Arsitektur Masjid Kuno di Kudus Bikin Dunia Terpikat

 Warga melintas di depan Langgar Bubrah Kudus, yang menarik minat wartawan Inggris untuk menelitinya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Warga melintas di depan Langgar Bubrah Kudus, yang menarik minat wartawan Inggris untuk menelitinya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Ternyata Kabupaten Kudus menyimpan kekayaan budaya. Di Kabupaten ini terdapat banyak sekali masjid-masjid kuno dengan desain yang unik. Yakni menggabungkan kebudayaan dua agama, yakni Islam dan Hindu.

Keberagaman dan keindahaan Kudus ini pula, yang membuat salah satu wartawan dari Inggris, terpikat dan mencoba menguak masjid-masjid kuno tersebut.

Wartawan tersebut bernama Lyden, yang bertugas untuk salah satu koran yang terbit di Inggris. Sekretaris Juru Pelihara Bangunan Bersejarah Kudus, Fahmi Yusron, mengatakan, kedatangan wartawan Inggris ke Indonesia terjadi saat masih dijajah Belanda.

Wartawan itu tertarik untuk menguak rahasia sejumlah masjid kuno. Di antaranya Masjid Menara Kudus, Langgar Bubrah, maupun masjid-masjid lainnya di Kudus. Masjid-masjid itu kental akan nilai toleransinya. “Dia merupakan wartawan dari Inggris. Sengaja datang untuk menguak rahasia masjid-masjid di Kudus,” katanya, Kamis (30/6/2016).

Leyden juga disebut-sebut sangat tertarik dengan rahasia ajaran Sunan Kudus, dalam menyebarkan Islam. Sehingga ingin menelitinya lebih lanjut.

“Selain dianggap sebagai kota santri, Kudus juga mempunyai magnet tersendiri bagi wartawan luar tersebut. Yakni di Kudus bisa terdapat berbagai umat beragama, yang hidup berdampingan secara rukun, damai dan saling menghormati,” tuturnya.

Di Kudus memang terdapat bebagai macam suku, mulai dari Jawa, Tionghoa, maupun Arab. Mereka bisa hidup berdampingan dengan memeluk agamanya masing-masing.

Dia menambahkan, dari 125 situs atau sejarah Islam yang ada di Kudus, rata-rata tidak semuanya bisa terkuak oleh wartawan tersebut.

“Sebab untuk menguak sejarah kota Islam ini, harus seseorang yang mempunyai ilmu ma’rifat yang mumpuni. Sebab kota ini atau bangunan-bangunan sejarah Islam yang di Kudus semuanya adalah peninggalan wali yang memang diijabahi oleh Allah SWT. Dan itupun belum tentu bisa dilakukan oleh orang biasa untuk menguaknya,” tambahnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Rumah Tahanan Kudus Disulap jadi Pondok Pesantren Selama Ramadan

Jpeg

Tadarus Alquran dilakukan narapidana dan tahanan di Pesantren Ramadan di Rutan Kelas IIB Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sebanyak 142 orang tahanan dan narapidana Rutan Kelas IIB Kudus menggelar pesantren Ramadan, sebulan penuh.

Kepala Rutan Kelas II B Kudus Masjuno melalui Kasubsi Pelayanan Tahanan Beny mengatakan, kegiatan ini dimulai dari awal Ramadan hingga menjelang Lebaran nanti. Dimulai dari pukul 08.00 WIB hingga menjelang berbuka puasa.

Adapun kegiatan itu ialah mulai dari pukul 08.00 WIB hingga 10.00 WIB merupakan Baca Tulis Alquran (BTA), pukul 10.00 WIB hingga 11.00 WIB pendidikan rohani, pukul 11.00 WIB hingga 12.00 WIB tadarus Alquran, pukul 12.00 WIB hingga 13.00 WIB istirahat.

Kegiatan berlanjut pukul13.00 WIB hingga 14.45 WIB tadarus Alquran, pukul 15.00 WIB hingga 16.00 WIB Salat Asar dan membaca selawat. Setelah itu, masuk ke sel dan menunggu buka puasa.

Diketahui, untuk kegiatan tadarus Alquran, pihak rutan telah memilih napi atau tahanan yang mahir. Sebab tadarus tersebut langsung disuarakan melalui pengeras suara di masjid rutan.

Tadarus dibagi dua sif. Yakni siang dan malam. Bagi sif siang, diikuti 15 orang dan sif malam ada10 orang. Sedangkan peserta BTA ada 101 orang.

Pihak rutan juga memantau kefasihan, Tajwid dan kelancaran mereka membaca Alquran.

Peserta BTA diseleksi. Karena hanya napi atau tahanan yang kurang bisa memahami Alquran yang boleh ikut.

Pesantren Ramadan dibimbing oleh mahasiswa  STAIN maupun dari instansi pemerintah lainnya.

Sementara itu, untuk pendidikan kerohanian, para napi atau tahanan diikutsertakan semua. Sebab pendidikan kerohanian ini dinilai penting untuk bisa membangun jiwa dan mentalnya sesuai dengan ajaran agama yang ada.

Editor : Akrom Hazami

 

Subchan ZE, Pemilik Nama Jalan di Kudus yang Meninggal Misterius Usai Kritik Soeharto

subhan 1

Subchan ZE dalam suatu waktu.

MuriaNewCom, Kudus – Warga Kudus, pasti banyak yang paham dengan Jalan HM Subchan ZE. Salah satu jalan penting di kabupaten tersebut. Tapi tidak semua orang paham dengan sosok pemilik nama.

Dikutip dari situs NU Online, sekilas tentang Subchan ZE terungkap. Nama lengkapnya adalah Subchan Zaenuri Echsan. Tapi lebih populer dipanggil Subchan ZE. Dia adalah tokoh muda NU inspirator suburnya gerakan pemuda dan mahasiswa di Indonesia seperti HMI, PMII, GMNI, PMKRI, dll.

Figur politik yang tajam, pemberontak, dan berani melawan rezim Presiden Soeharto. Meninggal misterius dalam kecelakaan di Riyadh, Arab Saudi di usia 42 tahun dalam sebuah operasi intelijen. Nama Subchan dihapus oleh rezim Orde Baru dari sejarah Indonesia.

Subchan ZE lahir di Kepanjen, Malang Selatan, 22 Mei 1931. Tumbuh di lingkungan santri di Kudus. Anak keempat dari 13 bersaudara. Ayahnya H Rochlan Ismail, adalah mubaligh, pedagang, dan pengurus Muhammadiyah di Malang. Sedangkan ibunya pengurus Aisyiyah. Sewaktu kecil dia diangkat anak oleh pamannya, H Zaenuri Echsan, seorang pengusaha rokok kretek asal Kudus.

Subchan adalah potret generasi muda NU yang sukses di bidang ekonomi. Sejak usia 14 tahun, dia sudah mengelola perusahaan rokok “Cap Kucing”. Pada usia 15, Subchan sudah rutin bepergian ke Singapura berjualan ban mobil dan truk, cengkih dan cerutu. Pada saat Belanda memasuki Solo ia mengkordinir adik- adiknya untuk berjualan cerutu, roti dan permen kepada prajurit Belanda. Setelah dewasa ia menetap di Semarang untuk mendirikan perusahaan ekspor dan impor.

Subchan ZE sempat nyantri di pesantren Kiai Noer di Jalan Masjid Kudus. Selain mengenyam pendidikan pesantren, Subchan juga mengikuti kuliah di Universitas Gadjah Mada sebagai mahasiswa pendengar. Dia pernah pula belajar di sekolah Dagang Menengah di Semarang dan ikut dalam kursus program ekonomi di Unversity of California Los Angeles.

Di masa pecah revolusi fisik, Subchan bergabung dalam Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) dan organisasi Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) dipimpin Bung Tomo. Di usia yang kian matang, Subchan pindah ke ibukota Jakarta dan memiliki 28 perusahaan. Jaringan bisnisnya bahkan merambah hingga ke Timur Tengah. Subchan menjadi pionir bisnis perjalanan haji dengan pesawat terbang melalui biro perjalanan Al-Ikhlas. Pada tahun sebelumnya, jamaah haji Indonesia berangkat dengan kapal laut.

Karir politik Subchan ZE dimulai pada 1953. Ketika itu dia duduk sebagai pengurus Ma’arif NU di Semarang. Tiga tahun kemudian dalam kongres NU di Medan, Idham Kholid terpilih sebagai ketua PBNU. Subchan ZE lalu muncul dalam kongres itu sebagai figur NU muda yang potensial dan terpilih sebagai ketua Departemen Ekonomi. Pada kongres berikutnya di Solo tahun 1962 Subchan terpilih sebagai Ketua IV PBNU.

Nama Subchan kian dikenal pascaaksi pembunuhan para jenderal 1 Oktober 1965. Ketika itu, suasana ibukota Jakarta sangat mencekam. Dan ratusan pemuda berkumpul di kediaman Subchan ZE di Jalan Banyumas 4, Menteng. Mereka adalah para aktivis anti PKI. Berasal dari berbagai aktivis ormas Islam, Kristen, dan Katolik. Mereka mengkonsolidir diri ke dalam Komando Aksi Pengganyangan (KAP) Gestapu yang dipimpin oleh Subchan ZE (NU) dan Hary Tjan Silalahi (PMKRI/Katolik).

Subchan ZE menjadi tokoh sipil yang mampu menggerakan massa untuk menuntut pembubaran PKI. Hal itu membuatnya disegani oleh kalangan petinggi Angkatan Darat. Di masa itu, PKI melihat NU sebagai lawan politik dan ideologi. Subchan sebagai tokoh muda NU menunjukkan konsistensinya untuk melawan perkembangan ideologi komunisme. Ketidaksukaan Subchan terhadap komunisme tidak hanya ditunjukan di dalam negeri. Bahkan, selaku Vice President dari Afro Asia Economic Coorporation (Afrasec) tahun 1960-1962, Subchan pernah mengusir delegasi Uni Soviet dari persidangan di Mesir. Setibanya di tanah air dia sempat ditahan oleh pemerintah karena mempermalukan negara.

Walau masih muda, tapi Subchan sudah rutin diundang dalam konferensi ekonomi di luar negeri. Seperti The International Chambers of ECAFE, Afro Asian Economic Conference, dan masih banyak lagi. Subchan memiliki pengetahuan yang cerdas tentang ekonomi.Hal itu membuatnya sering diundang sebagai pembicara dalam acara-acara seminar yang dilakukan berbagai universitas di Indonesia.

Kemampuan Subchan di bidang ekonomi antara lain terlihat ketika di awal Orde Baru. Pada 1966, berlangsung sebuah diskusi di kampus UI Salemba dengan topik tentang kebijakan ekonomi yang selayaknya ditempuh pemerintahan baru.Saat itu pembicaranya adalah Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, dan Subchan ZE.Kedua ekonom lulusan Berkeley AS yang dipandang mumpuni itu, dalam pandangan sebagian pihak yang hadir dalam diskusi itu, tampak kewalahan dalam menghadapi pemikiran Subchan.Mutlak, makin banyak mahasiswa dan aktivis pergerakan yang mengidolakannya.

Di tahun yang sama, Subchan diangkat sebagai Wakil Ketua MPRS. Dalam posisinya, ia tetap konsisten mendesak pembubaran PKI dan menuntut pertanggungjawaban Soekarno sebagai Presiden. Soeharto yang diuntungkan dari rencana makar PKI dikukuhkan sebagai Presiden oleh MPRS tahun 1968.

Setelah pelantikan Presiden Soeharto, Subchan tak berhenti menjadi “pemberontak”. Dia berbicara keras tentang gaya Soeharto yang mengamputasi perangkat demokrasi dalam lembaga legislatif. Kritik keras dia sampaikan dalam pidato sebagai wakil ketua MPRS. Ia menuding kaidah-kaidah Orde Baru mulai kabur dan tidak lagi melandasi perjuangan bagi seluruh komponen Orde Baru.

Subchan ZE

Subchan ZE

Subchan menyatakan, mesin politik Orde Lama justru mendapat jalan melalui sel-sel koruptif, intrik, dan konspirasi yang makin merajalela di era Soeharto. Dengan tajam, ia mengkoreksi pemerintahan Soeharto yang sengaja menunda penyelenggaraan pemilu 1968 menjadi 1973. Berkat perlawanan gigihnya pemilu bisa berlangsung tahun 1971.

Jelang pemilu, konfrontasi terbuka Subchan dengan Soeharto justru meruncing. Dia mengkritik keras Mendagri Jenderal Amir Machmud, agar menjadi wasit yang adil dan jangan main “bulldozer” dalam politik. Kritik itu terkait dengan keluarnya Permendagri No 12/1969 yang melarang keterlibatan anggota departemen (PNS) di dalam partai politik. Kebijakan itu jelas hanya menguntungkan Golkar. Ia menyebut Permendagri tersebut tidak memenuhi syarat perundang-undangan dari sudut formal karena bertentangan dengan UU No 18/1968.

Kritik-kritik terhadap rezim Orde Baru juga dia sampaikan selama masa kampanye untuk Partai NU. Pidato politik Subchan saat berkampanye kerap menggunakan istilah “jihad” untuk mengobarkan semangat politik umat Islam. Istilah “jihad” kemudian digunakan oleh Soeharto dalam pidato tanpa teksnya.

Soeharto menyatakan, setiap usaha “jihad” yang selalu dikobar-kobarkan golongan tertentu akan dihadapi oleh pemerintah dengan semangat “jihad” pula. Komentar Soeharto di wilayah publik ditujukan hanya kepada Subchan.

Berkat kerja keras Jusuf Hasyim, Syaifudin Zuhri, KH A. Syaichu, dan terutama Subchan ZE berhasil menempatkan Partai NU dalam dua besar Pemilu 1971. Persis di bawah Golkar. Menguasai 69,96 persen suara yang diperoleh partai-partai Islam. Itulah prestasi terbesar NU dalam kapasitasnya sebagai partai politik.

Usai pemilu, ia bersama Nasution menulis “Buku Putih” yang berisi laporan pimpinan MPRS 1966-1972. Belum sempat diedarkan secara luas, buku itu disita dan dimusnahkan oleh Kopkamtib karena berisi sejumlah kecaman.

Subchan ZE tidak setengah hati dalam berpolitik. Hingga intervensi dan tekanan dari rezim Soeharto membuat Subchan ZE kehilangan karir politik. Pengurus Besar Syuriyah NU lewat suratnya No.004/Syuriyah/c/1972 yang ditandatangani oleh Rois Aam KH Bisri Syamsuri kemudian memecat Subchan ZE sebagai anggota NU.

Subchan menolak pemberhentian itu dan melawan balik. Tetapi mayoritas cabang NU mendukung pemberhentian Subchan. Hal itu menguatkan kesan bahwa prototipe kepemimpinan Subchan yang terlalu kritis dan vokal terhadap pemerintahan Soeharto tidak mendapatkan dukungan dari masyarakat pedesaan dan kultur tradisional.

Kritik-kritik tajam pada pemerintah dan popularitasnya yang terus meningkat adalah ancaman bagi rezim Soeharto. Perilaku koruptif rezim jelas dia benci. Kebencian itulah yang membuat dia mati muda di usia 42 tahun. Kematiannya yang tiba-tiba banyak mengejutkan banyak orang, terutama kalangan kaum muda yang selalu setia mengidolakannya. Kejadian ini terjadi setahun setelah pemecatan Subchan dari NU.

Hingga saat ini kematiannya masih menjadi misteri. Karena saat itu Subchan berencana melakukan pertikaian politik terhadap rezim Soeharto setelah pulang dari Mekkah. Beberapa sumber mengatakan, kematiannya tak luput dari “campur tangan” CIA yang berada dibalik suksesi Orde Baru.

subhan ZE e

Nama HM Subchan ZE menjadi nama ruas Jalan HM Subchan ZE di Purwosari Kudus. (MuriaNewsCom)

Sebelum kematiannya, dia memberikan wawancara eksklusif koresponden AFP, Brian May, tentang jaringan bisnis Soeharto yang ada di Singapura, Belanda, dan AS. Kecelakaan yang merenggut nyawa Subchan cukup janggal karena sopir mobil justru lolos hanya dengan luka-luka ringan. Usai kematiannya, referensi tertulis, biografi dan kisah tentang Subchan ZE dihilangkan perlahan dari sejarah. Namun, namanya masih sempat diabadikan sebagai nama sebuah jalan di Kudus, Jawa Tengah.

Kisah hidup Subchan ZE menandakan bahwa semangat pemuda selalu kebal terhadap impunitas, pembunuhan karakter, dan bahkan upaya penghilangan paksa dari sejarah.

Editor : Akrom Hazami

 

Keanehan Masjid Kuno di Pinggir Sungai Lusi Grobogan

Sudut bangunan Masjid Baitur Rohman Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sudut bangunan Masjid Baitur Rohman Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Bangunan masjid di Grobogan buatan beberapa abad lalu ternyata masih banyak yang berdiri kokoh hingga saat ini.

Salah satunya adalah Masjid Baitur Rohman di Desa Menduran, Kecamatan Brati.

Masjid ini berada di kompleks Pondok Pesantren Al Maram. Letak masjidnya persis dipinggiran Sungai Lusi. Meski demikian, ketika sungai meluap, airnya tidak pernah sampai masuk ke dalam masjid.

“Selama ini, rumah sekitar sini sudah seringkali banjir ketika air sungai meluap. Alhamdulillah, sejauh ini, belum pernah air sungai masuk ke kawasan masjid ini. Inilah yang jadi salah satu keanehan selama ini,” kata Parlan, warga yang tinggal di dekat masjid tersebut.

Masjid tersebut pada awalnya dibangun oleh KH Kafiluddin pada tahun 1700-an atau abad 17. Ulama ini, asalnya dari Madura yang merantau hingga ke tanah Jawa untuk berdakwah sekaligus mencari keberadaan adiknya.

“Mbah Kafiluddin ini mencari adiknya menyusuri pantura. Hingga akhirnya, dapat hadiah sebidang tanah di sini ketika memenangkan sebuah sayembara pada waktu itu,” cerita pengasuh Pondok Pesantren Al Maram H Lizamuddin Kafi yang merupakan keturunan ketujuh dari KH Kafiluddin.

MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom/Dani Agus)

Menurut Lizamuddin, masjid tersebut sudah pernah direnovasi oleh ayahnya KH Munawar Kholil pada 1972. Namun, proses untuk merenovasinya tidak mudah.

Sebab, sebelumnya tidak ada pihak-pihak yang berani merenovasi masjid tersebut kendati sudah ada beberapa bagian yang rusak. Kabarnya apabila dibangun, ada pekerjanya yang meninggal. Mitos inilah yang menjadi kendala dalam merenovasi masjid selama ratusan tahun.

“Sebelum melakukan renovasi, abah saya sempat mengumpulkan kiai se-Kabupaten Grobogan untuk meminta doa restu. Kemudian, para pengelola madrasah dan warga disini juga diminta membantu saat renovasi. Akhirnya renovasinya berjalan lancar dan hasilnya masih bisa kita lihat sampai sekarang,” ujarnya.

Selain mengganti beberapa bagian kayu yang lapuk, ada beberapa penambahan bangunan saat renovasi tersebut. Seperti, menara, bangunan untuk pondok, dan pintu gerbang yang dibuat dari tumpukan batu bata merah.

Editor : Akrom Hazami

TKI Pati di Korsel, Bikin Sambal Tomat dan Sayur Bening

Santiko (Foto Dok Pribadi)

Santiko (Foto Dok Pribadi)

 

MuriaNewsCom, Pati- Santiko adalah seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di salah satu pabrik di bagian packing plastik, di Kota Daegu, Korea Selatan.

Tahun 2016 ini, untuk keempat kalinya ia berpuasa sekitar 17 jam sehari. Karena Ramadan jatuh pada musim panas.

Menurut pemuda Desa Sonorejo, Jakenan, Pati yang bermukim di Daegu, yang paling berat ia rasakan pada Ramadan adalah menahan rindu kepada keluarga dan suasana puasa di Pati.

Ia sadar, sebagai lelaki tentu punya tanggung jawab untuk mencari nafkah, demi membahagiakan orang tua dan keluarga.

“Cmn sekali dua kali tentu ada fikiran untuk bisa sahur dan buka puasa bareng keluarga. Rasanya juga beda bersahur/berbuka di negara orang,” kata Santiko kepada MuriaNewsCom melalui chat di Facebook, Rabu (15/6/2016).

Soal menu sahur atau buka puasa, ia mengaku tak masalah. Tak jauh dari tempat mukimnya, ada beberapa minimarket, dan toko yang menjual makanan Indonesia. Tapi yang sering dilakukannya adalah memasak menunya sendiri. Supaya keinginannya untuk melahap makanan Indonesia bisa terpenuhi.

“Jadi tergantung kita mau masak apa saja. Kadang masak sayur bening+sambel tomat krna udah lama kan gak makan sayur bening. Kadng juga bikin opor ayam,gule kambing, dan krupuk bulat juga,” ungkapnya.

tki ramadan

Santiko bersama temannya melahap menu buatan sendiri (Foto Dok Pribadi)

 

Ia juga bersyukur karena tidak mengalami kendala selama menjalankan puasa di Negeri Gingseng. Bos tempatnya bekerja amat mengerti dengan pekerjanya yang berpuasa.

Apalagi bos wanita, (Samonim) sering kali memberi kesempatan pekerja yang muslim untuk berbuka puasa ketika tiba waktunya. Termasuk juga memberi waktu sekita 30 menit untuk menunaikan Salat Magrib. “Mesin pabrik dijaga bos wanita tadi,” ujarnya.

Suasana di lingkungan tempatnya kerja juga mendukung. Seperti keberadaan musala Al Mu’min. Musala itu baru setahun diresmikan. Selama Ramadan, di musala baru banyak dilakukan kegiatan. Mulai dari Salat Tarawih berjamaan, tadarusan, dan lainnya.

Jika ia dapat bagian sif malam, tentu tidak ikut Salat Tarawih. Ia bisa leluasa Tarawih saat dapat sif siang. Suasana itulah yang membuat Ramadannya di negeri orang tetap terjaga.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Mahluk Gaib Bangun Langgar Bubrah Kudus

bubrah 1 e

 Pengendara motor melintas di depan Langgar Bubrah, yang diyakini dibangun dengan bantuan makhluk gaib. (MuriaNewsCom / Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Langgar Bubrah, apa ini? orang langsung membayangkan sebuah bangunan musala yang rusak atau belum jadi. Dan memang, Langgar Bubrah yang berada di Desa Demangan RT 3 RW 1 Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, ini dipercaya warga sekitar adalah musala yang belum terbangun sempurna.

Penyebabnya, makhluk gaib yang ikut membangun musala ini kepergok warga, sehingga proses pembangunannya ditinggalkan begitu saja. Langgar itu diyakini dibangun oleh kehendak Raden Pangen Pantjowari sekitar tahun 953 H atau sekitar tahun 533 M. Saat itu, Masjid Menara Kudus belum terbangun.

Hal itu dituturkan oleh Fahmi Yusron, sang juru pelihara Langgar Bubrah. Menurut dia, bangunan tua langgar itu memang terkesan belum jadi secara sempurna.

“Lantaran proses pembangunan oleh Raden Pengeran Poncowati itu dibantu makhluk gaib. Tapi dalam pembangunannya itu diketahui oleh masyarakat sekitar, sehingga pembangunannya tidak terselesaikan. Namun anggapan itu harus kita hormati,” kata Yusron, Selasa (14/6/2016).

Menurut dia, kepercayaan seperti sah-sah saja. Tak hanya soal adanya makhluk gaib yang ikut membangun langgar itu, ada kepercayaan yang muncul dari tiga batu yang ada di depan langgar. Salah satu batu disebut sebagai yoni atau keperkasaan seorang pria. Satu batu yang berbentuk bulat dan ada lubang di tengahnya disebut sebagai tempat pemujaan.

Dan satu batu lagi yang berbentuk kotak panjang dianggap sebagai tempat semedi. Namun anggapan-anggapan itu tak terlalu ia pusingkan.

“Kalau menurut saya, Langgar Bubrah ini dibangun oleh Raden Pangeran Pontjowati suami dari Putri Brojobinabar putri ke 8 Sunan Kudus. Beliau membangun langgar ini pada tahn 953 H atau 566 M,” ungkapnya.

Jpeg

Tiga batu legendaris masih utuh berada di depan Langgar Bubrah. (MuriaNewsCom / Edy Sutriyono)

Dia menilai, pembangunan langgar itu lantaran diperintah oleh Sunan Kudus. Supaya Raden Pangeran Pontjowati bisa ikut serta menyebarkan Islam di kawasan Kudus bagian selatan.

“Dahulunya langgar itu memang sebagai babat alasnya penyebaran Islam di Kudus sebelum terbangunnya Menara. Selain itu, langgar ini juga terbangun utuh dengan bentuk satu soko guru, satu atap (berbentuk payung), serta berpondasikan segi empat dengan bata kuno, dengan luas 9mx10m. Sementara atap yang sekarang hanya untuk pengaman benda ini saja,” paparnya.

Selain itu dirinya jga berpendapat bahwa nama Langgar Bubrah itu bukan lantaran, proses pembangunan yang dibantu oleh makhluk gaib, yang belum sempat jadi karena kepergok warga.

“Nama Langgar Bubrah (langgar rusak) itu bukan karena proses pembangnannya tidak terselesaikan. Namun langgar itu memang rusak lantaran pengalihan fungsi,” tuturnya.

Dia melanjutkan, rusaknya langgar itu lantaran tidak terawat. Sehingga bangunannya rusak dengan sendirinya. Terlebih tempat tersebut sekarang berfungi sebagai tempat tasyakuran saja. Sementara itu untuk batu bata maupun tiang soko guru tunggal atau atapnya juga rusak.

“Ada juga yang mengambil bagian soko guru di langgar ini. Karena diyakini sebagai penolak balak,” paparnya.

Sementara ketiga batu itu ada manfaat dan kegunaannya saat zaman kasunanan dahulu kala. Seperti halnya batu yang berdiri itu zaman dahulu dijadikan sebagai jam matahari, untuk penunjuk waktu salat.

“Batu yang berbentuk bundar itu dijadikan sebagai umpak (tatakan tiang soko guru tunggal), dan yang batu panjang kotak dijadikan sebagai tempat bersujud imam langgar ini,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Karomah KH R Asnawi Kudus, Penjajah Mendadak Takut  Saat Hendak Memenjarakannya

KH R Asnawi Kudus

KH R Asnawi Kudus

 

MuriaNewsCom, Kudus – KH R Asnawi merupakan salah seorang panutan di Kudus dan sekitarnya. Hal itu tak lepas dari sepak terjangnya ketika masih hidup. Tidak heran, jika sampai sekarang jejak keilmuannya masih terus berkembang.

Di antaranya, lembaga pendidikan yang telah didirikan. Seperti Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin dan Madrasah Qudsiyyah.

Dikutip dari buku Kyai Tanpa Pesantren (Potret Kyai Kudus) karya Prof H Abdurrahman Mas’ud, PH D. KH R Asnawi dilahirkan pada 1861 M/1281 H di Damaran, Kecamatan Kota, Kudus. Bayi tersebut dinamai Raden Ahmad Syamsi. Putra dari pasangan H Abdullah Husninn dan Raden Sarbinah.

Abdullah Husnin menginginkan kelak anaknya pandai di bidang agama dan piawai dalam berdagang. Demi keinginan mulyanya, Abdullah Husnin mulanya mengajari anaknya sendiri. Sebab di Damaran, syarat hidup sempurna dalam masyarakat beragama Islam adalah mahir membaca Alquran.

Pada 1876, orang tua memboyong keluarga ke Tulungagung, Jawa Timur. Husnin mengajari Syamsi berdagang saat pagi hari, dan saat sore hingga malam mengaji di Pondok Pesantren Mangunsari Tulungagung.

Adapun soal perubahan nama, Ahmad Syamsi dipakai mulai lahir sampai usia 25 tahun. Sepulang dari haji pertama pada 1886, namanya diganti jadi Raden Haji Ilyas. Pergantian nama sepulang dari haji merupakan hal wajar. Pada haji kali ketiga, namanya pun berganti jadi Raden Haji Asnawi. Nama terakhirlah yang terkenal dan dipakai.

Karena sosoknya itulah, masyarakat setempat menyebutnya Kiai Haji Raden Asnawi (KH R Asnawi). Selama hidup, KH R Asnawi memiliki pendirian teguh. Prinsip hidupnya keras dan watak perjuangannya terkenal galak. Hal ini tak lepas dari era saat itu. Yakni eranya penjajah. Bahkan tidak segan-segan KH R Asnawi menyatakan, produk kolonial diharamkan. Entah itu gaya berjalannya, berdasi atau menghidupkan radio.

Kehidupan beliau dihabiskan untuk menegakkan Islam. Beberapa daerah menjadi lokasi dakwahnya. Di antaranya, Kudus, Jepara, Demak, Tegal, Pekalongan, Semarang, Gresik, Cepu, Blora dan lainnya. KH R Asnawi juga aktif mengikuti pertemuan ulama nasional mulai 1926-1956.

Karya dan peninggalannya yaitu Kitab Fashalatan, Kitab Soal Jawab Mu’takad Seket, Syair Nasionalisme Relijius, dan Shalawat Asnawiyah. Karya-karya itulah yang sampai sekarang dilestarikan oleh murid-muridnya.

Beberapa karomah yang dimilikinya adalah, membuat gentar penjajah Belanda. KH R Asnawi sempat ditahan oleh pemerintah Belanda karena dianggap sebagai penggerak kerusuhan. Ketika di penjara itulah KH R Asnawi banyak menmhabiskan waktu untuk mengajar ilmu agama dan membaca shalawat kepada para penghuni penjara.

Konon, petugas penjara tidak sanggup menjaga KH R Asnawi karena setiap saat membaca shalawat. Ruangannya dibanjiri rakyat yang ingin belajar agama. Hingga para penjaga penjara menyerah dan akhirnya KH R Asnawi dibebaskan.

Karomah lain yang dimiliki KH R Asnawi adalah sanggup membuat musuh-musuhnya lari ketakutan dari jarak jauh. Hal itu dibuktikan ketika KH R Asnawi hendak ditangkap oleh penjajah untuk ketiga kalinya. Para penjajah kabur karena takut sebelum menangkap KH R Asnawi. Karena sering masuk penjara namun selalu berakhir bebas.

Jelang wafatnya, KH R Asnawi seolah mengetahui kalau dirinya akan pergi selama-lamanya. Pada Muktamar NU XII di Jakarta, KH R Asnawi mengikuti kegiatan. Beliau menginap di rumah H Zen Muhammad, adik kandung KH Mustain di Jalan H Agus Salim Jakarta. Muktamar digelar 12-18 Desember 1959.

Saat KH Mustain menjemput KH R Asnawi untuk datang ke lokasi muktamar. KH Mustain mendengar kalimat yang tak biasa. “Hai Mustain, inilah yang merupakan terakhir kehadiranku dalam Muktamar NU, mengingat keadaanku dan kekuatan badanku.”

Tercenganglah KH Mustain. “Kalau kyai tidak dapat hadir dalam muktamar, maka sangat kami harapkan doanya.” Benar saja, pada pukul 02.30 WIB Sabtu (26/12/1959) itu, KH R Asnawi bangun dari tidurnya untuk mengambil air wudu. Istrinya, Hamdanah menemaninya. Setelah itu, KH R Asnawi kembali berbaring di atas tempat tidur. Kondisinya semakin tak berdaya. Kalimat Syahadat adalah kalimat terakhir yang mengantarkan arwahnya. Sekitar pukul 03.00 WIB, KH R Asnawi pulang ke Rahmatullah.

Berita wafatnya kiai besar itu juga disiarkan di RRI pusat Jakarta melalui berita pagi pukul 06.00. Warga Kudus khususnya, dan secara umum Rakyat Indonesia merasa kehilangan sosoknya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :

Karomah KH Sanusi Kudus, di Rumah tapi Datangi Undangan di Mekah

 

 

 

Kisah TKW Pati di Hongkong yang Batalkan Puasa karena Takut Bos

pati cerita ramadan hongkong

Dokumen Pribadi

 

MuriaNewsCom, Pati – Bagi Siti Rukhamah, Ramadan tahun ini bisa dilalui dengan cukup mudah. Jauh dari kampung halaman bukan lagi jadi hal menyedihkan baginya. Apalagi Buruh Migran Indonesia (BMI) di Hongkong itu sudah 15 kali Ramadan berada di negeri orang.

Ya, perempuan yang tercatat sebagai warga Desa Tanjungrejo, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, ini sudah belasan tahun menjadi seorang tenaga kerja wanita (TKW) di negerinya Jackie Chan itu. Pengalaman belasan tahun berpuasa di negeri orang membuatnya sudah bisa mengendalikan emosi kangen kampung halaman.

Meski demikian, pada awal-awal menjadi seorang buruh migran, Siti juga sama seperti orang-orang lain. Bahkan pengalaman Ramadan pertamanya di negeri orang waktu itu,  juga cukup menggelikan. Kepada MuriaNewsCom Siti Rukhamah bercerita, sekitar tahun 1998 ia baru memasuki dunia barunya sebagai buruh migran.

Negara yang dituju yakni Hongkong. Di negara ini Siti Rukhamah bekerja layaknya pekerja dari Indonesia lainnya. Di negara ini ia harus beradaptasi dengan “dunia” yang baru, termasuk harus beradaptasi dalam urusan ibadah.

Contohnya saat Ramadan, ia tak bisa menemukan nikmatnya berpuasa, seperti yang ia rasakan di Tanah Air. Bahkan saat itu, ia cukup takut “berpuasa”.

“Saat pertama-pertama di Hongkong, saya itu itu takut, jadi puasanya tidak bisa penuh satu bulan. Karena saya belum bisa lancar bahasanya, jadi ada rasa takut sama bos. Jadi kalau disuruh makan ya ikutan saja, meski puasa. Habis mau ngomong gak bisa, takut dikirain kita gak mau makan,” akunya.

Namun saat ini, ia sudah bisa menjalankan puasa dengan lancar. Ia juga sudah bisa hafal di luar kepala berbagai macam dialek di Hongkong. Si bos menurut dia, juga memberi kebebesan kepadanya untuk beribadah dan berpuasa.

Hanya, memang ia tak bisa menjalankannya secara leluasa, karena ia menyadari posisinya sebagai pekerja. Sebagai contoh, ia tidak bisa setiap hari pergi salat tarawih. “Karena masjidnya itu jauh. Lagian itu waktu yang sangat sibuk, karena harus masak untuk makan bos yang baru pulang kerja. Salat Maghrib saja harus cepet-cepetan,” ujarnya.

Jam untuk berbuka puasa di wilayah Hongkong, yakni sekitar pukul 19.10 waktu setempat. Di Hongkong, muslim harus berpuasa sekitar 15 jam. Namun untuk Siti, ia harus berpuasa lebih lama, karena meski fajar/imsak jatuh sekitar pukul 04.00, ia melakukan sahur sekitar pukul 01.00 malam. “Itu pun hanya sahur di kamar dengan roti dan minuman saja,” ceritanya.

 

TKW di Hongkong Juga Yasinan dan Tadarusan

Saat libur atau hari Minggu, menjadi waktu yang istimewa bagi para BMI di Hongkong. Pada hari ini mereka biasa berkumpul sesama buruh migran dari Indonesia, di suatu tempat. Banyak aktivitas yang dilakukan, mulai dari kongkow bersama, ngobrol dan jalan-jalan.

Sementara saat Ramadan seperti ini mereka juga menggelar kegiatan-kegiatan yang bersifat Islami. “Kami biasa menggelar Yasinan, taduran Al-Quran. Tempatnya bisa di mana saja, yang penting tidak mengganggu publik Hongkong,” terangnya.

Kesempatan berkumpul bersama rekan-rekan se-Tanah Air bisa menjadi pengobat rindunya terhadap kampung halaman. Ia mengaku, sangat kangen dengan suasana Ramadan di kampung halamannya. Saat Ramadan sangat semarak dengan kegiatan-kegiatan Islami.

Terlebih suasana Lebaran di kampung, yang sudah beberapa tahun tak pernah ia rasakan. Kalau kangen dengan suasana itu, biasanya ia menelepon keluarganya di Tanah Air, dan bercerita tentang keadaan di kampungnya.

“Yang bisa saya lakukan hanya telepon, tanya soal di kampung. Sebenarnya sedih, sudah bertahun-tahun tak pernah sungkem sama ibu. Tapi mau bagaimana lagi, yang membuat aku bertahan di sini hanya cita-citaku,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Masjid Panggung Ini jadi Saksi Sejarah Penyebaran Islam di Purwodadi

Bangunan bersejarah masjid di Purwodadi, Grobogan.

Bangunan bersejarah masjid di Purwodadi, Grobogan.

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Kini banyak berdiri bangunan masjdi di Kota Purwodadi, Grobogan. Dari sekian banyak masjid, ada salah satu yang punya nilai historis terkait penyebaran Islam di Grobogan.

Yakni, Masjid KH Burham yang berada di Kampung Jengglong Barat, Kelurahan Purwodadi. Masjid ini letaknya di pinggiran Sungai Lusi. Dari bibir sungai hanya berjarak sekitar 40 meter.

Dari keterangan warga, tempat ibadah itu dulunya dibangun oleh seorang ulama dari Jawa Timur bernama KH Konawi pada tahun 1752. Saat itu bangunannya masih kecil, hanya menampung sekitar 30 jemaah.

Pada awalnya, tempat ibadah itu dinamakan langgar atau surau. Saat itu, kondisi kampung Jengglong Barat masih berupa rawa-rawa dan belum padat penduduknya seperti sekarang. Pada awal dibangun bentuk bangunannya dibikin panggung karena daerah itu rawan banjir ketika musim hujan. Temapt ibadahnya berada di lantai atas.

Setelah KH Konawi meninggal ketika dalam perjalanan ibadah haji, penyebaran Islam diteruskan putranya, KH Burham. Setelah KH Burham meninggal, keberadaan langgar itu tetap dilestarikan dan namanya dipakai sebagai tempat ibadah tersebut sampai saat ini.

Warga hendak melakukan ibadah salat (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga hendak melakukan ibadah salat (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Seiring makin banyaknya jemaah, langgar itu sempat dipugar beberapa kali dengan bentuk tetap seperti panggung. Rehab besar-besaran dilakukan pada tahun 1992 oleh H Wodjo Karyoso, cucu dari KH Burham yang tinggal di kampung tersebut.

“Awalnya, tempat ibadah ini dipugar jadi langgar gede. Kemudian, tahun 1992 dipugar dan serambinya diperluas biar bisa menampung lebih banyak jemaah. Pada tahun 1992, tempat ini namanya berubah dari langgar menjadi Masjid KH Burham,” kata Icek Baskoro, putra sulung H Wodjo Karyoso.

Beberapa tahun lalu, dibangun pula sebuah menara yang cukup tinggi di sebelah selatan masjid. Kemudian, pada tahun 2016 ini, masjid tersebut diperluas lagi. Sampai saat ini, masjid KH Burham bisa menampung sekitar 250 jemaah.

Meski dipugar namun ada beberapa bagian bangunan lama yang tetap dipertahankan. Yakni, empat soko guru atau tiang utama bangunan dari kayu jati, lantai geladag. Kemudian, ukiran serambi dan pintu ukir kayu jati juga masih dipertahankan dan ditempatkan di bagian depan. Selain itu, bedug besar dari kayu jati utuh atau tanpa sambungan juga masih diletakkan di pojok masjid tersebut.

Editor : Akrom Hazami

 

Mengintip Pasar Ramadan di Kota Kinabalu Malaysia Bareng Warga Pati

cerita 2

Suasana Pasar Ramadan di Sulaman, Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia. (Dok. Erieq Dhanar Nugraha)

 

MuriaNewsCom, Pati – Erieq Dhanar Nugraha, warga Desa Tawangrejo, Kecamatan Winong, Pati, menceritakan suasana Ramadan di Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia di mana ia tinggal saat ini. Tak berbeda dengan Ramadan di Indonesia, Pasar Ramadan meramaikan suasana menjelang buka puasa.

Di sana, Erieq biasanya berburu takjil dan makanan khas Jawa. Sebab, lidah Erieq tidak begitu cocok dengan masakan khas Sabah, Malaysia.

Anehnya, jajanan dan masakan khas Jawa membanjiri tempat-tempat Pasar Ramadan di Kinabalu. Misalnya saja, martabak, kolak, lupis, apem, tempe, dan masih banyak lagi jajanan khas Jawa lainnya.

“Kalau bicara soal Ramadan, sebetulnya sama saja. Karena, Malaysia rumpunnya tak jauh berbeda dengan Indonesia. Namun anehnya, banyak jajanan Jawa yang membanjiri dan digemari penduduk Kinabalu. Masakan China, India, dan Barat sendiri tidak terlalu banyak diburu warga,” cerita Erieq kepada MuriaNewsCom, Sabtu (11/6/2016).

Masakan khas Sabah sendiri, biasanya nasinya cenderung keras sehingga penjual selalu menyediakan sup dalam mangkuk kecil. Semua kuliner, kata Erieq, selalu disertakan sup dalam mangkuk kecil, mulai dari nasi goreng, mi goreng, hingga ayam penyet.

“Di manapun tempatnya, saya biasanya berburu kuliner masakan khas Jawa, termasuk ketika berburu takjil di Pasar Ramadan. Tak perlu repot cari masakan Jawa, karena kuliner Jawa di sana mendominasi,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Warga Tawangrejo Pati Habiskan Ramadan di Malaysia, Begini Ceritanya

Kegiatan pesantren kilat di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu, sabah, Malaysia. (Dok. Erieq Danar Nugroho)

Kegiatan pesantren kilat di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu, sabah, Malaysia. (Dok. Erieq Danar Nugroho)

 

MuriaNewsCom, Pati – Erieq Dhanar Nugroho, warga Desa Tawangrejo, Kecamatan Winong, Pati menghabiskan Ramadan di Sulaman, kawasan Sepanggar, Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia. Ada banyak cerita Ramadan yang ia ceritakan.

Erieq sendiri berangkat ke Malaysia untuk ditugaskan menjadi guru bagi pelajar di Sekolah Indonesia Luar Negeri delapan bulan yang lalu. Ramadan pertama hingga 18 Juni nanti, rencananya ia habiskan bersama murid-muridnya di Malaysia.

“Kegiatan Sekolah Indonesia Kota Kinabalu saat ini pesantren kilat, sama seperti di Indonesia. Ada tadarus bersama, permainan yang mengenalkan keislaman dan keindonesiaan, lomba pasang sorban dan jilbab, hingga agenda buka bersama. Saya senang menghabiskan Ramadan bersama murid-murid Indonesia di Malaysia,” ujar Erieq saat dihubungi MuriaNewsCom, Sabtu (11/6/2016).

Uniknya, murid nonmuslim juga diberi pembelajaran keagamaan selama Ramadan. Hanya, mereka diajari keagamaan sesuai dengan keyakinannya. Sementara itu, murid muslim mengikuti pesantren kilat.

Diceritakan, anak-anak nonmuslim diberi kebebasan untuk makan dan minum di lingkungan sekolah. Sedangkan anak-anak muslim menjalankan ibadah dan bisa berdampingan secara rukun dengan anak-anak nonmuslim.

“Anak-anak dan guru sudah biasa hidup di lingkungan yang serba multikultural. Tidak ada paksaan untuk puasa. Sebaliknya, tidak ada paksaan untuk tidak puasa. Semua berjalan baik dan penuh toleransi,” tutur Erieq.

Hal itu berlaku di daerah Erieq tinggal, di luar sekolah. Menurutnya, kesan Ramadan di Sabah begitu damai dan saling menghargai. Umat nonmuslim saat makan, biasanya meminta izin kepada umat Muslim, “Maaf ya, saya tidak puasa.”

Begitu pula dengan umat Muslim, Erieq menceritakan biasanya dijawab dengan kata, “Tak apa. Saya yang puasa, ya saya yang ndak boleh makan. Kamu ndak puasa ya makan seja.”

“Pada 18 Juni nanti rencananya saya pulang ke Pati. Meski begitu terkesan dengan suasana Ramadan di Sabah yang juga dibanjiri pasar Ramadan, tetapi saya rindu menghabiskan Ramadan di kampung halaman sendiri,” tandasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Unik, Cara Bocah Grobogan Bangunkan Ibu-ibu Biar Enggak Kesiangan Sahur

Sejumlah anak tengah berkeliling kampung untuk membangunkan warga supaya segera bersahur di Purwodadi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Sejumlah anak tengah berkeliling kampung untuk membangunkan warga supaya segera bersahur di Purwodadi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski tidak semarak beberapa tahun lalu namun, tradisi keliling kampung untuk membangunkan orang buat bersahur masih bisa dijumpai. Aktivitas ini biasanya dilakukan oleh anak-anak dengan memakai alat musik seadanya.

Aktivitas seperti ini biasa disebut kotekan.  Di tempat lain ada yang menyebut tongtek atau patrol.

Dari pantauan, aktivitas kotekan ini masih terlihat di beberapa perkampungan padat penduduk di kawasan kota Purwodadi. Seperti kampung Jengglong, Jetis, Kuripan, dan Plindungan.

Selepas dini hari, suasana di sejumlah perkampungan itu mulai ramai. Beberapa bocah sudah bersiap-siap keliling kampung untuk membangunkan warga agar makan sahur.

“Biasanya kami mulai keliling kampung mulai pukul 01.30 WIB sampai pukul 03.00 WB. Kegiatan ini kami lakukan tiap malam asal tidak turun hujan,” kata Hendra, bocah yang tinggal di Kampung Jengglong Barat.

Pelaku kotekan ini biasanya membentuk sebuah tim sendiri. Masing-masing tim beranggota lima sampai 10 orang. Kebanyakan anggota tim ini adalah anak-anak dan remaja (anak SMP).

Sambil beteriak ‘Sahur…sahur’ rombongan bocah ini juga membunyikan berbagai macam barang yang mirip alunan musik. Misalnya, sendok, botol, piring, panci, wajan, ember dan galon air.

Hadirnya kotekan itu dirasa cukup membantu warga sekitar. Masalahnya, mereka tidak khawatir terlambat bangun untuk bersahur karena dibangunkan bocah-bocah tersebut.

Meski begitu, ada pula yang merasa sedikit terganggu dengan kehadiran tim kotekan itu. Soalnya, mereka terkadang kaget dengan suara musik yang dipukul terlalu keras dan tiba-tiba.

“Adanya anak-anak kotekan inilah yang jadi salah satu ciri khas tiap puasa. Jadi kehadirannya memang cukup membantu, terutama ibu-ibu yang harus bangun lebih awal buat menyiapkan menu sahur buat keluarga,” kata Lisgianti, warga Jengglong Barat.

Editor : Akrom Hazami

 

Sunan Kudus Jadikan Masjid Ini Tempat Rapat Wali Se-Jawa

Jpeg

Masjid Nganguk Wali, di Desa Kramat, yang menjadi salah satu saksi sejarah penyebaran Islam di Kudus. (MuriaNewsCom / Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kota Kudus mempunyai sejarah Islam yang lekat. Hal itu tak lepas dari kabupaten ini yang mempunyai dua makam Walisongo. Yakni Sunan Kudus dan Sunan Muria.

Tidak heran jika banyak masjid tua yang berdiri. Yang tentunya, menyimpan sejarah tentang penyebaran Islam di Kudus dan tanah Jawa.

Selain Masjid Menara, dan masjid Wali di Desa Jepang, ada satu masjid lagi yang juga mendapat nama Masjid Wali. Yakni Masjid Nganguk Wali, di Desa Kramat, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus.

Masjid yang didirikan Sunan Kudus ini selalu menjadi tempat berkumpul dewan Walisongo saat berada di Kudus.Masjid ini menjadi tempat untuk mendiskusikan penyebaran Islam di Kudus.

Pengurus Masjid Nganguk Wali Bagian Idaroh (peribadatan) Ahmad Sururi mengatakan, sekitar 500 tahun silam, masjid ini memang dijadikan tempat pertemuan bagi wali se Tanah Jawa.”Yakni untuk tempat rapat, mengatur strategi menyebarkan Islam di Kudus,” paparnya.

Dia menilai, keberadaan Masjid Nganguk Wali ini tak lepas dari peranan ulama dari Timur Tengah bernama Syech Sayyid Abdurrahaman. Berdasarkan cerita, ulama ini datang ke Kudus memang untuk membantu Sunan Kudus menyebarkan Islam, di Desa Kramat dan sekitarnya.

“Syech Sayyid Abdurrahman itukan sama-sama dari Timur Tengah, seperti halnya Sunan Kudus, yang juga dari Timur Tengah. Sehingga Sunan Kudus memilih tempat ini untuk berkumpulnya Wali Songo,” ujarnya.

Jpeg

Tiang atau soko guru di dalam masjid yang masih asli sejak dibangun Sunan Kudus, ratusan tahun lalu. (MuriaNewsCom / Edy Sutriyono)

 

Dari pengamatan, di kompleks masjid itu juga ada sumur tua berbentuk kotak. Sumur itu menjadi tempat wudhu jamaah masjid. Selain itu, juga ada tiang soko guru yang ada di dalam masjid, masih sama seperti saat dibangun.

“Sementara pagar atau gapura ini bangunan baru, sekitar tahun 2008. Bangunan tersebut hanya untuk mempercantik masjid saja,” ujarnya.

Dia menambahakan, setelah Sunan Kudus menjadi pemimpin pemerintahan Kudus, Masjid Nganguk Wali diserahkan ke Kyai Telingsing, untuk dirawat. “Setelah Kyai Telingsing, masjid ini juga diserahakan ke Syech Syyaid Abdurrahman untuk dijaga, serta untuk dijadikan fasilatas menyebarkan agama Islam,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Cerita Masjid Agung Baitunnur Blora yang Juga Disebut Masjid Doro Ndekem

 Masjid Agung Baitunnur Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)


Masjid Agung Baitunnur Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

 

MuriaNewsCom, Blora – Masjid Agung Baitunnur Blora menjadi salah satu ikon bagi Kabupaten Blora. Salah satu masjid tertua di Kabupaten Blora ini, tak lepas dengan cerita dan sejarah terkait perkembangan Islam dan pendiri masjid tersebut.

Sebelum dikenal dengan Masjid Baitunnur, masjid yang berada di sudut bagian barat Alun-alun Blora ini, dulunya dikenal dengan sebutan Masjid Doro Ndekem atau merpati yang duduk. Sebab, saat berdirinya Masjid Agung Baitunnur Blora ini konon letak tanahnya lebih rendah daripada Alun-alun Blora.Sehingga tampak seperti burung merpati yang sedang duduk, yang akhirnya masyarakat memberi nama Masjid Doro Ndekem sebelum dinamakan sebagai Masjid Agung Baitunnur Blora.

Masjid yang bangunannya masih mempertahankan ornament-ornamen klasik ini, dibangun pada tahun 1722 Masehi.  Kemudian, pada tahun 1744 Masehi mengalami pemugaran yang diprakarsai oleh Bupati Blora Raden Tumenggung Djajeng Tirtonoto dengan Surya Cengkala “Catur Pandhita Sabdaning Ratu”.

Pada tahun 1968 dan 1975 juga mengalami pemugaran, kali ini diprakarsai Bupati Supadi Yudhodarmo dengan tambahan bangunan menara pada sisi kanan depan masjid. Pada mimbar terdapat angka tahun dengan huruf Arab dan Jawa, dan terbaca 1718.

Tidak jauh dari Masjid Agung Blora, terdapat Makam Sunan Pojok yang merupakan pendiri masjid ini. Sunan Pojok yang dimakamkan di Makam Gedong Blora, Jl. Mr. Iskandar 1/1 Blora atau sebelah selatan Alun-alun Blora, merupakan makam pindahan yang dilakukan oleh R.T. Djojodipo, putra Sunan Pojok.

Masjid ini, juga mengalami penambahan di sisi kanan dan kiri masjid untuk menampung jemaah lebih banyak. Di sini, juga bisa ditemui komponen artefak kuno yang terdapat di masjid dan serambi, antara lain mimbar dari kayu berukir, maksurah, dan 2 buah bedug.

Selain itu terdapat prasasti berhuruf Jawa di atas ambang pintu masuk ke ruang utama dan angka tahun 1892 di daun pintu. Pada pintu selatan terdapat angka tahun 1822 dan pintu sebelah utara 1310 H.

 Editor : Kholistiono

 

 

 

Ternyata Bangunan Masjid Agung Rembang Merupakan Cagar Budaya

Santri melintas di bangunan yang di dalamnya terdapat makam Pangeran Sedo Laut dan keluarganya, Rabu (8/6/2016). Bangunan ini terletak di sebelah barat masjid. (MuriaNewsCom/Achmad Hasyim)

Santri melintas di bangunan yang di dalamnya terdapat makam Pangeran Sedo Laut dan keluarganya, Rabu (8/6/2016). Bangunan ini terletak di sebelah barat masjid. (MuriaNewsCom/Achmad Hasyim)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Ternyata bangunan Masjid Agung Rembang termasuk dalam cagar budaya. Hal itu dikatakan oleh Sekretaris Pengurus Masjid Agung Rembang M Arif Sugeng Purwanto saat ditemui MuriaNewsCom di rumahnya, di kawasan Pondok Pesantren Al Irsyad, Kauman, Kelurahan Kutoharjo Kecamatan Rembang, Rabu (8/6/2016).

“Bangunan masjid dan makam Pangeran Sedo Laut termasuk cagar budaya yang dilindungi pemerintah. Karena ada makamnya bupati (Pangeran Sedo Laut) dan bangunan asli masjid agung.  Jadi mendapat perawatan terus dari pemerintah kabupaten melalui dinas pariwisata,” ungkap Arif.

Arif menunjukkan bahwa papan informasi yang menyatakan bangunan masjid adalah cagar budaya berada di depan masjid. Setelah MuriaNewsCom amati, papan itu memang benar berada di depan masjid. Tepatnya di samping papan Dewan Masjid Indonesia Kabupaten Rembang. Hanya beberapa tulisannya sudah memudar.

Arif menjelaskan bahwa ada beberapa benda bersejarah yang masih dapat dilihat jemaah masjid sekarang. Benda itu adalah semacam prasasti yang ada di tempat imam dan pintu masuk ruang utama masjid dan mimbar tempat khatib.

“Di prasasti di tempat imam dan pintu masuk masjid ada tulisan tahunnya. Coba nanti sampeyan lihat biar lebih jelasnya. Mimbar belum diketahui ada di masjid sejak kapan, bisa sejak renovasi kedua atau ketiga atau kapan,” kata Arif.

Setelah melihat langsung kedua prasasti, ternyata benar ada tulisan tahunnya. Di prasasti yang terdapat di tempat imam tertulis angka tahun, namun sulit untuk memastikan angka berapa yang tertulis. Di prasasti yang terdapat di pintu masuk ruang utama masjid terdapat tulisan tahun 1302 (dalam huruf Arab), 1814, dan 1884.

Editor : Akrom Hazami

Petani ini Masih Nyantri di Usia 56 Tahun di Rembang

santri tua e

Muhadi (56) sedang membaca kalimat zikir di depan makam Pangeran Sedo Laut, Rabu (8/6/2016) (MuriaNewsCom/AchmadHasyim)

 
MuriaNewsCom, Rembang – Mencari ilmu memang tak mengenal usia. Menurut hadis Nabi, carilah ilmu dari lahir sampai liang lahat, yang artinya mencari ilmu itu wajib sejak lahir sampai mati. Hanya mati yang mampu menghentikan seseorang untuk mencari ilmu.

Hal tersebut dipraktikkan oleh Muhadi (56). Ia masih nyantri di Pondok Pesantren Al Irsyad, Kelurahan Kutoharjo, Kecamatan/Kabupaten Rembang. Pesantren ini terletak di sebelah barat Masjid Agung Rembang. Ia menamai dirinya sendiri sebagai ”santri tua” yang sedang melakukan “ngaji tua”.

“Setiap Ramadan, di waktu sela saya, saya menyempatkan diri untuk ngaji. Saya ingin meningkatkan pelajaran seperti dari kelas satu naik ke kelas dua,” ujar petani asal Desa Mojolawaran, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati, Rabu (8/6/2016).

Ia mengatakan ngaji-nya ini berbeda dengan ngajinya anak muda. Menurutnya, kalau ngajinya anak muda lebih ke syariat dengan mengaji kitab. Sedangkan ngaji tua adalah ngaji hati atau ngaji hakikat.

“Tujuannya untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan wiridan dan zikir. Pertama saya dibaiat (ucapan kesanggupan atau kesetiaan), sesudah itu diberi amalan sekian ribu. Kalimat zikirnya itu mengucapkan Allah, Allah, Allah, sampai ribuan kali,” imbuh Muhadi.

Ia menjelaskan tujuan wirid itu adalah untuk membersihkan hati, mendekatkan diri kepada Allah, dan agar manusia ingat mati. “Setiap detik, Allah. Setiap masuknya nafas, keluarnya nafas disertai Allah, Allah,” ungkap Muhadi sambil memutar tasbihnya.

Namun, menurutnya, ngaji syariat juga perlu. Ia bercerita bahwa waktu muda, saat lulus SMA, ia juga belajar kitab di pondok pesantren Al Irsyad ini.

Editor : Akrom Hazami

 

Yuk, Lebih Mengenal Sejarah Masjid Agung Rembang

Santri melintas di depan gerbang Masjid Agung Rembang, Rabu (8/6/2016) (MuriaNewsCom/AchmadHasyim)

Santri melintas di depan gerbang Masjid Agung Rembang, Rabu (8/6/2016) (MuriaNewsCom/AchmadHasyim)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Jika kita singgah di alun-alun kabupaten/kota, kita akan sering melihat masjid . Satu di antara masjid yang berada di pinggir alun-alun adalah Masjid Agung Rembang. Lokasi tepatnya di sebelah barat. Masjid ini berdiri di atas tanah seluas 3.795 meter persegi dan dapat menampung sekitar 2.500 jamaah.

Sekretaris Pengurus Masjid Agung Rembang M Arif Sugeng Purwanto yang ditemui, Rabu (8/6/2016) pagi menjelaskan bahwa pendiri pertama masjid ini belum diketahui secara pasti. Diperkirakan, masjid ini didirikan pada 1232 H atau 1814 M. Dalam sejarah, Masjid Agung Rembang mengalami banyak perbaikan.

“Perbaikan kedua oleh Bupati Rembang Raden Adipati Djoyodiningrat yang kemudian beliau menetapkan masjid ini sebagai Masjid Kabupaten Rembang pada tahun 1239 H/1832M. Selanjutnya, masjid ini diperbaiki lagi pada masa pemerintahan Bupati Raden Tumenggung Pratikto Kusuma atau dikenal dengan Pangeran Sedo Laut pada tahun 1884 M,” ungkap Arif.

Makam Pangeran Sedo Laut berada di sebelah barat masjid dan masih berdiri di tanah masjid. Ia menegaskan bahwa meskipun Masjid Agung Rembang mengalami beberapa kali perbaikan, bangunan induk atau bagian dalam masjid masih dijaga keasliannya. Setelah Indonesia merdeka di tahun 1945, Masjid Agung Rembang juga direnovasi beberapa kali.

“Tahun 1966, masjid ini direnovasi oleh Bupati Adnan Widodo. Genting biasa diganti menjadi genting pres dan memasang huruf Allah di atas mustaka. Tahun 1970, Bupati S. Hadi Sunyoto membangun serambi depan dan pilar-pilar porselen bermenara,” lanjut Arif.

Pada masa Bupati Sunyoto juga memperbaiki kayu penyangga atap yang rusak. Dana renovasi tersebut berasal dari Gubernur Jawa Tengah H. Moenadi dan swadaya masyarakat. Renovasi besar-besaran dilakukan pada masa Bupati Rembang Wachidi Rijono pada tahun 1997.

“Pada waktu renovasi Bapak Wachidi Rijono ini, serambi masjid dirombak dan dibangun lagi seperti terlihat sekarang. Renovasi ini melibatkan partisipasi masyarakat Rembang termasuk dalam pengumpulan dananya. Melibatkan camat-camat se-Kabupaten Rembang dalam forum-forum pengajian,” kata Arif.

Menara Masjid Agung Rembang yang terletak di sebelah utara masjid dengan tinggi 37 meter diresmikan oleh Bupati Rembang H Moch Salim pada 3 Maret 2012. Pembangunan menara ini direncanakan sejak 2008 atas usul Sekda Rembang H Hamzah Fatoni.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Melihat Suasana Ramadan di Masjid Berarsitektur Timur Tengah di Grobogan

Warga berada di masjid. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga berada di masjid. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Suasana lebih ramai dan semarak terlihat di Masjid Asy Syamiri Lathifah yang ada di Kampung Jetis, Kelurahan Purwodadi, Grobogan, ketika memasuki Ramadan.

Berbagai aktivitas dilakukan di masjid yang mampu menampung sekitar 300 jemaah tersebut. Seperti buka bersama, tadarusan, pengajian dan kegiatan keagamaan lainnya.

Sepintas, aktivitas yang ada tidak jauh berbeda dengan masjid di tempat lainnya. Namun, bagi jemaah Masjid Asy Syamiri Lathifah, hal itu dirasa sangat berbeda.

“Aktivitas keagamaan bulan Ramadan kali ini terasa spesial dan istimewa. Sebab, ini merupakan kegiatan Ramadan pertama yang dilangsungkan di masjid sini,” ungkap Supriyanto, salah seorang pengurus masjid di kawasan kota Purwodadi itu.

Masjid tampak luar. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Masjid tampak luar. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

Masjid yang didirikan di atas lahan seluas 650 meter persegi itu mulai dibangun awal tahun 2015 lalu. Kemudian, peresmiannya dilangsungkan pada hari Jumat (6/11/2015) oleh Bambang Pudjiono, Bupati Grobogan saat itu. Usai diresmikan, siang harinya langsung dipakai untuk Salat Jumat.

Pembangunan masjid dengan corak Timur Tengah itu menghabiskan dana sekitar Rp 900 juta. Selain swadaya masyarakat, sebagian dana pembangunan masjid berasal dari bantuan Pemerintah Arab Saudi melalui Yayasan Makkah Al Mukaromah.

 

Jemaah mengikuti kegiatan buka bersama. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Jemaah mengikuti kegiatan buka bersama. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

Supriyanto menyatakan, selama puasa, selalu ada acara buka bersama para jamaah. Meski dengan menu seadanya, namun buka puasa bersama itu selalu ramai. Tidak hanya orang tua atau dewasa tetapi juga banyak anak-anak yang ikut serta dalam buka bersama.

“Untuk pelaksanaan Salat Tarawih juga diikuti banyak jemaah dan setelah itu dilanjutkan kultum dan setelah itu ada tadarusan. Selain jamaah dari warga sekitar sini, tadarusan juga diikuti beberapa anak pondok pesantren dan penghuni panti asuhan,” tambahnya yang juga Kabag Umum Pemkab Grobogan itu.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Arya Penangsang Biasa Istirahat di Masjid Wali Jepang Kudus

masjid wali e

Warga melintas di depan Masjid Wali Jepang, Mejobo, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Berdirinya Masjid Wali Jepang, Mejobo, Kudus, memang tidak terlepas dari peran serta Sunan Kudus. Karena Masjid Wali Jepang yang diberi nama Masjid Al Makmur tersebut merupakan tempat persinggahan Arya Penangsang  menuju ke tempat Sunan Kudus, guna belajar ilmu.

Pengurus Masjid Wali atau marbut Fatkhurrohman Aziz mengatakan, sebenarnya sebelum masjid dibangun sekitar abad 16, tempat ini merupakan suatu tempat persinggahan Arya Penangsang sebelum menuntut ilmu ke Sunan Kudus.

“Daerah sini dulunya merupakan sebuah rawa besar. Daerah ini sebagai tempat persinggahan perahunya Arya Penangsang. Arya Penangsang tersebut datang dari Blora menuju Kudus untuk berguru kepada Sunan kudus,” ceritanya kepada MuriaNewsCom.

Lambat laun, Sunan Kudus membangunkan masjid sebagai tempat istirahat sambil beribadah agar bisa dimanfaatkan Arya Penangsang.

“Selain sebagai tempat istirahat sambil untuk ibadah, masjid ini juga dijadikan Arya Penangsang untuk menyebarkan ajaran Islam kepada warga Jepang, Mejobo. Sebab penyebaran ajaran Islam tersebut juga atas perintah dari Sunan Kudus kepada Arya penangsang. Diketahui, Arya Penangsang tersebut merupakan murid kesayangan dari Sunan Kudus,” ujarnya.

Dari pantauan MuriaNewsCom, masjid Al Makmur tersebut mempunyai kesamaan arsitektur dari masjid Attaqwa Sunan Kudus.

“Kesamaan masjid ini yakni terletak di keempat tiang soko gurunya. Sebab masjid Al Makmur dan Masjid Attaqwa juga mempunyai tiang soko guru. Selain itu juga mempunyai gapura Arya Penangsang. Di gapura pintu masuk (selatan), parkir menara juga ada gapura Arya penangsang, sedangkan di depan masjid ini juga mempunyai gapura Arya Penangsang,” ungkapnya.

Sementara itu, Masjid Wali yang diberi nama dengan nama Masjid Al Makmur merupakan pemberian dari ulama yang berasal dari Karangmalang, Gebog, Sayyid Dloro Ali pada1917 M atau 1336 H.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Kisah Unik Berdirinya Masjid Gentong Loram Wetan Kudus

Warga melintas di depan Masjid Darussalam atau masjid gentong di Loram Wetan, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Warga melintas di depan Masjid Darussalam atau masjid gentong di Loram Wetan, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Kudus – Masjid Gentong di Desa Loram Wetan, RT 4 RW 5, Jati, Kudus, mempunyai kisah unik tersendiri. Masjid ini kini telah berdiri megah. Setelah sebelumnya ditemukan sumur gentong, pada 1981. Kini, kondisi sumur gentong sudah kehilangan daya tariknya.

Warga  Loram Wetan, Sutris mengatakan, ketika itu sumur gentong memberikan manfaat bagi semua warga. Yakni mempunyai daya tarik yang membuat orang penasaran. Saat sumur gentong ditemukan, banyak warga berlomba ingin melihatnya.

Hal itu dimanfaatkan sejumlah pemuda untuk menarik sumbangan. Tujuannya agar renovasi masjid yang diberi nama Darussalam, bisa lancar.

Saat itu, pada awal tahun 1981, masjid ini mengalami renovasi, dan setelah itu
sekitar 1981 akhir, gentong diketemukan oleh warga, Karno dan Gimin. Keduanya menemukan saat sedang menggali pasir.

Gentong kuno itu terus mengeluarkan air. Dan akhirnya, dikenal sebagai sumur gentong. Karena keajaiban itulah, warga pun berdatangan. Kesempatan itu dimanfaatkan pemuda desa menyediakan kotak amal.

“Hasilnya, sumbangan dari pengunjung sumur gentong ini bisa untuk mendirikan TPQ, madrasah diniah, dan merenovasi masjid ini,” tambahnya.

Editor : Akrom Hazami

Karomah KH Sanusi Kudus, di Rumah tapi Datangi Undangan di Mekah

jekulo

Di sebelah selatan Masjid Jekulo Kauman Kudus, itulah Mbah Sanusi dimakamkan.

 

MuriaNewsCom, Kudus – Sebagian besar warga Kudus telah mengenal, siapa sosok KH Sanusi. Ada juga yang mengenalnya dengan nama KH Sanusi Ali, atau Mbah Sanusi Ali.

Dari informasi yang dihimpun dari beberapa sumber, KH Sanusi yg dimakamkan di selatan Masjid Kauman Jekulo. KH Sanusi  dilahirkan dari pasangan Ya’qub dan Sarijah.  Adapun silsilah, mulai dari dirinya.

KH Sanusi Bin kiai Ya’qub dimakamkan di Tenggeles, Bin Raden Mas Hadi Kesumo (KH Abdur Rohman makamnya di Ngembalrejo Kudus), Bin Raden Mas Sumo Hadiwijoyo makamnya di Mlati Kudus, Bin Raden Mas Tumenggung Adipati Hadi Kesumo Nengrat, dan Bin Raden Mas Tumenggung Adipati Surya Kesumo Mejobo Kudus.

Silsilah Mbah Sanusi juga sampai kepada Waliyullah Abdur Rahman Ba’abud yang lebih dikenal dengan nama Amangkurat Mas II, Tegal Arum. Raden Amangkurat Mas merupakan salah satu keluarga Kerathon Surakarta yg mengasingkan diri dari pemerintahan.

Saat hidupnya, beliau dikenal dengan sebutan H Sanusi Ali, namun keterangan lain nama Ali tersebut bukan nama asli melainkan laqob atau nama panggilan yg berasal dari istilah Sanusi Kulon Kali. Lalu anak-anak kecil sering menyebutnya dengan menyingkat Mbah Sanusi Kulon kali menjadi Mbah Sanusi Ali.

Dalam menyebarkan ilmunya, Mbah Sanusi Ali lebih suka melayani masyarakat daripada mendirikan pesantren.

Dikutip dari buku Kyai Tanpa Pesantren (Potret Kyai Kudus) karya Prof H Abdurrahman Mas’ud PH.D.  Mbah Sanusi kerap melakukan riyadlah dengan bertapa selama 40 hari tanpa bekal di puncak Argo Jimbangan, salah satu puncak di Gunung Muria.

Almarhum KH Ahmad Basyir, sesepuh dan kiai Desa Jekulo pernah mengatakan, Mbah Sanusi adalah salah satu waliyullah yang dapat disetarakan dengan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam skala kecil.

Karena, jalan kehidupan dan spiritualitas yang dijalani memiliki kemiripan dengan manaqibnya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

Salah satunya, dulu ada saudagar Kudus yang dicegat sekawanan perampok di tengah jalan. Tiba-tiba, saudagar itu menyebut berulang-ulang nama Mbah Sanusi. Tiba-tiba Mbah Sanusi datang dan menolongnya.

Ada beberapa karomah Mbah Sanusi yang sampai sekarang kerap menjadi buah bibir di kalangan masyarakat.

Saat beliau melakukan tapa brata tersebut beliau selalu ditemani macan yang selalu membawakan bumbung air untuk berwudhu, guna menjalankan salat lima waktu.

Beliau juga pernah ditemui oleh Nabi Khidir AS dan diberi nasi bungkus untuk menghabiskanya namun beliau tidak dapat menghabiskanya, dan hanya memakanya separuh.

Saat riyadlah dan genap 40 hari beliau turun gunung untuk menemui ibunya. Saat sampai di rumah, Mbah Sanusi mengerjai ibunya saat sedang menimba air di sumurnya dengan sengot. Tiba-tiba ibu merasa berat dan berteriak-teriak minta tolong karena tak mampu menarik sengot timbanya tersebut.

Mbah Sanusi tiba tiba muncul dengan memegang sengotnya dan berkata (Aku yang ganduli mbok). Rupanya, Mbah Sanusi ingin memperlihatkan kemampuannya kepada sang ibu.

Pernah suatu pagi, Mbah Sanusi menyapu di depan musala dengan diam menunduk. Hanya tangannya saja yang bergerak-gerak. KH Yasin, yang merupakan murid beliau sowan, beliau berkata bahwa tadi sedang membantu seorang di Malang, Jawa Timur.

Pada kesempatan lain, KH Yasin sowan ke rumah Mbah Sanusi di pagi hari. KH Yasin disuguhi Nasi Samin yang masih hangat. Meliahat suguhan itu KH Yasin bertanya dengan dialek Jawa, “Nasi Samin yang penuh daging itu berasal dari mana??”.

Mbah Sanusi menjawab. “Itu lho tadi jam setengah enam pagi aku dapat undangan di Mekah” kemudian KH Yasin menimpali, “Waktu aku haji, kebanyakan nasi di Mekah memang Nasi Samin”. Yang jelas, pagi itu, KH Yasin melihat Mbah Sanusi masih di Jekulo.

Di antara murid-murid beliau adalah KH Yasir, KH Yasin dan KH Dahlan, ketiganya adalah ulama setempat di daerah Jekulo. Juga KH Muhammadun Pondohan Tayu Pati. Beliau KH Muhammadun ber-baiat Thariqah Naqsabandiyyah pada Mbah Sanusi dengan baiat khusus. Oleh Mbah Sanusi, KH Muhammadun dipesan agar tak mengijazahkan kepada sembarang orang.

Begitulah kira-kira sepenggal Biografi tentang Waliyulloh Mbah Sanusi. Haul beliau diadakan pada Malam hari setelah Isya’ oleh Masyarakat dan keturunan beliau, setiap Tanggal 18 Syawal.

Editor : Akrom Hazami