Ini Cara yang Dilakukan Kesbangpol Jateng Agar Masyarakat Melek Politik

Diskusi bertajuk "Pilkada Sukses untuk Kesejahtraan Rakyat" di Hotel Gryptha Kudus (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Diskusi bertajuk “Pilkada Sukses untuk Kesejahtraan Rakyat” di Hotel Gryptha Kudus (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Jawa Tengah mengadakan diskusi bertajuk “Pilkada Sukses untuk Kesejahtraan Rakyat” di Hotel Gryptha Kudus, pada Kamis (24/3/2016).

Kasubid Pemilu, Pendidikan dan Budaya Politik Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah Haerudin mengatakan, kegiatan tersebut sebagai salah satu upaya untuk memberikan pendidikan politik terhadap masyarakat. Baik itu tokoh agama, LSM, tokoh pemuda, mahasiswa dan lain sebagainya.

Dia katakan, kegiatan ini diikuti tokoh agama, LSM, tokoh pemuda dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Di antaranya, Kudus, Jepara, Blora, Rembang, Demak, Pati, Grobogan danSemarang.

“Saya berharap, kegiatan ini bisa memberikan manfaat kepada masyarakat. Karena, melalui kegiatan seperti ini pula, masyarakat bisa lebih faham mengenai pendidikan politik dan bagaimana proses demokrasi yang benar. Nantinya, hal ini juga bisa diteruskan kepada masyarakat di masing-masing daerah asal,” ujarnya.

Lebih lanjut ia katakan, pendidikan politik tak hanya ketika ada pilkada saja. Namun, pesta demokrasi lain, seperti pemilu presiden, pemilu legislatif dan pilkades juga bisa menjadi pendidikan politik. Katanya, apabila dalam proses-proses demokrasi seperti itu dapat dijalankan dengan baik, maka kesejahteraan rakyat bisa tercapai.

Kemudian, terkait munculnya trend relawan pada proses pemilihan kepala daerah yang kini sudah mulai marak, pihaknya memberikan apresiasi. Apalagi, menurutnya, relawan-relawan tersebut merupakan anak-anak muda.

“Saya kira, adanya relawan-relawan ini merupakan bagian dari proses demokrasi dan proses politik. Mereka ini, nantinya akan menjalankan perannya dalam berpolitik, di antaranya memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai calon kepala daerah yang diusungnya,” katanya.

Editor : Kholistiono

FAA PPMI Kudus Berdiskusi Memberikan Sumbangsih pada Negeri

80 anggota Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (FAA PPMI), yang menggelar reuni di Universita Muria Kudus (UMK), Sabtu (30/1/2016). (ISTIMEWA)

80 anggota Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (FAA PPMI), yang menggelar reuni di Universita Muria Kudus (UMK), Sabtu (30/1/2016). (ISTIMEWA)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Lazimnya orang melakukan reuni dengan komunitas, itu adalah senang-senang saja. Namun berbeda dengan yang dilakukan oleh tak kurang dari 80 anggota Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (FAA PPMI), yang menggelar reuni di Universita Muria Kudus (UMK), Sabtu (30/1/2016).

Forum reuni tersebut, justru diisi dengan beragam diskusi terkait tema-tema kebangsaan. Anggota FAA PPMI yang sudah menjadi tokoh publik pun mementingkan hadir, untuk memberikan sumbangan pemikiran bagi bangsa dan negeri ini.

Mereka antara lain Abdul Rahman Ma’mun, Deddy Hermawan, Dr. Wignyo Adiyoso, Deddy Hermawan, Dr. M. Alfan Alfian, Sunarto Ciptoharjono, Dr. Arkam Asikin, Eko Bambang Subiantoro, Rusman, Didik Supriyanto, Hasan Aoni Aziz, Ines Handayani, Arif Data Kusuma, Andreas Ambar Purwanto, Ari Ambarwati M.Pd, Rommy Fibri, Dwidjo Utomo M, Rohman Budijanto, Trijono, Wahyu Susilo, Rama Prambudhi Dikimara, dan Danang Sangga Buwana.

”Diskusi terfokus ini kami bagi dalam tiga bidang, yakni bidang hukum dan politik, bidang ekonomi dan lingkungan, serta bidang kebudayaan dan pendidikan indonesia,” ujar ketua Presidium FAA PPMI Agung Sedaya dalam konferensi pers di lantai I Ruang VIP Gedung Rektorat UMK usai digelarnya diskusi.

Agung menjelaskan, terkait bidang hukum dan politik, rezim elektoral saat ini yang meliputi Pemilihan Umum untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden, Pemilihan Legislatif, serta Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), menempatkan Partai Politik (Parpol) sebagai salah satu instrumen demokrasi yang penting.

”Namun demikian, Parpol tidak terlepas dari sejumlah persoalan yang membuatnya mandeg dan berjalan di tempat. Minimnya anggaran negara, misalnya, menjadi faktor umum Parpol mudah terjebak pada perilaku koruptif. Selain itu, kualitas politisi dalam tubuh Parpol juga beragam, yang berpotensi mereduksi kualitas politik demokrasi internal partai,” ungkapnya.

FAA PPMI berkomitmen mendorong sejumlah agenda terkait politik elektoral dan penegakan hukum melakukan jejaring kerja untuk mendorong gerakan pemberantasan korupsi, menginisiasi program penyadaran publik melalui media digital, inovasi dan kreativitas, serta mendorong Parpol menjadi partai modern yang mampu memperbaiki kualitas demokrasi internal (kaderisasi dan manajemen yang mampu meningkatkan partisipasi publik dalam politik elektoral.

Ditambahkannya, terkait bidang ekonomi dan lingkungan, di era Presiden Joko Widodo (Jokowi) ini memunculkan istilah pembangunan infrastrukturisme, yang mampu memunculkan harapan.

”Akan tetapi percepatan pembangunan juga harus disikapi secara kritis. Sebab, di tingkat mikro problemnya justru bukan pada infrastruktur, namun ketidakberanian melangkah serta minimnya inisiatif dan kreativitas. Diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asia (MEA), juga menjadi salah satu dilema,” tutur Agung.

Selain itu, untuk menjunjung tinggi budaya bangsa yang mencirikan cita rasa budaya khas Indonesia, menguatkan pola pendidikan Indonesia secara profesional antara lain melalui pendidikan literasi dan meninjau ulang Ujian Nasional (UN), dan melakukan penguatan kurikulum berbasis etika moralitas dan kebudayaan berkeadaban. ”Sehingga hal-hal yang bersifat negatif misalnya hasutan kebencian, pornografi dan intoleransi tidak mendominasi,” paparnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Inilah Pendapat Lima Tokoh Bangsa terhadap Arti Nasionalisme

Diskusi refleksi Hari Sumpah Pemuda di Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Diskusi refleksi Hari Sumpah Pemuda di Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Saat diskusi kebangsaan sebagai refleksi hari Sumpah Pemuda yang bertemakan “Masihkah Kita Memiliki Rasa Nasionalisme?” yang diselenggarakan Jumat malam (9/10/2015) di Rumah Dongeng Jalan Plumbungan 9 Purworejo, Bae, Kudus, ada beberapa pendapat yang menarik oleh tokoh bangsa tersebut.

Untuk pengertian nasionalisme yang disampaikan oleh Sudaryanto, nasionalisme ialah warga negara harus paham sejarah. Sehingga setiap warga negara tidak akan tergerus oleh ideologi baru yang silih berganti dari barat. ”Selain itu, pemuda haus dapat meningkatkan etos nasionalisme supaya lebih bersemangat,” katanya.

Sedangkan menurut M. Sobary, nasionalisme ialah melawan kedurjanaan orang lain. Sehingga dia mencontohkan disaat pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dahulu, petani tembakau melawan aturan hari bebas tembakau.

Arti nasionalisme yang lainnya juga disampaikan oleh Nuril Arifin. Bahwa kiai yang akrab di sapa Gus Nuril tersebut memaparkan nasionalisme itu bisa saling menghomati. Sehingga tokoh agama dari Nahdlatul Ulama (NU) itu mencontohkan pakaian yang dikenakannya. Yakni dengan memakai bau hijau berarti kalangan kiai (tokoh agama) serta berikat kepala dari bali (tokoh hindu).

Nasionalisme menurut Salamuddin Daeng ialah warga negara harus bisa membentengi ideologi. Yaitu dengan cara pemerintah tidak harus gila investasi oleh warga asing. ”Sebab bila Indonesia terlalu mudah memberikan izin terhadap investasi yang datang, secara otomatis ideologi warga asing akan menyebar ke Indonesia,” ujarnya.

Selanjutnya, nasionalisme yang didefinisikan Setyo Wibowo, yakni ekonomi dan politik Indonesa harus mandiri. Serta tidak bergantung pada warga asing. Sehinggga nasionalisme bisa tegak serta mengalir kepada anak cucu yang akan datang. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Lima Pembicara Nasional Kupas Nasionalisme Bangsa

Diskusi refleksi Hari Sumpah Pemuda di Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Diskusi refleksi Hari Sumpah Pemuda di Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Lima pembicara nasional akan meramaikan diskusi kebangsaan kegiatan refleksi hari Sumpah Pemuda di Kudus.

Acara digagas oleh Lembaga Pendidikan Masyarakat Reksa Warisan Berharga (Marwah), bertemakan Masihkah Kita Memiliki Rasa Nasionalisme?

Di antara kelima pembicara yang akan mengisi acara digelar di Rumah Dongeng di Jalan Plumbungan 9 Bae, Kudus ini ialah Sudaryanto. Dia mantan anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) serta akan memberi materi nasionalisme Indonesia dalam persaingan global. Kedua ialah Setyo Wibowo, dosen dari Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta. Yang bersangkutan akan memberikan materi spirit nasionalisme Indonesia.

Pembicara ketiga M Sobary. Dia merupakan budayawan atau peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Serta akan memberikan tema materi strategi budaya dalam membangun nasionalisme Indonesia.

Pembicara keempat ialah Salamuddin Daeng. Dia adalah pengamat dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI). Dia akan membawakan materi tentang nasionalisme dan kemandirian ekonomi Indonesia.

Selanjutnya adalah Nuril Arifin. Dia adalah tokoh agama dari Pondok Pesantren Soko Tunggal. Serta akan membawakan materi pluralisme, kekuatan dan tantangannya di Indonesia. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)