Burung Hantu Diklaim Berhasil Tangani Hama Tikus di Pati

Bupati Pati Haryanto meninjau tempat karantina burung hantu di Tawangharjo, Wedarijaksa, Pati, Sabtu (1/4/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pemberdayaan burung hantu sebagai predator tikus diklaim berhasil menangani hama tikus yang bertahun-tahun menyerang pertanian di Kabupaten Pati. Hal itu disampaikan Bupati Pati Haryanto, Sabtu (1/4/2017).

Pada 2013, hama tikus secara membabi buta menyerang sedikitnya 1.615 hektare lahan pertanian di Pati. Para petani sempat dibuat kalang kabut. Geropyokan dan pemasangan setrum tidak berhasil mengatasi ganasnya serangan tikus.

Bahkan, tak jarang setrum yang dipasang untuk membunuh tikus justru menewaskan pemilik sawah. Dari keprihatinan tersebut, Pemkab Pati menginstruksikan kepada petani untuk memanfaatkan burung hantu sebagai pemangsa alami tikus.

Terbukti setelah burung hantu diberdayakan, populasi tikus mulai menurun. Pada 2014, ada 1.429 hektare sawah yang diserang tikus. Pada 2015, hama tikus hanya menyerang 947 hektare sawah dan tinggal 631 hektare pada 2016.

“Hari ini, saya mendampingi petani di Tawangharjo, Wedarijaksa. Para petani gagal melakukan geropyokan. Justru, itu saya anggap berhasil karena sudah tidak ada lagi tikus yang bisa digeropyok sejak burung hantu dimanfaatkan sebagai predator tikus,” ucap Haryanto.

Selama ini, pihaknya mengaku mendukung program penangkaran burung hantu di sejumlah daerah. Sampai saat ini, sudah ada 1.432 rumah burung hantu yang dibangun secara swadaya oleh kelompok tani, yang sebelumnya diberikan bantuan stimulan.

Pati juga memiliki Peraturan Bupati (Perbup) yang secara khusus mengatur perlindungan burung hantu jenis Tyto Alba. Sejumlah upaya tersebut dinilai berhasil memberantas hama tikus secara alami yang pernah menyerang pertanian di Pati secara membabi buta dalam beberapa waktu terakhir.

Editor : Kholistiono

Demi Burung Hantu, TNI Tawangharjo Grobogan Dekati Petani

uplod jam 01 dini hari burung hantu dekati petani TNI (e)

Sejumlah anggota Koramil Tawangharjo, membantu petani mendirikan rumah burung hantu di Desa Plosorejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah anggota Koramil Tawangharjo, turun ke sawah guna membantu petani mendirikan rumah burung hantu (Rubuha) di Desa Plosorejo, Kecamatan Tawangharjo, Kamis (21/4/2016).

Pendirian rubuha itu dilakukan sebagai salah satu upaya untuk menekan merebaknya hama tikus yang menyerang tanaman petani.

Danramil Tawangharjo Kapten Inf Achmad Faheri menyatakan, pendirian rubuha itu dilakukan secara serentak di sepuluh desa se-Kecamatan Tawangharjo. Tiap desa didirikan dua rubuha, kecuali di Plosorejo yang bikin tujuh titik.

“Jadi, hari ini kita bantu dirikan 25 unit rubuha di sepuluh desa. Selain bikin rubuha, kami juga mengharap para petani dapat menjaga keberadaan burung hantu dengan tidak memburunya,” katanya.

Dikatakan, pendirian rumah burung hantu ini diharapkan dapat mencegah hama tikus dalam jangka panjang. Sementara untuk jangka pendeknya, pihaknya membantu petani melangsungkan gropyokan tikus secara rutin tiap sebulan sekali.

Kepala Desa Plosorejo Musthofa mengatakan, sebelumnya, kelompok tani di desanya sudah sempat mendirikan 18 rubuha. Pembuatan rubuha dengan bahan sederhana tersebut merupakan swadaya dari gabungan kelompok tani.

“Hari ini kita bikin tujuh rubuha lagi dengan bahan yang lebih kuat dan kita cor di bagian dasar tiangnya. Untuk pendirian rubuhan ini kami menggunakan dana APBDes. Hal ini kita lakukan dalam rangka membantu upaya khusus swasembada pangan dan peningkatakan hasil padi jagung kedelai (pajale),’’ katanya.

Untuk tahap selanjutnya, Musthofa rencananya akan membuat Perdes tentang larangan memburu burung hantu. Perdes tersebut diperlukan untuk menjaga populasi burung hantu agar tetap lestari.

Editor : Akrom Hazami

Hore, Sinoman dan Purworejo Pati Punya Rumah Burung Hantu

 CAPTION: Bupati Pati Haryanto bersama jajarannya berhasil menangkap tikus saat melakukan gropyokan di Desa Purworejo. (MuriaNewsCom/Lismanto)


CAPTION: Bupati Pati Haryanto bersama jajarannya berhasil menangkap tikus saat melakukan gropyokan di Desa Purworejo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Desa Sinoman dan Purworejo, Kecamatan/Kabupaten Pati saat ini punya lima rumah burung hantu (rubuha) jenis Tyto Alba yang dikenal sebagai predator alami bagi hama tikus. Karena, kawasan pertanian di desa tersebut selama ini paling parah diserang hewan pengerat tikus.

Kesepuluh rubuha di dua desa tersebut merupakan bantuan dari Pemkab Pati yang getol mengkampanyekan Tyto Alba mengendalikan hama tikus. “Setelah kita lakukan kajian, tahun ini akhirnya dua desa di Pati mendapatkan bantuan rubuha masing-masing lima rumah, yaitu Sinoman dan Purworejo,” ujar Bupati Pati Haryanto kepada MuriaNewsCom, Rabu (30/3/2016).

Sementara itu, alokasi dana APBD Kabupaten Pati yang digunakan untuk mengembangkan Tyto Alba sebagai predator alami tikus digunakan untuk membangun 200 rubuha dan lima unit karantina. Keduanya tersebar di berbagai kawasan pertanian di Pati seperti Kecamatan Gabus, Kayen, Tambakromo, Sukolilo, Jakenan, Margorejo, Wedarijaksa, Trangkil, Juwana, Tayu, Tlogowungu, dan Pati.

“Hama tikus sudah menjadi momok yang menakutkan bagi petani. Populasinya sulit dikendalikan. Berbagai upaya juga sudah dilakukan, tetapi hasilnya nihil. Itu sebabnya, upaya pelestarian predator alami tikus sangat penting untuk menyelamatkan pertanian di Pati dari ancaman tikus, termasuk membuat peraturan bupati yang melarang perburuan burung hantu,” tutur Haryanto.

Upaya itu diakui untuk mengamankan masa tanam pertama dari ancaman tikus, terutama di daerah-daerah yang sudah menjadi endemis tikus. “Jangan sampai masa tanam pertama ini, petani di daerah yang menjadi endemis tikus gagal panen. Kita sebagai salah satu penyumbang ketahanan pangan nasional harus bisa menjaga hasil panen,” imbuhnya.

Bahkan, untuk memberikan semangat kepada petani, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan (Dispertanak) Pati menghargai satu ekor tikus senilai Rp 1.000. Hal itu diharapkan agar petani semangat dalam memberantas tikus menggunakan sistem gropyokan dengan metode emposan dan belerang.

Editor : Akrom Hazami

PLN Pati Diminta Tegas Melarang Penggunaan Setrum yang Membahayakan Predator Alami Tikus

Burung hantu jenis Tyto Alba yang masih berada di dalam penangkaran di Desa Babalan, Gabus.(MuriaNewsCom/Lismanto)

Burung hantu jenis Tyto Alba yang masih berada di dalam penangkaran di Desa Babalan, Gabus.(MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan (Dispertanak) Pati Mochtar Effendi mendesak agar PLN Pati memberikan aturan dan sanksi yang tegas terkait dengan penggunaan setrum listrik untuk membasmi hama tikus.

Pasalnya, penggunaan setrum dinilai bukan hanya membahayakan petani dan masyarakat sekitar, tetapi juga predator alami tikus seperti burung hantu jenis Tyto Alba, ular, dan musang. Di Desa Babalan, Kecamatan Gabus, Pati, misalnya.

Sedikitnya 200 Tyto Alba mati, karena terkena setrum listrik di areal persawahan di luar Desa Babalan. Padahal, rumah penangkaran Tyto Alba di Gabus sudah sering dikunjungi dari luar Pati dan luar provinsi.

”Artinya, keberhasilan budi daya Tyto Alba untuk memberantas hama tikus jangan sampai gagal hanya karena petani lainnya masih menggunakan setrum,” kata Mochtar kepada MuriaNewsCom, Rabu (27/1/2016).

Karena itu, regulasi larangan penggunaan setrum harus dilakukan secara masif. Dengan begitu, Tyto Alba bukan hanya berkembang di daerah penangkaran saja, tetapi juga tumbuh subur di semua daerah di Pati untuk memberantas tikus.

”Kalau satu desa sepakat untuk menggunakan predator alami dalam memberantas tikus, tetapi luar desa masih menggunakan setrum, itu sama saja tidak efektif,” tukasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

200 Burung Hantu Pengusir Tikus di Pati Mati Terkena Setrum

Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan (Dispertanak) Pati mengunjungi karantina Tyto Alba di Desa Babalan, Gabus, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan (Dispertanak) Pati mengunjungi karantina Tyto Alba di Desa Babalan, Gabus, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Sedikitnya 200 burung hantu jenis Tyto Alba yang disebar di Desa Babalan, Kecamatan Gabus, Pati mati karena terkena setrum listrik di areal persawahan desa tetangga. Akibatnya, 400 Tyto Alba yang dijadikan predator alami sebagai pemangsa tikus di Desa Babalan saat ini hanya tersisa sekitar 200 ekor.

Hal ini dikatakan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan (Dispertanak) Pati Mochtar Efendi. ”Tyto Alba di Babalan awalnya pada 2013 yang dikarantina ada 20 ekor dan sukses dikembangkan sampai sekitar 400 ekor. Sayangnya, sekarang banyak yang mati karena terkena setrum listrik di sawah tetangga hingga tersisa 200 ekor saja,” ujar Mochtar kepada MuriaNewsCom, Rabu (27/1/2016).

Karena itu, pihaknya menyayangkan sikap petani yang masih menggunakan setrum listrik untuk mengusir hama tikus. ”Pemahaman tentang predator alami harus digalakkan, karena listrik itu bukan hanya membahayakan predator alami tetapi juga petani sendiri,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Babalan Kasbiyanto mengatakan, sejumlah petani di Babalan mulai menggunakan bahan seng untuk mengantisipasi tikus karena populasi Tyto Alba mulai punah.

”Dulu Tyto Alba bisa diandalkan untuk membasmi tikus. Setelah banyak mati kena setrum di areal persawahan tetangga, tikus mulai menyerang hingga beberapa petani menggunakan seng untuk menutupi padinya. Kami berharap agar petani di luar Desa Babalan bisa bekerja sama untuk tidak menggunakan setrum,” harapnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Waduh! Populasi Burung Hantu Terancam Kawat Setrum di Sawah

Sejumlah rumah burung hantu yang terbuat dari bambu berdiri tegak di areal persawahan di Desa Babalan, Kecamatan Gabus. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah rumah burung hantu yang terbuat dari bambu berdiri tegak di areal persawahan di Desa Babalan, Kecamatan Gabus. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Upaya untuk melestarikan burung hantu jenis Tyto Alba di Desa Babalan, Kecamatan Gabus menuai kendala. Salah satunya, adanya kawat setrum tikus yang ada di areal persawahan di luar Desa Babalan.

“Beberapa burung hantu yang dikonservasi di Desa Babalan biasanya terbang ke areal sawah di desa sekitar. Namun, sejumlah sawah masih menggunakan kawat listrik untuk menyetrum tikus. Imbasnya, burung hantu pun sempat terkena setrum tikus,” ujar Kades Babalan Nining Sudaryati saat dikonfirmasi MuriaNewsCom, Kamis (17/9/2015).

Untuk itu, ia berharap agar gerakan melestarikan burung hantu untuk membasmi tikus harus dilakukan serentak. Dengan demikian, populasi burung hantu semakin banyak tanpa harus takut kesetrum kawat listrik.

“Kami berharap agar pemerintah bisa memberikan solusi terkait dengan masalah konservasi burung hantu di Desa Babalan. Meski saat ini terbilang berhasil, tetapi masih butuh gagasan untuk melestarikan Tyto Alba secara berkelanjutan,” harapnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Jangan Berani-berani Berburu Burung Hantu dan Ular di Desa Ini

Papan larangan berburu burung hantu, ular dan garangan dipasang di depan gapura masuk Desa Babalan, Kecamatan Gabus. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Papan larangan berburu burung hantu, ular dan garangan dipasang di depan gapura masuk Desa Babalan, Kecamatan Gabus. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Pemerintah dan masyarakat Desa Babalan, Kecamatan Gabus menetapkan aturan bagi setiap warga untuk tidak menembak dan berburu burung hantu, ular dan musang. Hal tersebut diharapkan untuk menjaga dan melestarikan predator alami tikus yang gencar merusak tanaman petani.

Kepala Desa Babalan Nining Sudaryati kepada MuriaNewsCom, Kamis (17/9/2015) mengatakan, aturan itu diberlakukan bagi semua warga yang memasuki Desa Babalan. Namun, aturan tersebut masih berupa peringatan dan teguran.

“Siapa pun yang melintasi Desa Babalan tidak boleh berburu dan menembak burung hantu, ular dan musang. Hewan-hewan itu adalah predator alami bagi tikus. Kalau ada pemburu nekat, kami akan tegur dan peringatkan,” tuturnya.

Ia berharap, desa-desa lain di Pati yang sawahnya rawan dirusak tikus juga menerapkan aturan yang sama. Dengan begitu, petani bisa panen dan sukses mengembangkan kedaulatan pangan melalui hasil sawah.

“Aturan ini dalam jangka panjang diharapkan bisa menyukseskan pertanian masyarakat. Terbukti, populasi tikus di areal persawahan Desa Babalan sangat minim,” katanya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Sanksi Rp 10 Juta Diharapkan Bisa Memberi Efek Jera Kepada Pemburu

Bupati Pati Haryanto dalam kunjungannya di Desa Babalan, Kecamatan Gabus yang menjadi pusat penangkaran Tyto Alba. Mulai sekarang, berburu burung hantu di Pati didenda Rp 10 juta. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Bupati Pati Haryanto dalam kunjungannya di Desa Babalan, Kecamatan Gabus yang menjadi pusat penangkaran Tyto Alba. Mulai sekarang, berburu burung hantu di Pati didenda Rp 10 juta. (MuriaNewsCom/Lismanto)

PATI – Sanksi berupa denda Rp 10 juta atas pelanggaran Perbup Nomor 56 Tahun 2014 tentang Perlindungan dan Pengembangan Burung Hantu diharapkan bisa memberikan efek jera. Pasalnya, satwa tersebut saat ini terancam punah karena kelakuan orang tak bertanggung jawab. Lanjutkan membaca

Jangan Berani Berburu Burung Hantu di Pati, Ada Denda Rp 10 Juta

Bupati Pati Haryanto dalam kunjungannya di Desa Babalan, Kecamatan Gabus yang menjadi pusat penangkaran Tyto Alba. Mulai sekarang, berburu burung hantu di Pati didenda Rp 10 juta. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Bupati Pati Haryanto dalam kunjungannya di Desa Babalan, Kecamatan Gabus yang menjadi pusat penangkaran Tyto Alba. Mulai sekarang, berburu burung hantu di Pati didenda Rp 10 juta. (MuriaNewsCom/Lismanto)

PATI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati melalui Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 56 Tahun 2014 tentang Perlindungan dan Pengembangan Burung Hantu di Kabupaten Pati melarang setiap orang berburu, membunuh atau memperjualbelikan burung hantu jenis Tyto Alba. Lanjutkan membaca