Pengangkatan Fosil Gajah Purba di Banjarejo Grobogan Ditunda, Ini Alasannya

Tim ahli purbakala masih melakukan proses pembuatan replika fosil hewan purba di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Rencana pengangkatan fosil gajah purba dari lokasi penemuan di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, mundur pelaksanaannya.

Sedianya, pengangkatan fosil akan dilangsungkan pada pekan ini. Namun, jadwal terbaru, pelaksanaannya bakal dilakukan akhir Agustus mendatang.

“Ya, ada sedikit perubahan jadwal masalah pengangkatan fosilnya. Nanti, kita lakukan akhir bulan pelaksanaannya,” ungkap Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Sukronedi, saat berkunjung ke lokasi penemuan fosil gajah purba di Banjarejo, Rabu (16/8/2017).

Menurut Sukron, mundurnya jadwal pengangkatan fosil disebabkan proses pencetakan replika fosil hewan purba di lokasi penemuan belum selesai. Sesuai rencana, pembuatan replika hanya ditenggat selesai 10 hari, dari tanggal 8-18 Agustus 2017.

Namun, dari pengecekan ke lapangan, waktu 10 hari itu dirasakan belum cukup. Akhirnya, waktu pembuatan replika ditambah lagi 10 hari hingga 28 Agustus 2017.

Dijelaskan, perpanjangan waktu 10 hari itu bukan disebabkan adanya hambatan. Tetapi, hal itu dikarenakan jumlah fosil yang ada di lokasi ternyata tambah banyak. Terlebih setelah muncul fosil-fosil sepesies hewan baru di dekat fosil elephas yang ditemukan lebih awal.

“Jadi, dengan banyak fosil itu tidak cukup kalau pembuatan replika dikerjakan 10 hari saja. Makanya, kita tambah lagi waktunya agar semua fosil bisa dibuat replikanya dan hasilnya lebih sempurna,” jelasnya.

Sukron menyatakan, setelah waktu pembuatan replika rampung, baru dilakukan pengangkatan dan penyelamatan semua fosil dari lokasi untuk direkonstruksi. Rencananya, setelah diangkat, semua fosil akan ditempatkan sementara di rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Setelah fosil selesai diangkat, hasil pembuatan replika akan ditaruh di lokasi dengan posisi persis seperti aslinya.

Editor : Ali Muntoha

Pondasi Kuno dari Tatatan Batu Bata Kembali Muncul di Desa Banjarejo

Di lokasi penambangan emas di areal sawah Dusun Medang inilah terlihat pondasi kuno dari tatanan batu bata. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Di lokasi penambangan emas di areal sawah Dusun Medang inilah terlihat pondasi kuno dari tatanan batu bata. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Untuk kedua kalinya, ditemukan pondasi kuno dari tatatan batu bata merah di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. Kali ini, lokasi munculnya pondasi kuno berada di areal sawah milik Jasmo yang masuk wilayah Dusun Medang. 

Pondasi kuno yang terlihat panjangnya hanya sekitar 1 meter dan lebarnya sekitar 80 cm. Bangunan kuno ini muncul dari lokasi penggalian untuk mencari perhiasan emas di areal sawah.

“Kedalaman penggalian sekitar 2,5 meter. Sedangkan luas lahan penambangan sekitar 2 x 2 meter. Sebelumnya, pondasi itu tidak begitu kelihatan karena tertutup air,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik, Kamis (8/12/2016).

Pada awal Oktober 2015 lalu, untuk pertama kalinya ditemukan pondasi serupa. Lokasinya di areal sawah di Dusun Nganggil. Pondasi yang ditemukan pertama yang sudah sempat tergali, panjangnya lebih dari 300 meter. Meski begitu, ujung pondasinya belum ditemukan.

Lokasi penemuan kedua berjarak sekitar 150 meter sebelah barat dari pondasi yang ditemukan pertama. Saat penemuan pondasi pertama, lokasi ini dijadikan tempat parkir kendaraan roda empat atau truk pengunjung.

Menurut Taufik, munculnya pondasi terbaru dinilai ada hubungannya dengan penemuan pertama. Selain jaraknya tidak terlalu jauh, arah bangunan ternyata berbeda.

Penemuan pondasi pertama, arahnya membujur dari utara ke selatan. Sedangkan, pondasi yang ditemukan barusan arahnya membujur dari barat ke timur. “Melihat kondisi di lapangan, jika dilakukan penggalian ke arah timur di lokasi yang kedua, kemungkinan bertemu dengan pondasi ditemukan pertama. Jadi, analisa saya, pondasi yang ketemu tahun lalu, arahnya tidak lurus ke utara tetapi berbelok ke barat. Untuk menyimpulkan lebih tepat, nanti biar disampaikan oleh ahlinya. Saya sudah koordinasikan pada beberapa instansi terkait soal ini,” kata pria yang hobi naik gunung itu.

Taufik menambahkan, jika dihubungkan dengan keyakinan warga dengan sebuah lokasi yang diyakini sebagai Keraton Kerajaan Medang Kamulan, posisinya juga tepat. Lokasi yang diyakini sebagai keraton itu berada di sebelah barat pondasi pertama. Sementara dari posisi pondasi kedua, letak keraton ada di sebelah utaranya.

“Dari keterangan ahli dari Balai Arkeologi Yogyakarta lalu, pondasi ini merupakan batas sebuah bangunan atau wilayah tertentu. Kalau melihat munculnya pondasi kedua, perkiraan bangunan ada di barat pondasi lama. Di situ, kebetulan selama ini diyakini sebagai pusat Kerajaan Medang Kamulan. Untuk membuktikan kebenarannya, masih butuh proses panjang,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Guru Besar Arkeologi dari Prancis Kunjungi ‘Museum’ Banjarejo Grobogan

Francois Semah beserta istrinya Anne Marie Semah saat berkunjung ke “Museum” Banjarejo, Rabu (30/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Francois Semah beserta istrinya Anne Marie Semah saat berkunjung ke “Museum” Banjarejo, Rabu (30/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Banyaknya penemuan benda bersejarah di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, ternyata tidak hanya memancing ketertarikan dari warga sekitar saja. Tetapi juga mulai dilirik wisatawan dari mancanegara.

Hal ini dibuktikan dengan adanya kunjungan warga Negara Prancis yang bernama Francois Semah beserta istrinya Anne Marie Semah, Rabu (30/11/2016). Pria asal Prancis ini bukan wisatawan biasa, tetapi merupakan seorang professor arkeologi ternama di dunia.

“Nama Profesor Francois Semah ini sudah saya kenal ketika berkunjung ke Museum Sangiran beberapa waktu lalu. Saat berkunjung ke sana, saya diberi tahu tentang nama profesor ini, yang juga ikut andil mengenalkan keberadaan Museum Sangiran di kancah internasional,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Dari penelusuran dari berbagai sumber, sosok guru besar dari Prancis ini ternyata sudah banyak jasanya terhadap perkembangan penelitian dan studi arkeologi di Indonesia. Bahkan, guru besar dan arkeolog Museum National d’Histoire Naturelle Prancis ini pernah mendapat penghargaan kehormatan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan, beberapa waktu lalu.

“Terus terang saya tidak menyangka bakal dapat kunjungan tamu istimewa hari ini. Ternyata profesor ini, selain bisa komunikasi dengan Bahasa Indonesia juga pandai berbahasa Jawa,” sambung Taufik.

Ia menyatakan, kunjungan yang dilakukan pakar arkeologi itu dilakukan mendadak. Sebelumnya, dia juga tidak pernah dapat kabar bakal kedatangan orang penting tersebut. Bahkan, Taufik mengaku sedang tidur saat pasangan suami-istri itu tiba di rumahnya yang sementara jadi tempat penyimpanan koleksi benda bersejarah tersebut, sekitar pukul 14.00 WIB.

“Saya tadi kaget dibangunkan kalau ada tamu orang asing yang datang melihat koleksi benda bersejarah. Ternyata, tamunya bukan wisatawan biasa,” ungkapnya.

Taufik menyatakan, tamu istimewa itu hanya berkunjung singkat, sekitar 30 menit. Oleh sebab itu, tidak begitu banyak yang sempat diperbicangkan. Hanya saja, professor dari Prancis itu menjanjikan bakal melakukan penelitian di Banjarejo tahun depan.

“Tadi, beliaunya agak buru-buru. Soalnya, harus menghadiri acara di Salatiga. Meski hanya singkat, namun saya merasa bangga sudah dikunjungi Profesor Francois Semah dan istri. Mudah-mudahan, beliau nanti jadi melakukan penelitian di sini dan ikut mengangkat nama Banjarejo di kancah internasional,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Ini Penemuan Terbaru di Banjarejo Grobogan Jelang Launching Desa Wisata

Kaur Kesra Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo Budi Setyo Utomo menyerahkan fosil banteng purba pada Bupati Grobogan Sri Sumarni kemarin (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kaur Kesra Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo Budi Setyo Utomo menyerahkan fosil banteng purba pada Bupati Grobogan Sri Sumarni kemarin (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Dua hari sebelum acara grand launching Desa Wisata Banjarejo, Kecamatan Gabus, ternyata ada penemuan benda bersejarah kembali. Benda yang ditemukan bewujud fosil kepala banteng purba.

Fosil langka ini ukurannya lumayan besar. Panjang antarujung tanduk mencapai 80 cm. Kemudian tinggi tulang bagian kepala mencapai 25 cm dengan lebar 20 cm. Sedangkan panjang tiap tanduk sekitar 45 cm.

“Fosil ini saya temukan Selasa (25/10/2016) di areal kebun yang ada di Dusun Peting. Fosil banteng ini terpendam dalam tanah dengan kedalaman sekitar 2 meter,” ungkap Kaur Kesra Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo Budi Setyo Utomo selaku penemu fosil banteng purba tersebut.

Menurut Budi, sebenarnya masih ada beberapa lokasi yang teridentifikasi ada fosil di dalamnya. Hanya saja, fosil tersebut belum sempat digali karena masih sibuk mempersiapkan acara grand launching Desa Wisata Banjarejo kemarin.

“Rencananya, semua fosil itu akan kita perlihatkan saat peresmian desa wisata. Namun, waktu dan tenaganya tidak memungkinkan. Sementara baru fosil kepala banteng ini yang bisa kita angkat,” kata pria yang dijuluki profesor fosil oleh warga Banjarejo lantaran sudah seringkali menemukan fosil hewan purba itu.

Saat acara peresmian Desa Wisata Banjarejo kemarin, fosil kepala banteng purba itu sempat diserahkan pada Bupati Grobogan Sri Sumarni oleh Budi Setyo Utomo. Setelah diterima, Sri Sumarni gantian menyerahkan benda purbakala itu pada Kades Banjarejo Ahmad Taufik.“Tolong dirawat dengan baik, Pak Kades. Jangan lupa ditaruh ditempat yang aman biar tidak rusak,” pesan Sri pada Taufik.

Fosil kepala banteng purba yang ditemukan tersebut ternyata merupakan benda yang istimewa. Hal ini berdasarkan penjelasan Kasi Perlindungan Badan Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Budi Sancoyo yang ikut hadir dalam acara tersebut.

“Fosil cukup istimewa karena bentuknya masih kokoh dan utuh. Benda ini seusia kepala kerbau raksasa yang sudah ditemukan sebelumnya. Perkiraan usianya hampir 1 juta tahun,” katanya saat melihat fosil.

Editor : Kholistiono

Siangi Rumput, Warga Temukan Fosil Gading Gajah di Banjarejo

Fosil yang ditemukan lagi di Banjarejo, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Fosil yang ditemukan lagi di Banjarejo, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Koleksi benda purbakala di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus bertambah lagi. Ini menyusul adanya penemuan benda purbakala baru berupa fosil gading gajah purba.

Kades Banjarejo Ahmad Taufik menyatakan, fosil gading berusia 1 juta tahun itu ditemukan Ahmad Nur Rois di areal sawah di Dusun Peting, Minggu (29/5/2016). Ceritanya, sore itu Nur Rois sedang menyiangi rumput di sela-sela tanaman padi. Saat melakukan aktivitasnya, tiba-tiba ia menemukan potongan benda keras di pinggiran sawah. Benda keras ini panjangnya 20 cm dengan lebar 10 cm.

“Karena merasa aneh dengan benda tersebut, Nur Rois kemudian memperlihatkan pada ketua komunitas pecinta fosil (komcil) Banjarejo. Setelah diteliti, benda keras yang membatu itu ternyata potongan fosil gading gajah purba,” ungkap Taufik.

Setelah itu, beberapa anggota Komcil melakukan observasi lapangan. Setelah itu, malam harinya langsung dilakukan penggalian untuk mengangkat sisa fosil yang masih terpendam. Hingga lewat dini hari, proses evakuasi fosil berakhir. Yang mana, dalam penggalian itu ditemukan lagi enam potongan fosil.

“Jadi fosil yang terpendam dalam tanah bentuknya juga patah. Patahnya fosil ini bukan karena terkena alat penggalian. Tetapi karena proses alam. Fosil gading yang ditemukan sebelumnya juga patah jadi beberapa bagian, ” sambungnya.

Menurut Taufik, setelah berhasil diangkat dari kedalam satu meter, potongan fosil itu kemudian dilabeli sesuai urutan ditemukab dan dibersihkan. Ketika ditata, potongan fosil itu tidak utuh.  Pada bagian ujungnya tidak ada. Kemungkinan bagian ujungnya sudah lapuk jadi tanah.

Dari pengukuran yang dilakukan, potongan fosil yang dijajar jadi satu itu panjangnya mencapai 170 cm. Kalau bagian ujungnya ada, panjang gading keseluruhan bisa sampai 3 meter. “Kita punya koleksi gading yang utuh dengan panjang hampir 3 meteran. Dengan penemuan baru ini, koleksi gading purba sudah ada empat,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Gading Gajah Sepanjang 3 Meter jadi Idola Baru Pengunjung Museum Banjarejo

gading gajah purbaaa e

Warga melihat fosil gading gajah di Banjarejo Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Satu koleksi benda purbakala yang ada di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus menjadi idola pengunjung yang datang. Yakni, gading gajah purba yang panjangnya hampir mencapai 3 meter.

Gading gajah purba ini ditemukan tim ahli dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran (22/3/2016) saat melakukan observasi di Banjarejo. Saat diangkat dari dalam tanah, gading itu patah menjadi 10 potongan.

“Karena patah, gading ini kemudian dibawa ke Sangiran untuk direkonstruksi. Sekarang, gading ini sudah berhasil disatukan lagi. Ukurannya memang istimewa, panjangnya mencapai 2,83 meter, dengan lebar bagian bawah 15 cm dan ujungnya 5 cm,” ungkap Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Menurutnya, sebelumnya sudah ada satu gading yang ditemukan. Ukurannya lebih pendek, sekitar 2,17 cm. Sedangkan satu gading terakhir yang ditemukan ukurannya hanya sekitar 70 cm.

Yakni, hanya bagian ujungnya saja yang utuh. Sementara bagian tengah hingga pangkal sudah lapuk jadi tanah.

“Jadi koleksi gadingnya sekarang ada tiga. Dua gading bentuknya utuh dan satu lagi cuma sepertiga bagian saja. Ketiga gading gajah purba ini usianya sudah jutaan tahun,” cetusnya.

Adanya gading tersebut memang makin mengundang daya tarik para pengunjung. Rata-rata para pengunjung pasti menyempatkan foto dan menanyakan soal gading tersebut.

Sebelumnya, benda purbakala yang jadi andalan untuk dilihat pengunjung adalah fosil kepala kerbau raksasa. Selain usianya sudah mencapai jutaan tahun, ukuran fosil kepala kerbau yang ditemukan Rabu (9/9/2015) lalu, juga sangat besar.

Dimana, panjang antar ujung tanduk mencapai 170 cm. Kemudian tinggi tulang bagian kepala mencapai 60 cm dengan lebar 25 cm. Sedangkan panjang tiap tanduk sekitar 115 cm.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Wow, Ramainya Foto Selfie Bareng Fosil Kerbau

Sejumlah pengunjung stand Grobogan mengamati dan berfoto dengan latar belakang fosil purbakala dari Desa Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Lau)

Sejumlah pengunjung stand Grobogan mengamati dan berfoto dengan latar belakang fosil purbakala dari Desa Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Lau)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Stan Kabupaten Grobogan dalam Pameran Arsip dan Perpustakaan se-Jawa Tengah di Benteng Vastenburg Solo ternyata sangat diminati pengunjung. Terbukti, stan Grobogan yang diisi aneka koleksi fosil dari Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus itu tidak pernah sepi pengunjung.

“Sejak dibuka tanggal 3 Mei lalu sampai hari ini, sudah sekitar 500 an orang yang mampir ke stan Grobogan. Kayaknya, stan kita ini jadi salah satu favorit pengunjung pameran. Pamerannya akan berlangsung sampai 9 Mei,” ungkap Kades Banjarejo Ahmad Taufik yang selama tiga hari ini ikut menjaga stan pameran tersebut.

Menurutnya, animo pengunjung itu dinilai cukup wajar. Sebab, stan Grobogan memang menampilkan sesuatu yang berbeda. Yakni, aneka koleksi benda purba yang usianya mencapai jutaan tahun. Dari koleksi tersebut, ada dua yang jadi pusat perhatian pengunjung. Yakni, fosil kepala kerbau raksasa dan gading gajah purba.

“Hampir semua pengunjung pasti menyempatkan diri untuk foto selfie dengan latar belakang benda purbakala itu. Tapi, mereka harus antre dulu kalau mau foto. Soalnya, lokasi stan ukurannya cukup sempit, jadi harus gantian,” jelasnya.

Kedua benda bersejarah itu memang dinilai sangat istimewa. Selain usianya sudah mencapai jutaan tahun, ukuran fosil kepala kerbau yang ditemukan Rabu (9/9/2015) lalu, juga sangat besar. Yang mana, panjang antar ujung tanduk mencapai 170 cm. Kemudian tinggi tulang bagian kepala mencapai 60 cm dengan lebar 25 cm. Sedangkan panjang tiap tanduk sekitar 115 cm.

“Fosil kepala kerbau raksasa seperti ini selain istimewa juga sangat langka. Jadi, banyak orang yang langsung takjub ketika melihatnya. Bahkan, Mendikbud Anies Baswedan juga sangat kagum saat berkunjung kesini,” cetusnya.

Sementara gading gajah purba yang ditemukan (22/3/2016) lalu juga sangat langka. Dimana, panjangnya mencapai 2,18 meter, dengan lebar bagian bawah 15 cm dan ujungnya 5 cm.

Editor : Akrom Hazami

 

Rumahnya jadi Museum, Kades Banjarejo Grobogan Curhat ke Pak Menteri Anies Baswedan

Kades Banjarejo Ahmad Taufik melontarkan permintaan saat dapat kesempatan audensi dengan Mendikbud Anies Baswedan.

Kades Banjarejo Ahmad Taufik melontarkan permintaan saat dapat kesempatan audensi dengan Mendikbud Anies Baswedan.

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Momen bertemu dengan Mendikbud Anies Baswedan tidak bisa didapat setiap saat. Oleh sebab itu, saat dapat kesempatan, Kades Banjarejo Ahmad Taufik langsung melontarkan permohonan pada menteri.

“Terima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk menyampaikan pertanyaan. Saya hanya berharap agar mimpi masyarakat Banjarejo untuk memiliki sebuah museum bisa dibantu dan diwujudkan,” kata Taufik.

Menurutnya, permintaan itu dilontarkan dengan beberapa alasan riil. Selama ini sudah cukup banyak benda bersejarah yang ditemukan di Desa Banjarejo.

Seperti ratusan fosil hewan purba yang berasal dari belasan spesies dan usianya mencapai jutaan tahun. Selain itu, ada pula penemuan benda bersejarah peninggalan masa lampau yang juga tidak sedikit jumlahnya.

Jumlah benda bersejarah yang terus bertambah itu tentunya butuh tempat yang representatif untuk menyimpannya. Mengingat belum ada tempat khusus, untuk sementara semua koleksi benda penemuan itu disimpan di rumahnya.

“Selama satu tahun terakhir, jumlah penemuan benda bersejarah ini meningkat pesat. Oleh sebab itu, kami butuh tempat khusus untuk menampung sekaligus memajang benda-benda bersejarah ini. Soalnya, pengunjung yang datang juga terus bertambah,” katanya.

Lalu bagaimana respons dari Mendikbud Anies Baswedan?. Menurut Taufik, responnya sangat bagus dan menggembirakan. Mendikbud dalam waktu dekat akan mengirimkan tim untuk meninjau langsung ke Desa Banjarejo.

“Nomor HP saya tadi sudah diminta stafnya Pak Menteri agar bisa dihubungi setiap saat. Doakan saja, pendirian sebuah museum di Banjarejo bisa terwujud,” cetusnya.

Editor : Akrom Hazami

Mulai 3 Mei, Koleksi Fosil Banjarejo Akan Dipajang di Benteng Vastenburg Solo

Aneka koleksi benda purbakala di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus akan disertakan dalam pameran di Benteng Vastenburg Solo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Aneka koleksi benda purbakala di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus akan disertakan dalam pameran di Benteng Vastenburg Solo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Mulai besok, Selasa (3/5/2016) ratusan koleksi benda purbakala yang ditemukan di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus akan ditaruh di Benteng Vastenbur Solo.

Namun, jangan salah koleksi benda bersejarah ini tidak akan ditaruh di benteng peninggalan Belanda untuk selamanya. Tetapi hanya sepekan saja, mulai 3-9 Mei nanti.

”Ceritanya, selama sepekan nanti ada kegiatan pameran arsip dan perpustakaan se Jawa Tengah di Benteng Vastenburg. Kita diminta ikut berpartisipasi disitu sebagai wakil dari Kabupaten Grobogan. Tema pamerannya Jawa Tengah Membaca,” terang Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik.

Menurutnya, ada banyak koleksi fosil yang akan dibawa dalam pameran nanti. Hal itu dilakukan supaya masyarakat luas bisa tahu dan mengenal besarnya potensi benda purbakala yang ada di Banjarejo.

”Fosil dari sekitar 12 spesies hewan purba yang ditemukan akan kita bawa dalam pameran. Seperti, fosil gajah, badak, kuda nil, penyu, banteng, kerbau, buaya, kerang, menjangan, hiu dan hewan laut lainya,” jelasnya.

Terkait dengan pemeran tersebut, Taufik mengaku sudah menggalang dukungan dan koordinasi dengan beberapa pihak. Seperti dengan anggota komunitas pecinta fosil, dan Bupati Grobogan Sri Sumarni yang juga memberikan dukungan penuh dibawanya koleksi fosil Banjarejo dalam pameran tersebut.

”Selain itu, kami juga koordinasi dengan BPSMP Sangiran terkait keikutsertaan dalam pameran dan arsip se Jawa Tengah ini. Pihak BPSMP juga ikut memberikan suport pada kami dalam pameran ini. Mohon doanya agar pameran nanti berjalan lancar,” ujarnya.

Editor: Supriyadi

Fosil Gading Gajah Satu Juta Tahun Ditemukan lagi di Banjarejo

Seorang pengunjung Museum Banjarejo sedang mengamati potongan gading gajah purba yang baru ditemukan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Seorang pengunjung Museum Banjarejo sedang mengamati potongan gading gajah purba yang baru ditemukan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebuah fosil gading gajah purba berhasil ditemukan lagi di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Senin (18/4/2016). Gading yang diperkirakan berusia satu juta tahun itu berhasil ditemukan oleh beberapa anggota Komunitas Fosil Banjarejo secara tidak sengaja.

Ceritanya, selepas hujan deras yang mengguyur Desa Banjarejo pada siang hari, beberapa anggota komunitas mencoba mengecek lokasi tebing di pinggiran kebun jati yang ada di sebelah utara Dusun Barak. Hal itu dilakukan karena setelah hujan biasanya tebing yang di bawahnya ada parit kecil itu sering longsor.

“Nah saat melakukan observasi di situ, memang tebingnya longsor. Di antara longsoran itu ternyata ada gading gajah purba. Setelah ditemukan, gading itu langsung diserahkan pada saya,” kata Kades Banjarejo, Ahmad Taufik.

Sayangnya, gading yang ditemukan ini kondisinya tidak utuh. Kira-kira hanya hanya sepertiga bagian. Yakni dari bagian tengah hingga ujung. Sementara bagian tengah hingga bawah tidak ada.
“Kemungkinan bagian yang lainnya sudah lapuk. Potongan gading ini panjangnya 70 cm, lebar bawah 10 cm dan ujungnya 4 cm,” terangnya.

Menurutnya, sekitar sebulan sebelumnya, tepatnya Senin (21/3/2016) di lokasi yang sama juga berhasil ditemukan gading gajah purba. Gading ini ditemukan tim ahli purbakala dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran yang saat itu tengah melangsungkan penelitian di Desa Banjarejo.

“Lokasi penemuan gading oleh tim Sangiran juga sama di situ. Lokasi penemuan hanya berjarak sekitar 3 meteran saja,” sambungnya.

Gading yang ditemukan tim dari itu kondisinya utuh tetapi patah jadi 10 bagian. Panjangnya sekitar 2 meter. Lebar pangkal gading sekitar 15 cm dan dibagian ujungnya 7 cm. Saat ini, gading ini masih berada di Sangiran untuk direkonstruksi.

Taufik menambahkan, pada November tahun 2015 lalu, juga ada penemuan gading gajah purba di Dusun Peting. Meski berhasil diangkat dari dalam tanah, namun fosil gading gajah purba itu juga tidak bisa utuh. Tetapi mengalami patah-patah hingga jadi 13 potong atau bagian. Ukuran fosil gading tersebut hampir sama dengan yang ditemukan tim dari Sangiran.

Editor : Akrom Hazami

 

Baca juga : Penampakan Benda Cagar Budaya di Banjarejo Grobogan yang Baru Ditemukan

Tidak Hanya Orang Tua, Anak-Anak di Desa Banjarejo Juga Mulai Pandai Temukan Fosil

Anak-anak warga Desa Banjarejo menyerahkan hasil temuan fosilnya di rumah Kades Banjarejo yang berupa fosil hewan purba. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Anak-anak warga Desa Banjarejo menyerahkan hasil temuan fosilnya di rumah Kades Banjarejo yang berupa fosil hewan purba. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Benda purbakala berupa fosil hewan purba di Desa Banjarejo ternyata tidak hanya ditemukan orang tua atau mereka yang memang ahli di bidangnya. Tetapi, anak-anak di sana juga mulai bisa menemukan benda bersejarah yang tidak ternilai harganya itu.

”Dalam sepekan terakhir ada beberapa bocah yang datang sambil menyerahkan benda temuan. Setelah dicek, ternyata benda yang dibawa adalah potongan tubuh hewan purba. Fosil potongan tubuh beberapa hewan purba itu ditemukan bocah-bocah itu ketika bermain di pinggiran sawah,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Menurut Taufik, selama ini, anak-anak di desanya memang cukup akrab dengan benda purbalaka yang tersimpan di rumahnya. Kebetulan, persis di depan rumahnya ada SDN 2 Banjarejo. Dimana, ketika waktu istirahat atau pulang sekolah, anak-anak sering mampir melihat koleksi benda bersejarah di rumahnya.

”Selama ini, saya juga sering melibatkan anak-anak untuk membersihkan fosil yang baru ditemukan. Langkah ini sebagai salah satu upaya edukasi pada mereka agar peduli dengan benda bersejarah di desanya. Barangkali dari sini mereka akhirnya bisa membedakan benda yang termasuk fosil atau sekedar batuan biasa,” imbuh Taufik.

Taufik pun mengaku sangat bangga dengan langkah anak-anak yang mau menyerahkan benda purbakala yang ditemukan. Sebagai bentuk penghargaan, anak-anak yang menemukan benda purbakala itu dia berikan hadiah khusus.

”Hadiahnya tidak istimewa kok. Cuma saya belikan bakso kelilingan saja,” cetusnya sembari tertawa.

Selama ini, dia pun mengimbau kepada semua warganya agar bersedia menyerahkan benda bersejarah yang ditemukan untuk dikumpulkan jadi satu di ”Museum Purbakala Banjarejo”.

”Selain anak-anak, banyak orang tua yang menyerahkan benda temuan ke sini. Baik, benda purbakala berupa fosil maupun benda cagar budaya. Kesadaran warga untuk menyerahkan benda temuan sekarang ini makin meningkat dan ini sangat membanggakan,” pungkas Taufik.

Editor : Titis Ayu Winarni

Tak Hanya Gading, Fosil Paha Gajah Purba Juga Berhasil Ditemukan di Banjarejo

Tim ahli purbakala dari BPSMP Sangiran saat melakukan observasi lapangan di Desa Banjarejo (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tim ahli purbakala dari BPSMP Sangiran saat melakukan observasi lapangan di Desa Banjarejo (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Penemuan benda purbakala di Desa Banjarejo ternyata tidak berhenti pada fosil gading gajah purba saja. Sebab, pada Selasa (22/3/2016) sore, ditemukan lagi fosil tulang yang diperkirakan adalah bagian paha (tempong) gajah purba. Fosil paha ini ditemukan di tegalan Dermo yang berada disebelah utara Dusun Ngrunut.

Fosil potongan tubuh hewan purba ini berhasil dideteksi keberadaannya oleh Kaur Kesra Dusun Kuwojo Budi Setyo Utomo. Salah satu perangkat Desa Banjarejo tersebut, selama ini sudah dikenal sebagai penemu fosil handal.

“Selama ini, Pak Budi sudah menemukan puluhan fosil. Karena keahliannya ini, dia sering dijuluki profesor purbakala,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Setelah berhasil mendeteksi adanya fosil, Budi selanjutnya melaporkan pada tim ahli purbakala dari BPSMP Sangiran yang kebetulan sudah berada di Desa Banjarejo sejak 8 hari lalu. Akhirnya, bersama-sama dengan tim BPSMP, fosil itu dievakuasi dari lokasi.

Fosil paha bagian atas itu berada pada kedalaman sekitar 2 meter. Meski kondisinya masih utuh, tetapi fosil itu sudah tidak menyatu, karena patah jadi 7 potongan. Panjang fosil ini sekitar 35 cm dan lebarnya 20 cm.

“Kondisi fosil patah seperti gading gajah. Kalau gading patah jadi 10, maka fosil paha ini patah jadi 7. Nanti fosil ini akan direkonstruksi pihak sangiran,” imbuhnya.

Selain dua fosil berukuran cukup besar,  tim ahli purbakala juga menemukan sedikitnya 64 potongan fosil saat melakukan observasi lapangan dan penggalian dibeberapa titik. Puluhan potongan fosil ini berasal dari beberapa spesies hewan purba. Diantaranya, binatang laut, gigi buaya muara, kerbau, menjangan, dan gajah.

Editor : Kholistiono

Baca juga : Ratusan Potongan Fosil di Grobogan Teridentifikasi Tim Purbakala Sangiran

Ratusan Potongan Fosil di Grobogan Teridentifikasi Tim Purbakala Sangiran

Petugas melakukan kegiatan menata potongan fosil di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Petugas melakukan kegiatan menata potongan fosil di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Kedatangan 20 ahli purbakala dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, untuk melakukan penelitian sejak Selasa (15/3/2016) sudah membuahkan hasil.

Mereka sudah berhasil mengidentifikasi 270 potongan fosil purba yang ditemukan selama beberapa waktu terakhir.

“Kalau boleh saya bilang, kerja tim ahli dari BPSMP ini luar biasa. Sejauh ini sudah ada 270 fosil yang berhasil terdata dengan baik. Masih ada potongan fosil sekitar 200 yang akan diidentifikasi lagi,” ungkap Kades Banjarejo, Ahmad Taufik.

Dari proses identifikasi yang sudah dilakukan, potongan fosil itu berasal dari 17 jenis hewan purba. Antara lain,gajah, badak, kuda nil, penyu, banteng, kerbau, buaya, sapi, hiu, babi, antelop, menjangan dan kerang.
Selain jenis hewan, potongan fosil yang ada juga bisa diidentifikasi berdasarkan bagian tubuhnya. Misalnya, potongan tanduk, ekor, kepala, gigi, kaki atau bagian tubuh lainnya.

Dengan teridentifikasinya fosil tersebut nantinya akan banyak manfaat yang didapat. Seperti memudahkan dalam menata dalam tempat penyimpanan. Yakni, dengan mengelompokkan fosil berdasarkan jenis hewannya.

Semua fosil yang sudah diidentifikasi diberi label khusus. Hal ini nantinya juga akan memudahkan pengunjung yang melihat koleksi-koleksi tersebut.

“Nantinya kalau lihat fosil sudah enak. Dengan lihat labelnya maka akan dapat informasi lengkap. Jadi, saya juga tidak akan kebingungan untuk menjelaskan pada pengunjung seperti yang terjadi selama ini,” imbuhnya.

Kepala BPSMP Sangiran Sukronedi menyatakan, peneliti yang datang ke Banjarejo akan dibagi jadi tiga tim. Tim pertama akan melakukan penelitian, pengkajian dan mengungkap nilai-nilai penting dari penemuan benda purbakala yang ada di Banjarejo. Misalnya, soal struktur tanah, dan titik penemuan benda purbakala.

Kemudian tim kedua akan melakukan upaya konservasi, registrasi, dan identifikasi benda purbakala yang sudah ditemukan selama ini. Mereka nanti akan melakukan perawatan terhadap benda purbakala agar awet dan tidak rusak. Beberapa potongan fosil juga akan dikumpulkan sesuai jenis hewannya.

Sedangkan, tim ketiga akan fokus pada penataan benda-benda purbakala biar terlihat rapi. Tim ini juga akan membuatkan tulisan singkat berisi cerita tentang benda purbakala tersebut.

“Jadi, personel yang datang ke Banjarejo cukup komplit. Ada, ahli arkelogi, kimia, biologi, hingga desain komunikasi visual. Mereka akan melangsungkan penelitian selama dua minggu,” jelas Sukron.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :

Mantap, Koleksi Fosil yang Ada di Banjarejo Bikin Takjub Ahli Fosil dari Balai Arkeologi 

“Fosil juga Ditemukan di Dalam Rumah Warga Banjarejo Grobogan” 

Ada Peneliti BPSMP Sangiran Datang, ’Museum’ Banjarejo Kebanjiran Pengunjung

Puluhan siswa SDN Cungkup, Kecamatan Kunduran, Blora berkunjung ke Banjarejo untuk melihat koleksi benda purbakala. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Puluhan siswa SDN Cungkup, Kecamatan Kunduran, Blora berkunjung ke Banjarejo untuk melihat koleksi benda purbakala. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Kadatangan 20 ahli purbakala dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran ke Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus sejak Selasa (15/3/2016) ternyata membawa dampak tersendiri. Yakni, makin banyaknya orang yang datang berkunjung ke Banjarejo untuk melihat koleksi benda purbakala dan cagar budaya.

”Kedatangan ahli purbakala yang melakukan penelitian di sini memang jadi daya tarik tersendiri. Sejak mereka datang, banyak pula orang yang berkunjung ke sini,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Disamping warga Grobogan, pengunjung juga datang dari kabupaten tetangga. Selain pribadi dan rombongan kecil, ada pula pengunjung yang datang dalam jumlah banyak. Miasalnya kunjungan dari puluhan siswa SDN Cungkup, Kecamatan Kunduran, Blora, Kamis (17/3/2016) siang.

”Pengunjung yang datang dalam rombongan besar biasanya anak-anak sekolah. Ada juga dari beberapa komunitas baik dari sini maupun luar kota yang berkunjung. Bahkan, ada juga orang dari Kalimantan yang menyempatkan diri mampir ke sini untuk melihat koleksi benda purbakala maupun cagar budaya,” imbuh Taufik.

Ditambahkan, sejak enam bulan terakhir, jumlah pengunjung diperkirakan sudah lebih dari 5.000 orang. Hal itu berdasarkan dari data yang tertera dalam buku tamu yang disediakan. Namun, data riil kemungkinan lebih dari angka itu karena tidak semua pengunjung sempat mengisi buku tamu tersebut.

Sementara itu, beberapa pengunjung mengaku sengaja datang ke sana karena tertarik adanya penelitian yang dilakukan ahli dari BPSMP Sangiran. Mereka merasa penasaran dan merasa ingin tahu apa saja kegiatan yang dilakukan para peneliti tersebut.

”Sebelumnya, saya sudah beberapa kali datang ke sini. Tetapi, kali ini terasa istimewa karena bisa bertanya banyak hal pada para ahli purbakala tentang fosil-fosil yang ada di sini,” kata Iyan, salah satu pengunjung di Banjarejo.

Editor : Titis Ayu Winarni

“Fosil juga Ditemukan di Dalam Rumah Warga Banjarejo Grobogan”

Ahli purbakala melakukan penyelidikan di lokasi penemuan barang fosil Banjarejo, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Ahli purbakala melakukan penyelidikan di lokasi penemuan barang fosil Banjarejo, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Selain menangani benda purbakala yang sudah ditemukan, ahli purbakala dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran juga melakukan penyisiran lapangan.

Rencananya, mereka akan menyisir beberapa kawasan di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus yang selama ini sudah pernah ditemukan fosil hewan purba. Seperti di Dusun Nganggil, Ngrunut, Barak, Kuwojo dan Peting.

“Observasi lapangan sudah mulai dilakukan sejak kemarin. Untuk tahap pertama, sasarannya adalah daerah yang sudah ada penemuan fosilnya dulu. Ada sekitar enam ahli yang melakukan aktivitas lapangan ini, sementara yang lain menangani benda purbakala yang sudah ditemukan,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Menurutnya, penyisiran yang dilakukan tidak hanya di areal persawahan. Tetapi juga di lahan perkebunan serta pekarangan penduduk. Hal itu dilakukan karena selama ini, benda purbakala yang ditemukan berada pada lokasi yang berlainan.

“Tempat penemuan benda purbakala selama ini memang unik. Ada yang ditemukan di pekarangan, sawah, kebun jati, pinggiran sungai, dan sempat ada yang di dalam rumah penduduk,” imbuh Taufik.

Ia menambahkan, salah satu orang yang paling berjasa dalam menemukan fosil selama ini adalah perangkatnya. Yakni, Kaur Kesra Dusun Kuwojo Budi Setyo Utomo. Hampir semua fosil yang berhasil diangkat, penemunya adalah perangkat desa tersebut.

“Kehebatan Pak Budi dalam masalah fosil sudah tidak diragukan lagi. Bahkan, beberapa warga memberikan julukan Profesor Fosil padanya. Dalam penelitian ini, Pak Budi juga kita minta untuk ikut membantu tim dari BPSMP karena dia tahu banyak soal ini,” sambungnya.

Sementara itu, saat dimintai komentar masalah ini, Budi bersikap merendah. Pria berusia 35 tahun itu mengaku tidak punya keahlian khusus dalam masalah penemuan fosil.

“Apa yang diceritakan orang itu saya kira terlalu berlebihan. Saya hanya kebetulan saja bisa menemukan fosil-fosil ini. Dalam menemukan fosil ini saya hanya belajar dari alam dan insting,” kata lulusan MTs itu.

Dari pengalaman yang dimiliki, Budi menyatakan jika potensi fosil yang ada di desanya masih cukup banyak. Hampir semua dusun menyimpan kekayaan fosil. Hanya saja, kedalaman fosil yang terpendam dalam tanah itu berbeda-beda.

Meski demikian, untuk bisa mengeluarkan fosil itu bukan pekerjaan mudah. Sebab, butuh dana untuk penggalian serta peralatan yang lebih memadai. Harapannya, pihak terkait nantinya bisa mengambil alih upaya penggalian dan dia siap membantu untuk memperlihatkan kekayaan purbakala yang tersimpan di bumi Banjarejo.

Editor : Akrom Hazami

Mantap, Koleksi Fosil yang Ada di Banjarejo Bikin Takjub Ahli Fosil dari Balai Arkeologi

Ahli fosil dari Balai Arkeologi Yogjakarta Sofwan Nurwidi (lengan panjang) ditemani Plt Kadisporabudpar Grobogan Wiku Handoyo (baju hijau) sedang mengamati fosil yang ada di Desa Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Ahli fosil dari Balai Arkeologi Yogjakarta Sofwan Nurwidi (lengan panjang) ditemani Plt Kadisporabudpar Grobogan Wiku Handoyo (baju hijau) sedang mengamati fosil yang ada di Desa Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski baru pertama berkujung namun peneliti yang juga ahli paleontologi dari Balai Arkeologi Yogyakarta Sofwan Nurwidi, mengaku takjub dengan koleksi fosil purbakala yang ada di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. Hal itu diungkapkan ketika Sofwan melakukan observasi guna melihat koleksi fosil yang sementara ini tersimpan di rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik, Sabtu (20/2/2016).

”Koleksi fosil yang ada di sini selain banyak jumlahnya, ternyata sangat beragam jenisnya dan usianya juga sangat tua. Dari observasi ini bisa saya katakan kalau di Banjarejo ini sangat potensial untuk dijadikan tempat penelitian,” kata Sofwan.

Saat berkunjung ke Banjarejo tersebut, Sofwan tidak sendirian. Plt Disporabudpar Grobogan Wiku Handoyo beserta Kabid Kebudayaan Marwoto dan beberapa stafnya ikut pula menyertai ahli fosil tersebut ke Banjarejo.

Sofwan menjelaskan, dari pengamatannya ternyata ada banyak spesies hewan yang hidup di situ pada masa lampau. Antara lain, gajah, badak, kuda nil, penyu, banteng, kerbau, buaya, sapi, hiu, dan kerang.

Satu fosil lagi yang dinilai sangat fantastis adalah tulang kerbau raksasa. Dimana, selama ini sangat jarang ada penemuan tulang kepala kerbau dalam kondisi lengkap. Terutama, kedua tanduknya bisa ketemu semua. ”Fosil kepala kerbau ini luar biasa. Sangat jarang ada penemuan fosil kepala kerbau seperti yang ada di sini,” cetusnya.

Plt Kadisporabudpar Grobogan Wiku Handoyo menambahkan, kedatangan ahli fosil itu menindaklanjuti surat yang dilayangkan beberapa waktu sebelumnya. Dimana, pihaknya meminta agar penemuan aneka benda purbakala di Banjarejo agar diteliti pihak Balai Arkeologi. Selain itu, permohonan serupa juga disampaikan pada Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran dan Disbudpar Jawa Tengah.

”Dalam beberapa bulan terakhir, banyak temuan benda purbakala maupun cagar budaya di Banjarejo. Oleh sebab itu, kami berharap agar penemuan ini bisa diteliti lebih lanjut oleh mereka yang ahli di bidangnya. Kami juga berpesan agar temuan ini dirawat dan dijaga sebaik mungkin,” kata Wiku didampingi Kabid Kebudayaan Marwoto.

Editor : Titis Ayu Winarni

Selama Libur Panjang, Ada Seribu Orang Kunjungi Museum Banjarejo

Selama liburan ini Museum Banjarejo ramai dikunjungi wisatawan yang penasaran akan benda-benda purbakala. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Selama liburan ini Museum Banjarejo ramai dikunjungi wisatawan yang penasaran akan benda-benda purbakala. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

GROBOGAN – Pilihan orang mengisi libur panjang ternyata tidak hanya dilakukan pada objek wisata terkenal saja. Keberadaan ’museum’ Desa Banjarejo ternyata juga mengundang daya tarik pengunjung selama libur panjang natal dan tahun baru ini.

Indikasinya, bisa dilihat dengan ramainya pengunjung ke desa yang berjarak sekitar 50 km dari Kota Purwodadi itu. Tujuan utamanya tentu saja untuk melihat koleksi benda purbakala dan cagar budaya yang disimpan di rumah Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik.

”Kebetulan saya ada rencana ke rumah family di Kecamatan Wirosari yang mau punya gawe. Sekalian, saya ajak anak istri untuk melihat koleksi benda kuno di Banjarejo. Selama ini, saya sering menyimak kabar Desa Banjarejo dari media online,” kata Pramono, warga asal Wirosari yang sudah lama menetap di Surabaya.

Tidak hanya dari luar kota saja, pengunjung lokal dari wilayah Grobogan juga banyak yang bertandang ke Banjarejo. Kebanyakan, mereka ini datang secara rombongan. Ada yang naik sepeda motor dan mobil pribadi. Beberapa waktu sebelumnya, ada pula rombongan pengunjung yang datang naik sepeda.

”Liburan kali ini, saya tidak mengajak keluarga piknik ke luar kota seperti biasanya. Maklum kondisi ekonomi lagi tidak memungkinkan. Makanya, saya ajak saja jalan-jalan lihat koleksi benda-benda kuno dan bersejarah,” cetus Agus Triyono, warga Desa Krangganharjo, Kecamatan Toroh.

Sementara itu, Kades Banjarejo Ahmad Taufik mengakui jika animo masyarakat untuk berkunjung ke desanya memang luar biasa. Tepatnya, setelah heboh adanya penemuan bangunan kuno mirip pondasi dari tatanan batu bata di Dusun Nganggil, (12/10/2015) lalu. Sejak saat itu, sudah ada ribuan orang yang berkunjung untuk melihat dari dekat benda kuno tersebut.

Pengunjung makin naik jumlahnya seiring adanya penemuan terus hingga saat ini. Baik dan hewan purba itu. Penemuan benda purbakala maupun cagar budaya.

”Khusus untuk liburan panjang bersamaan dengan natal dan tahun baru, pengunjungnya memang cukup banyak. Dalam dua minggu terakhir, kemungkinan ada 1.000 pengunjung yang datang. Beberapa di antaranya bahkan ada yang datang dari Kalimantan,” katanya. (DANI AGUS/TITIS W)

Video – Profesor Fosil dari Banjarejo Grobogan Ini Bikin Decak Kagum Warga

Budi Setyo Utomo saat mengangkat fosil gading gajah purba di Desa Banjarejo, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Budi Setyo Utomo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Banyaknya temuan benda purbakala di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, ternyata tidak bisa dipisahkan dengan sosok Budi Setyo Utomo.

Karena sebagian besar benda berharga yang sudah berwujud fosil itu ditemukan pria yang saat ini menjabat sebagai Kaur Kesra Dusun Kuwojo.

Dari cerita warga setempat, Budi memang dikenal mahir untuk mendeteksi keberadaan fosil yang terpendam dalam tanah. Bukti paling nyata adalah tiga penemuan fosil yang terjadi pada tiga bulan terakhir.

Pertama adalah penemuan fosil kepala kerbau raksasa pada bulan September. Kemudian, bulan ini, Budi berhasil mengendus keberadaan fosil gading gajah purba dan bagian tempurung kepala banteng purba. Beberapa waktu sebelumnya, beragam potongan fosil juga bisa ditemukan di lokasi yang berbeda tetapi masih di kawasan Desa Banjarejo.

“Kehebatan Pak Budi dalam masalah fosil sudah tidak diragukan lagi. Bahkan, beberapa warga memberikan sebutan Profesor Fosil padanya,” ungkap beberapa warga Banjarejo.

Saat dikonfirmasi masalah ini, Budi bersikap merendah. Pria berusia 35 tahun itu mengaku tidak punya keahlian khusus dalam masalah penemuan fosil.

“Apa yang diceritakan orang itu saya kira terlalu berlebihan. Saya hanya kebetulan saja bisa menemukan fosil-fosil ini. Dalam menemukan fosil ini saya hanya belajar dari alam dan insting,” kata lulusan MTs itu.

Budi Setyo Utomo saat mengangkat fosil gading gajah purba di Desa Banjarejo, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Budi Setyo Utomo saat mengangkat fosil gading gajah purba di Desa Banjarejo, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

Dari pengalaman yang dimiliki, Budi menyatakan jika potensi fosil yang ada di desanya masih cukup banyak. Hampir semua dusun menyimpan kekayaan fosil. Hanya, kedalaman fosil yang terpendam dalam tanah itu berbeda-beda.

Meski demikian, untuk bisa mengeluarkan fosil itu bukan pekerjaan mudah. Sebab, butuh dana untuk penggalian serta peralatan yang lebih memadai. Harapannya, pihak terkait nantinya bisa mengambil alih upaya penggalian dan dia siap membantu untuk memperlihatkan kekayaan purbakala yang tersimpan di bumi Banjarejo.

Sementara itu, Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik mengakui jika jasa perangkatnya dalam penemuan fosil purbakala itu sangat besar. Dia berharap, agar dalam waktu mendatang bisa ditemukan lagi benda purbakala untuk menambah koleksi yang saat ini masih tersimpan di rumahnya. (DANI AGUS/AKROM HAZAMI)