Ribuan Warga yang Tanda Tangan Tolak Pabrik Semen di Rembang Disebut Banyak Berasal dari Blora

Warga pro pembangunan pabrik semen saat melakukan aksi unjuk rasa di depan Kantor Bupati Rembang, Kamis (22/12/2016). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Warga pro pembangunan pabrik semen saat melakukan aksi unjuk rasa di depan Kantor Bupati Rembang, Kamis (22/12/2016). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Ribuan warga pro pembangunan pabrik semen di Rembang melakukan aksi damai di halaman Kantor Bupati Rembang pada Kamis (22/12/2016). Setelah melakukan orasi beberapa lama, akhirnya perwakilan peserta unjuk rasa diterima Bupati dan Wakil Bupati Rembang, Sekda serta Kapolres Rembang.

Di hadapan bupati, perwakilan peserta aksi menyampaikan, jika sebenarnya 95 persen warga di sekitar pabrik semen mendukung berdirinya pabrik. Apalagi sejak adanya pembangunan pabrik, rata-rata perekonomian warga di ring I pabrik semen meningkat.

“Dengan berdirinya pabrik semen, juga membawa kesejahteraan bagi warga. Dana CSR cukup membantu warga, seperti halnya dalam bidang pendidikan kejar paket C, kemudian program bedah rumah, jambanisasi, rehab masjid dan lain sebagainya,” ujar Dwi Joko Supriyanto koordinator aksi, yang merupakan warga Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem.

Dalam kesempatan itu, dirinya juga menyinggung soal warga yang ikut tanda tangan menolak pendirian pabrik semen. Menurutnya, sebanyak dari 2.501 daftar warga yang menolak pabrik semen, katanya, banyak yang berasal dari Blora.

“Bentuk tulisan yang satu dengan yang lain hampir mirip, bahkan ada yang sama. Di daftar nama penolak semen tersebut, juga ada nama Power Rangers, ada yang pekerjaannya sebagai presiden da nada pula yang alamatnya di luar negeri. Ini kan aneh,” imbuhnya.

Kemudian, terkait adanya 9 Srikandi atau 9 Kartini Rembang yang pernah bertemu dan diterima Presiden RI beberapa waktu lalu, katanya, jika 9 Kartini tersebut yang asli dari Rembang hanya 3 orang saja. Sedangkan sisanya berasal dari Pati dan Purwodadi.

Wahyudi, warga Desa Tegaldowo, yang juga perwakilan peserta aksi juga menyampaikan, jika, dengan adanya pabrik semen taraf perekonomian petani di desanya bisa meningkat. “Dari penghasilan warga di pabrik semen, warga Tegaldowo dan sekitarnya bisa membeli tanah maupun lahan di luar Tegaldowo untuk dijadikan lahan pertanian,” tuturnya.

Menurutnya, pasanggem atau tani hutan yang sebelumnya belum bisa maksimal untuk mencukupi kebutuhan hidup, kini, setelah mendapatkan penghasilan dari pabrik, mereka bisa membeli tanah untuk bertani, membuat rumah, mebangun rumah dan sebagainya.

Editor : Kholistiono

Bawa Obor, Ribuan Petani Kendeng Jalan Kaki ke Pendapa Tolak Pabrik Semen

Sejumlah wanita membawa obor untuk mengikuti aksi long march tolak pabrik semen, sepanjang 20 kilometer menuju Pendapa Kabupaten Pati, Kamis (19/5/2016).(MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah wanita membawa obor untuk mengikuti aksi long march tolak pabrik semen, sepanjang 20 kilometer menuju Pendapa Kabupaten Pati, Kamis (19/5/2016).(MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Ribuan petani lereng Pegunungan Kendeng Utara melakukan aksi jalan kaki (long march) Ngrungkebi Bumi Mina Tani, sepanjang 20 kilometer, Kamis (19/5/2016) malam.

Aksi itu dimulai dari kompleks makam Nyai Ageng Ngerang, Tambakromo, menuju Pendapa Kabupaten Pati. Mereka berjalan menggunakan obor dan menyanyikan tembang Jawa berbalut kalimat tahlil, dan diiringi suara gendang. Tembang Jawa itu dilantunkan untuk keselamatan dunia pertanian di Kabupaten Pati.

”Ibu bumi wis maringi, ibu bumi dilarani, ibu bumi kang ngadili. La ilaha illallah Muhammadur Rasulullah,” begitu bunyi lantunan lagu mereka sepanjang jalan, dari Tambakromo. Perjalanan mereka memang panjang. Karena melewati Kecamatan Gabus, dan berakhir di Alun-alun Pati.

Ketua Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Gunretno kepada MuriaNewsCom mengatakan, long march dari petani mewakili suara masyarakat, yang terkena dampak langsung dari industri pabrik semen yang akan berdiri di Pati.

”Kami hendak mengingatkan kepada majelis hakim PTTUN Surabaya, agar memegang prinsip keadilan, dengan mengacu pada bukti-bukti di lapangan. Serta dampak kehidupan petani dan lingkungan di masa depan,” ujar Gunretno.

Gunretno mengatakan, pertambangan semen di Pegunungan Karst Kendeng Utara berpotensi memutus fungsi karst sebagai pendistribusi air melalui gua. Bila distribusi air terputus menyebabkan mata air hilang dan pemulihan seperti sediakala sulit.

Sementara itu, Direktur Utama PT Indocement Christian Kartawijaya saat dikonfirmasi mengatakan, isu pembangunan pabrik semen yang merusak lingkungan dan mengancam kehidupan petani merupakan kebohongan besar.

”Kami berbeda dengan penambang liar. Kami punya aturan yang ketat untuk kelestarian lingkungan dalam menambang. Kami tidak pernah menambang pada area yang ada mata airnya. Kami produksi dengan sistem dry process. Kami pastikan tidak mengambil mata air. Itulah yang membedakan kami dengan penambang liar,” ungkap Christian.

Editor: Merie

PT Indocement Klaim Pembangunan Pabrik Semen di Pati Tak Rusak Mata Air

Direktur Utama PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Christian Kartawijaya saat memberikan keterangan di depan awak media. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Direktur Utama PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Christian Kartawijaya saat memberikan keterangan di depan awak media. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Direktur Utama PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Christian Kartawijaya mengklaim bila pembangunan semen di Pati tidak akan merusak mata air yang selama ini dikhawatirkan warga penolak pabrik semen.

Baca juga : Kuasa Hukum Indocement: Hakim PTUN Semarang Sudah Setuju dengan Amdal Pendirian Pabrik Semen

Ia mengatakan, semua kekhawatiran warga terkait dengan hilangnya sumber mata air sudah diakomodasi dalam dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) yang disusun selama tiga tahun.

”Kalau ada yang bilang pabrik Indocement itu menghabiskan mata air, coba saja datang ke pabrik semen di Citeureup. 40 tahun kita beroperasi di sana. Air tidak habis. Sawah masih ada dan masyarakat tambah maju. Reklamasi terus jalan,” ujar Christian saat berbincang dengan MuriaNewsCom.

Dalam operasinya, PT Indocement dikatakan menggunakan sistem dry process sehingga tidak membutuhkan air yang banyak. Air hanya digunakan untuk proses pendinginan (cooling). Itupun air yang digunakan bukan diambil dari alam setempat, tetapi dari embung yang dibuat PT Indocement.

”Dalam amdal, kita sudah rencanakan akan membangun enam embung dengan kapasitas 2 juta meter kubik air. Semua kekhawatiran masyarakat kita kelola dan mitigasi dalam dokumen amdal. Ini kan win-win,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan, operasional pabrik semen tidak akan merusak sumber mata air. ”Penambangan yang dilakukan tidak akan merusak sumber mata air. Semua ada aturannya. Kita bukan pemain kemarin sore. Kita sudah 40 tahun. Lingkungan akan menjadi prioritas kami,” pungkasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Ini Komentar Bupati Pati Haryanto Soal Pro Kontra Pendirian Pabrik Semen

Bupati Pati Haryanto memberikan komentar di depan awak media terkait dengan keputusan PTUN soal pendirian pabrik semen pada Selasa (17/11/2015) besok. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Bupati Pati Haryanto memberikan komentar di depan awak media terkait dengan keputusan PTUN soal pendirian pabrik semen pada Selasa (17/11/2015) besok. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Puluhan LSM yang tergabung dalam Jaringan Kerja LSM Kabupaten Pati menggelar aksi simpatik mendukung keputusan PTUN Semarang di kawasan Alun-alun Pati, Senin (16/11/2015).

Usai menggelar aksi simpatik, sejumlah perwakilan LSM menemui Bupati Pati Haryanto di Pendapa Kabupaten Pati. Mereka berharap masyarakat menghargai setiap keputusan yang dikeluarkan PTUN, terkait dengan pendirian pabrik semen di wilayah Pegunungan Kendeng.

”Wajar kalau menginginkan Kabupaten Pati meningkat kesejahteraan maupun ekonominya. Sehingga kalau terketuk hatinya untuk menyampaikan luapan agar kebijakan-kebijakan ini untuk meningkatkan ekonomi daerah,” ujar Haryanto kepada MuriaNewsCom.

Kaitannya dengan yang setuju maupun tidak setuju, kata dia, memang wajar. ”Keduanya sudah kami akomodasi. Saya minta menyampaikan lewat jalur hukum PTUN,” imbuhnya.

Saat ini, kedua pihak antara pro dan kontra pendirian pabrik semen tengah menunggu keputusan PTUN Semarang pada Selasa (17/11/2015) besok. Putusan itu menyangkut nasib, hajat dan kepentingan hidup warga Pati seutuhnya. (LISMANTO/TITIS W)

Ratusan Warga Kendeng Akan Datangi PTUN Semarang dengan Berjalan Kaki

Demo semen

Demo izin pendirian pabrik semen di Pati beberapa waktu lalu (MuriaNewsCom/Kholistiono)

 

PATI – Ratusan warga yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) akan mendatangi Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang dengan berjalan kaki.Hal ini, terkait dengan putusan PTUN atas izin pertambangan semen yang dilakukan PT Sahabat Mulia Sakti.

Mereka akan berkumpul di Omah Sonokeling pada Minggu (15/11/2015) sekitar pukul 19.00 WIB dan menggelar long march menuju PTUN Semarang.

Rencananya, mereka akan singgah di Kudus dan menggelar doa tengah malam bersama dengan Sedulur Sikep Kudus pada pukul 00.00 WIB. “Setelah itu, kami akan melanjutkan perjalanan dari Kudus menuju Demak sekitar pukul 03.00 WIB,” ujar Gunretno saat dihubungi MuriaNewsCom.

Sesampainya di Demak, mereka rencananya akan singgah di kawasan Makam Kadilangu, di mana Makam Kanjeng Sunan Kalijaga berada. “Kami jadwalkan sampai makam Kadilangu pada Senin, 16 November besok pukul 08.00 WIB,” imbuhnya.

Ia mengatakan, warga yang ikut long march bertajuk “Menjemput Keadilan” tersebut tak hanya diikuti warga JMPPK dari Pati saja, tetapi juga Blora, Grobogan, dan Rembang.(LISMANTO/KHOLISTIONO)

 

Kapolres Pati Bantah Ada Anggotanya yang Tembak Demonstran

Kapolres Pati AKBP R Setijo Nugroho HP (dua dari kanan) bersama dengan Dandim 0718 Pati Kol Inf Hery Setiyono, Ketua DPRD Pati Ali Badrudin meminta massa membubarkan diri. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

PATI – Kapolres Pati AKBP R Setijo Nugroho membantah jika ada anggotanya yang melakukan penembakan terhadap demonstran yang memblokade jalan pantura Jalan Pati-Kudus Km 6, Kamis (23/7/2015).

Pihaknya memastikan anggotanya hanya melontarkan gas air mata terhadap demonstran yang dinilai sudah melewati batas. “Kami pastikan tidak ada penembakan sebagaimana yang tersebar di beberapa media massa. Itu hanya gas air mata untuk tujuan pengamanan,” ujar Setijo kepada MuriaNewsCom, Jumat (24/7/2015).

Karena itu, ia berharap agar masyarakat tidak terbawa dengan isu provokasi yang disebarkan pihak tak bertanggungjawab. “Dalam insiden kemarin, anggota kami hanya melakukan pengamanan. Samasekali tidak terlibat baku hantam dengan demonstran,” imbuhnya.

Ia menambahkan, pembubaran terhadap massa juga tidak dilakukan secara paksa. Pihaknya bersama dengan Dandim 0718 Pati Kol Inf Hery Setiyono dan Ketua DPRD Pati Ali Badrudin sudah meminta agar massa membubarkan diri secara baik-baik, tetapi ditolak.”Massa bubar dengan sendirinya. Jadi tidak ada baku hantam, apalagi penembakan,” pungkasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Kelelahan, Pendemo Pabrik Semen Akhirnya Bubar Sebelum Magrib

Demonstran penolak pabrik semen di Pati akhirnya membubarkan diri. (MuriaNewsCom / Lismanto)

Demonstran penolak pabrik semen di Pati akhirnya membubarkan diri. (MuriaNewsCom / Lismanto)

PATI – Ribuan pendemo yang memblokade jalan pantura Pati telah membubarkan diri pada Kamis (23/7/2015) sekitar pukul 16.00 WIB. Usai membubarkan diri, mereka menggelar aksi arak-arakan keliling di sejumlah jalan di Kota Pati. Lanjutkan membaca