Fasbuk Akan Gelar Kegiatan Tari Karya Sanggar Seni Ciptoning Asri Kudus

MuriaNewsCom, Kudus – Info terbaru, Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (Fasbuk) yang didukung Bakti Budaya Djarum Foundation bekerja sama dengan HMP SI Universitas Muria Kudus akan kembali menggelar lawatan rutin sastra dan budaya. Kali ini menampilkan pertunjukan tari dan diskusi budaya dengan menghadirkan judul “Nitik Sasmaya” di auditorium Universitas Muria Kudus, Kampus Gondangmanis, Sabtu (19/8/2017) pukul 19.30 WIB.

Ketua Badan Pekerja Fasbuk Arfin mengatakan, edisi Agustus 2017 mengangkat sebuah pertunjukan tari karya dari Sanggar Seni Ciptoning Asri Kudus, dengan judul ” Nitik Sasmaya ” (Keindahan dari Gabungan Titik-titik). “Sebuah pertunjukan yang akan menggambarkan keindahan karya batik yang telah ada secara turun temurun dan dilestarikan sampai sekarang. Membatik merupakan salah satu pembelajaran pengendalian diri, mempererat tali persaudaraan dan persatuan,” katanya dalam rilis pers ke MuriaNewsCom.

Proses pembuatan batik dari mulai menggambar pola, nyanting, hingga nglorot yang dilakukan dengan bekerja sama, akan menghasilkan karya yang indah sebagai bukti keindahan dari negeri ini. Dalam pengkaryaan tersebut terdapat nilai-nilai luhur pembelajaran tentang makna dan nilai-nilai kehidupan. Semua itu akan dirangkai dalam sebuah rangkaian koreografi yang akan dimainkan oleh para penari dari Sanggar Seni Ciptoning Asri. Selain pertunjukan nantinya juga akan dilanjutkan dengan sesi bincang-bincang bersama tentang proses penciptaan karya Nitik Sasmaya.

Tentang Fasbuk, adalah ruang kerja fisik dan pemikiran secara kontinyu untuk mencipta inovasi serta varian-varian sebuah paket kemasan kegiatan dalam bidang kesusasteraan dan kesenian lokal yang nantinya mampu menjadi aset atas keberagaman kebudayaan nasional dan dekat masyarakatnya sehingga tercapai ruang bersama untuk saling berbagi, bertukar pikiran, demi sebuah cita-cita luhur tumbuhnya nilai-nilai kesadaran manusia yang berbudaya.

Editor : Akrom Hazami

Fasbuk Sukses Adakan Kegiatan Sastra “Kreatif itu Keren”

Salah satu penyair muda membacakan karya puisi dalam perhelatan Fasbuk di Auditorium Universitas Muria Kudus, Kampus Gondangmanis PO. BOX 53 Bae, Kudus, Selasa (31/1/2017) malam. (ISTIMEWA)

Salah satu penyair muda membacakan karya puisi dalam perhelatan Fasbuk di Auditorium Universitas Muria Kudus, Kampus Gondangmanis, Kudus, Selasa (31/1/2017) malam. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (Fasbuk) yang didukung Bakti Budaya Djarum Foundation, bekerjasama dengan KSR PMI Universitas Muria Kudus,  akhirnya sukses menggelar diskusi serta pertunjukan dengan tema “Kreatif Itu Keren” di Auditorium Universitas Muria Kudus, Kampus Gondangmanis, Bae, Kudus, Selasa (31/1/2017) malam.

Panitia Arfin AM mengatakan, kegiatan Fasbuk edisi Januari 2017 menghadirkan Sastrawan Aceh dan Tangerang. Selain diskusi, digelar pertunjukan pembacaan puisi dari  penyair muda Kudus yang mengapresiasi atas karya kedua narasumber, Mustafa Ismail dan Iwan Gunadi.

“Mereka merupakan dua sosok sastrawan atau penulis yang mempunyai ciri  khas dalam karyanya. Keduanya mempunyai bekal pengalaman perjalanan yang hampir sebanding dalam hal “menulis”, Mustafa Ismail seorang penulis kelahiran Aceh, sekarang tinggal di Jakarta aktif  di majalah Tempo sebagai Direktur Seni / Budaya. Banyak karyanya yang dimuat di berbagai media cetak lokal maupun nasional,” katanya.

Sedangkan Iwan Gunadi  seorang penulis yang mempunyai  pengalaman menjadi seorang “pendidik” ini sejak tahun 2008 merupakan seorang penulis dan penyunting lepas bagi organisasi dan perusahaan. “Kejujuran dan semangat yang membuat keduanya sekarang bertahan sebagai penyair,” ujarnya.

Diskusi  dimoderatori oleh salah satu satrawan Kudus Jumari HS. Kegiatan berjalan meriah. Fasbuk mengadakan acara rutin setiap bulannya. 

Editor : Akrom Hazami

Bina Budaya Jawa, Ini yang Dilakukan Permadani Blora

Para peserta sedang melakukan pendidikan kursus oleh Permadani Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Para peserta sedang melakukan pendidikan kursus oleh Permadani Blora (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Pemberdayaan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia (Permadani) Kabupaten Blora merekrut 34 peserta didik Angkatan VIII (Bregade VIII) tahun 2016. Mereka dididik untuk lebih faham dan detail perihal budaya leluhur tanah Jawa, melalui kursus pranatacara.

Mereka dididik selama enam bulan, dengan tempo sepekan dua kali, yakni setiap Jumat sejak pukul 14.00 WIB dan setiap Minggu pukul 09.00 WIB di Dinas Perhubungan Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika (DPPKKI) Blora.

Suntoyo, Kepala Bidang Kebudayaan DPPKKI mengungkapkan, Permadani merupakan organisasi yang melestarikan budaya nasional Indonesia. Tujuannya antara lain adalah menggali, membuka dan melestarikan kebudayaan peninggalan para leluhur.

Kelas kursus Pranatacara dibuka untuk melestarikan adat budaya Jawa. Para peserta didiknya datang dari berbagai kalangan. Di antaranya dari mahasiswa, pegawai kantoran, anggota Polri dan TNI hingga pensiunan.

Para peserta mendapatkan berbagai materi dari sejumlah pakar budaya Jawa di Blora. Yaitu mengenal tata cara busana khas Jawa dalam ngedi busana, kemudian gendhing Jawa dalam sekar dan gendhing kepranatacaraan.

”Dan yang tidak ketinggalan subasita atau budi pekerti. Materi yang diberikan, 60 persen praktik dan 40 persen teori,” imbuhnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Kegiatan Budaya yang Disisipi Bazar Bikin Acara Kian Wow

Kegiatan expo yang diadakan di Loram, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kegiatan expo yang diadakan di Loram, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Maraknya kegiatan budaya yang di dalamnya disisipi bazar atau pameran produksi, memang membuat acara kian menarik.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus Sunardi mengatakan kegiatan kebudayaan yang ada expo atau bazar memang mampu menarik minat warga untuk datang.

“Tapi harapannya itu tidak membuat masyarakat menjadi konsumtif,” kata Sunardi. Adanya kegiatan expo sedikit banyak sangat mampu meningkatkan kreativitas atau kreasi dalam berwiraswasta. Sehingga peningkatan ekonomi masyarakat akan bisa tercapai.

Dia mencontohkan, untuk acara terbaru yang menyisipkan bazar beberapa waktu terakhir adalah Ampyang Maulid dan karnaval Patiayam di Terban, Jekulo.

“Yang penting kegiatan expo itu bisa bermanfaat secara luas serta berjangka panjang. Yakni masyarakat bisa ikut berperan aktif serta menambah pengetahuan berkreativitas menonjolkan produk buatannya untuk dipasarkan,” paparnya. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

Kenalkan Sejarah, Pemuda Terban Adakan Festival Pati Ayam

Festival Pati Ayam (e)

Segenap panitia dan warga saat mengikuti kirab Pati Ayam yang termasuk dalam serangkaian acara Festival Pati Ayam, Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus, Minggu (20/12/2015). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Guna mengenalkan sejarah purbakala kepada masyarakat, para pemuda Desa Terban, Jekulo mengadakan Festival Pati Ayam. Kegiatan yang didukung oleh pihak desa, kecamatan serta kabupaten tersebut bertujuan memberikan pendidikan tersendiri kepada masyarakat luas supaya bisa bersama-sama menjaga serta merawat sejarah.

Ketua kegiatan Festival Pati Ayam Terban Khoris Roviadi mengatakan, meskipun Situs Pati Ayam ini sudah dikenal sebagian kalangan masyarakat sekitar. Namun pihaknyajuga perlu untukmengangkat atau mengenalkan tempat ditemukannya fosil manusia purba ini kepada khalayak yang lebih luas lagi dengan cara yang berbeda.

Sebelumnya acara semacam ini juga pernah terselenggara, yaitu pada tahun 2014. Dan ini merupakan kali kedua dan bertempat di lapangan Desa Terban, Jekulo. Kegiatan ini diharapkan sebagai sarana mengeksplorasi pengetahun para pengunjung. Baik itu dari wilayah Kudus ataupun sekitarnya.

”Acara yang kali kedua ini kami tambahkan dengan kirab Pati Ayam, yang diikuti oleh siswa SD serta warga,” paparnya.

Dengan adanya kirab tersebut, bisa menarik perhatian masyarakat. Dan kedepan, membuat masyarakat lebih antusias untuk selalu berkunjung serta ingin tahu terhadap peninggalan sejarah purbakala tersebut di Situs Pati Ayam. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Empat Seni Kebudayaan ini Bisa Punah Jika Tidak Dilestarikan Pemuda Rembang

ilustrasi

ilustrasi

 

REMBANG – Kabupaten Rembang memiliki sejumlah seni kebudayaan yang cukup unik. Berikut beberapa seni kebudayaan khas Kabupaten Rembang versi Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Rembang.

1. Emprak
Emprak merupakan bentuk seni trasional drama yang masih eksis di Kwangsan, Kecamatan Kaliori, Rembang. Kesenian tradisonal ini mirip dengan seni kethoprak. Tapi pada awal penyajian acara ditampilkan atraksi yang membawa tari Remong Anak diiringi gamelan dan rebana.
Para pemain emprak, biasa pentas di emper rumah dan lesehan (nglemprak). Akhirnya lama kelamaan disebut dengan seni emprak. Cerita dalam kesenian Emprak ini mengambil cerita sejarah dalam kehidupan di kerajaan Majapahit.

2. Rodhad
Rodhad merupakan sejenis kesenian tradisional yang semula tumbuh dan berkembang di lingkungan pesantren di Rembang. Seni tari dan dendang lagunya syarat dengan syair petuah, gerakan tarinya pun konon sebuah runutan seni bela diri yang terbungkus dalam indahnya gerak.
Kesenian ini merupakan seni gerak dan vokal diiringi tabuhan rebana. Syair-syair yang dinyanyikan bernafaskan keagamaan, yakni puja-puji yang mengagungkan Allah SWT dan Rasulullah. Selain bernafaskan keagamaan, biasanya syair yang dinyanyikan berkisah tentang pengorbanan para Kiai dan rakyat menentang penjajahan kompeni Belanda saat Indonesia belum merdeka.

3. Gandario
Tari Gandario merupakan kesenian khas Rembang yang berasal dari Desa Kedungtulup, Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang. Kesenian tradisional masyarakat khas Kabupaten Rembang ini berbentuk drama atau sandiwara dengan mengangkat cerita rakyat yang legendaris yaitu ande-ande lumut.
Awalnya tari Gandario adalah penggambaran pengungkapan perasaan cinta dua insan sehingga gerakannya erotis yang dilambangkan dengan kekuatan otot pria dan lemah gemulainya wanita.

4. Pathol Sarang
Pathol Sarang merupakan kesenian tradisional yang berkembang di lingkungan pesisir pantai terutama di Kecamatan Sarang Rembang. Kesenian ini mempertunjukan adu kekuatan antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya.

Tiap-tiap kelompok mempunyai algojo atau jago kepruk. Selain itu, setiap kelompok juga mempunyai satu orang landang (promotor) yang bertugas menunjukan atau memamerkan kekuatan jagonya dalam adu kekuatan yang sangat akrobatik.

Kepala Disbudparpora Rembang, Sunarto menyatakan pihaknya sangat mendukung keberlangsungan seni tradisional di Rembang. Menurutnya kalau tidak masyarakat Rembang sendiri, siapa lagi yang akan melestarikan warisan leluhur. ”Jangan sampai masyarakat Rembang justru tidak tahu seni kebudayaan di daerahnya sendiri,” tandasnya ketika ditemui MuriaNewsCom, Senin (13/12/2015). (AHMAD WAKID/TITIS W)

Tahukah Anda, Jika Pohon Langka Ini Cuma Ada di Kaliwungu Kudus

Acara pemotongan pita yang dilakukan Kades Kaliwungu dalam rangka pembukaan Sendang Kaliwungu (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Acara pemotongan pita yang dilakukan Kades Kaliwungu dalam rangka pembukaan Sendang Kaliwungu (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Di sekitar Sendang Kaliwungu yang berada di Dukuh Kaliwungu, Desa Kaliwungu, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, terdapat pohon langka yang tumbuh, dan hanya ada di situ. Jumlahnya pohon langka tersebut ada dua.

Kedua pohon ini diyakini sudah ada sejak ratusan bahkan ribuan tahun lalu. Meski jenisnya berbeda, namun kedua pohon tersebut  memiliki ukuran yang sama besar.

”Ada dua pohon yang terdapat di sekitar sendang, yakni pohon gempol dan pohon wungu,” kata Roni, pengurus Sendang Kaliwungu kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, kedua pohon tersebut hanya terdapat disana. Bahkan, lingkungan desa dan disekitar desa tidak dijumpai pohon serupa seperti di sekitar sendang.

Namun belakangan, muncul bibit pohon tersebut disekitar sendang. Beberpa warga, perangkat desa dan petugas kecamatan juga hendak menanam pohon tersebut, namun dari warga belum memperbolehkan.”Nanti sajalah, kalau sudah musim hujan. Soalnya pohonnya bagus, kalau berbunga  warnanya ungu,” jelasnya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Sendang Bersejarah di Desa Kaliwungu Kembali Dihidupkan

Acara pemotongan pita yang dilakukan Kades Kaliwungu dalam rangka pembukaan Sendang Kaliwungu (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Acara pemotongan pita yang dilakukan Kades Kaliwungu dalam rangka pembukaan Sendang Kaliwungu (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Sendang bersejarah di Desa Kaliwungu, Kudus, yakni Sendang Kaliwungu kembali dihidupkan warga. Hal itu dilakukan untuk menunjukkan kepada masyrakat tentang sejarah desa tersebut yang berhubungan pada sendang.

Roni, pengurus Sendang Kaliwungu mengatakan, sendang tersebut sebenarnya sudah lama ingin dibuka kembali, hanya karena awalnya tanah tersebut milik seorang warga, maka tidak dapat dilakukan pengembangan untuk perawatan sendang.

”Sekarang sudah milik desa, jadi sudah dapat dilakukan pembenahan terkait sendang yang terdapat di Dukuh Kaliwungu, Desa Kaliwungu, Kecamatan Kaliwungu tersebut,” katanya saat ditemui MuriaNewsCom.

Sekretaris Desa Kaliwungu Zunakha mengatakan, sendang tersebut berpengaruh pada keberadaan dan nama desa Kaliwungu. Untuk versi pertama, penamaan Desa Kaliwungu tak lepas dari cerita pertarungan Arya Penangsang, yang darahnya mengalir di sugai desa tersebut dan mengakibatkan airnya berwarna ungu.

“Kemudian, untuk versi kedua juga ada yang menyebutkan bahwa nama Desa Kaliwungu berasal dari sendang yang mengalir air yang jernih dan deras bagaikan sungai.Di mana, di sekeliling sendang tersebut tumbuh pohon wungu, yakni pohon yang getah dan bunganya berwarna ungu. Dari situlah nama Desa Kaliwungu berasal,” ungkapnya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Ada Tradisi Unik Jamaah Salat Idul Adha di Desa Bangoan Usai Salat

Sejumlah jamaah usai salat Idul Adha di masjid Al Mutaqin bersiap untuk menyantap nasi tumpeng bersama-sama. Hal itu merupakan tradisi sejak dahulu di desa Bangoan setiap usai salat ied. (MuriaNewsCom/Priyo)

Sejumlah jamaah usai salat Idul Adha di masjid Al Mutaqin bersiap untuk menyantap nasi tumpeng bersama-sama. Hal itu merupakan tradisi sejak dahulu di desa Bangoan setiap usai salat ied. (MuriaNewsCom/Priyo)

 

BLORA – Hari ini sebagian umat Islam merayakan hari raya Idul Adha. Begitu juga masyarakat di Desa Bangoan, Dukuh Banyubang, Kecamatan Jiken, yang sebagian besar melaksanakan salat ied Adha hari ini di masjid Al Mutaqin. Namun jamaah yang hadir tidak sebanyak ketika salat Idul Fitri beberapa waktu lalu.

”Salat hari raya Idul Adha tahun ini tidak bersamaan, ada yang sudah merayakannya kemarin. Namun meskipun tidak bersamaan, di sini tetap rukun dan berjalan lancar,” jelas salah satu tokoh Agama Sujono, Kamis (24/9/2015).

Ia menjelaskan, salat Idul Adha dimulai pukul 06.00 WIB. Diperkirakan jamaahnya berkurang hampir 20 persen. ”Jamaahnya lebih sedikit, dikarenakan banyak warga yang merantau tidak pulang ke kampung halaman. Berbeda pada saat hari raya Idul Fitri mereka pulang semua dan halaman masjid penuh. Sebagian besar para pelajar juga mengikuti salat ied di sekolahnya,” ungkapnya.

Susanto sebagai khotib mengajak para jamaah salat ied, untuk bisa memaknai hari raya kurban ini dengan mengingat dan belajar dari keikhlasan Nabi Ibrahim AS. ”Mari kita tingkatkan iman dan takwa kita kepada Allah, agar nantinya kita dapat syafaat di akhir yaumil nanti,” jelasnya.

Pihaknya juga tak lupa mengajak jamaah untuk berkurban bagi yang mampu dan mengajak mulai hari ini untuk bisa lebih mendekatkan diri pada sang kuasa. Sehingga makna untuk selalu mengenang ketika Nabi Ibrahim AS harus menyembelih putranya Ismail AS untuk berkurban, demi kecintaan Ibrahim kapada Allah harus dijadikan tauladan bagi semua umat Islam, bahwa apa yang menjadi kehendak Allah harus kita lakukan dengan ikhlas.

Sekedar diketahui usai salat ied sebagian jamaah tak lekas pulang. Mereka membawa tumpeng untuk dimakan bersama. Hal ini sudah menjadi tradisi di desa tersebut, untuk mempererat rasa persaudaraan antar warga. (PRIYO/TITIS W)

Saat Anak Seusianya Gemari JKT 48, Elvia Asyik  Memainkan Wayangnya di Blora

Elvia Trisnawati, satu-satunya dalang cilik perempuan yang ada di Blora. (MuriaNews/Priyo

Elvia Trisnawati, satu-satunya dalang cilik perempuan yang ada di Blora. (MuriaNews/Priyo

 

BLORA- Elvia Trisnawati, Siswi SD Kemiri II Jepon, Blora merupakan satu-satunya dalang wanita yang berada di Kabupaten Blora.

Dia mulai menggeluti dunia wayang pada kelas 5 SD semester II. Gadis yang lahir pada tanggal 4 Februari 2004 itu sudah mahir memainkan wayang.

”Awalnya ya sering lihat bersama bapak kok kayaknya menarik jadi lama kelamaan menjadi suka,” kata Elvia, Sabtu (8/8/2015).

Selain itu juga, dia tertarik karena sering mendapat dorongan dari orang tua dan guru.

“Ndak malu, awalnya sebelum punya wayang latihannya menggunakan kardus, dan sekarang latihan di sanggar Yudistiro di Desa Kemiri Rt 5/4 Kecamatan Jepon,” ungkapnya.

Dalang yang suka dengan tokoh perwayangan Gatot Kaca dan Srikandi ini mengaku senang bisa tampil di acara wayangan rutin malam Jumat Pon di Blora.

Sementara itu pengasuh dari Elvia, yang juga pemilik sanggar dalang Yudistiro , Hartono Gondomartono mengatakan daya semangat dan jiwa seni yang dimiliki oleh Elvia sangat tinggi sehingga tak heran belum ada satu tahun dia sudah terampil memainkan wayang dan sudah berani tampil di depan umum.

“Peningakatannya sangat cepat, ia juga sering latihan di rumah dengan wayang yang dimilikinya. Dan dia juga hanya satu-satunya dalang wanita yang ada di Blora. Bahkan hanya satu-satunya dalang wanita yang ada di eks Karesidenan Pati,” ujar Hartono.

Dia berharap nantinya akan ada srikandi- srikandi Blora bisa ikut melestarikan seni wayang yang ada di wilayah setempat.

“Mudah-mudahan dengan adanya dalang cilik wanita. Supaya tidak tergerus dengan budaya-budaya lainya yang mulai bermunculan” harapnya. (PRIYO/AKROM HAZAMI)

Inilah Urutan Acara Kirab Parade Sewu Kupat Desa Colo

Taman Ceria Colo yang menjadi lokasi atau tempat finish Kirab Parade Sewu Kupat yang diselenggarakan Jumat (24/7/2015), dan dibuka oleh Bupati Kudus Musthofa pada pukul 07.00 WIB. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Taman Ceria Colo yang menjadi lokasi atau tempat finish Kirab Parade Sewu Kupat yang diselenggarakan Jumat (24/7/2015), dan dibuka oleh Bupati Kudus Musthofa pada pukul 07.00 WIB. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

KUDUS – Kirab Parade Sewu Kupat yang diadakan setiap hari ke tujuh Lebaran di Desa Colo, Kecamatan Dawe, telah terkonsep matang. Acara tersebut diselenggarakan Jumat (24/7/2015), yang akan menyedot perhatian masyarakat Kudus maupun luar Kota Kudus. Lanjutkan membaca

BBGRM ke –XII & HKG PKK ke-43 Dicanangkan

Bupati Jepara Ahmad Marzuki membuka Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) ke-XII dan Peringatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-43 tingkat Kabupaten Jepara yang ditandai dengan pemukulan kentongan di lapangan Desa Bendanpete, Kecamatan Nalumsari, Jepara, Rabu (6/5/2015). (MURIANEWS / WAHYU KZ)

JEPARA – Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) ke-XII dan Peringatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-43 tingkat Kabupaten Jepara dicanangkan.

Lanjutkan membaca