Diganggu Hantu Pocong Ngesot di Gubuk Reyot di Blora

pocong-ngesot

MuriaNewsCom, Blora – Pengalaman misteri membuat seseorang sulit melupakannya. Seperti yang dialami oleh salah seorang warga Blora. Namanya Dimaz (25) warga Desa Banyuasin, RT 02 RW 04, Kecamatan Jepon.

Kepada MuriaNewsCom, Dimaz membuka cerita misterinya.  Tepatnya pada malam Jumat Legi di tahun 2014. Ketika itu, Dimaz baru pulang dari rumah sakit setempat pukul 23.45 WIB.

Dimaz baru pulang membesuk keponakannya. Malam itu, hujan rintik turun. Udara malam bercampur hujan, membuat tubuh Dimaz sedikit lelah. Rasanya, kalau melanjutkan perjalanan, tubuhnya tak begitu mampu menahan gempuran dinginnya udara malam.

Sunyi, dan gelap. Di tengah suasana itu, Dimaz melihat sebuah bangunan gubuk yang tampak teduh. Pikirnya, istirahat sebentar di gubuk itu mampu memulihkan tenaganya.

Dimaz mencopot jaket yang dikenakannya karena basah. Ada sebuah bangku kayu di depan gubuk itu. Dimaz duduk di bangku tersebut. Pelan-pelan Dimaz mengatur nafasnya, biar lebih tenang.

Tiba-tiba seorang gadis remaja muncul dari balik gubuk. Ternyata gadis itu berubah. Dimaz melihatnya seperti pocong. Tapi jalannya ngesot.

“Siapa namamu? Kamu kenapa?”Tanya Dimaz.

Bukannya dijawab, malah sosok itu cengar-cengir, kemudian mengangis. “Kembalikan kakiku,” seru sosok tersebut.

“Astagfirullah,” Dimaz berseru.

Dimaz langsung mendatangi sepeda motornya. Dinyalakan mesinnya, tapi tak juga nyala. Dalam kondisi gugup bercampur takut, Dimaz tak bisa berpikir tenang. Jantungnya terasa mau copot.

Dimaz terpaksa menuntun sepeda motornya secepat mungkin. Tapi aneh, meski Dimaz sudah menuntun sepeda motor dengan cepat, rasanya masih dekat dengan gubuk.

Rasa takut yang memuncak, ditambah letih tak karuan, membuat Dimaz menyerah. Dimaz tiba-tiba pingsan. Desiran angin yang menyentuh tubuh Dimaz seolah tak lagi terasa.

Dimaz tak ingat berapa lama pingsan. Tapi seingatnya, Dimaz pingsan hampir tiga jam. Saat tersadar, suasana masih sunyi dan gelap. Tanpa melihat ke arah gubuk, Dimaz mencoba menyalakan mesin sepeda motor. Dan itu berhasil.

Itulah cerita misteri yang dialami Dimaz. Bagi Anda yang mempunyai pengalaman misteri, silakan berpartisipasi dengan mengirimkan cerita ke email red.murianews@gmail.com atau SMS ke nomor 0878 3136 9213.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :

Ketemu Hantu Sundel Bolong di Hutan Blora

4 Bukti Angkernya Hutan Blora 

Penampakan Hantu di Belik Plenggong Rembang 

Mbak Hantu yang Tiba-tiba Hilang di Pertigaan 

 

Misteri Penampakan Kuntilanak di Kawasan Taman Lumpur Kesongo Blora

f-kuntilanak (e)

MuriaNewsCom, Blora – Keberadaan Lumpur Kesongo yang berada di Area Perhutani KPH Randublatung Blora, terletak di Petak 141 RPH Padas BKPH Trembes, tak lepas dari cerita misteri mengenai asal usulnya, yang dikaitkan dengan Joko Linglung yang menjelma sebagai sosok ular ketika bertapa.

Bahkan, hingga sekarang cerita mistis mengenai Lumpur Kesongo masih cukup kental. Tak jarang, kawasan Lumpur Kesongo menjadi tujuan sebagian orang untuk mengambil pesugihan ataupun ritual lain. Sebagai persembahannya adalah kepala kerbau atau kepala sapi, diletakkan di tempat tersebut.

Kawasan yang sebenarnya memiliki potensi wisata seperti Bleduk Kuwu di Grobogan, kini justru terkesan angker dengan cerita-cerita mistis yang beredar di masyarakat. Seperti halnya yang diceritakan Kristiyono, yang tempat tinggalnya berdekatan dengan kawasan Lumpur Kesongo, tepatnya di Dusun Sucen, Desa Gabusan, Kecamatan Jati, Blora.

Kristiyono mengaku mendapatkan cerita ini dari Mbah Amat, Juru Kunci Taman Lumpur Kesongo. Semenjak kawasan tersebut menjadi tempat tujuan oleh beberapa orang yang ingin hajatnya dikabulkan, maka tak jarang penampakan-penampakan makhlus halus muncul di tempat tersebut.

“Mbah Amat sudah seringkali menemui penampakan makluk halus seperti kuntilanak dan pocong. Belum lagi suara keluarnya lumpur kecil yang terus menerus membuat suasana Lumpur Kesongo menjadi makin mencekam,” cerita  Kristiyono.

Ditambah lagi, katanya, sebelah barat kawasan Lumpur Kesongo merupakan tempat penguburan PKI pada tahun 1965 yang membuat penampakan makhluk astral semakin banyak ditemui. Banyak korban PKI yang di kubur di kawasan tersebut.

Menurutnya, warga sekitar yang beraktivitas di sekitar Kawasan Lumpur Kesongo seperti bercocok tanam dan mencari kayu bakar, sering menemui penampakan makluh halus, entah itu di siang hari maupun di malam hari. “Jika malam hari, sering dijumpai pocong dan kuntilanak, sementara kalau siang hari sering di jumpai banaspati dan kepala manusia yang terbang berkeliaran. Warga sekitar menyebutnya pepekan,” imbuhnya.

Perlu diketahui, Lumpur Kesongo ini bermula dari legenda Ki Joko Linglung yang datang di kawasan tersebut untuk melakukan pertapaan. Pada pertapaannya itu, Ki Joko Linglung menjelma menjadi seekor ular yang sangat besar. Pertapaan ini memakan waktu bertahun-tahun lamanya, sehingga tubuh ular penjelmaan Ki Joko Linglung tertutup oleh pepohonan dan  tanaman merambat. Berdasarkan pesan sang guru, selama bertapa Ki Joko Linglung dilarang makan, kecuali ada sesuatu yang masuk kedalam mulutnya. Dalam pertapaannya, ular penjelmaan Ki Joko Linglung membuka mulutnya, sehingga terlihat seperti mulut gua.

 Suatu ketika, datanglah sepuluh anak pengembala mengembalakan sapinya di daerah tempat Ki Joko Linglung bertapa.  Tiba-tiba terjadi hujan lebat sehingga sepuluh pengembala itu mencari tempat berteduh. Secara tidak sengaja, salah satu dari sepuluh pengembala tersebut ada yang menemukan gua. Kemudian dia mengajak teman-temannya untuk berteduh di gua yang ditemukannya. Namun satu dari teman mereka tidak mau masuk ke dalam gua tersebut.

Pada saat berteduh, sembilan pengembala tersebut tidak menyadari kalau gua tempat mereka berteduh merupakan mulut dari ular penjelmaan Ki Joko Linglung yang sedang bertapa. Di dalam gua sembilan anak tesebut memukul-mukulkan goloknya ke dinding gua. Karena terkejut dan kesakitan dengan adanya orang yang masuk ke dalam mulutnya, ular jelmaan Ki Joko Linglung pun menutup mulutnya, dan sembilan pengembala tadi pun tertelan ke dalam perut ular penjelmaan Ki Joko Linglung.

Satu teman mereka yang tidak masuk ke dalam mulut gua tersebut kaget melihat kejadian itu. Dan Ki Joko Linglung yang telah kekenyangan setelah memakan sembilan anak pengembala tersebut mengeluarkan air liur dari mulutnya. Hal itu, karena dia telah berpuasa bertahun-tahun lamanya. Air liur Ki Joko Linglung yang jatuh ke tanah  secara menakjubkan menjadi letupan-letupan sumber lumpur yang ke luar dari perut bumi.

Setelah merasa kenyang, Ki Joko Linglung pun kembali melanjutkan proses pertapaannya dengan masuk ke perut bumi. Sumber lumpur yang ke luar dari perut bumi itu, sampai saat ini terus ke luar dengan lokasi yang berpindah-pindah.Pada saat tertentu terjadi letupan yang besar dan berlangsung seharian. Masyarakat sekitar menyakini lokasi lumpur yang berpindah-pindah itu merupakan tempat pertapaan Ki Joko Linglung

Satu anak pengembala yang selamat itu pun pulang ke desanya. Dia kemudian  menceritakan semua kejadian yang dialaminya bersama teman-temannya. Tempat semburan lumpur tersebut akhirnya dinamakan Kesongo atau Pesongo  yang berasal dari kata apesnya cah songgo (sialnya anak sembilan). Dikarenakan cerita tentang kesaktian Ki Joko Linglung dan tempat pertapaannya tersebut berkembang di masyarakat luas, maka tempat ini pun sampai sekarang merupakan tempat yang banyak dikunjungi orang untuk melakukan ritual permohonan berkah kepada Ki Joko Linglung agar diberi kesuksesan dunia.

Kirim cerita mistismu di MuriaNewsCom.

Bisa dikirim ke email red.murianews@gmail.com. Atau ke fanspage MuriaNewsCom, atau via SMS dengan format CERITA MURIA kirim ke : 0878 3136 9213 atau 0857 2942 6988. Kami akan menghubungimu. Kami tunggu ceritamu.

Editor : Kholistiono

 

Ini Lho Kisah di Balik Keberadaan Patung Kuda di Perbatasan Desa Soco Kudus

Patung kuda yang berada di gapura perbatasan Desa Soco (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Patung kuda yang berada di gapura perbatasan Desa Soco (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Keberadaan gapura yang terdapat dua patung kuda di perbatasan Desa Soco dan Puyoh,Kecamatan Dawe, Kudus, memiliki kisah yang terkait dengan legenda tokoh di desa setempat.
Menurut Tamsil (42), Warga Dukuh Kuwang, Desa Soco mengatakan, sepengetahuan dirinya, patung kuda yang dibangun di atas gapura perbatasan desa tersebut, sebagai bentuk penghormatan untuk mengenang cikal bakal desa setempat.

“Ceritanya, dulu di desa ini ada sebuah sendang yang selalu dijadikan sebagai tempat pemandian kuda semberani. Sendang itu sendiri dijuluki sebagai Sendang Centang Buntung,” ujarnya kepada MuriaNewsCom.

Katanya, sendang tersebut ditemukan oleh seorang pengembara bernama Sawunggaling. Pengembara inilah yang merupakan pemilik dari kuda semberani, dan Sawunggaling sering memandikan kuda tersebut di sendang tersebut.

Namun katanya, mitos yang hingga kini menjadi cerita di masyarakat, kuda milik Sawunggaling tersebut bukan kuda seperti pada umumnya, tapi makhluk gaib.

“Setahu saya, cerita itu juga turun temurun, dan hinga kini tidak ada yang tahu secara rinci dan pasti. Akan tetapi, patung kuda tersebut mempunyai sejarah dan arti tersendiri. Untuk mengenang hal itu, maka dibangun patung kuda itu,” ujarnya.

Dia menambahkan, Sendang Centang Buntung yang selalu dijadikan tempat pemandian kuda sembrani itu, katanya, muncul pada masa kerajaan. “Namun rata-rata orang disini juga tidak tahu pasti kerajaan apa,” katanya.

Editor : Kholistiono

 

Baca juga : Kisah Horor ‘Wanita Penunggu’ Patung Kuda di Batas Desa Soco Kudus

Tiap Tahun Warga Potong Kambing untuk Gapura Kuda di Desa Soco Dawe Kudus

Gapura Kuda Dukuh Kuwang, Desa Soco, Kecamatan Dawe yang tepat berada di tikungan tajam, membuat warga setempat melakukan selamatan dengan menyembelih kambing. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Gapura Kuda Dukuh Kuwang, Desa Soco, Kecamatan Dawe yang tepat berada di tikungan tajam, membuat warga setempat melakukan selamatan dengan menyembelih kambing. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Guna mencegah kecelakaan dan menciptakan keselamatan bagi warga, patung yang juga menjadi gapura di Dukuh Kuwang, Desa Soco, Kecamatan Dawe yang berada di tikungan dan turunan tajam tersebut selalu dikirimi doa setiap tahunnya. Pasalnya, patung kuda berada tepat di tikungan dan turunan tajam. Di mana kondisi geografis tersebut selalu membahayakan warga dan pengendara yang melintas.

Salah satu warga Dukuh Kuwang, Desa Soco, Kecamatan Dawe, Kuwat (62) mengatakan, memang setiap tahun pihak warga Dukuh Kuwang ini menyembelih kambing untuk selamatan. ”Yakni tepatnya di bulan Ruwah hari Jumat Wage atau sebelum ramadan,” paparnya.

Dia menilai, keselamatan itu juga diperuntukan untuk warga Desa Soco dan warga lain. Supaya selamatan itu bisa menolak musibah. Baik itu musibah, bencana alam atau kecelakaan yang ada di desa.

Dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, selamatan yang dilaksanakan sebelum Ramadan tersebut dilakukan di sekitaran patung kuda. Patung tersebut juga sebagai batas Desa Soco dan Desa Puyoh, Kecamatan Dawe.

”Selamatan itu dilakukan di batas desa. Dengan harapan balak bisa kita tolak. Yakni kejadian yang negatif, atau perbuatan yang tidak dikehendaki warga Desa Soco bisa ditolak dengan menggelar selamatan,” ujarnya.
Kuwat melanjutkan, selamatan tersebut juga sebagai tanda syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan jika warga yang belum terbiasa melewati jalan tersebut diharapkan mengurangi kecepatan kendaraannya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Diganggu Suara-Suara Kuntilanak

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pengalaman misteri memang banyak dialami oleh sebagian kalangan. Seperti yang disampaikan salah satu warga di Kudus, Mulyadi. Dia mengalami hal itu tidak di Kudus, tapi di Semarang. Kepada MuriaNewsCom, dia membagi pengalamannya untuk kita semua.

Ini tentang suara hantu yang saya dengar malam hari, beberapa tahun lalu. Ketika itu, saya duduk di ruang tengah rumah sendiri. Sambil santai, saya memikirkan pengalaman seharian. Dari pengalaman sedih, senang, sampai yang tak karuan sekalipun.

Tiba-tiba, suasana malam menjadi berubah. Keheningan berubah. Dingin malam seolah tak lagi saya rasakan. Saya mendengar suara-suara aneh secara sayup-sayup di luar rumah. Sebelumnya, suara burung hantu terdengar lebih dulu. Merinding bulu kuduk saya. Karena suara yang terdengar ini benar-benar tak biasa.

Ya, suara tangisan seorang wanita yang semula sayup-sayup kini sangat jelas terdengar. Suara itu menggema. Suasana hati menjadi tak karuan. Ada apa malam ini kok menjadi aneh? ucapku membatin. Tapi saya coba beranikan diri. Saya usir rasa takut. Saya beranikan diri. Saya nyatakan kalau ingin terus mendengar suara itu.

Suara tangisan itu terus terdengar sampai beberapa menit. Tidak hanya suara tangisan, tapi terdengar pula suara kuntilanak tertawa. Kalau tidak salah, suara-suara aneh itu terdengar hampir lima menit.

Lambat laun, suara-suara itu hilang. Suasana menjadi tenang kembali. Saya beranikan diri untuk beranjak untuk tidur. Keesokan harinya, saya ceritakan pengalaman ini ke saudara saya yang tinggal di sebelah rumah.

Rupanya, saudara saya juga mendengar apa yang saya dengar. Pernah beberapa kali saya tanyakan tentang suasana mistis yang kerap terdengar di sekitar rumah. Ternyata ada yang mengatakan jika rumah saya banyak dihuni beberapa mahluk halus.

Kirim cerita mistismu di MuriaNewsCom. Bisa dikirim ke email red.murianews@gmail.com. Atau ke fanspage MuriaNewsCom, atau via SMS dengan format CERITA MURIA kirim ke : 0878 3136 9213 atau 0857 2942 6988. Kami tunggu ceritamu.

Editor : Akrom Hazami

Sosok Pocong Sering Muncul di Kampus Bekas Kuburan di Kudus

ilustrasi

ilustrasi

MuriaNewsCom, Kudus – Pernahkah Anda mengalami pengalaman menakutkan ketemu hantu? Kalau iya, silakan berbagi ceritamu di MuriaNewsCom. Seperti yang dilakukan oleh salah satu warga di Kudus yang ketemu pocongan, beberapa kali.

Berikut ceritanya. Kisahnya terjadi pada 1998. Dialami Rudi saat bekerja di sebuah PTS di Kota Kudus. Ketika itu, Rudi bekerja sebagai staf kantor kampus itu. Karena Rudi belum dapat kamar kos, maka disarankan untuk tinggal di kantor.

Diketahui, di kantor itu ada dua ruangan kamar yang dipakai untuk tinggal. Rudi menempati kamar bersama Kasno, rekannya. Satu ruang kamar lain dipakai petuhas kebersihan kantor, Bu Isa.
Pengalaman hari pertama tinggal di kamar kantor, tak pernah dilupakan Rudi. Waktu tengah malam, Rudi mendengar langkah kaki berat berjalan dan seperti berdiri di depan kamar. Disusul suara seperti orang berdehem. Suasana malam itu terasa menakutkan.

Pagi harinya, Rudi menceritakan pengalaman malam pertama tinggal ke Bu Isa dan Kasno. Dengan enteng, mereka memberi jawaban ke Rudi. “Pakdenya datang,” jawab Kasno.

Rudi bertanya-tanya, apa maksud pakde itu. Dengan sangat berat, Kasno menambahkan lebih lanjut maksudnya. “Pakde itu ya genderuwo,” tambahnya.

Malam berikutnya, sekitar pukul 02.00 WIB, Rudi tidur di luar karena di dalam kamar terasa panas. Waktu tidur dia diganggu suara besi dipukul-pukul. Dia terbangun mencari asal suara tersebut. Sepertinya suara di lantai 2, sehingga dia menuju arah suara tersebut.

Tepat di pojok ruang di bawah remang-remang lampu, dilihatnya sebentuk warna putih tegak sedang berdiri. Penasaran dengan apa yang dilihatnya, sosok itu didekati, setelah jelas Rudi langsung berjingkat. Sosok yang ada dihadapannya itu ternyata pocongan! Terlihat jelas sosok itu menatap ke arahnya.

Spontan Rudi lari terbirit-birit masuk kamar. “Aku melihat pocongan anak-anak tapi lama kelamaan menjadi besar. Benar-benar gila,” ceritanya pada Kasno.

Jawaban tentang hantu-hantu yang tiap malam berkelana dalam kantor, baru dapat ditemukan pada esok harinya. Saat jalan di belakang gedung kampus, Rudi melihat di tengah lapangan yang dipaving ada cekungan yang berderet-deret sejajar.

Rudi lalu bertanya pada Bu Isa, barulah ditemukan jawaban jelas, jika gedung sekolah yang dihuni sebelumnya bekas tanah pemakaman. Bu Isa dan Kasno sendiri sudah terbiasa tinggal di tempat itu, sehingga tidak begitu mengubris kalaupun ada kejadian aneh.

Setelah mendengar penuturan itu, sekujur tubuh Rudi langsung lemas. Dia tidak mampu berbuat apa-apa karena kenyatannya lahan kuburan telah berganti dengan gedung kampus. Sampai kini, hantu-hantu itu kadang masih menampakkan diri.

Kirim cerita mistismu di MuriaNewsCom. Bisa dikirim ke email red.murianews@gmail.com. Atau ke fanspage MuriaNewsCom, atau via SMS dengan format CERITA MURIA kirim ke : 0878 3136 9213 atau 0857 2942 6988. Kami akan menghubungimu. Kami tunggu ceritamu.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :

Misteri Kuntilanak Bonceng Sepeda Motor

Mbak Hantu yang Tiba-tiba Hilang di Pertigaan

Setan Jebak Sepeda Motor di Hutan Jati