Begini Harapan Bupati Musthofa Terhadap Lulusan STAIN Kudus

Bupati Kudus Musthofa dalam penandatangan MoU di bidang pendidikan, pelatihan, dan pengabdian masyarakat (P3M) dengan STAIN Kudus. (Foto : Pemkab Kudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Bupati Kudus Musthofa menaruh harapan besar terhadap para lulusan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus. Diharapkan, para lulusan ini bakal bisa menjadi calon pemimpin yang mempunyai performa kekinian dan berjiwa agamis.

Hal ini disampaikan Musthofa saat penandatanganan MoU antara Pemkab Kudus dengan STAIN Kudus, Kamis (6/7/2017). Kerja sama ini digelar dalam bidang pendidikan, pelatihan, dan pengabdian masyarakat (P3M).

Dalam sambutanya Musthofa berharap kerja sama ini bisa segera terimplementasi dengan baik. Agar segera bisa memberikan manfaat secara nyata secara luas, termasuk manfaat bagi masyarakat.

Menurut dia, mahasiswa STAIN dengan basic agama, bisa menjadi modal penting bagi keberhasilan dalam segala hal. Dikatakannya, mahasiswa jangan hanya bergantung dari kampus secara normatif. Tetapi ilmu yang didapat sebagai landasan integritas bagi dirinya.

“Saya berharap nantinya jadi lulusan STAIN yang kekinian. Dan harus memiliki performance yang baik,” pesannya.

Musthofa menyebut, sebagai calon pemimpin harus memiliki penampilan yang bagus, hati dan jiwa yang bersih, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, serta dermawan. Artinya mudah dan ringan tangan untuk membantu apabila ada yang membutuhkan.

“Untuk pengembangan diri, jangan hanya berpikir normatif. Tetapi berpikirlah secara liar untuk memiliki kualitas diri yang lebih,” imbuhnya.

Ketua STAIN Dr Fathul Mufid. Menurutnya potensi mahasiswa yang lebih dari 10.000 orang ini potensi yang luar biasa. Apalagi mamfaat dari integrasi ilmu ini bisa membawa kemajuan umat dan bangsa Indonesia.

Puket Akademik STAIN Kudus Dr Saekhan Muchit menyebut, kerja sama ini akan mendukung harapan lulusan STAIN sebagai insane yang cerdas dan kreatif. Ia pun menyampaikan terima kasih pada Bupati Kudus yang berkomitmen terhadap pendidikan keagamaan. (nap)

Editor : Ali Muntoha

Arti Idul Fitri Bagi Bupati Kudus Musthofa

Bupati Kudus Musthofa saat memberikan khotbah Idul Fitri di Masjid Agung Kudus, Minggu (25/6/2017). (Foto : Pemkab Kudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Bupati Kudus Musthofa menganggap Idul Fitri adalah pencapaian dari sebuah kemenangan dan kebahagiaan. Kemenangan yang dimaksud adalah kemenangan dari menaklukkan musuh terberat manusia, yakni hawa nafsu.

Ini disampaikan Musthofa dalam khotbah Idul Fitri di Masjid Agung Kudus, Minggu (25/6/2017). Dalam khotbanya, Musthofa menyebut ajaran puasa sangat kompleks terhadap berbagai macam kemaslahatan.

“Antara lain yaitu menjaga agama, menjaga diri, menjaga kehormatan, menjaga akal, dan menjaga harta benda,” kata Mustofa yang menyebut khotbah kali ini sebagai khotbah wada’ (perpisahan).

Pasalnya, pada momen Idul Fitri tahun depan, Musthofa sudah rampung masa baktinya sebagai bupati Kudus.

Dalam proses puasa menurut dia, muara akhirnya adalah manusia muttaqin, sebagai puncak keimanan. Sedangkan output berpuasa adalah manusia berintegritas yang memiki kesalehan ritual dan sosial terhadap hubungan dengan sesama manusia.

Ia juga mengutif Surat Al Hujurat ayat 13 yang menyebut bahwa manusia diciptakan dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Terbagi dalam berbagai bangsa dan suku untuk saling mengenal.

“Maknanya, di dunia tidak ada manusia yang bertahan hidup kecuali membutuhkan lingkungan sekitarnya,” jelasnya.

Sebagai mahluk sosial tentunya manusia harus memiliki sikap toleran dan saling menghormati tanpa mencampuri urusan orang lain. Tetapi saling tolong menolong dalam kebaikan untuk kesejahteraan bersama.

“Ada dua modal dalam kebhinnekaan. Yakni nilai kearifan lokal dan toleransi umat beragama. Baik kerukunan intern umat beragama, antarumat beragama, maupun umat beragama dengan pemerintah,” imbuhnya.

Upaya yang dilakukan pemerintah diyakini mampu menciptakan negara yang baldatun thoyyibatun warabbun ghofur. Tentu ini butuh komitmen bersama termasuk peningkatan kualitas pendidikan untuk meraih kesejahteraan. (nap)

Editor : Ali Muntoha

Hadiri Peringatan 116 Tahun Bung Karno, Begini yang Dirasakan Bupati Musthofa

Bupati Kudus Musthofa bersalaman dengan Megawati Soekarno Putri saat peringatan 116 tahun Bung Karno. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Kudus – Bupati Kudus Musthofa menghadiri peringatan 116 tahun Bung Karno, di Blitar, Selasa (6/6/2017). Dalam kesempatan itu Musthofa mengaku bisa merasakan semangat Bapak Proklamator dalam membangun negeri ini.

Musthofa menyebut, tak hanya Pancasila, gagasan Trisakti yang dicetuskan Bung Karno dinilai masih sangat relevan pada era modern saat ini.

Oleh karenanya, sudah selayaknya manusia Indonesia mewujudkan bangsa yang berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian secara sosial budaya seperti yang tercetus dalam Trisakti.

“Gagasan Trisakti yang dicetuskan Bung Karno menunjukkan bahwa beliau memiliki visi atas apa yang dikerjakannya untuk Indonesia,” jelasnya.

Menurut Musthofa, Bung Karno bukan hanya seorang proklamator. Namun juga seorang peletak dasar negara yang memiliki visi negara seperti apa yang hendak diwujudkan. “Resapi nilai dari gagasan itu dan ayo bekerja keras mewujudkannya,” kata Musthofa.

Ia menambahkan, Bung Karno juga memiliki kebijaksanaan untuk merajut keragaman menjadi kekuatan. Bung Karno adalah sosok yang selalu percaya bahwa modal utama kemajuan Indonesia adalah kekuatan dan keragaman rakyatnya. (nap)

Editor : Ali Muntoha

Ingin Kudus Makin Maju, Ini yang Diharapkan Bupati Musthofa

Bupati Kudus Musthofa bersama sejumlah pejabat saat menggelar safari Jumat di Masjid Baitul Mukmin, Klumpit, Gebog, Jumat (2/6/2017). (Foto : Pemkab Kudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Bupati Kudus Musthofa menginginkan ada sinergi yang kuat antara pemerintah dengan warga. Tanpa sinergi menurut dia, keinginan sebuah daerah untuk maju dan berkembang akan sulit terjadi.

Kunci utamanya yakni komunikasi yang baik, karena menjadi modal untuk memperlancar program-program pembangunan. Ini disampaikan Musthofa dalam Safari Jumat di Masjid Baitul Mukmin, Klumpit, Gebog, Jumat (2/6/2017).

Menurut dia, komunikasi yang tak baik akan memengaruhi arah pembangunan menjadi tidak fokus pada satu tujuan yang disepakati bersama. Itulah mengapa Bupati Kudus H. Musthofa terus membangun komunikasi dan memperkuat sinergi bersama seluruh jajarannya dengan masyarakat.

Termasuk kegiatan Safari Jumat menurut dia, juga sangat bermanfaat untuk membangun komunikasi. Menurutnya, acara rutin ini bukan sekadar rutinitas. Tetapi ada hal-hal yang bisa dilihat dan didengar langsung dari masyarakat.

“Inilah yang saya harapkan. Yaitu seluruh pejabat bisa langsung turun ke tengah masyarakat untuk melihat, mendengar, dan merasakan harapan saudara-saudaranya itu,” katanya.

Musthofa menginginkan, semua program pro rakyatnya merupakan buah dari komunikasi yang bagus dengan masyarakat. “Saya tidak mau lagi mendengar ada pejabat saya hanya bersumber dari ‘katanya’, tetapi lihatlah secara langsung yang sebenarnya,” ujarnya.

Menyinggung mengenai Salat Jumat yang tanpa pemberitahuan sebelumnya ini, bupati mengatakan bahwa kehadirannya tidak ingin diistimewakan. Karena salat Jumat adalah kewajiban yang harus dilaksanakan.

“Salat Jumat bisa dilakukan di masjid mana saja. Dan saya ingin melaksanakannya bersama masyarakat,” pungkasnya. (nap)

Editor : Ali Muntoha

Bupati Kudus Ternyata Pinter Banget Nyenengke Atine Warganya

Bupati Kudus H Musthofa bersama desainer Ivan Gunawan begitu dekat dengan rakyat, sehingga mampu membuat masyarakat bisa merasakan setiap kegiatan yang dilakukan pemkab selama ini.(ISTIMEWA)

Bupati Kudus H Musthofa bersama desainer Ivan Gunawan begitu dekat dengan rakyat, sehingga mampu membuat masyarakat bisa merasakan setiap kegiatan yang dilakukan pemkab selama ini.(ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Bupati Kudus H Musthofa termasuk pemimpin yang pintar sekali menyenangkan hati warganya. Kebiasaannya sering-sering bertemu warga dan mendengarkan mereka, menjadi salah satu kuncinya kenapa warga bisa senang dengan bupatinya tersebut.

Program-program yang dibuat bupati, memang lebih banyak memperhatikan apa yang dibutuhkan rakyat. Sehingga selalu tepat sasaran. Kemudian juga selalu berkeliling ke wilayah-wilayah yang ada di Kudus ini, dalam kegiatan tilik desa, ataupun Bupati Lapor Rakyat.

Respon cepat terhadap setiap persoalan yang disampaikan rakyatnya, juga menjadikan bupati sebagai pemimpin yang responsif. Sehingga jika ada warga yang mengeluh, maka bisa langsung disampaikan kepada dinas atau instansi yang terkait, untuk ditangani segera. Ini sekaligus membuktikan keseriusan Pemkab Kudus untuk membuat wilayah ini menjadi lebih baik.

Yang tidak kalah serunya adalah, bupati sering menghadirkan berbagai even atau kegiatan yang sangat merakyat. Sebut saja mengundang Karnaval Inbox SCTV beberapa waktu lalu. Yang dalam dua hari saja, mampu mendatangkan ribuan warga ke Alun-alun Kudus.

Kemudian juga berbagai macam kegiatan ekspo atau pameran, yang tentu saja tujuannya lebih luas. Selain memberikan hiburan kepada warga, juga untuk mengangkat budaya atau potensi masyarakat yang merupakan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Dan kemeriahan yang dihadirkan bupati Kudus adalah mendatangkan desainer kondang Indonesia, Ivan Gunawan. Desainer ini rupanya mampu membuat suasana Kudus Trade Show 2016 yang digelar di Alun-alun Kudus, menjadi semakin meriah.

Apalagi, penggemar Ivan Gunawan atau yang akrab disapa Igun tersebut, juga banyak sekali. Warga begitu antusias untuk bisa dekat dengan Igun, saat pembukaan acara, di alun-alun.

Warga sejak sore sudah memadati alun-alun untuk bisa bertemu dengan Igun, yang malam itu didapuk untuk memberikan komentarnya, mengenai desain-desain baju hasil karya warga Kudus.

Didampingi bupati, Igun terlihat ramah melayani setiap permintaan untuk bisa berfoto dengannya. Suasana makin meriah, karena warga begitu terhibur dengan apa yang ditampilkan malam itu.

Kemeriahan suasana setiapkali sebuah even digelar, memang membuktikan bahwa setiap bentuk kegiatan yang dilaksanakan, memang dimaksudkan untuk rakyatnya. Apalagi tujuan akhirnya adalah untuk bisa makin membuat rakyat sejahtera.

Karena bagaimana menyenangkan hati rakyat itu, bukan saja dilihat dari pembangunan yang dilakukan. Namun juga dari hal-hal kecil yang bisa membuat rakyat senang, dan mendapatkan banyak manfaat dari sana.

”Kita sudah membangun berbagai sarana dan prasarana yang dibutuhkan rakyat. Program-program yang kita jalankan, memprioritaskan kebutuhan mereka. Selain itu, kita juga beri hiburan lah kepada warga. Supaya mereka juga terhibur. Biar seimbang. Semua yang kita lakukan kan, memang untuk rakyat kita,” kata bupati.

Editor: Merie

Bupati Kudus Ternyata Lincah Juga Urusan Menjahit, Lho

Bupati Kudus H Musthofa mendapat tutorial dari seorang pekerja bagaimana cara menjahit kerudung atau jilbab untuk memasang aksesoris, pada kunjungannya ke pelaku UMKM di Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati. (Istimewa)

Bupati Kudus H Musthofa mendapat tutorial dari seorang pekerja bagaimana cara menjahit kerudung atau jilbab untuk memasang aksesoris, pada kunjungannya ke pelaku UMKM di Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Kudus – Bupati Kudus H Musthofa ternyata memiliki keahlian lain, selain pintar mengurus pemerintahan. Salah satunya urusan jahit menjahit.

Itu diperlihatkannya saat mengunjungi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) pembuat aneka souvenir, di Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati. Di sana, bupati diajari langsung bagaimana menjahit barang-barang souvenir itu sampai jadi.

Seorang pekerja perempuan, mengajarkan bupati bagaimana menjahit dengan tangan sebuah kerudung atau jilbab yang diberi hiasan tertentu. Dengan telaten, bupati mengikuti instruksi dari pekerja tersebut.

”Ini saya bisa menjahit, lho. Kalau diterus-teruskan, bisa buka usaha jahit menjahit saya ini,” katanya.

Selain itu, bupati juga diajari cara menjahit sebuah dompet dengan mesin jahit yang ada di sana. Usai mendapatkan instruksi, bupati dengan lincah, menjahit sebuah dompet. Hasilnya juga tidak kalah dengan pekerja lainnya.

Berkunjung ke pelaku UMKM memang selalu menjadi agenda dari bupati. Karena bupati selalu menegaskan bahwa ekonomi kerakyatan sesungguhnya ada di pundak para pelaku UMKM.

Kali ini yang dikunjungi adalah tempat usaha milik Puji Hartono, di Desa Jati Kulon. Menurut bupati, produknya ini mampu menyesuaikan dengan permintaan pasar. Tujuh karyawan yang dimiliki, termasuk beberapa ada yang ibu rumah tangga, membuktikan bahwa usaha mikro kecil merupakan lapangan kerja potensial bagi yang mau untuk berusaha.

”Di Kudus ini tidak ada orang yang nganggur. Tentu bagi yang mau berusaha. Bahkan ibu-ibu ini juga produktif menghasilkan produk bagus seperti ini,” katanya.

Berbagai program dukungan pemerintah terhadap pelaku UMKM, juga sudah dilaksanakan. Misalnya saja dengan program Kredit Usaha Produktif (KUP) yang sudah berjalan baik selama ini.

Termasuk juga mengikutsertakan produk-produk hasil UMKM itu ke pameran dagang yang ada. Sehingga pemasaran terhadap produk tersebut akan berjalan dengan baik.

Karena itu, ke depan bupati akan memfasilitasi pemasaran produk hingga lebih luas. ”Jika selama ini pemerintah daerah memfasilitasi pemasaran dengan menggelar ekspo di tingkat nasional, maka saya bercita-cita mengenalkan produk-produk ini hingga ke pasar internasional,” tegasnya.

Editor: Merie

Ini Buktinya Kalau Bupati Kudus Dukung Programnya Pak Gubernur

Bupati Kudus H Musthofa memperkenalkan program unggulannya yakni Kredit Usaha Produktif (KUP) kepada kepala daerah di berbagai wilayah di Jawa Tengah. Termasuk mempromosikan program Mitra 25 yang diluncurkan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.(Istimewa)

Bupati Kudus H Musthofa memperkenalkan program unggulannya yakni Kredit Usaha Produktif (KUP) kepada kepala daerah di berbagai wilayah di Jawa Tengah. Termasuk mempromosikan program Mitra 25 yang diluncurkan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.(Istimewa)

MuriaNewsCom, Kudus – Bentuk sinergitas antarpemerintah daerah, salah satunya terwujud pada dukungan terhadap program yang sedang dijalankan. Inilah yang dilakukan Bupati Kudus H Musthofa yang mendukung program dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Contoh nyatanya adalah terkait program gubernur Mitra 02 dan Mitra 25. Sebuah program kredit tanpa agunan yang merupakan program gubernur. Dalam beberapa kesempatan, Bupati Kudus H Musthofa juga turut mempromosikan program tersebut kepada masyarakat.

”Program dari Bapak Gubernur itu harus didukung semua pihak. Terutama Bank Jateng, karena untuk memberikan kemudahan agar pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang merupakan sektor riil, agar bisa berkembang lebih cepat,” tuturnya.

Gubernur Ganjar meluncurkan program Mitra 02 dan Mitra 25 sendiri, adalah kredit yang tidak diwajibkan menggunakan agunan. Ini memang diperuntukkan bagi pelaku UMKM. Yang tujuannya memberikan pinjaman modal untuk peningkatan produktivitas.

Sebelum program gubernur tersebut diluncurkan, Bupati Musthofa juga sudah terlebih dahulu meluncurkan program bernama Kredit Usaha Produktif (KUP). Program ini juga membebaskan agunan bagi yang mengajukannya, dan digunakan untuk pengembangan usaha bagi pelaku UMKM.

KUP sendiri adalah jawaban bagi permasalahan dan tantangan bagi pelaku UMKM, dalam menjalankan bisnisnya. Antara lain masalah permodalan dan pemasaran. Selain juga tantangan lain, yaitu kualitas produk yang harus terus dijaga. Baik KUP maupun Mitra 02 dan Mitra 25, didukung penuh Bank Jateng.

Meski sama-sama mengeluarkan program yang mirip, namun Bupati Musthofa tidak lantas membuat hal itu sebagai sebuah kompetisi. Namun, bupati tetap ikut mempromosikan program milik gubernur tersebut, ke berbagai pihak dalam berbagai kesempatan. ”Semua demi kemajuan para pelaku UMKM, makanya harus kita dukung,” katanya.

Bupati Musthofa mengatakan, tantangan lain bagi pelaku usaha adalah dalam hal pemasaran. Untuk mengenalkan produk dan memasarkan secara luas, bupati mengenalkan pemanfaatan teknologi informasi (TI). Karena akan sangat memberikan kemudahan dalam menjual berbagai produk yang ada. ”Berbagai sarana menjual produk secara online, hendaknya bisa dimanfaatkan secara baik,” tegasnya.

Namun demikian, ditambahkan bupati, produk yang dijual harus berkualitas dan inovatif. Untuk bisa menghasilan produk yang bagus, para pelaku harus memiliki jiwa dan semangat pantang manyerah. ”Selain itu harus kreatif, inovatif, dan mau untuk terus belajar terhadap perubahan dan perkembangan zaman,” imbuhnya.

Editor: Merie

 

Ada Apa Bupati-bupati di Jawa Tengah Ini Harus Datang ke Kudus?

Bupati Kudus H Musthofa menjelaskan bagaimana program Kredit Usaha Produktif (KUP) yang digagasnya, telah membuat masyarakat meningkat kesejahteraannya.(Istimewa)

Bupati Kudus H Musthofa menjelaskan bagaimana program Kredit Usaha Produktif (KUP) yang digagasnya, telah membuat masyarakat meningkat kesejahteraannya.(Istimewa)

MuriaNewsCom, Kudus – Beberapa bulan belakangan ini, Kabupaten Kudus mendadak sering dikunjungi kepala daerah-kepala daerah yang ada di Jawa Tengah. Rupanya mereka penasaran dengan program yang dibuat Bupati Kudus H Musthofa.

Kepala daerah atau bupati-bupati yang datang itu, misalnya saja bupati Pekalongan, Purbalingga, Brebes, dan sejumlah kepala daerah lainnya di Jawa Tengah. Mereka benar-benar ingin belajar mengenai program yang bernama Kredit Usaha Produktif (KUP), yang digagas Bupati Musthofa.

KUP merupakan gagasan cerdas Bupati Musthofa, yang kini telah memimpin Kudus di periode keduanya ini. Dirinya ingin benar-benar membumikan ekonomi kerakyatan yang ada di Kudus, karena itulah yang menjadi kekuatan ekonomi nasional sesungguhnya.

Kedatangan para bupati tersebut, tentu saja disambut hangat bupati Kudus. Pasalnya, bupati ingin di seluruh Indonesia, atau setidaknya di Jawa Tengah, para pelaku usaha bisa lebih meningkat produktivitasnya. Yang pada akhirnya menuju pada satu tujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.

”Tanggung jawab pemerintah adalah bagaimana agar bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dan KUP ini sebagai salah satu upaya yang bisa dilakukan,” kata Musthofa.

Dengan implementasi KUP yang telah berjalan ini, terbukti mampu menyerap 3.370 orang tenaga kerja. Yang lebih membanggakan adalah jumlah tenaga kerja itu berasal dari kucuran dana KUP yang digelontorkan yang bersumber dari Bank Jateng.

Selain itu, bupati ingin merealisasikan konsep revolusi mental yang digagas Presiden RI Jokowi. Dengan KUP inilah dirinya ingin memberikan edukasi kepada masyarakat, bahwa mindset dan moral negatif agar diubah menjadi lebih bertanggungjawab. Bagaimanapun juga, pinjaman merupakan utang yang harus dikembalikan, meski tanpa menggunakan jaminan di bank.

”Jika selama ini sebagian masyarakat menganggap pinjaman atau kucuran dana dari pemerintah adalah hibah, maka kita harus mengubah pola pikir masyarakat kita untuk lebih bertanggung jawab,” jelasnya.

Lebih jauh bupati menjelaskan bahwa KUP ini bukan semata-mata hanya untuk membantu permodalan usaha mikro kecil produktif. Namun lebih jauh ini untuk memberdayakan ekonomi kerakyatan secara lebih luas, sesuai dengan Nawa Cita Jokowi-JK.

Ditambahkannya, bahwa KUP ini tidak sedikitpun menggunakan dana APBD. Melainkan dari bank pelaksana yang telah dikerjasamakan dengan perusahaan penjamin. Namun demikian, dirinya yakin bahwa pelaku usaha mikro yang jumlahnya mencapai 98,77 persen ini merupakan orang-orang yang jujur, namun kurang beruntung dalam merasakan tambahan modal usaha dari perbankan.

”Inilah upaya kami, bahwa kami benar-benar bekerja untuk rakyat. Semoga kabupaten atau kota lain di Jawa Tengah, bisa segera merasakan KUP untuk pemberdayaan ekonomi masyarakatnya,” pungkasnya.

Editor: Merie

Jadi Pejabat di Kudus, Ternyata Harus Bergaya Kekinian

Bupati Kudus H Musthofa adalah contoh pejabat yang kekinian. Karena sudah begitu lekat dengan teknologi informasi, yang makin mendekatkan dirinya dengan masyarakat luas.(Istimewa)

Bupati Kudus H Musthofa adalah contoh pejabat yang kekinian. Karena sudah begitu lekat dengan teknologi informasi, yang makin mendekatkan dirinya dengan masyarakat luas.(Istimewa)

MuriaNewsCom, Kudus – Inilah satu hal yang harus dimiliki siapa saja yang ingin menjadi pejabat di Kabupaten Kudus. Yakni gaya kekinian, yang merupakan perintah langsung dari Bupati Kudus H Musthofa.

Gaya kekinian ini, merujuk kepada satu hal. Yakni setiap pejabat di Kudus harus melek teknologi informasi dan komunikasi. ”Saya ingin semua pejabat kekinian. Yang paham IT dan bisa melayani semua keluhan, serta memberikan informasi untuk masyarakat secara online,” tegas bupati.

Menurutnya, reformasi ditandai dengan adanya tuntutan tata kelola kepemerintahan yang baik atau good governance. Yang mensyaratkan adanya akuntabilitas, transparasi, dan partisipasi masyarakat dalam setiap proses terjadinya kebijakan publik.

”Ditambah lagi dengan modernisasi teknologi informasi dan komunikasi, memberikan keleluasaan bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi yang mereka inginkan dengan mudah dan cepat,” tutur bupati.

Dengan kondisi ini, bupati mengatakan jika pemerintah dituntut untuk membuka diri kepada masyarakat, untuk memberikan infomasi-informasi dan kebijakan-kebijakan yang sangat diperlukan. Serta mudah diakses dari mana saja, bahkan kapan saja.

Terlebih dengan adanya UU 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP), maka pemerintah diamanatkan untuk membuka informasi terkait penyelenggaraan pemerintahan kepada masyarakat.

Bupati mengatakan, di Kudus sudah diterapkan cyber city. Sehingga masyarakat bisa secara luas mengetahui dan memberikan masukan serta penilaian, terhadap kinerja bupati dan aparatnya.

”Hidup ini seperti dalam akuarium, tidak ada lagi yang bisa ditutupi. Publik bisa melihat semuanya,” imbuh bupati yang kini menyelesaikan program S3 Doktoral Ilmu Sosial Undip ini.

Untuk itulah, dirinya kini menggagas aplikasi berbasis android yang sangat mudah digunakan semua kalangan masyarakat. Yakni aplikasi Menjaga Amanah Rakyat (Menara). ”Dengan aplikasi ini, tidak ada satu pun yang tidak bisa diakses. Selain itu, masyarakat bisa memberikan penilaian semua kinerja satuan kerja perangkat daerah (SKPD),” tegas pria yang juga ketua pembina Forum UMKM Jawa Tengah tersebut.

Sehingga dengan penerapan aplikasi ini, bupati bisa memberikan penilaian secara objektif. Karena hanya melihat rekap atau catatan respon dari masyarakat terhadap semua hal yang terkait dengan kinerja SKPD.

”Masyarakat secara terbuka bisa memberikan peringkat kepuasan dengan memberikan masukan pada sistem tersebut. Inilah yang akan dijadikan dasar penilaian kinerja yang berimbas pada nominal TPP yang diterima pegawai. Diharapkan apa yang sudah dilakukan itu, bisa menginspirasi daerah lain di Indonesia,” imbuhnya.

Editor: Merie

 

Duh, Senangnya Jadi Bayi di Kabupaten Kudus

Bupati Kudus H Musthofa menyerahkan akta kelahiran bayi, dalam pencanangan program ”Si Buah Hati Lahir, Pulang Membawa Akta Kelahiran”, belum lama ini.(Istimewa)

Bupati Kudus H Musthofa menyerahkan akta kelahiran bayi, dalam pencanangan program ”Si Buah Hati Lahir, Pulang Membawa Akta Kelahiran”, belum lama ini.(Istimewa)

MuriaNewsCom, Kudus – Bayi-bayi yang baru lahir di Kabupaten Kudus, mendapat perhatian lebih dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus. Salah satunya adalah mereka akan terlindungi hak-hak sipilnya.

Pemkab Kudus sudah mencanangkan program ”Si Buah Hati Lahir, Pulang Membawa Akta Kelahiran”. Ini adalah program yang sudah dicanangkan sejak Mei 2016 lalu.

Jika pada awal program ini dicanangkan hanya Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Loekmono Hadi Kudus saja yang melayani program ini, namun sejak beberapa waktu lalu, beberapa rumah sakit swasta juga sudah ikut serta melaksanakan program ini.

”Kenapa kami canangkan program ini, agar bayi yang baru lahir terlindungi hak-hak sipilnya. Juga untuk tertib administrasi kependudukan, yakni pemberian akta kelahiran pada usia 0-18 tahun,” jelas Bupati Kudus H Musthofa.

Selain rumah sakit daerah, rumah sakit lainnya adalah RS Mardi Rahayu, RS Islam, RS Aisyiyah, RS Kartika Husada, RS Kumala Siwi, dan RS Nurussyifa. Sedangkan dua lainnya adalah RSIA Permata Hari dan RSIA Harapan Bunda.

”Sejak kita canangkan program ini, di RSUD dr Loekmonohadi Kudus, hingga kini sudah melayani kurang lebih 390 akta kelahiran. Sekarang pemkab melalui Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kudus sudah menjalin kerja sama dengan rumah sakit swasta, sehingga akan makin banyak bayi-bayi yang lahir yang mendapatkan akta kelahirannya secara langsung,” paparnya.

Bupati juga meminta agar para kepala desa dan lurah, serta ketua RT dan RW, agar menyosialisasikan program ini kepada seluruh masyarakat. Termasuk menekankan bahwa layanan ini gratis, tidak ada pungutan biaya satu rupiah pun.

Urusan pelayanan ini, menurut bupati, juga tidak akan dibuat ribet. Semuanya akan dilayani dengan sebaik-baiknya, dengan cara yang mudah. ”Persyaratan yang kurang lengkap, saya minta bisa dilayani melalui email atau Whatsapp (WA). Sehingga masyarakat bisa semakin mudah untuk mendapatkan layanan ini,” tegasnya.

Bupati mengatakan bahwa ini merupakan bukti komitmen programnya untuk melayani masyarakat dalam bidang kesehatan. Karena dirinya telah berkomitmen untuk melayani masyarakat dari lahir hingga meninggal.

”Maka tidak ada perbedaan di rumah sakit negeri atau swasta. Jadi tolong bantu kami atas komitmen pelayanan kesehatan ini untuk masyarakat. Dan kerja sama ini juga menunjukkan bahwa, pelayanan kesehatan bukan hanya tanggung jawab kami, tapi juga tangggung jawab bersama,” harap bupati.

Editor: Merie

 

Bagi Bupati Kudus H Musthofa Rakyat Adalah Raja

Bupati Kudus H Musthofa melaporkan setiap anggaran yang digunakan untuk berbagai program dan kegiatan yang pada akhirnya untuk kesejahteraan masyarakat Kudus sendiri. (Istimewa)

Bupati Kudus H Musthofa melaporkan setiap anggaran yang digunakan untuk berbagai program dan kegiatan yang pada akhirnya untuk kesejahteraan masyarakat Kudus sendiri. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Kudus – Bupati dan semua pejabat itu pelayan masyarakat. Maka sudah seharusnya melayani yang terbaik dan melaporkan apa saja yang diprogramkan serta telah dilakukannya untuk untuk rakyat.

Bupati Kudus H Musthofa memiliki cara tersendiri untuk bisa membuktikan soal laporan program-program kegiatan yang dilaksanakannya, kepada rakyat. Yakni dengan membuat program bernama ”Bupati Lapor Rakyat”, yang terus menerus dilakukannya hingga kini.

Kepada warga yang ditemui, bupati selalu menekankan bahwa meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kudus, adalah tugas yang harus dilaksanakannya. Meski saat ini, sudah hampir berakhir masa jabatannya, namun kegiatan untuk bisa menyejahterakan rakyat, terus dilakukan.

Tidak pernah bosan, bupati terus saja mendatangi warganya untuk melaporkan setiap kegiatannya. Justru saat ini memang bupati makin gencar turun ke semua desa untuk bertemu langsung dengan masyarakat.

”Karena memang sudah menjadi tekad saya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kudus, dan menyelesaikan semua pembangunan yang telah direncanakan. Saya tidak ingin meninggalkan sisa pekerjaan, ketika nanti saya berakhir jabatan sebagai bupati,” katanya.

Bantuan-bantuan maupun santunan terus diberikan kepada masyarakat. Misalnya saja santuan kematian, akta kematian, serta bantuan bedah rumah untuk masyarakat di berbagai wilayah yang ada di Kudus.

Acara tilik desa sebagai ajang ”Bupati Lapor Rakyat” ini, menurut bupati, sebagai contoh besar untuk memberikan pelayanan masyarakat. Perencanaan serta jumlah anggaran diekspos secara terbuka. ”Sehingga semua mata bisa melihat dan mencermati secara jelas. Tidak ada yang ditutup-tutupi,” tegasnya.

Keberadaannya adalah untuk masyarakat, menurut bupati, membuatnya tidak ada lagi alasan untuk menutupi atau bahkan menggunakan kekuasaannya untuk kepentingannya sendiri.

Bagi bupati, rakyat adalah raja. Pembangunan ini tanggung jawab bersama yang harus melibatkan peran serta rakyat di segala aspek. ”Pemimpin masa kini harus bisa memberikan contoh. Dan juga harus mau untuk silaturahmi dengan seluruh masyarakat,” katanya.

Transparansi anggaran selalu dilakukan, agar masyarakat tahu penggunaan dana yang ada, serta ikut mengawasi pembangunan yang ada di desanya. Sehingga semuanya jelas. ”Untuk itu, kekompakan kepala desa bersama BPD, RT, RW, serta seluruh masyarakat, menjadi kata kunci keberhasilan pembangunan yang dimulai di desa,” tuturnya.

Bupati menambahkan, pihaknya selalu berikhtiar untuk memberikan yang terbaik bagi warga. ”Dengan niat baik, Insha Allah hasilnya juga baik untuk seluruh masyarakat. Bagi kami, mengabdi lebih berarti dari pada membanggakan diri,” imbuhnya.

Editor: Merie

Bupati: Jangan Coba-coba Potong Uang Santunan Rakyat

Bupati Kudus H Musthofa menyerahkan bantuan dan santunan kepada masyarakat yang berhak menerimanya, saat kegiatan Bupati Lapor Rakyat, di Desa Pasuruan Lor, Kecamatan Jati, belum lama ini. (Istimewa)

Bupati Kudus H Musthofa menyerahkan bantuan dan santunan kepada masyarakat yang berhak menerimanya, saat kegiatan Bupati Lapor Rakyat, di Desa Pasuruan Lor, Kecamatan Jati, belum lama ini. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Kudus – Bupati Kudus H Musthofa sedang gencar-gencarnya untuk melakukan sosialisasi pemberantasan pungutan liar (pungli). Kepada masyarakat yang ditemui, bupati menegaskan jika aparatur pemerintah di bawahnya, tidak akan berani-berani lagi melakukan pungli, kalau tidak mau diberhentikan.

Itu juga yang disampaikan bupati kepada masyarakat Desa Pasuruhan Lor, Kecamatan Jati, saat menghadiri kegiatan yang ada di sana. Kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan ”Bupati Lapor Rakyat”, yang merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan bupati.

Dikatakan bupati, soal pungli memang tidak bisa ditolerir pihaknya. Setiap ada aparatur pemeirntah yang ketahuan melakukan pungli, maka pihaknya akan mengambil langkah tegas.

”Tidak perlu lagi diskusi, manakala ada aparat pemerintah yang terbukti melakukan pungli. Segera saya copot dari jabatannya, karena sudah menyusahkan masyarakat. Bahkan meski nominalnya hanya puluhan ribu, saya tetap akan tindak tegas,” terangnya.

Hal itu juga berlaku untuk penerimaan berbagai macam santunan kematian, yang diterima warga. Bupati menegaskan tidak boleh ada yang memotong uang santunan tersebut. Misalnya saja santunan kematian, yang sudah diprogramkan sejak awal bupati menjabat.

Dalam kesempatan itu, bupati memang menyerahkan santunan kematian kepada warga yang menerimanya. Bahkan, bupati meminta warga penerimanya, untuk menghitung uang santunan yang diterima tersebut.

”Saya minta bapak dan ibu menghitung uang santunan yang panjenengan terima semua. Sudah sesuai dengan jumlahnya atau belum. Tujuannya agar uang yang diterima pas sesuai ketentuan. Harus pas, dan tidak boleh ada potongan apapun,” tegasnya.

Bupati mengharamkan siapapun yang berani coba-coba memotong atau meminta imbalan jasa dari warga, dengan dalih apapun. Inilah yang diinginkan bupati, agar warga bisa memahami komitmennya untuk memberantas pungli di wilayah ini.

”Inilah ikhtiar kami. Dengan niat baik, Insha Allah hasilnya juga baik untuk seluruh masyarakat. Bagi kami, mengabdi lebih berarti daripada membanggakan diri,” katanya.

Editor: Merie

2017, Bupati Kudus Berharap Tak Ada lagi Iuran Guru

Bupati Kudus Musthofa berbicara di depan guru membahas agar tidak ada iuran guru. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Bupati Kudus Musthofa berbicara di depan guru membahas agar tidak ada iuran guru. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Potongan gaji yang diberikan oleh guru, guna iuran untuk Forum Komunikasi Guru SD Swasta Kudus dianggap tak perlu.

Iurannya adalah sejumlah Rp 75 ribu, hal itu dilakukan untuk organisasi dan tiap bulan Kegiatan Forum selalu dilaksanakan.

Bupati Kudus Musthofa mengatakan, pihaknya tidak ingin jika sampai guru iuran. Dengan adanya bantuan dari pemerintah. Bantuan membuat guru lebih ringan dan senang dalam menyalurkan ilmunya.

“Mulai 2017 tidak usah ada iuran semacam itu. Meski sebagian ikhlas namun jika ada yang keberatan juga tidak baik. Untuk itu pemerintah akan membantu,” katanya.

Selain itu, anggaran dari pemerintah kabupaten juga tinggi untuk dunia pendidikan di Kudus. Tercatat puluhan miliar dikucurkan agar semua anak di Kudus mampu bersekolah.

“Jika pemerintah bisa membantu, kenapa tidak. Yang penting sesuai dengan prosedur, apalagi ini  masalah dunia pendidikan,” ungkapnya.

Kedatangan bupati, lantaran mendapat kicauan dalam Twitter soal pungutan di Kecamatan Kota. Untuk itulah Bupati langsung mendatangi serta mengklarifikasi adanya kabar dan keluhan yang meresahkan itu.

Editor : Akrom Hazami

Bupati Kudus Kunjungi Areal Sawah di Undaan

 Bupati Kudus Musthofa memberikan solusi masalah sawah antara Desa Undaan Lor dan Wates, Kecamatan Undaan, Rabu. (MuriaNewsCom / Faisol Hadi)


Bupati Kudus Musthofa memberikan solusi masalah sawah antara Desa Undaan Lor dan Wates, Kecamatan Undaan, Rabu. (MuriaNewsCom / Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Bupati Kudus Musthofa melakukan kunjungan ke lokasi singgungan petani di Undaan Lor dan Wates, Kecamatan Undaan, Rabu (5/10/2016). Dalam kunjungannya, bupati memerintahkan persoalan itu harus segera diselesaikan dalam waktu singkat.

Musthofa mengatakan, kalau limpasan atau air di Wates jangan dibiarkan tak tertangani. Namun jika keinginan membuang limpasan tak diperbolehkan, maka harus ada solusi lain. “Saya sudah berbicara dengan kedua kades, petani, dan juga pihak yang terkait. Yang hasilnya adalah membuat aliran irigasi dari Wates ke sungai yang terdekat,” katanya kepada Koran Muria.

Menurutnya, pembuatan dilakukan dengan cara mengetuk saluran kecil ditambah dengan sawah milik warga. Tujuannya, adalah membuang limpasan air yang mengendap di kawasan persawahan Wates. Untuk panjang saluran irigasi, mencapai 2,5 kilometer hingga sungai terdekat.

Dia berharap kalau warga akan menerimanya, sebab itu adalah untuk kemakmuran desa dan akan dimanfaatkan untuk kepentingan petani di Wates. Meskipun saluran air akan juga menggunakan tanah sawah warga. “Ini adalah tugas kades untuk berbicara dengan warganya. Dan secepatnya dibuat, agar tidak muncul persoalan lagi. Untuk alat berat bisa pinjam ke pemkab,” ujarnya.

Bupati menambahkan kalau pemkab selalu serius dan konsen mengatasi persoalan warga. Termasuk juga masalah pertanian yang menjadi masalah. “Kalau kalian ribut sendiri, apa mau buat negara sendiri. Jika saya datang, maka saya juga berwenang di sini. Jadi jangan menang sendiri,” imbuhnya

Kades Wates Sirin mengaku siap untuk memberitahu warga. Namun pada ujung saluran nanti, bakal melewati Undaan Lor, sehingga dia berharap kerjasamanya dengan petani di Desa Wates. “Dengan demikian maka sawah milik Undaan Lor juga terkena. Dan untuk itu, membutuhkan peran Kades Undaan Lor untuk memberitahu warganya,” ujarnya.

Kades Undaan Lor Edy Pranoto yang juga hadir mengaku tidak keberatan dengan hal tersebut. Pihaknya menjamin akan mengkomunikasikan dengan warga terkait hal itu.

Editor : Akrom Hazami

Laga Pembuka Voli Bupati Kudus, Badak Tampil Manis

Pemain Badak memberikan perlawanan hebat kepada lawannya Porget di Lapangan Kaliputu, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Pemain Badak memberikan perlawanan hebat kepada lawannya Porget di Lapangan Kaliputu, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Turnamen voli Bupati Cup 2016 Kudus yang digelar KONI, bergulir mulai Selasa (4/10/2016). Pada kompetisi yang didukung Sukun Spirit of Sport itu mempertandingkan Badak melawan Porget di Lapangan Kaliputu, Kudus.

Pada set awal, Badak langsung mengalahkan Porget dengan skor 25 – 14. Kehebatan Badak kian terbendung pada babak kedua, dengan hasil 25 – 10. Kendati lawan memberikan perlawanan sengit, tapi Badak terus mendominasi permainan.

Bahkan, Badak kian perkasa di set ketiga dengan mengalahkan Porget dengan skor 25 -1. Kemenangan Badak membuat tim ini diperhitungkan dan siap mengganjal langkah tim hebat lainnya.

Dalam pertandingan lain, Vocaba melawan Popsivo berlangsung seru, di lapangan Popsivo. Vocaba mengalahkan Popsivo dengan skor 3-2. Pertandingan yang berjalan sama kuat itu amat menguras tenaga.

Sedangkan di pertandingan lainnya juga tidak kalah seru, Berlian melawan Pervoker berakhir telak. Pervoker mengalahkan lawannya, 3-0. Sementara Gavoda melawan Sentana juga ramai, dengan skor akhir 3-2 untuk Gavoda.

Panitia kegiatan Arip Hidayat mengatakan, kalau pertandingan yang berlangsung sangat seru. Kemeriahan tiap pertandingan tetap terasa meski digelar di tempat berbeda. “Hari pertama sangat bagus, mudah-mudahan hari berikutnya juga tidak kalah bagus dan lebih meriah lagi,” katanya. (ADS)

Editor : Akrom Hazami

 

Bupati Kudus “Semprot” Pejabat Dinas Kesehatan Gara-gara Ambulans Kotor

ambulans

Bupati Kudus Musthofa memberit teguran ke pegawai Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK)  terkait ambulans yang kotor dan tak terawatt. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Bupati Kudus Musthofa “menyemprot”  pejabat Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) setempat, di kota setempat, Senin (19/9/2016). Sebab kondisi sejumlah ambulans puskesmas kotor serta terlihat tak terawat.

“Masa dari kesehatan saja semacam ini, bagaimana bisa melayani dengan baik jika demikian,” katanya saat meninjau ambulans puskesmas.

Dalam pengecekan mobil tersebut, juga dibuka bagian kap mesin mobil. Bupati makin terkejut dengan melihat mesin mobil yang juga kotor berdebu. Meski mesin mobil dapat dinyalakan, namun kondisinya yang kotor membuat bupati jengkel. “Jika ini mobil pribadi, pasti lebih bersih ketimbang yang punya. Ini itu mobil dari keringat rakyat, jadi dijaga yang benar,” ujarnya.

Setelah itu, bupati menanyakan keberadaan sopir ambulance kepada pejabat di lingkungan DKK. Namun dia mendapat jawaban tidak memuaskan, yaitu staflah yang merangkap jadi sopir ambulans. “Kalau staf ya staf, bukan sopir. Sopir itu bukan staf. Jadi hari ini juga saya minta data mobil ambulans, sopir dan pelat nomornya,” imbuhnya.

Bupati mengaskan kalau ke depan akan memeriksa semuanya. Khusususnya yang bersinggungan dengan kepentingan dan pelayanan rakyat.

Sementara, Kepala DKK dr Maryata mengatakan kalau sopir ambulans puskesmas belumlah semuanya ada. Dari 19 mobil ambulans, hanya enam yang sudah ada sopirnya. Sedangkan sisanya belum. “Harusnya ini wewenang puskesmas, soalnya sudah berbadan BLUD. Jadi jangan berharap adanya sopir dari dinas, soalnya sudah BLUD,” ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

Bupati Kudus Tak Hadir Rapat Paripurna, Anggota DPRD Boikot

Istimewa

Istimewa

MuriaNewsCom, Kudus – DPRD Kudus kesal karena Bupati Kudus Musthofa tidak hadir dalam sidang paripurna. Kondisi itu membuat mereka tidak melanjutkan sidangnya.

Anggota dewan, Nur Khabsyin memboikot sidang paripurna DPRD yang beragendakan pembacaan jawaban bupati atas pandangan fraksi terkait pembahasan ranperda Satuan Perangkat Daerah. ”Secara tegas, saya menolak hadir di sidang paripurna ini karena ketidakhadiran bupati,” kata Khabsyin, Jumat (9/9/2016).

Kendati dia datang ke gedung DPRD, tapi tidak bersedia masuk ke ruang rapat paripurna. Ketidakhadiran bupati, menurutnya, tak etis lantaran agenda sidang sebenarnya adalah pembacaan jawaban bupati atas pandangan fraksi. ”Harusnya bupati datang sendiri untuk membacakan jawabannya atas pandangan fraksi,” tandasnya.

Sidang paripurna masih tetap berjalan lantaran jumlah anggota DPRD yang hadir sudah memenuhi kuorum. Jawaban bupati pun dibacakan oleh Sekda Noor Yasin yang hadir mewakili bupati. Selain memboikot rapat paripurna, dalam kesempatan tersebut, Khabsyin juga menyatakan kekecewaannya dengan jawaban bupati atas pandangan fraksi. Terutama terkait pengangkatan 51 pejabat struktural yang dinilai melanggar instruksi Mendagri No 061/2911/SJ/tahun 2016.

Menurut Khabsyin, sesuai Instruksi Mendagri dijelaskan terutama pada poin kelima, bahwa pengisian pejabat struktural dilaksanakan setelah perda Susunan Perangkat Daerah ditetapkan. Bahkan untuk jabatan yang kosong, Mendagri minta agar diisi oleh pelaksana tugas dulu. ”Dalam jawaban tertulisnya, bupati menyatakan kalau pengangkatan pejabat sudah sesuai dengan UU ASN,” katanya.

Pelantikan pejabat struktural yang telah dilakukan bupati bisa menimbulkan permasalahan tersendiri. Karena sejumlah pejabat yang baru dilantik, bisa jadi akan terkena imbas terhadap Susunan Perangkat Daerah yang baru. “Nantinya, ada jabatan-jabatan di sejumlah SKPD yang akan dihilangkan atau digabungkan dengan SKPD yang lain,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Bupati Kudus Tegur Keras Pimpinan SKPD Malas

Bupati Kudus saat memimpin dalam satu kegiatan di halaman pendapa kabupaten setempat, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Bupati Kudus saat memimpin dalam satu kegiatan di halaman pendapa kabupaten setempat, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Bupati Kudus Musthofa, kecewa  dengan sikap sejumlah pimpinan SKPD yang malas. Hal itu disebabkan kedatangan pimpinan SKPD yang terlambat hadir pada sidang paripurna di DPRD Kudus, Senin (5/9/2016).

“Saya mengundang SKPD, camat dan kades agar semuanya tahu informasi yang diberikan. Jadi lebih cepat, tapi malah demikian,” katanya dengan nada tinggi.

Tidak hanya itu, bupati juga mengatakan jika kepala SKPD malas untuk datang dan menganggap rapat paripurna tidak penting,biar dirinya saja yang datang.

Hanya jika nanti tidak tahu informasi, salahnya sendiri, Jangan menduga-duga. “Sidang paripurna ini forum tertinggi di DPRD, jadi hormati rapat paripurna dan pora politikus DPRD Kudus,” imbuhnya.

Melihat hal itu,  para kepala SKPD dan kades yang ikut sidang hanya bisa terdiam mendengar kekecewaan bupati dan mulai serius mengikuti jalannya rapat.

Sidang paripurna  digelar dengan agenda penjelasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Kudus.

Pada kegiatan itu disinggung pula soal perubahan nama SKPD di Kudus yang bakal terjadi di 2017. Dari sekian banyak SKPD yang ada, beberapa dirombak dan diganti namanya seperti nama dinas. Hal itu disampaikan Sekda Kudus Noor Yasin. Menurutnya, perombakan akan berjalan pada 2017. Sebab, pada tahun ini pemkab akan menyelesaikan program yang ada di tiap SKPD.

Editor : Akrom Hazami

DPRD Kudus Nilai Bupati Langgar Instruksi Mendagri

Bupati Kudus Mushtofa melakukan pelantikan pejabat SKPD. (MuriaNewsCom)

Bupati Kudus Mushtofa melakukan pelantikan pejabat SKPD di pendapa pemkab setempat, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Bupati Kudus Mushofa dinilai melanggar instruksi Mendagri Mendagri No 061/2911/SJ/tahun 2016 tentang tindak lanjut PP 18/2016 tentang Perangkat Daerah.

Sebab, bupati melakukan pelantikan pejabat struktural, sebelum ditetapkannya SOTK baru.

Demikian disampaikan anggota Komisi A DPRD Kudus, Nur Khabsyin. Pada instruksi Mendagri tersebut dijelaskan terutama pada poin keenam. “Bahwa pengisian pejabat struktural dilaksanakan setelah perda SOTK baru ditetapkan. Bahkan untuk jabatan yang kosong, Mendagri minta agar diisi oleh pelaksana tugas dulu,” katanya.

Instruksi Mendagri 061 tersebut diterbitkan pada 4 Agustus 2016. Sementara, pada 10 Agustus 2016, bupati melantik 51 pejabat eselon II, III dan IV.

Kondisi tersebut, menurut Khabsyin akan menimbulkan permasalahan tersendiri. Karena, sejumlah pejabat yang baru dilantik, bisa jadi akan terkena imbas terhadap SOTK yang baru.

Nantinya, ada jabatan di sejumlah SKPD yang akan dihilangkan atau digabungkan dengan SKPD yang lain.  ”Bisa jadi, ada jabatan-jabatan yang nanti akhirnya dilikuidasi atau digabung dengan yang lain. Tentu ini akan menjadi permasalahan tersendiri,” tukasnya.

Selain itu, menurut Khabsyin, belum dibahasnya Perda SOTK juga merupakan catatan tersendiri bagi Pemkab Kudus. Sebab, sebelumnya Gubernur juga sudah mengeluarkan surat edaran nomor 060/013679/2016 yang isinya memberi tenggat waktu bagi kabupaten/kota di Jateng untuk segera menyelesaikan Perda SOTK maksimal pada 25 Agustus 2016.

”Padahal, kenyataannya hingga kini draf ranperda tentang SOTK juga belum dikirim ke DPRD untuk dibahas,”tukasnya.

Belum lagi terkait persoalan KUA PPAS APBD 2017 yang saat ini sudah disepakati dan ditandatangani jauh hari sebelum Instruksi Mendagri tersebut diterbitkan.  Nantinya, KUA PPAS tersebut juga harus direvisi dengan memperhatikan perubahan SOTK.

Oleh karena itu, Khabsyin mendesak agar pemkab Kudus segera mengirim draf ranperda SOTK. Apalagi, dalam Instruksi Mendagri juga disebutkan pengisian SOTK harus dilakukan maksimal pada Desember 2016 mendatang.

Editor : Akrom Hazami

Musthofa : Buruh Rokok Kudus Jangan Risau

Bupati Kudus Musthofa melakukan kunjungan ke brak Djarum di Karangbener, Kudus, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Bupati Kudus Musthofa melakukan kunjungan ke brak Djarum di Karangbener, Kudus, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Bupati Kudus Musthofa mengingatkan para buruh rokok agar tak risau terkait adanya wacana kenaikan harga rokok. Sebab, aturan terkait kenaikan masih pembahasan.

Musthofa menuturkan itu saat melakukan kunjungan ke brak Djarum di Karangbener, Bae Kudus, Rabu (24/8/2016).  Bupati mengatakan agar para buruh tetap bekerja seperti biasanya dan tidak usah panik akan kabar tersebut.

“Itu baru kabar saja, itu hanya sebatas isu saja jadi jangan risau. Dan isu tersebut hanya di kalangan media sosial saja,” katanya kepada MuriaNewsCom

Menurutnya, pihak Dirjen Bea Cukai juga belum memberi putusan terkait hal itu. Dia menjelaskan kenaikan rokok diatur dalam cukai.

Sepengetahuannya, kenaikan harga rokok beda dengan harga bahan bakar minyak (BBM). Jika BBM diumumkan naik, besoknya akan terjadi. Tapi kalau rokok, muncul rencana kenaikan harga tapi biasanya terjadi beberapa waktu kemudian.

“Buruh rokok di Kudus ada sekitar 100 ribu lebih. Mereka menjadi tulang punggung keluarga, saya tidak menginginkan mereka berhenti bekerja. Sebab yang nganggur saja saya carikan kerja, apalagi yang kerja, jangan sampai nganggur,” imbuhnya.

Wacana kenaikan harga rokokt tersebut merupakan hasil studi Kepala Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Masyarakat Universitas  Indonesia, Hasbullah Thabrany.  Usulan kenaikan harga rokok diketahui guna mengurangi jumlah perokok aktif di Indonesia.

Kenaikan  cukai rokok diikuti kenaikan harga rokok. Kemungkinan perokok akan berhenti jika harganya dinaikkan dua kali lipat dari harga normal. Hasilnya adalah, sekitar 80 persen bukan perokok setuju jika harga rokok dinaikkan.

Editor : Akrom Hazami

 

Bupati Kudus: Jangan Biarkan Rakyat Kami Jadi Pengangguran karena Rokok Naik

Suasana program acara ILC yang membahas soal kenaikan harga rokok, yang dihadiri Bupati Kudus H Musthofa, Selasa (23/8/2016). (MuriaNewsCom)

Suasana program acara ILC yang membahas soal kenaikan harga rokok, yang dihadiri Bupati Kudus H Musthofa, Selasa (23/8/2016). (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Bupati Kudus H Musthofa menegaskan bahwa jika harga rokok mengalami kenaikan, maka yang akan menderita adalah warga di Kabupaten Kudus.

Hal itu disampaikannya, saat menjadi salah satu narasumber di program Indonesia Lawyers Club (ILC) di TVOne, Selasa (23/8/2016) malam. Menurutnya, dia tidak ingin warganya menjadi pengangguran akibat dari dampak kenaikan tersebut.

”Saya ingin membawa suara rakyat kami. Jangan sampai rakyat kami menjadi pengangguran, karena adanya kenaikan rokok yang begitu tinggi,” jelasnya.

Bupati mengatakan, jika kenaikan harga itu memang adalah kebijakan dari pemerintah pusat. Sebagai pemerintah daerah, pihaknya tidak akan ikut campur. ”Tapi, persoalan ini menyangkut masa depan warga kami. Ada kurang lebih 12% dari warga kami yang bekerja di industri rokok ini. Kurang lebih seratus ribu warga kami di sana. Bayangkan saja itu,” terangnya.

Sebagai kepala daerah, menurut bupati, pihaknya selalu memonitor kegiatan dari para buruh bidang rokok. Meskipun selama ini, dana bagi hasil dari cukai, masih dirasakannya tidak adil.

”Bayangkan saja, dari sekian triliun dana cukai dari rokok itu, kita hanya diberi berapa. Apalagi dengan aturan pemerintah yang ketat, sehingga kami kesulitan untuk menjalankannya,” terangnya.

Apalagi, menurut bupati, pemerintah daerah sudah melakukan serangkaian kegiatan untuk menyejahterakan warganya. Berbagai pelatihan dilakukan, sehingga mereka yang bekerja di industri rokok, bisa semakin naik kesejahteraannya.

”Termasuk juga bagaimana perusahaan rokok sudah melakukan berbagai kegiatan untuk warga kami. Dari mulai bidang pendidikan dan olahraga. Peran mereka sangat penting. Kontribusinya tidak sedikit,” paparnya.

Karena itu, bupati meminta kepada pemerintah, jangan sampai memberlakukan kebijakan yang bisa membuat warganya menjadi pengangguran. Harusnya dipikirkan bagaimana tahapan untuk bisa menerapkan kebijakan itu.

”Bagaimana supaya ditata dulu mekanismenya, sebelum memberlakukan kebijakan itu. Sehingga warga kami bisa tetap terayomi dan tetap meningkat kesejahteraannya,” imbuhnya.

Editor: Merie

Bupati Kudus Paparkan Kekuatan Ekonomi Kerakyatan dari Pengusaha Muda di UI

Bupati Kudus Musthofa memaparkan tentang ekonomi kerakyatan di kampus Universitas Indonesia (Istimewa)

Bupati Kudus Musthofa memaparkan tentang ekonomi kerakyatan di kampus Universitas Indonesia (Istimewa)

MuriaNewsCom, Kudus -Kekuatan ekonomi nasional, ada pada para pelaku ekonomi kerakyatan. Mulai dari level usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) hingga besar. Semuanya memberikan andil besar sebagai pondasi ekonomi nasional. Keberadaannya telah teruji karena tangguh dan kokoh dalam menghadapi badai krisis yang menerpa Indonesia beberapa tahun silam.

Pemerintah sebagai pemangku kekuasaan tentu tidak boleh hanya berdiam melihat potensi usaha mikro yang jumlahnya lebih dari 98,7 persen dari total UMKM yang ada. Ini merupakan potensi yang luar biasa jika benar-benar diberdayakan dengan optimal. Tentunya pemerintah harus hadir untuk itu.

Hal itu disampaikan Bupati Kudus Musthofa, pada Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan di gedung lantai 2 Program Pascasarjana Ilmu Politik FISIP Universitas Indonesia, Kampus Depok, Rabu (27/7/2016). Pada diskusi yang mengambil tema ’Kita dan ASEAN’ ini, bupati mengatakan akan dan terus mengoptimalkan UMKM yang ada di Kudus. Kerja sama yang sinergis pemerintah dan stakeholder diharapkan mampu menghasilkan UMKM yang sukses. ”Indikator keberhasilan pemerintah, salah satunya bagaimana agar bisa memberdayakan ekonomi kerakyatan ini,” kata bupati.

Hadirnya pemerintah akan menjembatani beberapa permasalahan dan tantangan bagi pelaku UMKM dalam menjalankan bisnisnya. Di antaranya permasalahan mengenai permodalan dan pemasaran. Selain juga tantangan lain yaitu kualitas produk yang harus terus dijaga.”Penguasa, pengusaha, dan masyarakat sebagai objek dan subjek kebijakan pelaku ekonomi. Tiga domain ini menjadi kata kunci untuk bersinergi,” jelasnya.

Untuk membantu permodalan, pemerintah telah menawarkan berbagai produk modal usaha. Salah satunya adalah kredit usaha produktif (KUP) yang merupakan gagasannya dalam memberikan fasilitas dan kemudahan dalam permodalan untuk menggerakkan UMKM ini.

Di era serba teknologi ini, pemanfaatan teknologi informasi (TI) tak bisa dihindari. Semuanya bisa mempermudah manusia dalam membeli atau menawarkan produknya. Peluang ini masih sangat terbuka. Apalagi mahasiswa sebagai generasi penerus yang memiliki cara pandang yang sangat baik dalam melihat berbagai peluang yang ada.”Manfaatkan teknologi informasi ini sebagai jaringan bisnis. Selain itu akan mempermudah kita di Indonesia dengan negara-negara ASEAN di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ini,” tambahnya.

Sementara itu pembicara lain dalam forum ini, Kamarudin, Ketua Program Studi Pascasarjana Ilmu Politik UI, mengatakan, bahwa MEA dari keniscayaan globalisasi tidak bisa dihindarkan. Siap atau tidak, semua harus siap ada di dalamnya. Generasi muda harus disiapkan untuk menghadapi globalisasi tersebut.”Caranya, dengan menjadikan mahasiswa sebagai kader wirausaha yang siap bertarung dan tampil elegan dalam kancah bisnis internasional,” kata Kamarudin.

Indeks prestasi (IP) yang tinggi bukanlah jaminan keberhasilan seorang mahasiswa. Untuk itu, pihaknya tidak memfokuskan hanya pada IP tinggi dalam mempersiapkan mahasiswanya ketika lulus nanti. Tetapi yang lebih penting utama adalah kontribusi sosial dara para mahasiswa nantinya kepada masyarakat luas.

Hal senada disampaikan oleh Dr Latief M. Rahman dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Dijelaskannya, dalam piramida penduduk, umur pemuda harus didayagunakan. Jika tidak, itu akan sia-sia.  Ciri insan yang sukses adalah baik dari segi spiritual dan kehidupan nyata. Termasuk pengembangan Hard Skill dan Soft Skill menuju kesuksesan melalui manajemen diri. ”Kebutuhan insan yang sukses adalah salah satunya harus punya entrepeuner dan mengasah seluruh potensi,” kata Latief.

Aryandi Yoga Swasara dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mengatakan, perlunya mengoptimalkan galangan kapal di Indonesia. Sehingga, bagaimana sebuah daerah kapal yang memiliki potensi galangan kapal dapat membuat daerah tersebut maju dan menyerap banyak tenaga kerja, serta menghidupkan potensi kelautan di sana. Efeknya, dapat memperkuat Indonesia sebagai negara maritim.

Sementara, Dr. Herdi Sahrasad dari Universitas Paramadina bermimpi untuk menyelamatkan pulau Jawa karena sudah rusak alamnya. Jika Jawa hancur, maka peradaban budaya Jawa hancur. Maka, harus ada penghijauan total dari Anyer sampai Panarukan, penanaman bukit dan pantai harus lebih utama.”Ke depan ini, saya kira sumber daya manusia menjadi kunci, kampus dan wirausaha harus bekerjasama,” kata Herdi.

Editor : Kholistiono

Tokoh Lintas Agama Ikuti Silaturahmi Idul Fitri di Pendapa Kudus

Bupati Kudus bersama tokoh lintas agama (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Bupati Kudus bersama tokoh lintas agama (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Kudus – Acara silaturahim Idul Fitri yang digelar di Pendopo Kabupaten Kudus tahun ini memiliki warna yang berbeda, karena juga dihadiri para tokoh lintas agama. Tokoh lintas agama yang ikut hadir pada acara halalbihalal yang digelar pada Senin (11/7/2016), yakni tokoh dari agama Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, serta tokoh dari sedulur sikep atau samin.

Halalbihalal tersebut, juga dihadiri ribuan pegawai negeri sipil (PNS) yang bergantian memasuki Pendopo untuk berjabat tangan dengan Bupati Kudus Musthofa serta jajarannya.

Bupati Kudus Musthofa mengungkapkan, acara halalbihalal tahun ini memang berbeda dengan tahun sebelumnya. Tahun ini, kata dia, Pemkab Kudus mengundang seluruh umat agama lain. Hal itu, menurutnya, sebagai bentuk toleransi antarumat beragama seperti halnya yang diwariskan oleh Sunan Kudus yang mengajarkan toleransi antarumat beragama.”Kami yakin semua agama mengajarkan yang terbaik. Mudah-mudahan, acara silaturahmi ini bisa menjadi contoh daerah lain,” ucapnya.

Pada kesempatan tersebut, dia menyampaikan, apreasiasinya karena pemuka agama lain yang ada di Kudus, termasuk tokoh masyarakat, ormas dan warga yang bersedia hadir dalam acara tersebut.

“Kita mengundang sekitar 9 ribu orang dari berbagai kalangan. Mulai dari PNS Pemkab Kudus, kepala desa, guru madrasah swasta, guru TK, Forum Kerukunan Umat Beragama(FKUB) Kudus dan tokoh agama,” kata Musthofa.

Editor : Kholistiono

PNS Kudus Mengular di Acara Halalbihalal

PNS sedang berjajar untuk bersalaman dengan Bupati Kudus (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

PNS sedang berjajar untuk bersalaman dengan Bupati Kudus (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


MuriaNewsCom, Kudus
– Memasuki hari pertama kerja pada Senin, (11/7/2016), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus mengadakan acara halalbihalal di Pendapa Kabupaten Kudus. Hadir dalam acara itu Bupati Kudus Musthofa.

Acara yang dimulai sekitar pukul 07.30 WIB itu diramaikan oleh PNS Kabupaten Kudus yang ingin bersalaman dengan Kang Mus. Barisan PNS pun mengular sekitar 300 meter untuk dapat bersalaman dengan Kang Mus. Terlihat hadir juga Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), guru, organisasi masyarakat dan lain sebagainya.

Salah seorang guru dari Kecamatan Dawe Istianah (40) mengatakan, halalbihalal tersebut menurutnya sangat positif, karena tujuannya menjalin silaturrahmi. “Dengan seperti in, kita bisa dekat dengan pemerintah, dan kita juga bisa bertatap muka dengan bupati secara langsung,” katanya sambil berlalu.

Demi mengikuti acara tersebut, dirinya juga rela mengubah jadwal silaturahmi dengan rekan-rekannya, karena, untuk mengikuti halalbihalal dengan bupati, katanya, baru kali ini.Dalam acara itu, Musthofa menebar senyum kepada para PNS Kudus dan tamu yang menyalaminya.

Editor : Kholistiono

 

Bupati Kudus Lempar Botol Miras di Alun-alun

Bupati Kudus Mushtofa mencoba melempar botol miras untuk dimusnahkan, Kamis. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Bupati Kudus Mushtofa mencoba melempar botol miras untuk dimusnahkan, Kamis. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Selain memeriksa kesiapan ratusan personel untuk pengamanan kegiatan Operasi Ramadniya, Bupati Kudus Musthofa juga ikut serta memusnahkan ribuan liter minuman alkohol berbagai hasil operasi pihak kepolisian setempat.

Jumlah keseluruhan minuman berakohol yakni 2.294 liter. Dengan berbagai merek hasil sitaan.

Musthofa mengatakan, dirinya ingin keberadaan minuman keras di wilayahnya dimusnahkan dengan tindakan tegas.”Saya ingin Kudus itu 0 persen minuman keras,” katanya.

Dirinya juga berharap setiap instansi, baik itu dari Satpol PP, polisi, TNI hingga tokoh masyarakat, bisa saling berkoodinasi dalam pemberantasan minuman keras. Sehingga ke depannya wilayah Kudus bisa bersih dari minuman.

“Ya kinerja ini memang harus saling mendukung antarstakeholder yang ada.Sehingga untuk bisa menuju Kudus bebas miras bisa berhasil. Sementara itu, musnahnya miras juga bisa menuju Kudus yang sejahtera,” ujarnya.

Dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, 2.294 liter tersebut terdiri dari 1.337 botol minuman berbagai merek, 39 liter oplosan dan 918 liter putihan.

Kabag Ops Polres Kudus Kompol Tugiyanto mengatakan, ribuan miras itu merupakan hasil Oprasi Pekat Candi Polres Kudus terhitung mulai dari 31 Mei 2016 hingga 13 Juni 2016.

Tak berhenti di operasi minuman keras saja, namun operasi yang digelar baik secara internal polres maupunsecara gabungan dengan instansi juga menyasar kepada perjudian, PSK, waria, dan pengemis. Selain juga tak luput adalah pengamen, gelandangan, premanisme, dan anak-anak nakal.

Untuk selain miras, polisi juga menyasar ke-91 kasus lainnya. Di antaranya ialah 5 kasus telah disidangkan terdiri dari 1 orang pengamen dan 4 orang penjual miras. Selain itu, untuk kasus yang telah dibina ada sebanyak 76 kasus.

Rincian dari 76 kasus itu di antaranya ialah 10 orang pengamen, 46 orang penjual miras, 8 orang peminum miras, 1 orang kenakalan remaja, 12 orang kasus prostitusi, dan 2 orang penjual petasan.

Sedangkan untuk 7 kasus kasus lainnya masih dalam proses. Di antaranya ialah 2 orang kasus perjudian, 1 orang mucikari, 2 orang PSK, dan 2 orang kasus narkoba.

Editor : Akrom Hazami