3 Pantai di Jepara Ramah Difabel 

Wisatawan menikmati suasana liburannya di Jepara. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Jepara dikenal dengan destinasi wisata pantainya. Namun pertanyaannya, apakah sudah layak dikunjungi bagi saudara-saudara kita yang mengalami keterbatasan atau difabel?

Founder dan Inisiator Komunitas Sahabat Difabel Noviana Dibyantari menjawab pertanyaan itu. Baginya beberapa pantai di Jepara yang sudah bersahabat bagi difabel.  “Sudah bagus, di antaranya pantai Bandengan, Pantai Kartini dan Pantai Beringin. Kebanyakan sudah bersahabat bagi difabel,” katanya, beberapa saat lalu. 

Ia mengatakan, hal itu sudah dibuktikannya ketika mengunjungi pantai-pantai tersebut. Bahkan ia menaruh apresiasi dengan dibuatnya jalur kursi roda yang ada di Alun-alun Kota Jepara. 

“Ini (jalur kursi roda) saya kira sebuah keberpihakan pemerintah setempat untuk difabel. Bahkan di kota besar seperti Semarang belum tersedia hal seperti ini, saat ada even saja dipasang jalur bantu namun setelahnya sudah digeser,” tuturnya. 

Editor : Akrom Hazami

132 Atlet Difabel Grobogan Ambil Bagian di Even Peparkab 2017

Para atlet difabel Grobogan sedang berjuang untuk menjadi yang terbaik dalam ajang Peparkab 2017. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan –  Even Pekan Paralympic Kabupaten (Peparkab) 2017 yang digelar Disporabudpar Grobogan resmi digelar hari ini, Selasa (10/5/2017). Ajang olahraga bagi penyandang difabel itu dibuka Wakil Ketua National Paralympic Committee (NPC) Jawa Tengah Suwarno. 

Sedikitnya, ada 132 penyandang difabel yang ikut even Peparkab tersebut. Para atlet saling menunjukkan kemampuannya untuk menjadi yang terbaik. Dalam ajang Peparkab ini dipertandingkan lima cabang olahraga. Yakni, atletik, tenis meja, bulu tangkis, bola voli, dan catur.

“Ajang peparkab ini sekaligus kita manfaatkan untuk memantau bibit potensial di berbagai cabang olahraga. Kita harapkan dari ajang ini bakal muncul atlet yang berbakat dan bisa kita bina lebih lanjut untuk meraih prestasi,” kata Wakil Ketua NPC Jateng Suwarno.

Menurut Suwarno, pihaknya sangat mengapresiasi langkah Disporabudpar Grobogan untuk menggelar even olahraga bagi penyandang difabel. Sebab, tidak semua kabupaten sudah pernah menggelar even Peparkab.

Sementara itu, Kasi Pembinaan Olahraga  Disporabudpar Grobogan Eko Priyono menambahkan, ajang Peparkab akan dilangsungkan dua hari, yakni tanggl 9 dan 11 Mei lusa. Lokasinya, di  GOR dan Stadion Krida Bhakti.”Hari pertama ini ada dua cabor yang kita pertandingkan. Yakni, atletik dan catur. Tiga cabor lainnya kita gelar Kamis lusa atau hari kedua di GOR,” jelasnya.

Menurutnya, even ini adalah penyelenggaraan Peparkab untuk kali kedua. Tahun lalu, pihaknya sudah menggelar even Peparkab perdana pada 29-30 September 2016. “Even perdana kemarin kita jadikan test case. Karena hasilnya cukup bagus maka tahun ini kembali kita adakan lagi dan rencananya jadi agenda rutin,” jelasnya.

Menurut Eko, melalui ajang Peparkab nanti diharapkan bisa menghasilkan bibit handal dikalangan penyandang difabel. Disisi lain, ajang ini bisa dipakai untuk untuk kemampuan dan menambah pengalaman atlet difabel yang ada di Grobogan.

Pelaksanaan Peparkab nanti juga dijadikan ajang persiapan untuk menghadapi even pekan paralympic pelajar nasional (Peparpenas). Rencananya, Peparpenas akan dilangsungkan di Semarang bulan Oktober mendatang. Dia menambahkan, sejauh ini potensi atlet difabel di Grobogan cukup bagus.

Indikasinya, ada satu atlet, yakni Siti Mahmudah yang menjadi duta Indonesia dalam ajang Paralimpiade di Brasil bulan September 2016. “Kita harapkan, dari ajang Peparkab nanti ada atlet lagi yang bisa berkiprah ditingkat nasional maupun internasional,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Pemkab Grobogan Sediakan Sarana Latihan Atlet Difabel

Kabid Olahraga Disporabudpar Grobogan Karsono sedang menunjukkan peralatan latihan yang disediakan bagi atlet difabel. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Beragam sarana latihan disiapkan Disporabudpar Grobogan untuk digunakan berlatih atlet difabel. Antara lain, berupa sepeda balap, tempat duduk buat cabor atletik, lembing, peluru, cakram, papan catur, panah, dan meja pingpong.

“Peralatan ini kita adakan dari dana APBD senilai Rp 50 juta. Sebagian besar peralatan sudah kita terima dan untuk membeli sebagian peralatan ini harus pesan lebih dulu,” kata Kabid Olahraga Disporabudpar Grobogan Karsono di Grobogan, Sabtu (18/3/2017).

Disiapkannya sarana penunjang bagi atlet difabel itu dilakukan dengan beberapa pertimbangan. Antara lain, selama ini, atlet difabel yang tergabung dalam wadah National Paralympic Committee (NPC) Grobogan belum memiliki sarana tersebut.

Padahal, sejauh ini, prestasi atlet NPC Grobogan cukup membanggakan. Baik di level nasional maupun internasional.

“Dalam ajang Peparnas di Bandung tahun 2016 lalu, beberapa atlet NPC dari Grobogan berhasil dapat emas. Kemudian, ada nama Siti Mahmudah, atlet dari cabor angkat besi dari Grobogan yang tahun lalu sempat ikut Paralimpiade di Brazil,” jelasnya.

Menurut Karsono, dengan adanya prasarana tersebut diharapkan para atlet bisa lebih mudah ketika akan mengadakan latihan rutin. Harapan ke depan, dengan adanya prasarana yang ada bisa meningkatkan prestasi atlet di kancah nasional maupun internasional.

Editor : Akrom Hazami

 

Tak Ramah Difabel

difabel trotoar ilust

 

MuriaNewsCom, Kudus – Ketua KMKB Sururi Mujib mengatakan, bangunan trotoar di Kudus sejauh ini belum ramah untuk dilalui pejalan kaki. Terutama belum ramah untuk penyandang difabel.

“ Saya melihat bentuk trotoar naik turun. Kondisi demikian menyulitkan bagi penyandang difabel,” kata Sururi.

Padahal, para difabel kerap beraktivitas dengan memanfaatkan trotoar. Idealnya, hak difabel memakai trotoar juga diperhatikan.

“Mungkin perencanaannya bisa ditata lagi. Agar ke depan semua kalangan bisa menggunakannya,” ungkap Sururi.

Sejumlah kota memang telah memedulikan hal itu. Pemerintah daerah atau instansi terkait mulai sadar dengan bangunan trotoar yang nyaman untuk difabel.

Diketahui, trotoar adalah jalur untuk pejalan kaki. Yang umumnya sejajar dengan jalan dan lebih tinggi dari permukaan perkerasan jalan, untuk menjamin keamanan pejalan kaki.

Editor : Akrom Hazami

 

Ruang Milik Jalan Harus Ramah Difabel

Beberapa trotoar di Kudus memiliki kelandaian hampir 90 derajat, di depan jalan masuk gang atau toko. Hal itu menyulitkan kaum difabel dan pesepeda untuk melintas. (MURIANEWS / IKA NIKMAH)

KUDUS – Ruang milik jalan seperti trotoar yang dikhususkan bagi pejalan kaki, harus ramah juga terhadap kaum difabel. Bentuk pedistrian yang diterapkan di perkotaan tidak hanya memperhatikan segi artistik kota saja, tetapi lebih mementingkan pada kenyamanan pengguna jalan yang melaluinya.

Lanjutkan membaca