Dinkes Kudus Bantah Lamban Lakukan Fogging

Pengurus Fatayat NU Kudus saat menyambangi DPRD Kudus. (Istimewa)

Pengurus Fatayat NU Kudus saat menyambangi DPRD Kudus. (Istimewa)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Terkait pelaksanaan fogging, Maryata, Kepala Dinas Kesehatan Kudus membantah kalau dinasnya lamban. Menurutnya, fogging dilakukan melalui prosedur yang sudah ada. Tidak semua daerah yang ada pasien DBD, harus dilakukan fogging.

”Dalam melakukan fogging, sebelumnya petugas kami pasti akan mengecek lapangan untuk mengetahui apakah daerah tersebut harus dilakukan fogging atau tidak,” katanya.

Menurut Maryata, lantaran fogging tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Jika tidak dilakukan secara benar, fogging bukannya memberantas nyamuk, tapi justru semakin membuat kebal nyamuk sebagai pembawa virus DBD.

Untuk itu, kata Maryata, langkah paling efektif untuk pemberantasan DBD adalah melalui gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Gerakan tersebut harus dilakukan secara massif dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Dirinya meminta agar masyarakat benar-benar memahami penyakit DBD. Kalau memang ada pasien yang meninggal dunia, kemungkinan pada saat diobati pasien tersebut sudah dalam kondisi yang cukup parah.

”Yang perlu dipahami adalah bagaimana pola dari penyakit DBD tersebut. Seperti diketahui DBD memiliki siklus seperti pelana kuda, dimana setelah lima hari, panas pasien akan turun. Pada saat itulah sebenarnya kondisi rawan sedang terjadi,” kata Maryata.

Sementara, Ketua Komisi D DPRD Kudus Mukhosiron menyarankan, untuk bisa memaksimalkan gerakan PSN, Dinas Kesehatan bisa menggandeng ormas-ormas kemasyarakatan yang ada terutama yang berbasis anggota perempuan. ”Dengan melibatkan mereka, tentu upaya pemberantasan DBD bisa semakin massif dan maksimal,” tandasnya.

Editor : Kholistiono
Baca juga : Fatayat NU Nilai Dinkes Kudus Lamban Tangani DBD

Fatayat NU Nilai Dinkes Kudus Lamban Tangani DBD

Pengurus Fatayat NU Kudus saat mengadu ke DPRD Kudus (Istimewa)

Pengurus Fatayat NU Kudus saat mengadu ke DPRD Kudus. (Istimewa)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sejumlah pengurus Fatayat Nahdlatul Ulama Kabupaten Kudus, menggeruduk DPRD Kudus, Rabu (2/3/2016). Kedatangan mereka tersebut untuk mengadukan lambannya Dinas Kesehatan dalam menangani wabah demam berdarah yang terjadi di Kudus yang berakibat adanya pasien DBD yang meninggal dunia.

Ketua Umum Fatayat NU Kudus Karyati Inayah mengungkapkan, pihaknya mendapat keluhan dari anggotanya, dimana anaknya yang terserang DBD akhirnya meninggal dunia. Ironisnya, sang anak meninggal dunia setelah dirawat di rumah sakit.

”Padahal sudah ditangani di rumah sakit, tapi akhirnya meninggal dunia,” kata Karyati saat melakukan audiensi dengan Komisi D DPRD Kudus.

Kondisi tersebut, menurut Karyati tentu cukup memprihatinkan. Apalagi, selama ini respon Dinas Kesehatan untuk mengantisipasi wabah DBD juga dinilai masih minim.

Salah satu contoh adalah persoalan fogging. Meski ada warga yang terserang DBD, namun Dinas Kesehatan ternyata tidak segera melakukan fogging di lokasi tersebut. ”Padahal, warga sudah melaporkan ke dinas, tapi responnya lambat,” ujarnya.

Editor : Kholistiono