Puluhan Korban Swissindo Geruduk Kantor Bank Mandiri Pati

Korban penipuan Swissindo menggeruduk Kantor Bank Mandiri Pati, Jumat (18/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Puluhan korban penipuan Swissindo menggeruduk Kantor Bank Mandiri KCP Pati di Jalan Diponegoro Pati, Jumat (18/8/2017).

Mereka ingin mencairkan uang di Bank Mandiri melalui voucher surat kuasa dari Swissindo. Namun, sekuriti Bank Mandiri tidak memperbolehkan mereka masuk kantor.

Pasalnya, pihak Bank Mandiri sudah memberikan pengumuman yang menyatakan bahwa tidak ada kerja sama antara Swissindo dan Bank Mandiri.

“Kami tegaskan, Bank Mandiri tidak ada kerja sama dengan Swissindo,” ujar Mualif, salah satu sekuriti Bank Mandiri.

Baca Juga : Nah lho…Bupati Pati Juga Diduga Kena Tipu Swissindo

Sejumlah korban pun bersikeras untuk bertemu dengan pimpinan Bank Mandiri. Perdebatan sengit sempat terjadi antara sekuriti dan korban Swissindo.

“Kami sudah mendapatkan amanat dari pimpinan untuk menyampaikan bahwa Swissindo tidak bekerja sama dengan Mandiri. Kami juga sudah membuat baner pengumuman di masing-masing kantor,” imbuh Mualif sembari menunjukkan surat edaran dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Aksi korban Swissindo tersebut mendapatkan pengawalan ketat dari kepolisian. Sedikitnya tiga peleton anggota Sabhara dikerahkan untuk mengamankan aksi tersebut.

Editor: Supriyadi

Nah lho…Bupati Pati Juga Diduga Kena Tipu Swissindo

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Pati – Kasus penipuan yang dilakukan UN-Swissindo yang menimpa puluhan warga Kabupaten Pati, ternyata diduga menimpa orang nomor satu di Bumi Mina Tani.

Bupati Pati Haryanto dikabarkan ikut menjadi korban penipuan berkedok voucher human obligation dan biaya peningkatan kesejahteraan hidup tersebut.

Hal ini diterangkan Direskrimsus Polda Jawa Tengah Kombes Pol Lukas Akbar, saat mendatangi Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jateng, Rabu (16/8/2017). Menurutnya, dari hasil penyelidikan yang dilakukan pihaknya, bupati Pati menjadi salah satu korban.

Saat ini, pihaknya telah menerjunkan petugas untuk menyelidiki sejauh mana kerugian yang ditimbulkan akibat aksi kejahatan tersebut.

“Sedang kami dalami termasuk yang menimpa bupati Pati. Jika ditemukan akan diproses hukum sesuai pasal 378 tentang Penipuan, diperkuat UU ITE jika mereka melakukan penipuan via media online. Ancaman hukumannya sampai empat tahun,” katanya dikutip dari Metrojateng.com.

Menurutnya, dari hasil monitoring yang dilakukan, kasus penipuan ini telah merambah di dua kota di Jateng. Yakni di Kabupaten Pati dan Purwokerto. Di Pati sendiri dilaporkan ada 30-an warga yang menjadi korban.

“Kami memonitor bahwa ada temuan adanya pemberian surat kuasa Swissindo tersebut masuk Pati dan Purwokerto. Kami mengimbau kepada masyarakat untuk melapor ke pihak berwajib jika ada relawan yang menawarkan surat kuasa atas nama Swissindo,” ujarnya.

Kepala OJK Jateng Moch Ihsanuddin masih menyelidiki aksi tipu-tipu yang dilakukan Swissindo dengan menyebar surat kuasa palsu.

Baca juga : Duh, 30 Warga Pati Jadi Korban Penipuan UN Swissindo

Menurutnya ada indikasi sejumlah perbankan lainnya yang jadi korban kasus penipuan tersebut. Yakni tujuh bank umum, 41 BPR, satu lembaga pembiayaan serta PT Permodalan Nasional Madani (Persero).

Ia menegaskan, kegiatan Swissindo ilegal karena tidak mengantongi izin dari OJK. Ia pun mengimbau kepada para debitur dan pelaku jasa keuangan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penawaran palsu tersebut.

“Para korban sebaiknya menempuh upaya hukum agar dapat mencegah kerugian yang lebih besar,” tegasnya.

Baca juga : Puluhan Anggota UN Swissindo di Pati Berencana Datangi Bank Mandiri

Sebelumnya, Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo setelah ada korban hingga 30 nasabah. “Penipuan ini sudah ada di sejumlah daerah, termasuk Pati. Ada sekitar 30 nasabah yang tertipu UN-Swissindo di Pati,” kata Kompol Sundoyo, Sabtu (12/8/2017).

Modus dari penipuan tersebut, salah satunya meminta korban untuk mencari debitur bermasalah untuk diajak bergabung, meminta korban membayarkan sejumlah uang pendaftaran untuk menjadi anggotanya dan mencari korban yang terlibat kredit macet, serta menjanjikan akan menyelesaikan hutangnya dengan jaminan surat berharga negara.

Editor : Ali Muntoha