Dinas Terkait Belum Konfirmasi Lokasi Penemuan Fosil yang Sebenarnya

Dokumen MuriaNewsCom

Dokumen MuriaNewsCom

 

KUDUS – Fosil gajah purba yang baru diketemukan, awalnya dipastikan berada di Logung. Bahkan, pemeriksaan terhadap tulang tersebut juga sudah dilakukan dari Dinas beserta tim dari Sangiran.

Kabid Kebudayaan pada Disbudpar Supratiwi, menurutnya struktur gading tersebut sangatlah rapuh. Bahkan hanya digenggam saja bisa langsung hancur gading yang sudah nampak itu.

”Saya sudah mengunjungi lokasi penemuannya hasilnya memang benar itu fosil gajah purba. Namun kondisinya susah rapuh. Lha saya pegang saja mudah rusak gading tersebut,” katanya.

Hanya, mengenai lokasi penemuan yang dirubah tidak mendapatkan jawaban, sebab saat dihubungi pihaknya tidak menjawab. (FAISOL HADI/TITIS W)

Gading Purba yang Ditemukan Diralat Bukan Dari Logung

Dokumen MuriaNewsCom

Dokumen MuriaNewsCom

 

KUDUS – Penemuan fosil purba jenis gajah, diralat bukan diketemukan dari waduk Logung. Melainkan diketemukan dari Galian C Turut Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo.

Hal itu disampaikan Petugas Museum Patiayam, Djamin. Menurutnya, fosil yang diketemukan berada di galian C, sama seperti lokasi yang sebelumnya diketemukan fosil yang sama.

”Dulu kami salah informasi, lokasinya itu berada di galian C. Bukan berada di Waduk Logung. Jadi yang benar itu di Galian C,” jelasnya.

Hanya, dulu dikatakan olehnya penemuan fosil tersebut baru ditemuinya Sabtu malam (21/10/2015) saat petugas pembangunan waduk hendak menggali lebih dalam Logung.

Mengenai fosilnya yang berada di Galian C kini sudah dievakuasi. Hanya terdapat dua buah gading berukuran sekitar dua meter saja, dengan kondisi yang rapuh. (FAISOL HADI/TITIS W)

Fosil Gajah di Logung Rapuh

Warga penemu fosil diberikan tali asih oleh pihak dinas Pariwisata. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga penemu fosil diberikan tali asih oleh pihak dinas Pariwisata. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Fosil gajah yang terdapat di waduk Logung, hingga kini masih menunggu tim ahli. Namun dari pemeriksaan yang dilakukan sementara, gading tersebut sangat rapuh dan mudah patah.

Hal itu diungkapkan Kabid Kebudayaan pada Disbudpar Supratiwi, menurutnya struktur gading tersebut sangatlah rapuh. Bahkan hanya digenggam saja, gading yang sudah nampak itu bisa langsung hancur.

”Saya sudah mengunjungi lokasi penemuannya. Hasilnya memang bebar itu fosil gajah purba. Namun kondisinya sudah rapuh. Lha saya pegang saja mudah rusak gading tersebut,” katanya.

Saat ini, upaya yang dilakukan sambil menunggu tim ahli yang mengangkat fosil tersebut, pihak dinas sudah mengkomunikasikan dengan para pekerja di kawasan Logung. Kerja sama juga sudah dilakukan untuk sama-sama menjaga gading tersebut.

”Untuk daerah penemuan fosil sementara masih dibiarkan. Itu untuk menjaga fosil tetap dalam keadaan utuh dan dapat diambil dengan bagus. Sebab kondisinya juga sudah parah, sehingga butuh pembenahan yang bagus,” imbuhnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Fosil Gajah Purba di Logung Hingga Kini Belum Diangkat

Warga penemu fosil diberikan tali asih oleh pihak dinas Pariwisata. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga penemu fosil diberikan tali asih oleh pihak dinas Pariwisata. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Penemuan fosil gajah purba di pembangunan waduk Logung, hingga kini masih belum diambil. Hal itu disebabkan tim ahli yang mengambil fosil masih belum datang untuk mengangkatnya.

Hal itu diungkapkan Kabid Pariwisata pada Disbudpar Kudus Supratiwi, menurutnya hingga kini fosil masih dalam keadaan seperti semula di lokasi pembagunan waduk Logung, turut Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo.

”Masih berada di sana, belum dapat diambil. Namun jelas terlihat kalau itu merupakan gading gajah purba,” katanya saat ditemui MuriaNewsCom.

Menurutnya, lokasi terdapatnya fosil tersebut berada di sebuah tebing. Lokasi yang digunakan sebagai akses masuk pembuatan waduk, membuatnya banyak dilewati alat berat. Hal itu membuat gading retak dan terputus dalam ukuran yang cukup besar.

Pihak dinas ketika meninjau lokasi, menemukan gading yang baru keluar dari tanah ukuran sedang. Diprediksi gading dan fosil masih banyak tersimpan dalam tumpukan tanah di area tersebut, sehingga butuh tim ahli untuk mengangkat fosil tersebut . (FAISOL HADI/TITIS W)

Anda Menemukan Fosil Purbakala dan Mau Dapat Uang? Begini Caranya

Penemu fosil menerima bantuan di Balai Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Penemu fosil menerima bantuan di Balai Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Bagi masyarkat penemu fosil purba, baik itu fosil manusia, alat purba hingga hewan purba seperti gajah dan rusa, diharapkan memberikan hasil penemuannya ke pemerintah. Setelah itu, pemerintah akan menindak lanjut untuk disalurkan ke Sangiran untuk diperiksa.

Hal itu diungkapkan Rus Mulia, Kepala Seksi Perlindungan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP). Menurutnya warga yang menemukan fosil agar dapat diberikan kepada pemerintah terdekat. Baik itu desa maupun dari UPT museum Patiayam.

“Kalau sama kami harusnya bagus. Namun karena jauh, maka dapat dilakukan dengan memberikan kepada pemerintah terdekat, dan nantinya akan ditindak lanjutkan ke kami untuk kemudian kami periksa,” katanya.

Setelah diperiksa, tim akan mengetahui fosil yang diketemukan. Kemudian akan diberikan tali asih sesuai dengan batang yang ditemukan warga. Namun, fosil yang ditemukan juga harus sesuai dengan prosedur yang berlaku pula.

Kabid Pariwisata Kudus Supratiwi membenarkan hal tersebut. Bagi warga yang melaporkan akan ditindak lanjut dengan melampirkan ke Sangiran. Dan warga tidak perlu khawatir lantaran data tidak akan tertukar dengan penemu lainnya.

“Kami imbau untuk melaporkan, daripada nanti diproses hukum dan dijerat dengan aturan yang diberlakukan,” jelasnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Menemukan Fosil Gading Kuno Dapat Rp 3 Juta

Penemu fosil menerima bantuan di Balai Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Penemu fosil menerima bantuan di Balai Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Meski mendapatkan tali asih sejumlah Rp 16,650 juta. Namun jumlah tersebut merupakan jumlah keseluruhan bagi 29 penemu fosil di Kudus selama ini. Jumlah yang diterima bervariatif antara Rp 100 ribu hingga Rp 3 jutaan.

Seperti halnya yang diterima Sutono, penemu fosil di Kudus. Dia mendapatkan tali asih Rp 3, 750 juta. Jumlah tersebut didapat lantaran dia menemukan fosil berupa gading dua buah.

Sementara Ari, penemu fosil di Kudus lainnya mendapatkan Rp 1,4 juta. Nominal tersebut untuk tali asih barang yang ditemukan. Yaitu tanduk rusa, dan gigi alat batu. Warga lain Simpo juga mendapatkan Rp 2,3 juta, dia mendapatkan gading dua buah, sama fragmen kaki gajah.

Rus Mulia, Kepala Seksi Perlindungan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) mengatakan, nominal penerima tali asih memang dibedakan. Hal itu diberikan sesuai dengan ukuran dan jenis fosil yang ditemukan para warga.

“Berbeda beda, tidak dapat disamakan semuanya. Soalnya besar dan jenis fosil. Juga berbeda satu dengan lainnya. Jadi harus dibedakan juga,” katanya di Balai Desa Terban.

Menurutnya, untuk penemuan gading misalnya. Meski sama sama gading, namun dilihat ukuran dan bentuk gading yang diketemukan. Kondisi gading juga menjadi pertimbangan dalam penentuan nominalnya. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

29 Penemu Fosil Kudus Tertawa Lebar Dapat Tali Asih

Penemu fosil menerima bantuan di Balai Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Penemu fosil menerima bantuan di Balai Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Puluhan warga yang penemu fosil purba di Kudus, mendapatkan tali asih dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP). Puluhan warga sumringah mendapatkan uang ganti penemuan fosil tersebut senilai Rp 16,650 juta.

Tali asih tersebut diberikan langsung dari Sangiran. Jumlah warga yang menerima tali asih sejumlah 29 warga penemu fosil. Warga yang menerima berbagai kalangan yang kebanyakan asal dari Desa Terban, Kecamatan Jekulo.

Kabid Kebudayaan Disbudpar Kudus Supratiwi mengatakan, tali asih yang diberikan langsung diberikan dengan warga dengan nominal tali asih Rp 16,650 juta. Pemberian melalui perjanjian berupa MoU antara penemu fosil yang diwakili pemkab setempat dengan pihak Sangiran.

“Ada perjanjian tanda tangan MoU antara kami, perjanjian menyebutkan kalau tali asih yang diberikan langsung diberikan kepada warga saat ini juga,” katanya.

Saksi penerima tali asih adalah Jamin dan kades, yang saat itu juga dihadirkan. Wajah senyum nampak menghiasi setelah satu per satu penerima tali asih menerima nominal yang diberitakan serta sertifikat penerimaan. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Periksa Fosil Baru, Pemkab Kudus Datangkan Tim Ahli dari Sangiran

Fosil gading gajah purba yang sudah ada di Museum Patiayam. Baru-baru ini ditemukan lagi fosil gajah purba di kawasan Waduk Logung Sabtu (24/10/2015). (MuriaNewsCom)

Fosil gading gajah purba yang sudah ada di Museum Patiayam. Baru-baru ini ditemukan lagi fosil gajah purba di kawasan Waduk Logung Sabtu (24/10/2015). (MuriaNewsCom)

 

KUDUS – Untuk memeriksa fosil yang baru diketemukan, pemkab Kudus datangkan tim ahli dari Sangiran. Rencananya, besok tim akan datang dan memeriksa fosil tersebut.

Kabid Kebudayaan Kabupaten Kudus Supratiwi  mengatakan, mengenai penemuan fosil, sudah dikomunikasikan dengan pihak museum Patiayam dan dengan Sangiran. Menurut jadwal, besok siang tim asal Sangiran akan langsung melihat kebenaran fosil tersebut.

”Akan dilihat langsung, apakah itu fosil atau tidak. Sebab bisa juga itu bukan fosil. Rencananya besok siang akan sampai di Kudus,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, kedatangan tim dari Sangiran juga dalam rangka meninjau museum Patiayam sekaligus melihat gading dan fosil yang diketemukan belum lama ini.

”Penemu fosil akan diberikan tali asih dari Sangiran. Mereka langsung yang akan memberikannya kepada penemu fosil besok,” imbuhnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Pembangunan Waduk Logung di Sekitar Lokasi Penemuan Fosil Dihentikan Sementara

Fosil gading gajah purba yang sudah ada di Museum Patiayam. Baru-baru ini ditemukan lagi fosil gajah purba di kawasan Waduk Logung Sabtu (24/10/2015). (MuriaNewsCom)

Fosil gading gajah purba yang sudah ada di Museum Patiayam. Baru-baru ini ditemukan lagi fosil gajah purba di kawasan Waduk Logung Sabtu (24/10/2015). (MuriaNewsCom)

 

KUDUS – Dengan adanya penemuan fosil di kawasan pembangunan Waduk Logung, membuat pembangunan waduk dihentikan sementara. Hal itu dilakukan untuk menjaga kalau fosil yang baru ditemukan akan rusak.

Hal itu diungkapkan Petugas Museum Patiayam, Djamin. Menurutnya pembangunan waduk sekitar lokasi diminta untuk menyesuaikan lantaran terdapat fosil dengan jumlah yang banyak.

“Dimungkinkan lebih banyak lagi. Itu saja fosil yang nampak diluar jenis gading berukuran dua meteran. Sehingga sebagian besar masih ada di dalam tanah,” katanya.

Mengenai tindakan yang bakal dilakukan, pihaknya sudah melakukan komunikasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Dan mengenai pembangunan waduk di lokasi sekitar penemuan fosil bakal dilanjutkan dalam waktu yang tidak lama.

”Sebentar lagi fosil akan diambil. Namun, masih menunggu dari tim ahli yang menangani persoalan tersebut,” jelasnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Heboh, Fosil Gajah Purba Kembali Ditemukan di Pembangunan Waduk Logung Kudus

Fosil gading gajah purba yang sudah ada di Museum Patiayam. Baru-baru ini ditemukan lagi fosil gajah purba di kawasan Waduk Logung Sabtu (24/10/2015). (MuriaNewsCom)

Fosil gading gajah purba yang sudah ada di Museum Patiayam. Baru-baru ini ditemukan lagi fosil gajah purba di kawasan Waduk Logung Sabtu (24/10/2015). (MuriaNewsCom)

 

KUDUS – Penemuan Fosil kembali ditemukan di Kudus, kali ini penemuan fosil tersebut terletak di Waduk Logung, di areal pembangunan waduk.

Hal itu diungkapkan Petugas Museum Patiayam, Djamin. Menurutnya fosil tersebut baru ditemukan Sabtu malam lalu, saat petugas pembangunan waduk hendak menggali lebih dalam Logung.

”Malam Minggu lalu kami dapat informasi. Akhirnya kami mengunjunginya untuk melihat kebenaran kabar tersebut. Dan benar saja di sana ditentukan fosil gajah purba dalam ukuran raksasa,” katanya saat dihubungi MuriaNewsCom.

Menurutnya, fosil yang ditemukan adalah gading gajah, kepala gajah, dan leher. Mengenai ukurannya belum dapat diketahui panjangnya, lantaran hingga kini fosil masih berada di lokasi penggalian waduk.

Karena terdapat di lokasi penggalian, maka gading yang anyar ditemukan itu mengalami kerusakan. Setidaknya setengah meter gading putus akibat alat berat yang mengenainya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Disbudpar Kudus Janjikan Berikan Uang Bagi Warga yang Temukan Fosil

Salah satu fosil gading yang berhasil ditemukan dan kini ditempatkan di museum Patiayam. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Salah satu fosil gading yang berhasil ditemukan dan kini ditempatkan di museum Patiayam. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Mencari fosil tidaklah mudah. Bahkan untuk menemukannya juga membutuhkan tenaga yang tidak sedikit. Untuk itulah pihak dinas menjanjikan kepada masyarakat untuk mendapatkan ganti biaya untuk fosil yang ditemukan.

Kepala Disbudpar Sunardi mengatakan, pihak dinas mengakui sulitnya mengumpulkan fosil yang ada. Untuk itu, pihaknya bakal mengganti bagi warga yang menemukannya.

”Seperti halnya kemarin yang menemukan gading. Itu juga kami ganti. Ya meski jumlahnya tidak banyak karena ganti tenaga saja,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Pihaknya juga mengatakan, nantinya jika ada yang menemukan kembali bakal diganti dengan dinas. Meskipun tidak ada dalam anggaran namun masih diupayakan.

”Selama satu pekan, di Patiayam juga pernah dilakukan pemeriksaan pencairan fosil dan tim ahli. Namun selama itu juga tidak menemukan apapun,” jelasnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Disbudpar Kudus Belum Miliki Tenaga Ahli untuk Gabungkan Fosil Gading Temuan

Salah satu fosil gading yang berhasil ditemukan dan kini ditempatkan di museum Patiayam. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Salah satu fosil gading yang berhasil ditemukan dan kini ditempatkan di museum Patiayam. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus nampaknya memiliki kesulitan dalam mengumpulkan kembali fosil gading yang ditemukan. Hal itu disebabkan Disbudpar Kudus tidak memiliki tenaga ahli dalam bidang tersebut.

Hal itu diungkapkan kepala Disbudpar Kudus Sunardi. Menurutnya pihak Disbudpar Kudus memiliki kendala dalam tenaga ahli, untuk menyatukan kembali gading yang ditemukan.

”Kalau tenaga ahli kami tidak memilikinya. Kami hanya memiliki tenaga yang pernah kami sekolahkan dalam menyusun kembali tulang tersbeut,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, kesulitan dalam menggabungkan fosil tersebut bukan hanya terletak pada SDM saja. Melainkan juga pada kondisi gading yang ditemukan. Sebab kondisinya sangat parah sehingga sampai 23 potong gading.

”Kalau dikerjakan secara terus, maka membutuhkan waktu sampai satu bulan. Namun melihat kondisi tenaga kita, dapat diselesaikan hingga tiga bulan,” imbuhnya. (FAISOL HADI/TITIS W)