Pemkab Kudus Belanjakan Rp 3 Miliar untuk Beli 186 Jenis Obat

puskesmas

Pasien menjalani perawatan di salah satu puskesmas di Kudus. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Demi memenuhi ketersediaan obat di Kudus, pemkab  setempat harus rela mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Setidaknya dana yang dibutuhkan Rp 3, 250 miliar.

Besaran dana itu dibutuhkan untuk membeli sekitar 186 jenis obat yang dibutuhkan masyarakat.

Hal ini dijelaskan Kepala DKK Kudus dokter Maryata melalui Kabid Sumber Daya Kesehatan Sukoliyono. Menurutnya, DKK Kudus menyiapkan stok obat tahun ini sebanyak 186 item.

Ratusan obat itu terdiri dari obat antibiotik, antiseptik, antipiretik, dan  berbagai obat lainnya.

“Jumlah obat tersebut bisa untuk stok selama 18 bulan ke depan. Untuk saat ini ada beberapa item obat yang sudah habis. Makanya perlu segera dibeli lagi,” katanya kepada MuriaNewsCom, Jumat (5/8/2016).

Menurutnya, pengadaan obat bersumber dari dana yang berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) pusat senilai Rp 2,4 miliar, ditambah dana APBD senilai Rp 500 juta dan APBD Perubahan senilai Rp 350 juta.

Obat-obat tersebut merupakan obat dasar yang selalu digunakan puskesmas. Jika obat habis, akan ada obat sejenis yang jadi penggantinya. Jadi tidak akan mengganggu pelayanan kesehatan.

“Banyak merek obat, namun fungsinya sama. Itulah yang digunakan jika stok habis,” ujarnya.

Suko mengaku, sumber beli obat dari APBD Perubahan belum jalan lantaran anggaran belum cair. Namun,  secepatnya pengadaan obat dari dana APBD Perubahan dapat segera direalisasikan.

“Jika sudah ada tambahan dari dana APBD Perubahan, maka stok obat di Kudus hingga pertengahan 2017 masih cukup aman,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Antisipasi Vaksin Palsu, DKK Kudus Imbau Warga Ambil Vaksin Gratis di Puskesmas

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus dr Aziz Achyar (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Maryata  (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Informasi mengenai beredarnya vaksin palsu akhir-akhir ini cukup gencar menghiasi pemberitaan media. Belum lama ini, beberapa pelaku juga berhasil diamankan oleh pihak kepolisian.

Menyikapi peredaran vaksin palsu itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Maryata mengimbau kepada masyarakat agar dapat memberikan vaksin anaknya di puskesmas atau RSUD Kudus saja. Sebab, vaksin yang berada di RSUD atau puskesmas diklaim asli, lantaran sudah diuji.

“Kalau vaksin dari kami itu asli, sehingga yang di drop dari kami seperti puskesmas juga menggunakan vaksin asli. Selain itu, pasti gratis. Jadi kalau ada yang gratis dan asli kenapa tidak,” katanya kepada MuriaNewsCom, Rabu (29/6/2016).

Menurutnya, vaksin asli yang dimaksud, didrop dari Kementrian Kesehatan, yang bekerja sama dengan Biofarma Bandung. Dan di sana, katanya, vaksin yang dibagikan adalah asli.

Dia menjelaskan terdapat 11 jenis vaksin yang terdapat di DKK. Semuanya digratiskan dan dapat terlayani di semua puskesmas di Kudus. Sedangkan untuk rumah sakit swasta, dia mengimbau agar mengetahui vaksin yang dijual, dan melakukan uji tes, untuk melihat keaslian vaksin yang dijual.”Masyarakat tidak perlu panik terkait vaksin palsu. Sejauh ini di Kudus masih aman, khususnya yang terdapat di puskemas,” ungkapnya.

Yuniati Bodro M, Perwakilan RS Mardi Rahayu menjelaskan, kalau di Mardi Rahayu selama ini belum ada keluhan terkait vaksin yang diberikan. “Jumlahnya ada banyak, dalam waktu dekat ini akan kami tes. Sehingga dapat meyakinkan kalau vaksin tersebut asli,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Bahaya, Hindari Makanan dengan Ciri-ciri Seperti Ini

Kabid Sumber Daya Kesehatan pada Dinas  DKK Kudus Sukoliyono (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kabid Sumber Daya Kesehatan pada Dinas DKK Kudus Sukoliyono (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Tidak hanya melakukan ujia laboratorium terhadap terasi yang diduga mengandung formalin, namun pihak Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus juga melakukan uji labfor terhadap makanan, yang diduga membahayakan untuk dikonsumsi.

Kabid Sumber Daya Kesehatan pada Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus Sukoliyono mengatakan, sebenarnya untuk mengenali makanan yang berbahaya untuk dikonsumsi cukup mudah untuk dikenali, baik dari rasanya maupun warna.

“Jika warna makanan terlihat cerah dan bagus, pembeli harus hati-hati, karena besar kemungkinan menggunakan pewarna berlebih. Jika pewarna yang digunakan berlebih, bisa menyebabkan berbagai penyakit. Parahnya lagi, jika yang digunakan adalah pewarna tekstil, maka dampaknya akan lebih bahaya,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Selain warna, cara mengetahuinya adalah dengan rasa. Biasanya, pemanis buatan atau penguat rasa dapat dirasakan dengan lidah. Jika setelah makan atau minum terasa manis yang menyengat dan setelah itu terasa pahit, maka bisa jadi, makanan tersebut menggunakan pemanis buatan yang berlebih.

Sedangkan untuk pengawet, sulit diketahui kasat mata, sebab untuk mengetahui harus dilakukan dengan cara uji laboratorium. “Cukup sering itu, biasanya terdapat pada sirup, baik warna, rasa dan kedaluarsa. Jadi, untuk itulah konsumen juga harus jeli sebelum membeli makanan atau minuman,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

 

 

DKK Kudus Lakukan Uji Laboratorium Terhadap Terasi yang Diduga Mengandung Formalin

Kabid Sumber Daya Kesehatan pada Dinas  DKK Kudus Sukoliyono (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kabid Sumber Daya Kesehatan pada Dinas DKK Kudus Sukoliyono (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Meski dipastikan bahwa formalin merupakan bahan yang berbahaya jika digunakan untuk pengawet makanan, namun, hal tersebut terkadang masih saja digunakan sebagian orang, termasuk untuk campuran pengawet terasi.Terkait hal itu, Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus melakukan uji laboratorium terhadap terasi yang diduga menggunakan pengawet formalin.

Kabid Sumber Daya Kesehatan pada Dinas  DKK Kudus Sukoliyono mengatakan, pihaknya beberapa waktu yang lalu memborong berbagai jenis terasi untuk dilakukan tes. Tidak semua jenis terasi diambil, namun diambil yang mencurigakan.

“Khususnya yang tidak memiliki tanggal kedaluwarsa atau tidak ada izin PIRT. Meski begitu, yang memiliki tanggal kedaluwarsa, namun waktunya tinggal sedikit lagi, juga kami ambil sampelnya, dan itu perlu diwaspadai juga,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, terasi bermerk juga tidak luput untuk diambil sampel. Meski sudah terdaftar, namun hal itu menurutnya juga perlu dicek, untuk memastikan kalau terasi yang dijual benar-benar sudah standar dan aman dikonsumsi.

“Tanggung jawab perusahaan bukan hanya sampai pada barang yang dijual saja, melainkan juga sampai pada tingkat konsumen yang mengkonsusmi produk tersebut. Sekarang ini, barangnya mau dicek di Labkesda Kudus, kemungkinan hasil akan ke luar dua pekan lagi. Tergantung banyak sedikitnya yang dicek,” ujarnya.

Nantinya, jika ada diketahui ada terasi yang dijual tersebut berbahaya, maka akan dilakukan laporan kepada Dinas Kesehatan Provinsi Jateng. Kemudian akan ditindaklanjuti dengan penyelidikan lebih lanjut.

Editor : Kholistiono

 

DKK Klaim Sudah Memiliki Data Penyakit Bocah Lumpuh Asal Mejobo Kudus

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus dr Maryata (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus dr Maryata (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) mengklaim sudah memiliki data terkait penyakit yang menyerang Muhanmad Febri Rizki Prayogo, warga Desa Golan Tepus, RT 5 RW 1 Mejobo yang diduga terserang Polio. Ini lantaran sudah ada petugas yang sempat menanganinya.

Hal itu diungkapkan Kepala DKK Kudus Maryata. Menurutnya petugas khusus terkait pengendalian penyakit sudah bertugas dengan baik. Bahkan petugas khusus tersbeut dinilai sangat aktif dan terjun langsung.

”Kami pasti sudah ada, tapi sekarang saya tidak bawa karna dibawa bidang dan petugas yang menangani,” katanya kepada MuriaNewsCom

Menurutnya, petugas selalu mendatangi langsung lokasi. Bukan hanya pengidap polio, namun juga penyakit lain yang terdapat di Kudus.

Selain itu, petugas dari Puskesmas juga dinilai aktif kepada masyarakat. Sehingga jika ada kasus semacam Febri, dianggap sudah tahu dan menindaklanjuti kepada dinas yang terkait yakni DKK.

”Apalagi itu sampai umur sembilan tahun, jadi pasti kami sudah mengetahui akan hal tersebut,” ujarnya

Sayangnya,  diusia yang sembilan tahun ini, ia yakin penanganannya akan lebih sulit. Karena itu, ia berharap masyarakat dan desa lainya dapat lebih aktif lagi untuk memberikan penanganan polio.

”Dengan begitu, tidak ada keluhan tentang kesehatan. Kalau jauh dari DKK bisa lapor kepada puskesmas,”imbuhnya.

Editor: Supriyadi