Gawat, Belasan Warga Welahan Jepara Terserang DBD

Salah satu korban DBD sedang menjalani perawatan di rumah sakit (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Salah satu korban DBD sedang menjalani perawatan di rumah sakit (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

MuriaNewsCom, Jepara – Belasan warga Desa Welahan, Kecamatan Welahan, Jepara terserang penyakit demam berdarah dengue (DBD). Di antara mereka kini dirawat intensif di RSI Sunan Kudus.

Salah seorang warga RT 02 RW 04 desa setempat, Gupomo (35) membeberkan, Istrinya Faizah, dan putrinya Safa Wahyu Nofita saat ini menjalani perawatan di RSI Sunan Kudus. Masing-masing mulai masuk ke rumah sakit pada Rabu (22/6/2016) dan Kamis (23/6/2016) malam.

“Ada banyak yang sudah terkena DB, kalau 10 orang lebih. Ada yang dirawat di Puskesmas Welahan, dan di rumah sakit. Putri saya saat ini masih dirawat di ICU. Sebelumnya sudah dirawat Puskesmas Welahan,” ujar Gupomo kepada MuriaNewsCom, Senin (27/6/2016).

Menurutnya, kondisi tersebut sudah terjadi sejak sebulan terakhir. Diyakini, jumlah itu lebih banyak, sebab kemungkinan di RT dan RW lain juga ada yang terkena. Ia berharap, pemerintah segera melakukan tindakan yang seperlunya. Jika diperlukan, maka hendaknya dilakukan pengasapan (fogging).“Saya khawatir dengan informasi yang beredar, bahwa fogging atau tindakan darurat lain baru akan dilakukan jika ada korban jiwa,” jelasnya.

Ia menambahkan, sebelumnya pernah terjadi fenomena tersebut di sekitaran tempat tinggalnya. Ia menduga, DB yang menyerang sejumlah warga akibat nyamuk yang diketahui banyak muncul belakangan ini.

Editor : Kholistiono

 

Triwulan Pertama ada 241 Kasus DBD di Jepara

Pasien DBD dirawat di Puskesmas Batealit. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz zaman)

Pasien DBD dirawat di Puskesmas Batealit. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara  –  Triwulan pertama tahun ini, tercatat ada 241 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD). Dua penderita di antaranya meninggal dunia. Jumlah tersebut diklaim menurun, jika dibanding tahun lalu pada kurun waktu yang sama.

Hal itu dikatakan Asisten II Setda Jepara, Edy Sudjatmiko. Menurutnya, dengan jumlah tersebut, terjadi penurunan jumlah kasus DBD di Kabupaten Jepara. Terlebih saat ini siklus masa kritis penularan DBD sudah terlewati.

”Tahun ini kasus DBD mengalami penurunan. Jika triwulan pertama tahun lalu mencapai ribuan, saat ini hanya 241. Sedangkan total kasus DBD selama 2015 berjumlah 1.428 dengan 11 orang meninggal,” terang Edy.

Menurut dia, siklus masa kritis penularan DBD sudah terlewati. Yakni pada saat musim hujan sejak awal tahun hingga Maret. Diyakini, jumlah tersebut tidak akan lagi bertambah secara siginifikan.

”Keberhasilan penurunan angka DBD tahun ini lantaran gencarnya gerakan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk). Salah satunya melalui 3 M serta kesadaran masyarakat melalui PHBSI (Pola Hidup Bersih, Sehat dan Indah)” ungkapnya.

Dia menambahkan, hal ini pula membuktikan tingkat kebersihan lingkungan sangat erat kaitannya dengan kesehatan masyarakat. Hanya saja, dia juga tak memungkiri jika penurunan kasus DBD juga karena faktor cuaca yang sangat mendukung.

”Curah hujan yang turun tidak terus menerus, sehingga tidak banyak air genangan sebagai sumber kehidupan dan berkembang biaknya nyamuk Aedes Aegipty,” imbuhnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Kasus Tinggi, Puskesmas Batealit Jepara Bagikan Abate dan Penyuluhan DBD

Beberapa pasien DBD dirawat di Puskesmas Batealit, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Beberapa pasien DBD dirawat di Puskesmas Batealit, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Selain mencanangkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara serentak. Petugas kesehatan dari Puskesmas Batealit juga membagikan ratusan bungkus abate. Pembagian abate ini dilakukan seiring meningkatnya jumlah penderita demam berdarah dengue (DBD), khususnya di Desa Ngasem, Kecamatan Batealit.

Salah seorang petugas Puskesmas, Agus mengatakan, pembagian abate tersebut memang untuk menekan angka penderita penyakit BDB yang mulai marak. Selain membagi abate, pihaknya juga melakukan penyuluhan langsung pada masyarakat. Khususnya masyarakat di sekitar pasien yang dilaporkan terkena DBD.

Baca juga : Tingginya Jumlah Pasien DBD, Kecamatan Batealit Jepara Canangkan PSN

”Yang perlu diperhatikan juga tingkat kesadaran masyarakat tentang kesehatan dan kebersihan lingkungan. Sehingga kami juga memberikan penyuluhan,” kata Agus, Jumat (5/2/2016).

Menurut dia, dalam kegiatan ini, sejumlah lokasi strategis juga lain didatangi. Salah satunya di Ponpes Manba’ul Ulum yang berada di wilayah setempat. Terlebih, salah satu anak dari pengurus pesantren ada yang sempat dirawat karena gejala DBD.

”Kebetulan ada yang terkena DB, jadi sekaligus kami lakukan penyuluhan langsung di sini,” katanya.
Agus menyatakan, sampai kemarin tercatat ada 25 warga Kecamatan Batealit yang terserang DB. Dari jumlah itu, 15 di antaranya berada di Desa Ngasem. ”Itu jumlah yang tercatat di Puskesmas kami,” tuturnya.

Sementara mengenai pasien meninggal dunia, Agus menjelaskan, hanya ada satu pasien dari Desa Bawu. Sedangkan di Desa Ngasem sendiri beberapa waktu lalu ada yang dilaporkan meninggal karena DB, namun setelah ditelusuri lebih lanjut ternyata meninggal karena infeksi lambung.

Baca juga :

Jumlah Penderita DBD di Jepara Mengalami Tren Peningkatan di Tri Wulan Pertama

Pasien DBD di Pati Meningkat, Permintaan Darah Meningkat Seratus Persen

Ini Langkah DKK Blora Antisipasi Melonjaknya Kasus DBD

Editor : Titis Ayu Winarni

Tingginya Jumlah Pasien DBD, Kecamatan Batealit Jepara Canangkan PSN

Seorang warga Desa Ngasem, Kecamatan Batealit memberikan bubuk abate ke bak mandinya. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Seorang warga Desa Ngasem, Kecamatan Batealit memberikan bubuk abate ke bak mandinya. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Wilayah Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara mencanangkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara serentak. Hal ini seperti yang dilaksanakan di Desa Ngasem, Kecamatan Batealit. Tingginya pasien demam Berdarah Dengue (DBD) akibat nyamuk Aides Aegepty di Kecamatan Batealit, membuat tim gerak cepat penanggulangan DBD melakukan kegiatan PSN yang berlokasi di Desa Ngasem.

”Kesadaran warga untuk menjaga kebersihan dan lingkungan yang kumuh menjadikan Desa Ngasem dipilih menjadi tempat dilaksanakannya kegiatan ini, karena di desa ini endemik penderita DBD paling banyak se Kecamatan Batealit,” ujar Camat Batealit Bambang Lelono, Jumat (5/2/2016).

Menurutnya, khusus di Desa Ngasem terdapat 15 pasien DBD. Harapannya, kepada masyarakat gerakan PSN ini adalah menjadi suatu kebutuhan sehingga lingkungan akan terhindar dari penyebaran nyamuk. Kegiatan yang dilaksanakan oleh Puskesmas Batealit, Muspika, Koramil, Babinkamtibmas Polsek, serta seluruh warga Desa Ngasem tersebut dapat memotivasi warga agar lebih peduli terhadap lingkungan dan kesehatan.

Selain mencanangkan PSN dengan berbagai kegiatannya, warga juga melaksanakan kerja bakti membersihkan lingkungan di RT seluruh Desa Ngasem. Salah seorang warga, Purnadi mengatakan, dengan adanya penyuluhan dan pemberian bubuk abate diharapkan biar lebih baik dan ada perubahan sehingga demam bardarah dapat diminimalisir.

Untuk data penderita DBD dari Kecamatan Batealit hingga akhir Januari sebanyak 25 pasien, meninggal 1 orang anak usia 11 tahun. Setiap hari tidak kurang dari 7 pasien DBD datang ke puskesmas, karena keterbatasan langsung dirujuk ke rumah sakit terdekat. Dr Rendra Riantoni ketua tim gerak cepat penanggulangan DBD puskesmas Batealit mengatakan, bukan hanya anak-anak melainkan orang dewasapun banyak yang terjangkit DBD.

Baca juga :

Jumlah Penderita DBD di Jepara Mengalami Tren Peningkatan di Tri Wulan Pertama

Pasien DBD di Pati Meningkat, Permintaan Darah Meningkat Seratus Persen

Ini Langkah DKK Blora Antisipasi Melonjaknya Kasus DBD

Editor : Titis Ayu Winarni

Ada 56 Kasus Demam Berdarah di Jepara, DKK Tetap Gencarkan Sosialisasi PSN

(ISTIMEWA)

(ISTIMEWA)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Memasuki bulan Februari ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara melalui Dinas Kesehatan setempat mendapatkan laporan dari rumah sakit dan Puskesmas jika sudah ada 56 kasus warga Jepara yang terkena demam berdarah dengue (DBD). Jumlah tersebut terbilang kecil jika dibanding tahun lalu, yang ada sekitar 200 kasus.

”56 kasus DBD itu selama Januari 2016 kemarin. Dibanding tahun 2015 lalu di bulan Januari menurun, karena tahun lalu mencapai 200 kasus,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Jepara dr Dwi Susilowati melalui Kabid Kesehatan Masyarakat Mudrikatun kepada MuriaNewsCom, Selasa (2/2/2016).

Menurutnya, selain menurun dibanding tahun lalu. Sampai saat ini juga belum ada satu wilayah yang endemis DBD. Hal itu tidak terlepas dari upaya untuk menekan kasus DBD yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun masyarakat.

”Pengalaman tahun lalu memang menjadi bahan evaluasi. Sehingga kami sudah melakukan antisipasi sejak Oktober tahun lalu,” terang Mudrikatun.

Dia menjelaskan, antisipasi yang dimaksud adalah dengan gencar melakukan sosialisasi pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Baik oleh internal DKK maupun lintas instansi. Gerakan Jumat bersih diarahkan tidak hanya sekadar menyapu lingkungan tapi juga gerakan menguras, menutup, dan mengubur (3M). Antisipasi ini penting selain Jepara memiliki riwayat buruk DBD, juga karena potensinya besar.

”Tidak hanya rawan di lingkungan masyarakat biasa, tapi di lingkungan industri. Seperti sisa limbah kayu maupun kaleng bekas bahan baku industri,” kata dia.

Editor : Titis Ayu Winarni

10 Warga Jepara Meninggal Diserang DBD

Acara pencanangan Gertak PSN-DBD di Desa Mulyoharjo Kecamatan Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Acara pencanangan Gertak PSN-DBD di Desa Mulyoharjo Kecamatan Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Pada akhir tahun ini Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Jepara mencatat 1.397 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dan 10 orang meninggal dunia.

Kepala DKK Jepara Dwi Susilowati mengemukakan, kondisi cuaca Jepara sekarang yang kadang hujan dan kadang panas, menyebabkan jentik nyamuk Aedes Agepty cepat berkembang.

“Saat ini cuaca tak menentu, kadang hujan kadang panas, faktor seperti ini salah satu yang membuat berkembangnya Nyamuk demam berdarah (Aedes aegypti), jadi perlu antisipasi secara dini,” ujar Susi, Jumat (11/12/2015).

Susi mengaku, untuk menekan tingginya angka kasus DBD, pihaknya melakukan Gerakan Serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (Gertak PSN – DBD). Pihaknya juga mengajak kepada masyarakat untuk selalu melaksanakan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) untuk bisa diterapkan dalam rumah tangga.

Sementara itu, melalui gerakan yang diinisiasi oleh DKK Jepara dan Tim Penggerak PKK itu, Wakil Bupati Jepara Subroto optimistis kasus DBD di Kabupaten Jepara yang akhir – akhir ini menunjukkan tren peningkatan dapat ditekan seminim mungkin.

Subroto meminta dengan tegas kepada para kader PKK mulai dari Kabupaten hingga Desa, benar-benar serius menyosialisasikan upaya-upaya untuk mematikan jentik-jentik Aedes Aegypti kepada seluruh elemen masyarakat, agar angka penderita DBD tak lagi bertambah. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)