Hai Pencinta Es Tebu, Perhatikan Fakta Berikut

Penjual es tebu mangkal di salah satu sudut di Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono

Penjual es tebu mangkal di salah satu sudut di Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono

 

KUDUS – Setiap orang yang membeli minuman segar alami es tebu, pasti banyak yang mempertanyakan mengapa penjual tersebut ada yang menempel tulisan tebu ijo di gerobaknya serta ada yang tidak. Hal itu dilakukan supaya dapat menarik minat pembeli. Sehingga pembeli juga bisa membedakan rasa dari tebu tersebut.

Salah satu penjual es tebu yang biasa mangkal di Jalan Mejobo depan PDAM Kudus Eko Santoso mengatakan, papan tulisan es tebu ijo sengaja ditempel. Supaya konsumen tahu bahwa tebu itu berbagai jenis macamnya.Seperti hanya es tebu ijo semacam ini.

Terkait perbedaan antara tebu hijau dan merah dia juga menjelaskan bahwa dari segi fisik, tebu hijau kulitnya lebih tipis.Sedangkan tebu merah kulitnya keras dan kasar. Dan itupun di saat mengelupasnya tebu hijau hanya sekadar dikelupas sedikit saja serta dibersihkan degan kain. Sedangkan tebu merah harus dikelupas degan tuntas.

“Selain fisik luar, tebu hijau dan merah juga mempunyai perbedaan yang menonjol. Yakni bila tebu hijau hanya sekali dapat digiling untuk diambil sarinya, namun untuk tebu merah dapat berulang kali dilakukan penggilingan. Perbedaan itu karena tulang tebu hijau lebih lunak dan mudah putus, sedangkan tebu merah sangat keras dan ulet,” ujarnya.

Diketahui bahwa es tebu hijau dikatakan lebih mahal dibanding dengan tebu merah. Hal itu juga disebabkan mahalnya pasaran tebu hijau. “Es tebu hijau memang rata rata Rp 2.500 per gelas. Sedangkan es tebu merah Rp 2.000 per gelas. Sebab harga tebu hijau satu kuintal Rp 140 ribu, sedangkan tebu merah satu kuintal Rp 100 Ribu. Selain itu, tebu hijau jarang ditemukan di Kudus,” paparnya.

Selain perbedaan perbedaan fisik dan harganya, ada satu lagi yang bisa membuat konsumen lebih tahu, yakni terkait rasa tebu tersebut. “Untuk tebu hijau baik yang masih muda atau tua, rasanya tetap manisnya pas. Sedangkan Untuk tebu merah, yang muda rasanya ada sedikit campuran asin.Sedangkan yang tua manisnya terlalu legit atau kentel,” terangnya. (Edy Sutriyono/AKROM HAZAMI)

Pedagang Es Tebu Keluhkan Harga Bahan Baku yang Terus Naik

Salah satu penjual es tebu yang biasa mangkal di GOR Wergu (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Salah satu penjual es tebu yang biasa mangkal di GOR Wergu (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Meski musim panas seperti ini membawa berkah tersendiri bagi pedagang es tebu, yakni dengan banyaknya masyarakat yang membeli es tebu, untuk sekadar mengurangi rasa dahaga. Namun, di sisi lain, pedagang es tebu mengeluhkan dengan terus naiknya harga bahan baku.

Salah satu penjual es tebu Noor Hidayah mengatakan, makin lama hargatebu makin naik. Untuk per kuintalnya dari semula yang harganya Rp 80 ribu, sudah sekitar sepekan lalu harganya naik menjadi Rp 90 ribu.

Wanita yang sering berjualan es tebu di GOR Wergu Kudus tersebutmengatakan, untuk pembelian bahan baku juga dibatasi, hanya tiga kuintal untuk satu pedagang.

“Ya mau gimana lagi,bulan lalu bisa membeli 5 kuintal, tapi sekarang hanya dibatasi 3 kuintal saja. Itupun kualitas tebunya sekarang sangat keras, airnya sedikit. Mungkin karena kemarau dan pejual es tebu semakin banyak,” katanya.

menurutnya, biasanya tebu yang dibelinya dari daerah Kandangmas, Dawe tersebut bisa habis dalam jangka waktu tiga hari. Sebab perharinya dapat menghabiskan tebu sebanyak satu kuintal.

“Untuk per harinya kita bisa menghabiskan tebu satu kuintal, dengan pendapatan sekitar Rp 300 ibu. Pendapatan itu belum dipotong dengan biaya pengelupasan tebu per kuintalnya Rp 10 ribu, pemilihan batang tebu Rp 15 ribu , lain lain Rp 100 ribu. Jika dihitung, katanya, pendapatan bersih sekitar Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu,” tukasnya. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)