PT Indocement Bantah Tudingan Pendirian Pabrik Semen Habiskan Sumber Mata Air Gunung Kendeng

 Aksi pawai lingkungan tolak pendirian pabrik semen saat melintas di Kayen, Sabtu (16/7/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)


Aksi pawai lingkungan tolak pendirian pabrik semen saat melintas di Kayen, Sabtu (16/7/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Koordinator aksi pawai lingkungan penolakan pabrik semen, Arif Novianto mengatakan, program CSR yang dilakukan PT Indocement hanya dimanfaatkan sebagai politik pencitraan dan ajang kampanye. Hal itu dilontarkan Arif, mewakili suara Aliansi Rakyat Kendeng Berdaulat, Sabtu (16/7/2016).

“Pawai lingkungan yang mengelilingi wilayah rencana terdampak ekspansi PT Sahabat Mulia Sakti, anak perusahaan PT Indocement ini dilakukan untuk mengobarkan semangat perlawanan. Kami tidak akan tergoyahkan dengan politik pencitraan pabrik semen dan penguasa, seperti melalui CSR. Kami tidak akan mundur selangkah pun untuk menghadapi korporasi perusak lingkungan,” ucap Arif.

Menanggapi tudingan tersebut, Direktur Utama PT Indocement Tunggal Prakarsa Chistian Kartawijaya saat dikonfirmasi MuriaNewsCom mengatakan, CSR yang selama ini digelontorkan di Pati sudah menjadi komitmen perusahaan untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan.

“Program CSR memang sudah menjadi kewajiban perusahaan, sesuai dengan UUPT Nomor 40 Tahun 2007. Dalam UU tersebut, CSR sudah menjadi komitmen perusahaan untuk melakukan pembangunan ekonomi berkelanjutan. Semuanya untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik perusahaan, komunitas setempat, dan masyarakat luas,” kata Christian.

Baca juga : Ribuan Rakyat Kendeng Lawan Pendirian Pabrik Semen di Pati dengan Pawai Lingkungan

Bahkan, program kelestarian air dan peningkatan akses air untuk masyarakat yang dilakukan PT Indocement berhasil mendapatkan penghargaan platinum pada ajang CSR Awards dari Kementerian Sosial RI dan Corporate Forum for Community Development (CFCD) tak lama ini. Karena itu, Christian membantah bila program CSR yang dilakukan PT Indocement hanya untuk politik pencitraan.

“Dalam pengembangan komunitas, PT Indocement juga sudah membangun infrastruktur jalan dan jembatan, perbaikan sarana dan pembinaan olahraga, renovasi musala dan madrasah, termasuk peningkatan sumber daya air. Misalnya, normalisasi saluran air Tambakromo-Kayen sepanjang 8,7 km, perbaikan pompa air dan pipanisasi dari Stasiun Pompa Tambakromo,” imbuhnya.

Selain itu, PT Indocement menegaskan sudah menyiapkan untuk membangun kualitas tenaga kerja yang siap pakai pada masa konstruksi dan operasi pabrik semen di Pati. Hal itu dilakukan dengan peningkatan keterampilan kompeten melalui kerja sama dengan Balai Latihan Kerja Dinsoskertrans Kabupaten Pati. “Dengan adanya pabrik semen, banyak tenaga kerja dari Pati yang nantinya akan diserap,” tutur Christian.

Ditanya soal tudingan kerusakan lingkungan dan habisnya sumber mata air, pihaknya memastikan pembangunan pabrik semen di Pati tidak akan merusak lingkungan. Justru, PT Indocement akan meningkatkan ketahanan air di area pabrik, tambang, dan sekitarnya.

Pembangunan infrastruktur berupa dam dan embung raksasa dengan daya tampung 2,1 juta meter kubik per tahun justru akan memberikan tambahan air bagi masyarakat sekitar. Dalam operasionalnya, PT Indocement tidak menggunakan air bawah tanah, tetapi menggunakan kolam air areal tambang dan pabrik untuk memenuhi kebutuhan air operasi pabrik dan membantu kebutuhan air masyarakat.

Dihubungi terpisah, Direktur Utama PT Sahabat Mulia Sakti, Budiono Hendranata menegaskan hal yang sama. “Kami bisa menjamin, simpanan air di Pegunungan Kendeng tidak akan berkurang. Kami ikuti kaidah produksi dry process, sehingga volume dan kualitas air dari Gunung Kendeng akan terjaga,” papar Budiono.

Sebagai bagian dari HeidelbergCement Group, pihaknya memastikan setiap usahanya mengacu pada Cement Sustainability Initiative (CSI) dari himpunan industri semen kelas dunia yang masuk dalam World Business Council for Sustainable Development. “Kami menjunjung tinggi penerapan prioritas keberlanjutan usaha dengan memerhatikan aspek lingkungan, menjawab permasalahan sosial dan ekonomi, seperti pengelolaan sumber daya air, pemenuhan pangan, menjaga ekosistem, antisipasi perubahan iklim, sumber daya manusia, dan pola hidup yang sesuai prinsip keberlanjutan,” pungkasnya.

Baca juga : Aksi Tolak Pendirian Pabrik Semen di Pati Dikawal Ketat Pasukan Bersenjata

Editor : Kholistiono

 

Dirut PT Indocement Bantah Tudingan Pembangunan Semen Rusak Kawasan Karst

Sejumlah warga yang tergabung dalam JMPPK menggelar aksi damai di depan DPRD Pati, Jumat (20/5/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto

Sejumlah warga yang tergabung dalam JMPPK menggelar aksi damai di depan DPRD Pati, Jumat (20/5/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Ketua Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Gunretno mengatakan, pertambangan semen di pegunungan “Karst Kendeng Utara” berpotensi memutus fungsi karst sebagai pendistribusi air melalui gua. Bila distribusi terputus, mata air dikatakan akan hilang dan pemulihannya sulit.

“Dari keterangan ahli speleologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cahyo Rahmadi, kawasan karst adalah bentang alam di bebatuan mudah larut seperti batu gamping. Prosesnya bisa memakan waktu puluhan ribu tahun,” ungkap Gunretno, Jumat (20/5/2016).

Gunretno menjelaskan, aktivitas tambang akan menghilangkan lapisan tanah pucuk dan lapisan epikarst akan memutus jaringan air bawah tanah. Akibatnya, kondisi tersebut akan menyebabkan fungsi karst sebagai akuifer air bersih bagi masyarakat sekitar hilang.

“Hilangnya tanah pucuk dan lapisan epikarst akan menyisakan batu gamping yang memiliki lubang-lubang pelarutan. Dampaknya, air hujan sulit diserap dan berpotensi menjadi aliran liar di permukaan,” imbuhnya.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Christian Kartawijaya saat dikonfirmasi mengatakan, tudingan Gunretno dianggap mengada-ada dan memutarbalikkan fakta. Sebab, Keputusan Menteri (Kepmen) Nomor 2641 Tahun 2014 sudah memastikan bila areal tambang PT Sahabat Mulia Sakti (SMS), anak perusahaan PT Indocement berada di luar Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK).

“Dalam melakukan penambangan, kami memperhatikan kaedah-kaedah tambang yang benar dan sesuai aturan, tidak sembarangan. Misalnya, adanya reklamasi, menjaga buffer zone kalau ada mata air, menambang tidak di bawah level mata air sekitar dan tidak menyentuh zona kedap air,” tutur Christian.

Selain itu, Christian memastikan bila lahan tambang berada di luar kawasan bentang alam karst sehingga tidak akan merusak sumber mata air. Dengan pertimbangan karst pula, PT Indocement yang semula akan menambang seluas 10.000 hektare, kini dipersempit menjadi 2.663 hektare.

“Lahan tambang seluas 2.663 hektare untuk batu kapur dan tanah liat, milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) akan diselesaikan dengan pola pinjam pakai tanah hutan dengan kompensasi sesuai ketentuan dan aturan yang ada. Luasan pengajuan IUP-OP menjadi 2.033 hektare,” tambahnya.

Ditanya soal rencana pembebasan lahan, Christian akan membebaskan tanah dengan memperhatikan harga pasar yang pantas sesuai dengan musyarawah mufakat. Perusahaan diakui menghormati hak masyarakat tanpa ada pemaksaan.

“Pengawasan pelaksanaan pembebasan tanah dilakukan oleh perusahaan bersama Tim Pemkab, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dan masyarakat sendiri. Tak ada perlu tekanan atau pengaruh lain yang justru membuat kesalahpahaman masyarakat,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami