Ini Unik, Asal Usul Setrokalangan Kudus

Warga berada di Desa Setrokalangan Kudus. (MuriaNewsCom)

Warga berada di Desa Setrokalangan Kudus. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Nama Desa Setrokalangan, yang terdapat di Kecamatan Kaliwungu, Kudus, tergolong nama yang unik. Desa Setrokalangan, dari informasi yang beredar, dulunya dikenal sebagai daerah tempatnya penjudi.

Kades Setrokalangan Edi Siswanto mengatakan,dulu daerah Setrokalangan terbagi dalam dua tempat, yakni Setro dan Kalangan. Untuk Setro, nama itu diartikan sebagai perjudian adu ayam jago. Sedangkan nama Kalangan artinya sebuah tempat.

“Jadi Setrokalangan adalah sebuah tempat yang dipergunakan untuk judi adu ayam jago. Dulunya demikian sehingga diberikan nama Setrokalangan,” katanya kepada MuriaNewsCom

Menurutnya, hal itu hanya terjadi pada masa lalu saja dan jadi bagian dari sejarah. Sebab sekarang, pemilik ayam justru lebih berkurang. Dan berbagai macam perjudian juga sudah tidak ada di tempat tersebut.

“Kalau sekarang hanya tinggal nama saja, tidak lebih. Jadi dari cerita masyarakat khususnya orang orang tua demikian ya bagaimana lagi. Yang penting adalah sekarang dan ke depannya,” ujarnya.

Namun, terdapat misteri yang kini tidak terpecahkan. Di sana terdapat tiga dukuh, yakni Dukuh Setro, Dukuh Kalangan dan Karangturi. Untuk Dukuh Setro dan Kalangan letaknya memang berdekatan. Namun Dukuh Karangturi berbeda, tempatnya berjauhan agak ke timur

Bukan hanya jarak saja yang memisah. Namun nama dan ceritanya juga belum diketahui hingga kini. Sehingga misteri dibalik nama Karangturi masih belum diketuai.

“Sampai sekarang kami masih mencarinya. Bagaimana sejarah itu, soalnya cerita di balik nama Karangturi itu putus dit engah masyrakat,” ungkapnya.

Namun yang pasti, Karangturi bukan dikenal dengan nama sebuah tempat perjudian. Melainkan nama tersebut dikenal dengan nama daerah yang kaya akan ternak. Sebab sebagian besar, warga disana memiliki ternak. Bak jenis kambing, kerbau dan sapi.

Editor : Akrom Hazami

Unik! Pohon Pisang di Cengkalsewu Pati Ini Berbuah dari Batang

Siswanto menunjukkan buah pisang aneh miliknya yang tumbuh di bagian batang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Siswanto menunjukkan buah pisang aneh miliknya yang tumbuh di bagian batang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Pohon pisang milik Siswanto (33), warga Desa Cengkalsewu, Kecamatan Sukolilo, Pati berbuah dari tengah batang yang tumbuh menyamping. Padahal, pohon pisang yang wajar tumbuh pada bagian ujung pohon.

Sontak, pohon pisang unik tersebut menjadi perhatian warga. Bahkan, teman Siswanto sempat menawar buang pisang yang tumbuh secara tak wajar itu senilai Rp 500 ribu. Namun, Siswanto enggan menjualnya karena dinilai aneh dan unik.

“Awalnya, istri saya bersih-bersih pekarangan di belakang rumah. Kebetulan, belakang rumah saya itu kebun pisang. Istri saya kaget setelah salah satu pisang miliknya muncul bunga pisang disertai dengan buahnya dari samping batang, bukan dari ujung,” kata Siswanto kepada MuriaNewsCom, Senin (11/1/2016).

Kendati ditawar Rp 500 ribu, buah pisang itu rencananya tidak dijual sampai masak. Padahal, satu tandan pisang masak biasanya dihargai Rp 40 ribu hingga Rp 70 ribu.

“Ini baru tumbuh sekitar satu bulan yang lalu sudah ditawar teman Rp 500 ribu. Rencananya, mau diambil saat masak nanti. Tapi, saya tetap tidak mau. Soalnya ini unik dan tidak biasa,” ungkapnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Unik, Desa di Kudus Ini Miliki Puluhan Jembatan dan Diberi Nama Angka

 

Jembatan 1 dari utara Kesambi Barat di Kecamatan Mejobo ini sebagai salah satu ciri khas desa tersebut yang memiliki puluhan jembatan di desanya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Jembatan 1 dari utara Kesambi Barat di Kecamatan Mejobo ini sebagai salah satu ciri khas desa tersebut yang memiliki puluhan jembatan di desanya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Selain wilayah desa di Kecamatan Undaan yang mengandalkan gapura megahnya sebagai penunjuk alamat, ada lagi satu desa diKecamatan Mejobo juga memiliki ciri khas unik untuk menandai suatu wilayahnya. Yaitu dengan jembatan yang jumlahnya hingga puluhan.

Wilayah tersebut ialah Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo. Di desa tersebutlah terdapat 32 jembatan sebagai penanda dan batas dukuh. Selain sebagai penghubung wilayah yang terbelah oleh sungai, jembatan tersebut juga dijadikan sebagai penanda alamat agar memudahkan tamu desa yang datang.

Sekretaris Desa Kesambi Cahyo Suudi menjelaskan, berhubung desa ini terbelah oleh sungai Piji, Dawe, maka secara otomatis desa ini juga menjadi dua wilayah. Yaitu wilayah Kesambi Barat dan Kesambi Timur.

”Sungai Piji yang membelah desa ini juga ada dua. Yaitu sungai Piji barat dan timur. Namun untuk sungai Piji Barat terdapat 14 jembatan yang dimulai dari RW 1 sampai degan RW 11. Sedangkan untuk sungai Piji Timur sebanyak 18 jembatan yang dimulai dari RW 3 sampai dengan RW 8,” terang Cahyo.

Letak geografis desa yang membujur ke selatan dan banyaknya jembatan yang ada, secara otomatis akan dapat membingungkan tamu yang datang ke wilayah tersebut. Sehinga di tahun 2010 pihak desa bekerja sama dengan mahasiswa yang menjalani kuliah kerja nyata (KKN) di Desa Kesambi, untuk diajak memeberi tanda sekaligus menamai puluhan jembatan tersebut.

”Sebelumnya, saat jembatan-jembatan yang ada di desa kami ini belum memiliki nama, tamu luar daerah bahkan luar kota tak sedikit yang tersesat. Sehingga di tahun 2010 mahasiswa KKN kami ajak kerja sama menamai jembatan itu. Yaitu mulai dari nama jembatan 1 sampai dengan 32. Sebab jumlahnya jembatan tersebut ada 32 buah. Itu pun  mulai dari Kesambi Barat dan Kesambi Timur,” imbuhnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)