Ikut Ekstrakurikuler Teater, Dua Siswa SMK Duta Karya Tunjukkan Prestasi

Siswa SMK Duta Karya menunjukkan adegan teater yang pernah dilakukan beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA)

Siswa SMK Duta Karya menunjukkan adegan teater yang pernah dilakukan beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Dwi Aji Leksono, siswa kelas XII SMK Duta Karya Kudus mengaku ikut berteater karena motivasi dari temannya yang sudah lulus. Akhirnya dia mengikuti jejaknya dengan mengikuti ekstra teater di SMK itu.

“Di sini namanya Teater Apotek. Saya dulunya pemalu, bahkan ngomong saja tidak berani. Dan setelah mengikuti teater mampu lebih pede dan mampu mengolah kata,” ungkapnya.

Menurutnya, dia tidak menyesal ikut bergabung dalam teater. Bahkan dia senang karena mendapatkan pengalaman yang tidak didapatkan dalam pendidikan formal.

Pengalaman serupa juga ditujukan oleh Arjuna Akniyanto Wibowo. Siswa yang masih duduk kelas X itu juga mengaku lebih lantang saat bicara setelah ikut teater. Dia juga pandai mengolah rasa setelah aktif dalam teater. Dia memilih berkegiatan di ekstra teater lantaran diajak kakak kelasnya.

Waka Kurikulum ‎SMK Duta Karya, Supriyanto, mengatakan, dengan teater maka siswa akan memiliki karakter. Sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam dunia nyata di dalam masyarakat. Sebab tanpa dilatih, maka akan susah dalam berinteraksi.

“Jadi ini akan sangat membantu dalam perkembangan siswa. Untuk itulah dibutuhkan ektra semacam ini supaya siswa lebih matang,” ujarnya

Ekstrakurikuler Teater Apotek adalah kepanjangan dari Apresiasi Soesastra Teater Kudus. Mereka mampu mengaplikasikannya dengan cerdas di akademiknya. Kurang lebih ada 40 piala telah mereka raih.

Puluhan piala ditaruh di almari piala, baik tingkat lokal, tingkat regional, dan tingkat nasional. Baik di dunia kesenian, penulisan, ataupun sub-disiplin ilmunya.

‎Pembina Teater Apotek, Muchammad Zaini, mengatakan pihanya sudah ketiga kali ini menjuarai Festival Teater Djarum (FTP). Sejak 2009, 2010, dan 2016 ini. Di samping itu, ‎dua kali juara nasional berturut-turut dalam festival teater yang digelar persatuan guru di UPGRIS di Kota Semarang, pada periode 2014 dan 2016.

“Bahkan kami sempat mendapatkan tawaran untuk pentas di Brunei Darussalam dulu. Namun karena alasan finansial, maka kami tidak bisa terbang kesana,” ungkapnya

Selain itu, bebebepa kali tawaran tampil juga sudah sering diterima. seperti tawaran pentas di Bali dan Bandung, tapi waktu itu kendalanya karena waktunya mepet dengan ujian nasional, kami juga tak bisa hadir.

Editor : Akrom Hazami

Bela Negara Bukan Hanya Menjadi Paskibraka

Siswa MAN 2 Kudus saat mengikuti ekstra kurikuler Pendidikan Bela Negara. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Siswa MAN 2 Kudus saat mengikuti ekstra kurikuler Pendidikan Bela Negara. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Salah satu peserta esktra kurikuler pendidikan bela negara (PBN) yang tergabung dalam organisasi pasukan garuda muda di MAN 2 Kudus Laila Uyun Ihwania mengutarakan, bahwa menjadi bela negara itu bukan sekadar terpilih menjadi pasukan pengibar bendera merah.

”Memang setiap siswa sekilas berpikir, ekskul ini merupakan pangkal perekrutan menjadi personil paskribra di HUT RI Kabupaten Kudus. Pemikiran tersebut tidak salah, namun sebenarnya ekskul ini memiliki dampak yang lebih dari hal tersebut,” katanya.

Menurutnya, hal yang paling mendasar dalam kegiatan ini ialah bisa menumbuhkan jiwa nasionalisme. Sikap bela negara yang diajarkan dalam ekskul PBN atau organisasi pasukan garuda muda ini salah satunya adalah memahami UUD 1945. Mereka harus hafal serta paham dengan isi dari UUD tersebut.

”Kegiatan PBN yang terdiri dari 42 personil untuk siswa kelas satu tersebut, harus bisa menunjukan kemampuannya. Yakni mereka harus mempunyai jiwa nasionalis, bela negara. Sehingga tidak serta merta berpikiran akan terpilih dalam perekrutan paskribra,” paparnya.

Dengan begitu, kegiatan yang selalu digelar pada Sabtu sore tersebut sekiranya bisa melatih sikap siswa untuk memiliki jiwa nasionalis. Selain itu menanamkan diri untuk menjadi lebih disiplin.

”Kalau menurut saya pribadi, saya mengikuti PBN ini bukan karena mengejar untuk dipilih anggota paskibra. Meskipun PBN ini merupakan ukuran dasar dalam perekrutan paskribraka. Akan tetapi lebih bijak jika ekskul ini dijadikan ilmu pengetahuan, baik secara organisasi dan melatih disiplin dengan pasukan baris berbaris,” ujarnya.

Dia menambahkan, yang terpenting ialah bagaimana setiap peserta PBN ini tidak mempunyai pikiran sempit. Bahwa dengan mengikuti ekskul ini siswa dilatih memiliki mental tangguh, dan sikap serta jiwa bela negara. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

MA NU Mawaqiul Ulum Siagakan Tim PMR di Berbagai Kegiatan

Anggota PMR MA NU Mawaqiul Ulum, Undaan, sedang menangani siswa yang pingsan saat upacara di sekolah, Senin (27/7/2015). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Anggota PMR MA NU Mawaqiul Ulum, Undaan, sedang menangani siswa yang pingsan saat upacara di sekolah, Senin (27/7/2015). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Guna memenuhi kebutuhan siswa dalam menghadapi berbagai kegiatan di tahun pelajaran 2015/2016 ini, MA NU Mawaqiul Ulum, Undaan, menyiagakan anggota ekstra kurikuler Palang Merah Remaja (PMR).  Lanjutkan membaca