Dinkes Kudus Bantah Lamban Lakukan Fogging

Pengurus Fatayat NU Kudus saat menyambangi DPRD Kudus. (Istimewa)

Pengurus Fatayat NU Kudus saat menyambangi DPRD Kudus. (Istimewa)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Terkait pelaksanaan fogging, Maryata, Kepala Dinas Kesehatan Kudus membantah kalau dinasnya lamban. Menurutnya, fogging dilakukan melalui prosedur yang sudah ada. Tidak semua daerah yang ada pasien DBD, harus dilakukan fogging.

”Dalam melakukan fogging, sebelumnya petugas kami pasti akan mengecek lapangan untuk mengetahui apakah daerah tersebut harus dilakukan fogging atau tidak,” katanya.

Menurut Maryata, lantaran fogging tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Jika tidak dilakukan secara benar, fogging bukannya memberantas nyamuk, tapi justru semakin membuat kebal nyamuk sebagai pembawa virus DBD.

Untuk itu, kata Maryata, langkah paling efektif untuk pemberantasan DBD adalah melalui gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Gerakan tersebut harus dilakukan secara massif dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Dirinya meminta agar masyarakat benar-benar memahami penyakit DBD. Kalau memang ada pasien yang meninggal dunia, kemungkinan pada saat diobati pasien tersebut sudah dalam kondisi yang cukup parah.

”Yang perlu dipahami adalah bagaimana pola dari penyakit DBD tersebut. Seperti diketahui DBD memiliki siklus seperti pelana kuda, dimana setelah lima hari, panas pasien akan turun. Pada saat itulah sebenarnya kondisi rawan sedang terjadi,” kata Maryata.

Sementara, Ketua Komisi D DPRD Kudus Mukhosiron menyarankan, untuk bisa memaksimalkan gerakan PSN, Dinas Kesehatan bisa menggandeng ormas-ormas kemasyarakatan yang ada terutama yang berbasis anggota perempuan. ”Dengan melibatkan mereka, tentu upaya pemberantasan DBD bisa semakin massif dan maksimal,” tandasnya.

Editor : Kholistiono
Baca juga : Fatayat NU Nilai Dinkes Kudus Lamban Tangani DBD

Fatayat NU Nilai Dinkes Kudus Lamban Tangani DBD

Pengurus Fatayat NU Kudus saat mengadu ke DPRD Kudus (Istimewa)

Pengurus Fatayat NU Kudus saat mengadu ke DPRD Kudus. (Istimewa)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sejumlah pengurus Fatayat Nahdlatul Ulama Kabupaten Kudus, menggeruduk DPRD Kudus, Rabu (2/3/2016). Kedatangan mereka tersebut untuk mengadukan lambannya Dinas Kesehatan dalam menangani wabah demam berdarah yang terjadi di Kudus yang berakibat adanya pasien DBD yang meninggal dunia.

Ketua Umum Fatayat NU Kudus Karyati Inayah mengungkapkan, pihaknya mendapat keluhan dari anggotanya, dimana anaknya yang terserang DBD akhirnya meninggal dunia. Ironisnya, sang anak meninggal dunia setelah dirawat di rumah sakit.

”Padahal sudah ditangani di rumah sakit, tapi akhirnya meninggal dunia,” kata Karyati saat melakukan audiensi dengan Komisi D DPRD Kudus.

Kondisi tersebut, menurut Karyati tentu cukup memprihatinkan. Apalagi, selama ini respon Dinas Kesehatan untuk mengantisipasi wabah DBD juga dinilai masih minim.

Salah satu contoh adalah persoalan fogging. Meski ada warga yang terserang DBD, namun Dinas Kesehatan ternyata tidak segera melakukan fogging di lokasi tersebut. ”Padahal, warga sudah melaporkan ke dinas, tapi responnya lambat,” ujarnya.

Editor : Kholistiono

DBD Serang 5 Anak di Puskesmas Rendeng Kudus

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Penyakit demam berdarah dengue (DBD) memang tidak bisa dianggap enteng. Sebab penyakit tersebut jika tak tertangani secara serius, bisa menyebabkan kematian.

Puskesmas Rendeng, di Kecamatan Kota, Kudus, adalah salah satu instansi yang kedatangan pasien DBD. Tercatat, sampai sekarang ada lima orang penderita.

Salah seorang petugas Puskesmas Rendeng Kota, Maryani, mengatakan, Puskesmas Rendeng membawahi tujuh desa. Di antaranya yakni Gantengan, Rendeng, Mlati Norowito, Barongan, Kaliputu, Singocandi, dan Burikan. Akan tetapi di antara tujuh desa tersebut ada salah satu desa yang terdeteksi DBD. “Sebanyak 5 orang di satu RW,” kata Maryani, Jumat (26/2/2016).

Diketahui, lima orang itu berasal dari Desa Glantengan. Mereka berasal dari RW 4 Desa Glantengan. Jumlah penderita tersebut merupakan data Januari 2016. Sedangkan untuk data Februari belum dibuat.

Diketahui, warga yang kena DBD masih berusia dibawah usia 17 tahun atau usia pelajar. Rinciannya, usia 5 tahun ada dua anak, 13 tahun satu anak, 15 tahun satu anak dan balita berumur 10 bulan.

Kepala Desa Glantengan Ana Maryati mengatakan, kondisi di RW 4 sudah dilakukan pengasapan pada Kamis (25/2/2016).”Selain itu, kami akan terus mengontrol kebersihan di setiap lingkungan,” tegasnya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :
10 Warga terjangkit DBD, 2 RT di Kaliwungu di Foging 
Nyamuk Penyebab DBD Tak Berani Serang 3 Desa di Kudus Ini 

Ini Cara Mudah Basmi Nyamuk Tanpa Obat

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Nyamuk memang hewan yang menyebarkan penyakit. Bahkan gigitan yang dilakukan dapat membuat seseorang demam, bahkan bisa juga berujung meninggal.

Untuk itu, sebenarnya terdapat cara mudah memberantas nyamuk. Bahkan cara mudah itu adalah dilakukan tanpa mengunakan obat.

“Paling ampuh itu sebenarnya bukan menggunakan obat, melainkan menggunakan Pemberantasan Sarang nyamuk (PSN). Jadi meskipun tanpa obat, tapi nyamuk dapat diberantas dan lebih efektif,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus dokter Maryata kepada MuriaNewsCom.

Cara itu, adalah dengan memutus perkembanganbiakan nyamuk. Jadi, semua genangan air yang tidak langsung terkena tanah, sebaiknya dikontrol dan ditumpahkan. Sebab lokasi itu merupakan lokasi yang paling suka digunakan nyamuk untuk bertelur.

“Cirinya mudah dengan air yang tidak langsung terkena tanah. Coba saja diamati, di sana paling banyak jentik nyamuk,” ujarnya.

Cara pemberantasan sarang nyamuk berupa membasmi genangan air itu, tidak perlu dilakukan tiap hari. Namun maksimal selama sepekan sekali harus ada pengontrolan supaya nyamuk tidak dapat berkembang biak.

Dia mencontohkan seperti tempat minuman burung, daun yang jatuh dan lain sebagainya juga menjadi langganan nyamuk dalam bertelur. Setelah seminggu bertelur, maka telur sudah dapat terbang setelah menjadi jentik dan melompong.

“Kita bayangkan kalau satu nyamuk itu bertelur 1000 telur. Jika ada 10 nyamuk saja, maka berapa nyamuk yang akan berkeliaran. Itu baru 10 ekor lho, bagimana jika lebih,” ungkapnya.

Sedangkan, untuk nyamuk dewasa meski tidak diberantas dipastikan akan mati sendiri. Sebab usia nyamuk, rata rata 14 hari sudah mati.

“Jadi tidak usah diberantas juga bakal mati. Namun lebih baik pula menggunakan obat nyamuk oles, guna mencegah gigitan nyamuk,” imbaunya.

Editor : Akrom Hazami

Baca Juga :
Wah, Fogging Ternyata Bikin Nyamuk Tambah Kebal 

Wah, Fogging Ternyata Bikin Nyamuk Tambah Kebal

Petugas melakukan aktivitas pengasapan nyamuk rutin, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

Petugas melakukan aktivitas pengasapan nyamuk rutin, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Cara pemberantasan nyamuk menggunakan fogging atau pengasapan, ternyata tidaklah ampuh untuk membasmi nyamuk. Sebaliknya, cara demikian malahan hanya membuat nyamuk menjadi kebal dan semakin ganas dalam menyebarkan penyakit.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus dokter Maryata. Menurutnya, Fogging sebenarnya sudah tidak efektif dalam memberantas nyamuk karena bebagai hal.

“Hal itu bukanlah tanpa dasar, namun berbagai penelitian juga sudah dilakukan. Dan hasilnya memang tidak efektif,” katanya kepada MuriaNewsCom

Dengan adanya fogging, maka seluruh tempat akan dipenuhi dengan asap. Hanya, ketika penyemprotan tidak dapat dipastikan kalau asap beracun itu pasti kena nyamuk atau tidak.

Dengan demikian, lanjutnya, maka nyamuk lebih suka bersembunyi. Sehingga asap beracun itu terkadang tidak sampai pada persembunyian nyamuk.

“Hal itulah yang akan menjadikan nyamuk kebal. Sehingga kalau nantinya ada fogging lagi juga meskipun kena, tidak akan mati nyamuk itu,” ujarnya.

Dia mengakui, cara fogging juga tidak sepenuhnya tanpa hasil. Sebab jika penyemprotan langsung terkena nyamuk, maka besar kemungkinan akan mati. Lain halnya jika nyamuk bersembunyi dan bebas dari ancaman semprot.

“Terlebih fogging juga tidak semua bagian, saya yakin petugas hanya penyemprot ruang tamu, keluarga dan kamar saja. Sedangkan untuk kamar mandi dan tempat makan, jarang,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :
Wabah Demam Berdarah Merebak di Kecamatan Winong Pati, Polisi Lakukan Fogging dan Bagikan Abate

Kasus Demam Berdarah di Pati Merebak, Pemkab Gencarkan Fogging

10 Warga terjangkit DBD, 2 RT di Kaliwungu di Foging

Muhtarom, Kadus II Desa Kaliwungu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Muhtarom, Kadus II Desa Kaliwungu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – 10 warga di Dukuh Winong, Kecamatan Kaliwungu terjangkit DBD. Sehingga diadakan upaya pembasmian nyamuk dengan cara foging yang sekaligus dilakukan di dua RT. Yaitu di RT 3 RW 7 dan RT 3 RW 6.

Hal itu diungkapkan Kepala Dusun II Desa Kaliwungu Muhtarom, menurut data yang ia terima ada 10 warga yang terjangkit DBD dan dirawat di Rumah Sakit setempat. Kegiatan foging itu pun dari pemerintah melalui Puskesmas Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu.

”Ada dua RT yang mendapatkan jatah, sehingga pagi tadi dilakukan penyemprotan dan pembasmian nyamuk,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, dengan jumlah penderita yang banyak itu, seharusnya penyemprotan juga dapat dilakukan menyeluruh di satu dukuh. Hal itu juga yang menjadi harapan pihak desa serta masyarakat di dukuh tersebut.

Sebelum dilakukan penyemprotan, petugas dari Puskesmas melakukan pendataan. Dari tinjauan lapangan yang dilakukan, di daerah tersebut terdapat yang mengidap penyakit DBD, sehingga dilakukan penyemprotan di daerah tersebut. ”Ya bagaimana lagi, jatah hanya dua. Sebenarnya usulan sudah diusulkan namun hanya dapat dua RT saja,” ungkapnya.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Dokter Maryata mengungkapkan, cara melakukan Foging adalah sejauh 100 meter dari penderita yang ditentukan oleh ahli. Atau jika sulit menentukan radius, maka dapat dilakukan dengan mengukur jarak dari 20 rumah penderita.
”Sebab nyamuk tersebut tidak dapat terbang melebihi 100 meter. Jadi kalau ada ya sudah cukup untuk membasmi,” ujarnya.

Selain itu, penyemprotan juga silahkan pada pagi hari. Sebab nyamuk itu melakuan aktivitas pada pagi hari juga. Jadi lebih efektif pada pagi hari. Berdasarkan data yang diterima, penderita DBD tidak terlalu banyak. Sebab data yang dimiliki adalah sejumlah 56 penderita dalam Januari lalu. Itu pun jumlah se Kudus.

Editor : Titis Ayu Winarni

PMI Kudus Kewalahan Penuhi Permintaan Darah

Salah seorang warga terlihat mendonorkan darahnya (MuriaNewsCom)

Salah seorang warga terlihat mendonorkan darahnya (MuriaNewsCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Palang Merah Indonesia (PMI) Kudus kesulitan memenuhi permintaan darah masyarakat yang mencapai kisaran 1.500 kantong darah/bulan. Apalagi, permintaan darah mengalami peningkatan karena penyakit demam berdarah dengue (DBD).

“Jadi tiap bulan, darah yang terkumpul sampai 1.500 kantong. Namun untuk di Kudus ini, ternyata  butuh lebih banyak dari itu, bahkan untuk sekarang juga malah kurang, karena kehabisan,” kata dokter fungsional PMI Kudus Elok Milhana kepada MuriaNewsCom.

Untuk memenuhi kebutuhan darah, katanya, PMI juga gencar melakukan aksi donor darah. Dengan cara tersebut,  diharapkan kebutuhan darah di Kudus dapat terpenuhi.

Selain itu, masyarakat juga diminta untuk rutin mendonorkan darahnya, sehingga stok darah di PMI juga dapat terpenuhi sesuai dengan banyaknya kebutuhan darah.

“Biasanya kami melakukan kerja sama dengan sekolah-sekolah, perusahaan,pabrik atau kampus. Atau,terkadang juga kami melakukan kerja sama dengan ormas dan organisasi lainya,” ujarnya.

Editor : Kholistiono

Nyamuk Penyebab DBD Tak Berani Serang 3 Desa di Kudus Ini

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Maraknya penyakit DBD di Kudus, ternyata tidak menyerang semua wilayah di Kudus. Seperti tiga desa di Kudus ini misalnya, selama tiga tahun berturut turut. Desa tersebut tidak pernah ada yang terjangkit penyakit yang disebabkan dari nyamuk.

Hal itu diungkapkan Kepala DKK Maryata. Menurutnya, hal membanggakan datang dari ketiga desa itu, ketiganya tercatat tidak ada yang terjangkit DBD.

“Desa itu adalah di Desa Kedungsari Kecamatan Gebog, Desa Krandon Kecamatan Kota dan Desa Piji Kecamatan Dawe. Selama tiga tahun dari 2013,2014 dan 2015 tidak ada yang terjangkit DBD,” katanya kepada MuriaNewsCom

Hal itu diperoleh, lantaran desa tersebut rajin memelihara kesehatan lingkungan. Sehingga tidak memberikan kesempatan nyamuk yang suka berpindah pindah tempat menggigit sehingga menyebabkan demam.

Sedangkan untuk wilayah yang paling banyak terserang DBD selama tiga tahun adalah Kecamatan Kota, Kecamatan Bae dan Kecamatan Jati.

Kondisi kebersihan lingkungan jelas memegang peranan penting dalam mengurangi jentik nyamuk. Cara itu juga, dianggap lebih ampuh ketimbang cara Foging, karena jika dosis tidak pas akan membuat nyamuk menjadi kebal.

Bukan hanya lingkup pemerintahan saja yang melakukan, namun setiap Jumat juga dilakukan kebersihan massal hingga tingkat desa, tingkat sekolah dan tiap rumah.

Editor : Akrom Hazami

3 Bocah yang Tinggal di 1 RT di Kaliwungu Kudus Terserang DBD

 Ilutrasi

Ilutrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Tingginya kasus DBD yang terjadi di Kecamatan Kaliwungu, Kudus, tidak hanya teradi pada 2015 lalu. Terbaru, ditemukan tiga bocah yang masih tinggal di satu RT diketahui terserang DBD.

Kondisi ini terjadi di RT 2 RW 6 Dukuh Winong, Desa/Kecamatan Kaliwungu, Kudus. Tiga anak yang diketahui terserang DBD adalah Putra (3) Fika (2) dan Afi (7). Ketiganya harus dilarikan ke rumah sakit, lantaran kondisinya memerlukan penanganan medis dengan cepat.

Munir, orang tua dari Putra menuturkan, gejala demam tinggi sebelumnya sempat terjadi pada anaknya. Melihat kondisi anaknya demikian, dirinya kemudian membawa ke Puskesmas Sidorekso, Kaliwungu. Namun, sesampainya di puskesmas, anak itu sudah tidak sadarkan diri dan puskesmas memberikan rujukan untuk dirawat di RSI.

“Tidak tahu kenapa semacam ini. Sebelumnya tidak pernah mengalami demam yang parah seperti ini. Bahkan tidak hanya anak saya saja yang kena, ada dua anak lagi juga dilarikan ke rumah sakit karena DBD,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Ia katakan, sebenarnya di RT lain juga ada anak yang juga masuk rumah sakit karena DBD. “Lokasinya tidak jauh dari rumah kami,” imbuhnya.

Dia berharap agar pemerintah dapat melakukan pengasapan di wilayahnya, agar nyamuk dapat dibasmi. Dengan begitu, tidak ada lagi anaka yang terkena DBD. “DuLu itu ada semacam itu, tapi sudah lama sekali, waktu saya masih kecil dulu,” pungkasnya.

Baca juga : Selama 2015, Kasus DBD Tertinggi Terdapat di Kaliwungu Kudus

Editor : Kholistiono

Selama 2015, Kasus DBD Tertinggi Terdapat di Kaliwungu Kudus

Ilustrasi Demam berdarah

Ilustrasi Demam berdarah

 

MuriaNewsCom, Kudus – Selama 2015 lalu, tercatat di sembilan kecamatan yang ada di Kabupaten Kudus ditemukan kasus demam berdarah dengue (DBD). Namun, dari sembilan kecamatan, yang paling banyak kasus DBD terdapat di Kecamatan Kaliwungu.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Maryata melalui Kasi Pencegahan Penyakit dan Kejadian Luar Biasa (KLB) Subiyono mengatakan, berdasarkan data dari masing-masing puskesmas, temuan kasus DBD terbanyak terjadi di wilayah Puskesmas Kaliwungu sebanyak 73 kasus. Jumlah itu jauh lebih banyak dibandingkan dengan kecamatan lainnya yang berkisar antara 14-45 kasus.

“Tingginya temuan kasus DBD di Kaliwungu, salah satunya diduga karena banyaknya industri yang menjadi tempat berkumpulnya banyak orang. Ketika salah satu orang terserang DBD, biasanya mudah menular ke warga lainnya,”katanya.

Menurutnya, selama 2015 terdapat 600 warga Kudus yang menderita DBD. “Penyakit DBD yang disebabkan dari gigitan nyamuk, memamg tergolong susah-susah gampang. Meski demikian, dapat diupayakan untuk menangani kasus nyamuk tersebut,” imbuhnya.

Katanya, upaya pencegahan penyebaran penyakit DBD sudah berulang kali dilakukan, termasuk adanya gerakan pemberantasan sarang nyamuk dengan cara pengurasan bak mandi atau penampungan air, menutup bak penampung air, dan mengubur barang bekas yang berpotensi menampung air hujan agar tidak dijadikan tempat untuk berkembangbiak jentik nyamuk.

Editor : Kholistiono

Tahu Nggak Sih? Obat Nyamuk Oles Dapat Cegah DBD

Ilustrasi

Ilustrasi

 

KUDUS – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kudus tergolong tinggi. Bahkan,selama 2015 ini, setidaknya ada 600 warga yang terkena DBD.

Untuk mengantisipasi tingginya angka DBD, sebenarnya ada beberapa cara, salah satunya adalah dengan obat nyamuk oles. Obat nyamuk jenis ini, ternyata mampu meminimalisasi adanya gigitan nyamuk.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Maryata melalui Kasi Pencegahan Penyakit dan Kejadian Luar Biasa (KLB) Subiyono mengatakan, penyakit yang disebabkan dari nyamukjenis Aedes aegypti itu membawa virus dengue dan bisa menyebabkan demam berdarah.

“Nyamuk jenis itu berbeda dengan lainnya. Dia suka berkeliling rumah untuk kemudian mencari sasaran untuk digigit. Tidak hanya itu, dia juga langsung pergi ke lokasi lain untuk menggigit lagi dan menetap dalam radius 100 meter,” katanya kepada MuriaNewsCom

Dengan obat nyamuk oles, lanjut nya, maka akan membantu mengaburkan bau yang disukai nyamuk. Nyamuk biasanya menghampiri seseorang untuk digigit dari bau badan yang keluar. Seperti halnya keringat tubuh.

Maka dari itu, dengan obat nyamuk oles dapat mengaburkan bau, sehingga nyamuk tidak menghampiri dan menggigit. Cara itu dapat membantu dalam menghindari gigitan nyamuk.

“Umumnya nyamuk itu berada dalam lokasi kotor, namun nyamuk aedes aegypti pembawa virus dengue lebih senang dengan lokasi yang bersih. Bahkan air juga suka air yang bersih,” ujarnya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Innalillahi, 17 Warga Kudus Tewas Diserang Penyakit Ini

Ilustrasi DBD

Ilustrasi DBD

 

KUDUS – Kasus DBD di Kudus, termasuk dalam kategori tinggi. Bukan hanya jumlahnya saja yang sangat banyak yakni 600 kasus, namun juga akibat dari penyakit itu sampai membuat 17 warga meninggal.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Maryata melalui Kasi Pencegahan Penyakit dan Kejadian Luar Biasa (KLB) Subiyono. Menurutnya, jumlah yang meninggal juga tinggi, tercatat hingga 17 orang yang meninggal akibat gigitan nyamuk.

“Kalau kasus kematian DBD, terjadi sepanjang bulan pada semester I tahun 2015 yakni Januari hingga Juni. Sedangkan Semester II Juli hingga Desember tidak terjadi,” katanya kepada MuriaNewsCom

Menurutnya, temuan kasus DBD terbanyak terjadi di wilayah Puskesmas Kaliwungu sebanyak 73 kasus, sedangkan puskesmas lainnya berkisar antara 14-45 kasus. Jumlah itu didapat berdasarkan data dari masing-masing puskesmas.

Tingginya temuan kasus DBD di Kaliwungu, salah satunya diduga karena banyaknya industri yang menjadi tempat berkumpulnya banyak orang.

“Biasanya, ketika terdapat satu orang terserang DBD, biasanya mudah menular ke warga lainnya. Jaraknya bisa mencapai 100 meter,” ujarnya.

Meskipun demikian, lanjutnya, masih banyak faktor lain yang bisa memicu banyaknya kasus DBD di daerah tertentu. Seperti adanya banyak kubangan air yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

Upaya pencegahan penyebaran penyakit DBD, sudah berulang kali dilakukan, termasuk adanya gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan cara pengurasan bak mandi atau penampungan air, menutup bak penampung air, dan mengubur barang bekas yang berpotensi menampung air hujan agar tidak dijadikan tempat untuk berkembang biak jentik nyamuk yang dimungkinkan membawa virus DBD.

Cara lain dalam penanganan adalah dengan penanaman tanaman bunga lavender dengan media pot bunga juga perlu digalakkan karena bisa mengusir nyamuk di dalam rumah.

Dia mengimbau hindari kebiasaan menanggalkan pakaian di pintu atau gantungan pakaian setelah dipakai karena bau keringat yang menempel di pakaian disenangi nyamuk. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Tragis, 600 Warga Kudus Kena DBD

Ilustrasi DBD

Ilustrasi DBD

 

KUDUS – Kasus penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kudus, semakin banyak. Bahkan, di 2015 ini masyakat yang megalami penyakit DBD mencapai 600 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Maryata melalui Kasi Pencegahan Penyakit dan Kejadian Luar Biasa (KLB) Subiyono mengatakan, jumlah penderita sangat banyak. selama Januari-Desember 2015 tercatat sebanyak 600 kasus atau mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya hanya 438 kasus.

“Tiap tahun mengalami tren yang selalu meningkat. Bahkan, selama empat tahun terakhir, kasus tertinggi merupakan tahun ini. Tercatat 2013 hanya 501 kasus dan tahun 2012 hanya 360 kasus,” katanya kepada MuriaNewsCom

Menurutnya, meski 2015 terbanyak, namun jika dibuat hitungan bulan kasus DBD terbanyak pada awal tahun 2015. Sedangkan kasus itu mengalami penurunan pada kisaran Mei dan Juni.

Berdasarkan data DKK, awal 2015, kasus yang muncul mencapai 112 kasus, kemudian Februari 2015 meningkat menjadi 117 kasus, kemudian turun menjadi 62 kasus, sedangkan April 2015 naik menjadi 106 kasus dan bulan berikutnya hingga Desember 2015 mengalami penurunan. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)