Tugu Identitas Desa Wisata Kudus Bakal Buat Acara Wisata Jadi Semarak

Penampilan kesenian modern dari Desa Wisata Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus, di ajang Jateng Fair 2016, yang membuat Kudus bisa meraih juara dalam keikutsertaannya itu. (Istimewa)

Penampilan kesenian modern dari Desa Wisata Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus, di ajang Jateng Fair 2016, yang membuat Kudus bisa meraih juara dalam keikutsertaannya itu. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Kudus –Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) terus melakukan pengembangan terhadap belasan desa wisata yang ada.

Salah satu yang sedang dilakukan adalah dengan membangun empat tugu identitas, di empat desa wisata yang ada. ”Kita memiliki belasan desa wisata. Nah, dari sana kita pilih empat desa wisata yang kita kembangkan tahun ini. Sesuai dengan tujuan kita, supaya bisa membuat desa-desa wisata di Kudus ini menjadi lebih baik lagi,” jelas Kepala Bidang (Kabid) Pariwisata pada Disbudpar Kudus Dwi Yusi Sasepti.

Empat desa yang dipilih untuk dibangunkan tugu identitas adalah Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Desa Kaliwungu, Kecamatan Kaliwungu, Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, dan Desa Terban, Kecamatan Jekulo.

Yusi mengatakan, empat desa yang dipilih itu, karena memiliki beberapa kekhasan tersendiri. Apalagi, desa-desa tersebut juga sudah dikenal selama ini. Baik oleh warga Kudus maupun warga dari daerah-daerah lainnya.

Empat tugu yang akan dibangun itu, akan disesuaikan dengan karakteristik atau identitas masing-masing. Untuk Desa Wisata Terban misalnya, akan dibangun di dekat Museum Patiayam. Di sana, akan dibuat dengan patung-patung gajah atau yang khas dengan Patiayam, yang selama ini dikenal sebagai situs purbakala.

”Nantinya akan kita pasangi lampu-lampu warna-warni. Sehingga kalau malam, akan tetap terang. Tujuannya agar malam hari juga masih bisa ada aktivitas di sana. Sehingga mereka yang tidak bisa dating pada pagi atau siang hari, bisa memanfaatkan malam hari untuk bersantai. Makanya, fungsi lampu-lampu juga akan kita maksimalkan,” tuturnya.

Sedangkan untuk Desa Wisata Jepang, juga akan dibuat tugu identitas dari bambu. Pasalnya, desa wisata itu identik dengan kerajinan dari bambu, yang sudah menjadi ciri khas dari Desa Wisata Jepang. ”Demikian juga dengan Desa Wisata Kaliwungu dan Wonosoco. Kita buat sesuai dengan identitas desanya masing-masing,” terang Yusi.

Kesenian silat dari Desa Wisata Kaliwungu, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, saat beraksi di ajang Jateng Fair 2016, yang berhasil mendapatkan salah satu gelar juara. (Istimewa)

Kesenian silat dari Desa Wisata Kaliwungu, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, saat beraksi di ajang Jateng Fair 2016, yang berhasil mendapatkan salah satu gelar juara. (Istimewa)

Menurut Yusi, pengembangan empat desa wisata itu, bertujuan agar ada banyak destinasi wisata di Kudus yang lantas bisa memberikan sesuatu yang khas. Apalagi untuk pengembangan wisata, tugu identitas ini diharapkan akan menarik banyak orang, untuk bisa datang.

”Kita sekarang ini harus up to date alias mengikuti situasi kepariwisataan yang baru. Banyak lokasi-lokasi wisata yang kemudian menjadi semakin terkenal karena uniknya, dan lantas diunggah ke media sosial banyak orang. Peran masyarakat inilah yang kemudian kita harapkan. Sehingga mereka bisa menjadi agen promosi kita,” paparnya.

Upaya pengembangan desa wisata di Kudus juga dilakukan dengan mengikutsertakan pelaku wisata di masing-masing desa, ke ajang-ajang yang diikuti Disbudpar. Contoh terakhir even yang diikuti adalah ajang Jateng Fair 2016, beberapa waktu lalu.

Dalam ajang itu, ditampilkan kesenian silat dari Desa Wisata Kaliwungu dan kesenian tongtek modern dari Desa Wisata Mejobo. Masing-masing menampilkan performa terbaik mereka di hadapan tim juri yang melakukan penilaian, dan masyarakat umum yang menonton pertunjukan tersebut.

”Kita mengikuti kegiatan itu, bersama dengan 35 kabupaten/kota se Jawa Tengah. Dan kita bersyukur karena apa yang kita tampilkan ternyata mendapat juara di sana. Sebelumnya juga ikut, tapi belum pernah juara. Namun tahun ini, Alhamdulillah kita bisa juara. Tahun depan kalau ada lagi, kita akan tampilkan yang lebih bagus lagi, sehingga akan bisa mendapat juara yang lebih bagus lagi,” tutur Yusi.

Yusi menambahkan bahwa ke depannya, pengembangan desa-desa wisata akan terus dilakukan. Ini karena semakin banyak desa wisata yang baik, akan semakin banyak potensi-potensi yang dimunculkan.

”Pada akhirnya, desa-desa wisata itu akan membuat banyak masyarakat bisa berdatangan ke sana. Dampaknya jelas, akan lebih meningkatkan tingkat perekonomian masyarakat itu sendiri. Mereka akan semakin sejahtera. Ini adalah sebuah efek jangka panjang yang menguntungkan. Jika desanya sudah maju, maka akan membuat masyarakat juga terangkat dari segala bidang. Jadi, bantu kami dari pihak pemerintah, untuk terus bisa mengembangkan desa wisata,” imbuhnya. (News Ads)

Editor: Merie

 

Takut Desa Wisata Jadi Tempat Mesum, Trantibum Gebog Gencarkan Razia

Wiji Edy, Kasi Ketentraman dan Ketertiban Umum (Trantibum) Kecamatan Gebog. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Wiji Edy, Kasi Ketentraman dan Ketertiban Umum (Trantibum) Kecamatan Gebog. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Tempat wisata pemandangan atau wisata alam tentunya sangat disukai banyak orang untuk dijadikan tempat refreshing. Khususnya bagi kawula muda yang hobi jelajah alam. Akan tetapi tempat wisata itu juga tidak luput dari tingkah polah wisatawan yang memanfatkan tempat tersebut untuk dijadikan ajang mesum.

Begitu halnya di Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog. Untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan, pihak Polisi Pamong Praja di kecamatan setempat menggencarkan operasi di tempat wisata dan sekitarnya.

Kasi Ketentraman dan Ketertiban Umum (Trantibum) Kecamatan Gebog Wiji Edy mengatakan, pihaknya mengintensifkan razia disaat jam sekolah. Khususnya pada hari efektif sekolah, yaitu Senin hingga Kamis. ”Sehingga para pelajar yang membolos dan ketahuan pacaran langsung kami bina,” paparnya.

Diketahui, desa yang memiliki ratusan tempat wisata alam ini memang banyak dijumpai pemuda dan pemudi memadu kasih. Sehingga pihak terkait harus menertibkannya.

”Saat ini kami bekerjasama dengan pemerintah desa dan masyarakat supaya bisa mencegah hal itu. Serta tidak menjadikan tempat tersebut sebagai tempat pacaran. Sebab destinasi wisata ini harus bisa dijaga dengan baik,” tuturnya.

Dia menambahkan, untuk per Februari 2016 ini tidak ada laporan tentang hal itu. Akan tetapi jika ditemukan pasangan pacaran saat masih usia sekolah atau umum, baik itu disaat memakai seragam sekolah atau memakai pakaian bebas maka langsung diperiksa. ”Pemeriksaan itu memberikan pembinaan terhadap wisatawan tersebut untuk menerapkan adat ketimuran dan kesopanan di tempat umum,” ujarnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

 

Baca juga:

Ternyata Batu Raksasa Dung Gong Ini yang Jadi “Magnet” Wisata Rahtawu 

Ini Tarif untuk Berkunjung ke Petilasan di Desa Rahtawu

Warga Kandangmas Kudus Berebut Ikut Kegiatan Desa Wisata

Warga Desa Kandangmas melakukan pelatihan biola di balai desanya. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga Desa Kandangmas melakukan pelatihan biola di balai desanya. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Desa Wisata di Kabupaten Kudus digadang mampu menjadi kampung hebat dibanding lainnya. Mengingat, desa mereka mempunyai keunggulan atau potensi berbeda yang dipandang memiliki nilai jual.

Salah satu dari Desa Wisata itu adalah Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kudus. Demi obsesinya menjadi desa unggulan, warga setempat antusias menyambutnya.Terbukti dari banyaknya jumlah warga yang mengikuti pelatihan dalam pembentukan Desa Wisata.

Ada berbagai pelatihan diadakan. Di antaranya pelatihan pembuatan kopi, membuat jamu, fotografi, sablon, wayang, topeng, menjahit, dan lain sebagainya. Adapun kalangan yang ikut pelatihan pun beragam. Mulai dari kalangan dewasa, remaja, hingga anak-anak. Baik itu perempuan maupun laki-laki. Bahkan setiap waktu pelatihan tiba, Balai Desa Kandangmas, menjadi ramai kegiatan.

Diketahui, balai desa setempat itu menjadi sentra pelatihan Desa Wisata di Kandangmas. “Antusias warga untuk mengikuti pelatihan sangat tinggi. Warga, terutama pemuda di sini memang sadar kegiatan,” kata salah satu penggerak Karang Taruna Desa Kandangmas, Syaefuddin.

Bahkan sebagian warga mengikuti kegiatan tanpa ada paksaan atau sekadar ikut-ikutan. Keinginan untuk belajar murni datang dari diri sendiri. Jadi jangan heran, lanjutnya, jika setiap pelatihan diikuti banyak warga.

Ngatmin, salah seorang peserta pembuatan wayang, adalah buktinya. Ngatmin mengaku mengikuti pelatihan wayang memang ingin belajar membuat wayang. Dalam hal ini adalah wayang kulit. “Saya ingin mengasah jiwa seni diri,” kata Ngatmin.

Pemuda asal Dukuh Sudo ini tidak berharap banyak dari pelatihan wayang. Yang pasti baginya, mahir dan terampil membuat wayang merupakan kebanggaan tersendiri. “Sebelumnya saya juga ikut pelatihan topeng,” ungkapnya.

Peserta pelatihan sablon, Aan juga menuturkan alasan keikutsertaanya di pelatihan. Dia sengaja ikut pelatihan sablon untuk menambah pengetahuan. Meski Aan mengakui belum mempunyai pengalaman menyablon, tapi dia yakin hasil dari pelatihan akan bermanfaat baginya.“Belum tahu, apakah saya akan membuka usaha sablon atau tidak,” ujar Aan.

Sementara keinginan untuk belajar dan ingin berkecimpung dari hasil pelatihan, disampaikan salah seorang peserta kegiatan fotografi. Adalah Mamad. Dia ingin serius menjadi fotografer. Khususnya fotografer prewedding.

Dia sering mendapat tawaran memotret. Tapi karena belum yakin dengan kemampuannya mempergunakan kamera DSLR miliknya, tawaran pun ditolak. “Sering saya dapat tawaran motret prewed. Tapi saya tolak,” kata Mamad.

Karenanya, dia berharap dengan mengikuti pelatihan fotografi, kemampuannya bisa berkembang. “Semoga bisa motret bagus,” harapnya. (AKROM HAZAMI)

Pemkab Rembang Berencana Kembangkan 6 Desa Wisata Pantai

awasan Pantai Caruban di Desa Gedongmulyo Kecamatan Lasem. (MuriaNewsCom/Ahmad Feri)

awasan Pantai Caruban di Desa Gedongmulyo Kecamatan Lasem. (MuriaNewsCom/Ahmad Feri)

 

REMBANG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang melalui Badan Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPKB) setempat ingin mengoptimalkan potensi wisata di Kota Garam. Saat ini ada enam desa yang digadang-gadang menjadi desa wisata pantai.

Keenam desa yang berada di kawasan pesisir pantai itu adalah Desa Pasarbanggi, Desa Tritunggal, Desa Punjulharjo di Kecamatan Rembang, Desa Gedongmulyo, Desa Dasun, dan Desa Tasiksono di Kecamatan Lasem. Rencana ini terungkap saat kegiatan Participatory Rural Appraisal (PRA) yang bertajuk “Pengembangan Kawasan Perdesaan Berbasis Masyarakat” di Kompleks Sanggar Budaya Museum Kartini Rembang.

“Dengan didukung potensai kelautan, perikanan, konservasi hutan pantai dan potensi lainnya, setiap desa di kawasan pesisir Rembang memang bisa dijadikan ikon kawasan pariwisata pantai. Pengembangan kawasan perdesaan tersebut harus mengakomodir sumber daya alam lokal,” ujar Sri Wahyuni Hariyati, Kepala (BPMPKB) Rembang, Selasa (15/9/2015).

Sri Wahyuni mengatakan, masalah pertumbuhan ekonomi harus selaras dengan lingkungan dan konservasi sumber daya alam berdasarkan kearifan lokal. Menurutnya pengembangan kawasan tersebut butuh perpaduan pembanguan antardesa guna mempercepat dan meningkatkan kualitas pemberdayan masyarakat desa melalui pendekatan pembangunan yang partisipatif.

“Untuk menentukan dan memunculkan potensi desa yang menarik perlu digali oleh pihak desa sendiri. Tidak semata-mata tergantung dari bantuan pemkab Rembang saja agar desa bisa mandiri. Pemkab sebagai fasilitator juga siap menfasilitasi, dengan menggandeng pihak tertentu yang berkompeten untuk pendampingan,” kata Sri Wahyuni. (AHMAD FERI/KHOLISTIONO)