Kolaborasi Dalang Cilik dan Sinden Bule dari Hungaria Bikin Heboh Warga Tarub Grobogan

Aksi dalang cilik Cannavaro dan sinden dari Hungaria Agnes Serfozo bikin meriah pagelaran wayang kulit di Balaidesa Tarub, Kecamatan Tawangharjo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pagelaran wayang kulit di Balai Desa Tarub, Kecamatan Tawangharjo, Grobogan, Minggu (27/8/2017) malam hingga Senin (28/8/2017) dini hari berlangsung meriah dan spesial.

Hadirnya dua bintang tamu membuat suasana pagelaran wayang kulit makin heboh dan membikin puas ratusan penonton.

Dua bintang tamu itu adalah larasati atau sinden dari luar negeri. Yakni, Agnes Serfozo yang berasal dari Hungaria.

Meski bukan orang Jawa, namun suara perempuan yang akrab dipanggi Aggy ini tidak kalah dengan tiga sinden lainnya. Bahkan, banyak penonton yang sempat tak percaya jika salah satu pelantun gending atau tembang dalam pagelaran itu adalah orang manca negara.

Penampilan Aggy malam itu memang seperti tiga sinden lainnya. Yakni, memakai jarit dan kebaya biru serta mengenakan konde.

“Saya mengucapkan terima kasih sudah diberikan kesempatan tampil di Desa Tarub. Saya merasa senang karena dapat sambutan hangat dari masyarakat sini,” ungkap Aggy dalam bahasa Jawa yang disampaikan dengan sangat fasih.  

Satu bintang tamu lainnya adalah dalang cilik Ahmad Cannavaro Heriyanto yang usianya baru 8 tahun.

Dalang cilik Cannavaro yang saat ini masih duduk kelas III SDN 02 Bandungsari, Kecamatan Ngaringan, tampil sebagai dalang pembuka pagelaran.

Putra Kades Bandungsari Ledy Heriyanto itu tampil sekitar satu jam, mulai pukul 20.30 WIB. Meski usianya baru 8 tahun, namun penampilannya sempat mengundang decak kagum para penonton.

Pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan dalang utama Ki Supandi Sudarsono itu memainkan lakon ‘Brojodento Mbalelo’. Dalam pagelaran wayang ini, penabuh gamelan dibawakan oleh anggota Karang Taruna Eka Bakti Desa Bandungsari.

Pentas kesenian tradisional itu juga disaksikan oleh dua orang asing. Yakni, Joana Marcao dari Portugal dan Kozumoto dari Jepang. Keduanya sudah berada di Desa Tarub selama sepekan dalam kapasitasnya sebagai sukarelawan lembaga sosial yang peduli dengan masalah HIV/AIDS.

Saat sesi goro-goro atau guyonan, Joana bahkan sempat didaulat untuk menyanyi sebuah lagu Jawa bertitel ‘Suwe Ora Jamu’. Saat menyanyi, logat Joana yang belum begitu fasih berbahasa Jawa itu tak ayal mengundang gelak tawa para penonton.

Kepala Desa Tarub Ali Maskuri mengaku sangat puas dengan jalannya pentas kesenian tradisional tersebut. Menurut Ali, pentas kali ini dirasakan paling meriah dibandingkan acara serupa tahun-tahun sebelumnya.

“Pagelaran wayang kulit ini diadakan dalam rangka memperingati HUT RI. Hadirnya Adik Cannavaro dan Mbak Aggy memang membuat pagelaran wayang malam ini jadi beda dari biasanya,” jelasnya.

Editor : Ali Muntoha

Cannavaro, Bocah 7 Tahun di Grobogan yang Mahir Jadi Dalang Wayang Kulit

Cannavaro sedang serius latihan mendalang wayang kulit di rumahnya. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Cannavaro sedang serius latihan mendalang wayang kulit di rumahnya. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Meski belum tenar, namun di Grobogan ternyata punya seorang dalang cilik yang punya talenta mumpuni. Usianya baru 7 tahun dan saat ini masih kelas II di SDN 01 Bandungsari, Kecamatan Ngaringan. Namanya, Ahmad Cannavaro Heriyanto.

Meski masih belia, namun Cannavaro sudah pernah pentas jadi dalam beberapa kali. Seperti saat ada acara hajatan di Ngawen, Blora. Kemudian, pentas acara 17 Agustusan di Desa Tahunan, Kecamatan Gabus, Desa Kalangdosari, Kecamatan Ngaringan dan pernah sampai Karangawen, Demak.

Dalam pentas itu, Cannavaro memang tidak tampil jadi dalang utama lantaran usianya masih kecil. Tetapi jadi tampil sebagai selingan dalang utamanya. Meski demikian, penampilannya sempat mengundang decak kagum para penonton.

“Cannavaro ini tampilnya selalu tengah malam. Yakni, selepas sesi goro-goro (guyonan). Karena kemampuan utamanya saat ini masih pada sesi sabetan atau perang. Selama ini, dia tampil maksimal hanya sekitar 2 jam saja. Di samping itu, saat ada kegiatan pramuka, Cannavaro juga sempat diminta pentas,” kata Ledy Heriyanto, ayah Cannavaro.

Pada awalnya, Heriyanto sempat tidak setuju ketika anak keduanya itu menggeluti dunia wayang. Sebab, sejak semula, dia berharap agar Cannavaro nantinya bisa jadi pemain bola.

Makanya, dia sengaja memberikan nama tengah Cannavaro pada anaknya yang lahir pada 9 Februari 2009 itu. Sebab, dia berharap suatu saat nanti, anaknya bisa jadi pesepakbola handal seperti pemain idolanya Fabio Cannavaro.

“Anak saya ini dengan masalah sepak bola malah tidak suka sama sekali. Senangnya malah sama karawitan dan wayang kulit. Padahal, saya berharap dia bisa main bola kayak bapaknya,” kata Kepala Desa Bandungsari itu sembari tertawa.

Lantaran dinilai cukup berbakat, Heriyanto akhirnya luluh dan mendukung kemauan Cannavaro. Agar kemampuannya lebih terarah, Heriyanto pun mengundang guru dalang privat. Yakni, dalang dan seniman Sri Danang Joyo yang kebetulan tinggalnya masih satu desa.

Tidak hanya itu, untuk sarana latihan, Heriyanto juga membuatkan tempat latihan ndalang sederhana dirumahnya. Seperangkat gamelan dan 30 wayang kulit juga sudah dibelikan buat sarana latihan Cannavaro.

“Biaya untuk mengembangkan bakat Cannavaro ndalang ini ternyata lumayan banyak. Kalau dibelikan sapi mungkin dapat beberapa ekor. Tetapi, bagi saya tidak masalah. Yang penting ini positif dan anak juga senang,” kata pria yang lebih suka dipanggil Heri Codhot itu.

Kesukaan Cannavaro terhadap wayang ternyata sudah semenjak umur 3 tahunan. Hal ini berawal ketika bocah ini minta dibelikan sebuah wayang kertas yang dijual pedagang keliling di acara pengajian.

Setelah sampai rumah, Cannavaro kemudian memainkan wayang tersebut di dinding rumah yang terbuat dari kayu. Dari sinilah, Cannavaro kemudian sering beli wayang dan dimainkan di rumah.

“Dari sinilah, saya kemudian buatkan tempat latihan. Ada geber dari kain putih sepanjang 2 meter dan gedebog pisang yang tiap dua minggu saya ganti baru. Di samping itu, ketika ada pagelaran wayang di Purwodadi biasanya saya ajak Cannavaro nonton,” sambung suami Tatik Sumiyati itu.

Bakat yang dimiliki Cannavaro itu terkadang sempat bikin Heriyanto heran. Soalnya, dari garis keturunannya maupun pihak istri tidak ada yang jadi dalang. Anak pertamanya, Hera Oktaviani yang saat ini kelas I MTs di Pati juga tidak punya bakat dalam bidang seni.

Hanya saja, Heriyanto dan orang tuanya memang gemar dengan kesenian tradisional tersebut. Mereka sering melihat pagelaran wayang atau sekadar mendengarkan siaran dari radio.

Meski sudah pintar memainkan wayang dan berani pentas, ada satu kendala yang saat ini dimiliki Cannavaro. Yakni, bicaranya belum begitu lancar sehingga belum bisa memainkan wayang sambil diisi dialog panjang.

Dari pentas dalang yang dijalani selama ini, Cannavaro ternyata sudah dapat honor. Namun, nilainya tidak besar dan honornya ditabung oleh Cannavaro.“Uangnya saya tabung. Nanti kalau sudah banyak mau tak belikan kambing dan beli wayang,” kata bocah itu polos.

Editor : Kholistiono