Peringkat Penderita DBD di Jepara Diklaim Menurun

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jepara, mencapai 136 kasus, pada periode Januari-Maret 2017. Meskipun demikian,  Dinas Kesehatan Jepara mengklaim terjadi penurunan kasus, jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal itu didasarkan atas peringkat penderita Demam Berdarah dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.

“Peringkat kita biasanya 3 besar penderita kasus DBD terbanyak. Namun pada 2016 terjadi penurunan kasus, hingga menempati nomor sembilan. Tahun ini (2017) kemungkinan bisa ditekan dan kita berada di peringkat 15,” beber Fakhrudin, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) pada Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Jepara.

Hal itu diakui pula oleh Kepala Dinas Kesehatan Jepara, dr Dwi Susilowati. Hal itu tak terlepas dari usaha pemkab dan seluruh warga memberantas DBD.

Dalam memberantas DBD, pihaknya telah melakukan Gerakan Serentak (gertak). Hal itu dengan melibatkan seluruh komponen warga untuk melakukan PSN.

Baca juga : Bangsri Tempati Posisi Tertinggi Kasus DBD di Jepara

“Kita juga melakukan Germas (Gerakan Masyarakat Sehat). Yakni, untuk satu keluarga masing-masing harus memunyai paling tidak satu orang untuk memberantas sarang nyamuk. Jadi tidak hanya mengandalkan gerakan dari pemerintah,” ungkap Dwi, di kantornya.  

Di samping itu, pihaknya juga menginisiasi hadirnya personel akselelator di beberapa daerah. Hal itu ditujukan untuk menginventarisir keluhan warga tentang penyakit, termasuk DBD.

Selain itu, ada pula lomba PSN yang rutin digelar setiap bulan Januari-Februari. Semua usaha tersebut dilaksanakan, untuk menekan kasus DBD.

Editor : Kholistiono

Kasus Tinggi, Puskesmas Batealit Jepara Bagikan Abate dan Penyuluhan DBD

Beberapa pasien DBD dirawat di Puskesmas Batealit, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Beberapa pasien DBD dirawat di Puskesmas Batealit, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Selain mencanangkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara serentak. Petugas kesehatan dari Puskesmas Batealit juga membagikan ratusan bungkus abate. Pembagian abate ini dilakukan seiring meningkatnya jumlah penderita demam berdarah dengue (DBD), khususnya di Desa Ngasem, Kecamatan Batealit.

Salah seorang petugas Puskesmas, Agus mengatakan, pembagian abate tersebut memang untuk menekan angka penderita penyakit BDB yang mulai marak. Selain membagi abate, pihaknya juga melakukan penyuluhan langsung pada masyarakat. Khususnya masyarakat di sekitar pasien yang dilaporkan terkena DBD.

Baca juga : Tingginya Jumlah Pasien DBD, Kecamatan Batealit Jepara Canangkan PSN

”Yang perlu diperhatikan juga tingkat kesadaran masyarakat tentang kesehatan dan kebersihan lingkungan. Sehingga kami juga memberikan penyuluhan,” kata Agus, Jumat (5/2/2016).

Menurut dia, dalam kegiatan ini, sejumlah lokasi strategis juga lain didatangi. Salah satunya di Ponpes Manba’ul Ulum yang berada di wilayah setempat. Terlebih, salah satu anak dari pengurus pesantren ada yang sempat dirawat karena gejala DBD.

”Kebetulan ada yang terkena DB, jadi sekaligus kami lakukan penyuluhan langsung di sini,” katanya.
Agus menyatakan, sampai kemarin tercatat ada 25 warga Kecamatan Batealit yang terserang DB. Dari jumlah itu, 15 di antaranya berada di Desa Ngasem. ”Itu jumlah yang tercatat di Puskesmas kami,” tuturnya.

Sementara mengenai pasien meninggal dunia, Agus menjelaskan, hanya ada satu pasien dari Desa Bawu. Sedangkan di Desa Ngasem sendiri beberapa waktu lalu ada yang dilaporkan meninggal karena DB, namun setelah ditelusuri lebih lanjut ternyata meninggal karena infeksi lambung.

Baca juga :

Jumlah Penderita DBD di Jepara Mengalami Tren Peningkatan di Tri Wulan Pertama

Pasien DBD di Pati Meningkat, Permintaan Darah Meningkat Seratus Persen

Ini Langkah DKK Blora Antisipasi Melonjaknya Kasus DBD

Editor : Titis Ayu Winarni

Tingginya Jumlah Pasien DBD, Kecamatan Batealit Jepara Canangkan PSN

Seorang warga Desa Ngasem, Kecamatan Batealit memberikan bubuk abate ke bak mandinya. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Seorang warga Desa Ngasem, Kecamatan Batealit memberikan bubuk abate ke bak mandinya. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Wilayah Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara mencanangkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara serentak. Hal ini seperti yang dilaksanakan di Desa Ngasem, Kecamatan Batealit. Tingginya pasien demam Berdarah Dengue (DBD) akibat nyamuk Aides Aegepty di Kecamatan Batealit, membuat tim gerak cepat penanggulangan DBD melakukan kegiatan PSN yang berlokasi di Desa Ngasem.

”Kesadaran warga untuk menjaga kebersihan dan lingkungan yang kumuh menjadikan Desa Ngasem dipilih menjadi tempat dilaksanakannya kegiatan ini, karena di desa ini endemik penderita DBD paling banyak se Kecamatan Batealit,” ujar Camat Batealit Bambang Lelono, Jumat (5/2/2016).

Menurutnya, khusus di Desa Ngasem terdapat 15 pasien DBD. Harapannya, kepada masyarakat gerakan PSN ini adalah menjadi suatu kebutuhan sehingga lingkungan akan terhindar dari penyebaran nyamuk. Kegiatan yang dilaksanakan oleh Puskesmas Batealit, Muspika, Koramil, Babinkamtibmas Polsek, serta seluruh warga Desa Ngasem tersebut dapat memotivasi warga agar lebih peduli terhadap lingkungan dan kesehatan.

Selain mencanangkan PSN dengan berbagai kegiatannya, warga juga melaksanakan kerja bakti membersihkan lingkungan di RT seluruh Desa Ngasem. Salah seorang warga, Purnadi mengatakan, dengan adanya penyuluhan dan pemberian bubuk abate diharapkan biar lebih baik dan ada perubahan sehingga demam bardarah dapat diminimalisir.

Untuk data penderita DBD dari Kecamatan Batealit hingga akhir Januari sebanyak 25 pasien, meninggal 1 orang anak usia 11 tahun. Setiap hari tidak kurang dari 7 pasien DBD datang ke puskesmas, karena keterbatasan langsung dirujuk ke rumah sakit terdekat. Dr Rendra Riantoni ketua tim gerak cepat penanggulangan DBD puskesmas Batealit mengatakan, bukan hanya anak-anak melainkan orang dewasapun banyak yang terjangkit DBD.

Baca juga :

Jumlah Penderita DBD di Jepara Mengalami Tren Peningkatan di Tri Wulan Pertama

Pasien DBD di Pati Meningkat, Permintaan Darah Meningkat Seratus Persen

Ini Langkah DKK Blora Antisipasi Melonjaknya Kasus DBD

Editor : Titis Ayu Winarni

Virus Zika dan DBD Mengancam, Enam Sekolah di Rembang Diasapi

Seorang petugas melakukan fogging di salah satu Sekolah Dasar di Rembang, Kamis (4/2/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Seorang petugas melakukan fogging di salah satu Sekolah Dasar di Rembang, Kamis (4/2/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Merebaknya penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Rembang, ditambah potensi bahaya virus zika yang dibawa oleh nyamuk Aedes Aegypti membuat pemerintah setempat cemas. Apalagi diantara banyak korban masih berusia anak-anak.

Baca juga : 2 Orang di Rembang Meninggal Akibat Demam Berdarah

Berbagai upaya pencegahan pun dilakukan, seperti pengasapan (fogging) yang dilakukan di enam sekolah dasar, Kamis, (4/2) kemarin. Ribuan pelajar SD di kecamatan Rembang terpaksa dipulangkan sejak pukul 08.30 waktu setempat. Pengasapan dilakukan di tiap ruangan enam sekolah yang terletak di sekitar Alun-alun Rembang, yaitu SDN Kutoharjo I hingga SDN Kutoharjo VI.

Kepala SDN V Kutoharjo, Sudjito, ditemui kemarin, mengatakan, seluruh siswa sengaja dipulangkan lebih awal, setelah ada program dari Puskesmas Rembang I untuk menanggulangi penyebaran penyakit DBD. Sudjito mengaku di antara siswanya, ada yang ikut terserang penyakit tersebut.
”Ada siswa yang terserang penyakit DBD. Siswa tersebut diketahui izin tidak masuk sekolah sejak kemarin,” ungkapnya.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, Aris Suryono mengatakan, pengasapan di enam Sekolah dilakukan sebagai tindak lanjut adanya siswa yang terserang penyakit DBD. Sekolah yang siswanya terjangkit DBD, diperlakukan sebagai titik fokus pengasapan karena rawan menular ke siswa lainnya.

”Ini sudah prosedur, jika ada anak sekolah yang terkena penyakit DBD maka sekolah tersebut menjadi titik fokus fogging. Fogging ini dilakukan DBD tidak menular siswa yang lain,” terangnya.

Sejak bulan Desember hingga Januari, Aris menyebut, jumlah pasien DBD terbilang tinggi, ada 83 kasus menyebar di seluruh kecamatan, bahkan 3 orang meninggal dunia. ”Dinas kesehatan juga mengaktifkan Pokjanal tingkat kecamatan khusus untuk mencegah penyakit berbahaya ini,” tandasnya.

Baca juga :

Lomba Desa Bebas Jentik Akan Digelar di Rembang

Wabah Demam Berdarah Merebak di Kecamatan Winong Pati, Polisi Lakukan Fogging dan Bagikan Abate

18 Hari, 13 Warga Terserang DBD

Editor : Titis Ayu Winarni

Ini Langkah DKK Blora Antisipasi Melonjaknya Kasus DBD

Fogging dalam rangka pencegahan peningkatan DBD di SMPN 6 Blora oleh DKK Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Fogging dalam rangka pencegahan peningkatan DBD di SMPN 6 Blora oleh DKK Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Guna mengantisipasi melonjaknya jumlah kasus DB, Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Blora melakukan sejumlah langkah antisipasi secara intensif.

Baca juga : Waspada! Wabah DBD di Blora Dipresdiksi Hingga Maret Depan

Kepala DKK Blora Henny Indriyanti mengatakan, pihaknya mengintensifkan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui kegiatan 3 M. Yaitu menguras, menutup dan mengubur tempat perkembangan nyamuk Aedes Aegypti. ”Kami akan berikan surat edaran kepada masyarakat perihal PSN. Surat sudah di tandatangani Pj Bupati,” kata Henny.

Selain PSN, lanjut Henny, antisipasi dengan melakukan fogging (pengasapan) di daerah endemis nyamuk Aedes Aegypti. Henny mengungkapkan, pihaknya melakukan fogging di sejumlah sekolah mulai dari PAUD hingga SMA. Fogging juga dilakukan di daerah endemis seperti Kecamatan Blora, Tunjungan, dan Jepon.

Antisipasi lainnya, DKK Blora merekrut relawan juru pemantau jentik (jumantik) nyamuk. Relawan jumantik itu adalah para pelajar SD, SMP, dan SMA. Selain melakukan pemantauan jentik nyamuk di sekolah, mereka juga memantau jentik nyamuk di sekitar tempat tinggalnya. ”Kami juga memberikan bubuk abate kepada semua Puskesmas. Abate ini ditaburkan di tempat penampungan air yang tidak memungkinkan untuk dikuras,” imbuh Henny.

Baca juga :

Waspada, Kecamatan Blora Kasus Tertinggi DBD

Pasien DBD di Pati Meningkat, Permintaan Darah Meningkat Seratus Persen

Jumlah Penderita DBD di Jepara Mengalami Tren Peningkatan di Tri Wulan Pertama

Tahu Nggak Sih? Obat Nyamuk Oles Dapat Cegah DBD

Tragis, 600 Warga Kudus Kena DBD

Editor : Titis Ayu Winarni

Waspada! Wabah DBD di Blora Dipresdiksi Hingga Maret Depan

Fogging dalam rangka pencegahan peningkatan DBD di SMPN 6 Blora oleh Dinkes Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Fogging dalam rangka pencegahan peningkatan DBD di SMPN 6 Blora oleh Dinkes Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Wabah Demam berdarah dengue (DBD) di Blora diprediksi akan terus berlangsung hingga Maret depan. Hal ini dikarenakan faktor cuaca saat ini selalu turun hujan lebat.

Hal itu disampikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Blora Henny Indriyanti. Dia mengungkapkan sampai akhir Januari jumlah kasus DB sebanyak 93 kasus dan tiga orang penderitanya meninggal dunia. Memasuki pekan pertama Februari jumlah kasus meningkat menjadi 112 kasus dengan korban meninggal bertambah satu orang.

Baca juga : Waspada, Kecamatan Blora Kasus Tertinggi DBD

”Selama 2016 ini jumlah korban empat orang, korban meninggal rata-rata dibawah lima tahun,” kata Henny.

Pihaknya memprediksi kasus DBD berlangsung hingga Maret depan bisa diantisipasi dengan melakukan beberapa pencegahan secara intensif. Henny meminta kepada masyarakat agar bisa intensif dalam gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui kegiatan 3 M yakni menguras, menutup, dan mengubur tempat atau media perkembang biakan nyamuk Aedes Aegypti.

”Kegiatan itu jangan hanya dilakukan di dalam rumah, namun juga di luar rumah,” ujar Henny.

Baca juga :

Pasien DBD di Pati Meningkat, Permintaan Darah Meningkat Seratus Persen

Jumlah Penderita DBD di Jepara Mengalami Tren Peningkatan di Tri Wulan Pertama

Tahu Nggak Sih? Obat Nyamuk Oles Dapat Cegah DBD

Tragis, 600 Warga Kudus Kena DBD

Editor : Titis Ayu Winarni

Ini Alasan PMI Pati Kewalahan Penuhi Stok Darah Trombosit

Safaati tengah mengetes golongan darah yang masuk ke PMI Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Safaati tengah mengetes golongan darah yang masuk ke PMI Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Meningkatnya pasien demam berdarah dengue (DBD) di Pati, menyebabkan permintaan darah trombosit meningkat. Padahal, tidak semua darah yang masuk PMI bisa diproses menjadi trombosit.

“Untuk memproses darah yang masuk menjadi trombosit, pendonor harus memiliki berat badan di atas 55 kg, tidak mengonsumsi obat-obatan, dan darah harus dalam kondisi segar. Tidak lebih dari empat jam dari proses donor,” ujar Humas Unit Donor Darah (UDD) PMI Pati Safaati saat ditemui MuriaNewsCom, Rabu (3/2/2016).

Itu sebabnya, trombosit hanya bisa diproses dari donor darah yang dilakukan di Kantor PMI langsung. Sementara itu, donor darah yang dilakukan di luar kantor tidak bisa diproses menjadi trombosit karena lebih dari empat jam.

“Stok trombosit yang minim dibarengi kebutuhan yang semakin meningkat membuat PMI Pati kewalahan. Kami berharap, warga yang ingin donor bisa langsung datang ke kantor PMI,” katanya.

Saat ini, stok darah yang tersedia di PMI sekitar 345 kantong. Darah golongan A ada 14 kantong, darah B ada 64 kantong, darah O ada 187 kantong, dan darah AB ada 63 kantong.

“Untuk trombosit, darah golongan A ada 5 kantong, darah B ada 6 kantong, darah O ada 4 kantong dan darah AB ada 2 kantong,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono 

Pasien DBD di Pati Meningkat, Permintaan Darah Meningkat Seratus Persen

Pasien DBD di Pati Meningkat, Permintaan Darah Meningkat Seratus Persen

Pasien DBD di Pati Meningkat, Permintaan Darah Meningkat Seratus Persen

 

MuriaNewsCom, Pati – Pasien demam berdarah dengue (DBD) di Pati meningkat sejak memasuki musim pancaroba pada November 2015 lalu hingga sekarang. Akibatnya, permintaan darah di Palang Merah Indonesia (PMI) Pati melonjak tajam.

Hal itu diamini Humas Unit Donor Darah (UDD) PMI Pati Safaati. Ia mengatakan, kenaikan itu bahkan mencapai seratus persen.

“Biasanya, permintaan darah per harinya cuma 30 hingga 40 kantong saja. Saat ini, permintaan darah mencapai 80 kantong. Artinya, kenaikan itu mencapai seratus persen,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Rabu (3/2/2016).

Sementara itu, permintaan darah khusus trombosit mencapai 5 kantong setiap harinya. Dengan kondisi itu, pihaknya mengaku kewalahan melayani permintaan yang terus meningkat.

“Penderita DBD memang cukup meningkat karena cuaca seperti ini. Kami saat ini bisa dikatakan cukup kesulitan dalam menyediakan stok darah trombosit, mengingat tidak semua stok darah yang masuk ke PMI bisa diproses menjadi trombosit saja,” tukasnya.

Editor : Kholistiono 

Ada 56 Kasus Demam Berdarah di Jepara, DKK Tetap Gencarkan Sosialisasi PSN

(ISTIMEWA)

(ISTIMEWA)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Memasuki bulan Februari ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara melalui Dinas Kesehatan setempat mendapatkan laporan dari rumah sakit dan Puskesmas jika sudah ada 56 kasus warga Jepara yang terkena demam berdarah dengue (DBD). Jumlah tersebut terbilang kecil jika dibanding tahun lalu, yang ada sekitar 200 kasus.

”56 kasus DBD itu selama Januari 2016 kemarin. Dibanding tahun 2015 lalu di bulan Januari menurun, karena tahun lalu mencapai 200 kasus,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Jepara dr Dwi Susilowati melalui Kabid Kesehatan Masyarakat Mudrikatun kepada MuriaNewsCom, Selasa (2/2/2016).

Menurutnya, selain menurun dibanding tahun lalu. Sampai saat ini juga belum ada satu wilayah yang endemis DBD. Hal itu tidak terlepas dari upaya untuk menekan kasus DBD yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun masyarakat.

”Pengalaman tahun lalu memang menjadi bahan evaluasi. Sehingga kami sudah melakukan antisipasi sejak Oktober tahun lalu,” terang Mudrikatun.

Dia menjelaskan, antisipasi yang dimaksud adalah dengan gencar melakukan sosialisasi pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Baik oleh internal DKK maupun lintas instansi. Gerakan Jumat bersih diarahkan tidak hanya sekadar menyapu lingkungan tapi juga gerakan menguras, menutup, dan mengubur (3M). Antisipasi ini penting selain Jepara memiliki riwayat buruk DBD, juga karena potensinya besar.

”Tidak hanya rawan di lingkungan masyarakat biasa, tapi di lingkungan industri. Seperti sisa limbah kayu maupun kaleng bekas bahan baku industri,” kata dia.

Editor : Titis Ayu Winarni

Kasus Demam Berdarah di Pati Merebak, Pemkab Gencarkan Fogging

Bupati Pati Haryanto mendampingi fogging di Desa Sunggingwarno, Kecamatan Gabus. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Bupati Pati Haryanto mendampingi fogging di Desa Sunggingwarno, Kecamatan Gabus. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di sejumlah daerah di Pati meningkat tajam sejak memasuki musim pancaroba sampai sekarang. Awal Januari saja, sedikitnya ada 18 kasus positif DB yang sudah dikonfirmasi dengan laboratorium.

Untuk menangani hal itu, Pemkab Pati saat ini gencar melakukan fogging di sejumlah daerah. Salah satunya di Desa Sunggingwarno, Kecamatan Gabus.

Fogging tersebut dilakukan Dinas Kesehatan Pati didampingi langsung Bupati Pati Haryanto. “Saya banyak mendapatkan aduan dari masyarakat dengan banyaknya kasus DBD di Pati. Di Sunggingwarno, sudah ada lima kasus sehingga langsung kami lakukan fogging,” kata Haryanto saat ditanya MuriaNewsCom, Senin (18/1/2016).

Ia mengatakan, fogging rencananya akan digencarkan di sejumlah daerah untuk mengantisipasi berkembangbiaknya nyamuk penyebab DBD. “Penyemprotan akan kami gencarkan untuk mencegah berkembangnya nyamuk demam berdarah,” imbuhnya.

Kendati begitu, pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk melakukan gerakan 3M secara serentak, yakni menguras dan menutup bak air, serta mengubur barang-barang bekas. Hal itu untuk mencegah tumbuhnya nyamuk penyebab DBD sejak dini.

“Fogging tidak akan efektif selama lingkungan masih mendukung untuk dijadikan sarang nyamuk. Karena itu, upaya pemerintah untuk fogging juga harus didukung dengan kesadaran masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan bebas nyamuk dengan penerapan 3M,” pungkasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Demam Berdarah Mengancam, Ratusan Siswa SD Pekuwon Doa Bersama

DBD 2 (e)

Sejumlah siswa SD Pekuwon berdoa agar dijauhkan dari penyakit demam berdarah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Ratusan siswa SD Pekuwon, Kecamatan Juwana, Pati menggelar doa bersama agar dijauhkan dari penyakit demam berdarah. Kegiatan itu dilaksanakan di halaman sekolah, Selasa (12/1/2016).

Sebelum doa bersama siswa, masyarakat dan guru SD Pekuwon sudah menggelar doa bersama dengan diawali pembacaan manakib pada Senin (11/1/2016) malam.

”Sebanyak 20 siswa kami sudah terkena DB, satu siswa di antaranya meninggal dunia. Ini ikhtiar batin kami untuk memohon kepada Tuhan agar dijauhkan dari penyakit demam berdarah. Kami juga sudah membagikan krim antinyamuk dan upaya pembersihan lingkungan,” kata Kahono, salah satu guru SD Pekuwon saat ditanya MuriaNewsCom.

Ia berharap agar pemerintah daerah bisa melakukan agenda penyemprotan insektisida di tempatnya. Tak hanya itu, Pemda juga diminta gencar untuk melakukan penyuluhan tentang pemberantasan nyamuk DBD.

”Kami berharap Pemda lebih giat lagi melakukan penyemprotan insektisida dan penyuluhan pemberantasan nyamuk penyebab DBD. Penyuluhan tak hanya dilakukan di sekolah, tetapi juga di desa-desa, terutama Desa Pekuwon,” tukasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Renggut Satu Nyawa Lagi, Kasus Demam Berdarah Hantui Warga Pati

DBD (e)

Sejumlah siswa SD Pekuwon, Juwana berdoa bersama karena banyak pelajar di sana yang terserang demam berdarah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Pati sudah mulai menghantui warga Pati. Awal tahun, satu pelajar dari SD Pekuwon, Juwana meninggal dunia akibat demam berdarah.

Sementara itu, 19 pelajar lainnya juga terkena demam berdarah dan saat ini sudah sembuh. Dari 19 pelajar tersebut, tidak semua dirawat inap di rumah sakit. Beberapa di antaranya berobat dengan rawat jalan.

Hal ini diamini Kahono, salah satu guru SD Pekuwon. Ia mengatakan, sudah ada 20 peserta didik dalam beberapa bulan terakhir yang terkena DB. ”Kami tidak ingin musibah ini kembali terjadi lagi,” kata Kahono kepada MuriaNewsCom, Selasa (12/1/2016).

Untuk itu, pihaknya saat ini menggalakkan agenda bersih-bersih lingkungan sekolah. Termasuk menerapkan gerakan menguras penampung air, mengubur barang bekas, dan menutup penampungan air.

”Kami sudah mulai terapkan pola hidup bersih dan sehat di lingkungan sekolah. Kami berharap agar orang tua siswa dan semua warga bisa menerapkan pola hidup bersih di lingkungannya,” imbuhnya.

Tercatat pada 2015 lalu, sedikitnya ada 707 kasus DBD di Pati. Dari ratusan kasus tersebut, 14 orang di antaranya meninggal dunia.

Karena itu, Kasi Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Pati Marjuki mengimbau kepada warga untuk mulai melakukan gerakan sederhana. Yaitu menutup dan menguras tampungan air, serta mengubur barang-barang bekas. (LISMANTO/TITIS W)

Jumlah Penderita DBD di Jepara Mengalami Tren Peningkatan di Tri Wulan Pertama

fdbd (2) (e)

Data dari DKK Jepara menunjukkan tren penderita DBD tinggi pada tri wulan pertama di tahun 2015 (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Di awal tahun, tepatnya di pekan pertama tahun 2016 ini memang belum ada laporan terkait banyaknya penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jepara. Namun, ketika mengaca di tahun-tahun lalu, pada tri wulan pertama setiap tahun jumlah penderita penyakit DBD mengalami tren yang meningkat.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Jepara Dwi Susilowati menjelaskan, tren pada tiga bulan pertama setiap tahun untuk penderita DBD memang meningkat. Hal itu seiring dengan musim hujan yang puncaknya kerap di bulan-bulan awal setiap tahunnya.

“Dari data yang kami miliki, tiga bulan pertama setiap tahunnya memang kasus DBD meningkat dibanding bulan-bulan sebelumnya. Seperti bulan Desember 2015 lalu, penderita DBD hanya ada tujuh pasien saja,” kata Susi kepada MuriaNewsCom, Jumat (8/1/2016).

Menurutnya, pihaknya menerima laporan adanya pasien DBD, baik dari rumah sakit maupun puskesmas sepekan sekali, kemudian dilaporkan ke Bupati Jepara. Namun, ketika pasien BDB itu meninggal, maka satu hari itu pula pihaknya menerima laporannya.“Di awal 2016 ini kami belum menerima laporan adanya penderita DBD yang meninggal dunia,” kata Susi.

Dia menambahkan, masyarakat diimbau untuk selalu melakukan gaya hidup sehat dan mencegah penyakit DBD dengan cara-cara yang tepat. Seperti menguras, mengubur dan menutup tempat-tempat yang menjadi sarag nyamuk. Terutama tampungan air, karena nyamuk penyebab DBD suka di tempat-tempat penampungan air. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Tragis, 600 Warga Kudus Kena DBD

Ilustrasi DBD

Ilustrasi DBD

 

KUDUS – Kasus penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kudus, semakin banyak. Bahkan, di 2015 ini masyakat yang megalami penyakit DBD mencapai 600 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Maryata melalui Kasi Pencegahan Penyakit dan Kejadian Luar Biasa (KLB) Subiyono mengatakan, jumlah penderita sangat banyak. selama Januari-Desember 2015 tercatat sebanyak 600 kasus atau mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya hanya 438 kasus.

“Tiap tahun mengalami tren yang selalu meningkat. Bahkan, selama empat tahun terakhir, kasus tertinggi merupakan tahun ini. Tercatat 2013 hanya 501 kasus dan tahun 2012 hanya 360 kasus,” katanya kepada MuriaNewsCom

Menurutnya, meski 2015 terbanyak, namun jika dibuat hitungan bulan kasus DBD terbanyak pada awal tahun 2015. Sedangkan kasus itu mengalami penurunan pada kisaran Mei dan Juni.

Berdasarkan data DKK, awal 2015, kasus yang muncul mencapai 112 kasus, kemudian Februari 2015 meningkat menjadi 117 kasus, kemudian turun menjadi 62 kasus, sedangkan April 2015 naik menjadi 106 kasus dan bulan berikutnya hingga Desember 2015 mengalami penurunan. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Waspada, Kecamatan Blora Kasus Tertinggi DBD

Ilustrasi

Ilustrasi

 

BLORA – Sejak 1 Januari tercatat hingga kemarin (14/12/2015) kasus demam berdarah (DBD) di Kabuptaen Blora capai 457 kasus. Bahkan korban meninggal capai 8 jiwa.

Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Blora melalui Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Lilik Hernanto mengatakan, dari semua kasus yang tercacat, tertinggi adalah Kecamatan Blora. Ia juga menjelaskan, jumlah penderita DBD di hampir setahun ini mencapai 80 penderita. Sedangkan, korban meninggal satu orang.

Peringkat selanjutnya Kecamatan dengan kasus DBD yakni Kedungtuban, jumlah penderita capai 65 orang dan tidak ada korban meninggal. ”Jepon ada 40 kasus penderita. Dan satu orang meninggal,” ujar Lilik.

Ia juga menambahkan, bagi wilayahnya harus dilakukan fogging, pihaknya juga sudah melakukan. ”Semua kasus yang memenuhi kriteria sudah dilakukan fogging,” tuturnya.

Ia juga mengimbau kepada seluruh warga Blora agar waspada. Ia juga menyarankan, agar warga menggiatkan kembali Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), baik di pemukiman maupun di sekolah.
”Memasuki musim hujan hendaknya warga waspada dengan serangan penyakit demam berdarah dengue (DBD), caranya dengan menggiatkan PSN secara serentak,” ungkapnya.

Menurutnya, iklim di Blora saat ini yakni sehari hujan sehari panas, cukup potensial merebaknya demam berdarah. Sebab, nyamuk Aedes Aegypti bisa berkembang biak lebih cepat. Untuk itu langkah preventif berupa 3M, yaitu menguras bak mandi, mengubur barang bekas, menutup bak mandi bisa mencegah berkembang biaknya nyamuk tersebut. (RIFQI GOZALI/TITIS W)

10 Warga Jepara Meninggal Diserang DBD

Acara pencanangan Gertak PSN-DBD di Desa Mulyoharjo Kecamatan Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Acara pencanangan Gertak PSN-DBD di Desa Mulyoharjo Kecamatan Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Pada akhir tahun ini Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Jepara mencatat 1.397 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dan 10 orang meninggal dunia.

Kepala DKK Jepara Dwi Susilowati mengemukakan, kondisi cuaca Jepara sekarang yang kadang hujan dan kadang panas, menyebabkan jentik nyamuk Aedes Agepty cepat berkembang.

“Saat ini cuaca tak menentu, kadang hujan kadang panas, faktor seperti ini salah satu yang membuat berkembangnya Nyamuk demam berdarah (Aedes aegypti), jadi perlu antisipasi secara dini,” ujar Susi, Jumat (11/12/2015).

Susi mengaku, untuk menekan tingginya angka kasus DBD, pihaknya melakukan Gerakan Serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (Gertak PSN – DBD). Pihaknya juga mengajak kepada masyarakat untuk selalu melaksanakan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) untuk bisa diterapkan dalam rumah tangga.

Sementara itu, melalui gerakan yang diinisiasi oleh DKK Jepara dan Tim Penggerak PKK itu, Wakil Bupati Jepara Subroto optimistis kasus DBD di Kabupaten Jepara yang akhir – akhir ini menunjukkan tren peningkatan dapat ditekan seminim mungkin.

Subroto meminta dengan tegas kepada para kader PKK mulai dari Kabupaten hingga Desa, benar-benar serius menyosialisasikan upaya-upaya untuk mematikan jentik-jentik Aedes Aegypti kepada seluruh elemen masyarakat, agar angka penderita DBD tak lagi bertambah. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Jepara Siapkan Perlawanan Hadapi DBD

Kegiatan memantau bak penampungan air dan menimbun barang bekas di salah satu rumah warga di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Kegiatan memantau bak penampungan air dan menimbun barang bekas di salah satu rumah warga di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Kabupaten Jepara mencanangkan Gerakan Serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (Gertak PSN – DBD), Jumat (11/12/2015). Pencanangan gerakan dilakukan karena tingginya angka penderita kasus DBD setiap tahunnya.

Wakil Bupati Jepara Subroto mengatakan, kegiatan bertujuan menumbuhkan komitmen kuat masyarakat untuk lebih peka terhadap faktor potensial penyebab demam berdarah.

Menurutnya, komitmen bersama yakni, secara sadar menguras dan menyikat bak mandi, menutup rapat penampungan air di sekitar rumah, mengubur atau memusnahkan barang-barang bekas yang bisa menjadi tampungan air, hingga menabur bubuk abate di bak mandi serta memasang kelambu dan kasa di ventilasi rumah diyakini akan bisa menghentikan persebaran nyamuk Aedes Aegypti. “Harus dilakukan,” kata Subroto ketika pencanangan Gertak PSN-DBD di Desa Mulyoharjo Kecamatan Jepara, Jumat (11/12/2015).

Menurutnya, melalui gerakan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Jepara dan Tim Penggerak PKK itu pula, Subroto optimistis kasus DBD di Kabupaten Jepara bisa ditekan seminim mungkin.

Dia juga meminta dengan tegas kepada para kader PKK mulai dari Kabupaten hingga desa, benar-benar serius menyosialisasikan upaya-upaya untuk mematikan jentik-jentik Aedes Aegypti kepada seluruh elemen masyarakat, agar angka penderita DBD tak bertambah banyak.

Acara pencanangan Gertak PSN – DBD dihadiri oleh beberapa pihak. Di antaranya Dandim 0719 Jepara, Kapolres Jepara, Danramil Kecamatan Jepara, Kapolsek Kecamatan Jepara, Kepala DKK Jepara, Jajaran SKPD lingkup Pemerintah Kabupaten Jepara, Muspika Kecamatan Jepara, Tim Penggerak PKK Desa Mulyohajo, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama Desa Mulyoharjo serta warga masyarakat Desa Mulyoharjo. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Awas! Serangan DBD Mengancam di Musim Hujan

Ilustrasi nyamuk

Ilustrasi nyamuk

 

GROBOGAN – Memasuki musim hujan, warga tidak hanya diminta waspada terhadap datangnya bencana alam saja. Tetapi, serangan Demam Berdarah Dengue (DBD) juga harus perlu mendapat perhatian serius.

“Memasuki musim hujan, kami meminta kepada masyarakat agar waspada terhadap serangan Demam Berdarah Dengue (DBD). Dari pengalaman selama ini, saat masuk musim hujan, serangan DBD mulai naik. Meski begitu, kita harapkan kondisi tersebut tidak terjadi pada musim hujan kali ini,” ujar Kepala Dinkes Grobogan Johari Angkasa.

Data yang didapat dari Dinas Kesehatan Grobogan menyebutkan, dari Januari hingga awal November tahun 2015 ini, jumlah penderita DBD tercatat ada 886 orang. Dari penderita sebanyak ini sudah ada 6 korban jiwa akibat penyakit DBD yang tersebar merata di 19 kecamatan.

Menurut Johari, pada musim hujan, biasanya merupakan masa berkembang biaknya nyamuk Aedes Aegyptiyang menjadi penyebab serangan DBD. Pada musim hujan, banyak sekali tempat genangan air yang digunakan bertelur nyamuk tersebut. Puncak serangan DBD ini biasanya terjadi pada November hingga Februari tahun depan.

”Terkait dengan kondisi ini, maka kami mengimbau kepada masyarakat untuk menggencarkan upaya pemberantasan sarang nyamuk. Sebab, langkah ini merupakan upaya terbaik untuk menekan serangan DBD,” cetusnya.

Johari menghimbau kepada masyarakat dan dokter praktik swasta, apabila menemukan positif DBD supaya segera melaporkan ke Puskemas atau Dinas Kesehatan. Dengan demikian, pihaknya dapat cepat menindaklanjuti kasus tersebut. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)