Angling Darma Singgah di Jimbaran Pati Nyamar Burung Gagak

Chelsi bertutur tentang kisah Angling Darma dengan mengambil latar di Makam Sibatang, Jimbaran, Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Chelsi bertutur tentang kisah Angling Darma dengan mengambil latar di Makam Sibatang, Jimbaran, Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Dukuh Mlawat, Desa Baleadi, Kecamatan Sukolilo, Pati, diyakni warga sebagai bekas peninggalan Prabu Angling Darma, kendati belum ditemukan bukti fisik yang menguatkan dugaan tersebut. Namun, warga sudah sangat yakin bila Angling Darma hidup di sana pada zaman jauh sebelum Majapahit berdiri.

Krisno, Guru SD Slungkep 02 Kayen kepada MuriaNewsCom, Sabtu (28/5/2016) mengatakan, ada sejumlah peninggalan berupa tutur yang bisa menjadi salah satu rujukan. Salah satunya, Gua Pancur yang pernah dijadikan tiga dara peri raksasa untuk mandi selepas pesta makan daging manusia.

“Angling Darma mengembara dan bertemua tiga orang yang cantik, yaitu Widata, Widati, dan Widaningsih yang dijadikan istri. Namun, ada keanehan dari perilaku ketiganya, yaitu selalu keluar pada tengah malam,” ujar Krisno.

Setelah sukma Angling Darma mengembara menjadi burung gagak, Sang Prabu melihat ketiganya tengah berpesta pora makan daging manusia di sebuah tempat yang saat ini menjadi Makam Sibatang, Jimbaran, Kayen. Tempat itulah yang dijadikan tempat mengambil seting gambar “cerita tutur” tentang peninggalan sejarah Angling Darma.

Chelsi Aprilia Putri Cahyati, siswi kelas 5 SDN Slungkep 02 Kayen, mengaku, tak sulit untuk menghapal cerita rakyat tentang Angling Darma yang diyakini pernah ada di kawasan Pati selatan. Sebab, tutur itu masih melekat di hati warga sehingga mudah dihapalkan.

“Saya bertutur dari kisah Dewi Setyowati yang melakukan pati obong karena tidak diberi ilmu aji geneng untuk berbicara dengan hewan. Angling Darma akhirnya mengembara ke belantara Jawa, karena tidak ikut pati obong hingga bertemu dengan tiga dara peri raksasa yang suka makan daging manusia di Makam Sibatang, Jimbaran, Kayen,” tutur Chelsi.

Editor : Akrom Hazami