BPBD Rembang Minta Fasilitas Umum Dilengkapi APAR

Ilustrasi

MuriaNewsCom,Rembang – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang mengimbau pemilik hotel, penginapan, restoran maupun perkantoran, perbankan, toko, mini market, pasar, rumah untuk menyediakan alat penjinak api ringan (APAR).

Kepala BPBD Rembang Suharso mengatakan, dengan peralatan pemadam kebakaran yang sederhana seperti APAR, masyarakat bisa dengan cepat memadamkan titik api, sambil menunggu kedatangan mobil pemadam kebakaran.

 “Meski terlihat kecil dan sederhana, namun keberadaan APAR seringkali diabaikan pemilik gedung. Padahal ketika timbul kebakaran, sangat penting untuk langkah awal pemadaman api,” ujarnya, Jumat (12/5/2017).

Menurut Suharso , dalam menekan sekecil mungkin bencana alam baik yang terjadi karena alam maupun akibat kelalaian manusia apalagi masalah api.

Kemudian, mengenai, jumlah kasus kebakaran yang ada Rembang, pihaknya tidak menjelaskan secara rinci berapa jumlahnya. “Saya tidak ingat betul berapa. Cuma, kalau untuk penyebabnya, rata-rata akibar korsleting listrik dan juga obat nyamuk,” katanya.

Dirinya juga menyampaikan, jika selama ini pihaknya masih terkendala medan untuk melakukan penanganan kebakaran. Apalagi, wilayah Rembang sangat luas dan terkadang kejadiannya berada di tengah-tengah perkampungan yang padat penduduk. Sehingga, terkadang memperlambat penanganannya.

Editor : Kholistiono

100 Orang Ikuti Latihan Gabungan Penanganan Bencana

Bupati Rembang Abdul Hafidz memberikan pengarahan kepada peserta latihan gabungan. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Seratus orang dari BPBD Rembang, TNI, dan Polri mengikuti latihan gabungan penyelematan, evakuasi dan penanganan pengungsi (PEPP) yang digelar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah di lantai IV  Kantor Setda Rembang, Selasa (11/4/2017).

Kasi PEPP BPBD Jawa Tengah Sonny mengatakan, latihan gabungan tersebut digelar selama dua hari, yakni 11-12 April 2017. Dengan adanya latihan gabungan tersebut, diharapkan dapat memberikan pengetahuan dalam penanganan bencana.

Pihaknya memilih Kabupaten Rembang untuk latihan gabungan ini, lantaran daerah Rembang masuk kategori minim rawan bencana. “Berhubung minim rawan bencana, maka warganya juga tidak serta merta tahu akan penanganan bencana. Selain itu, penyelenggaraan latihan gabungan ini juga lantaran ada kabar bahwa tahun kemarin ada banjir di daerah Rembang, sehingga latihan ini dinilai perlu dilakukan,” katanya.

Selain Rembang, pihak BPBD Jawa Tengah juga akan menggelar latihan gabungan di Kabupaten Brebes. Dirinya berharap, nantinya, peserta yang ikut latihan gabungan dapat memberikan pengalamannya kepada masyarakat.

Perlu diketahui, latiham gabungan ini dilakukan dengan dua tahap. Yakni tahap pertama mengenai teori dan tahap kedua mengenai praktik evakuasj. Sedangkan dalam latihan ini, juga mendatangkan pelatih dari BPBD Provinsi, TNI, polisi dan BPBD Rembang.

Kepala BPBD Rembang Suharso  mengutarakan, dengan latihan ini, diharapkan bisa merubah cara berpikir masyarakat. Yakni bisa saling membantu, bisa saling bahu membahu menanggulangi bencana di lingkunganya masing-masing.

“Selain itu juga bisa memetakan wilayah mana yang dianggap rawan bencana. Sehjngga nantinya bisa dilaporkan kepada BPBD setempat,” ujarnya.

Bupati Rembang Abdul Hadidz mengatakan, penanganan bencana itu ada 3 hal. Yakni penananganan masa kritis, penanganan masa terkendali dan penanganan masa pemulihan.

“Penanganan masa kritis yakni jika bencana tersebut belum tertangani ahlinya. Maka masyarakat harus bisa terjun, turun tangan. Oleh sebab itu, ilmu atau pengetahuan latihan gabungan ini nantinya bisa disalurkan kepada masyarakat.,” ungkapnya.

Sedangkan penanganan masa terkendali yakni penanganan di saat bencana jtu sudah ditangani oleh pihak terkait. Baik pemerintah dan lainnya. Sehjngga, masyarakat bisa ikut serta bahu membahu dan menolongnya. Sedangkan penanganan masa pemulihan yakni penanganan untuk memulihkan pascabencana.

Editor : Kholistiono

 

Stok Logistik untuk Bantuan Bencana di Rembang Kian Menipis

Ilustrasi

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Rembang – Stok logistik untuk bantuan korban bencana yang dimiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang semakin menipis. Hingga pertengahan Desember 2016 ini, stok logistik tersisa senilai Rp 4.250.000.

Logistik senilai Rp 4.250.000 tersebut, adalah berasal dari APBD Kabupaten Rembang. Rincian logistik yang tersisa dari APBD Rembang adalah 10 kilogram beras, 143 liter minyak goreng, 132 botol kecap, 10 botol saus, 2 kilogram gula pasir, 110 buah teh serta 13 kardus air mineral.

Sedangkan untuk logistik bantuan Pemprov Jateng yang tersisa saat ini berupa 520 buah teh dan 13 kardus air mineral, 1 buah selimut, 15 buah pembalut wanita, 20 buah tenda gulung, 9 buah panci, 9 buah wajan, 6 buah tikar, 700 buah masker, 6 paket alat kesehatan, 40 paket matras serta 19 buah kantong mayat. Jika ditotal, nominalnya sebanyak Rp 18.872.770.

Terkait kondisi tersebut, pihak BPBD juga mengakui kelabakan, jika nantinya terjadi musibah atau bencana besar. Logistik yang ada tak akan bisa memback up dengan maksimal. Bantuan yang ada, sifatnya hanya bisa mengkover bencana dengan skala kecil saja.

Kepala BPBD Rembang Suharso melalui Kasi Logistik Akhmad Makruf mengatakan, jika nantinya terjadi bencana besar pada Desember ini, maka pihaknya hanya bisa mengharapkan bantuan dari pihak ketiga untuk penanganannya.

“Stok yang tersedia saat ini hanya untuk penanganan bencana kecil. Jika terjadi bencna besar seperti banjir di Kriklan, Kecamatan Sumber, maka harus mengharap bantuan dari kalangan swasta,” ungkapnya.

Selain itu, pihaknya juga bakal memastikan bahwa semua stok logistik  yang tersisa hingga Desember tahun ini masih layak digunakan alias tidak kedaluarsa. Pasalnya, pengecekan berkala selalu dilakukan oleh petugas terhadap stok logistik yang ada.

“Yang paling rawan kedaluarsa barang tersebut yakni mi instan. Sebab, makanan tersebut paling lama hanya bertahan selama 6 bulan saja. Oleh karena itu, BPBD tidak berani menyediakan stok mi instan terlalu banyak,” ucapnya.

Editor : Kholistiono

Juremi Hanyut Terseret Arus saat Menyeberang Sungai Gampeng

Petugas dari BPBD sedang melakukan pencarian terhadap korban yang hanyut di Sungai Gampeng, Rabu (7/11/2016). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Petugas dari BPBD sedang melakukan pencarian terhadap korban yang hanyut di Sungai Gampeng, Rabu (7/11/2016). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Juremi (57) hanyut terbawa arus Sungai Gampeng, di Desa Jeruk, Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang. Juremi, yang merupakan warga Desa Jeruk RT 4 RW 1, hanyut terseret arus ketika menyeberang sungai tersebut, pada Rabu (7/12/2016).

Informasi yang dihimpun, kejadian tersebut bermula ketika Juremi yang merupakan buruh tani tebu hendak menyeberang sungai bersama rekannya Watari dan Sumaji, usai pulang bekerja di persawahan tebu. Insiden ini, terjadi sekitar pukul 10.00 WIB.

“Saat itu, saya beserta Sumaji dan Juremi hendak menyeberang sungai. Juremi menyeberang dahulu dan di tengah perjalanan atau sampai tengah sungai, Juremi tiba-tiba terseret arus sungai,” kata Watari, saksi mata yang juga rekan korban.

Melihat rekannya terseret arus sungai tersebut, kemudian, Watari dan Sumaji mencoba melakukan pertolongan dengan berlari di tepi sungai. Namun, hal itu tidak membuahkan hasil. Mereka berdua kemudian juga mencoba menyisir sungai, namun, korban belum bisa ditemukan dan akhirnya melaporkan kejadian tersebut ke pihak desa.

Sementara itu, Kepala Desa Jeruk Nyiwarti mengatakan, Sungai Gampeng tersebut kedalamannya sekitar  2 meter. Namun, arus yang ada di bawah cukup kencang. Terlebih di saat musim hujan seperti saat ini.

“Untuk kejadian semacam ini memang baru kali pertama. Sebab selama ini orang-orang yang menyeberang di sungai aman. Mungkin, karena pada saat korban menyeberang, arus sungai cukup deras, karena usai hujan,” ungkapnya.

Untuk diketahui, saat ini tim dari BPBD, Polsek Pancur sedang melakukan pencarian terhadap korban, dengan menyisir Sungai Gampeng. Pencarian terhadap korban dimulai dari titik TKP hingga ke hilir sungai.

Editor : Kholistiono

Musim Hujan, BPBD Rembang Imbau Warga Waspada Pohon Tumbang dan Petir

Pohon tumbang di Jalan Pemuda Rembang beberapa waktu lalu. Polisi, TNI, DPU dan masyarakat langsung menangani adanya pohon yang tumbang tersebut. (Dok. Humas Polres Rembang)

Pohon tumbang di Jalan Pemuda Rembang beberapa waktu lalu. Polisi, TNI, DPU dan masyarakat langsung menangani adanya pohon yang tumbang tersebut. (Dok. Humas Polres Rembang)

MuriaNewsCom, Rembang – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rembang mengimbau pada masyarakat agar selalu waspada terhadap rawannya pohon tumbang di saat musim hujan. Imbauan ini diberikan menyusul adanya peristiwa pohon tumbang yang terjadi di Jalan Pemuda Rembang beberapa waktu lalu.

Meskipun sampai saat ini belum ada laporan korban jiwa akibat tumbangnya pohon, akan tetapi BPBD meminta supaya masyarakat selalu waspada dan tidak berada di bawah pohon saat hujan datang. Terlebih, di saat ada angin kencang yang berpotensi menimbulkan pohon tumbang.

Kepala BPBD Rembang Suharso mengatakan, musim hujan tahun ini diprediksi rawan berbagai bencana. Mulai banjir bandang, angin kencang (puting beliung), sambaran petir dan pohon tumbang.

“Berbagai bencana itu harus diwaspadai, pasalnya musim seperti ini bencana dapat datang kapan saja. Sekarang yang sering terjadi banjir tidak hanya di wilayah di bawah pegunungan, wilayah kota saja kalau hujan deras juga sering terjadi banjir,” ungkapnya.

Ia menambahkan, adanya petir di saat hujan turun juga perlu diwaspadai. Sebab, sudah banyak laporan warga yang meninggal akibat tersambar petir. Korbannya rata-rata berada di areal persawahan. “Jika hujan disertai petir lebih baik hentikan dulu aktivitasnya,” imbaunya.

Editor : Kholistiono

Waspada, 4 Kecamatan di Rembang Ini Rawan Banjir

Kepala Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Rembang Suharso. Dirinya mengimbau agar masyarakat waspada banjir. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kepala Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Rembang Suharso. Dirinya mengimbau agar masyarakat waspada banjir. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Rembang menyebut, dari 14 Kecamatan yang ada di Rembang, empat di antaranya masuk kategori rawan banjir. Empat kecamatan tersebut, yakni Kecamatan Pamotan, Kecamatan Kaliori , Kecamatan Lasem dan Kecamatan Sale.

Kepala BPBD Rembang Suharso mengatakan, dari empat kecamatan yang masuk kategori rawan banjir tersebut, 3 di antaranya berada pada geografis dataran rendah. Sedangkan satu lagi berada di dataran tinggi.

“Untuk Kecamatan Pamotan, Kaliori dan Lasem bagian barat, itu berada di dataran rendah. Namun, untuk Lasem bagian timur, termasuk dataran tinggi. Pun demikian, Kecamatan Sale juga berada di dataran tinggi. Untuk dataran tingggi, biasanya banjir datang karena luapan sungai ketika curah hujan tinggi,” katanya kepada MuriaNewsCom, Kamis (13/10/2016).

Terkait hal itu, pihaknya juga melakukan deteksi sejak dini daerah yang rawan banjir. Sehingga, antisipasi dapat dilakukan sejak dini, untuk memudahkan pengambilan tindakan, jika memang nantinya ada banjir yang terjadi.

Dirinya juga mengimbau kepada masyarakat untuk waspada banjir, khususnya yang berada di daerah rawan banjir. Apalagi, saat ini musim hujan sudah tiba, dan curah hujan juga sudah cukup tinggi. Bahkan, sebagian daerah lain sudah terjadi banjir yang mengakibatkan beberapa infrastruktur rusak dan juga rumah warga.

Editor : Kholistiono

3 Hari Menghilang, Pria Keterbelakangan Mental di Rembang Ini Diduga Terseret Arus

 Kepala Desa Wonokerto Eko ( baju kuning) sedang berkoordinasi dengan TNI, BPBD, polisi, PMI dan warga di kediamannya (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


Kepala Desa Wonokerto Eko ( baju kuning) sedang berkoordinasi dengan TNI, BPBD, polisi, PMI dan warga di kediamannya (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Slamet (35) warga Desa Wonokerto RT 3 RW 4 Kecamatan Sale, Rembang sejak Minggu (17/7/2016) lalu menghilang dari rumahnya. Pria yang memiliki riwayat keterbelakangan mental ini diduga terseret arus Sungai Kedung Pring, saat turun hujan deras saat itu.

Dugaan tersebut, dikuatkan dengan ditemukannya tongkat bambu dan sandal yang biasa digunakan Slamet. Barang tersebut ditemukan pihak keluarga dan warga di tepi Sungai Kedung Pring.

Zaeni, Kakak Ipar Slamet mengatakan, pada Minggu kemarin, sekitar pukul 13.00 WIB, Slamet bermain di area sawah dan Sungai Kedung Pring yang jarak dari rumah sekitar 500 meter. Saat itu, katanya, hujan sedang turun dengan deras. “Adik saya ini memang memiliki keterbelakangan mental, dan dia itu suka main air ketika ada hujan turun. Selain itu, dia juga sering pergi main ke area sawah yang ada di dekat rumah,” katanya.

Menurutnya, ketika bermain ke luar rumah, Slamet sering membawa tongkat. “Selain itu, kalau main, biasanya sering pergi pagi dan pulang sore, atau pergi sore, pulangnya setelah waktu isya,” imbuhnya.

Lebih lanjut ia katakan, ketika, ditemukan tongkat dan sandal di pinggir sungai, pihak keluarga langsung melakukan pencarian dengan bertanya ke keluarga lain. Namun hal itu tidak membuahkan hasil. Karena tidak ada, kemudian keluarga melaporkan hal itu ke pihak desa. Hingga berita ini, diturunkan, warga bersama pihak terkait masih melakukan pencarian.

Editor : Kholistiono

Ini Kriteria Wilayah yang Bisa Dapat Bantuan Dropping Air Bersih

Dropping air bersih di salah satu wilayah Rembang beberapa waktu lalu (MuriaNewsCom)

Dropping air bersih di salah satu wilayah Rembang beberapa waktu lalu (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Rembang – Tidak semua wilayah bisa mengusulkan bantuan dropping air bersih. Nantinya, instansi terkait, dalam hal ini Badang Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rembang memiliki kriteria wilayah yang bisa mendapatkan bantuan air bersih.

Kepala BPBD Rembang Suharso mengatakan, setiap ada pengajuan atau usulan bantuan air bersih ke BPBD Rembang, nantinya, pihaknya akan melakukan pengecekan secara langsung ke wilayah yang diusulkan mendapatkan bantuan tersebut.

“Kami akan mengkroscek secara langsung ke wilayah yang dimaksud. Nantinya, ada beberapa hal yang kami cek, misalnya terkait kedalaman air sumur, warna air dan rasa air,”  kata Suharso, kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, untuk kedalaman air sumur yang dinilai sudah membutuhkan menjadi salah satu patokan jika daerah tersebut memang membutuhkan air yakni, sumur sudah memiliki kedalaman 20 hingga 25 meter dari permukaan tanah. “Warna air juga bisa memengaruhi, misalkan saja warna keruh namun rasanya tawar. Itupun bisa dinilai sudah harus dibantu,” imbuhnya.

Selain itu, pengecekan tersebut dilakukan supaya bisa mengontrol dan memantau kondisi di lapangan. “Dengan adanya pengecekan atau pengontrolan semacam itu, setidaknya pihak BPBD akan bisa menyalurkan air dengan tepat sasaran yang memang benar-benar membutuhkan,” pungkasnya.

Baca juga : BPBD Rembang Anggarkan Rp 270 Juta untuk Kebutuhan Air Bersih

Editor : Kholistiono

 

BPBD Rembang Anggarkan Rp 270 Juta untuk Kebutuhan Air Bersih

Penyaluran air bersih di salah satu wilayah Rembang pada musim kemarau beberapa waktu lalu (MuriaNewsCom)

Penyaluran air bersih di salah satu wilayah Rembang pada musim kemarau beberapa waktu lalu (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Rembang – Menghadapi musim kemarau yang terjadi pada 2016 ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rembang telah menyiapkan kebutuhan air bersih, dengan anggaran mencapai Rp 270 juta.

Kepala BPBD Rembang Suharso mengatakan, anggaran tersebut sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, sebab kebutuhan air bersih sangat diperlukan ketika kekeringan melanda. “Nantinya, air bersih tersebut didistribusikan terhadap wilayah-wilayah yang memang mengalami kekeringan dan membutuhkan air bersih,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Senin (18/7/2016).

Ia katakan, dari 14 kecamatan yang ada di Rembang, 8 di antaranya cukup rawan dengan kekeringan, yakni Kecamatan Kaliori, Sumber, Sulang, Rembang, Pamotan, Sale, Bulu dan Gunem. Sedangkan untuk 6 kecamatan lainnya, terbilang relatif aman.

“Untuk Kecamatan Sluke, Kragan, Sarang (bagian utara), Sedan (utara), Lasem (timur) dan Pancur (timur), tanahnya cukup basah, sehingga relatif aman dari kekeringan. Hal ini berdasarkan pemantaun tim dari  BPBD dan BMKG,” imbuhnya.

Selanjutnya, untuk pendistribusian air bersih, nantinya, pihaknya berkoordinasi dengan pimpinan masing-masing wilayah. Sehingga, distribusi air bersih bisa tepat sasaran dan sesuai dengan data yang diajukan ke BPBD.

Editor : Kholistiono

Kemarau Basah di Rembang Bisa Picu Longsor

Warga melintas di depan kantor BPBD Kabupaten Rembang (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Warga melintas di depan kantor BPBD Kabupaten Rembang (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Kepala Seksi Kesiapsiagaan BPBD Rembang Markus Hendrianto, mengatakan di Rembang sampai saat ini masih terjadi hujan dengan intensitas yang bisa dibilang tinggi.

Hal itu disebabkan suhu air laut yang masih tinggi dibanding suhu di darat. Selain itu, perubahan arah mata angin juga mempengaruhi atas perubahan musim yang tidak bisa ditebak.  “Biasanya sudah kemarau. Sebenarnya perubahannya terjadi secara global,” kata dia.

Ia pun mewanti-wanti masyarakat Rembang agar senantiasa mewaspadai atas gejolak alam yang bakal terjadi. Karena, hal itu bisa menyebabkan bencana alam. Seperti tanah longsor maupun banjir bandang. “Contohnya longsor dan banjir bandang yang terjadi di Sale Rembang dan Tempaling, Pamotan beberapa waktu lalu,” ungkapnya.

Hal itu, kata dia, dikarenakan kontur tanah masih becek, yang seharusnya mengering karena musim kemarau akan tetapi terus diguyur hujan. Maka kondisi tanah menjadi labil. “Itu yang bisa menyebabkan tanah longsor,” katanya.

Fenomena tersebut, katanya, lazim disebut kemarau basah. Ia menjelaskan, sudah waktunya kemarau namun hujan masih saja mengguyur. “Kalau orang Jawa bilang udan salah mongso (hujan salah musim),” ujar dia.

Ia pun mewanti-wanti setiap warga Rembang agar tetap waspada dengan kondisi yang ada saat ini. Karena, menurutnya, bencana bisa terjadi kapan saja dengan kondisi iklim yang sangat susah untuk ditebak.

Editor : Akrom Hazami

Rembang Diintai Bencana, Kades dan Camat Dilarang ‘Tidur’

Para pendidik PAUD berpose dibalik ajakan Stop BABS, Jum'at (4/12/2015). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Para pendidik PAUD berpose dibalik ajakan Stop BABS, Jum’at (4/12/2015). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

REMBANG – Penjabat Bupati Rembang, Suko Mardiono meminta semua elemen waspada dan siaga terhadap kemungkinan bencana. Hal itu disampaikan Suko saat memimpin apel siaga bencana di Lapangan Rumbut Malang, Desa Mondoteko, Rembang, Jumat (4/12/2015).

Suko menyampaikan penanggulangan bencana tidak hanya tanggung jawab BPBD dan relawan, tetapi tanggung jawab bersama. Suko juga meminta dinas terkait melakukan sosialisasi kepada masyarakat utamanya yang tinggal di daerah rawan bencana, agar mereka siap sebelum dan pascabencana. Termasuk camat dan kades agar tidak ‘tidur’ alias selalu siaga.
“Kepada camat dan kepala desa untuk bertindak cepat melaporkan kejadian dan selalu siaga.

Kesiapsiagaan camat dan kades harus terkoordinasi dengan baik. Manfaatkan sosial media sebagai salah satu sarana komunikasi yang cepat agar bisa hadir pertama sesaat setelah terjadi bencana,” ujarnya.

Suko menyebutkan di wilayah Kabupaten Rembang yang perlu diwaspadai adalah banjir, longsor dan angin puting beliung. Untuk bencana banjir berpotensi di seluruh kecamatan, potensi tanah longsor ada di 11 kecamatan seperti Sarang, Kragan, Sluke, Lasem, kecamatan Rembang, Sumber, Sulang, Gunem, Sale, Sedan dan Pancur.

“Untuk angin puting beliung ada di sembilan kecamatan, di antaranya Sluke, Lasem, Rembang, Kaliori, Sumber, Sulang, Gunem, Sale dan Pancur,” tambahnya.

Ia menekankan bahwa tanggap bencana tidak hanya dilakukan setelah terjadinya bencana, namun sebelum terjadi bencana harus dapat diprediksi, disiapkan, diprogramkan dan ditangani dengan sebaik-baiknya agar meminimalisasi korban. (AHMAD WAKID/AKROM HAZAMI)

Gara-gara 14 Kecamatan di Rembang Rawan Bencana, BPBD Siaga

Para pendidik PAUD berpose dibalik ajakan Stop BABS, Jum'at (4/12/2015). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Para pendidik PAUD berpose dibalik ajakan Stop BABS, Jum’at (4/12/2015). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

REMBANG – Bulan Desember 2015 hingga April 2016 dinyatakan masuk waktu siaga bencana oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang. Apalagi kondisi geografis dan topografi di 14 kecamatan yang berpotensi rawan bencana. Oleh karena itu, BPBD Kabupaten Rembang menggelar apel siaga di lapangan Rumbut Malang Mondoteko Rembang, Jumat (4/12/2015).

Kepala pelaksana BPBD Kabupaten Rembang, Suharso menjelaskan dilaksanakannya apel siaga tanggap bencana dimaksudkan untuk kesiapan, baik dari sisi aparatur maupun sarana prasarana dalam melayani masyarakat yang tertimpa bencana.

“Tujuannya meningkatkan peran serta persiapan antisipasi bencana secara cepat, terarah, dan terpadu antar elemen di Rembang. Baik itu pemerintah, masyarakat dan dunia usaha dalam hal perencanaan pengoperasian, pemeliharaan, serta pengambilan keputusan tehadap kegiatan penanggulangan bencana,”imbuhnya

Apel siaga diikuti oleh kalangan TNI,Polri, SKPD terkait, dunia usaha serta ormas yang peduli terhadap tanggap bencana. Selain itu berbagai sarana prasarana pendukung tanggap bencana seperti motor trail, kapal karet, mobil ambulan, dan peralatan lainnya juga dipamerkan dalam apel tersebut. (AHMAD WAKID/AKROM HAZAMI)

BPBD Rembang Kaji Penggunaan Dana Tak Terduga untuk Dropping Air

Kepala Seksi Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rembang (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Kepala Seksi Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rembang (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

REMBANG – Banyaknya masyarakat Rembang yang mengajukan permintaan dropping air, membuat pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rembang berpikir keras untuk mencarikan solusinya. Pasalnya, dana induk dan dana perubahan telah habis digunakan hingga Jum’at (27/11/2015) kemarin.

BPBD Rembang saat ini sedang mengkaji penggunaan data tak terduga untuk mengantisipasi masih banyaknya permintaan dropping air di bulan Desember nanti. Hal tersebut disampaikan oleh Kasi Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rembang kepada MuriaNewsCom, Senin (30/11/2015)

“Kemungkinan pakai dana tak terduga. Soalnya hasil rapat, kami telah mengajukan usulan ke provinsi, terus dipanggil provinsi atas surat itu untukmembicarakan solusi mengenai droping air yang melalui dana tak terduga yang ada di kabupaten,” ujarnya.

Kemudian, terkait besaran pasti dari dana tak terduga tersebut belum diketahui. Namun, dana itu diambilkan dari dana kebencanaan yang totalnya mencapai 1 miliyar. Lebih lanjut, dirinya mengatakan, dalam bulan Desember nanti, setidaknya membutuhkan 600 tangki.

“Perkiraan membutuhkan 600 tangki. Itu asumsi untuk kegiatan per bulan. Kami menggunakan 600 tangki per bulan,” bebernya. (AHMAD WAKID/KHOLISTIONO)

BPBD Siapkan Solusi Jitu Atasi Bencana Kekeringan

Ahmad "Ayyub" Makruf, Kepala Seksi (Kasi) Logistik pada BPBD Kabupaten Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Feri)

Ahmad “Ayyub” Makruf, Kepala Seksi (Kasi) Logistik pada BPBD Kabupaten Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Feri)

 

REMBANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang tengah mengkaji langkah tepat dalam menangani bencana kekeringan. Sebab sebagian wilayah di Kota Garam hampir dapat dipastikan selalu dilanda bencana kekeringan setiap tahunnya. Untuk itu BPBD setempat bakal lebih selektif dalam menerapkan penanganan kekeringan.

”Kita menyiapkan tahapan perencanaan matang untuk menangani persoalan kekeringan. Sebab jika tidak disertai konsep yang matang bisa saja menjadi persoalan di kemudian hari. Karena ada keterbatasan sumber air, maka kita harus cermat dalam menyusun program pengurangan dampak kekeringan,” ujar Ahmad Ayyub Makruf, Kepala Seksi (Kasi) Logistik pada BPBD Kabupaten Rembang, Senin (17/8/2015).

Ahmad Ayyub Makruf menyatakan instansinya memang berhati-hati dalam menangani bencana kekeringan. Sebab jangan sampai menentukan kebijakan yang kurang tepat, karena rawan berujung proses hukum. Dia mencontohkan salah satunya proyek sumur bor yang disertai pipanisasi ke rumah warga yang sekarang mangkrak, karena sumber air mati.

”Penanganan jangka panjang yang paling cocok adalah pembangunan embung, untuk memperbanyak tampungan air selama musim penghujan. Sedangkan jangka pendek, masih mengandalkan droping bantuan air bersih,” kata Ahmad Makruf. (AHMAD FERI/TITIS W)