekitar 3 meteran saja,” sambungnya.

Gading yang ditemukan tim dari itu kondisinya utuh tetapi patah jadi 10 bagian. Panjangnya sekitar 2 meter. Lebar pangkal gading sekitar 15 cm dan dibagian ujungnya 7 cm. Saat ini, gading ini masih berada di Sangiran untuk direkonstruksi.

Taufik menambahkan, pada November tahun 2015 lalu, juga ada penemuan gading gajah purba di Dusun Peting. Meski berhasil diangkat dari dalam tanah, namun fosil gading gajah purba itu juga tidak bisa utuh. Tetapi mengalami patah-patah hingga jadi 13 potong atau bagian. Ukuran fosil gading tersebut hampir sama dengan yang ditemukan tim dari Sangiran.

Editor : Akrom Hazami

 

Baca juga : Penampakan Benda Cagar Budaya di Banjarejo Grobogan yang Baru Ditemukan

Mau Cari Ungker Jati, Warga Banjarejo Ini Malah Dapat Fosil Gajah Purba

Fosil berupa potongan rahang gajah purba bagian atas yang disimpan di rumah Kades Banjarejo tengah dibersihkan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Fosil berupa potongan rahang gajah purba bagian atas yang disimpan di rumah Kades Banjarejo tengah dibersihkan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Penemuan fosil berupa potongan rahang gajah purba bagian atas ternyata terjadi secara kebetulan. Awalnya, si penemu fosil, yakni Kaur Kesra Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo Budi Setyo Utomo bermaksud mencari ungker atau ulat di areal kebun jati milik Dul Karman yang ada di Dusun Ngrunut.

Dalam beberapa hari terakhir, memang banyak warga Banjarejo yang kerja sambilan mencari ungker jati. Soalnya, ada orang dari luar daerah yang bersedia menampung ungker jati tersebut. Kebetulan, saat ini banyak sekali ungker yang memakan daun-daun jati.

”Daripada nganggur di rumah, saya akhirnya ikut-ikutan cari ungker di kebun jati milik warga. Selain dimakan, ungker ini katanya juga dipakai buat pakan burung,” kata Budi Setyo Utomo.
Ketika mencari ungker di kebun jati tersebut, kaki Budi sempat tersandung benda keras yang tersembul dari dalam tanah. Semula, benda keras itu dikira sebuah batu biasa. Namun, setelah diamati dan diperhatikan lebih teliti, benda itu ternyata potongan fosil hewan purba.

Bagi Budi, untuk membedakan batu biasa dengan fosil bukan pekerjaan sulit. Pasalnya, selama ini, dia sudah puluhan kali menemukan fosil yang terpendam di wilayah Desa Banjarejo. Lantaran seringnya menemukan fosil, pria ini dijuluki Profesor purbakala oleh warga setempat.

”Setelah tahu benda ini potongan fosil hewan purba, saya lalu menghubungi Pak Kades dan beberapa orang warga untuk melakukan penggalian. Ada dua titik yang digali di kebun jati itu. Satu titik penggalian ketemu fosil rahang purba dan satu lokasi lagi ada beberapa potongan tubuh hewan purba lainnya,” kata Budi.

Menurutnya, lokasi penemuan itu sebelumnya dinilai tidak ada fosil yang terpendam di dalamnya. Malah, sekitar 200 meter disebelah utaranya justru yang diperkirakan terdapat fosil hewan purba. (DANI AGUS/TITIS W)

Lagi, Ditemukan Fosil Gajah Purba Seberat 1 Kuintal di Kebun Jati Desa Banjarejo

Empat warga Desa Banjarejo tengah memikul fosil gajah purba dari lokasi penemuan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Empat warga Desa Banjarejo tengah memikul fosil gajah purba dari lokasi penemuan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Penemuan fosil bagian tubuh hewan purbakala lagi-lagi ditemukan di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. Yang terbaru berupa bagian tubuh gajah purba yang ditemukan Kaur Kesra Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo Budi Setyo Utomo, Minggu (03/01/2016) sore.

Lokasi penemuan fosil baru ini berada di areal kebun jati di Dusun Ngrunut. Dari perkampungan menuju ke lokasi kebun jati milik Dul Karman itu jaraknya sekitar 1 km.

Fosil tersebut terpendam dalam tanah dengan kedalaman sekitar 1 meter. Untuk menggali fosil yang dilakukan empat orang itu butuh waktu sekitar lima jam. Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk proses evakuasi itu disebabkan butuh kehati-hatian agar proses penggalian tidak merusak fosil yang terkubur dalam tanah tersebut.

”Kalau hanya sekedar bikin galian sedalam 1 meter paling butuh waktu satu jam saja. Tetapi karena proses mengangkat fosil ini butuh hati-hati makanya jadi cukup lama,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik yang memimpin langsung proses pengangkatan fosil tersebut.

Menurut Taufik, fosil yang ditemukan itu memiliki panjang 60 cm, lebar 40, tinggi 35 cm. Meski tidak terlalu besar, namun bobot fosil itu ternyata cukup berat. Diperkirakan, beratnya sekitar 1 kuintal dan butuh empat orang untuk memikul fosil itu dari tempat penemuan hingga ke perkampungan.

Penemuan fosil terbaru itu, sudah dikoordinasikan dengan pihak Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran. Selain itu, foto-foto fosil juga dikirimkan pula ke sana melalui email.
Dari keterangan pihak BPSMP, fosil tersebut merupakan rahang atas gajah purba. Hal itu dilihat dengan adanya deretan gigi yang terdapat pada fosil tersebut. Meski demikian, pihak BPSMP belum bisa memastikan jenis gajah purba tersebut. Apakah jenis mastodon, stegodon, atau elephas.

”Keterangan ini diberikan berdasarkan dari foto yang saya kirim. Untuk memastikan, perlu melihat langsung fosil dan lokasi penemuan untuk melakukan serangkaian kajian. Dalam waktu dekat, pihak BPSMP melakukan penelitian ke Banjarejo,” imbuh Taufik. (DANI AGUS/TITIS W)

Video – Profesor Fosil dari Banjarejo Grobogan Ini Bikin Decak Kagum Warga

Budi Setyo Utomo saat mengangkat fosil gading gajah purba di Desa Banjarejo, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Budi Setyo Utomo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Banyaknya temuan benda purbakala di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, ternyata tidak bisa dipisahkan dengan sosok Budi Setyo Utomo.

Karena sebagian besar benda berharga yang sudah berwujud fosil itu ditemukan pria yang saat ini menjabat sebagai Kaur Kesra Dusun Kuwojo.

Dari cerita warga setempat, Budi memang dikenal mahir untuk mendeteksi keberadaan fosil yang terpendam dalam tanah. Bukti paling nyata adalah tiga penemuan fosil yang terjadi pada tiga bulan terakhir.

Pertama adalah penemuan fosil kepala kerbau raksasa pada bulan September. Kemudian, bulan ini, Budi berhasil mengendus keberadaan fosil gading gajah purba dan bagian tempurung kepala banteng purba. Beberapa waktu sebelumnya, beragam potongan fosil juga bisa ditemukan di lokasi yang berbeda tetapi masih di kawasan Desa Banjarejo.

“Kehebatan Pak Budi dalam masalah fosil sudah tidak diragukan lagi. Bahkan, beberapa warga memberikan sebutan Profesor Fosil padanya,” ungkap beberapa warga Banjarejo.

Saat dikonfirmasi masalah ini, Budi bersikap merendah. Pria berusia 35 tahun itu mengaku tidak punya keahlian khusus dalam masalah penemuan fosil.

“Apa yang diceritakan orang itu saya kira terlalu berlebihan. Saya hanya kebetulan saja bisa menemukan fosil-fosil ini. Dalam menemukan fosil ini saya hanya belajar dari alam dan insting,” kata lulusan MTs itu.

Budi Setyo Utomo saat mengangkat fosil gading gajah purba di Desa Banjarejo, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Budi Setyo Utomo saat mengangkat fosil gading gajah purba di Desa Banjarejo, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

Dari pengalaman yang dimiliki, Budi menyatakan jika potensi fosil yang ada di desanya masih cukup banyak. Hampir semua dusun menyimpan kekayaan fosil. Hanya, kedalaman fosil yang terpendam dalam tanah itu berbeda-beda.

Meski demikian, untuk bisa mengeluarkan fosil itu bukan pekerjaan mudah. Sebab, butuh dana untuk penggalian serta peralatan yang lebih memadai. Harapannya, pihak terkait nantinya bisa mengambil alih upaya penggalian dan dia siap membantu untuk memperlihatkan kekayaan purbakala yang tersimpan di bumi Banjarejo.

Sementara itu, Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik mengakui jika jasa perangkatnya dalam penemuan fosil purbakala itu sangat besar. Dia berharap, agar dalam waktu mendatang bisa ditemukan lagi benda purbakala untuk menambah koleksi yang saat ini masih tersimpan di rumahnya. (DANI AGUS/AKROM HAZAMI)