Petani Ikan di Kudus Masih Dihantui Mahalnya Harga Pakan

Ikan lele. Saat ini pembudidaya ikan di Kudus masih dihantui mahalnya harga pakan ikan (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Ikan lele. Saat ini pembudidaya ikan di Kudus masih dihantui mahalnya harga pakan ikan (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Pembudidaya ikan di Kudus masih dihadapkan dengan persoalan harga pakan ikan yang tinggi. Tingginya harga pakan ikan tersebut menjadi kendala bagi pembudidaya ikan, karena terkadang biaya operasional terkadang bisa lebih tinggi dibandingkan dengan hasil panen.

Hal itu disampaikan Kabid Perikanan pada Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kudus Fajar Nugroho. Menurutnya, harga pakan ikan per kiLo di angka Rp 10 ribu lebih. Padahal, konsumsi ikan per hari harus diberikan makan kisaran dua hingga tiga kali.

“Seperti saja lele, satu kilo dihargai Rp 16 ribu, padahal, untuk membesarkan satu kilo lele selama tiga bulan, jelas lebih dari lima kilo,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Dengan hal ini, pembudidaya lele dan ikan lainnya menjadi resah karena pakan yang mahal. Mahalnya harga pakan, disebabkan belum adanya pengolahan pakan ikan yang diproduksi di Kudus. Sehingga harus didatangkan luar Kudus.

Dia menambahkan, para pengusaha ikan kerap mengeluhkan pakan kepada dinas. Kondisi tersebut sudah terjadi sejak beberapa tahun yang lalu dan menjadi masalah rutin.

Keluhan yang diterima, tidak hanya untuk pengusaha mandiri atau tingkat kecil saja. Di dalam kelompok binaan dari dinas juga mengalami hal yang sama. Banyak yang mengeluhkan tentang harga pakan yang mahal, sehingga seringkali pembudidaya mengalami kerugian.

“Kadang kalau panen harga bisa anjlok, hal tersebut dapat merugikan para peternak ikan, dan seringkali membuat jera, karena harga hasil panen yang murah,namun harga pakan tinggi,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Pati Jadi Satu-satunya Kabupaten di Jateng yang Terima Bantuan Alat Budidaya Lele Sistem Bioflok

Bupati Pati dan jajaranya menunjukkan hasil budidaya lele dengan sistem bioflok. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Bupati Pati dan jajaranya menunjukkan hasil budidaya lele dengan sistem bioflok. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kabupaten Pati menjadi satu-satunya daerah di Jawa Tengah yang mendapatkan bantuan peralatan untuk mengembangkan budidaya lele menggunakan sistem bioflok dari Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi.

Karena, di Jawa Tengah, hanya Kabupaten Pati yang berhasil mengembangkan budidaya lele menggunakan sistem bioflok. “Saat ini, hanya Pati yang terpilih sebagai daerah percontohan di Jawa Tengah terkait dengan budidaya lele sistem bioflok,” kata Kabid Utama BBPBAT Sukabumi Rushadi kepada MuriaNewsCom, Senin (28/12/2015).

Ia mengatakan, bantuan peralatan yang diberikan kepada pembudidaya di Desa Tunjungrejo, Kecamatan Margoyoso, antara lain 20 bak, pakan, obat, benih ikan lele pilihan, blower, listrik, serta sejumlah peralatan lainnya yang mendukung sistem bioflok.

“Salah satu alasan kenapa kami hanya memberikan bantuan kepada pembudidaya di Pati saja, karena kami tidak bisa memberikan peralatan itu kepada pembudidaya yang baru belajar. Ini teknologi dan sistem baru dalam budidaya lele yang baru saja kami seminasikan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Tunjungrejo Teguh Utomo mengaku senang dengan penunjukan desanya sebagai salah satu percontohan budidaya lele sistem bioflok di Indonesia. “Di Indonesia, budidaya dengan sistem dan teknologi baru ini bisa dikatakan Pati paling berhasil,” tuturnya.

Karena itu, pihaknya akan selalu mendukung kegiatan warganya untuk menjadi pembudidaya ikan lele. “Meski sebagian besar warga sudah berhasil, tetapi kami akan terus mendukung. Kami harap, budidaya lele menjadi satu pendongkrak ekonomi di Desa Tunjungrejo,” tukasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Hebat! Pati Jadi Daerah Percontohan Budidaya Lele Sistem Bioflok

Bupati Pati Haryanto bersama dengan jajarannya meninjau lokasi budidaya lele sistem bioflok di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Margoyoso, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Bupati Pati Haryanto bersama dengan jajarannya meninjau lokasi budidaya lele sistem bioflok di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Margoyoso, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Budidaya ikan lele dengan sistem bioflok diklaim bisa menghasilkan lele berkualitas sampai sepuluh kali lipat ketimbang sistem budidaya biasa. Hal inilah yang dilakukan petani lele di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Margoyoso, Pati.

Dengan pengembangan model budidaya yang tak lama dikenal kalangan pembudidaya lele tersebut, Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi memberikan kepercayaan Kabupaten Pati sebagai daerah percontohan program budidaya lele sistem bioflok.

Kepala Bidang Utama BBPBAT Sukabumi Rushadi kepada MuriaNewsCom, Senin (28/12/2015) mengatakan, pembudidaya ikan lele di Desa Tanjungrejo diharapkan bisa menjadi salah satu pioner untuk mengembangkan budidaya lele menggunakan sistem bioflok. Tak hanya itu, kecapakan dari pembudidaya lele di Tanjungrejo diharapkan bisa menularkan ilmunya kepada pembudidaya di daerah lain.

“Kami apresiasi kepada pembudidaya di Tanjungrejo yang sudah mengaplikasikan sistem bioflok dalam budidaya lele. Kami berharap, pembudidaya di Tanjungrejo bisa menularkan ilmu sistem bioflok kepada pembudidaya di daerah lainnya,” paparnya.

Dalam budidaya bioflok, tak perlu kolam yang luas. Cukup dengan terpal dengan rangka besi atau bambu. Sistem budidaya ini hanya mengandalkan mesin airator yang menjadi pemasok sirkulasi oksigen di dalam kolam.

Dengan begitu, mikroorganisme yang mengolah limbah budidaya bisa mengubahkan menjadi gumpalan kecil bernama floc. Floc inilah yang dijadikan makanan alami bagi lele. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Video – Gurihnya Budidaya Lele, Sekali Panen Raup Rp 16 Juta

PATI – Budidaya lele memang tidak ada matinya. Pasalnya, ikan lele menjadi kebutuhan pasar setiap hari. Tak ayal, budidaya lele menjadi pekerjaan idaman.

Suwardi, petani lele yang tergabung dalam Kelompok Pembudidaya Ikan Kedung Mina Desa Kedungbulus, Kecamatan Gembong kepada MuriaNewsCom, Sabtu (7/11/2015) mengatakan bisa meraup penghasilan Rp 16 juta dalam sekali panen.

Untuk sekali panen, Suwardi mengaku membutuhkan waktu setidaknya tiga bulan. Padahal, budidaya lele justru dijadikan sebagai profesi sampingan.

”Sebetulnya, saya bekerja sebagai petani ketela. Budidaya lele hanya sebagai aktivitas tambahan saja. Tapi, ternyata hasilnya luar biasa. Selain hobi, budidaya lele membawa berkah,” pungkasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Harga Melonjak Bawa Berkah Bagi Petani Lele di Pati

Suwardi menunjukkan lele di kolam yang ia panen. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Suwardi menunjukkan lele di kolam yang ia panen. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Harga ikan lele melonjak dalam beberapa pekan terakhir. Namun, kenaikan harga lele justru membawa berkah bagi petani lele di Pati.

Suwardi, misalnya. Petani lele yang tergabung dalam Kelompok Pembudidaya Ikan Kedung Mina Desa Kedungbulus, Kecamatan Gembong mengaku senang dengan harga ikan lele yang melonjak di pasaran.

”Kenaikan harga biasanya dipengaruhi minat pembeli di pasaran yang tinggi. Harga lele sempat anjlok saat Hari Raya Idul Adha kemarin. Namun, saat ini harganya sudah mulai pulih, bahkan cenderung naik,” ujar Suwardi kepada MuriaNewsCom, Sabtu (7/11/2015).

Ia mengaku menjual lele ke tengkulak dengan harga Rp 16.500 per kilogram. Sementara itu, di pasaran dijual dengan kisaran harga Rp 19 ribu per kilogram. (LISMANTO/TITIS W)

Warga Desa Margotuhu Pati Ini Mendadak Kaya Raya

 Jumadi tengah menengok pembibitan lele di belakang rumahnya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Jumadi tengah menengok pembibitan lele di belakang rumahnya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Pendapatan ekonomi warga Desa Margotuhu Kidul, Kecamatan Margoyoso mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Warganya pun mendadak kaya raya dan menjadi pengusaha sukses.

Jumadi, Kasi Pembangunan Desa Margotuhu Kidul kepada MuriaNewsCom mengatakan, budi daya pembibitan lele menjadi satu kunci peningkatan ekonomi yang signifikan di desa tersebut.

“Mereka tidak kerja seperti warga pada umumnya. Kerja mereka hanya tilik kolam dan fokus agar bibit-bibit lele yang mereka budi dayakan sehat dan berkualitas. Dalam sekali panen, petani bibit lele di Margotuhu bisa meraup rupiah dari Rp 15 juta hingga Rp 60 juta,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Desa Margotuhu Kidul Bambang Endrapuspita mengatakan, petani yang sudah punya lahan kolam luas bisa tembus hingga ratusan juta dalam sekali panen. Tak ayal, perputaran uang di desa tersebut naik drastis, karena adanya sentra pembibitan lele.

“Dari budi daya pembibitan lele, kemudian muncul pengepul, penyedia pakan lele, penyedia cacin sutera, hingga warung-warung bermunculan dan selalu ramai. Bayi lele menjadi berkah bagi warga Margotuhu,” pungkasnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

50 Persen Warga Desa Margotuhu Pati Geluti Usaha Pembibitan Lele

Jumadi tengah memberikan makan lele yang masih berusia seminggu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Jumadi tengah memberikan makan lele yang masih berusia seminggu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Siapa sangka, desa kecil bernama Margotuhu Kidul yang berada di Kecamatan Margoyoso, Pati, menjadi sentra pembibitan lele terbaik kedua di Jawa Tengah.

Padahal, desa tersebut belum lama merintis usaha di bidang budi daya pembibitan lele. Dengan waktu tak lebih dari lima tahun, hampir 50 persen penduduknya menggeluti usaha pembibitan lele.

“Dari 547 KK, ada sekitar 250 KK yang budi daya pembibitan lele. Semua sudah ada bakul yang ngambil dari berbagai daerah seperti Yogyakarta, Tegal bahkan sampai Jawa Timur,” ujar Jumadi, warga setempat kepada MuriaNewsCom, Sabtu (24/10/2015).

Jika kita berkunjung ke Desa Margotuhu Kidul, memang sekilas tidak menemukan kolam pembibitan lele. Begitu melihat belakang rumah, kata dia, hampir semua warga budidaya pembibitan lele.

“Desa ini pernah mendapatkan penghargaan dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebagai pemenang kedua Kategori Unit Pembenihan Rakyat. Ke depan, desa ini diajukan untuk maju di tingkat nasional,” tandasnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Budi Daya Sayur di Atas Kolam Lele Dikembangkan di Gembong Pati

Rusmani tengah menyirami tanaman sayur yang ia tanam di atas kolam lele. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Rusmani tengah menyirami tanaman sayur yang ia tanam di atas kolam lele. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Budi daya lele dan tanaman holtikultura sekaligus tak harus menggunakan dua lahan yang berbeda. Kolam lele pun, bisa dijadikan tempat untuk menanam tumbuhan holtikultura.

Ini yang dilakukan Rusmani (43), warga Desa Kedungbulus, Gembong, Pati. Sejumlah kayu dibentuk semacam rakit dengan posisi menjorok ke dalam kolam lele.

Di atas tempat itulah, Rusmani meletakkan ratusan polibag yang ditanami beragam sayuran, mulai dari sawi, bayam, daun bawang, seledri, hingga slada yang identik sulit hidup di daerah bersuhu panas. Tak ayal, sayuran yang ditanam benar-benar subur karena kelembaban bisa terjaga dari kolam lele.

“Selain bisa memanfaatkan lahan sempit, sayuran yang ditaruh di atas kolam lele bisa mendapatkan kelembaban lebih sehingga membuat tanaman subur. Terlebih, air kolam lele juga bisa menyuburkan tanaman,” ujar Rusmani kepada MuriaNewsCom, Kamis (22/10/2015).

Selain sayuran, pada bagian tengah kolam juga ditanami jeruk pamelo yang bisa hidup subur di kawasan Gembong. “Sementara ini, kami manfaatkan satu kolam lele saja. Ke depan, kami akan kembangkan tanaman sayuran di enam kolam lele lainnya,” pungkasnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Urine Ikan Lele Bawa Berkah di Kedungbulus Pati

Rusmani tengah menyiram tanaman sayuran dengan air kolam lele. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Rusmani tengah menyiram tanaman sayuran dengan air kolam lele. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Budi daya lele memang sudah biasa ditemui di berbagai daerah, karena menjadi potensi bisnis yang menjanjikan. Namun, hal itu menjadi luar biasa ketika urine lele beserta dengan limbah dalam kolam dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman.

Pemanfaatan itulah yang dilakukan Rusmani (43), warga Desa kedungbulus, Kecamatan Gembong, Pati yang mencoba memanfaatkan air kolam lele untuk pupuk organik. Lima tahun menggeluti budi daya lele, ide pemanfaatan air kolam untuk pupuk baru terpikirkan sekarang.

Sontak, Rusmani kemudian menanam berbagai jenis sayuran di pinggiran kolam lele, mulai dari sawi, bayam, seledri, selada, hingga daun bawang. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Bisnis lele jalan, panen sayuran setiap hari pun lancar.

“Iseng-iseng saja. Tidak sengaja, ternyata air kolam lele bisa membuat tanaman subur. Akhirnya, saya buat tanaman sayur di sekitar kolam lele. Semuanya subur. Saya pikir, air kolam lele bisa jadi pupuk cair organik yang baik untuk tanaman,” kata Rusmani. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Kelapa Kopyor Pati Jadi Rebutan Pasar Nasional, Petani Kuwalahan

Suratman menunjukkan buah kelapa kopyor yang bagus untuk pembibitan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Suratman menunjukkan buah kelapa kopyor yang bagus untuk pembibitan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kelapa kopyor berkualitas yang hanya bisa dijumpai di wilayah Kecamatan Dukuhseti, Tayu dan Margoyoso menjadi rebutan pasar nasional, terutama Jakarta, Bandung, Bogor, dan Semarang.

Di Desa Alasdowo, Kecamatan Dukuhseti saja, sedikitnya ada 2.558 pohon kelapa kopyor yang siap panen setiap hari. Namun, permintaan di pasar nasional yang begitu banyak membuat petani kuwalahan.

”Pengepul banyak yang rebutan untuk disetorkan ke sejumlah pasar di kota-kota besar. Padahal, puluhan ribu pohon kelapa kopyor yang tersebar di tiga kecamatan siap panen setiap hari,” ujar Suratman, Ketua Perkumpulan Petani Kelapa Kopyor dan Pengusaha Benih Sidodadi Makmur Alasdowo kepada MuriaNewsCom, Sabtu (10/10/2015).

Ia mengaku, kelapa kopyor memang banyak diburu di kota-kota besar. Di Jakarta, satu buah kelapa kopyor dihargai Rp 150 ribu. Sementara itu, harga dari petani, mulai Rp 25 ribu hingga Rp 60 ribu tergantung besar kecilnya buah. (LISMANTO/TITIS W)

Warga Pati Mulai Kembangkan Budidaya Strawberry

Tanaman strawberry milik Adi mulai berbuah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Tanaman strawberry milik Adi mulai berbuah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Tanaman strawberry yang identik hidup di dataran tinggi atau yang bersuhu rendah kini bisa ditanam di daerah dataran rendah yang notanebe bersuhu panas. Tentu dengan cara dan rekayasa tertentu.

Di Pati, misalnya. Tanaman strawberry mestinya tidak bisa hidup. Namun, tidak bagi Adi Arifianto, warga Desa Sidoharjo RT 2 RW 2, Kecamatan Pati Kota.

Ia mencoba untuk membudidayakan strawberry di Pati dan berhasil. ”Harus ada rekayasa tanaman agar menyerupai hidup di dataran tinggi. Salah satunya dengan cara hidroponik,” ujar Adi kepada MuriaNewsCom, Senin (14/9/2015).

Kelembaban, kata dia, menjadi salah satu kunci untuk menanam tumbuhan yang tidak bisa hidup di daerah bersuhu panas. ”Kalau kita bisa membuat suhu lembab dengan kapasitas angin yang cukup, saya kira bisa untuk menanam tumbuhan yang mestinya hidup di dataran tinggi ditanam di daerah kawasan rendah,” tandasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Peternak Ikan Juga Keluhkan Sulitnya Pemasaran

ikan-nila

KUDUS – Tidak hanya mahalnya harga pakan yang menjadi persoalan, namun penjualan hasil panen, juga seringkali menjadi keluhan para peternak ikan. Hal itu sudah terjadi selama dalam kurun waktu yang cukup lama.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kudus Budi Santoso mengatakan, selain pakan, kendala dalam bidudaya ikan adalah pada pemasarannya. Katanya, kebanyakan para pembudidaya ikan hanya menjual ke pasar.

“Kadang kalau panen harga bisa anjlok, sehingga hal tersebut dapat merugikan para peternak ikan, dan hal ini membuat peternak lele putus asa, karena harga jual yang murah, sedangkan harga pakan tinggi,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menyikapi persoalan tersebut, katanya, dinas membuatkan Unit Pengelolaan Perikanan (UPP). Dengan adanya kelompok itu, diharapkan dapat memecahkan persoalan yang selama ini melanda para pembudidaya ikan.

”UPP sudah terbentuk Rabu (14/1/2015). Anggotanya baru kelompok ikan pembenihan dan ikan pembesaran. Jadi dengan adanya wadah ini, mereka dapat memberitahukan keluhan mereka dan mencari solusi bersama,” ujarnya.

Dia menambahkan, pertemuan rutin antarpeternak akan dilakukan. Kemudian, proyeksi pembentukan UPP sendiri adalah untuk menggandeng perusahaan dalam menyuplai pakan. Sehingga, para pembudidaya dapat harga yang lebih murah. Selain itu juga, pihaknya berharap supaya pakan nantinya dapat dibayar ketika panen. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Usaha Budidaya Ikan Diombang-ambing Mahalnya Harga Pakan

Ilustrasi ikan

Ilustrasi ikan

 

KUDUS – Sebagian peternak ikan kini dalam kondisi yang sulit. Hal ini, karena mahalnya harga pakan ikan di pasaran.Dengan hal ini, sangat berdampak terhadap hasil produksi yang semakin sedikit.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kudus Budi Santoso mengatakan, para pengusaha budidaya ikan kerap mengeluhkan mahalnya harga pakan. Alhasil, para peternak ikan tak jarang harus mengurangi pembelian pakan.

”Selama ini para pembudidaya ikan selalu mengeluh tentang pakan. Sebagian besar mereka mengeluh, karena mengalami kerugian, yang akhirnya mereka mikir-mikir kalau mau melanjutkan usahanya tersebut,” kata Budi, kepada MuriaNewsCom

Menurutnya, tidak hanya peternak mandiri saja, peternak ikan yang merupakan kelompok binaan dari dinas juga mengalami hal yang sama. Banyak yang mengeluhkan tentang mahalnya harga pakan.

Dia mengatakan, kebanyakan para pembudidaya ikan membeli pakan dalam paket kiloan per karung. Namun harganya terlalu mahal, sehingga jika panen tidak sesuai dengan modal yang sudah dikeluarkan. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Yuk, Timba Ilmu Budidaya Lele di Komunitas Peternak Lele Sangkuriang

 

Lele sangkurian yang berada di kolam sedang diberi makan (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

Lele sangkurian yang berada di kolam sedang diberi makan (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

 

KUDUS – Salah satu varietas lele, yakni lele sangkuriang, menjadi tren hingga sekarang. Di berbagai kota di Indonesia, termasuk di wilayah Kudus, juga diperkenalkan lele sangkuriang. Fitrahuddin, ketua Komunitas Lele Sangkuriang Kudus, bersama 15 anggotanya bergerak cepat memperkenalkan lele sangkuriang sejak tahun 2011. Mereka mengawalinya dengan modal minim dan terbentuklah komunitas tersebut hingga sekarang.

“Komunitas ini kumpulan dari para petani lele sangkuriang. Saya tidak menamai paguyuban seperti halnya perkumpulan atau paguyuban tani. Karena memang berdiri untuk berkumpulnya para pecinta lele sangkuriang,” ungkap Fitrah, saat ditemui di rumahnya di desa Blimbing Kidul, Kaliwungu, Kudus.

Fitrah menjelaskan, pemberian nama lele sangkuriang didasarkan cara pembudidayaan ikan air tawar ini. Secara singkat, lele jenis ini dikawin silang antara lele betina generasi F2 dengan lele jantan generasi F6. Sama halnya dengan legenda cerita Sangkuriang dari Jawa Barat, yakni anak laki-laki ingin menikahi ibunya sendiri tetapi tidak terpenuhi. Sedangkan untuk lele sangkuriang ini diperbolehkan terjadi perkawinan silang antara induk (lele betina) dengan anaknya sendiri.

Menurut Fitrah, di wilayah Kudus sendiri belum terdapat komunitas lele sangkuriang. Untuk itu, ia memilih mengumpulkan para petani yang berminat membudidayakan lele sangkuriang. Selama empat tahun berjalan, 15 orang terlibat sebagai anggota aktif. Masing-masing anggota memiliki tugas. Seperti Fitrah, yang setiap harinya mengawinkan lele sangkuriang. Sedangkan teman-temannya memasarkan lele sangkuriang ke berbagai pelanggan atau pasar-pasar.

“Selain itu juga kami sealu berkumpul untuk sharing, berbagi cerita tentang lele sangkuriang ini. Rata-rata para anggota adalah orang awam yang tidak mengetahui terlalu detail tentang lele sangkuriang ini,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan, anggotanya pun tidak hanya dari wilayah Kabupaten Kudus sendiri, tetapi juga dari berbagai wilayah seperti Pati, Grobogan, Jepara, dan sebagainya.

Fitrah berharap, lele sangkuriang ini dapat lebih dikenal masyarakat Kabupaten Kudus dan sekitarnya. Terutama di wilayah eks Karesidenan Pati.”Ternak lele sangkuriang lebih mudah. Panen setiap dua bulan sekali,” pungkasnya. (HANA RATRI/KHOLISTIONO)

Hebatnya Budi Daya Selada Organik di Pati. Mau Tahu?

Darmono tengah mencabuti rumput yang tumbuh di antara selada organik yang ia tanam. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

Darmono tengah mencabuti rumput yang tumbuh di antara selada organik yang ia tanam. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Selama ini, tanaman selada tidak mendapatkan ruang di hati petani Pati. Ini wajar, mengingat tanah dan suhu di daerah Pati tidak cocok untuk ditanami selada.

Padahal, selada menyimpan agrobisnis yang menjanjikan. Betapa tidak, nilai jual selada jauh lebih mahal berlipat-lipat ketimbang sawi.

Hal inilah yang mulai digarap Darmono (30), warga Desa Pagendisan, Kecamatan Winong. Ia mencoba untuk mengembangkan budidaya selada yang selama ini belum dilirik petani di Pati.

Tak tanggung-tanggung, ia budidaya selada organik tanpa melibatkan bahan kimia dalam penanamannya. “Lahannya memang harus direkayasa, yaitu terbuat dari pupuk kotoran sapi yang sudah menjadi tanah. Ini mulai saya kembangkan di Pati,” kata Darmono. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)