Bupati Grobogan Minta CSR Perusahaan Juga untuk Bangun Infrastruktur

Bupati Grobogan Sri Sumarni menyerahkan bantuan paket gizi untuk siswa SD di Kecamatan Godong. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bupati Grobogan Sri Sumarni meminta agar perusahaan yang ada di wilayahnya bisa menyisihkan sebagian dana Corporate Social Responsibility (CSR) untuk mendukung pembangunan infrastruktur.

Hal itu disampaikan Sri Sumarni saat menghadiri acara Japfa4Kids yang diselenggarakan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk unit Grobogan, yang dilangsungkan di obyek wisata Api Abadi Mrapen, Rabu (30/8/2017).

Menurut Sri, upaya yang dilakukan PT Japfa sejauh ini dinilai sudah cukup bagus. Yakni, berkomiten terhadap dunia pendidikan dan penambahan gizi siswa SD dari alokasi dana CSR.

Meski demikian, ia berharap agar sebagian dana CRS bisa disalurkan untuk pekerjaan fisik. Misalnya, mendukung perbaikan jalan kampung, membuat taman bermain anak-anak dan bedah rumah tidak layak huni.

“Harapan saya, dana CSR perusahaan bisa disalurkan untuk kegiatan fisik. Terutama, di wilayah tempat perusahaan itu berdiri. Jika ini dilakukan maka ada manfaat langsung yang akan dirasakan masyarakat di sekitar perusahaan,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, dilakukan pula acara penyerahan berbagai bantuan pada sekolah dan siswa. Antara lain, paket gizi, pelengkapan P3K, alat pengukur tinggi dan berat badan. Selain itu, acara juga dimeriahkan gebyar budaya, lomba masak, lomba catur dan pemeriksaan kesehatan.

Editor : Ali Muntoha

Investor Diminta Majukan Pati Melalui CSR dan Rekrutmen Tenaga Kerja Lokal

uplod jam 17

Bupati Pati Haryanto bersama para calon investor di Pati tengah menjadi narasumber dalam Dialog Investasi di Pasar Pragola. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Bupati Pati Haryanto mengajak para investor di Pati untuk memajukan daerah melalui corporate social responsibility (CSR) dan rekrutmen tenaga kerja lokal. Hal itu diharapkan agar perusahaan di Pati bisa meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

“Kami mengajak kepada para investor dan calon investor di Pati untuk bisa memajukan daerah dengan CSR yang proporsional, termasuk rekrutmen tenaga kerja lokal. Dengan demikian, keberadaan perusahaan di Pati memberikan manfaat dan kesejahteraan bagi warga,” ujar Haryanto, Selasa (26/4/2016).

Dalam dialog investasi yang digelar di Pasar Pragola, Senin (25/4/2016), Suroso, peneliti dari Kantor Litbang Pati mempertanyakan berapa jumlah tenaga kerja lokal yang akan dipekerjakan dan proporsi CSR yang disalurkan untuk masyarakat Pati bila PT Indocement dan pabrik jagung Vanguard Group Agriculture berdiri di wilayah Pati selatan.

Dari pertanyaan itu, Haryanto meminta kepada Direktur Utama PT Indocement Christian Kartawijaya dan CEO Vanguard Group Agriculture Lunardi Widjaja untuk berkomitmen menyejahterakan warga setempat melalui CSR dan penyerapan tenaga kerja lokal. “Komitmen itu harus dilakukan. Keberadaan perusahaan di Pati harus bisa membuka lapangan pekerjaan baru untuk masyarakat,” kata Haryanto.

Christian mengatakan, PT Indocement selama ini sudah memulai CSR kendati pabrik semen belum dibangun di Pati. “Kalau belum dibangun saja sudah ada CSR, apalagi nantinya kalau kami jadi membangun pabrik semen dengan investasi senilai Rp 7 triliun di Pati. Kami pastikan CSR dan pemberdayaan masyarakat akan berjalan. Penyerapan tenaga lokal juga pasti dilakukan,” ungkap Christian.

Dikatakan, PT Indocement ke depan membutuhkan sekitar 1.650 tenaga kerja lokal yang akan dipekerjakan dalam proyek pembangunan. Setelah beroperasi, pihaknya membutuhkan 800 orang. “Sebanyak 300 orang adalah tenaga ahli dari Indonesia, sedangkan sisanya sebanyak 500 orang akan diambilkan dari tenaga kerja lokal,” imbuh Christian.

Beda halnya dengan Lunardi Widjaja. Calon investor yang akan mendirikan pabrik pengeringan jagung di Sukolilo itu mengatakan, keberadaan pabrik jagung itu sendiri dikatakan sebagai CSR. Pasalnya, keberadaan pabrik pengeringan jagung yang menyerap 7.200 hektare lahan jagung akan menyerap sekitar 14.000 petani jagung.

“Petani dengan modal 3 juta per hektare, panen terbaiknya mencapai 8 ton yang bila dijual bisa mencapai Rp 16 juta. Bukankah itu sudah termasuk CSR? Karena itu, jadilah juragan-juragan jagung,” tuturnya.

Menurutnya, Kabupaten Pati adalah daerah ramah investor. Prosedur dan kebijakan daerah dinilai sangat mendukung bagi para calon investor untuk menanamkan modalnya di bumi mina tani. Tak ayal, roda ekonomi di Pati saat ini melesat dan berkembang pesat.

Editor : Akrom Hazami

Biar Oke, Kudus Harus Punya Perda CSR

Ilustrasi

Ilustrasi

 

KUDUS – Kalangan legislatif menilai bahwa sudah seharusnya perusahaan-perusahaan di Kabupaten Kudus, membantu pembangunan infrastruktur di wilayah ini. Yakni melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR) yang mereka miliki.
Karena itu, untuk makin melengkapi Perda tentang Sumbangan Pihak Ketiga, Badan Legislasi (Banleg) DPRD Kudus nantinya juga akan segera menggulirkan kembali pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang CSR.

”Dalam ranperda tersebut diharapkan semakin mendorong penggunaan CSR untuk pembangunan infrastruktur publik,” kata anggota Banleg DPRD Kudus Agus Wariyono.
Menurut Agung, hal ini juga tidak lepas dari keprihatinannnya, atas pelaksanaan program CSR yang dilakukan perusahaan swasta yang ada di Kudus.

”Sebab, meski memiliki banyak perusahaan besar yang berskala nasional hingga internasional, namun program CSR yang ada dirasa masih minim,” tandasnya.
Agus mengatakan, selama ini pelaksanaan CSR yang dilakukan perusahaan-perusahaan yang ada di Kudus, terkesan tidak terarah. Bahkan, banyak program CSR yang dilakukan tanpa memperhitungkan arah pembangunan daerah.

”Program CSR selama ini harus dipahami bukan hanya sebagai tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan saja. Tapi, program CSR merupakan sebuah kewajiban yang harus dilakukan sebuah perusahaan,” tegasnya.

Dikatakan Agus, pihaknya memang mendesak agar kucuran dana program CSR dari perusahaan swasta di Kudus, bisa digunakan untuk membantu pembangunan infrastruktur yang ada. Upaya tersebut untuk menyiasati terbatasnya keuangan daerah.

Menurut politisi asal Partai Gerindra tersebut, peluang pemanfaatan CSR untuk membantu pembangunan infrastruktur, sangatlah terbuka. Apalagi, saat ini Kabupaten Kudus juga sudah memiliki Perda tentang Sumbangan Pihak Ketiga.

Dalam regulasi itu, pihak ketiga dalam hal ini perusahaan swasta, membangun sarana publik untuk kepentingan daerah. Infrastruktur yang dibangun tersebut nantinya akan menjadi aset daerah.

”Perusahaan bisa membangun infrastruktur seperti jalan, taman kota, atau lainnya, dan kemudian dihibahkan ke pemerintah kabupaten,” ujarnya.

Dengan adanya peluang itu, permasalahan buruknya infrastruktur yang ada seperti jalan, jembatan, atau taman kota, bisa cepat teratasi. Terutama infrastruktur yang berada di sekitar kawasan perusahaan.

”Ada banyak jalan di sekitar pabrik yang rusak, karena sering dilewati truk-truk milik perusahaan. Dan perusahaan harusnya juga memiliki tanggung jawab untuk memperbaikinya,” imbuhnya. (MERIE/AKROM HAZAMI)

Safari Ramadan, Semen Indonesia Salurkan Bantuan Rp 2,1 Miliar

Direktur Enginering dan Proyek Semen Indonesia Aunur Rosyidi menyerahkan bantuan secara simbolis kepada Bupati Rembang, Abdul Hafidz. (Istimewa)

Direktur Enginering dan Proyek Semen Indonesia Aunur Rosyidi menyerahkan bantuan secara simbolis kepada Bupati Rembang, Abdul Hafidz. (Istimewa)

REMBANG – PT Semen Indonesia (Persero) Tbk berkomitmen peduli terhadap masyarakat sekitar perusahaan dengan berperan dalam meningkatkan perekonomian di daerah sekitarnya.

Lanjutkan membaca