Guru Ngaji Cabuli Santrinya di Masjid Jepon Blora

Barang bukti pakaian yang dikenakan korban pencabulan guru ngaji di Blora. (Polres Blora)

MuriaNewsCom, Blora – Guru ngaji, MJ (46), warga Desa Blungun Rt 3 Rw 1, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, harus berurusan dengan hukum. MJ mencabuli santrinya berusia 8 tahun di salah satu masjid. Satreskrim Polres Blora kini telah menangkap MJ usai keluarga korban melaporkannya ke polisi.

Kejadian bermula, saat MJ dan korban usai melakukan salat duhur di salah satu masjid di Jepon, Selasa (1/8/2017). Usai salat, MJ memanggil korban, tapi tak dihiraukan. MJ lantas menarik tangan dan menurunkan celana yang dipakai korban.

Korban hendak melarikan diri dan meronta, tapi pelaku memarahinya. Aksi pencabulan itu dilakukan MJ di dalam masjid. Usai dicabuli, MJ mengancam korban agar tidak memberitahukan aksi tersebut. MJ tak lupa memberi uang Rp 2 ribu kepada korban. Uang tersebut diberikan sebagai uang jajan.

Selanjutnya korban pulang ke rumah dan menceritakan kejadian tersebut ke ibunya. “Aksi tersebut terbongkar setelah korban bercerita kepada orang tuanya dan langsung  melaporkan tindak pencabulan itu ke polisi,” ujar Kapolres Blora AKBP Saptono dikutip dari halaman resmi, Polres Blora, Sabtu (26/8/17).

Polisi menyita pula barang bukti yang diamankan, yaitu baju berwarna merah muda, dan celana kain berwarna kuning. “Kasus ini juga masih dalam pemeriksaan tim penyidik Sat Reskrim Polres Blora,” katanya.

Menurut pengakuan tersangka di depan polisi, dirinya melakukan perbuatan cabul karena tak mampu membendung hawa nafsunya. Pelaku mengaku sudah lama bercerai dengan istrinya, dan belum menikah lagi. “Saya mengaku khilaf melakukan perbuatan itu pak, lantaran hasrat hawa nafsu saya yang menggebu-gebu,” ujar MJ sembari tertunduk.

Saptono mengimbau kepada masyarakat yang memiliki anak perempuan agar menjaga anaknya dengan baik. Termasuk, orang tua juga perlu memantau pergaulan sehari-hari anak.” Jangan mudah  percaya dengan siapapun. Terutama anak yang masih di bawah umur,” imbaunya

Akibat perbuatannya, pelaku diancam Pasal 76E Jo Pasal 82 ayat (1) UU RI Nomor 17 tahun 2016 tentang perlindungan anak di bawah umur.

Editor : Akrom Hazami

 

Pencabulan Gadis Ini Bermula dari Kenalan di Alun-alun Kudus

Kapolres Kudus AKBP Andy Rifa’i memeriksa pelaku saat gelar perkara kasus pencabulan, di mapolres setempat. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Yusuf Efendi alias Muhammad Doni Hermawan (28) warga Bae yang kepergok berbuat cabulan dengan N (13)  di Kota, ternyata teman baru. Mereka berdua kenalan saat ada salah satu acara di Kudus.

Kepada polisi, pelaku mengaku dirinya kenalan dengan N di salah satu acara di Alun-alun Kudus, belum lama ini. Keduanya bertukar nomor telepon hingga akhirnya aktif berkomunikasi. Setelah itu, pelaku juga menanyakan alamat korban. Pelaku pun akhirnya bertandang ke rumah korban. Sampai akhirnya pertemuan terjadi di rumah korban. Di rumah korban itulah, pelaku melakukan pencabulan.

“Usai dapat alamatnya di Kota. Saya datang ke rumahnya untuk bertemu dengan dia (korban),” katanya singkat saat gelar perkara di Mapolres Kudus.

Kapolres Kudus AKBP Andy Rifa’i mengatakan, pelaku diancam Pasal 81 dan atau 82 UU RI nomor 35 2014 tentang perubahan atas UU no 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Dengan ancaman paling singkat lima tahun dan paling lama 15 tahun dan denda paling banyak sejumlah Rp 5 miliar.

Kapolres berharap tidak akan ada lagi kasus semacam itu.  Apalagi sampai menimpa anak-anak. Sebab ke depannya akan berdampak pada psikologis korban. “Kalau ada kejadian dapat lapor secepatnya ke kami, baik ke polres ataupun ke polsek terdekat untuk kami tindaklanjuti,” ucapnya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : Cabuli Gadis di Bawah Umur Kepergok, Pemuda Sembunyi di Balik Sofa di Kudus 

Cabuli Gadis di Bawah Umur Kepergok, Pemuda Sembunyi di Balik Sofa di Kudus

Kapolres Kudus AKBP Andy Rifa’i saat melakukan gelar perkara kasus pencabulan yang menimpa gadis di bawah umur di  mapolres setempat. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Seorang pemuda asal Bae, Kudus, Yusuf Efendi alias Muhammad Doni Hermawan, tertangkap basah saat melakukan pencabulan di wilayah Kecamatan Kota. Saat itu, pelku bersembunyi di balik sofa.

Kapolres Kudus AKBP Andy Rifa’i mengatakan, peristiwa terjadi pada 18 Februari lalu, di wilayah Kecamatan Kota. Saat itu, pemuda 28 tahun itu datang ke rumah N (13) warga Kota sekitar pukul 15.00 WIB.

“Saat itu pelaku datang ke rumah korban. Pelaku masuk ke ruang tamu karena saat itu pintu sudah terbuka. Kemudian mereka duduk sambil berbincang-bincang. Kemudian pelaku beraksi di ruang tamu,” katanya kepada wartawan saat gelar perkara di Mapolres Kudus, Selasa (21/2/2017).

Pelaku yang mulai tak terkontrol, mencoba mengajak korban untuk melakukan hubungan. Tiba-tiba, datang tante korban. Tante mendapati pelaku yang ternyata bersembunyi di balik sofa.  “Tante langsung meminta pelaku duduk di sofa, dan ditanya tentang perbuatan yang dilakukan,” ujar Andy.

Tak lama kemudian, sejumlah tetangga datang ke rumah korban. Mereka penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi “Pelaku dibawa ke Polsek Kudus setelah petugas menerima laporan. Petugas membawa hari itu juga sekitar jam 23.00 WIB.

Editor : Akrom Hazami

 

Gadis di Bawah Umur Diperkosa di Hotel Melati Usai Kenalan Lewat Medsos

Pelaku pencabulan DM, warga Wedarijaksa Pati, harus mempertanggungjawabkan aksi bejatnya. (Tribratanewskudus)

Pelaku pencabulan DM, warga Wedarijaksa Pati, harus mempertanggungjawabkan aksi bejatnya. (Tribratanewskudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Gadis di bawah umur, RM (15) warga Kecamatan Mejobo, Kudus, jadi korban pencabulan. Korban dicabuli oleh pria kenalannya DM (30) warga Desa Pangerharjo, Wedarijaksa, Pati. Pelaku dikenal korban lewat media sosial (medsos).

Dikutip Tribratnewskudus.com, Satuan Reserse Polres Kudus mengamankan pelaku pencabulan di bawah umur yang telah ditangkap pihak keluarga korban, Jumat (20/1/2017).

Korban berkenalan dengan pelaku DM, lewat medsos. Kemudian keduanya menjalin hubungan. Mereka sebelunnya telah bertukar nomor ponsel. Jalinan asmara berlanjut ketika DM mulai berani berkunjung ke rumah RM. Orang tua RM pun mengetahui kalau anaknya berteman dengan DM namun tidak menyangka jika DM memiliki hubungan khusus dengan anaknya.

DM sering mengajak RM pergi kencan saat libur sekolah dan menginap di salah satu hotel di Kudus. Beberapa hari kemudian RM menghilang selama 5 hari dan diketahui pergi bersama DM.

Menurut keterangan korban setelah ditemukan, pelaku mengajaknya menginap disalah satu hotel kelas melati untuk melampiaskan nafsunya. DM mengaku tidak memaksa korban untuk berhubungan badan. Bahkan pelaku ingin berhubungan serius dengan korban.

Kapolres Kudus AKBP Andy Rifai  melalui Kasat Reskrim AKP Kurniawan Daeli menerangkan pihaknya telah menerima lapaoran keluarga korban tentang kasus ini. Penyidik masih mendalami keterangan tentang kasus tersebut. Korban juga masih diperiksa karena masih di bawah umur.

“Korban masih takut mengaku. Jadi kami masih mempelajari keterangan tersangka,korban, dan beberapa saksi lain. Meskipun perbuatan itu dilakukan suka sama suka, kasus ini tetap akan terus dilanjutkan mengingat korban masih dibawah umur,” katanya.

Korban dimungkinkan mengalami trauma dan belum mengetahui secara pasti kondisi psikologis korban. Polisi berharap korban dapat memberikan keterangan lebih lanjut. Dengan begitu, kasus ini segera dapat diproses dengan cepat.

Editor : Akrom Hazami