Perhiasan Emas Berbentuk Bunga Mawar yang Ditemukan di Sawah Ini Sempat Dikira Barang Mainan

Perhiasan emas berbentuk bunga mawar mekar yang ditemukan warga di sawah Desa Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Benda bersejarah berupa perhiasan emas berbentuk setangkai bunga mawar yang sedang mekar di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus,Grobogan ternyata ditemukan secara kebetulan. Penemu perhiasan ini adalah Sugiyanto, warga yang tinggal di Dusun Medang,Desa Banjarejo.

Ceritanya, Sabtu (4/3/2017) siang sekitar pukul 14.00 WIB, pria berusia 43 tahun tersebut berangkat menuju lokasi sawahnya yang ada di sebelah timur dusun. Tujuannya untuk mempersiapkan lahan buah ditanami padi.

Semula aktivitas menata lahan dengan cangkul berjalan biasa, seperti yang rutin dilakukan selama ini. Namun, sekitar 15 menit kemudian, Sugiyanto sempat dibikin kaget.

Gara-garanya, ia melihat sekilas ada benda kuning yang terlihat di bawah tanah yang terkena cangkul. Namun, tidak lama kemudian, benda ini kemudian tidak terlihat lagi lantaran tertutup air.

Merasa penasaran, Sugiyanto kemudian meraba lokasi tersebut dengan tangan. Akhirnya, benda yang sebelumnya sempat terlihat sepintas berhasil didapatkan. Kemudian, benda itu dibersihkan dengan air untuk menghilangkan kotoran tanah yang menempel.

Baca juga : Heboh,Emas Berbentuk Bunga Mawar Muncul dari Bumi Banjarejo Grobogan

“Semula, benda ini dikira barang mainan. Namun, untuk memastikan, penemunya menyerahkan barang ini ke rumah. Ternyata ini adalah barang bersejarah peninggalan masa lalu,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Di areal sawah di timur Dusun Medang, selama ini memang sudah seringkali ditemukan benda cagar budaya peninggalan masa lalu. Wujudnya, kebanyakan berupa perhiasan emas. Dua tahun lalu di sekitar lokasi itu juga sempat ditemukan fondasi bangunan kuno dari tatanan batu bata.

“Sebenarnya, warga Dusun Medang sudah familiar dengan penemuan barang berharga, khususnya perhiasan. Namun, setahu saya, memang belum pernah ditemukan perhiasan yang bentuknya seperti bunga ini. Yang sudah-sudah berupa cincin, dan anting-anting,” imbuh Taufik.

Editor : Kholistiono

Heboh,Emas Berbentuk Bunga Mawar Muncul dari Bumi Banjarejo Grobogan

Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik menunjukkan perhiasan emas berbentuk setangkai bunga mawar yang ditemukan warganya Sabtu (4/4/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Penemuan benda bersejarah kembali terjadi di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus,Grobogan. Kali ini, benda yang ditemukan dinilai sangat fenomenal. Yakni, berupa perhiasan emas berwujud setangkai bunga mawar yang sedang mekar.

Bentuk perhiasan emas yang ditemukan ini ukurannya tidak terlalu besar. Panjang dari ujung kuncup bunga hingga pangkal tangkainya sekitar 4 cm. Lebar kelopak bunga antar ujungnya juga berkisar 4 cm.

Bagian bunga dalam perhiasan yang diduga sebuah tusuk konde itu ada beberapa lapisan. Paling bawah ada lima helai kelopak bunga yang sudah mekar.

Sementara, di atasnya ada beberapa helai yang akan mekar dan ada yang terlihat masih seperti kuncup. Di bagian bawah kelopak terdapat tangkai bunga sepanjang 2 cm yang juga berlapis emas.“Ukuran perhiasan ini memang tidak terlalu besar. Beratnya sekitar 7,6 gram,” ungkap Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik.

Perhiasan ini ditemukan bertepatan dengan Hari Jadi ke-291 Kabupaten Grobogan, Sabtu (4/3/2017) kemarin. Lokasi penemuannya berada di areal sawah di Dusun Medang. Tepatnya, sekitar 100 meter di selatan tanah keramat yang diyakini sebagai tempat berdirinya bangunan Keraton Kerajaan Medangkamulan.

Editor : Kholistiono

Liburan, ‘Museum’ Banjarejo Diserbu Pengunjung

Rombongan pengunjung anak-anak dari wilayah sekitar Banjarejo sedang melihat koleksi benda bersejarah di rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Rombongan pengunjung anak-anak dari wilayah sekitar Banjarejo sedang melihat koleksi benda bersejarah di rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Keberadaan ‘Museum’ benda bersejarah di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, ternyata juga jadi pilihan untuk menghabiskan waktu pada libur panjang akhir pekan ini. Dalam dua hari terakhir, Minggu hingga Senin ini ada ratusan pengunjung yang datang untuk melihat koleksi benda purbakala dan cagar budaya.

Kades Banjarejo Ahmad Taufik menyatakan, dalam dua hari kemarin, jumlah pengunjung yang datang sekitar 250 orang. Sebagian besar pengunjung datang pada hari Minggu (11/12/2016).

“Hari minggu pengunjung sekitar 150 orang. Sedangkan Senin kemarin, sekitar 100 an orang. Cuaca kemarin, seharian memang agak mendung dan kemungkinan banyak orang enggan jalan-jalan karena khawatir kehujanan,” katanya.

Pengunjung yang datang pada long weekend ini kebanyakan rombongan. Selain dari Grobogan, ada pengunjung yang datang dari luar kota. “Ada belasan pengunjung dari SMAN 1 Mayong, Jepara yang sempat ke sini juga. Rombongan ini terdiri dari guru dan perwakilan siswa,” jelasnya.

Menurut Taufik, sejak Banjarejo ditetapkan jadi Desa Wisata akhir Oktober lalu, dinilai punya dampak positif. Imbasnya adalah naiknya jumlah pengunjung dalam dua bulan terakhir. 

Tercatat, sudah ada 1.500 pengunjung yang datang untuk melihat ratusan koleksi benda bersejarah yang sementara tersimpan di rumahnya. Dari pengunjung tersebut, ada satu yang dinilai sangat spesial.

Yakni, adanya kunjungan warga negara Prancis yang bernama Francois Semah beserta istrinya Anne Marie Semah, Rabu (30/11/2016) lalu. Pria asal Prancis ini bukan wisatawan biasa, tetapi merupakan seorang profesor arkeologi ternama di dunia.

“Salah satu keberhasilan dalam mendatangkan pengunjung ke sini adalah berkat peran dari rekan-rekan media. Melalui pemberitaan yang sangat sering dimunculkan menjadikan potensi di Banjarejo jadi terkenal luas. Terus terang, saya mengucapkan terima kasih atas atensi rekan media selama ini,” katanya.

Editor : Kholistiono

Wah, Ada Tempat Selfie Baru di Lokasi Wisata Alam Sumur Minyak Tua Banjarejo

Warga Banjarejo sedang bergotong royong mempersiapkan pembuatan gubuk di lokasi wisata sumur minyak tua. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga Banjarejo sedang bergotong royong mempersiapkan pembuatan gubuk di lokasi wisata sumur minyak tua. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Meski hanya sederhana, satu persatu sarana pendukung mulai disiapkan di objek wisata yang ada di Desa Banjarejo. Fasilitas terbaru adalah pembuatan gubuk di objek wisata sumur minyak tua.

Pembuatan gubuk berukuran 3 x 3 meter itu dikerjakan selama dua hari, Sabtu dan Minggu kemarin. Bahan utamanya terbuat dari bambu dan atapnya berupa anyaman alang-alang yang banyak tumbuh di sekitar lokasi wisata itu.

Lokasi gubuk bambu tersebut berada di sebelah barat sumur minyak tua yang posisi tanahnya agak tinggi. Dari tempat ini orang bisa melihat jelas lokasi wisata dan menikmati pemandangan gemericik air yang keluar dari tiang besi di tengah sumur.

Pada pagi hari, dari lokasi gubug juga bisa menyaksikan keindahan matahari terbit. Dengan catatan, cuaca tidak mendung.“Pemilihan lokasi pembuatan gubuk ini sudah kita pertimbangkan dari beberapa aspek. Adanya gubuk bambu ini nantinya juga bisa dijadikan tempat selfie yang menarik bagi pengunjung,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Menurut Taufik, pembuatan gubuk itu dilakukan seiring makin banyaknya pengunjung yang datang ke Desa Banjarejo pascaditetapkan jadi Desa Wisata akhir Oktober lalu. Sejak akhir Oktober hingga saat ini, pengunjung yang datang ke Banjarejo tercatat sudah ada 1.500 orang.

 Di sisi lain, pembuatan gubuk di sumur bekas pengeboran minyak itu dilakukan karena lokasi di situ berada di areal terbuka dan tidak ada tumbuhan besar yang tumbuh di sekitarnya. Kondisi itu menyebabkan banyak pengunjung merasa kurang nyaman ketika datang siang hari lantaran tidak ada tempat berteduh.

“Dari sinilah muncul gagasan dari pengunjung, warga dan kelompok sadar wisata Banjarejo untuk membuat gubuk. Pembuatan gubuk itu kita lakukan secara swadaya dan saya mengucapkan terima kasih atas partisipasi banyak pihak. Rencananya, di lokasi sumur tua akan kita bikin dua gubukan lagi,” jelasnya.

Taufik menyatakan, lokasi wisata itu letaknya di sebelah utara Dusun Nganggil dan berada di tanah tegalan milik Mbah Lamidi. Jarak sumur dari perkampungan penduduk sekitar satu kilometer jauhnya dan tempatnya memang agak terpencil.

Bentuk sumur ini menyerupai lingkaran dengan diameter 7 meter dan kedalamannya diperkirakan lebih dari 10 meter. Dari jarak sekitar 5 meter dari sumur sudah tercium bau menyengat, seperti bau solar. Sumur minyak ini merupakan sisa peninggalan zaman Belanda.

“Kata sesepuh di sini, sumur minyak itu peninggalan zaman Belanda dulu. Mudah-mudahan, jika diekspos media barangkali ada penelitian di sini, sehingga sumur minyak ini bisa mendatangkan manfaat bagi masyarakat,” katanya.

Editor : Kholistiono

Pondasi Kuno dari Tatatan Batu Bata Kembali Muncul di Desa Banjarejo

Di lokasi penambangan emas di areal sawah Dusun Medang inilah terlihat pondasi kuno dari tatanan batu bata. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Di lokasi penambangan emas di areal sawah Dusun Medang inilah terlihat pondasi kuno dari tatanan batu bata. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Untuk kedua kalinya, ditemukan pondasi kuno dari tatatan batu bata merah di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. Kali ini, lokasi munculnya pondasi kuno berada di areal sawah milik Jasmo yang masuk wilayah Dusun Medang. 

Pondasi kuno yang terlihat panjangnya hanya sekitar 1 meter dan lebarnya sekitar 80 cm. Bangunan kuno ini muncul dari lokasi penggalian untuk mencari perhiasan emas di areal sawah.

“Kedalaman penggalian sekitar 2,5 meter. Sedangkan luas lahan penambangan sekitar 2 x 2 meter. Sebelumnya, pondasi itu tidak begitu kelihatan karena tertutup air,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik, Kamis (8/12/2016).

Pada awal Oktober 2015 lalu, untuk pertama kalinya ditemukan pondasi serupa. Lokasinya di areal sawah di Dusun Nganggil. Pondasi yang ditemukan pertama yang sudah sempat tergali, panjangnya lebih dari 300 meter. Meski begitu, ujung pondasinya belum ditemukan.

Lokasi penemuan kedua berjarak sekitar 150 meter sebelah barat dari pondasi yang ditemukan pertama. Saat penemuan pondasi pertama, lokasi ini dijadikan tempat parkir kendaraan roda empat atau truk pengunjung.

Menurut Taufik, munculnya pondasi terbaru dinilai ada hubungannya dengan penemuan pertama. Selain jaraknya tidak terlalu jauh, arah bangunan ternyata berbeda.

Penemuan pondasi pertama, arahnya membujur dari utara ke selatan. Sedangkan, pondasi yang ditemukan barusan arahnya membujur dari barat ke timur. “Melihat kondisi di lapangan, jika dilakukan penggalian ke arah timur di lokasi yang kedua, kemungkinan bertemu dengan pondasi ditemukan pertama. Jadi, analisa saya, pondasi yang ketemu tahun lalu, arahnya tidak lurus ke utara tetapi berbelok ke barat. Untuk menyimpulkan lebih tepat, nanti biar disampaikan oleh ahlinya. Saya sudah koordinasikan pada beberapa instansi terkait soal ini,” kata pria yang hobi naik gunung itu.

Taufik menambahkan, jika dihubungkan dengan keyakinan warga dengan sebuah lokasi yang diyakini sebagai Keraton Kerajaan Medang Kamulan, posisinya juga tepat. Lokasi yang diyakini sebagai keraton itu berada di sebelah barat pondasi pertama. Sementara dari posisi pondasi kedua, letak keraton ada di sebelah utaranya.

“Dari keterangan ahli dari Balai Arkeologi Yogyakarta lalu, pondasi ini merupakan batas sebuah bangunan atau wilayah tertentu. Kalau melihat munculnya pondasi kedua, perkiraan bangunan ada di barat pondasi lama. Di situ, kebetulan selama ini diyakini sebagai pusat Kerajaan Medang Kamulan. Untuk membuktikan kebenarannya, masih butuh proses panjang,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Kades, BPD dan Perangkat Desa Sengonwetan Grobogan Geruduk ‘Museum’ Banjarejo

Perangkat dan Kepala Desa Sengonwetan Priyo Hutomo (nomor lima dari kiri) bersama Kades Banjarejo Ahmad Taufik (samping kirinya) foto bareng di depan fosil kerbau raksasa. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Perangkat dan Kepala Desa Sengonwetan Priyo Hutomo (nomor lima dari kiri) bersama Kades Banjarejo Ahmad Taufik (samping kirinya) foto bareng di depan fosil kerbau raksasa. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Rumah Ahmad Taufik,Kepala Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, yang sementara jadi tempat penyimpanan benda purbakala mendadak kedatangan tamu banyak orang. Seluruh tamu ini merupakan aparat pemerintahan Desa Sengonwetan, Kecamatan Kradenan.

Kedatangan tamu dari desa tetangga itu dipimpin langsung Kepala Desa Sengonwetan Priyo Hutomo. Datangnya belasan aparat pemerintahan desa itu tak ayal sempat bikin kaget Ahmad Taufik.

“Sebelumnya, tidak ada pemberitahuan kalau mau ke sini. Jadi saya sempat kaget. Apalagi, kalau tidak salah ingat, baru sekali ini ada kunjungan kades lengkap dengan perangkat dan anggota BPD. Saya mengucapkan terima kasih atas kunjungan ini,” kata Taufik, Selasa (6/12/2016).

Sementara itu, Priyo Hutomo ketika dimintai komentarnya menyatakan, kunjungan yang dilakukan dalam rangka memberikan dukungan moral kepala Kades Ahmad Taufik dan masyarakat setempat untuk mengembangkan potensi yang ada di Desa Banjarejo.

“Secara pribadi, saya sudah sering main ke sini. Kebetulan Pak Taufik adalah teman baik dan desa saya juga tidak jauh dari Banjarejo. Kali ini, saya datang secara resmi dengan perangkat dan anggota BPD,” kata Priyo yang juga menjabat sebagai Ketua Paguyuban Demang Manunggal Grobogan itu.

Menurut Priyo, setelah ini, direncanakan akan melangsungkan kunjungan lagi ke Banjarejo. Nanti, gantian pengurus RT dan RW serta karang taruna yang akan diajak ke sana. 

“Meski hanya terpaut dua desa, namun belum semua warga Sengonwetan sudah pernah melihat koleksi benda purbakala dan cagar budaya di Banjarejo. Makanya, kami ingin mengajak berbagai komponen di Sengonwetan untuk melihat sekaligus menimba pengalaman dan memberikan dukungan moral,” tegasnya.

Priyo menambahkan, para kepala desa se-Grobogan nantinya juga akan diajak berkunjung ke Banjarejo maupun desa wisata lainnya. Dengan demikian, semuanya akan bisa saling berbagi dan bertukar pikiran dalam mengembangkan potensi yang ada di desanya masing-masing.

Editor : Kholistiono

Guru Besar Arkeologi dari Prancis Kunjungi ‘Museum’ Banjarejo Grobogan

Francois Semah beserta istrinya Anne Marie Semah saat berkunjung ke “Museum” Banjarejo, Rabu (30/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Francois Semah beserta istrinya Anne Marie Semah saat berkunjung ke “Museum” Banjarejo, Rabu (30/11/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Banyaknya penemuan benda bersejarah di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, ternyata tidak hanya memancing ketertarikan dari warga sekitar saja. Tetapi juga mulai dilirik wisatawan dari mancanegara.

Hal ini dibuktikan dengan adanya kunjungan warga Negara Prancis yang bernama Francois Semah beserta istrinya Anne Marie Semah, Rabu (30/11/2016). Pria asal Prancis ini bukan wisatawan biasa, tetapi merupakan seorang professor arkeologi ternama di dunia.

“Nama Profesor Francois Semah ini sudah saya kenal ketika berkunjung ke Museum Sangiran beberapa waktu lalu. Saat berkunjung ke sana, saya diberi tahu tentang nama profesor ini, yang juga ikut andil mengenalkan keberadaan Museum Sangiran di kancah internasional,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Dari penelusuran dari berbagai sumber, sosok guru besar dari Prancis ini ternyata sudah banyak jasanya terhadap perkembangan penelitian dan studi arkeologi di Indonesia. Bahkan, guru besar dan arkeolog Museum National d’Histoire Naturelle Prancis ini pernah mendapat penghargaan kehormatan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan, beberapa waktu lalu.

“Terus terang saya tidak menyangka bakal dapat kunjungan tamu istimewa hari ini. Ternyata profesor ini, selain bisa komunikasi dengan Bahasa Indonesia juga pandai berbahasa Jawa,” sambung Taufik.

Ia menyatakan, kunjungan yang dilakukan pakar arkeologi itu dilakukan mendadak. Sebelumnya, dia juga tidak pernah dapat kabar bakal kedatangan orang penting tersebut. Bahkan, Taufik mengaku sedang tidur saat pasangan suami-istri itu tiba di rumahnya yang sementara jadi tempat penyimpanan koleksi benda bersejarah tersebut, sekitar pukul 14.00 WIB.

“Saya tadi kaget dibangunkan kalau ada tamu orang asing yang datang melihat koleksi benda bersejarah. Ternyata, tamunya bukan wisatawan biasa,” ungkapnya.

Taufik menyatakan, tamu istimewa itu hanya berkunjung singkat, sekitar 30 menit. Oleh sebab itu, tidak begitu banyak yang sempat diperbicangkan. Hanya saja, professor dari Prancis itu menjanjikan bakal melakukan penelitian di Banjarejo tahun depan.

“Tadi, beliaunya agak buru-buru. Soalnya, harus menghadiri acara di Salatiga. Meski hanya singkat, namun saya merasa bangga sudah dikunjungi Profesor Francois Semah dan istri. Mudah-mudahan, beliau nanti jadi melakukan penelitian di sini dan ikut mengangkat nama Banjarejo di kancah internasional,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

WOW, Ribuan Koin Kuno Seberat Seperempat Kuintal Ditemukan di Banjarejo Grobogan

Ribuan koin kuno yang ditemukan sedang disatukan dengan cara diuntai benang oleh beberapa warga. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Ribuan koin kuno yang ditemukan sedang disatukan dengan cara diuntai benang oleh beberapa warga. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Koleksi benda bersejarah di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus bertambah lagi. Kali ini bukan berupa fosil hewan purba, tetapi benda cagar budaya peninggalan masa lalu. Wujudnya adalah koin mata uang kuno yang jumlahnya cukup banyak.

“Jumlah pastinya belum sempat dihitung saking banyaknya. Saya perkirakan, jumlah koin ini ada lima ribuan banyaknya,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik, Senin (21/11/2016).

Koin yang ditemukan ukurannya tidak begitu besar, diameternya 2,5 cm berbentuk bulat. Tepat di tengah koin ini terdapat lubang yang berbentuk kotak.

Koin ini dibuat dari bahan tembaga dilihat dari warnanya yang agak cokelat kekuning-kuningan. Pada salah satu sisi koin ini ada empat tulisan yang diperkirakan adalah huruf Cina.

Sementara sisi lainya polos tidak ada tanda khusus yang nampak di situ. Baik berupa gambar, tulisan maupun angka. “Diperkirakan, koin ini merupakan peninggalan Dinasti Tang yang berdiri pada abad 6-9. Sebelumnya, sudah ada penemuan koin seperti ini tetapi jumlahnya tidak sampai ribuan,” jelas Taufik.

Dijelaskan, koin itu ditemukan di sebuah tegalan di utara Dusun Kuwojo. Saat itu, areal tegalan sedang ditata dengan alat berat.  Nah, di tengah aktivitas penataan tegalan itu, salah seorang pekerja sempat melihat ada sebuah karung yang terlihat dari bekas tanah yang dikeruk alat berat. Ketika dicek, ternyata dari sobekan karung ada banyak benda bulat yang ternyata adalah koin.

“Pekerja ini kemudian menghubungi saya untuk mengabarkan penemuan ini. Selanjutnya, beberapa anggota komunitas pecinta fosil meluncur ke sana untuk mengevakuasi benda yang ditemukan. Prosesnya dilakukan hati-hati lantaran karung pembungkus koin sudah rapuh dan sobek-sobek karena lama tertimbun tanah,” cetus Taufik.

Setelah sampai di rumahnya, koin itu kemudian dibersihkan dari kotoran yang melekat. Setelah bersih dan kering, koin itu sempat ditimbang dan berat keseluruhan mencapai 25 Kg atau seperempat kuintal.

“Untuk membersihkan koin ini butuh waktu sekitar tiga hari karena banyak sekali jumlahnya. Saat ini, sebagian koin coba kita jadikan satu dengan cara diuntai benang. Tujuannya biar aman dan tidak tercecer,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Kadinas Pendidikan Grobogan Janji Kerahkan Pelajar ke Desa Banjarejo untuk Wisata Edukasi Sejarah

Sejumlah pelajar sedang mendengarkan penjelasan tentang benda purbakala dari Kades Banjarejo Ahmad Taufik.(kanan). Kepala Dinas Pendidikan Grobogan Karsono. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sejumlah pelajar sedang mendengarkan penjelasan tentang benda purbakala dari Kades Banjarejo Ahmad Taufik.(kanan). Kepala Dinas Pendidikan Grobogan Karsono. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Upaya menjadikan koleksi benda bersejarah di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus untuk jadi salah satu sarana edukasi bagi siswa sekolah mendapat respon positif dari dinas terkait. Hal itu ditegaskan langsung Kepala Dinas Pendidikan Grobogan Karsono saat dimintai komentarnya.

“Koleksi benda bersejarah yang ada di Desa Banjarejo layak dijadikan sarana edukasi. Kami mendukung langkah ini dan ke depan, para pelajar akan kita kerahkan ke sana. Para pengawas sudah saya perintahkan untuk menyampaikan pada pihak sekolah supaya siswanya diajak berkunjung ke Banjarejo,” katanya.

Menurut Karsono, koleksi yang ada di Banjarejo saat ini sudah beragam dan merupakan peninggalan dari beberapa era peradaban. Hal inilah yang menjadikan koleksi di sana bisa dijadikan sarana edukasi bagi para pelajar.“Di sana ada benda purbakala yang sudah ratusan jumlahnya. Benda era peradaban megalitikum, Hindu-Budha dan awal masuknya Islam juga ada. Jadi, koleksinya sudah cukup lengkap,” jelasnya.

Terkait dengan bakal ramainya pelajar yang datang ke sana, Karsono juga menghendaki supaya sarana dan prasarana pendukung juga dipersiapkan pihak pengelola. Seperti, ada pemandu yang bisa menerangkan gambaran singkat mengenai koleksi yang terdapat di situ. Kemudian, bila perlu ada juga brosur tentang data singkat koleksi di situ.

“Ketika datang ke sana, anak-anak nanti juga akan kita minta bikin semacam laporan singkat hasil kunjungan. Nah, kalau ada brosur tentu akan memudahkan untuk menyusun laporan,” sambung Karsono.

Selain di Banjarejo, Karsono mewacanakan agar para pelajar juga bisa mengenal potensi wisata lainnya yang ada di Grobogan. Seperti Api Abadi Mrapen, Waduk Kedung Ombo, Air Terjun Widuri hingga Bledug Kuwu. Hal itu perlu dilakukan karena sejauh ini masih banyak warga di Grobogan termasuk pelajar yang belum tahu semua potensi wisata di daerahnya.

“Saya ingin, agar jangan sampai orang tahu objek wisata di luar daerah tetapi tidak mengenal obyek wisata didaerahnya sendiri. Kedepan, barangkali perlu ada sebuah paket wisata lokal di samping wisata luar daerah,” imbuhnya.

Sebelumnya, Kades Banjarejo Ahmad Taufik memang berharap agar koleksi yang saat ini tersimpan di rumahnya bisa jadi sarana edukasi para pelajar. Selain koleksinya banyak ragamnya, keberadaan benda bersejarah seperti itu juga jarang ditemukan di daerah lainnya.

“Koleksi benda penemuan yang ada saat ini sudah memadai karena jumlahnya lebih dari 500. Ini bisa jadi sarana untuk pendidikan siswa tentang adanya sebuah kehidupan maupun peradaban di masa lampau. Salah satu pihak yang pas untuk melakukan upaya edukasi ini adalah sekolah-sekolah,” katanya.

Sejauh ini, sambung Taufik, memang sudah banyak siswa dari berbagai sekolah yang berkunjung ke ‘Museum Banjarejo’ untuk melihat berbagai koleksi benda bersejarah. Namun, sebagian besar masih sekolah di sekitar wilayah Banjarejo. Diharapkan, langkah ini juga bisa diikuti oleh sekolah lainnya yang ada di wilayah Grobogan. Baik dari level SD, SMP, SMA dan SMK. “Banyaknya penemuan benda bersejarah di sini merupakan karunia yang tidak ternilai harganya. Kalau tidak dimanfaatkan secara maksimal, rasanya eman-eman (sayang),” imbuhnya.

 Editor : Kholistiono

Sepekan Setelah Ditetapkan jadi Desa Wisata, Pengunjung yang Datang ke Banjarejo Makin Ramai, Begini Kondisinya

Para pelajar dari sekitar Banjarejo berkunjung untuk melihat koleksi benda bersejarah kemarin. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Para pelajar dari sekitar Banjarejo berkunjung untuk melihat koleksi benda bersejarah kemarin. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Ditetapkannya Banjarejo sebagai desa wisata oleh Bupati Grobogan Sri Sumarni, Kamis (27/10/2016) lalu ternyata membawa imbas positif. Sejak dijadikan desa wisata, pengunjung yang datang ke sana makin ramai.

“Penetapan Desa Wisata Banjarejo memang sedikit banyak ada dampaknya. Salah satunya, pengunjung selalu ramai sejak acara peresmian sampai sekarang,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Menurutnya, kebanyakan pengunjung yang datang dari kalangan pelajar dan komunitas. Namun, beberapa hari lalu ada rombongan dari kota sekitar bahkan ada yang berasal dari Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur.

“Saya sempat kaget ketika ada pengunjung yang bilang dari Kutai Kertanegara. Orangnya sempat ninggalin catatan nama dan nomor handphonenya. Katanya, dalam waktu dekat mau main ke sini lagi,” kata Taufik.

Selain melihat koleksi benda bersejarah, baik purbakala maupun cagar budaya, sebagian pengunjung ada yang minta diantarkan untuk melihat potensi wisata lainnya di Banjarejo. Seperti, sendang biru, sendang lumpur dan sumur minyak tua peninggalan Belanda. Para pengunjung ini diantara oleh beberapa warga Banjarejo yang memang sudah disiapkan jadi pemandu.

Selain ramai pengunjung, penetapan Desa Wisata Banjarejo juga membawa dampak meningkatnya kesadaran warga untuk menyerahkan benda bersejarah yang berhasil ditemukan. Salah satunya, dilakukan warga Banjarejo bernama Ali Sutopo yang secara sukarela menyerahkan penemuan fosil rahang bawah gajah purba.

“Selain Mbah Ali ada penemuan fosil kerang laut yang diserahkan ke sini. Tetapi, saya belum tahu siapa yang menyerahkan fosil kerang laut ini karena hanya diletakkan di meja yang ada di teras rumah,” sambungnya.

Editor : Kholistiono

Ini Penemuan Terbaru di Banjarejo Grobogan Jelang Launching Desa Wisata

Kaur Kesra Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo Budi Setyo Utomo menyerahkan fosil banteng purba pada Bupati Grobogan Sri Sumarni kemarin (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kaur Kesra Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo Budi Setyo Utomo menyerahkan fosil banteng purba pada Bupati Grobogan Sri Sumarni kemarin (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Dua hari sebelum acara grand launching Desa Wisata Banjarejo, Kecamatan Gabus, ternyata ada penemuan benda bersejarah kembali. Benda yang ditemukan bewujud fosil kepala banteng purba.

Fosil langka ini ukurannya lumayan besar. Panjang antarujung tanduk mencapai 80 cm. Kemudian tinggi tulang bagian kepala mencapai 25 cm dengan lebar 20 cm. Sedangkan panjang tiap tanduk sekitar 45 cm.

“Fosil ini saya temukan Selasa (25/10/2016) di areal kebun yang ada di Dusun Peting. Fosil banteng ini terpendam dalam tanah dengan kedalaman sekitar 2 meter,” ungkap Kaur Kesra Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo Budi Setyo Utomo selaku penemu fosil banteng purba tersebut.

Menurut Budi, sebenarnya masih ada beberapa lokasi yang teridentifikasi ada fosil di dalamnya. Hanya saja, fosil tersebut belum sempat digali karena masih sibuk mempersiapkan acara grand launching Desa Wisata Banjarejo kemarin.

“Rencananya, semua fosil itu akan kita perlihatkan saat peresmian desa wisata. Namun, waktu dan tenaganya tidak memungkinkan. Sementara baru fosil kepala banteng ini yang bisa kita angkat,” kata pria yang dijuluki profesor fosil oleh warga Banjarejo lantaran sudah seringkali menemukan fosil hewan purba itu.

Saat acara peresmian Desa Wisata Banjarejo kemarin, fosil kepala banteng purba itu sempat diserahkan pada Bupati Grobogan Sri Sumarni oleh Budi Setyo Utomo. Setelah diterima, Sri Sumarni gantian menyerahkan benda purbakala itu pada Kades Banjarejo Ahmad Taufik.“Tolong dirawat dengan baik, Pak Kades. Jangan lupa ditaruh ditempat yang aman biar tidak rusak,” pesan Sri pada Taufik.

Fosil kepala banteng purba yang ditemukan tersebut ternyata merupakan benda yang istimewa. Hal ini berdasarkan penjelasan Kasi Perlindungan Badan Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Budi Sancoyo yang ikut hadir dalam acara tersebut.

“Fosil cukup istimewa karena bentuknya masih kokoh dan utuh. Benda ini seusia kepala kerbau raksasa yang sudah ditemukan sebelumnya. Perkiraan usianya hampir 1 juta tahun,” katanya saat melihat fosil.

Editor : Kholistiono

Lihat Koleksi Benda Bersejarah di Rumah Kades Banjarejo, Begini Reaksi Bupati Sri Sumarni

Kades Banjarejo Ahmad Taufik menunjukkan koleksi benda bersejarah pada Bupati Grobogan Sri Sumarni dan pejabat lainnya, Kamis (27/10/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kades Banjarejo Ahmad Taufik menunjukkan koleksi benda bersejarah pada Bupati Grobogan Sri Sumarni dan pejabat lainnya, Kamis (27/10/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Bupati Grobogan Sri Sumarni sempat dibikin kaget saat melihat koleksi benda bersejarah yang tersimpan di rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik. Kunjungan di tempat penyimpanan benda cagar budaya dan purbakala itu dilakukan Sri Sumarni dan para pejabat lainnya, usai melangsungkan grand launching Desa Wisata Banjarejo.

Lho, jebule akeh banget koleksine. Tak kiro ora seakeh iki barange. (Wah, ternyata banyak sekali koleksinya. Saya kira barangnya tidak sebanyak ini),” kata Sri Sumarni yang memang baru sekali ini mengujungi rumah Taufik yang berjarak sekitar 1 km dari Balai Desa Banjarejo itu.

Menyambut kedatangan Sri Sumarni dan rombongan, Kades Ahmad Taufik langsung bertindak jadi pemandu. Kepada tamunya, Taufik menerangkan secara rinci tentang koleksi yang ada di rumahnya. Baik koleksi benda purbakala maupun cagar budaya yang ditemukan di Desa Banjarejo. Saat ini, koleksi benda peninggalan masa lalu itu lebih dari 500 unit.

Saat melihat koleksi di situ, Sri Sumarni dan tamu lainnya sempat dibikin terpana dengan benda yang dilihatnya. Yakni, dua gading gajah purba yang panjangnya hampir mencapai 3 meter.

Belum hilang rasa kagetnya, Sri Sumarni kembali dibikin terkejut saat diperlihatkan koleksi paling istimewa yang ada di situ. Yakni, fosil kepala kerbau raksasa yang dipajang pada dinding ruang tamu.

Fosil langka ini usianya sekitar 1 juta tahun dan ukurannya memang sangat besar. Panjang antarujung tanduk mencapai 170 cm. Kemudian tinggi tulang bagian kepala mencapai 60 cm dengan lebar 25 cm. Sedangkan panjang tiap tanduk sekitar 115 cm.“Waduh, fosil kepalanya saja gedenya segini. Barangkali semasa hidupnya dulu, kerbau ini besarnya seukuran truk,” kata Sri yang disambut tawa banyak orang.

Sambil melihat koleksi lainnya, mantan Ketua DPRD Grobogan itu juga berpesan kepada Ahmad Taufik agar merawat penemuan benda bersejarah dengan baik. Sri juga meminta agar Taufik selalu berkoordinasi dengan instansi terkait lainnya terkait pengembangan desa wisata. Seperti dengan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, Balai Arkeologi Jogjakarta, Tim Ahli Cagar Budaya Jateng, dan Disporabudpar.

“Setelah dijadikan Desa Wisata, banyak pekerjaan yang harus dilanjutkan. Targetnya, potensi di sini harus bisa mendatangkan banyak pengunjung,” pesannya.

Editor : Kholistiono

Desa Banjarejo Akhirnya Resmi Ditetapkan jadi Desa Wisata di Grobogan

Bupati Grobogan Sri Sumarni bersama perwakilan FKPD memukul lesung sebagai tanda diresmikannya Banjarejo sebagai Desa Wisata, Kamis (27/10/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Bupati Grobogan Sri Sumarni bersama perwakilan FKPD memukul lesung sebagai tanda diresmikannya Banjarejo sebagai Desa Wisata, Kamis (27/10/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Upaya berbagai pihak untuk menjadikan Banjarejo sebagai salah satu desa wisata di Grobogan akhirnya terwujud. Penetapan Desa Wisata Banjarejo ini dilakukan langsung oleh Bupati Grobogan Sri Sumarni, Kamis (27/10/2016). Acara grand launching Desa Wisata Banjarejo ini dilangsungkan di balai desa setempat.

Selain bupati, peresmian desa wisata juga dihadiri Wakapolres Grobogan Kompol Wahyudi, Ketua DPRD Agus Siswanto dan perwakilan FKPD lainnya. Acara peresmian juga dihadiri hampir semua kepala SKPD, Muspika Gabus, Muspika Ngaringan dan Kepala Desa se-Kecamatan Gabus. Terlihat pula pejabat dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran dalam kesempatan itu.

Acara peresmian Desa Wisata Banjarejo ditandai dengan pemukulan drum oleh Sri Sumarni. Kemudian dilanjutkan dengan pemukulan lesung oleh bupati dan jajaran FKPD yang hadir dalam acara tersebut.

Saat menyampaikan sambutan, Sri Sumarni menyatakan, selaku bupati, dia mendukung penuh dijadikannya Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus sebagai salah satu desa wisata. Sebab, potensi yang ada di sana memang layak dipromosikan untuk mendatangkan wisatawan.

“Potensi di Banjarejo, khususnya penemuan benda purbakala dan cagar budaya tidak terdapat di desa lainnya di Grobogan. Oleh sebab itu, potensi tersebut sangat layak dijadikan salah satu andalan pariwisata Grobogan pada masa mendatang. Oleh sebab itu, saya mendukung penuh dijadikannya Banjarejo sebagai desa wisata,” kata Sri Sumarni.

Dalam kesempatan itu, Sri berjanji akan membantu menyiapkan sarana pendukung. Terutama, perbaikan akses jalan menuju Desa Banjarejo supaya memudahkan bagi pengunjung yang akan datang ke sana.

“Beberapa ruas jalan menuju Banjarejo masih ada yang kurang bagus kondisinya. Nanti, perbaikan jalan itu akan kita prioritaskan untuk meningkatkan roda perekonomian sekaligus menunjung desa wisata,” katanya.

Editor : Kholistiono

Diyakini Ada Bekas Kerajaan Dewata Cengkar di Balik Kemunculan Sendang Biru di Banjarejo Grobogan

Sejumlah pekerja sedang bersiap membuat kerangka pondasi di lokasi sendang biru Banjarejo (kanan), Selasa (20/09/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sejumlah pekerja sedang bersiap membuat kerangka pondasi di lokasi sendang biru Banjarejo (kanan), Selasa (20/09/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Fenomena munculnya sendang yang airnya berwarna kebiru-biruan di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, ternyata tidak hanya mengundang daya tarik banyak orang. Tetapi, munculnya sendang itu juga memicu banyak komentar dari masyarakat.

Banyak warga menyakini jika di sekitar sendang tersebut ada bekas bangunan kerajaan masa lampau. Tepatnya, Kerajaan Medang Kamulan yang dulunya dipimpin raja raksasa Prabu Dewata Cengkar.

“Saya sangat yakin jika dieksplorasi lebih lanjut, tidak jauh dari lokasi sendang pasti ditemukan peninggalan bersejarah. Terutama, peninggalan bekas Kerajaan Medang Kamulan. Baik ketika dipimpin Dewata Cengkar maupun setelah era Aji Saka,” kata Busroni, juru kunci batu pasujudan Aji Saka yang berada di Dusun Medang, Desa Banjarejo.

Menurut Busroni, berdasarkan keyakinan warga selama ini, lokasi keraton utama Kerajaan Medang Kamulan memang berada di Desa Banjarejo, tepatnya di Dusun Medang. Hal ini juga diperkuat dengan banyaknya penemuan benda peninggalan masa lalu di situ dalam beberapa tahun terakhir.

Seperti, aneka perhiasan emas, arca, guci, piring dan bekas bangunan kuno. Penemuan paling besar adalah pondasi batu bata kuno disebelah timur Dusun Medang tahun lalu.

Mengenai keberadaan sendang, lanjut Busroni, dinilai merupakan sebuah kebutuhan vital bagi kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu, sangat beralasan jika ada sebuah kerajaan atau perkampungan besar yang berdiri di dekat sumber mata air.

“Dari penerawangan saya, di sekitar sendang memang ada sesuatu yang tersembunyi. Saya yakin, suatu saat nanti, misteri di dekat sendang di Dusun Peting itu akan terungkap,” katanya dengan nada tegas.

Beberapa warga juga meyakini jika di dekat sendang ada sebuah peradaban masa lalu. Bahkan, ada yang menyebutkan jika sendang itu jadi sumber air utama bagi kerajaan yang berdiri di situ.

“Segala kemungkinan terkait sendang ini bisa saja terjadi. Kalau saya mengira, dekat sendang sini ada tempat pemandian putri bangsawan,” kata Sumitro, warga setempat.

Sementara itu, Kades Banjarejo Ahmad Taufik menyatakan, sejauh ini, sudah ada penemuan benda kuno di wilayah Dusun Peting. Namun, kebanyakan adalah penemuan benda purbakala berupa fosil hewan purba.

Meski demikian, bukan hal yang mustahil jika nantinya ada penemuan bekas kerajaan yang ada di dekat sendang tersebut. Sebab, selama ini, kebanyakan benda purba yang ditemukan berada di wilayah perkampungan.

“Penemuan benda purba di sini berada di bagian utara Dusun Peting atau perkampungan. Sementara di areal sawah yang berada di sebelah selatan dusun memang belum banyak muncul penemuan benda purbakala atau cagar budaya. Fenomena paling istimewa di situ baru sendang biru,” katanya.

Taufik menyatakan, saat melakukan pelebaran mata air menggunakan alat berat, juga tidak ditemukan benda kuno di sekitar situ. Padahal, lokasi pelebaran juga cukup luas. Dari ukuran semula 2 x 2 meter dengan kedalaman 2,5 meter sekarang jadi 4 x 8 meter dengan kedalaman hampir 5 meter.“Saat ini, air sendang sedang kita kuras. Soalnya, sekeliling sendang akan kita pasang tembok,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

Terkait Munculnya Sendang Berair Biru, Kades Banjarejo : Mimpi di Pengunungan Dieng Akhirnya Terwujud

Kades Banjarejo Ahmad Taufik menunjukkan sendang yang airnya berwarna kebiru-biruan (kiri) Ahmad Taufik saat beriwsata di Telaga Warna Dieng ketika menghadiri acara Dieng Festival Culture 2016. (kanan). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kades Banjarejo Ahmad Taufik menunjukkan sendang yang airnya berwarna kebiru-biruan (kiri) Ahmad Taufik saat beriwsata di Telaga Warna Dieng ketika menghadiri acara Dieng Festival Culture 2016. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sekitar sebulan sebelum munculnya sendang yang airnya berwarna kebiru-biruan, Kades Banjarejo Ahmad Taufik ternyata sudah mendapat firasat. Pada suatu malam, ketika menginap di kawasan Dieng, Wonosobo, dia sempat bermimpi. Yakni, berenang di sebuah sendang indah yang berada di desanya.

Namun, mimpi itu ia abaikan dan tidak diceritakan pada rekan-rekannya satu rombongan yang berwisata di kawasan Dieng. Sebab, dia merasa terbawa suasana ketika siang harinya sempat menikmati pesona Telaga Warna di kawasan Dieng, sehingga larut terbawa mimpi.

“Jadi, pada awal Agustus kemarin, saya memang sempat menghadiri acara Dieng Festival Culture 2016. Saat itu, saya dan rombongan memang sempat mengagumi keindahan Telaga Warna. Waktu itu, saya juga sempat membayangkan seandainya di Desa Banjarejo ada telaga indah seperti itu. Ketika di desa ini akhirnya muncul sendang saya jadi teringat mimpi itu,” kata Taufik.

Taufik menyatakan, munculnya sendang dengan air berwana biru di desanya dinilai sebuah fenomena yang menakjubkan dan tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Sebab, wilayah Desa Banjarejo termasuk daerah tandus dan sulit mendapatkan air saat kemarau datang.

“Saya pikir, di Banjarejo hanya kaya dengan benda cagar budaya dan purbakala. Ternyata juga potensi alam yang terpendam di dalamnya. Saya tidak tahu, ke depan akan ada apa lagi yang akan dimunculkan dari bumi Banjarejo ini,” sambungnya.

Seperti diketahui, sendang tersebut muncul dari proses pelebaran mata air yang sebelumnya sudah di areal sawah di sebelah selatan Dusun Peting. Mata air sebelumnya ukurannya hanya 2 x 2 meter dengan kedalaman 2,5 meter. Pelebaran dilakukan agar bisa menampung lebih banyak air khususnya untuk menghadapi musim kemarau.

Proyek pelebaran mata air yang berada di sawah milik Karno (30), dimulai Jumat (16/9/2016). Untuk mempercepat pekerjaan, pelebaran mata air dilakukan menggunakan dua alat berat jenis backhoe.

Selama sehari penuh, komplek mata air berhasil diperlebar dengan ukuran 4 x 8 meter membujur dari arah barat ke timur. Selain diperluas, kedalamannya juga ditambah jadi 5 meter.

Keesokan harinya, Sabtu (17/9/2016), baru terjadi kehebohan. Hal ini terjadi setelah kolam yang diperlebar itu terisi air yang warnanya kebiru-biruan.

“Mata air yang di Dusun Peting tersebut sudah ada sejak zaman nenek moyang. Selama ini, mata air disitu tidak pernah berhenti mengeluarkan air kendati pada puncak musim kemarau,” imbuh Taufik.

Baca juga : Warga Banjarejo Grobogan Dihebohkan dengan Munculnya Sendang yang Airnya Berwarna Biru

Editor : Kholistiono

Warga Banjarejo Grobogan Dihebohkan dengan Munculnya Sendang yang Airnya Berwarna Biru

Kades Banjarejo Ahmad Taufik sedang menceburkan diri di sendang yang airnya berwarna kebiru-biruan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kades Banjarejo Ahmad Taufik sedang menceburkan diri di sendang yang airnya berwarna kebiru-biruan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriNewsCom, Grobogan – Fenomena menakjubkan kembali muncul di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan. Kali ini, bukan soal penemuan benda purbakala atau cagar budaya seperti yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Tetapi, munculnya sebuah sendang yang cukup menawan di Dusun Peting. Air sendang ini warnanya kebiru-biruan seperti telaga warna di Pegunungan Dieng.

Sendang tersebut muncul dari proses pelebaran mata air yang sebelumnya sudah di areal sawah di sebelah selatan Dusun Peting. Mata air sebelumnya ukurannya hanya 2 x 2 meter dengan kedalaman 2,5 meter.

Pelebaran dilakukan agar bisa menampung lebih banyak air, khususnya untuk menghadapi musim kemarau. Sebab, wilayah Desa Banjarejo termasuk tandus dan sulit mendapatkan air saat kemarau datang.

Proyek pelebaran mata air yang berada di sawah milik Karno (30), dimulai Jumat (16/09/2016). Untuk mempercepat pekerjaan, pelebaran mata air dilakukan menggunakan dua alat berat jenis backhoe.

Selama sehari penuh, komplek mata air berhasil diperlebar dengan ukuran 4 x 8 meter membujur dari arah barat ke timur. Selain diperluas, kedalamannya juga ditambah jadi 5 meter.

Keesokan harinya, Sabtu (17/09/2016), baru terjadi kehebohan. Hal ini terjadi setelah kolam yang diperlebar itu terisi air yang warnanya kebiru-biruan. “Kalau saya amati, air di sendang ini warnanya mirip di telaga warna di Pegunungan Dieng. Ini merupakan fenomena alam yang luar biasa buat Desa Banjarejo. Soalnya, sumber air di sini sangat susah didapatkan,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Menurut Taufik, mata air yang di Dusun Peting tersebut sudah ada sejak zaman nenek moyang. Selama ini, mata air di situ tidak pernah berhenti mengeluarkan air kendati pada puncak musim kemarau.

Oleh sebab itulah, pihaknya sengaja membuat rencana pelebaran mata air tersebut. Tujuannya, agar bisa menampung banyak air sehingga nantinya bisa dipakai untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan bercocok tanam.

Editor : Kholistiono

Tidak Hanya Orang Tua, Anak-Anak di Desa Banjarejo Juga Mulai Pandai Temukan Fosil

Anak-anak warga Desa Banjarejo menyerahkan hasil temuan fosilnya di rumah Kades Banjarejo yang berupa fosil hewan purba. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Anak-anak warga Desa Banjarejo menyerahkan hasil temuan fosilnya di rumah Kades Banjarejo yang berupa fosil hewan purba. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Benda purbakala berupa fosil hewan purba di Desa Banjarejo ternyata tidak hanya ditemukan orang tua atau mereka yang memang ahli di bidangnya. Tetapi, anak-anak di sana juga mulai bisa menemukan benda bersejarah yang tidak ternilai harganya itu.

”Dalam sepekan terakhir ada beberapa bocah yang datang sambil menyerahkan benda temuan. Setelah dicek, ternyata benda yang dibawa adalah potongan tubuh hewan purba. Fosil potongan tubuh beberapa hewan purba itu ditemukan bocah-bocah itu ketika bermain di pinggiran sawah,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Menurut Taufik, selama ini, anak-anak di desanya memang cukup akrab dengan benda purbalaka yang tersimpan di rumahnya. Kebetulan, persis di depan rumahnya ada SDN 2 Banjarejo. Dimana, ketika waktu istirahat atau pulang sekolah, anak-anak sering mampir melihat koleksi benda bersejarah di rumahnya.

”Selama ini, saya juga sering melibatkan anak-anak untuk membersihkan fosil yang baru ditemukan. Langkah ini sebagai salah satu upaya edukasi pada mereka agar peduli dengan benda bersejarah di desanya. Barangkali dari sini mereka akhirnya bisa membedakan benda yang termasuk fosil atau sekedar batuan biasa,” imbuh Taufik.

Taufik pun mengaku sangat bangga dengan langkah anak-anak yang mau menyerahkan benda purbakala yang ditemukan. Sebagai bentuk penghargaan, anak-anak yang menemukan benda purbakala itu dia berikan hadiah khusus.

”Hadiahnya tidak istimewa kok. Cuma saya belikan bakso kelilingan saja,” cetusnya sembari tertawa.

Selama ini, dia pun mengimbau kepada semua warganya agar bersedia menyerahkan benda bersejarah yang ditemukan untuk dikumpulkan jadi satu di ”Museum Purbakala Banjarejo”.

”Selain anak-anak, banyak orang tua yang menyerahkan benda temuan ke sini. Baik, benda purbakala berupa fosil maupun benda cagar budaya. Kesadaran warga untuk menyerahkan benda temuan sekarang ini makin meningkat dan ini sangat membanggakan,” pungkas Taufik.

Editor : Titis Ayu Winarni

“Fosil juga Ditemukan di Dalam Rumah Warga Banjarejo Grobogan”

Ahli purbakala melakukan penyelidikan di lokasi penemuan barang fosil Banjarejo, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Ahli purbakala melakukan penyelidikan di lokasi penemuan barang fosil Banjarejo, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Selain menangani benda purbakala yang sudah ditemukan, ahli purbakala dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran juga melakukan penyisiran lapangan.

Rencananya, mereka akan menyisir beberapa kawasan di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus yang selama ini sudah pernah ditemukan fosil hewan purba. Seperti di Dusun Nganggil, Ngrunut, Barak, Kuwojo dan Peting.

“Observasi lapangan sudah mulai dilakukan sejak kemarin. Untuk tahap pertama, sasarannya adalah daerah yang sudah ada penemuan fosilnya dulu. Ada sekitar enam ahli yang melakukan aktivitas lapangan ini, sementara yang lain menangani benda purbakala yang sudah ditemukan,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Menurutnya, penyisiran yang dilakukan tidak hanya di areal persawahan. Tetapi juga di lahan perkebunan serta pekarangan penduduk. Hal itu dilakukan karena selama ini, benda purbakala yang ditemukan berada pada lokasi yang berlainan.

“Tempat penemuan benda purbakala selama ini memang unik. Ada yang ditemukan di pekarangan, sawah, kebun jati, pinggiran sungai, dan sempat ada yang di dalam rumah penduduk,” imbuh Taufik.

Ia menambahkan, salah satu orang yang paling berjasa dalam menemukan fosil selama ini adalah perangkatnya. Yakni, Kaur Kesra Dusun Kuwojo Budi Setyo Utomo. Hampir semua fosil yang berhasil diangkat, penemunya adalah perangkat desa tersebut.

“Kehebatan Pak Budi dalam masalah fosil sudah tidak diragukan lagi. Bahkan, beberapa warga memberikan julukan Profesor Fosil padanya. Dalam penelitian ini, Pak Budi juga kita minta untuk ikut membantu tim dari BPSMP karena dia tahu banyak soal ini,” sambungnya.

Sementara itu, saat dimintai komentar masalah ini, Budi bersikap merendah. Pria berusia 35 tahun itu mengaku tidak punya keahlian khusus dalam masalah penemuan fosil.

“Apa yang diceritakan orang itu saya kira terlalu berlebihan. Saya hanya kebetulan saja bisa menemukan fosil-fosil ini. Dalam menemukan fosil ini saya hanya belajar dari alam dan insting,” kata lulusan MTs itu.

Dari pengalaman yang dimiliki, Budi menyatakan jika potensi fosil yang ada di desanya masih cukup banyak. Hampir semua dusun menyimpan kekayaan fosil. Hanya saja, kedalaman fosil yang terpendam dalam tanah itu berbeda-beda.

Meski demikian, untuk bisa mengeluarkan fosil itu bukan pekerjaan mudah. Sebab, butuh dana untuk penggalian serta peralatan yang lebih memadai. Harapannya, pihak terkait nantinya bisa mengambil alih upaya penggalian dan dia siap membantu untuk memperlihatkan kekayaan purbakala yang tersimpan di bumi Banjarejo.

Editor : Akrom Hazami

Lakukan Penelitian di Banjarejo, Ahli Purbakala dari BPSMP Sangiran Dibagi Dalam 3 Tim Kecil

Tim Ahli Purbakala BPSMP Sangiran saat berada di rumah Kades Banjarejo (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tim Ahli Purbakala BPSMP Sangiran saat berada di rumah Kades Banjarejo (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebanyak 20 orang ahli purbakala dari BPSMP Sangiran yang melakukan penelitian di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus akan dibagi menjadi tiga tim kecil. Masing-masing tim akan melakukan tugas berbeda.

“Nanti, rekan-rekan yang dilapangan akan dibagi jadi tiga tim. Tiap tim, bekerja sesuai spesifikasi yang dimiliki,” ungkap Ketua BPSMP Sangiran Sukronedi.

Dijelaskan, tim pertama akan melakukan penelitian, pengkajian dan mengungkap nilai-nilai penting dari penemuan benda purbakala yang ada di Banjarejo. Misalnya, soal struktur tanah, dan titik penemuan benda purbakala.

Kemudian, tim kedua akan melakukan upaya konservasi, registrasi, dan identifikasi benda purbakala yang sudah ditemukan selama ini. Mereka nanti akan melakukan perawatan terhadap benda purbakala agar awet dan tidak rusak. Beberapa potongan fosil juga akan dikumpulkan sesuai jenis hewannya.

Sedangkan, tim ketiga akan fokus pada pendisplaian dan penataan benda-benda purbakala biar terlihat rapi. Tim ini juga akan membuatkan tulisan singkat berisi cerita tentang benda purbakala tersebut.

“Jadi, personel yang datang ke Banjarejo cukup komplit. Ada ahli arkelogi, kimia, biologi, hingga desain komunikasi visual. Mereka akan melangsungkan penelitian selama dua minggu, terhitung mulai hari ini,” jelas Sukron.

Editor : Kholistiono

Puluhan Ahli Purbakala BPSMP Sangiran Mulai Lakukan Penelitian di Desa Banjarejo Grobogan

Tim Ahli Purbakala BPSMP Sangiran saat berada di rumah Kades Banjarejo (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tim Ahli Purbakala BPSMP Sangiran saat berada di rumah Kades Banjarejo (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Janji Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran untuk melangsungkan penelitian di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, pada tahun 2016 ini ternyata bukan omong kosong. Hal ini dibuktikan dengan sudah datangnya puluhan ahli purbakala dari BPSM ke desa yang kaya penemuan benda purbakala itu, Selasa (15/3/2016).

“Tim dari BPSMP Sangiran sudah tiba sekitar pukul 10.00 WIB. Jumlah rombongan kali ini cukup banyak,yakni 20 orang,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Menurutnya, begitu sampai di Banjarejo, rombongan dari Sangiran itu langsung menuju ke rumahnya. Soalnya, semua koleksi benda purbakala yang ditemukan selama beberapa tahun terakhir kebetulan disimpan dirumahnya.

Taufik mengaku sangat lega sekaligus gembira dengan datangnya para pakar purbakala dari BPSMP Sangiran yang akan melangsungkan penelitian hingga dua pekan lamanya. Dengan kegiatan itu, setidaknya akan bisa mengungkap lebih banyak lagi misteri yang ada didesanya.

“Masyarakat Banjarejo sudah menantikan kedatangan ahli purbakala yang akan melangsungkan penelitian disini. Mudah-mudahan, pelaksanaan penelitian nanti berjalan lancar dan bisa mengungkap tabir yang ada di bumi Banjarejo ini,” jelasnya.

Dikatakan, beberapa waktu sebelumnya, sejumlah ahli juga sudah datang ke Banjarejo untuk melakukan observasi lapangan. Antara lain, dari Balai Arkeologi Yogyakarta dan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) berserta Disbudpar Jawa Tengah.

Editor : Kholistiono

Dalam Sepekan, Desa Banjarejo Grobogan Jadi Jujugan Tamu-tamu Penting

Pegawai dari Museum Ronggowarsito berkunjung ke Desa Banjarejo untuk mengambil dokumentasi benda kuno (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Pegawai dari Museum Ronggowarsito berkunjung ke Desa Banjarejo untuk mengambil dokumentasi benda kuno (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Kepala Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus Ahmad Taufik terlihat cukup sibuk dalam sepekan terakhir. Hal ini terjadi lantaran dalam kurun waktu satu pekan ini ada banyak orang penting yang berkunjung ke desanya. Tujuannya untuk melihat koleksi benda-benda kuno yang ditemukan di Desa Banjarejo.

“Aktivitas saya seminggu terakhir memang padat sekali. Soalnya, banyak tamu penting yang datang kesini. Kebetulan, koleksi benda kuno ini untuk sementara ada di rumah saya,” kata Taufik.

Tamu terbaru yang datang berkunjung hari ini, Senin (29/2/2016) berasal dari Museum Ronggowarsito Semarang. Selain melihat koleksi, kedatangan dua pegawai museum itubertujuan untuk mengambil dokumentasi benda-benda kuno yang ada disitu.

“Koleksi yang ada disini tadi sudah diambil gambar dan dicatat datanya. Katanya, koleksi disini akan diikutkan untuk kegiatan publikasi pra sejarah dan sejarah kabupaten yang ada di Jawa Tengah. Terus terang, saya senang kalau koleksi di Banjarejo bisa dipublikasikan lebih luas,” imbuh Taufik.

Sehari sebelumnya, Minggu (28/2/2016) ada peneliti dari Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta yang berkunjung untuk mendampingi mahasiswa jurusan Arkeologi Universitas Gajah Mada. Beberapa hari sebelumnya, tim dari Balar juga berkunjung untuk melakukan observasi awal penelitian.

Pada hari Jumat (26/2/2016) beberapa orang Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) dan Disbudpar Jawa Tengah juga sudah berkunjung ke desa yang diyakini jadi tempat berdirinya Kerajaan Medang Kamulan itu. Tujuan tim ahli yang dipimpin guru besar Undip Prof Totok Roesmanto tersebut bertujuan untuk melakukan serangkaian observasi lapangan.

Editor : Kholistiono

Baca juga : Lagi, Fosil Ditemukan di Banjarejo Grobogan

Mengungkap Sejarah, Tim Ahli Cagar Budaya Jateng Observasi ke Banjarejo Grobogan

Plt Kadisporabudpar Grobogan Wiku Handoyo (kiri) saat menerima rombongan ahli purbakala di ruang kerjanya.(MuriaNewsCom/Dani Agus)

Plt Kadisporabudpar Grobogan Wiku Handoyo (kiri) saat menerima rombongan ahli purbakala di ruang kerjanya.(MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Tim ahli benda bersejarah kembali datang ke Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. Setelah tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta, Jumat (26/2/2016) gantian Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) dan Disbudpar Jawa Tengah berkunjung untuk melakukan serangkaian ovservasi lapangan.

Sebelum meluncur ke Banjarejo, tim yang terdiri dari enam orang itu sempat transit di Kantor Disporabudpar Grobogan. Mereka disambut Plt Kadisporabudpar Grobogan Wiku Handoyo di ruang kerjanya. Setelah berbincang sekitar 30 menit, rombongan dari Semarang diantarkan menuju ke Desa Banjarejo sekitar pukul 11.00 WIB.

“Kami baru akan melihat lokasi untuk melakukan observasi dulu. Jadi, belum bisa berkomentar banyak. Nanti, setelah lihat koleksi disana baru bisa kasih gambaran lebih banyak,” ungkap Prof Totok Roesmanto, guru besar Undip Semarang yang jadi ketua tim observasi.

Sementara itu, Wiku mengaku cukup gembira dengan datangnya tim ahli tersebut ke Banjarejo. Dengan kedatangan mereka, diharapkan akan makin mempercepat terkuaknya sejarah masa lalu yang pernah ada di Banjarejo.

“Kami berharap, dengan banyaknya penemuan benda bersejarah di Banjarejo akan mendapat perhatian secara nasional. Hal ini tidak berlebihan mengingat potensi benda bersejarah yang cukup banyak. Baik berupa benda purbakala maupun cagar budaya,” kata Wiku sebelum ikut mendampingi rombongan menuju lokasi.

Editor : Akrom Hazami

Mantap, Koleksi Fosil yang Ada di Banjarejo Bikin Takjub Ahli Fosil dari Balai Arkeologi

Ahli fosil dari Balai Arkeologi Yogjakarta Sofwan Nurwidi (lengan panjang) ditemani Plt Kadisporabudpar Grobogan Wiku Handoyo (baju hijau) sedang mengamati fosil yang ada di Desa Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Ahli fosil dari Balai Arkeologi Yogjakarta Sofwan Nurwidi (lengan panjang) ditemani Plt Kadisporabudpar Grobogan Wiku Handoyo (baju hijau) sedang mengamati fosil yang ada di Desa Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski baru pertama berkujung namun peneliti yang juga ahli paleontologi dari Balai Arkeologi Yogyakarta Sofwan Nurwidi, mengaku takjub dengan koleksi fosil purbakala yang ada di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. Hal itu diungkapkan ketika Sofwan melakukan observasi guna melihat koleksi fosil yang sementara ini tersimpan di rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik, Sabtu (20/2/2016).

”Koleksi fosil yang ada di sini selain banyak jumlahnya, ternyata sangat beragam jenisnya dan usianya juga sangat tua. Dari observasi ini bisa saya katakan kalau di Banjarejo ini sangat potensial untuk dijadikan tempat penelitian,” kata Sofwan.

Saat berkunjung ke Banjarejo tersebut, Sofwan tidak sendirian. Plt Disporabudpar Grobogan Wiku Handoyo beserta Kabid Kebudayaan Marwoto dan beberapa stafnya ikut pula menyertai ahli fosil tersebut ke Banjarejo.

Sofwan menjelaskan, dari pengamatannya ternyata ada banyak spesies hewan yang hidup di situ pada masa lampau. Antara lain, gajah, badak, kuda nil, penyu, banteng, kerbau, buaya, sapi, hiu, dan kerang.

Satu fosil lagi yang dinilai sangat fantastis adalah tulang kerbau raksasa. Dimana, selama ini sangat jarang ada penemuan tulang kepala kerbau dalam kondisi lengkap. Terutama, kedua tanduknya bisa ketemu semua. ”Fosil kepala kerbau ini luar biasa. Sangat jarang ada penemuan fosil kepala kerbau seperti yang ada di sini,” cetusnya.

Plt Kadisporabudpar Grobogan Wiku Handoyo menambahkan, kedatangan ahli fosil itu menindaklanjuti surat yang dilayangkan beberapa waktu sebelumnya. Dimana, pihaknya meminta agar penemuan aneka benda purbakala di Banjarejo agar diteliti pihak Balai Arkeologi. Selain itu, permohonan serupa juga disampaikan pada Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran dan Disbudpar Jawa Tengah.

”Dalam beberapa bulan terakhir, banyak temuan benda purbakala maupun cagar budaya di Banjarejo. Oleh sebab itu, kami berharap agar penemuan ini bisa diteliti lebih lanjut oleh mereka yang ahli di bidangnya. Kami juga berpesan agar temuan ini dirawat dan dijaga sebaik mungkin,” kata Wiku didampingi Kabid Kebudayaan Marwoto.

Editor : Titis Ayu Winarni

Lagi Gali Pondasi Pesantren, Warga Temukan Guci Sebesar Tabung Gas Elpiji

Danramil Sulursari Kapten Surana menunjukkan guci yang ditemukan warga di Desa Banjarejo (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Danramil Sulursari Kapten Surana menunjukkan guci yang ditemukan warga di Desa Banjarejo (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom,Grobogan – Koleksi benda bersejarah di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan kembali bertambah. Tambahan koleksi kali ini bukan berasal dari benda purbakala berupa fosil hewan purba. Tetapi, berupa benda cagar budaya berwujud sebuah guci.

Diperkirakan, guci porselin berwarna keemasan itu merupakan barang peninggalan dari masa kejayaan Dinasti Tang dari China. Guci itu kemungkinan dibuat sekitar abad IX hingga X atau sekitar seribu tahun lalu.

“Saya sudah koordinasi dengan instansi yang terkait masalah ini. Melihat bentuknya, guci ini kemungkinan peninggalan abad IX sampai X pada masa Dinasti Tang. Namun, untuk pastinya, nanti akan diteliti langsung oleh pakar benda cagar budaya,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Dijelaskan, guci itu ditemukan di pekarangan Sarpin, warga yang tinggal di Dusun Kuwojo, beberapa hari lalu. Penemuan guci antik itu berlangsung ketika sejumlah orang sedang menggali tanah untuk membuat pondasi pondok pesantren.

Saat melakukan penggalian, alat yang dipakai salah satu pekerja sempat terkena benda keras. Semula, benda keras itu dikira batu yang terpendam dalam tanah. Namun, setelah digali dengan tangan ternyata berupa sebuah guci.

“Untungnya, guci ini tidak pecah ketika ada penggalian tanah. Bisa jadi, bahan yang dipakai untuk bikin guci ini juga istimewa sehingga tahan benturan,” jelas Taufik.

Ukuran guci itu tidak begitu besar. Kira-kira hampir seukuran tabung gas elpiji 3 kg. Tingginya sekitar 35 cm, lebar bagian bawah 15 cm dan bagian atas 20 cm. Berat guci diperkirakan sekitar 3 kg.

Penemuan guci tersebut membuat penasaran banyak pihak. Terbukti, sejak beberapa hari terakhir banyak orang datang ke situ sekadar untuk melihat guci tersebut. Termasuk pula, Danramil Sulursari Kapten Surana.

“Setelah ada penemuan benda purba dan cagar budaya di Banjarejo, saya dan anggota memang rutin monitor lapangan. Untuk guci yang ditemukan kali ini memang cukup bagus. Saya berharap, benda bersejarah yang sudah ditemukan ini dirawat dan dijaga dengan baik karena jadi saksi sejarah dan tidak ternilai harganya,” katanya.

Editor : Kholistiono

Desa Banjarejo Sekarang Punya Perpustakaan Prasejarah Mini

Sejumlah siswa sedang asyik membaca buku pengetahuan prasejarah (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sejumlah siswa sedang asyik membaca buku pengetahuan prasejarah (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Selain bisa menyaksikan beragam koleksi benda cagar budaya dan purbakala, pengunjung di “Museum” Banjarejo, Kecamatan Gabus juga bisa menambah wawasan mengenai masalah prasejarah atau kehidupan dan peradaban masa lampau. Hal ini seiring adanya koleksi buku-buku prasejarah di lokasi penyimpanan ratusan barang temuan yang berada di rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

“Ya, baru-baru ini kita dapat sumbangan buku-buku pengetahuan prasejarah dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran. Jumlah bukunya ada 9 eksemplar ditambah ratusan brosur,” jelas Taufik.

Meski masih sedikit, namun keberadaan buku itu sudah dirasakan manfaatnya. Dimana, pengunjung yang datang bisa makin paham dengan masalah prasejarah setelah membaca buku tersebut.

Misalnya, mereka jadi tahu bentuk-bentuk hewan prasejarah yang pernah hidup di bumi jutaan tahun lalu. Kemudian, pengetahuan mengenai manusia purba juga bisa didapat dalam buku tersebut. Sebelumnya, informasi masalah itu hanya diketahui secara sepintas dari cerita orang maupun dalam pelajaran sekolah.

“Kalau mau membaca buku ini pasti pengetahuan masalah prasejarah bisa makin komplit. Soalnya, saya sudah membuktikan sendiri. Tetapi, untuk sekarang, buku prasejarah ini hanya bisa dibaca disini tidak boleh dipinjamkan dulu,” katanya.

Untuk menambah wacana, dia juga menambah koleksi bacaan semampunya. Yakni, dengan memperbanyak berita soal penemuan benda bersejarah di Banjarejo yang sudah ditayangkan di beberapa media. Baik media cetak maupun online.

Rencananya, dia juga akan mencari koleksi buku-buku bekas yang berkaitan dengan masalah purbakala. Hal itu perlu dilakukan agar jika ada banyak pengunjung yang datang tidak saling berebutan untuk membaca atau sekedar melihat-lihat buku bacaan.

“Kalau ada yang punya buku-buku seperti ini dan sudah tidak terpakai bisa ditaruh disini. Biar mendatangkan manfaat bagi orang banyak daripada tersimpan dalam lemari,” imbuh Taufik. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)