PNS di Jepara Diimbau Tak Gunakan Elpiji Melon

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Jepara – Bupati Jepara Ahmad Marzuqi mengeluarkan maklumat agar PNS tak menggunakan elpiji ukuran tiga kilogram. Surat edaran bernomor 510/4127/2017 itu ditujukan kepada kepala Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) di seluruh kabupaten dan para camat. 

Dalam badan surat disebutkan, imbauan didasarkan atas beberapa keluhan akan kelangkaan tabung elpiji kemasan melon. Di samping itu, PNS sebagai warga yang dinilai mampu masih banyak yang menggunakan gas kemasan melon itu. 

Selain itu, maklumat itu didasarkan atas Permen ESDM No 26/2009 tentang Penyediaan dan Pendistribusian LPG. Di sana tersurat, bahwa elpiji kemasan tertentu diperuntukan bagi keluarga berpenghasilan tak lebih dari Rp 1,5 juta per bulan. 

Kepala Bagian Perekonomian Setda Jepara, Adi Nugroho menyebut, surat tersebut bersifat imbauan. Namun demikian ia belum mengetahui sejauh mana keefektifan surat itu.

“Itu bersifat imbauan kepada PNS. Untuk keefektifan kita belum meneliti sampai sejauh itu. Namun harapannya berpengaruh agar PNS tak membeli LPG bersubsidi,” ucapnya, Selasa (18/7/2017). 

Dirinya mengatakan, surat tersebut hanya disebar dikalangan PNS. Sementara di agen ataupun pangkalan tidak didistrisbusikan. 

Dengan hal tersebut, ia mengatakan masih ada celah bagi PNS untuk mengonsumsi jatah bagi warga miskin. Sedangkan menurutnya, PNS digolongkan warga mampu karena berpenghasilan lebih dari Rp 1,5 juta per bulan. 

Ia menyebut, dengan surat itu mencegah PNS membeli elpiji kemasan melon. Menurut Adi, jika terus dikonsumsi warga mampu, tak ayal akan memengaruhi permintaan gas tiga kilogram.  “Adapun, untuk konsumsi elpiji bulanan di Jepara berjumlah sekitar 600 ribu tabung,” jelas Adi.

Editor : Kholistiono

Warga Serbu Pasar Murah Elpiji

Warga antusias untuk mendapatkan gas elpiji pada operasi pasar yang berlangsung di Desa Daren, Kecamatan Nalumsari, Jepara, Selasa (4/7/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Warga serbu operasi pasar elpiji, saat pembukaan TMMD Sengkuyung II di lapangan Desa Daren, Kecamatan Nalumsari, Jepara, Selasa (4/7/2017). Hal itu lantaran, harga tabung kemasan tiga kilogram melambung hingga mencapai Rp 19 ribu.

Tidak hanya itu, saat Lebaran stoknya pun agak berkurang, lantaran permintaan yang meningkat. Hal itu karena, permintaan tidak hanya datang dari warga lokal, namun berasal pula dari warga Kudus.

“Pas Lebaran susah mencarinya, harganya pun mencapai Rp 19 ribu sampai Rp 20 ribu,” kata Kosrin (60) warga Daren.

Ia mengaku saat terjadi kelangkaan stok, harga bisa melambung mencapai Rp 20 ribu. Namun jika suasana normal, harga tabung kemasan melon itu berada di kisaran Rp 18 ribu sampai Rp 19 ribu. Hal itu diakui oleh warga lain. 

“Iya, pas Lebaran memang agak susah ditemui. Harganya bisa mencapai Rp 22 ribu. Kalau normal hanya Rp 18 ribu,” Kata Khusnul (30).

Dengan adanya pasar murah tersebut, warga mengaku senang. Lantaran harga yang dipatok jauh dari harga di pasaran, yakni Rp 15.500. Namun untuk mendapatkannya, warga harus menunjukan Kartu Tanda Penduduk (KTP) asli. 

Nabila, dari Agen Sumber Migas Sejahtera mengungkapkan kekurangan stok saat Lebaran karena tingginya permintaan. “Tidak hanya dari warga Jepara, warga dari Kudus pun ikut mencari kesini karena didaerah mereka langka,” tutur dia.

Namun demikian, setelah hari raya tersebut permintaan dan stok kembali normal. Adapun untuk kegiatan pasar murah tersebut disediakan lebih kurang 200 tabung elpiji kemasan tiga kilogram.  “Kami ikut kegiatan ini karena diminta untuk mengisi stand di TMMD ini,” tutupnya.

Editor : Kholistiono

Kuota Elpiji 3 Kg di Jepara 8 Juta Lebih

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Jepara – Kabupaten Jepara memperoleh kuota tabung gas sebanyak 8.204.333 untuk tahun 2017. Menjelang Ramadan, pemkab akan memonitor kebutuhan warga.

Kabag Perekonomian Setda Jepara Adhi Nugroho menjelaskan, kuota tersebut untuk kebutuhan selama satu tahun. “Jika memang membutuhkan tambahan, maka kami akan mengusulkan,” ucapnya, Jumat (28/4/2017).

Hal itu berkaca pada tahun 2016. Konsumsi masyarakat lebih tinggi jika dibandingkan dengan kuota yang dijatah untuk Kabupaten Jepara.

Pada tahun lalu, kuota untuk Jepara berjumlah 7.750.673. Sedangkan realisasi penyerapan, mencapai 7.821.000.

Dirinya menjelaskan, konsumsi terbesar dari masyarakat berada di wilayah kota. Hal itu karena, banyaknya penduduk yang menggunakan tabung elpiji.

Lebih lanjut ia mengatakan, pihaknya telah secara rutin melakukan pengawasan terhadap serapan elpiji tiga kilogram. Namun demikian, hingga kini belum menemukan kenaikan permintaan elpiji bersubsidi hingga menyebabkan kelangkaan.

“Tak hanya mendekati Ramadan dan Lebaran, namun monitoring elpiji 3 kilogram kami lakukan secara berkala selama ini,” ujar Adhi.

Di Jepara, kebutuhan elpiji dipasok oleh 13 agen dan 1300 pangkalan yang tersebar di seantero kabupaten. Beberapa agen terdapat di Banyuputih-Kalinyamatan, Nalumsari, Kali Pucang Welahan, Kerso-Kedung, Gotri-Kalinyamatan dan paling banyak di wilayah Jepara sebanyak 3 agen, serta Jenggotan-Kembang. 

Editor : Kholistiono

Penjualan Elpiji Bright Gas di Kudus Terus Meningkat

Salah satu perwakilan dari Pertamina, Sofyan Dhuhri berfoto di barisan Bright Gas di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Salah satu perwakilan dari Pertamina, Sofyan Dhuhri berfoto di barisan Bright Gas di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pengguna tabung gas elpiji jenis Bright Gas 5,5 kilogram (kg) semakin banyak. Dari awal mula peluncuran, pengguna di Kudus semakin meningkat. Bahkan Kudus termasuk kabupaten dengan penyerapan Bright Gas yang cukup tinggi.

Communication and Relations Pertamina MOR IV, Didi Andrian Indra Kusuma mengatakan, pada awal distribusi, wilayah Kudus hanya mampu  sebanyak 260 tabung per bulan. Namun saat ini, penyaluran elpiji nonsubsidi ini telah mencapai 1.500 tabung per bulan.

”Penyaluran bisa meningkat karena kesadaran masyarakat menggunakan elpiji nonsubsidi semakin meningkat. Harga yang terjangkau juga menjadi penyebab masyarakat menggunakannya,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Pihaknya juga menyiapkan program trade in, masyarakat yang memiliki dua tabung elpiji 3 kilogram bisa menukar dengan elpiji tabung 5,5 kilogram dengan menambahkan biaya konversi Rp 38.000. Masyarakat juga dapat memperoleh elpiji tabung sedang ini di semua pangkalan elpiji yang berada di Kudus.

Menurutnya, masyarakat tidak perlu khawatir untuk memperoleh isu ulang elpiji ini karena tersedia di pangkalan.. Bahkan keberadaan elpiji di bawah 12 kilogram juga membuatnya praktis dan mudah untuk dibawa. “Masyarakat sudah mulai sadar, jika gas melon lebih mudah habis, namun ini lebih awet dengan jumlah isi tabung jauh lebih banyak tentunya,” inbuhnya.

Sementara, Domestic Gas Region Manager IV, Pierre J Wauran menyampaikan, Bright Gas yang diluncurkan pada  April lalu banyak diminati karena lebih aman, yaitu dilengkapi katup ganda. Tabung tersebut juga dilengkapi segel resmi Pertamina yang dilengkapi dengan hologram optical color switch sehingga tidak bisa dipalsukan. ”Masyarakat yang sadar dengan keamanan produk serta kualitas, akan lebih memilih elpiji 5,5 kilogram. Jadi keamanan juga ditingkatkan selain isi yang lebih banyak pula,” ungkap dia.

Saat ini sudah ada empat agen di Kudus yang semula hanya menyalurkan elpiji 12 kilogram, kini juga menyalurkan elpiji 5,5 kilogram. Ini karena respons masyarakat semakin bagus. “Artinya memang peminat masyarakat sudah meningkat untuk menggunakan. Permintaan juga lumayan banyak juga,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

PNS di Rembang Wajib Pakai Bright Gas Mulai Januari 2017

Ilustrasi

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Rembang – Para pegawai negeri sipil (PNS) di Rembang diwajibkan untuk memakai bright gas elpiji ukuran 5,5 kilogram per 1 Januari 2017 mendatang. Hal tersebut diutarakan oleh Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto saat memberikan arahan pada acara rapat koordinasi penataan pangkalan elpiji 3 Kg di Lantai IV kantor Bupati Rembang, Rabu (28/12/2016).

Para PNS diharapkan dapat menjadi contoh bagi masyarakat luas agar beralih dari penggunaan elpiji bersubsidi kemasan tiga kilogram ke bright gas, nonsubsidi. Selain itu, nantinya elpiji 3 kg juga bisa terfokus oleh masyarakat biasa.

“Masyarakat perlu mengenal terlebih dahulu bright gas agar tahu kelebihan dan kekurangan dari elpiji keluaran baru Pertamina ini. Untuk itu pemakaian itu dimulai dari PNS dulu, sehingga muncul rasa ingin tahu masyarakat untuk mencoba,” ujar Bayu.

Menurutnya, jika masyarakat sudah tertarik, baru akan dibuat imbauan melalui surat edaran ke masing-masing kecamatan. Sementara itu, untuk elpiji subsidi hanya diperuntukkan bagi warga kurang mampu.

Dia melanjutkan, masyarakat yang mempunyai ekonomi menengah ke atas mestinya tidak pakai elpiji subsidi yang tiga kilogram, supaya tidak terjadi kelangkaan. Oleh sebab itu, Pertamina menghadirkan bright gas untuk masyarakat yang ekonomi golongan menengah ke atas, seperti halnya PNS tersebut.

Pemda Rembang juga akan berencana menambah agen elpiji. Sehingga nantinya masing-masing satu di setiap kecamatan dan pangkalan di tiap desa.

Sales Executive Pertamina Gas Domestik Region IV Semarang Agung Nurhananto Putro mengatakan, konsumsi elpiji subsidi tiga kilogram di Kabupaten Rembang tumbuh 1,3 persen pada 2016 ini.

“Dibandingkan dengan tahun2015, peningkatan konsumsi elpiji subsidi tiga kilogram di Rembang mencapai 15 persen. Diperkirakan hingga Desember nanti, konsumsinya tidak over target 13.509 matrik ton,” katanya.

Editor : Kholistiono

Darurat ! Distribusi BBM dan Gas Elpiji ke Karimunjawa Bakal Gunakan Kapal Kayu

Kapal kayu pengangkut barang. Nantinya, BBM dan gas elpiji akan diangkut ke Karimunjawa menggunakan kapal kayu (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Kapal kayu pengangkut barang. Nantinya, BBM dan gas elpiji akan diangkut ke Karimunjawa menggunakan kapal kayu (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Krisis bahan bakar minyak (BBM) dan gas elpiji di Karimunjawa sudah ‘menyiksa’ sedikitnya 10 ribu warga setempat, setelah adanya pelarangan distribusi BBM dan gas elpiji menggunakan kapal kayu.

Karena dinilai kondisi darurat, direncanakan dalam waktu dekat wilayah terluar Kabupaten Jepara tersebut akan dipasok BBM dan gas elpiji menggunakan kapal kayu lagi.

Hal itu bakal dilakukan, lantaran sejauh ini solusi yang sebelumnya diwacanakan Pemkab Jepara yakni pengangkutan menggunakan KMP Siginjai belum terlaksana. Hal itu dikatakan Camat Karimunjawa M Tahsinul Khuluq.

Menurut Tahsin, BBM dan gas elpiji akan kembali diangkut menggunakan kapal kayu, seperti sebelumnya. Satu atau dua hari kedepan akan ada lagi pengiriman BBM ke Karimunjawa dengan menggunakan kapal kayu.

“Kemungkinan sama dengan yang dilakuakn pada 12 April lalu.Karena kondisi darurat, pengiriman BBM akan menggunakan kapal kayu lagi,” ujar Tahsin kepada MuriaNewsCom, Jumat (22/4/2016).

Selain BBM, kata Taksin, pengiriman gas elpiji juga dilakukan. Pengiriman dari Semarang juga dilakukan dengan menggunakan kapal kayu. Hanya saja tidak bercampur dengan BBM. Hari ini, sebanyak 1.500 tabung gas elpigi ukuran 3 kilogram berhasil didaratkan di Karimunjawa. Sehingga, untuk sementara kebutuhan gas elpiji sudah bisa dipenuhi.

“Dalam hal ini memang demi terpenuhinya kebutuhan masyarakat Karimunjawa. BBM dan gas elpiji merupakan kebutuhan yang mendesak,” katanya.

Dia menambahkan, pihaknya serta instansi lainnya yang mengurusi pelayaran diminta mengizinkan kapal kayu untuk mengakut BBM. Sebab saat ini kondisinya darurat. Selain itu, belum ada solusi lain untuk mengangkut BBM.

Editor : Kholistiono

Pengelola Restoran Banyak yang Tak Tahu Ada Larangan Penggunaan Gas Melon

Sidak yang dilakukan Dinas ESDM Blora bagi pelaku usaha yang menggunakan elpiji 3 kg. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Sidak yang dilakukan Dinas ESDM Blora bagi pelaku usaha yang menggunakan elpiji 3 kg. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Adanya larangan penggunaan gas elpiji bersibsidi untuk dipergunakan pelaku usaha restoran atau rumah makan dengan modal di atas Rp 50 juta dan omzet di atas Rp 300 juta per tahun, masih banyak belum diketahui pelaku usaha.

Sugeng, Pengelola Rumah Makan Petok-petok yang terletak di Jalan Gunung Lawu Blora mengungkapkan, jika pihaknya tidak mengetahui adanya larangan penggunaan gas elpiji 3 kilogram.
Pihaknya mengaku siap untuk beralih ke elpiji non subsidi.”Kami berterima kasih atas pembinaan yang dilakukan Dinas ESDM. Sebelumnya, kami memang tidak tahu,” ujar Sugeng.

Sementara itu, pihak Dinas ESDM Blora mengatakan, akan melakukan pembinaan bertahap terhadap pelaku usaha yang telah terbukti menggunakan elpiji 3 kg. Pihaknya juga akan menggandeng dinas terkait, yakni Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM (Disperindagkop dan UMKM) Blora untuk melakukan penindakan bagi pelaku usaha. “Dengan pembinaan, harapannya pelaku usaha segera berganti ke elpiji non subsidi,” katanya.

Editor : Kholistiono 

Restoran di Blora Ditemukan Pakai Elpiji Melon

Petugas dari dinas ESDM menemukan elpiji 3 kg di restoran (MuraiNewsCom/Rifqi Gozali)

Petugas dari dinas ESDM menemukan elpiji 3 kg di restoran (MuraiNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Dinas Energi dan sumber Daya Mineral (ESDM) Blora menemukan restoran yang menggunakan elpiji 3 kg untuk keperluan usaha saat melakukan sidak, Kamis (21/01/2016).

Kepala Bidang Pertambangan dan Migas Dinas ESDM Blora Teguh Wiyono melalui Kepala Seksi Pertambangan dan Migas Djati Walujastono mengatakan pihaknya menemukan pelaku usaha restoran yang menggunakan elpiji 3 kg. Padahal mereka dengan modal di atas Rp 50 juta dan keuntungan lebih dari Rp 300 juta selama satu tahun. “Kami menemukannya di salah satu restoran besar di Blora,” jelasnya.

Djati juga menambahkan, pihaknya akan terus melakukan sidak ke beberapa hotel besar dan restoran. Pihaknya juga akan mengusahakan untuk melakukan sidak secara menyeluruh dalam waktu yang tidak ditentukan di Blora, guna memberika teguran kepada pemilik restoran dan hotel yang menggunakan gas bersubsidi secara tidak resmi. “Terutama Cepu, di sana banyak hotel dan restoran besar,” katanya.

Sidak merupakan bentuk pengawasan dan pengendalian pendistribusian dan tata niaga bahan bakar minyak dan gas dari agen dan pangkalan sampai konsumen akhir. Juga sebagai bentuk pantauan dan invertarisasi penyediaan, penyaluran dan kualitas harga bahan bakar minyak dan gas serta melakukan analisa. “Ini usaha preventif dalam rangka meminimalkan terjadinya kelangkaan elpiji 3 kg” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

Yes! Pemkab Pati Segera Realisasikan Penambahan Kuota Elpiji 12 Persen

Seorang pekerja tengah memasok tabung elpiji bersubsidi 3 kg di salah satu pangkalan di Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Seorang pekerja tengah memasok tabung elpiji bersubsidi 3 kg di salah satu pangkalan di Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Memasuki awal tahun, Kepala Bagian Perekonomian Pemkab Pati Ahmad Kurnia memastikan segera merealisasikan penambahan kuota elpiji bersubsidi 3 kg sebanyak 12 persen dari tahun sebelumnya. Hal itu diharapkan bisa memenuhi kebutuhan elpiji di seluruh wilayah Kabupaten Pati.

Pasalnya, selama ini semua warga menggunakan elpiji bersubsidi 3 kg yang semestinya hanya digunakan untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Hal itulah yang menyebabkan kuota elpiji di Pati harus diajukan penambahan pada 2016.

”Sebetulnya kuota pada 2015 yang berada di angka 8,3 juta tabung elpiji sudah cukup memenuhi kalau semuanya diperuntukkan untuk MBR. Namun, fakta di lapangan berbeda. Semua warga yang klasifikasinya mampu juga banyak menggunakan elpiji bersubsidi,” kata Kurnia saat dihubungi MuriaNewsCom, Kamis (7/1/2016).

Kendati begitu, ia tetap mengusulkan penambahan kuota elpiji 3 kg untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari. Lagipula, masih ada sekitar empat desa di Kabupaten Pati yang belum memiliki pangkalan elpiji.

”Ada sekitar empat desa di Pati yang belum memiliki pangkalan elpiji bersubsidi. Kalau usulan dari kami disetujui, maka empat desa itu akan dibangun pangkalan elpiji baru,” tukasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Kades Bringin : Kami Berharap Kepastian Volume Gas Alam

Kades Bringin Krepsi Nugroho (tengah) saat melihat lokasi gas alam di desanya (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kades Bringin Krepsi Nugroho (tengah) saat melihat lokasi gas alam di desanya (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Meski gembira gas alam yang berasal dari proyek Pamsimas bisa menggantikan elpiji, tetapi warga Desa Bringin masih memiliki satu pertanyaan besar yang butuh jawaban dari dinas terkait. Yakni, mengenai seberapa banyak volume gas alam yang keluar dari bekas pengeboran proyek Pamsimas tahun 2014 itu.

“Adanya gas alam itu memang bisa menghemat biaya, karena warga tidak perlu beli elpiji. Saya sendiri juga sudah menggunakan gas alam untuk menyalakan kompor di rumah,” ungkap Kades Bringin Krepsi Nugroho.

Soal kandungan gas alam itu memang sempat jadi kekhawatiran. Soalnya, warga khawatir jika kandungannya ternyata sedikit, maka tidak bisa memanfaatkan gas alam untuk jangka lama. Oleh sebab itu, warga berharap ada penelitian soal kandungan gas alam tersebut.

“Perihal adanya gas alamini, sudah saya sampaikan pada Pemkab Grobogan dan Dinas Pertambangan Provinsi Jateng. Mudah-mudahan secepatnya ada kepastian,” kata pria yang akrab disapa Mas Nug itu.

Menurutnya, jika kandungan gas alam itu melimpah, maka ke depan pihak desa bisa mendirikan BUMDes. Adapun bidang usahanya adalah pengelolaan gas untuk disalurkan di semua rumah warga Desa Bringin. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Gara-gara Gas Alam, Warga Bringin Grobogan Ini Mendadak Jadi “Profesor”

Mashuri menunjukkan bagian kompor yang perlu dimodifikasi agar bisa lancar menggunakan gas alam (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Mashuri menunjukkan bagian kompor yang perlu dimodifikasi agar bisa lancar menggunakan gas alam (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN–Meski sudah tahu ada sumber gas alam dari bekas pengeboran proyek Pamsimas, namun hingga hampir setahun tidak ada warga Desa Bringin, Kecamatan Godong yang berani memanfaatkan untuk keperluan rumah tangga. Hingga akhirnya muncul ide dari Binambang, warga setempat untuk menggunakan gas alam tersebut.

Pada awalnya, Binambang memanfaatkan drum bekas untuk menampung gas alam yang keluar dari dalam tanah. Kemudian, dia memanfaatkan paralon bekas sepanjang tiga meter untuk mengambil gas dari drum. Selanjutnya diujung paralon dibuatkan tungku yang disusun dari batu bata.

Setelah disulut dengan korek api, keluar nyala api berwarna biru terang. Setelah itu dia mengambil panci berisi air untuk dimasak. Hanya dalam beberapa menit, air dalam panci sudah mendidih.

“Akhirnya, saya bikin kopi sama beberapa warga yang kebetulan ikut nimbrung disini. Setelah itu, saya punya gagasan untuk memanfaatkan gas alam ini sebagai pengganti elpiji,” kata Binambang yang sekarang dijuluki profesor gas oleh warga setempat itu.

Beberapa hari kemudian, Binambang yang bekerja jadi wiraswasta itu membawa kompor gas miliknya untuk dipakai eksperimen. Kabel kompor itu lalu disambungkan dengan paralon gas alam dan dipastikan tidak ada kebocoran. Namun, ketika dinyalakan tidak ada api yang keluar dari kompor gas. Berulang kali dicoba hasilnya tetap sama.

Meski demikian, kegagalan itu tidak membuatnya putus asa. Setelah dipelajari lagi, ternyata sumber kegagalan akhirnya berhasil ditemukan.Dimana, kompor gas itu ternyata harus dimodifikasi dulu beberapa bagian spare partnya. Khususnya dibagian spuyer tempat keluar gas harus diperbesar lubangnya antara 3 hingga 6 mm. Setelah lubangnya diperbesar, ketika tombol pemantik diputar sudah bisa keluar gas tetapi belum bisa muncul nyala api. Seperti yang lazim terjadi ketika memutar pemantik kompor gas menggunakan elpiji.

“Ternyata untuk mengeluarkan api itu harus pakai korek atau alat khusus pemantik api yang harganya sekitar Rp 25 ribu. Untuk eksperimen ini ada sekitar lima kompor bekas yang dipakai,” sambungnya.

Setelah eksperimennya berhasil, Binambang sendiri belum menggunakan gas alam itu di rumahnya. Sebab, jarak rumahnya dengan lokasi sumber gas cukup jauh. Sehingga dia harus mengeluarkan banyak biaya buat membeli banyak paralon untuk menyalurkan gas alam.

“Yang pertama memanfaatkan adalah warga yang dekat dengan sumber gas. Saya baru sekitar dua minggu menyalurkan gas alam untuk menggantikan elpiji,” imbuh pria berkumis tebal itu. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Gas Alam di Bringin Ternyata Muncul dari Pengeboran Proyek Pamsimas

Warga sedang berada di pusat munculnya gas alam yang kini dimanfaatkan warga setempat (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga sedang berada di pusat munculnya gas alam yang kini dimanfaatkan warga setempat (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Munculnya gas alam di Desa Bringin, Kecamatan Godong ternyata terjadi secara kebetulan. Tepatnya, saat ada pengeboran sumber air di desa tersebut, yakni ketika ada proyek Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) bulan September tahun 2014. Saat itu, lokasi yang dipilih berada pada lahan bondo desa yang ada di depan rumah Suwarjo.

Ketika pengeboran mencapai kedalaman sekitar 100 meter, tiba-tiba air dari dalam tanah menyembur keluar melalui pipa. Tinggi semburan air saat itu mencapai 15 meter selama hampir 30 menit. Bersamaan dengan air yang menyembur, keluar asap tipis tetapi tidak menimbulkan bau menyengat.

”Asap yang keluar itu ternyata adalah gas alam dari dalam tanah. Kalau disulut, gas itu bisa terbakar dan menimbulkan api cukup besar tetapi mudah dipadamkan lagi,” kata Binambang, warga setempat.

Lantaran muncul gas, pengeboran disitu akhirnya dihentikan. Meski demikian, pipa yang sudah terpasang di dalam tanah tetap dibiarkan disitu karena khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan jika diangkat naik.

Pihak kontraktor Pamsimas kemudian mencari lahan lainnya sekitar 300 meter di timur lokasi pertama. Dalam pengeboran kedua, tidak muncul gas alam lagi seperti di lokasi sebelumnya. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Harga Elpiji Naik? No Problem, Warga Bringin Grobogan Punya Solusi Jitu

Mashuri (kiri) dan Binambang, dua warga Bringin yang pelopor penggunaan gas alam mencoba menyalakan kompor (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Mashuri (kiri) dan Binambang, dua warga Bringin yang pelopor penggunaan gas alam mencoba menyalakan kompor (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Inovasi yang dilakukan warga Dusun Deresan, Desa Bringin, Kecamatan Godong tampaknya perlu mendapat apresiasi. Karena, puluhan warga setempat berhasil memanfaatkan gas alam yang keluar dari dalam tanah sebagai bahan bakar pengganti elpiji. Sehari-hari, gas alam tersebut digunakan warga untuk memasak.

”Penggunaan gas alam untuk memasak ini belum lama. Kira-kira baru sekitar sebulan lebih sedikit,” kata Binambang, warga setempat yang menjadi pelopor penggunaan gas alam tersebut.

Menurutnya, pada mulanya hanya beberapa orang saja yang memanfaatkan gas alam yang keluar dari bekas tanah yang dibor tersebut. Sebab, saat itu sebagian besar warga masih takut jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dari penggunaan gas alam tersebut. Setelah uji coba berhasil, satu persatu warga mulai berani memanfaatkan gas untuk bahan bakar kompor.

”Saya adalah orang pertama yang memanfaatkan gas ini untuk masak. Awalnya, saya sempat agak takut tetapi lama-lama jadi terbiasa. Saat ini, warga yang menggunakan gas alam ini sudah 20 orang,” ujar Mashuri, warga yang tinggal tidak jauh dari sumber gas alam.

Dia mengaku menghabiskan dana sekitar Rp 800 ribu untuk bisa memanfaatkan gas alam tersebut. Dimana, uang sebanyak itu sebagian besar digunakan untuk beli pipa pralon yang dipasang dari sumber gas hingga ke rumahnya. Sebagian lagi dibelikan kompor gas yang sudah dimodifikasi, sehingga bisa digunakan dengan gas alam tersebut.

”Dengan adanya gas alam ini, saya tiap hari kalau mandi selalu pakai air hangat. Bahkan, air minum untuk sapi juga saya kasih air mateng. Soalnya, saya tidak perlu repot lagi beli elpiji seperti sebelumnya,” cetus Mashuri. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Rata-rata Epliji Melon Dijual Lebih dari Rp 20 Ribu

Anggota Komisi B DPRB Jateng, RM. Yudhi Sancoyo saat menggelar reses di Dukuh Medang, Desa Sendangharjo, Kecamatan Blora Kota. (MuriaNewsCom/Priyo)

Anggota Komisi B DPRB Jateng, RM. Yudhi Sancoyo saat menggelar reses di Dukuh Medang, Desa Sendangharjo, Kecamatan Blora Kota. (MuriaNewsCom/Priyo)

BLORA – Saat ini HET elpiji kemasan tiga kilogram di Kabupaten Blora ditetapkan sebesar Rp 18 ribu. Namun, RM Yudhi Sancoyo Komisi B DPRD Jateng mengungkapkan, berdasarkan data yang diterima dari sejumlah wilayah, harga di tingkat konsumen jauh di atas harga tersebut. Di antaranya di Desa Plantungan, Kecamatan Blora Kota, per tabung dijual Rp 23 ribu.

Sedangkan di Desa Sendangharjo Rp 20 ribu per tabung. Sehingga data terkait harga gas elpiji tiga kilogram yang diperoleh dari sejumlah daerah, termasuk Blora, akan disampaikan ke gubernur Ganjar Pranowo. Diharapkan, kondisi tersebut mendapat perhatian dari gubernur.

”Kami minta gubernur segera mengambil sikap. Setidaknya memberikan teguran. Sebab, pengawasan terhadap tata kelola dan distribusi di daerah masih belum maksimal,” terangnya. (PRIYO/TITIS W)

30 Daerah Langgar HET Elpji 3 Kg

Sejumlah pekerja saat menata tabung LPG. Saat ini ada 30 daerah yang melanggar HET elpiji melon. (MuriaNewsCom/Priyo)

Sejumlah pekerja saat menata tabung LPG. Saat ini ada 30 daerah yang melanggar HET elpiji melon. (MuriaNewsCom/Priyo)

BLORA – Polemik terkait tata kelola gas elpiji kemasan tiga kilogam masih terus terjadi. Salah satunya masih banyak gas elpiji yang dikenal dengan sebutan tabung melon ini, dijual di atas Harga Eceren Tertinggi (HET). Kondisi tersebut terjadi hampir di seluruh daerah di Jawa Tengah. Seperti dikemukakan, anggota Komisi B DPRD Jateng, RM Yudhi Sancoyo.

”Masih banyak kota/kabupaten di Jawa Tengah yang melanggar HET dan itu hampir terjadi di seluruh daerah di Jawa Tengah,” kata RM Yudhi Sancoyo Komisi B DPRD Jateng, Rabu (29/7/2015).

Menurutnya, penjualan gas elpiji kemasan tiga kilogram di 30 dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah melebihi HET. Termasuk di Kabupaten Blora. Jika sesuai SK Gubernur HET elpiji tiga kilogram sebesar Rp 17.500 per tabung. Namun kenyataannya, banyak yang menjual di atas harga tersebut.

”Itu artinya, banyak daerah yang melanggar aturan yang dibuat sendiri. Karena penetapan HET di masing-masing kabupaten/kota harus menyesuaikan SK Gubernur,” ungkap Yudhi saat acara reses di Dukuh Medang, Desa Sendangharjo, Kecamatan Blora Kota. (PRIYO/TITIS W)

Juli, Jatah Elpiji Kudus Ambil Bulan Berikutnya

FT-ELPIJI-2 (e)KUDUS – Instruksi Pertamina terdapat posko gas elpiji 3 kilogram di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) untuk melayani pembelian gas selama Lebaran. Hal ini sebagai antisipasi toko-toko tutup dan masyarakat tidak bingung jika gasnya habis. Akibatnya, jatah elpiji kudus yang didapat tiap bulan, harus mengambil dari jatah bulan berikutnya. Seperti pada Juli ini yang mengambil bulan berikutnya.

Hal itu disampaikan Kasi Perdagangan Dalam Negeri pada Dinas Dagsar Kudus Sofyan Dhuhri. Dia mengatakan pada bulan Ramadan dan Lebaran permintaan masyarakat selalu meningkat. Sehingga diambil jatah untuk bulan berikutnya.

“Ini sudah menjadi agenda tahunan, pada saat puasa, lebaran dan natal permintaan selalu banyak. Padahal kalau masyarakat tidak panik maka tidak akan ada kelangkaan,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Untuk 2015, elpiji selama setahun mendatang sejumlah 6.963.450 tabung. Jumlah tersebut lebih banyak jika dibandingkan tahun lalu yang hanya sejumlah 6.124.000 tabung elpiji 3 kilogram

Untuk mencukupi kebutuhan selama lebaran, maka semua SPBU yang berjualan gas elpiji 3 kilogram sudah berjalan, tapi saat Lebaran ada posko khusus. ”Nantinya posko ini buka 24 jam dan tempatnya wilayah SPBU yang ada di Kudus, kecuali SPBU A Yani. Harga sesuai HET dan disediakan 150 tabung per minggu,” jelasnya. (FAISOL HADI/SUWOKO)

Pengedar Elpiji Luar Kota Harus Ditindak

Masyarakat masih kesulitan mendapatkan gas elpiji tiga kilogram di Kudus ini, sehingga elpiji dari luar kota masih banyak yang masuk secara ilegal.  (DOKUMEN MURIANEWS)

Masyarakat masih kesulitan mendapatkan gas elpiji tiga kilogram di Kudus ini, sehingga elpiji dari luar kota masih banyak yang masuk secara ilegal.
(DOKUMEN MURIANEWS)

KUDUS – Akibat masih susahnya mendapatkan gas elpiji dengan mudah di Kabupaten Kudus, rupanya dimanfaatkan sejumlah pihak untuk mengambil keuntungan tersendiri. Yakni dengan memasukkan gas elpiji yang berasal dari luar kota. Lanjutkan membaca

Jangan Sampai Warga Susah Mencari Elpiji

Harga gas elpiji tiga kilogram tidak sesuai dengan harga eceran tertinggi. Pemerintah diminta mengawasi hal ini, karena sangat merugikan masyarakat yang membutuhkan. (DOKUMEN MURIANEWS)

Harga gas elpiji tiga kilogram tidak sesuai dengan harga eceran tertinggi. Pemerintah diminta mengawasi hal ini, karena sangat merugikan masyarakat yang membutuhkan.
(DOKUMEN MURIANEWS)

KUDUS – Yati, warga Kecamatan Kaliwungu, mengaku kaget ketika membeli elpiji 3 kilogram (kg), dirinya harus membayar Rp 22.500 per tabungnya. Lebih mahal dari harga biasanya. Lanjutkan membaca

Waduh, Pemerintah ”Kalah” dengan Pengecer Elpiji

Gas elpiji tiga kilogram masih sulit untuk bisa didapatkan masyarakat, terutama saat puasa. Pemerintah dinilai gagal mengawasi dan memantau peredarannya. (DOKUMEN MURIANEWS)

Gas elpiji tiga kilogram masih sulit untuk bisa didapatkan masyarakat, terutama saat puasa. Pemerintah dinilai gagal mengawasi dan memantau peredarannya. (DOKUMEN MURIANEWS)

KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus dianggap ”kalah” dengan para pengecer gas elpiji 3 kilogram yang ada di wilayah itu. Indikasinya, pemkab tidak bisa mengendalikan harga elpiji 3 kg sesuai dengan harga eceran terbatas (HET) yang sudah ditentukan. Lanjutkan membaca

Pemkab Ajukan Tambahan 1.120 Tabung Elpiji 3 Kilogram

Petugas di salah satu agen gas Elpiji 3 kilogram di Jepara menata tabung yang akan dikirim ke pangkalan. (MURIANEWS/WAHYU KZ)

Petugas di salah satu agen gas Elpiji 3 kilogram di Jepara menata tabung yang akan dikirim ke pangkalan. (MURIANEWS/WAHYU KZ)

JEPARA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara secara resmi telah mengajukan penambahan kuota elpiji 3 kilogram ke Pertamina sebanyak dua loading order (LO), atau setara dengan 1.120 tabung/hari. Pengajuan itu untuk menjamin ketersediaan saat Ramadan dan Lebaran. Lanjutkan membaca

Kelangkaan Elpiji 3 Kilogram Hantui Jepara

Petugas di salah satu agen gas Elpiji 3 kilogram di Jepara menata tabung yang akan dikirim ke pangkalan. (MURIANEWS/WAHYU KZ)

Petugas di salah satu agen gas Elpiji 3 kilogram di Jepara menata tabung yang akan dikirim ke pangkalan. (MURIANEWS/WAHYU KZ)

JEPARA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara melalui Kepala Bagian Perekonomian Setda Jepara, Eriza Rudi Yulianto menyatakan, kebutuhan gas Elpiji bersubsidi 3 Kilogram masih aman. Meski begitu, ia tak menepis ada kelangkaan elpiji di beberapa pangkapan. Lanjutkan membaca

Bupati Blora Akui Kenaikan Elpiji Jadi Penyakit Tahunan

Seorang pekerja sedang membongkar muatan elpiji kemasan tiga kilogram di salah satu pangkalan di Blora. (MURIANEWS/PRIYO)

Seorang pekerja sedang membongkar muatan elpiji kemasan tiga kilogram di salah satu pangkalan di Blora. (MURIANEWS/PRIYO)

BLORA – Bupati Blora, Djoko Nugroho (Kokok) menyebut, kenaikan gas elpiji tiga kilogram sebagai penyakit tahunan. Sebab, selalu saja terjadi setiap menjelang hingga awal bulan suci Ramadan dan hari raya Idul Fitri. Kondisi ini dipicu karena banyaknya permintaan dari warga di dua momen tersebut.
”Saat puasa Ramadan, warga masyarakat lebih sering memasak dan bermacam-macam yang dimasak. Apalagi kalau mendekati dan pas lebaran. Penggunaan gas elpiji cepat habis dan boros. Karena banyak yang membutuhkan, harganya jadi naik,” kata Bupati Blora Djoko Nugroho, Selasa (23/6/2015). Lanjutkan membaca

Asik, Pemkab Pati Pastikan Tak Ada Elpiji Melon Langka Selama Ramadan

Aktivitas di pangkalan elpiji di Jalan Dr Sutomo Pati, Senin (22/6/2015). Pemkab Pati rencananya akan mencanangkan satu desa satu pangkalan elpiji. (MURIANEWS/LISMANTO)

Aktivitas di pangkalan elpiji di Jalan Dr Sutomo Pati, Senin (22/6/2015). Pemkab Pati rencananya akan mencanangkan satu desa satu pangkalan elpiji. (MURIANEWS/LISMANTO)

PATI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati memastikan tidak ada kelangkaan gas elpiji melon selama Ramadan. Hal ini disebabkan adanya stok tambahan yang diberikan Pertamina sebesar 7 persen. Lanjutkan membaca

Ini Ide Cemerlang Pemkab Pati Kendalikan Harga Elpiji

Aktivitas di pangkalan elpiji di Jalan Dr Sutomo Pati, Senin (22/6/2015). Pemkab Pati rencananya akan mencanangkan satu desa satu pangkalan elpiji. (MURIANEWS/LISMANTO)

Aktivitas di pangkalan elpiji di Jalan Dr Sutomo Pati, Senin (22/6/2015). Pemkab Pati rencananya akan mencanangkan satu desa satu pangkalan elpiji. (MURIANEWS/LISMANTO)

PATI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati rencananya akan mencanangkan program satu desa satu pangkalan elpiji. Hal ini dilakukan untuk mengendalikan harga elpiji di berbagai daerah di Pati yang melebihi harga eceran tertinggi (HET). Lanjutkan membaca

Penggunaan Elpiji Melon di Blora Meningkat

elpiji (e)

Sejumlah pegawai saat melakukan penataan elpiji 3 kg. (MURIANEWS/PRIYO)

BLORA – Memasuki hari ke lima pada bulan Ramadan ini, penggunaan gas elpiji 3 kilogram mengalami peningkatan. Dari hasil cek lapangan pada enam agen elpiji oleh Dinas Perindustrian Perdagagan Koperasi (Disperindagkop) dan UMKM Kabupaten Blora, terjadi kenaikan pengguna elpiji, khususnya 3 Kg.
”Kenaikan tersebut, salah satunya dipicu beralihnya masyarakat dari penggunaan kayu bakar ke elpiji melon. Selain itu, ibu rumah tangga yang dulu masih takut menggunakan elpiji, sekarang sudah mulai berani,” kata Kasi Pengawasan Perdagangan dan Perlindungan Konsumen Disperindagkop dan UMKM BloraWagimin,Senin (22/6/2015).
Menurutnya, kondisi tersebut mengakibatkan kenaikan kebutuhan elpiji secara keseluruhan mencapai 10 persen. Data terakhir pada bulan mei 2015, kuota elpiji Blora berjumlah 4.601.667 unit tabung.
”Dari pemerintah sudah mengajukan tambaham kuota. Dari pengajuan 14 persen, yang disetujui 10 persen dari yang telah diajukan,” jelasnya. (PRIYO/KHOLISTIONO)