Warga Kudus Ini Syok Lihat Mayat Tergantung di Pintu Kamar Kosnya

Polisi dan warga tengah mengevakuasi mayat yang tergantung di pintu kamar kos di Desa Dersalam, Kecamatan Bae, Kudus. (Foto : Polsek Bae)

MuriaNewsCom, Kudus – Penghuni rumah kos milik Ngadiran (47) di Desa Dersalam RT 04 RW 01, Gang 9, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, dibuat syok setelah mendobrak kamar yang dihuni Johan Rudianto (23), Selasa (22/8/2017) dini hari tadi.

Bagaimana tidak, setelah pintu didobrak, pemilik dan penghuni kos mendapati Johan sudah tak bernyawa dengan kondisi tergantung di pintu. Johan yang merupakan warga Desa Banyutowo, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati, itu ditemukan meninggal dunia dengan tubuh sudah kaku.

Sebelumnya mereka memang sudah memperkirakan ada sesuatu yang terjadi dengan Johan, namun tak menyangka jika pemuda itu gantung diri. Awalnya penghuni kos lain merasa curiga lantaran sejak Senin (21/8/2017) pagi Johan tak kelihatan, sementara kamar dalam posisi terkunci.

Dari kecurigaan itu, akhirnya penghuni kos dan warga melapor ke polisi. Setelah polisi dan pemilik kos datang, pintu kamar Johan akhirnya dibuka dengan cara didobrak. Dari sinilah diketahui jika Johan sudah meninggal dunia.

“Diduga sudah meninggal pagi sebelum atau malamnya. Karena saat petugas datang, kondisi mayat sudah dalam keadaan kaku,” kata Kapolsek Bae AKP Sardi, saat dihubungi MuriaNewsCom.

Menurutnya, saaat ditemukan tubuh korban tergantung dengan tali warna hijau terikat di lehernya. Mayat Johan pun sudah dilakukan pemeriksaan oleh dr Dewi Aprilia, tim medis dari Puskesmas Dersalam.

Dari hasil pemeriksaan diindakasi Johan meninggal dunia karena bunuh diri. Karena di tubuh korban tidak ditemukan adanya tanda-tanda penganiayaan.

Editor : Ali Muntoha

Diduga Frustasi Sakit Tak Kunjung Sembuh, Seorang Kakek di Blora Nekat Gantung Diri

Ilustrasi

MuriaNewsCom,Blora – Seorang kakek bernama Rahman (80), warga Dukuh Patinan RT 1 RW 5, Kelurahan Jepon, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri, pada Minggu (16/4/17).

Pelaku bunuh diri tersebut, ditemukan pertama kali oleh istinya yaitu Sarmi (75). Ketika itu, Sarmi sedang menghitung persediaan air di dalam jeriken yang terdapat di dapur rumah sekitar pukul 05.30 WIB.

Ketika itu, Sarmi melihat kaki suaminya dalam posisi membungkuk, dan kemudian dirinya memanggil suaminya. Namun, begitu taka da jawaban dari kakek tersebut. Karena tidak ada jawaban, kemudian Sarmi berdiri mendekati korban. Alangkah terkejutnya, karena suaminya sudah tergantung dengna seutas tali plastik warna biru.

Mendapati suaminya telah gantung diri, Sarmi kemudian berteriak meminta tolong kepada tetangga. Tak ayal, tetangga yang mendengar teriakan Sarmi langsung berhamburan. “Setelah saya mendengar teriakan Mbah Sarmi, saya bersama tetangga yang lain langsung ke sini,” ujarnya.

Warga kemudian melaporkan kejadian ini ke Mapolsek Jepon. Mendapatkan laporan tersebut, petugas kepolisian bersama tim Medis Puskesman Jepon langsung datang ke lokasi kejadian untuk memeriksa korban.

Dari lokasi kejadian, disita tali yang dipergunakan untuk gantung diri.”Setelah mendapat laporan, kami langsung menuju lokasi untuk memeriksa pelaku,” jelas Kapolsek Jepon  AKP Sutarjo, seperti dikutip dari laman polresblora.com.

Dari hasil pemeriksaan, tidak ditemukan adanya tanda-tanda penganiayaan. “Karena tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan, jenazah kami serahkan kepada keluarga untuk segera dimakamkan. Dugaan sementara, pelaku nekat mengakhiri hidupnya karena frustasi menderita sakit selama bertahun-tahun,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Dengan Mudahnya Remaja Membunuh, Salah Siapa?

Ali Muntoha
muntohafadhil@gmail.com

PUBLIK  di Kudus dibuat terperanjat dengan kasus penemuan mayat yang sudah membusuk di ladang tebu di Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kudus, beberapa waktu lalu. Kasus ini sudah terungkap, dan ternyata mayat itu merupakan korban pembunuhan.

Dari hasil penyelidikan yang dilakukan polisi diketahui jika pemuda bernama Yusrul Hana itu dibunuh dengan cara keji. Korban dikeroyok, dibantai dan dibacok oleh beberapa orang. Bukan penemuan mayatnya yang membuat orang-orang mengernyitkan dahi, melainkan orang yang membunuh pemuda ini.

Polisi yang melakukan pendalaman kasus ini menemukan pelakunya merupakan lima orang anak-anak baru gede (ABG) yang masih bau kencur. Dan ini yang membuat orang jadi berpikir sangat keras, yakni motif yang melatarbelakangi para bocah bau kencur ini membunuh orang yang lebih tua dari mereka.

Motifnya adalah asmara. Salah satu pelaku yang umurnya baru 17 tahun cemburu dan merasa tak terima pacarnya diganggu oleh korban. Pelaku kemudian mengajak empat kawannya yang juga berusia belasan tahun untuk menghajar korban secara membabi buta. Mungkin awalnya kawanan bocah ini hanya ingin memberi pelajaran pada korban, namun pelajaran yang diberikan kebablasan, dan mereka terlalu kalap hingga akhirnya korban dibantai hingga kehilangan nyawa.

Kenekatan bocah-bocah bau kencur ini sampai bisa membunuh orang memang membuat orang terhenyak. Di masa umur mereka yang seharusnya digunakan untuk menggali ilmu, justru disalahgunakan, sehingga mereka harus menjalani kehidupan di sel tahanan penjara.

Kenekatan bocah-bocah ini tak lepas dari pergaulan mereka, dan dampak dari perkembangan teknologi informasi. Bocah-bocah pada masa sekarang, sudah sejak kecil dicekoki dengan berbagai macam informasi yang tak terkontrol.

Televisi menjadi sumber utama, dan belakangan media sosial yang ikut memberi andil sangat kuat terhadap perkembangan watak generasi muda.

Kisah percintaan anak-anak belia yang semakin salah kaprah ini juga dampak dari dua media tersebut. Sinetron, film, dan dan media sosial sering mempertontonkan cerita-cerita percintaan, yang kemudian diadaptasi secara mentah-mentah oleh bocah-bocah kita. Mereka semakin berani mengumbar kemesraan di muka umum, padahal umur mereka tak habis jika dihitung dengan seluruh jari yang ada di tubuh manusia.

Bahkan yang sangat miris, di kalangan anak muda saat ini muncul stigma jika “jomblo” itu sebuah kutukan yang harus dihindari. Sehingga mereka berlomba-lomba mencari pacar, kekasih, dan ujungnya juga berbuat hal-hal yang tak senonoh, maksiat dan segalanya.

Di sekolah-sekolah juga muncul geng-geng, yang mengikuti perkembangan saat ini, istilah mereka “kekinian”. Ini juga mengadaptasi dari massifnya gempuran budaya pop yang disajikan sinetron-sinetron, seperti sinetron “Anak Jalanan”.

Semakin liarnya pergaulan anak muda ini yang menjadikan mereka tak segan-segan melakukan tindakan di luar nalar, bahkan tindakan keji seperti membunuh. Terlebih tidak sedikit dari bocah-bocah ini yang mulai ketagihan dengan minuman keras, sehingga membutakan akal sehat.

Fenomena seperti ini bukan terjadi belakangan ini saja, tapi sudah sangat menahun. Dan kejadian seperti ini juga bukan kali ini saja terjadi. Bahkan intensitasnya bukan menurun, justru semakin banyak setiap tahunnya.

Tak ada yang bisa disalahkan memang, karena jika dirunut banyak faktor yang menyebabkan kenakalan remaja semakin menjadi seperti ini. Yang harus dilakukan saat ini dan terus ke depan, yakni dengan semakin meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak kita.

Yang terpenting yakni dari sisi keluarga dan sekolah. Orang tua harus semakin peka dengan perkembangan emosional anak dan pergaulannya. Pihak sekolah juga harus terus berupaya memberikan pendampingan dan pengawasan terhadap murid-muridnya.

Terlebih waktu anak paling banyak terdapat di sekolah dan di lingkungan pergaulan. Jika melihat kondisi seperti ini, wacana one day school layak untuk dicermati kembali. Kebijakan sekolah sehari penuh itu, dengan melihat kondisi saat ini, setidaknya bisa menjadi salah satu solusi untuk menekan kenakalan remaja.

Waktu anak akan dihabiskan untuk belajar dan mendapat pendampingan oleh guru di sekolah. Sehingga waktu bagi mereka untuk keluyuran dan lainnya akan semakin sedikit. Meski demikian, konsepnya harus dibuat lebih ramah dengan anak, sehingga nantinya tidak ada kejenuhan, dan efek lainnya. (*)

Memprihatinkan, Sepekan Ada 2 Orang di Grobogan Nekat Gantung Diri

Ilustrasi

Ilustrasi

MuriaNewsCom,Grobogan – Kasus orang bunuh diri di Grobogan tampaknya perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Hal ini terkait banyaknya pelaku bunuh diri akhir-akhir ini. Dalam pekan ini saja, sudah ada dua kasus bunuh diri yang terjadi pada waktu dan lokasi berbeda.

Kasus bunuh diri pertama terjadi terjadi di Desa Rejosari, Kecamatan Grobogan, Jumat (3/2/3017) sekitar pukul 10.00 WIB. Pelaku bunuh diri diketahui bernama Ngatmin (57), warga setempat.

Korban ditemukan gantung diri di ruang tamunya sendiri menggunakan tambang plastik yang dikaitkan dengan pasak rumah yang terbuat dari cor. Peristiwa itu selanjunya dilaporkan warga pada perangkat desa dan diteruskan ke pihak kepolisian.

Kapolsek Grobogan AKP Sucipto menyatakan, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan petugas, tidak ditemukan tanda pemeriksaan. Berdasarkan kondisi fisik, pelaku dinyatakan murni meninggal karena gantung diri.

“Korban murni bunuh diri dari hasil pemeriksaan tim medis. Jenazah sudah kita serahkan pada keluarga untuk dimakamkan,” katanya.

Dua hari sebelumnya, Rabu (1/2/2017), peristiwa orang bunuh diri juga terjadi di Desa Tanggungharjo, Kecamatan Tanggungharjo. Pelakunya diketahui bernama Kasbi (64), warga setempat. Pelaku diketahui gantung diri di pintu dapur rumahnya sekitar pukul 11.00 WIB.

Editor : Kholistiono

Sebelum Bunuh Diri di Kamar Mandi Masjid, Ternyata Remaja Ini Sempat…..

Masjid Nurul Huda Desa Ngeluk Grobogan. Di dalam kamar mandi masjid ini seorang remaja nekat bunuh diri. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Masjid Nurul Huda Desa Ngeluk Grobogan. Di dalam kamar mandi masjid ini seorang remaja nekat bunuh diri. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Setelah dilakukan pemeriksaan di RSUD Purwodadi, jenazah Dendi Saputra selanjutnya diserahkan pada keluarganya. Kemudian, pada Senin (26/12/2016) jenazah remaja 17 tahun itu dikebumikan di pemakaman Desa Penawangan, Kecamatan Penawangan.

Sebelum nekat mengakhiri hidupnya, remaja yang hanya tamat SD itu sempat tersandung masalah. Yakni, melakukan tindak pencurian HP di Desa Wolo, Kecamatan Penawangan beberapa hari sebelumnya.

Namun, HP yang harganya sekitar Rp 1 juta itu sudah dikembalikan pada pemiliknya. Kemudian, pemilik HP juga sudah memaafkan perbuatan itu lantaran sebelumnya sudah mengenalnya.

Kasus tersebut juga sudah diselesaikan dengan disaksikan pihak Polsek Penawangan. Meski tidak diproses lebih lanjut karena masih di bawah umur, pelaku sempat dikenakan wajib lapor di Polsek.

“Kasus yang dilakukan pelaku sudah kita diselesaikan. Namun, pelaku kita minta wajib lapor sebagai bagian dari pembinaan,” kata Kapolsek Penawangan AKP Wakijo.

Sementara itu, Kepala Desa Penawangan Tri Joko Purnomo menambahkan, sebelum meninggal bunuh diri, warganya tersebut sudah sempat membersihkan rumahnya. Saat ditanya ibunya, ia menjawab kalau rumahnya sengaja dibersihkan karena kemungkinan akan banyak tamu datang.

Menurut Joko, selama ini, Dendi yang berasal dari keluarga kurang mampu itu belum pernah terlibat masalah. Meski usianya baru 17 tahun, namun anak kedua dari tiga bersaudara itu sudah punya banyak pengalaman hidup. Remaja itu sudah pernah merantau jadi pekerja bangunan di Papua, Kalimantan dan Padang.

Dikatakan, sehari sebelum ditemukan bunuh diri di kamar mandi Masjid Nurul Huda Desa Ngeluk, Kecamatan Penawangan, ia sempat ngobrol cukup lama dengan Dendi di rumahnya. Saat itu, dia bahkan bermaksud meminta Dendi untuk membantunya bekerja menanam bawang merah.

“Saat di rumah, saya nasehati banyak hal pada anak itu. Makanya, saya kaget sekali ketika dapat kabar kalau yang bersangkutan bunuh diri,” katanya.

Baca juga : Kamar Mandi Masjid Ini Dipilih Remaja 17 Tahun Jadi Tempat Diduga Bunuh Diri

Editor : Kholistiono

Sebelum Bunuh Diri, Ibu Paruh Baya di Sarirejo Pati Ini Tulis Surat Wasiat, Begini Isinya

 Petugas kepolisian datang ke lokasi untuk mengamankan tempat kejadian perkara di rumah korban, Desa Sarirejo, Kecamatan Pati, Selasa (20/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petugas kepolisian datang ke lokasi untuk mengamankan tempat kejadian perkara di rumah korban, Desa Sarirejo, Kecamatan Pati, Selasa (20/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang ibu berusia sekitar 54 tahun, Retno Nawang Sari yang merupakan warga Desa Sarirejo RT 5 RW 2, Kecamatan Pati, ditemukan meninggal dunia dalam keadaan gantung diri di rumahnya, Selasa (20/12/2016) pagi.

Eko Suwarno, suami pelaku saat memberikan keterangan kepada polisi mengatakan, dirinya bangun pada pukul 06.30 WIB dan mengeluarkan anjing piaraannya. Setelah itu, dia masuk untuk membangunkan istrinya.

Namun, istrinya ternyata sudah tidak berada di atas tempat tidur. Eko langsung mencari keberadaan istri dan menemukannya berada di bawah jendela kamar dalam posisi tergantung tali yang mengikat leher.

“Setelah pelaku ditemukan, suami memanggil tetangga dan melaporkannya kepada polisi. Petugas langsung mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) untuk mengamankan TKP, menghubungi tim medis, menurunkan korban dari jeratan tali yang tergantung di teralis jendela, mencatat para saksi, dan mendampingi tim medis untuk melakukan pemeriksaan jenazah,” ujar Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo.

Di sebuah meja rias, suami menemukan wasiat yang tertulis pada selembar kertas. Bunyi wasiat tersebut, “Aku titip anak-anak ibu.” Pihak keluarga sudah menerima kepergian korban. Jenazah langsung dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) setempat, setelah dilakukan autopsi.

Editor : Kholistiono

Pesan Aneh Pelaku Bunuh Diri yang Bikin Merinding di Jepara

Kondisi pelaku bunuh diri tak lama setelah beraksi di pos kamling di Jepara. (Tribratanewsjepara)

Kondisi pelaku bunuh diri tak lama setelah beraksi di pos kamling di Jepara. (Tribratanewsjepara)

MuriaNewsCom, Jepara – Kakek Joyo Legimin (77) warga Desa Cepogo, RT 05/RW 10, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, tewas dengan gantung diri di pos kamling tak jauh dari rumahnya, Selasa (18/10/2016) pagi.

Dari informasi yang dikutip dari Tribratanewsjepara.com, pada Senin (17/10/2016) pukul 17.30 WIB, pelaku bunuh diri itu pamit dengan keponakannya, Purwati. Kepada Purwati, pelaku menyampaikan pesannya yang bikin merinding.

“Nak, ini uang Rp. 100.000,00 (seratus ribu rupiah) tolong dibawa, nanti kalau saya mati bisa digunakan, kata Kapolsek Kembang AKP Budi Wiyono menirukan keterangan Purwati saat dimintai keterangan polisi.

Kemudian, pelaku juga mengatakan kepada keponakannya yang lain, Nurudin.  Pesannya adalah, apabila  meninggal, supaya Nurudin yang memikulnya. Mendapatkan pesan yang aneh, semua keluarga curiga pelaku akan melakukan sesuatu dan malam hari semua anggota keluarga menjaga korban di rumah.

Namun saat Azan Subuh, pelaku pamit akan melaksanakan salat berjamaah di musala. Keluarga mengizinkannya. Tapi setelah salat, pelaku tak juga kembali ke rumah. Keluarga pun curiga. Ternyata, pelaku meninggal dunia dengan cara gantung diri di pos kamling yang ada di dekat rumah.

Selanjutnya, dibantu warga sekitar, pelaku diturunkan dan dibawa ke rumah duka. Korban gantung diri menggunakan tali nilon warna kuning dengan panjang 1,7 meter, berdiameter 0,5 cm dan handuk warna putih.

Polisi tiba di lokasi usai mendapatkan laporan warga setempat. Atas peristiwa tersebut, keluarga korban menerimakan atas musibah tersebut dengan membuat surat pernyataan penolakan autopsi yang ditandatangani oleh keluarga korban. Selanjutnya jenazah korban diserahkan kepada pihak keluarga dengan dibuatkan berita acara untuk dimakamkan.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :

Kakek Gantung Diri di Pos Kamling di Jepara

Ibu Bunuh Diri di Undaan, Kapolsek : Ini Baru Pertama

Polisi memperlihatkan obat serangga yang ditenggak seorang ibu, di Undaan, Kudus. (Tribratanewskudus)

Polisi memperlihatkan obat serangga yang ditenggak seorang ibu, di Undaan, Kudus. (Tribratanewskudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Guna mengantisipasi adanya kejadian bunuh diri lagi, Polsek Undaan melakukan program pembinaan. Hal itu menjadi langkah, guna mengantisipasi adanya hal yang serupa.

Kapolsek Undaan AKP Suparji mengatakan, melihat adanya korban, maka progam pembinaan nantinya akan ditingkatkan. Seperti, polisi melakukan komunikasi dengan pihak-pihak terkait.

“Ini merupakan kasus pertama yang melakukan bunuh diri dengan minum racun. Bahkan dalam setahun baru kali pertama ada  kejadian,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Pembinaan juga diharapkan dapat dilakukan oleh tokoh agama dan juga tokoh masyarakat. Dengan demikian maka warga dapat sadar kalau bunuh diri bukanlah hal yang baik.

Dia menambahkan, kejadian tersebut sebenarnya tidak perlu terjadi. Sebab semua masalah dapat diselesaikan meskipun sangat berat. Selain itu, bunuh diri juga hanya menambah masalah.

“Kalau ada yang mencurigakan dapat segera lapor ke polsek setempat. Kami pastikan akan menindaklanjuti laporan dari masyarakat sekecil apapun laporan tersebut,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Ibu Bunuh Diri di Depan  Mata Anaknya di Undaan Kudus

Polisi menunjukkan obat serangga yang ditenggak pelaku di Undaan Kudus. (Tribratanewskudus)

Polisi menunjukkan obat serangga yang ditenggak pelaku di Undaan Kudus. (Tribratanewskudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Siti Mariyanti (33) warga Desa Kutuk RT 1 RW 2, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, bunuh diri di depan mata anaknya, Rabu (12/10/2016) pagi sekitar pukul 06.00 WIB.

Dikutip dari  Tribratanewskudus.com, kejadian nahas bermula saat suami pelaku pergi ke sawah guna kirim makanan. Pelaku berada di rumah bersama anaknya sekitar pukul 05.30 WIB.

Tak lama kemudian sekitar pukul 06.00 WIB, pelaku mengambil obat serangga merek Spontan. Persis di depan mata anaknya, Riske Ayu Febriyani (13), pelaku membuka tutup botol obat serangga. Obat serangga itu diminum pelaku hingga beberapa tegukan.

Riske seketika histeris. Dia berteriak minta tolong memanggil tetangganya. Dua orang tetangga tiba di rumah pelaku, yakni Sukarno dan Mundakir. Kondisi pelaku tampak parah. Mereka segera membawa pelaku ke Rumah Sakit Mardi Rahayu Kudus.

Nyawa korban tak tertolong di rumah sakit tersebut. Polsek Undaan bersama Paur Kesehatan Polres Kudus segera mendatangi TKP guna melakukan penyelidikan.

Hingga berita ini diturunkan, Kapolsek Undaan AKP Suparji, belum memberikan keterangan. MuriaNewsCom masih mencoba menghubunginya beberapa kali tapi belum juga diangkat.

Editor : Akrom Hazami

Kronologi Nenek Konangan Bunuh Diri Nyemplung Sumur di Keling Jepara

nenek-2

Sejumlah petugas dari BPBD Jepara dan lainnya berada di lokasi nenek bunuh diri di Desa Keling, Kecamatan Keling, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

MuriaNewsCom, Jepara – Ngatini, nenek berusia 80 tahun, warga Desa Keling RT 03 RW 05, Kecamatan Keling, Jepara, nekat mengakhiri hidupnya dengan cara menceburkan diri ke dalam sumur dengan kedalaman 16 meter lebih. Ia diduga stres akibat penyakit stroke yang diderita tak kunjung sembuh.

Salah satu anak mantu Ngatini, Budi Mulyono (55) menceritakan, setelah Salat Subuh, ia berpamitan kepada korban untuk pergi ke pasar. Setelah sampai di pasar, ia mendapatkan informasi dari kerabatnya bahwa korban di dalam sumur, dan diduga melakukan bunuh diri. “Sebelumnya saya tidak tahu, dapat informasi dari saudara,” kata Budi.

Menurutnya, korban memang menderita penyakit stroke sudah lama, lebih dari lima tahun namun tak kunjung sembuh. Kondisi badan korban sebelumnya sebagian sudah lumpuh, terutama bagian tangan sebelah kiri.

“Setelah mendapatkan informasi itu, saya langsung pulang ke rumah. Kondisinya sudah ramai. Sesaat kemudian sekitar pukul 07.00 WIB datang dari petugas untuk melakukan evakuasi,” ucapnya.

Salah satu petugas evakuasi dari BPBD Jepara, Zainudin mengatakan, korban berhasil diangkat sekitar pukul 07.45 WIB bersama dengan tim evakuasi gabungan dan para relawan.

Setelah korban berhasil dievakuasi dari dalam sumur, dilakukan pemeriksaan oleh petugas puskesmas setempat. Berdasarkan hasil pemeriksaan, korban meninggal karena kehabisan oksigen dan tidak ada tanda-tanda penganiayaan.

“Diduga kuat korban memang bunuh diri karena stres mengidap penyakit stroke sudah lama dan tidak kunjung sembuh. Tidak ada tanda-tanda bekas penganiayaan,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :

Nenek Nekat Nyemplung Sumur di Keling Jepara 

Nenek Nekat Nyemplung Sumur di Keling Jepara

Jenazah nenek usai bunuh diri saat diperiksa petugas medis di Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Jenazah nenek usai bunuh diri saat diperiksa petugas medis di Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

MuriaNewsCom, Jepara – Peristiwa nahas terjadi di Kabupaten Jepara. Seorang nenek berusia 80 tahun diketahui mengakhiri hidupnya dengan cara menceburkan diri ke dalam sumur dengan kedalaman 16 meter.

Nenek tersebut bernama Ngatini, warga Desa Keling RT 03 RW 05, Kecamatan Keling, Jepara. Ia diketahui mengakhiri hidupnya dengan mencebur kedalam sumur sekitar pukul 05.30 WIB. Peristiwa tersebut akhirnya diketahui kerabat korban.

Kerabat korban yang mengetahui kejadian tersebut melaporkan kepada pihak berwajib, dan tidak berselang lama petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara bersama tim gabungan dan relawan melakukan evakuasi korban.

“Kami mendapatkan informasi kemudian datang dan sampai di lokasi sekitar pukul 07.00 WIB. Proses evakuasi berjalan lancar. Hanya membutuhkan proses yang lumayan lama karena kedalaman sumur cukup dalam,” ujar petugas BPBD Jepara, Zainudin kepada MuriaNewsCom, Selasa (11/10/2016).

Menurutnya, korban berhasil diangkat sekitar pukul 07.45 WIB bersama. Setelah korban berhasil dievakuasi dari dalam sumur, dilakukan pemeriksaan oleh petugas puskesmas setempat. Berdasarkan hasil pemeriksaan, korban meninggal karena kehabisan oksigen dan tidak ada tanda-tanda penganiayaan.

“Diduga kuat korban memang bunuh diri karena stres mengidap penyakit stroke sudah lama dan tidak kunjung sembuh. Tidak ada tanda-tanda bekas penganiayaan,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Jangan Akhiri Hidupmu dengan Bunuh Diri

Kholistiono cak.kholis@yahoo.co.id

Kholistiono
cak.kholis@yahoo.co.id

MASIH ingat dengan seorang bocah kelas VI Madrasah Ibtidaiyah (MI) Taris Tambahmulyo, Kecamatan Jakenan, Pati, yang tega mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri? Peristiwa ini terjadi tepatnya tiga hari lalu. Mendapati kenyataan seperti itu, saya dan mungkin sebagian besar masyarakat yang mengetahui peristiwa ini akan terenyuh dan sedih, ketika membayangkan anak yang masih berusia 12 tahun harus meninggal sia-sia.

Konon ceritanya, bocah berinisial MSFA ini ditemukan ibunya di kamar sudah dalam keadaan tergantung tali pramuka  dan sudah tak bernyawa. Motif bocah yang masih sangat belia tersebut untuk mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri juga masih simpang siur. Ada yang menyebutkan jika gara-gara bocah itu dituduh mencuri uang Rp 20 ribu oleh teman-temannya. Ada juga yang meyebut ingin dibelikan gadget, namun dijanjikan orang tuanya dalam waktu dekat. Ada pula yang menyebut, kalau orang tuanya melarang bocah itu untuk bermain balap Burung Dara atau istilahnya keplekan.

Tapi, apapun alasannya ketiganya terkesan cukup sepele, sampai harus mengakhiri hidup dalam usia yang masih belia. Melihat usianya yang masih 12 tahun, sebenarnya sangat tidak “lumrah” sampai berpikiran senekat itu.

Lalu siapa yang dipersalahkan jika ada anak sebelia itu nekat melakukan tindakan sejauh itu dengan harus mengakhiri hidupnya secara tragis? Kita tahu, kasus bunuh diri yang dilakukan anak sekolah memang bukan kali ini saja, namun, jika masih dalam jenjang pendidikan sekolah dasar, saya masih belum menemukan catatan ada kasus serupa, khususnya di Jawa Tengah.

Catatan yang dimiliki Kepolisian Daerah Jawa Tengah, pada tahun 2014, terdapat ada 301 kasus bunuh diri, yang terjadi di berbagai wilayah di Jateng. Jumlah itu disebut-sebut ada penurunan di banding tahun 2013 yang mencapai 340.

Pada tahun itu, Jawa Tengah merupakan daerah yang tertinggi dalam kasus bunuh diri. Menyusul di belakangnya yaitu Polda Jawa Timur, hingga September 2014 sebanyak 84 kasus, Polda Metro Jaya 55 kasus, Polda Bali 39 kasus, dan Polda Jawa Barat 27 kasus.

Pada realitasnya, kita menemukan dari sebagian kasus bunuh diri itu ada anak sekolah, meskipun bukan jenjang pendidikan setingkat sekolah dasar. Namun demikian, sungguh sangat ironi jika bunuh diri menjadi pilihan bagi remaja dan terkecualis orang tua, sebagai “cara” menyelesaikan masalah. Apalagi hal itu menimpa pada anak-anak. Sungguh menjadi kekhawatiran tersendiri, jika hal ini malah jadi trend.

Menyaksikan realita seperti itu, lalu muncul pertanyaan, seberapa jauh sebenarnya keberhasilan kita, yakni orang tua, guru dan juga masyarakat menempa karakter anak-anak menjadi pribadi yang tidak mudah putus asa. Sebab, hal seperti ini tentunya menjadi tanggung jawab bersama.

Orang tua, guru, teman, dan lingkungan memiliki peran dalam pembentukan karakter anak dan memengaruhi pola perilaku anak. Begitupun dengan mental anak, juga terbentuk dari berbagai faktor. Baik itu dari keluarga, sekolah maupun lingkungan sekitar.

Kemudian, jika kita berbicara tindakan bunuh diri, tentunya ada pelbagai faktor penyebabnya. Secara umum, hal itu biasanya disebabkan karena depresi. Depresi ini bisa diakibatkan karena perasaan ketidakbermaknaan yang dimiliki seseorang, sehingga bunuh diri menjadi menjadi jawaban atas ketidakbermaknaan tersebut.

Namun demikian, jika kita melihat kasus bocah kelas VI asal Desa Tambahmulyo Pati ini, hemat saya, ada kemungkinan tayangan televisi juga turut serta berperan, hingga membuat bocah se kecil itu nekat memilih untuk bunuh diri ketika menurutnya dirinya tak lagi “bermakna”. Apakah itu di lingkungan keluarga, sekolah ataupun di hadapan teman-temannya.

Memang tayangan televisi bukan faktor utama, tetapi memegang peranan penting, sehingga anak-anak selalu meniru jika dalam kondisi tertekan.

Kenapa saya memfokuskan televisi. Karena, tayangan televisi sangat mudah diakses, baik itu anak-anak maupun orang tua. Setiap rumah, hampir seluruhnya terdapat televisi. Tak jarang pula, televisi menayangkan pelaku bunuh diri secara jelas, yang tak sedikit tayangan tersebut dilihat oleh anak-anak.

Kerapuhan dan ketidaklabilan emosi anak, bisa memengaruhi anak-anak. Mereka bisa saja terinspirasi dari tayangan tersebut, bahwa mereka bunuh diri itu agar semua masalah yang dihadapi selesai. Anak-anak masih sebatas melihat dan mendengar informasi, dan tanpa mempertimbangkan dampak dari informasi itu.

Pengaruh tayangan televisi sangat kuat berdampak dalam perilaku anak-anak. Tidak sedikit, anak-anak yang meniru dari tayangan yang dilihatnya tersebut. Ketika dulu lagi boomingnya tayangan smackdown, kemudian muncul berbagai kasus kekerasan yang dilakukan anak di berbagai daerah di Indonesia, yang meniru adegan smackdown.

Kemudian, ada pula anak berusia 12 tahun di Jakarta pada 2009 lalu, ditemukan di dalam kamarnya dalam kondisi tergantung di ranjang dengan tangan terikat, dan sudah tak bernyawa. Motifnya, diduga karena menirukan adegan Limbad, yang ketika itu sering muncul pada tayangan televisi.

Banyaknya sinetron yang kurang mementingkan kualitas edukasi terhadap masyarakat, juga seringkali justru menjadi trend di dalam masyarakat. Bahayanya, anak-anak usia sekolah dasar bahkan usia dini, terkadang juga berupaya mempresentasikan perilaku kurang pantas yang ada dalam sinetron tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk itu, menjadi sebuah keharusan sebenarnya bagi orang tua untuk melakukan pendampingan terhadap anak ketika menonton tayangan televisi. Orang tua harus memiliki peran untuk mengarahkan dan memberikan wawasan kepada anaknya, mengenai tayangan yang ditonton tersebut, layak untuk dipresentasikan ke dalam kehidupan sehari-hari atau tidak.

Orang tua juga harus mengontrol, tayangan yang layak untuk ditonton dan tidak. Bukan malah sebaliknya, terkadang orang tua justru yang secara tidak langsung mengajarkan kepada anaknya untuk melihat tayangan televisi yang kurang bermutu. Sebab, orang tua terkadang lebih asyik di depan televisi ketika muncul tayangan sinetron atau lainnya, yang memunculkan adegan-adegan penuh dramatisasi, dan jauh dari realita kehidupan. Orang tua, juga tanpa mempertimbangkan, apakah tayangan tersebut pantas ditonton untuk anak-anak atau tidak.

Yang tak kalah penting adalah, anak merupakan individu yang sangat memerlukan kepedulian dan kasih sayang. Kepedulian tidak hanya dari sekolah, tetapi perlu juga kepedulian dari teman, orang tua dan lingkungannya.

Organisasi di luar sekolah bisa menjadi salah satu tempat anak mencari jati diri. Selain itu harus ditanamkan pada anak konsep diri, yaitu menyadari sepenuhnya mereka harus menjalani hidup. Konsep diri ini adalah cara pandangan seseorang terhadap dirinya. Anak sangat membutuhkan cinta, kasih sayang, bimbingan dan kesempatan.

Orang tua harus memperhatikan perkembangan karakteristik anak. Pada umumnya, prestasi yang diperoleh anak merupakan salah satu bukti bahwa kebutuhan dasar hidup, baik material maupun spiritual, secara prinsip telah terpenuhi. Anak yang bahagia hati dan pikirannya akan terlepas dari pikiran dan tindakan negatif, apalagi bunuh diri.

Harapannya, tentunya kasus bunuh diri seperti yang dilakukan bocah kelas VI di Pati tidak terjadi lagi pada anak lainnya. Sebagai bangsa dengan dasar Pancasila dan agama yang kuat, tidak sepantasnya anak-anak muda Indonesia dan juga anak-anak menjadikan bunuh diri sebagai jalan pintas menyelesaikan masalah.

Mengutip perkataan Junanto Herdiawan, seorang penulis buku, makna hidup bisa dicari pada keimanan pada yang Maha, ataupun hubungan yang hangat dengan keluarga, sahabat, maupun lingkungan. Kita semua menyadari bahwa hidup tanpa makna akan membawa pada ketidakbahagiaan. Manusia, bukanlah atom yang hilang tanpa arah di alam semesta (man is not a lost atom in the universe), tapi adalah juga pribadi-pribadi yang mencari makna. (*)

Ini Penyebab Pria Asal Keling Jepara Tak Sabar Habisi Nyawanya Sendiri di Sumur

sumur 2

 

MuriaNewsCom, Jepara – Beberapa warga di sekitar lokasi bunuh diri di Desa Bumiharjo RT 3 RW 7, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, menyatakan beberapa alasan Edy Purnomo (45) menghabisi nyawanya.

Warga setempat sekaligus saksi mata, Sulastri (40), mengatakan, ketika petang hari kemarin, dia datang ke rumah Edy namun tidak ada orangnya. Kemudian Sulastri mencari Edy di dalam rumah. Namun yang dilihatnya adalah pakaian dan sandal berserakan.

“Kemudian saya ke belakang rumah mencari-cari, dan melihat ke dalam sumur. Ternyata di dalam sumur ada Edy. Jadi saya teriak-teriak ke tetangga lainnya,” kata Sulastri.

Korban sehari-hari tinggal sebatangkara. Karena kedua orang tuanya sudah meninggal sejak lima tahun silam.Dia mengaku, korban sempat bercerita ke tetangga tentang kematian dan ingin melakukan bunuh diri. “Korban terlihat depresi berat, karena memang sebelumnya pernah masuk rumah sakit jiwa. Dulu, waktu masih SMA, korban terjatuh dan mulai ada gangguan jiwa,” ungkapnya.

Mayat Edi dievakuasi tim Basarnas dengan keadaan sudah tak bernyawa Minggu (28/9/2016) sekitar pukul 22.00 WIB malam tadi. Koordinator Basarnas Pos SAR Jepara, Agung Hari mengatakan, pihaknya mendapatkan informasi mengenai ditemukan mayat di dalam sumur, kemudian langsung menuju lokasi.

Menurut Agung, korban berhasil dievakuasi tim Basarnas setelah satu orang  anggota diterjunkan untuk turun ke dalam sumur menggunakan tabung Scba demi menghindari adanya gas di dalam sumur.

“Kami langsung ke lokasi, dan anggota mesuk ke dalam sumur untuk melihat kondisi korban. Setelah berhasil melihat posisi korban di bawah kemudian korban langsung kami tarik dengan tali menggunakan sistem lifting (naik), kondisi sumur yang sempit sempat menjadi kendala kita dilapangan,” ujar Agung, Senin (29/8/2016).

Pihaknya juga dibantu unsur SAR lainnya, pihak kepolisian, puskesmas dan warga sekitar. Korban akhirnya dievakuasi dalam kondisi meninggal sehingga langsung dibawa kerumah sakit untuk diautopsi.

Editor : Akrom Hazami

Mau Salat Malah Lihat Kakek Gantung Diri di Gubug Grobogan

Bunuh-Diri

ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Grobogan –  Warga Desa Rowosari, Kecamatan Gubug, Kamis (26/5/2016) digegerkan dengan adanya peristiwa gantung diri yang dilakukan warga setempat. Pelaku gantung diri diketahui bernama Parto Saidi yang sudah berusia 80 tahun.

Informasi yang didapat menyebutkan, peristiwa gantung diri itu diketahui sekitar pukul 04.30 WIB. Ceritanya, saat itu ada tetangga korban yang mau berangkat ke musala untuk salat subuh.

Ketika melintas di depan rumah korban terlihat ada sosok orang yang tergantung di teras rumah. Selanjutnya, saksi ini mengabarkan peristiwa ini pada tetangga lainnya.

Namun, ketika diperiksa, sosok yang tergantung itu sudah dalam kondisi meninggal dunia. Kemudian, peristiwa itu dilaporkan pada perangkat desa dan diteruskan pada pihak kepolisian.

Kapolsek Gubug AKP Dedi Setya ketika dimintai komentarnya membenarkan adanya peristiwa gantung diri tersebut. Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan, tidak ditemukan tanda kekerasan pada tubuh korban.

“Dari pemeriksaan yang kita lakukan, korban murni bunuh diri. Mengenai penyebabnya, belum bisa kita ketahui dengan pasti. Korban sudah kita serahkan pada pihak keluarga untuk dimakamkan,” ujarnya.

Dari keterangan warga, selama ini, korban memang tinggal seorang diri. Istri korban, sudah cukup lama meninggal dunia. Sementara anak-anaknya merantau dan tinggal di luar kota.

Editor : Akrom Hazami

 

Ibu di Bendan Pati Ini Pura-pura Bunuh Diri dengan Mencemplung Sumur

ilustrasi

ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Pati – Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati dibuat kalang kabut dengan informasi seorang ibu, warga Desa Bendan, Kelurahan Pati Kidul RT 8 RW 4, Pati yang bunuh diri dengan mencebur ke sumur, Senin (9/5/2016).

Tim BPBD Pati pun meluncur ke tempat kejadian perkara (TKP) dengan menyiapkan sejumlah peralatan evakuasi. Mereka tampak cekatan memasang tali yang akan digunakan untuk masuk ke dalam sumur.

Sumur pun sempat dikuras untuk memudahkan proses evakuasi. Setelah beberapa waktu berjalan, tim evakuasi tidak menemukan korban. Yang ada justru sebuah batu berukuran cukup besar.

“Kami akhirnya mengusut kebenaran laporan dengan menghimpun informasi dari keluarga korban. Setelah pencarian dilakukan ke sejumlah tempat, akhirnya korban ditemukan dalam keadaan pingsan di area kandang ayam,” ujar Diyono, anggota BPBD Pati, Selasa (10/9/2016).

Setelah diusut, batu besar yang ditemukan di dalam sumur ternyata hasil lemparan ibu untuk mengelabui anaknya. Sebelumnya, ibu terlibat kesalahpahaman dengan anak dan mengancam akan bunuh diri dengan mencebur ke sumur.

“Menurut saya, batu itu dilempar ke sumur untuk mengelabui anaknya supaya dikira bunuh diri. Ibunya sendiri kami temukan di kawasan kandang ayam, berjarak sekitar 15 meter dari rumah,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Diduga Dapat Bisikan Gaib, Pemuda Ini Bunuh Diri di Jepara

ilustrasi

ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Jepara – Peristiwa tragis menimpa pemuda RT 01 RW 01, Desa Karangaji, Kecamatan Kedung, Jepara, Abdul Basit. Pemuda berusia 25 tahun ini meninggal dalam kondisi gantung diri. Diduga, dia melakukan bunuh diri karena depresi dan mendapatkan bisikan gaib.

“Pengakuan mendapatkan bisikan gaib itu dikatakan korban sebelum gantung diri kepada keluarganya,” ujar Kapolsek Kedung AKP Hendrik Irawan kepada MuriaNewsCom, Rabu (24/2/2016).

Menurutnya, peristiwa tersebut terjadi pada Selasa (23/2/2016) sore kemarin, di Desa Dongos, Kecamatan Kedung. Dia pertama ditemukan dalam kondisi gantung diri oleh seorang anak kecil, kemudian memberitahu orang tua. Setelah itu, dilaporkan kepada warga sekitar dan kepada pihak kepolisian.

“Dari keterangan para warga, terutama keluarga korban. Si korban ini mengalami depresi sudah cukup lama. Pihak keluarga juga tidak mengetahui penyebab depresi korban,” ungkap Hendrik.

Dari hasil penyelidikannya, tidak ditemukan adanya luka akibat pemukulan atau penganiayaan. Dari pihak keluarga juga telah mengikhlaskan kepergian korban. Sehingga tidak ada yang dituntut atau dituduh sebagai penyebab kematian korban.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :
Disebut-sebut Ditempeli Makhluk Halus, Janda Ini Jadi Stres dan Sering Ingin Bunuh Diri 

Pemuda Bunuh Diri di Hadipolo Diduga Frustasi karena Penyakit yang Dideritanya

Ternyata Karini Sempat Dirawat di RSJ Semarang, Sebelum Gemar Menceburkan Diri ke Sumur

Karini diberi selimut setelah epilepsinya kumat usai dievakuasi dari sumur. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Karini diberi selimut setelah epilepsinya kumat usai dievakuasi dari sumur. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Karini (39), seorang janda asal Desa Semirejo RT 2 RW 5, Kecamatan Gembong, Pati ternyata sudah lama stres, sebelum akhirnya punya kegemaran untuk menceburkan diri ke sumur.

Karini terkena gangguan jiwa, lantaran penyakit epilepsinya yang tak kunjung sembuh. Bahkan, ia pernah dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Semarang.

Namun, hasilnya nihil. Karini masih sering kambuh dan sudah enam kali mencoba melakukan bunuh diri dengan menceburkan diri ke sumur.

“Karini memang terkena gangguan jiwa sejak 2002, karena penyakit epilepsi yang diderita tak kunjung sembuh. Pernah juga dirawat di RSJ Semarang, tapi masih sering kambuh setelah dipulangkan,” kata Kapolres Pati AKBP R Setijo Nugroho kepada MuriaNewsCom, Selasa (23/2/2016).

Ia mengatakan, Karini sempat dirawat inap di puskesmas setempat karena mengalami luka robek pada pergelangan tangan kanan dengan panjang hingga 4 cm dan lebar 0,5 cm.

Sementara itu, jempol kaki bagian bawah mengalami luka robek sepanjang 3 cm. Janda yang tinggal bersama ayah dan ibu tirinya itu juga sangat pucat dan lemas, karena berada di dalam sumur selama satu jam dan tidak makan selama lima hari.

Editor : Kholistiono

 

Baca juga : Disebut-sebut Ditempeli Makhluk Halus, Janda Ini Jadi Stres dan Sering Ingin Bunuh Diri

Disebut-sebut Ditempeli Makhluk Halus, Janda Ini Jadi Stres dan Sering Ingin Bunuh Diri

Polisi dan warga tengah mengevakuasi Karini yang mencoba bunuh diri dengan menceburkan diri ke sumur. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Polisi dan warga tengah mengevakuasi Karini yang mencoba bunuh diri dengan menceburkan diri ke sumur. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Pengakuan mengejutkan muncul dari Suminah, bibi Karini. Ia mengatakan, Karini sempat ditempeli makhluk gaib sebelumnya akhirnya depresi bertahun-tahun hingga berulang kali mencoba bunuh diri.

“Karini mengalami stres, setelah ketempelan makhluk gaib sejak duduk di bangku SMP. Kondisi stres semakin parah ketika anaknya meninggal dan diceraikan suaminya,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Senin (22/2/2016).

Sebetulnya, kehidupan Karini sehari-hari wajar. Bahkan, Karini dikenal dengan pribadi yang baik, rajin bersih-bersih rumah, dan tekun salat. Namun, Karini berulang kali mencoba bunuh diri dan beberapa kali hilang saat depresi itu kumat.

“Sebelum mencebur sumur tadi, Karini sempat salat. Bahkan, saya dengar dia mengucapkan istigfar saat mencebur sumur. Menurut saya, itu di luar kendalinya,” paparnya.

Tak hanya itu, Karini juga diketahui belum makan selama lima hari sebelum akhirnya menceburkan diri di sumur. “Kondisinya memprihatinkan. Dia betul-betul tidak mau makan selama lima hari ini,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

 

Baca juga : Janda Asal Semirejo Pati Ini Sudah 6 Kali Coba Bunuh Diri dengan Mencebur ke Sumur

Janda Asal Semirejo Pati Ini Sudah 6 Kali Coba Bunuh Diri dengan Mencebur ke Sumur

Karini berhasil dievakuasi dan dibawa ke ruang tamu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Karini berhasil dievakuasi dan dibawa ke ruang tamu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati- Karini (39), seorang janda asal Dukuh Gembol, Desa Semirejo, Kecamatan Gembong, Pati yang mencoba bunuh diri dengan mencebur ke sumur ternyata sudah mengalami kejadian serupa hingga lima kali. Tak hanya itu, Karini diketahui pernah minum obat serangga untuk mengakhiri hidupnya.

“Dia sudah sering coba bunuh diri dengan mencebur ke sumur. Waktu saya ajak merantau ke Sumatra, dia juga sempat menenggak racun serangga. Terhitung, dia sudah enam kali mencoba bunuh diri dengan menceburkan diri ke sumur. Tapi, dia selalu selamat,” ujar Sumiati, kerabat Karini kepada MuriaNewsCom, Senin (22/2/2016).

Sumiati mengaku, Karini memang sudah lama mengalami depresi dan sering kejang seperti terkena penyakit epilepsi. Masalah keluarga dan himpitan ekonomi ditambah dengan kondisi diceraikan suami, dinilai sebagai penyebab Karini semakin depresi.
“Masalah bertubi-tubi yang mendera, membuatnya depresi. Saat ini, dia hanya tinggal di rumah bersama ayah dan ibu tirinya, karena ibu kandungnya sudah meninggal. Anaknya juga sudah meninggal dunia waktu masih dua tahun. Suaminya menceraikannya. Kondisinya benar-benar memprihatinkan,” tuturnya.
Sementara itu, Karyatun yang merupakan tetangga dekat, sempat memergoki Karini mencoba mencari sumur-sumur tetangga sekitar pukul 07.30 WIB, sebelum akhirnya menceburkan diri di sumur miliknya sendiri. Namun, aksinya tersebut diketahui tetangga dan dilarang untuk mendekati sumur.
“Pagi hari, Karini sempat mencari-cari sumur tetangga. Berhubung dilarang warga, dia kembali pulang. Tidak tahunya malah menceburkan diri di sumur miliknya sendiri,” ungkapnya.
Saat dievakuasi dari sumur, Karini pada awalnya gagal dikeluarkan dari sumur karena memberontak dan akhirnya tercebur lagi. Evakuasi berhasil untuk yang kedua kalinya, setelah dibujuk dan diikat menggunakan kain selendang dengan dikerek tali plastik sepanjang 25 meter.

Editor : Kholistiono

 

Baca juga : Heboh! Warga Desa Semirejo Gembong Coba Bunuh Diri dengan Mencebur ke Sumur

Kakek di Jekulo Ini Gantung Diri, Karena Sakitnya yang Tak Kunjung Sembuh

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kejadian bunuh diri, kembali terjadi di Kudus. Kali ini kejadian yang mengakhiri diri sendiri itu terjadi di Desa Honggosoco RT 4 RW 1 Kecamatan Jekulo, Kudus.

Hal itu diutarakan Kapolsek Jekulo AKP Mardi. Menurutnya, kejadian bunuh diri itu terjadi pada Kamis (29/1/2015) sekitar pukul 17.00 WIB. Dari keterangan yang dihimpun, ternyata kakek tersebut, Abdul Basir (70) sudah beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri namun selalu gagal.

”Dari keterangan yang kami dapat dari istrinya, Jumini, korban sudah tiga kali mencoba untuk bunuh diri. Namun selalu digagalkan lantaran diketahui anggota keluarga,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Kejadian pertama, kata dia mencoba bunuh diri dengan racun serangga. Saat itu diketahui oleh istrinya dan berhasil dicegah. Namun hal itu tidak mengurungkan niat untuk bunuh diri, sehingga percobaan kembali dilakukan kali kedua dengan cara memakan obat sakit kepala jenis Bodrex langsung enam biji ditambah dengan minuman bersoda jenis sprite.

Kejadian percobaan kali kedua juga kembali digagalkan lantaran diketahui oleh anggota keluarga. Namun kemarin, saat kondisi rumah dalam keadaan sepi, kembali sang kakek mencoba untuk kembali bunuh diri dengan menggantung pada rumah bagian tengah.

”Kemarin rumah pas keadaan kosong. Sehingga aksi bunuh dirinya tidak ada yang melarang dan menghentikan,” ujarnya.

Kejadian itu diketahui kali pertama oleh Riana Anggraeni yang juga sebagai menantu korban. Saat itu saat pulang kerja, kaget karena melihat mertuanya sudah terbujur kaku dengan tali berbahan kain yang mengikat pada lehernya.

Melihat hal itu, lanjutnya, menantu langsung mencari ibu mertuanya yang tidak berada di rumah. Namun di tengah jalan bertemu dengan suaminya sehingga langsung diberi tahu kalau ayahnya sudah meninggal.
Mendengar hal itu dia langsung pulang untuk melihatnya. Setelah itu, mereka meminta bantuan tetangga Nono, untuk melaporkan kejadian itu kepada kantor polisi Jekulo.

”Kemudian petugas datang untuk melihat kondisi. Setelah itu petugas langsung membawa ke puskesmas Jekulo untuk diperiksa,” ujarnya.

Hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter Ani Fatmawati, korban murni melakukan bunuh diri. Sebab tidak ada luka lain selain bekas gantung diri yang menjerat pada leher bagian kiri.

Dari keterangan yang dihimpun kepolisian. Korban memang mengalami sakit yang tidak kunjung sembuh. Bahkan selama hidupnya kakek itu harus rutin mengonsumsi obat.

Editor : Titis Ayu Winarni

Penyakit Tak Kunjung Sembuh, Pria Asal Bermi Pati Ini Gantung Diri

Petugas kepolisian dan tim medis puskesmas setempat tengah memeriksa korban sebelum disemayamkan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petugas kepolisian dan tim medis puskesmas setempat tengah memeriksa korban sebelum disemayamkan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Seorang pria berusia 38 tahun bernama Kaeran, warga Desa Bermi, Kecamatan Gembong, Pati nekat mengakhiri hidup dengan gantung diri di ruang tamu rumahnya sendiri, sekitar pukul 16.30 WIB, Jumat (15/1/2015).

Kaeran diduga memiliki penyakit menahun yang tak kunjung sembuh, hingga akhirnya stres dan bunuh diri. Hal ini dibenarkan Kapolsek Gembong AKP Sugino.

”Dari informasi yang kami himpun, korban memang punya penyakit menahun yang tak kunjung sembuh. Kesimpulan sementara, penyebabnya karena korban mengidap penyakit hingga stres dan akhirnya gantung diri,” kata Sugino saat dimintai keterangan MuriaNewsCom.

Ia mengatakan, korban meninggal dengan kondisi tali tambang plastik berwarna biru sepanjang 4 meter melilit di lehernya. Sementara itu, lidah korban menjulur hingga 2 cm.

”Tidak ada tanda-tanda penganiayaan dalam tubuh korban. Posisinya menggantung di blandar ruang tengah rumah. Setelah kami periksa, memang ini murni bunuh diri,” tambah Dokter Puskesmas Gembong, dr Kusnanto.

Kejadian tersebut sempat menggemparkan warga setempat. Pasalnya, Kaeran mengakhiri hidup dengan cara yang tragis di usia yang masih muda. (LISMANTO/TITIS W)

Polisi Sita Keris yang Menghabisi Tuannya Sendiri

f-bunuh diri 2 (e)

 

PATI – Warga Desa Soko RT 6 RW 2 digemparkan dengan meninggalnya Sariban (90) dengan kondisi terbujur kaku di kamar tidurnya, Rabu (13/1/2016). Sariban meninggal, setelah kehabisan darah karena sebilah keris menancap hingga meninggalkan luka robek selebar 3 cm dengan kedalaman 2 cm.

Kapolres Pati AKBP R Setijo Nugroho melalui Kasubbag Humas Polres Pati Sri Sutati kepada MuriaNewsCom mengatakan, sebilah keris sepanjang 50 cm yang membawa malapetaka bagi tuannya sendiri itu disita petugas kepolisian untuk dijadikan barang bukti.

“Keris itu berukuran cukup panjang. Untuk keamanan dan barang bukti, kami langsung sita benda itu. Bentuk kerisnya lurus dan meruncing pada bagian ujung. Tidak ada luknya,” tuturnya.

Ia menambahkan, sebetulnya keris tersebut sudah lama dan berkarat. Berhubung ujungnya meruncing sehingga bisa mencelakai orang.

“Selain mengamankan keris, kami juga mengamankan sarung keris yang digunakan sebagai rumah bagi keris. Semuanya kami jadikan barang bukti,” tambahnya.

Sebelumnya, pihak keluarga tidak tahu jam berapa Sariban mengakhiri hidup dengan sebilah keris yang merobekkan lehernya itu. “Kami sekeluarga tidak tahu jam berapa. Pagi-pagi jam 06.00 WIB ketika saya mau memberi makan, sudah terbujur kaku dengan leher yang bersimbah darah,” ucap Suparlan (65), saudara korban.

Setelah Polsek Gabus melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan puskesmas setempat melakukan visum, kematian Sariban memang dinyatakan meninggal akibat bunuh diri. Sariban diduga mengakhiri hidup setelah menderita penyakit stroke menahun. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Keris Sepanjang 50 Cm Tusuk Kakek hingga Tewas di Gabus Pati

ILustrasi

ILustrasi

 

PATI – Keris sepanjang 50 Cm tusuk kakek hingga tewas di Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati. Kejadian ini membuat geger warga setempat karena mereka tidak menyangka akan kejadian itu.

Adalah seorang kakek Sariban (90), warga Desa Soko RT 6 RW 2, Kecamatan Gabus, Pati nekat mengakhiri hidupnya dengan menggorokkan sebilah keris pada bagian lehernya sendiri, Rabu (13/1/2016). Aksi nekat itu diduga karena stres, akibat penyakit stroke yang menahun dan tak kunjung sembuh.

Dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, Sariban ditemukan sudah dalam keadaan meninggal dunia dengan sebilah keris yang menusuk lehernya. Saat itu, Suparlan, salah satu anggota keluarga ingin memberikan sarapan pagi sekitar pukul 06.00 WIB.

“Informasi yang kami terima dari kepolisian sektor setempat, waktu masuk kamar untuk memberikan makan, korban sudah meninggal dunia dengan sebilah keris yang masih tertusuk pada lehernya,” kata Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo.

Polisi dan warga membawa jenazah Sariban ke Puskesmas Gabus untuk diperiksa, guna kepentingan pemeriksaan polisi. Sementara itu, dr Wahib Hasyim yang memimpin tim medis Puskesmas Gabus mengatakan, hasil visum yang dilakukan menunjukkan tidak ada luka lebam pada tubuh korban. “Pada leher terdapat luka tusuk dengan lebar 3 cm dan kedalaman 2 cm hingga mengenai pembuluh darah arteri,” tutur Wahib.

Ia menambahkan, korban dengan tinggi badan 161 cm tersebut mengeluarkan sperma pada alat kelamin. “Dari hasil visum, korban memang bunuh diri. Panjang keris yang digunakan untuk menusuk lehernya sendiri itu sekitar 50 cm,” tambahnya.

Sontak, insiden tersebut sempat menggemparkan warga setempat. Pihak keluarga tidak menyangka jika kakek yang sudah berusia lanjut itu mengakhiri hidup dengan menggorokkan leher dengan sebilah keris.

Jenazah korban kemudian dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) setempat siang hari, usai dimandikan pihak keluarga. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Ibu Rumah Tangga Gantung Diri di Kamar Mandi

Ilustrasi MuriaNewsCom

Ilustrasi MuriaNewsCom

 

GROBOGAN – Untuk kesekian kalinya peristiwa orang bunuh diri terjadi di Grobogan. Minggu (10/1/2016) sekitar pukul 17.00 WIB, peristiwa orang bunuh diri terjadi di Desa Trowolu, Kecamatan Ngaringan. Pelaku bunuh diri adalah seorang ibu rumah tangga bernama Siti, 38, warga setempat.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, peristiwa bunuh diri itu kali pertama diketahui Sukar, 45, suami korban. Ceritanya, saat itu Sukar yang baru pulang dari sawah langsung menuju kamar mandi.

Namun, begitu membuka pintu kamar mandi, dia langsung kaget bukan kepalang. Karena mendapati tubuh istrinya tergantung di bawah pasak kamar mandi dengan leher terjerat kain selendang.

Melihat peristiwa itu, Sukar langsung berteriak minta pertolongan warga. Mendengar teriakan tersebut, warga langsung berhamburan dan selanjutnya menuju lokasi kamar mandi.

Selanjutnya, beberapa warga menurunkan tubuh Siti yang tergantung di kamar mandi. Namun, saat diperiksa korban didapati sudah dalam kondisi tidak bernyawa. Selanjutnya, peristiwa itu dilaporkan pada perangkat desa dan diteruskan pada pihak kepolisian. (DANI AGUS/AKROM HAZAMI)

Miris, Peristiwa Bunuh Diri di Grobogan Tak Pernah Nihil

ilustrasi

ilustrasi

 

GROBOGAN – Data yang dihimpun dari berbagai sumber menyebutkan, tindakan orang bunuh diri itu menyebar di berbagai kecamatan. Adapun jumlah pelaku bunuh diri itu berkisar 20 sampai 50 kasus per tahun.

Dalam satu pekan terakhir di penghujung tahun 2015 lalu, ada tiga kasus bunuh diri. Dua kasus terjadi di Kecamatan Gabus dan satunya di Kecamatan Kradenan. Setiap tahun, peristiwa orang bunuh diri tidak pernah nihil. Dibandingkan daerah lain, kasus orang bunuh diri di Grobogan ini boleh dibilang termasuk cukup tinggi.

Ada beberapa cara yang dilakukan pelaku bunuh diri tersebut. Ada yang memilih gantung diri, minum racun dan terjun ke sungai.

Mengenai motifnya juga beragam. Kebanyakan adalah soal ekonomi. Disusul penyebab lainnya masalah penyakit yang tidak kunjung sembuh, depresi dan soal-soal sepele. Seperti tidak dibelikan HP atau sepeda motor, hingga dilarang menikah dengan pujaan hati.

Ironisnya, pelaku bunuh diri ini tidak hanya melibatkan orang tua saja. Tetapi juga dilakukan remaja dan orang dewasa. Diantara pelaku ini ada pula yang mengenyam pendidikan tinggi dan punya banyak pengalaman organisasi.

”Kasus bunuh diri yang terjadi di Grobogan memang cukup banyak dan kondisi ini memang sangat memprihatinkan. Kami sedang mencari berbagai upaya untuk bisa menekan angka bunuh diri ini,” kata Kabag Kesra Pemkab Grobogan Moh Arifin.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah menggandeng berbagai elemen masyarakat untuk memberikan penyuluhan. Rencananya, organisasi Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) akan diajak untuk membahas masalah ini. Selain itu, pihak Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga akan digandeng.

Sejauh ini, pihaknya sudah menaruh perhatian terhadap masalah bunuh diri tersebut. Namun, untuk menekan kasus tersebut dinilai bukan pekerjaan mudah. Sebab, latar belakang kasus bunuh diri itu cukup kompleks. Sehingga perlu melibatkan berbagai komponen untuk bersama-sama menangani masalah bunuh diri itu.

”Selain dari pemkab, banyak elemen masyarakat termasuk LSM yang menaruh perhatian pada masalah ini. Sejauh ini, hasilnya memang sudah cukup baik meski belum bisa menghilangkan kasus bunuh diri secara keseluruhan,” imbuh mantan Camat Purwodadi itu. (DANI AGUS/TITIS W)