Kakek Tewas Gantung Diri di Rumah Kosong Karangasem Grobogan

Tim medis Puskesmas Wirosari dan inafis Polres Grobogan melakukan pemeriksaan pada pelaku gantung diri. (MuriaNewsCom/Dani Agus)iri

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa orang gantung diri terjadi di Dusun Sarip, Desa Karangasem, Kecamatan Wirosari, Grobogan, Jumat (28/7/2017). Seorang kakek berusia 72 bernama Ngadimin ditemukan gantung diri di rumah kosong milik anaknya usai Jumatan.

Informasi yang didapat menyebutkan, peristiwa gantung diri kali pertama diketahui oleh anak korban bernama Wagimin (43). Selepas salat Jumat, Wagimin tidak mendapati ayahnya di rumah. Namun, orang yang dicari tidak ditemukan.

Selanjutnya, ia mencoba mencari ke rumah adiknya yang sudah lama kosong. Saat mencari ke dalam salah satu kamar, Wagimin mendapati tubuh ayahnya tergantung di bawah belandar rumah dengan leher terjerat tali plastik.

Melihat kenyataan itu, Wagimin sontak kaget dan selanjutnya berteriak minta pertolongan warga. Mendengar teriakan tersebut, warga langsung berdatangan ke lokasi kejadian.

Saat diperiksa, masih terdapat denyut nadi pada tubuh korban. Selanjutnya, warga berupaya melarikan korban menuju puskesmas. Namun, ketika hendak dibawa untuk mendapatkan pertolongan, korban sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Selanjutnya, warga melaporkan kejadian itu pada perangkat desa dan diteruskan pada pihak kepolisian.

Plh Kapolsek Wirosari Iptu Eko Bambang menyatakan, saat petugas tiba di lokasi, posisi korban sudah diturunkan dan ditempatkan di meja ruang tamu. Setelah dilakukan pemeriksaan dari tim medis Puskesmas Wirosari dan inafis Polres Grobogan, tidak ditemukan tanda penganiayaan pada tubuh korban.

“Korban murni bunuh diri dan tidak ada bekas kekerasan yang ditemukan pada tubuh korban. Pihak keluarga sudah menerima dan jenazahnya sudah kita serahkan untuk dimakamkan,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Reaksi Balita Lihat Ibunya Gantung Diri Pakai Selendang Batik di Grobogan

MuriaNewsCom, Grobogan  – Peristiwa orang gantung diri lagi-lagi terjadi di Grobogan. Seorang ibu rumah tangga bernama Lestari (25), warga Dusun Krajan, Desa Pendem, Kecamatan Ngaringan, Grobogan nekat mengakhiri hidupnya dengan jalan gantung diri, Senin (22/5/2017).

Informasi yang didapat menyebutkan, peristiwa bunuh diri itu diketahui menjelang magrib. Ironisnya, orang yang pertama kali mengetahui kejadian itu adalah anak korban yang baru berusia 5 tahun.

Saat itu, anak korban yang hendak masuk rumah sontak kaget dan langsung berteriak histeris. Sebab, ia mendapati tubuh ibunya sudah tergantung di bawah belandar ruang tamu dengan leher terlilit selendang.

Warga sekitar yang mendengar teriakan tersebut berhamburan ke lokasi kejadian. Beberapa orang di antaranya kemudian mengecek kondisi korban yang diketahui masih bernafas.

Selanjutnya, korban diturunkan dari belandar rumah dan dilarikan ke Puskesmas Ngaringan. Namun, nyawa korban akhirnya tidak tertolong meski sempat mendapat perawatan medis.

Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Suwasana ketika dimintai komentarnya membernarkan adanya peristiwa gantung diri itu. Dari olah TKP dan pemeriksaan yang dilakukan, korban dinyatakan murni bunuh diri.

“Tidak ada tanda kekerasan. Korban gantung diri pakai selendang motif batik yang difungsikan sebagai tali. Untuk motif bunuh diri diduga faktor ekonomi,” jelasnya pada wartawan, Selasa (23/5/2017).

Editor : Akrom Hazami

Lihat Ayahnya Bunuh Diri, Ini Reaksi Sang Anak di Grobogan

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Grobogan – Untuk kesekian kalinya, peristiwa gantung diri terjadi di Grobogan. Peristiwa terbaru terjadi di Desa Kedungrejo, Kecamatan Purwodadi, Selasa (21/2/2017). Pelaku bunuh diri diketahui bernama Parjo, warga yang tinggal di Dusun Krajan.

Informasi yang didapat menyebutkan, tindakan bunuh diri yang dilakukan kakek 67 tahun itu dirasa cukup mengejutkan warga setempat. Pasalnya, sejak pagi hingga menjelang tengah hari, korban masih terlihat bekerja di sawah. Bahkan, saat pulang korban masih sempat mampir ke rumah salah satu anaknya yang berada tidak jauh dari sawahnya.

Peristiwa bunuh diri itu diketahui anak korban bernama Fitrianingsih (26), sekitar pukul 13.00 WIB. Ceritanya, saat itu anak korban yang hendak masuk dalam rumah sontak dibikin kaget. Sebab, ia melihat sosok ayahnya sudah terkulai lemas di bawah pasak rumah dengan leher terjerat tali plastik.

Melihat kejadian itu, ia langsung berteriak minta pertolongan warga. Tidak lama kemudian, warga bergegas berdatangan ke lokasi kejadian.

Beberapa warga sempat memeriksa kondisi korban dan diketahui sudah dalam kondisi tidak bernyawa. Selanjutnya, peristiwa itu langsung dilaporkan pada pihak kepolisian.

Kapolsek Purwodadi AKP Sugiyanto ketika dikonfirmasi membenarkan adanya informasi peristiwa bunuh diri tersebut. Adapun latar belakangnya, korban diduga putus asa karena mengidap berbagai penyakit yang tidak kunjung sembuh dalam beberapa tahun terakhir.

“Dari hasil pemeriksaan tidak ada tanda kekerasan. Korban murni bunuh diri. Dugaannya disebabkan sakit yang diderita selama ini,” katanya. 

Editor : Akrom Hazami

Bunuh Diri di Grobogan Marak Seperti di Korea Selatan

ILUSTRASI

ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Grobogan –  Kasus orang mati lantaran tindakan bunuh diri masih sering terjadi di Grobogan. Setiap tahun, peristiwa orang bunuh diri tidak pernah nihil. Dibandingkan daerah lain, kasus orang bunuh diri di Grobogan ini boleh dibilang termasuk cukup tinggi.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2016 memperlihatkan Korea Selatan menempati urutan pertama sebagai negara dengan kasus bunuh diri tertinggi.  Di dunia, 800.000 orang bunuh diri setiap tahun. Angka bunuh diri di Korsel yaitu 36,8 dari 100.000 penduduk. Di urutan kedua adalah Guyana dengan 34,8 dan Lituania 33,5. 

MuriaNewsCom menghimpun data, dari Kesra Pemkab Grobogan, dan kepolisian, tindakan orang bunuh diri itu menyebar di berbagai kecamatan. Adapun jumlah pelaku bunuh diri itu berkisar 20 sampai 30 kasus per tahun.

Dalam satu minggu terakhir di awal Februari ini, ada dua kasus bunuh diri. Dua kasus terjadi di Kecamatan Grobogan dan satunya di Kecamatan Tanggungharjo. Ada beberapa cara yang dilakukan pelaku bunuh diri tersebut. Ada yang memilih gantung diri, minum racun dan terjun ke sungai.

Mengenai motifnya juga beragam. Kebanyakan adalah soal ekonomi. Disusul penyebab lainnya masalah penyakit yang tidak kunjung sembuh, depresi dan soal-soal sepele. Seperti tidak dibelikan HP atau sepeda motor, hingga dilarang menikah dengan pujaan hati.

Ironisnya, pelaku bunuh diri ini tidak hanya melibatkan orang tua. Tetapi juga dilakukan remaja dan orang dewasa. Di antara pelaku ini ada pula yang mengenyam pendidikan tinggi dan punya banyak pengalaman organisasi.

“Kasus bunuh diri yang terjadi di Grobogan memang cukup banyak dan kondisi ini memang sangat memprihatinkan. Kami sedang mencari berbagai upaya untuk bisa menekan angka bunuh diri ini,” kata Kabag Kesra Pemkab Grobogan Moh Arifin.

Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah menggandeng berbagai elemen masyarakat untuk memberikan penyuluhan. Rencananya, organisasi Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) akan diajak untuk membahas masalah ini. Selain itu, pihak Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga akan digandeng.

Sejauh ini, pihaknya sudah menaruh perhatian terhadap masalah bunuh diri tersebut. Namun, untuk menekan kasus tersebut dinilai bukan pekerjaan mudah. Sebab, latar belakang kasus bunuh diri itu cukup kompleks. Sehingga perlu melibatkan berbagai komponen untuk bersama-sama menangani masalah bunuh diri itu.

“Selain dari pemkab, banyak elemen masyarakat termasuk LSM yang menaruh perhatian pada masalah ini. Sejauh ini, hasilnya memang sudah cukup baik meski belum bisa menghilangkan kasus bunuh diri secara keseluruhan,” imbuh mantan Camat Purwodadi itu.

Masih adanya warga yang nekat mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri juga mendapat perhatian dari Kepala Kantor Kemenag Grobogan Moh Arifin. “Adanya warga yang melakukan bunuh diri ini sangat memprihatinkan. Ini, menjadi persoalan yang butuh perhatian serius dari banyak pihak,” tegasnya.

Sejauh ini, latar belakang paling tinggi yang jadi penyebab orang bunuh diri adalah soal ekonomi. Namun, sebenarnya ada faktor lain yang mendorong orang nekat melakukan tindakan tersebut. Yakni, minimnya pemahaman masalah keagamaan.

Menurut Arifin, sejauh ini pihaknya sudah melakukan upaya untuk menekan angka bunuh diri. Salah satunya dengan menyiarkan ke masyarakat umum tentang ruginya melakukan bunuh diri. Seruan itu disampaikan melalui beragam kegiatan yang dilakukan kemenag ke berbagai elemen masyarakat.

“Satu-satunya jalan untuk menekan angka bunuh diri adalah pembinaan akidah bagi masyarakat. Jalur yang dilakukan bisa melalui pendidikan agama di sekolah atau madrasah dan pengajian yang bersifat umum. Ini sangat perlu dilakukan agar seseorang tidak membuang umurnya dengan sia-sia melalui tindakan bunuh diri,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

 

Anak Ini Antarkan Nasi Bungkus untuk Ibunya yang Sedang Bunuh Diri di Grobogan

gantung

Polisi dan warga melihat lokasi bunuh diri ibu rumah tangga, Wardiyem di Dusun Tegal, Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Grobogan, Kamis. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Kasus orang bunuh diri kembali terjadi di Grobogan, Kamis (26/1/2017). Pelakunya, seorang ibu rumah tangga bernama Wardiyem, warga Dusun Tegal, Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan. Perempuan 53 tahun itu ditemukan gantung diri di rumahnya sekitar pukul 07.00 WIB.

Informasi yang didapat menyebutkan, peristiwa bunuh diri itu diketahui oleh Sulasih (32), salah satu anak korban yang tinggal tidak jauh dari rumah korban. Saat itu, Sulasih bermaksud mengantar nasi bungkus ke rumah orang tuanya.

Saat sampai di rumah tersebut, pintu masih dalam keadaan tertutup. Semula, rumah diduga dalam kondisi kosong. Setelah diperiksa ternyata pintunya hanya tertutup saja tetapi tidak dikunci. Selanjutnya, Sulasih membuka pintu dan bermaksud mencari ibunya di dalam rumah.

Namun, begitu menginjakkan kaki dalam rumah, Sulasih langsung kaget bukan kepalang. Sebab, dia mendapati tubuh Wardiyem sudah tergantung di bawah blandar rumah dengan leher terjerat tali plastik warga biru.

Selanjutnya, Sulasih berteriak minta pertolongan warga sekitar. Tidak lama kemudian, warga berdatangan ke lokasi kejadian.

Saat dipegang, tubuh Wardiyem masih terasa hangat. Beberapa warga kemudian memotong tali sepanjang 3 meter yang menjerat leher dan menurunkan tubuh korban. Ketika diperiksa lebih lanjut, korban ternyata sudah dalam kondisi tidak bernyawa.

Kapolsek Kradenan AKP Toni Basuki ketika dikonfirmasi wartawan, membenarkan adanya info kejadian tersebut. Dari hasil pemeriksaan, tidak ditemukan tanda penganiayaan pada tubuh korban. Selanjutnya, jenazah korban diserahkan pada pihak keluarga untuk dimakamkan.

“Dari hasil pemeriksaan, korban murni bunuh diri. Penyebabnya diduga korban depresi dengan kondisi perekonomian yang dialaminya. Dari keterangan saksi, korban sering cerita tentang hidupnya yang miskin tidak seperti orang lain,” ungkap Toni.

Editor : Akrom Hazami

Ibu Bunuh Diri Cebur Sumur di Gulang Kudus

Polisi mendatagi lokasi bunuh diri menceburkan diri ke sumur di Desa Gulang, Mejobo, Kudus. (Tribratanewskudus)

Polisi mendatagi lokasi bunuh diri menceburkan diri ke sumur di Desa Gulang, Mejobo, Kudus. (Tribratanewskudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Seorang ibu Yasmi (46), warga Desa Gulang RT 06 RW 04,  Mejobo, Kabupaten Kudus, diduga nekat menceburkan diri ke sumur rumahnya, Senin (5/12/2016).

Pelaku diduga bunuh diri itu tewas dan ditemukan sudah dalam keadaan mengambang di sumur yang berkedalaman sekitar 2 meter.

Kapolsek Mejobo AKP Suharyanto mengatakan, kronologinya adalah Akhmad Ridwan B Mursid yang merupakan anak kandung pelaku tiba-tiba datang saat mendengar teriakan pamannya Sutrisno dari rumahnya.

Teriakan itu muncul saat Sutrisno melihat tubuh pelaku sudah mengambang di sumur. Warga dan polisi bersatu mengangkat tubuh pelaku ke permukaan sumur. “Akhirnya jenazah dibawa ke Puskesmas Jepang,” kata Suharyanto dikutip dari situs resmi Polres Kudus.

Dari pemeriksaan luar tubuh korban oleh Dokter dari Puskesmas Jepang dr Imam Purwanto menyatakan, medis tidak menemukan luka di tubuh pelaku bunuh diri itu. “Tidak diketemukan bekas luka di tubuhnya,” kata Imam.

Selanjutnya jenazah dikembalikan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan karena pihak keluarga sudah menerima kejadian ini sebagai musibah dan menolak dilaksanakannya autopsi. Dugaan pelaku bunuh diri karena frustasi penyakit yang diderita yaitu batu empedu selama 2 tahun tidak sembuh.

Editor : Akrom Hazami

Bocah Polos Kaget Lihat Neneknya Gantung Diri di Jepara

Polisi memeriksa kondisi lokasi kejadian nenek tewas bunuh diri di Desa Banyumanis, Kecamatan Donorojo, Jepara. (Tribratanewsjepara)

Polisi memeriksa kondisi lokasi kejadian nenek tewas bunuh diri di Desa Banyumanis, Kecamatan Donorojo, Jepara. (Tribratanewsjepara)

MuriaNewsCom, Jepara – Polsek Kembang Jepara mendatangi lokasi orang meninggal dunia karena gantung diri di Desa Banyumanis, Kecamatan Donorojo, setelah mendapat laporan dari warga.

Korban bernama Turipah (65) warga Rt 05 Rw 8, Dukuh Jerukrejo Ngrancah, Desa Banyumanis, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, diketahui meninggal dunia dengan cara gantung diri di blandar rumah korban.

Kapolres Jepara AKBP M Samsu Arifin melalui Kapolsek Donorojo Iptu Kusnadi menjelaskan, sekitar pukul 05.25 WIB di Desa Banyumanis telah terjadi orang meninggal dunia karena gantung diri.

Asal mula kejadian sekitar pukul 05.25 WIB,  bocah yang juga cucu pelaku Ardi Wijayanto (12) ke belakang rumah untuk mengambil pakaian sekolah di jemuran belakang. Sesampainya di belakang melihat pelaku sudah dalam keadaan tergantung, kemudian berteriak minta tolong dan selanjutnya anak pelaku, Gunawan (46) dan Sri Mulyati (38) melihat k ebelakang.

Setelah sampai di belakang kemudian saksi berusaha menurunkan pelaku namun tali yang mengait di kayu blandar tidak dapat dilepas oleh Gunawan sehingga tali tersebut dipotong oleh Sri Mulyati.

Dari keterangan pihak keluarga, pelaku selama ini sering mengeluh sakit setelah melaksanakan operasi mata, yang tidak kunjung sembuh. Pelaku juga sering mengeluh kepada anaknya lebih baik mati saja dari pada sakit tidak sembuh.

Hasil pemeriksaan medis oleh bidan Desa Banyumanis, Noor Afni Rosita bahwa pelaku murni bunuh diri dan tidak ditemukan tanda tanda kekerasan pada tubuhnya.

Atas peristiwa tersebut, keluarga  menerima atas musibah tersebut dengan membuat surat pernyataan penolakan autopsi yang ditandatangani oleh anak. Selanjutnya jenazah n diserahkan kepada pihak keluarga dengan dibuatkan berita acara untuk dimakamkan.

Editor : Akrom Hazami