Mengenal Nasi Nuk, Nasi Adat dari Desa Prawoto Pati

Sejumlah warga setempat mengelilingi nasi nuk yang diarak pada kirab budaya Sunan Prawoto. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah warga setempat mengelilingi nasi nuk yang diarak pada kirab budaya Sunan Prawoto. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Dalam tradisi Jawa, masyarakat biasanya mengenal nasi tumpeng dan nasi ambengan. Nasi tumpeng berbentuk mengerucut, sedangkan nasi ambengan merata dalam satu wadah.

Beda halnya dengan Nasi Nuk. Nasi adat khas Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Pati ini berbentuk bulatan sedikit lebih kecil dari mangkok bakso.

Marni, pembuat ikan lengkur yang juga membuat Nasi Nuk mengatakan, pembuatan Nuk sebetulnya hampir seperti dikepal tetapi lebih pelan. Orang setempat menyebutnya “dinuk-nuk”.

Dalam suatu tradisi bancaan di makam sesepuh setempat, sedikitnya ada tujuh kepal Nasi Nuk yang diberikan ke sejumlah orang. Salah satunya diberikan kepada pelawangan makam.

“Nasi Nuk dan ikan lengkur kemudian ditandukke (red: didoakan). Setelah itu, Nasi Nuk bersama sejumlah lauk lainnya bisa dimakan di tempat atau dibawa pulang,” ujar Marni kepada MuriaNewsCom.

Marni mengaku tidak ada tarif khusus bila warga ingin menggunakan keahliannya untuk membuat Nasi Nuk dan ikan lengkur. “Diopahi sakikhlase (diberikan upah seikhlasnya),” kata Marni singkat.

Nasi Nuk begitu legendaris di Desa Prawoto. Nasi itu ada di setiap tradisi bancaan hingga kirab budaya Sunan Prawoto. Pada suasana kirab, Nasi Nuk biasanya jadi ajang rebutan warga karena diyakini mengandung tuah untuk keselamatan, rezeki, keberkahan, hingga kesuburan tanah pertanian.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :

Marni, Sang Penjaga Tradisi Ikan Lengkur dari Pati Selatan

Jejak Pusat Pemerintahan Ditemukan di Desa Prawoto Pati

uplod jam 1230 pati pusat pemerintahan (e)

Pemandangan alun-alun mini, beringin kembar depan balai desa, dan masjid di Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Ada sesuatu yang tidak biasa ketika kita berkunjung ke Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Pati. Desa dengan jumlah penduduk sekitar 11.764 jiwa itu memiliki balai desa kuno, lengkap dengan dua pohon beringin besar, di bagian depan, masjid, dan bekas alun-alun.

Hal itu ditengarai sebagai bekas pusat pemerintahan. Namun, belum bisa diidentifikasi bekas pusat pemerintahan pada zaman siapa dan tahun berapa.

Kepala Desa Prawoto Ahmad Hyro Fachrus mengatakan, bukan suatu kebetulan bila suatu daerah terdapat tempat pemerintahan yang dilengkapi dengan tempat ibadah masjid dan alun-alun. “Di manapun tempatnya, pusat pemerintahan selalu dekat dengan alun-alun dan tempat ibadah masjid,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Sabtu (9/4/2016).

Kendati begitu, pihaknya masih belum bisa melacak jejak dan simbol-simbol yang ada di desanya tersebut. “Dulu, daerah ini sebagai bekas pusat pemerintahan tingkat kawedanan. Tapi, kepastian sejarah belum ditemukan. Yang jelas, posisi tempat pemerintahan, masjid dan alun-alun adalah bukti bila di sini pernah dijadikan pusat pemerintahan, entah tahun berapa dan siapa pemimpinnya,” imbuhnya.

Belum lagi, ada beringin kembar di depan kantor balai desa setempat yang besar dan menjulang tinggi ke atas. Pohon beringin kembar diyakini sebagai penanda adanya sisa-sisa pusat pemerintahan.

Saat ini, kawasan itu selalu ramai. Terlebih, alun-alun mini yang luasnya tidak seberapa itu banyak dipakai sebagai wahana bermain anak-anak. Sejumlah pedagang pun tampak membanjiri kawasan itu.

Editor : Akrom Hazami