Ibu Pembuang Bayi di Jepara Diancam 15 Tahun Penjara 

Polisi memeriksa pelaku pembuangan bayi di Jepara yang ternyata ibu kandungnya sendiri. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Pelaku pembuang bayi di Mayong Lor SN (40) terancam mendekam di penjara selama 15 tahun. Ibu empat anak ini terbukti melanggar UU tentang perlindungan anak  dan kini diamankan di Polres Jepara untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Kabag Humas Polres Jepara AKP Sarwo Edy Santosa mengatakan, yang bersangkutan melanggar pasal 80 junto 76 C ayat 2 UU RI no 35/2014 tentang perubahan UU RI 23/2002 tentang perlindungan anak. 

“Tersangka diringkus di rumahnya, semalam (Selasa, 8/8/2017). Hal itu dari informasi dan petunjuk yang dikumpulkan penyidik dan mengerucut kepada tersangka,” tuturnya, dalam konferensi pers, Rabu (9/8/2017). 

Dirinya menuturkan, tersangka bekerja sebagai pelinting di sebuah pabrik rokok, yang ada di Desa Brantak Sekarjati, Kecamatan Welahan.

“Kepada petugas tersangka menyebut alasannya untuk mengugurkan bayinya hanya karena sering diejek oleh teman sekerjanya. Ia kemudian menggugurkan dengan meminum soda yang dicampur dengan obat sakit kepala,” urainya. 

Baca Juga: Ibu di Jepara Ini Nekat Buang Bayinya yang Baru Lahir karena Malu Diejek

Baca Juga : Dengan Soda dan Obat Sakit Kepala, SN Gugurkan Kandunganya yang Berumur 7 Bulan

Sementara itu tersangka SN menyebut, selama masa awal kehamilan hingga usia tujuh bulan, ia menyembunyikannya dari suaminya. 

“Sampai tadi malam saya ditangkap, suami saya tidak tahu bahwa saya hamil. Ketika dihadapannya selalu saya tutupi dengan memakai pakaian longgar. Dan setiap kali dia tanya saya selalu menghindar,” jelas SN sambil tertunduk. 

Kini hanya penyesalan yang menggelora di hati ibu empat anak itu. Ia tak lagi berkumpul bersama suami dan keempat anaknya.  

Editor: Supriyadi

Siswa SD di Gondosari Gebog Kudus Dibully Sadis 

Aktivitas di SD 1 Negeri Gondosari Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)li

MuriaNewsCom, Kudus – Kasus kekerasan (bully) masih saja dialami siswa. Seperti di Kabupaten Kudus. Adalah AL (8) siswa SD 1 Negeri Gondosari, Gebog.
Dari data yang dihimpun, AL saat ini duduk di kelas IV. Korban merupakan warga Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara.

Ketua Jaringan Perlindungan Perempuan dan Anak (JPPA), Senin (31/7/2017), Noor Haniah mengatakan, AL diduga mendapatkan perlakukan keras yang sadis. Di antaranya berupa jotosan, ditindih kursi, serta parahnya lagi adalah kemaluan pelaku ditusuk dengan penggaris besi sampai lecet.

Peristiwa tersebut terjadi saat tidak ada guru. Mengingat saat kejadian, sedang ada rapat sekolah. Dengan pelakunya adalah teman sekelas korban. “Tidak ada kelas. Sedang ada rapat di kantor,” kata Haniah.

Kejadian dipicu karena korban tidak mau menuruti kemauan teman sekelas yang merupakan ketua geng di kelas. Diketahui geng tersebut diketahui oleh seorang anak berinisial F. Geng itu terdiri atas sembilan anak. Mayoritas geng anak itu terdiri dari para siswi.

Hasil penelusuran di lapangan, katanya, diduga kasus kekerasan terjadi sejak korban duduk di kelas III, dan baru diketahui ketika korban duduk kelas IV. Korban sudah meminta pertolongan kepada teman lain. Tapi tak ada yang berani melakukan pertolongan.  “JPPA yang melakukan pendampingan atas kasus tersebut, juga melakukan `assessment` terhadap korban, pelaku serta orang tua pelaku,” terang Haniah.

Dia menyimpulkan, aksi kekerasan ini karena kelalaian guru. Setidaknya saat berhalangan, guru pengampu bisa minta bantuan ke guru lain guna menggantikan sementara.

AKBP Agusman Gurning, Kapolres Kudus mengatakan pihaknya sudah menerima laporan pada Sabtu (29/7/2017) . “Orang tuanya terlebih dahulu sudah kami periksa,” kata Gurning.

Kasat Reskrim Polres Kudus AKP Kurniawan Daili mengatakan, pihaknya telah meminta keterangan dari orang tua korban. Visum juga telah dilakukan, baik di puskesmas, maupun di rumah sakit. “Visumnya itu bagian luar dan bagian dalam,” kata Kurniawan.

Selanjutnya, polisi juga akan meminta keterangan kepada guru korban. “Kami juga akan koordinasi dengan Bapas (Balai Pemasyarakatan), karena ini menyangkut korban maupun pelaku di bawah umur,” pungkasnya.

Kepala SD 1 Negeri Gondosari Sudiyarto enggan memberi keterangan terkait hal tersebut. Hanya pihaknya mengiyakan atas perkara yang menimpa satu siswanya tersebut, dengan pelaku teman satu kelasnya. “Kejadianya pada Rabu (19/7/217) lalu. Korban teman kelas sendiri,” jawabnya singkat.

Disinggung tentang pengawasan pihak sekolah, dia menjelaskan tak tahu kalau kejadian tersebut terjadi. Karena, saat kejadian tak ada guru yang tahu karena para guru juga sedang rapat di ruang guru.

Editor : Akrom Hazami