Gara-gara Utang, Pembunuhan Keji Terjadi di Bandungan Semarang

Kapolres Semarang, AKBP V Thirdy Hadmiarso dan Kadiv Humas Polda Kombes Pol Djarod Padakova saat mengintograsi pelaku pembunuhan. (Tribunnewspoldajateng)

MuriaNewsCom, Ungaran – Pembunuhan yang terjadi di kawasan Bandungan, Kabupaten Semarang, terungkap sudah.  Yakni pembunuhan terhadap Mustaqim (30), warga Desa/Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang.

Adapun pelaku yang berhasil ditangkap adalah Listiawan alias Iwan (27) warga Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang dan Muhammad Abdul Kholiq (24) warga Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Boyolali.

Keterangan Iwan kepada wartawan di Mapolres Semarang, Selasa (22/8/2017), korban Mustaqim saat itu meminjam sepeda motor milik Kholiq untuk digadaikan dengan mengatasnamakan Iwan. Seusai itu, setiap kali Iwan tanya apakah sepeda motor sudah ditebus atau belum. Korban selalu menjawab belum.

Iwan dan Kholiq pun akhirnya kesal dengan korban. Tak ada solusi lain bagi keduanya, selain menghabisi nyawa Mustaqim. “Sudah menolongnya, tapi tidak segera diupayakan untuk mengembalikan,” ujar Iwan.

Modus tersangka merencanakan melakukan pembunuhan terhadap korban, dengan mempersiapkan pisau dapur. Mereka membeli pisau di salah satu minimarket di Blotongan Salatiga. Keduanya bertemu korban di sekitar Bendungan Karanglo, Desa Bringin, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang.

Khloiq memukul kepala korban dengan menggunakan cor-coran batu dari arah belakang kepala korban. Iwan menusuk korban dengan pisau dapur sebanyak 14 kali di dada korban. Korban pun meninggal dunia. Para tersangka yang masih kesetanan itu membuang korban di tempat kejadian perkara. Sebelumnya, kedua pelaku mengambil uang di dompet korban sebanyak Rp 250 ribu, dan mengambil ponsel milik korban. Mereka juga melarikan sepeda motor korban Suzuki FU nomor polisi H 4064 VI. Sepeda motor itu lantas dijual di wilayah Boyolali.

Kadiv Humas Polda Jateng Kombes Pol R Djarod Padakova mengatakan, pelaku melarikan diri ke Bekasi Jawa Barat. “Tersangka akan dituntut dengan hukuman seumur hidup sesuai dengan Pasal 340 KHUP subsider 338 /170,” kata Djarod.

 

Editor : Akrom Hazami

Kasus Pembunuhan di Grobogan Ini Butuh 7 Tahun untuk Ungkap Motifnya

 

Pelaku pembunuhan Suwarto (pakai peci) saat memperagakan adegan terjadinya peristiwa sadih tujuh tahun lalu yang dilakukan terhadap tetangganya sendiri. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Pelaku pembunuhan Suwarto (pakai peci) saat memperagakan adegan terjadinya peristiwa sadih tujuh tahun lalu yang dilakukan terhadap tetangganya sendiri. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Untuk melengkapi berkas pemeriksaan, satuan Reserse Kriminal Polres Grobogan menggelar rekonstruksi kasus pembunuhan di Dusun Geneng, RT 4 RW 6, Desa Karanganyar, Kecamatan Geyer, Grobogan, Kamis (12/1/2017).

Dalam rekonstruksi ini, pelaku bernama Suwarto (31) diminta memperagakan delapan adegan. Mulai dari aktivitas menenggak miras di pos kamling sampai membunuh korbannya, menggunakan sebilah parang. Korban pembunuhan ini bernama Slamet (33) yang masih tetangga pelaku.

Pelaksanaan rekonstruksi lokasinya tidak dilakukan di tempat kejadian guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Tempatnya dipindahkan di Kampung Sambak, Kelurahan Danyang, Kecamatan Purwodadi.

Kasus pembunuhan sadis itu terjadi pada minggu kedua bulan Agustus tahun 2009 lalu. Pelaksanaan rekonstruksi baru bisa dilakukan sekarang lantaran pelaku pembunuhan baru berhasil diringkus awal Desember 2016 lalu. Pelaku berhasil ditangkap di tempat persembunyian terakhirnya di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

Dalam rekonstruksi terungkap latar belakang terjadinya pembunuhan sadis itu. Penyebabnya, ternyata hanya masalah sepele.

Pelaku merasa tersinggung saat ditegur korban terkait tindakannya memecah botol minuman di depan rumah korban. Korban menegur pelaku karena khawatir pecahan kaca akan terinjak anak-anak kecil yang sering bermain di depan rumahnya.

Nasihat itu justru membuat pelaku naik pitam dan mengancam akan membunuh korban. Tidak lama kemudian, pelaku pulang ke rumah untuk mengambil parang dan membacok korban hingga meninggal.

Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Eko Adi Pramono mengatakan, pelaksanaan rekonstruksi sengaja digelar di luar lokasi pembunuhan untuk menghindari adanya gangguan dari masyarakat selama proses. Rekonstruksi diperlukan untuk melengkapi berkas perkara.

“Rekonstruksi ini bagian dari penyidikan untuk membuat kasus menjadi jelas. Selama proses rekonstruksi tidak ada hambatan,” katanya pada wartawan.

Menurut Eko, proses penangkapan pelaku memang memakan waktu lama. Soalnya, pelaku selalu bersembunyi dan berpindah-pindah tempat pelarian.

“Tidak lama selakukan pembunuhan, pelaku langsung melarikan diri hingga sampai ke Kalimantan. Kami sempat kesulitan melacak pelaku. Tapi berkat informasi dari masyarakat, pelaku akhirnya bisa kita tangkap,” imbuhnya. 

Editor : Akrom Hazami

IbuTewas di Kamar Kos di Krandon Kudus

Kapolsek Kota AKP Rahmawati Tumulo saat berada di lokasi penemuan mayat perempuan di Krandon, Kecamatan Kota, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kapolsek Kota AKP Rahmawati Tumulo saat berada di lokasi penemuan mayat perempuan di Krandon, Kecamatan Kota, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Seorang ibu bernama Siti Romliah (55), warga Wergu Wetan RT 01 RW 05, Kecamatan Kota, Kudus, ditemukan tewas, Jumat (25/11/2016). Korban ditemukan meninggal dunia di rumah kos di Desa Krandon RT 01 RW 03, Kecamatan Kota.

Dari info yang dihimpun, mayat korban ditemukan oleh warga sekitar pukul 08.30 WIB. Kemudian, warga melaporkan ke Polsek Kota. Kapolsek Kota AKP Rahmawati Tumulo mengatakan polisi memperkirakan korban telah meninggal dunia sekitar pukul 01.30 WIB dini hari atau delapan jam sebelum waktu ditemukan.

“Tidak ada luka dari tubuhnya, jadi kami menghubungi dokter Puskesmas Purwosari dan dilaksanakan pemeriksaan oleh Dr. Siti Nurhayati , namun memang tidak ditemukan tanda kekerasan,” katanya kepada MuriaNewsCom

Polisi dan warga segera melarikan korban ke Puskesmas Purwosari guna dilakukan pemeriksaan. Setelah pemeriksaan dilakukan, petugas medis Puskesmas Purwosari dr Siti Nurhayati menuturkan, pihaknya tidak menemukan adanya tanda penganiayaan. Pihak medis menemukan adanya lebam pada tubuh korban.

Kabar tersebut langsung cepat tersebar di daerah perkotaan. Seperti halnya Aziz, warga Kota yang penasaran akan kabar ditemukannya mayat di daerah Krandon Kota. Dia ingin tahu, siapakah yang meninggal itu. “Tidak tahu kalau ternyata warga Kudus sendiri. Saya kira yang meninggal dunia di kos adalah warga luar Kudus,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

Polisi Terus Dalami Kasus Pembunuhan Debt Collector di Jepara

ilustrasi

ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Polres Jepara terus mendalami kasus pembunuhan debtcollector atau tukang tagih utang Andalan Semarang, Andik Yulianto (26), warga Desa Bulungan RT 08/01, Kecamatan Pakis Aji, Jepara.

Sementara rekannya, Muhammad Ridwan (25) warga Desa Ngasem RT 16/02, Kecamatan Batealit, Jepara, masih menjalani perawatan intensif di RSUD Kartini.

Kapolres Jepara AKBP Samsu Arifin melalui Kasatreskrim Polres Jepara AKP Suwasana sebelumnya menyampaikan, polisi telah memeriksa tiga orang saksi. Yakni Sobirin (49), Toso (48), dan Nor Rokib. Ketiganya warga Desa Bantrung.

Insiden berdarah terjadi Minggu (20/11/2016) sore. Keterangan korban selamat, Ridwan, pukul 13.00 WIB-16.00 WIB, dia dan korban melihat pertunjukan dangdut OT Romansa di Desa Langon, Kecamatan Tahunan, Jepara.

Selesai melihat dangdut korban mengajak Ridwan ke rumah temannya, Maskan di Desa Ngasem, Batealit, Jepara, untuk mengambil tas kerja miliknya. Selanjutnya korban mengajak Ridwan ke Bantrung, Batealit untuk menagih utang. Kedua korban berboncengan dengan mengendarai SPM Honda Vario 125 warna putih K-5868-YQ.

Sesampainya di Jalan Raya Desa Bantrung, korban menyalip rombongan pelaku yang saat itu menggunakan dua sepeda motor merek Yamaha Vega warna merah dan Honda Revo. Salah satu pelaku berboncengan dengan perempuan, selanjutnya rombongan pelaku menyalip korban kembali.

Kemudian rombongan memepet dan menendang motor korban sampai jatuh. Para pelaku kemudian mengeroyok korban. Diketahui salah satu pelaku membawa senjata tajam, dan dua pelaku lainnya membawa kayu untuk memukuli korban. Sampai kedua korban jatuh tersungkur. Para pelaku meninggalkan korban menuju ke arah Desa Kecapi, Tahunan. Kedua korban saat itu sudah dalam kondisi tak berdaya.

Saksi Sobirin mengatakan saat kejadian sekitar pukul 16.30 WIB. Dia sedang berada di depan rumahnya, kemudian melihat seperti kecelakaaan lalu lintas. Saat dilihat dari dekat ternyata telah terjadi pengeroyokan.

Salah satu pelaku dengan ciri-ciri laki- laki bertubuh besar rambut gondrong, memakai kaos warna gelap membawa sebilah pisau, dan kedua pelaku laki-laki lainnya masih remaja membawa kayu untuk memukuli kedua korban.

Sedangkan perempuan dengan ciri- ciri memakai jaket levis yang ikut para pelaku duduk di atas sepeda motor. Karena diketahui pelaku ada yang membawa sajam saksi tidak berani melerai dan hanya bisa melihat kejadian tersebut sekitar 10 menit.

Selanjutnya saksi membawa kedua korban ke RSUD Kartini Jepara dengan menggunakan sepeda motor roda tiga.  Setelah sampai di RSUD Kartini, satu korban diketahui meninggal dunia.

Sementara itu, hasil dari pemeriksaan dan otopsi yang dilakukan oleh Kepala Sub Bidang Kedokteran Kepolisian (Dokpol) Bidang Kedokteran Kesehatan (Dokkes) Polda Jawa Tengah, AKBP Sumy Hastry Purwanti di RSUD Kartini Jepara menyampaikan, korban Andik Yulianto mengalami luka tusukan di bagian rusuk bagian belakang sebelah kiri.

Luka sobek juga terdapat di telapak tangan sebelah kanan serta belakang telinga sebelah kiri. Serta ada luka ringan dibeberapa bagaian tubuh lainnya. ” Hasil pemeriksaan dugaan kuat korban meninggal dikarenakan adanya luka tusuk ditubuhnya dengan kedalaman sekitar 13 cm,” terang Sumy.

Editor : Akrom Hazami