BPBD Jepara Siapkan Anggaran Rp 22 Juta untuk Atasi Dampak Kemarau

Ilustrasi dropping air. BPBD Jepara telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 22 juta untuk dropping air ketika kemarau. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – BPBD Jepara menyiapkan anggaran sebesar Rp 22 juta, guna mengatasi dampak musim kemarau. Dana tersebut digunakan untuk penyaluran air pada daerah yang mengalami kekeringan.

“Sudah disiapkan Rp 22 juta untuk droping air. Namun jika kondisi kemarau masif ya tidak cukup,” ujar Kasi Rehabilitasi dan Rekondisi Jamaludin.

Ia menyampaikan, perkiraan musim kemarau jatuh pada sekitar bulan Juni-Juli 2017. Dengan demikian, jika ada daerah yang mengalami kekeringan diminta untuk mengajukan proposal droping air kepada Pemkab Jepara yang ditembuskan ke pihak BPBD Jepara.

Jamaludin mengatakan, pihaknya telah memetakan beberapa daerah yang rentan kekeringan. Di antaranya, Raguklampitan, Rajekwesi, Tunngul, Pandean, Bate Gede, Kedung Malang, Karangaji, Gerdu, Kaliombo, Sinanggul dan Kepuh.”Lebih kurang ada 15 tempat yang rentan mengalami masalah kekeringan,” ujarnya.

Dana tersebut menurutnya digunakan untuk membeli air bersih dari tiga agen.

Dirinya menambahkan, jika kekeringan meluas, pihaknya melalui Pemkab Jepara kemungkinan besar bisa menggunakan Dana Siap Pakai (DSP) dari BNBP. Namun demikan, untuk menggunakannya, Pemerintah Kabupaten terlebih dahulu harus mengumumkan keadaan siaga bencana kekeringan terlebih dahulu.

Ditanya mengenai solusi jangka panjang mengatasi kekeringan, Jamaludin menyebut dengan pembuatan sumur. Namun demikian, hal itu tidak mungkin dilakukan dengan dana APBD Jepara.

“Ada beberapa tempat yang sudah dibikinkan fasilitas sumur, di antaranya Tunggul pandean, Sowan Kidul, Sinanggul, Karanggondang, Kepuh dan Empurancak. Masing-masing memiliki satu fasilitas sumur, kecuali Desa Sinanggul yang diberi dua sumur,” katanya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, fasilitas sumur telah dilengkapi dengan pompa air, tandon dan pipanisasi. Kecuali listrik, semua kelengkapan diberikann cuma-cuma kepada warga.

Editor : Kholistiono

Meski saat Ini Cerah, Warga Diminta Tetap Waspada Cuaca Ekstrem yang Bisa Terjadi Tiba-tiba

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Dalam beberapa hari terakhir ini cuaca di wilayah Jepara cerah. Namun demikian, warga tetap diminta tetap waspada, jika sewaktu-waktu cuaca berubah dan cuaca buruk bisa terjadi dan berpotensi berpotensi menimbulkan bencana.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara Lulus Suprayetno melalui Kasi Kedaruratan dan Logistik Pujo Prasetyo mangatakan,menginjak akhir Februari ini, cuaca jauh lebih cerah dibandingkan dengan awal Februari dan sebelumnya. “Intensitas hujan berkurang drastis. Hujan yang turun pun tidak terlalu deras,” katanya.

Sementara itu, berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) BPBD Jepara yang mengacu pada prakiraan cuaca BMKG, curah hujan di wilayah Jepara sudah mulai berkurang. Dari sebelumnya berstatus sangat tinggi, saat ini hanya berstatus tinggi. Yakni dengan debit air hujan sebanyak 301-400 milimeter/detik. Curah hujan yang sangat tinggi bergeser ke wilayah tengah Provinsi Jateng.

“Secara lapangan dan berdasarkan data prakiraan cuaca memang ada kecocokan. Ada pengurangan intensitas. Tapi dengan status intensitas hujan masih tinggi, warga masih harus waspada,” ungkapnya.

Dia mencontohkan, adanya dua peristiwa perahu nelayan yang pecah beberapa hari lalu menunjukkan jika cuaca buruk masih bisa datang sewaktu-waktu. Kejadian pada Kamis (16/2/2017) pekan lalu itu, terjadi saat kondisi cuaca tengah sangat baik di sebagian besar wilayah Jepara.

Menurutnya, dimungkinkan pula nelayan tersebut melaut lantaran melihat kondisi cuaca cerah itu. Tapi ternyata di tengah laut cuaca tiba-tiba memburuk. Dari dua kejadian itu, tiga nelayan berhasil menyelamatkan diri. Dua ditemukan tewas dan satu masih hilang.

Editor : Kholistiono

Gelombang Tinggi, Nelayan di Jepara Diimbau untuk Tidak Melaut

Kondisi di perairan laut Jepara yang saat ini gelombang cukup tinggi, sekitar 1 hingga 2 meter. Untuk sementara, nelayan diimbau tidak melaut. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kondisi di perairan laut Jepara yang saat ini gelombang cukup tinggi, sekitar 1 hingga 2 meter. Untuk sementara, nelayan diimbau tidak melaut. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Jepara – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara mengimbau para nelayan untuk sementara tidak melaut terlebih dahulu, dikarenakan gelombang laut masih tinggi.

“Untuk meminimalkan yang tidak diinginkan, kami mengimbau kepada para nelayan untuk sementara tidak melaut, karena gelombang masih tinggi. Ini juga demi keselamatan para nelayan,” ujar Kepala BPBD Jepara Lulus Suprayitno.

Ia menyatakan, untuk saat ini, ketinggian gelombang air laut mencapai satu hingga dua meter, dengan kecepatan angin di kisaran 1 hingga 20 knot.

Dengan adanya insiden salah seorang warga yang memancing di kawasan Pulau Panjang dan tenggelam diterjang ombak ketika akan pulang menggunakan perahu, dirinya berharap nelayan untuk menghentikan aktivitas melaut untuk sementara dan menunggu kondisi cuaca normal atau membaik.

Di sisi lain, katanya, pihaknya juga terus melakukan koordinasi dengan kepala desa terkait dengan antisipasi bencana atau penanganan bencana. “Untuk sekarang ini kita sudah mempunyai grup kepala desa sadar bencana. Sehingga di saat ada bencana atau angin kencang yang menimbulkan bencana kecil, maka mereaka akan cepat memberitahu kepada kita. Sehingga kejadian itu bisa langsung ditangani secara bersama sama,” ucapnya.

Editor : Kholistiono

 

Markum Ditemukan Sudah Meninggal di Kawasan Pantai Prawean Jepara

Petugas melakukan evakuasi terhadap jenazah Markum yang ditemukan di kawasan Pantai Prawean, Desa Bandengan pada Jumat (27/1/2017) sekitar pukul 11.00 WIB. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Petugas melakukan evakuasi terhadap jenazah Markum yang ditemukan di kawasan Pantai Prawean, Desa Bandengan pada Jumat (27/1/2017) sekitar pukul 11.00 WIB. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Jepara – Markum (55), warga  Desa Bandengan RT 6 RW 2  Jepara, yang dinyatakan hilang saat pulang memancing di kawasan Pulau Panjang pada Kamis (26/1/2017)  siang kemarin, kini sudah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Mayat korban ditemukan di kawasan Pantai Prawean, Desa Bandengan pada Jumat (27/1/2017) sekitar pukul 11.00 WIB.

“Sekitar pukul 11.00 WIB, korban ditemukan salah satu nelayan dalam posisi tersangkut karang. Lokasinya sekitar 100 meter dari bibir Pantai Prawean. Korban mengenakan baju lengan pendek kotak-kotak dengan  celana pendek,” ujar Kepala BPBD Jepara Lulus Suprayitno melalui Kasi Kedarutan dan Logistik Pujo Prasetyo.

Mayat korban kemudian langsung dievakuasi dan dilarikan ke RSUD Kartini untuk dilakukan visum. Setelah itu, kemudian jenazah langsung diserahkan kepada pihak keluarga untuk dikebumikan.

Menurutnya, pencarian terhadap korban dilakukan sejak kemarin dengan melibatkan sejumlah personel dari BPBD, relawan, TNI Sat Polair Res Jepara,Basarnas dan PMI.

Petugas menyisir pinggiran pantai mulai Pantai Badengan hingga Pantai Empu Rancak. Pencarian kemarin berlangsung hampir malam. Dalam proses pencarian itu, petugas hanya menemukan papan dek perahu dan pancing milik korban. Kemudian, pencarian dilanjutkan hari ini.

Untuk diketahui, korban awalnya memancing di kawasan perairan Pulau Panjang bersama temannya, Darwanto (41) Warga RT 17 RW 5 dan Jasmani (40) warga RT 4/RW 1, Desa Bandengan Kota pada Kamis (26/1/2017) pagi.

Setelah itu, sekitar pukul 10.00 WIB korban mengajak Darwanto dan Jasmani pulang. Namun Keduanya menolak karena kondisi mendung putih disertai angin kencang dari arah barat.  Akan tetapi  korban tetap nekat pulang sendirian dengan perahu jenis sopek .

Setelah itu, Kamis sore pukul 16.00 WIB kedua teman korban kembali ke Pantai Perawean Kawasan Desa Bandengan bertemu dengan Kimin (70) warga RT 5 RW 2, Desa Bandengan yang sedang menunggu orang mancing untuk membeli ikan. 

Berhubung Kimin kenal dengan korban, ia pun kaget setelah kedua teman korban memberi tahu kalau korban sudah pulang terlebih dahulu sejak pukul 10.00 WIB.

Sekitar pukul 17.00 WIB, Kimin berusaha mencari korban di kawasan pinggir pantai Perawean hingga Pantai Bandengan. Namun korban tidak ditemukan, tetapi mendapati dayung perahu korban di belakang Hotel D’Season. Hal itu memunculkan dugaan, jika Markum tenggelam. Kimin lantas memberitahu kepada keluarga korban dan Bhabinkamtibmas Desa Bandengan. 

Editor : Kholistiono

Raguklampitan Jepara Krisis Air Bersih

raguklampitan

 Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jepara, Jamaluddin. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Meskipun musim kemarau mulai tiba, tapi terkadang masih turun hujan. Beberapa wilayah, khususnya di Desa Raguklampitan, Kecamatan Batealit, Jepara, kini mulai terjadi kekeringan.

Sejumlah warga diketahui kesulitan mendapatkan air bersih untuk keperluan konsumsi sehari-hari.

Hal itu seperti yang disampaikan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara, Lulus Suprayitno melalui Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Jamaluddin.

Menurutnya, sejumlah warga di Desa Raguklampitan mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Bahkan sebagian di antaranya sudah harus membeli air bersih untuk keperluan konsumsi sehari-hari.

“Untuk minum dan memasak sudah ada yang harus beli air karena kondisi sumur mereka sudah mulai dangkal. Air yang ada di dalam sumur sudah mulai bercampur dengan tanah sehingga kotor dan tidak dapat dikonsumsi,” ujar Jamaluddin kepada MuriaNewsCom, Jumat (5/8/2016).

Lebih lanjut ia mengemukakan, Desa Raguklampitan sudah mengajukan bantuan air sekitar sebulan lalu untuk mengantisipasi kekeringan menyebar di semua wilayah di desa tersebut. Meski begitu, sampai saat ini desa tersebut belum meminta untuk didroping.

“Kalau sudah ada permintaan dari sana, nanti kami langsung melakukan droping air. Sejauh ini sudah kami persiapkan untuk melakukan droping air,” terang Jamaluddin.

Ia menambahkan, saat ini memang dikenal sebagai musim kemarau basah. Tetapi bukan berarti kebutuhan air di masyarakat terpenuhi. Beberapa desa yang terjadi kekeringan di tahun 2015 lalu, tahun ini berpotensi besar terjadi kekeringan lagi.

“Kadang masih turun hujan. Tetapi, begitu hujan selesai dan panas lagi, air langsung surut. Kami rencanakan mulai bulan Agustus ini melakukan droping air ke desa-desa yang membutuhkan,” imbuhnya.

 

Editor : Akrom Hazami

Puluhan Relawan BPBD Jepara Disiagakan untuk Antisipasi Membeludaknya Wisatawan

Kepala Pelaksana BPBD Jepara Lulus Suprayitno (MuriaNewsCom)

Kepala Pelaksana BPBD Jepara Lulus Suprayitno (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Mengaca tahun-tahun lalu, ketika libur lebaran, banyak sekali pengunjung atau wisatawan yang datang ke sejumlah objek wisata di Kabupaten Jepara. Terutama objek wisata pantai, seperti Pantai Tirta Samudera atau Bandengan, Pantai Kartini, dan yang lainnya. Untuk mengantisipasi membeludaknya pengunjung, dan menjamin keamanan saat di laut, puluhan relawan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara disiagakan.

Hal itu disampaikan Kepala Pelaksana BPBD Jepara Lulus Suprayitno. Menurutnya, pihaknya akan menyiagakan relawan dari BPBD maupun organisasi sukarelawan yang terkoordinasi dengan BPBD. Meski demikian, Lulus meminta kewaspadaan dari pengunjung sendiri, sebab personel terbatas. Sedangkan pengunjung saat liburan mencapai ribuan.

“Perhatian lebih akan dilakukan di Pantai Bandengan, karena di sana yang biasanya ramai sekali dan wisatawan main di air. Tetapi, peningkatan kewaspadaan juga tetap akan dilakukan di Pantai Kartini, Sekembu, Teluk Awur, Ombak Mati (Bondo), Bayuran, Empu Rancak, Pailus hingga Ujung Watu,” ujar Lulus kepada MuriaNewsCom, Sabtu (2/7/2016).

Lebih lanjut ia mengemukakan, pantai yang dikelola sendiri oleh desa diharapkan pengawasannya juga dibantu dan dilakukan oleh pihak desa, baik pemuda maupun warga pada umumnya. “Momen liburan hingga pesta lomban nanti, kami menyiagakan 40 sukarelawan BPBD. Jika ditotal dengan sukarelawan yang terkoordinasi dengan BPBD, jumlahnya 70 orang. Belasan perahu karet juga sudah disiapkan,” katanya.

Di sisi lain, berdasarkan prakiraan cuaca dari BMKG, kecepatan angin pada momen Lebaran bisa mencapai 25 kilometer/jam. Kecepatan itu, di darat tak begitu terasa, namun di laut, bisa menimbulkan gelombang dan arus bawah laut yang lumayan besar.

“Pantai Bandengan yang paling besar memiliki kerawanan. Sebab pantai itu memiliki luasan pantai terluas. Wisatawan tidak hanya mandi di area wisata, tapi juga melebar hingga ke arah utara, maupun selatan,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono 

 

Cuaca Ekstrem, Petinggi di Jepara Diminta Tingkatkan Koordinasi

Kepala pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara, Lulus Suprayitno (MuriaNewsCom)

Kepala pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara, Lulus Suprayitno (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Masyarakat dan Petinggi Desa di Kabupaten Jepara diimbau untuk lebih waspada terhadap terjadinya cuaca ekstrem yang juga melanda Kota Ukir, dan melaporkan kondisi di sekitar masing-masing ke petugas. Hal itu, mengingat di sejumlah kabupaten lain terjadi bencana alam seperti banjir dan tanah longsor hingga memakan korban jiwa.

“Berdasarkan prakiraan cuaca dari BMKG, cuaca ekstrem mulai terjadi sejak beberapa hari yang lalu, dan akan terjadi sampai Selasa besok. Masyarakat harus lebih waspada terhadap kondisi alam seperti ini,” ujar Kepala pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara, Lulus Suprayitno, Senin (20/6/2016).

Menurutnya, sejak diinformasikan cuaca ekstrem melanda kawasan pulau Jawa, pihaknya tengah mengintensifkan komunikasi dengan petinggi di semua desa di Jepara. Khususnya di daerah yang rawan bencana alam. Bencana alam maupun musibah yang diantisipasi saat cuaca ekstrem saat ini yakni longsor, banjir dan rumah roboh akibat angin puting beliung.

“Kami juga wajib mewaspadai kondisi ini, agar bisa meminimalisir korban jiwa saat terjadi bencana. Relawan kami siagakan dan kordinasi dengan petinggi kami intensifkan,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengemukakan, cuaca buruk yang terjadi beberapa hari terakhir ini belum berdampak di wilayah Jepara. Hal itu terjadi karena hujan terjadi secara merata sehingga beban curah hujan tinggi maupun angin puting beliung di satu wilayah terpecah. Selain itu, sejumlah infrastuktur, khususnya tanggul sungai saat ini sudah cukup kuat karena selesai diperbaiki.

“Kami juga meminta para camat dan petinggi untuk selalu melaporkan kondisi di lapangan, misalnya mendata rumah-rumah warga yang berpotensi bisa roboh saat diterjang angin kencang. Harapannya, jika benar terjadi musibah, bisa langsung tertangani,” terangnya.

Ia menambahkan, dampak dari cuaca buruk dengan intensitas hujan yang tinggi masih sebatas membuat ruas jalan tergenang air dengan kedalaman yang bervariasi dari satu sentimeter hingga 15 sentimeter.

Editor : Kholistiono 

 

Desa Tegalsambi Jepara Terima Pelatihan Desa Siaga Bencana

BPBD Jepara memberikan pelatihan siaga bencana kepada peserta yang berasal dari Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

BPBD Jepara memberikan pelatihan siaga bencana kepada peserta yang berasal dari Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Jepara menerima pelatihan Desa Siaga Bencana dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara. Kegiatan yang digelar selama dua hari Senin sampai dengan Selasa (23-24/5/2016) di pendapa desa setempat ini diikuti sekitar 60 peserta yang terdiri dari perangkat desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, RT/RW, tokoh perempuan, PKK, tokoh pemuda, karang taruna dan relawan.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Jepara Lulus Suprayetno melalui Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Jepara Kusdiyarto menjelaskan kegiatan pelatihan pengembangan desa siaga bencana ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat di daerah rawan bencana dalam menghadapi bencana/musibah.

”Kegiatan ini dilaksanakan di Tegalsambi karena menjadi salah satu Desa yang memiliki tingkat kerawanan bencana cukup tinggi, yakni bencana banjir,” kata Kusdiyarto.

Lebih lanjut dia menjelaskan, berdasarkan Indeks Rawan Bencana (IRBI) Tahun 2011, Kabupaten Jepara merupakan salah satu Kabupaten di Jawa Tengah yang memiliki resiko kerawanan bencana kategori/klasifikasi tinggi. Yakni peringkat ke 6 di Provinsi Jawa Tengah dan peringkat 21 secara Nasional dengan skor 105. Sementara dalam IRBI tahun 2013 Kabupaten Jepara menempati peringkat 15 di Jawa Tengah dan 209 secara nasional dengan skor 163.

”Pelatihan serupa juga akan dilaksanakan di Desa Pendem Kecamatan Kembang pada tanggal 25-26 Mei, dan di Desa Pancur Kecamatan Mayong pada 1-2 Juni yang akan datang. Ini merupakan program yang bertujuan agar masing-masing Desa juga memiliki relawan ang siaga bencana yang bisa datang kapan saja,” Imbuhnya.

Narasumber kegiatan ini adalah dari BPBD Provinsi Jawa Tengah, BPBD Kabupaten Jepara. Selain itu juga ada dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara. Metode penyampaiannya melalui metode Ceramah, diskusi, tanya jawab dan diakhiri dengan kegiatan simulasi/praktik penanganan bencana.

Editor: Supriyadi

Hati-hati, Air di Jepara Sudah Tewaskan Belasan Orang, Ini Buktinya

Petugas BPBD bersama relawan mencari korban hanyut di sungai, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Petugas BPBD bersama relawan mencari korban hanyut di sungai, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Air yang selama ini dicari untuk memenuhi kebutuhan, ternyata juga ganas. Di Kabupaten Jepara, sejak Januari hingga saat ini, air mampu menewaskan belasan orang. Hal itu sebagaimana data dari Badan Penanggulangan Bencana Daeah (BPBD) Kabupaten Jepara.

Kepala pelaksana BPBD Jepara Lulus Suprayitno mengatakan, sejak awal tahun 2016 hingga saat ini pihaknya telah melakukan operasi dan penanganan terhadap 30 kasus. Hampir kesemua kasus tersebut terjadi di air, baik di lautan maupun air di darat.

”Dari 30 kasus tersebut diketahui ada sekitar 15 orang yang meninggal dunia. Hampir semuanya merupakan kasus di air, baik di laut, di Sungai maupun di saluran irigasi,” ujar Lulus, Rabu (4/5/2016).

Rincian tiap bulan untuk korban jiwa, yakni Januari dua kasus, Februari tujuh kasus, Maret lima kasus, April satu kasus. Kasus-kasus tersebut memang didominasi kecelakaan air. Biasanya, untuk kecelakaan di laut terjadi pada nelayan maupun warga yang mencari ikan, kemudian tenggelam maupun ditemukannya mayat yang ada di laut.

”Kalau di sungai, memang biasanya korban main lalu terpeleset dan terbawa arus hingga meninggal dunia. Sama halnya dengan di saluran irigasi, korban masih berusia balita dan terseret arus hingga meninggal dunia,” ungkapnya.

Data tersebut menunjukkan bahwa tingkat terjadinya bencana di Kabupaten Jepara masih cukup tinggi. Untuk itu, kewaspadaan terhadap terjadinya bencana harus ditingkatkan. Terlebih wilayah Kabupaten Jepara juga banyak yang termasuk wilayah perairan baik laut maupun sungai.

Editor: Supriyadi

Ibu Tewas di Sumur di Jepara setelah 3 Minggu Terendam

Petugas berupaya mengangkat tubuh korban dari dasar sumur di RT 06/07, Tengguli, Bangsri, Jepara, Rabu (10/2/2016).

Petugas berupaya mengangkat tubuh korban dari dasar sumur di RT 06/07, Tengguli, Bangsri, Jepara, Rabu (10/2/2016).

 

MuriaNewsCom, Jepara – Sri Munaziati atau Kasri (54), ditemukan tewas tercebur dan terendam di sumur, selama hampir tiga minggu. Insiden terjadi di sumur warga, Mustofa, di RT 06/07, Tengguli, Bangsri, Jepara, Rabu (10/2/2016).

Dari keterangan yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara, korban diperkirakan terendam di sumur selama tiga minggu. Sebab, keterangan keluarga menyebutkan korban menghilang sejak 20 Januari 2016. Dan korban baru ditemukan pada Rabu (10/2/2016).

“Korban hampir tiga minggu terendam di sumur. Diperkirakan tercebur sejak waktu hilangnya. Baru ketemu pagi tadi,” kata Kepala BPBD Jepara Lulus Suprayitno dihubungi, Rabu sore.

Perkiraan korban terendam sumur sejak tiga minggu, menurut Lulus, dilihat dari kondisi tubuhnya yang sudah mengenaskan. Korban berhasil diangkat dari sumur. Kemudian, korban dibawa ke RSUD Kartini.

Editor : Akrom Hazami

 

Baca juga :

Nenek Tewas Terseret Arus Sungai di Rembang, Ditemukan Tersangkut Carang

Terpeleset Saat Mencuci di Tepi Sungai, Nenek di Rembang Tewas Terseret Arus

Siswi yang Tewas Tenggelam di Pantai Bandengan Ternyata Sedang Rayakan Ultah Temannya

Video – Ini yang Dilakukan Pemkab Jepara untuk Bersiap dan Antisipasi Hadapi Bencana

 

JEPARA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara menggelar rapat koordinasi kesiapan dan antisipasi menghadapi bencana, Kamis (19/11/2015) di Pendapa Kabupaten setempat. Agenda ini digelar untuk menghadapi musim hujan tahun ini, agar antar stakeholder dapat bersama-sama mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terjadinya bencana.

Kepala pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara Lulus Suprayitno mengatakan, acara ini memang digelar untuk menyatukan komitmen kesiapan menghadapi bencana. Sehingga ada sejumlah pihak yang diundang dalam acara ini.

”Ada dari BPBD, TNI, Polri, dan semua Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait seperti Dinas Kesehatan, Dinas Bina Marga Pengairan, Dinas Tata Ruang, relawan kebencanaan dan yang lainnya,” ujar Lulus Suprayitno.

Dari pantauan MuriaNewsCom, setiap SKPD di lingkungan Pemkab Jepara memaparkan materi sesuai bidangnya. Misalnya, dari Dinas Bina Marga Pengairan dan ESDM Jepara yang diwakili Kabid Pengairan Sahli memaparkan sejumlah perbaikan infrastruktur untuk mengantisipasi bencana.

”Seperti melakukan perbaikan sejumlah tanggul di sungai Welahan dan yang lainnya,” katanya.

Selain itu, contoh lain dari Dinas Kesehatan yang disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan, Dwi Susilowati. Menurut Susi, antisipasi bencana sangat dibutuhkan sebelum terjadinya bencana.

”Antisipasi lebih baik dari pada mengobati. Dari dinas kesehatan menyiapkan sejumlah peralatan untuk membantu mengatasi bencana yaitu tenda darurat dan ambulans,” kata Susi. (WAHYU KZ/TITIS W)

BPBD Jepara Mengaku Tak Khawatir Anggaran Logistik Tinggal 5 Persen

Latihan penanganan kebencanaan yang diikuti sejumlah pemuda di Jepara. Mereka siap membantu menghadapi bencana di musim ghujan. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Latihan penanganan kebencanaan yang diikuti sejumlah pemuda di Jepara. Mereka siap membantu menghadapi bencana di musim ghujan. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Anggaran untuk tanggap darurat dan logistik pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara menipis. Sampai saat ini tinggal menyisakan lima persen saja. Meski begitu, BPBD mengaku tak khawatir.

Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Jepara Pujo Prasetyo menjelaskan, meski anggaran tanggap darurat dan logistik tinggal menyisakan 5 persen, jika benar nanti terjadi bencana. Pihaknya optimistis penanganan bencana nanti masih tetap bisa maksimal.

“Untuk menangani bencana, sumber anggaran tidak hanya dari pos tanggap darurat dan logistik. Bisa diambilkan dari pos anggaran lain di BPBD,” kata Pujo kepada MuriaNewsCom, Selasa (17/11/2015).

Menurut dia, selain masih ada anggaran dari pos lain di BPBD, masih ada bantuan dari provinsi. Bahkan, jika bupati mengeluarkan keputusan status tanggap darurat, bisa menggunakan anggaran tak terduga.

“Pos anggaran tanggap darurat dan logistik tahun ini sudah terserap 95 persen. Anggaran tersebut banyak terserap untuk belanja modal. Terbanyak untuk perbaikan peralatan dan pengadaan peralatan untuk penanganan bencana,” ungkapnya.

Dia menambahkan, saat ini pihaknya mempersiapkan antisipasi dan penanganan musibah banjir, tanah longsor dan puting beliung. Penanganan musibah itu akan membutuhkan dana yang tak sedikit. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Anggaran Logistik BPBD Jepara ‘Habis’ untuk Beli Peralatan

Anggaran tanggap darurat dan logistik menipis, banyak digunakan untuk belanja modal dan perbaikan peralatan seperti perahu karet. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Anggaran tanggap darurat dan logistik menipis, banyak digunakan untuk belanja modal dan perbaikan peralatan seperti perahu karet. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Anggaran untuk tanggap darurat dan logistik Badan Penanggulangan Bencana Dearah (BPBD) Kabupaten Jepara sudah menipis. Anggaran lebih banyak dialokasikan untuk belanja modal,  terutama untuk perbaikan peralatan dan pengadaan peralatan untuk penanganan bencana.

Hal itu disampaikan Kasi Kedaruratan dan Logistik Pujo Prasetyo. Menurut dia, sesuai dengan bidangnya, pihaknya memang lebih banyak mengalokasikan dana untuk perawatan dan pembelian peralatan. Misalnya, untuk memperbaiki perahu karet yang dimiliki oleh BPBD Jepara.

”Dari sembilan perahu karet yang mengalami kerusakan, enam sudah selesai diperbaiki dan siap diterjunkan menghadapi banjir di musim penghujan,” ujar Pujo kepada MuriaNewsCom, Selasa (17/11/2015).

Lebih lanjut dia mengemukakan, dalam kebencanaan, logistik tidak harus yang berhubungan dengan kebutuhan pangan. Sehingga dia mengaku apa yang telah dilakukan sudah sesuai dengan prosedur yang ada.

”Selain untuk belanja modal tersebut, juga banyak alokasi dana untuk penanganan musibah bencana kekeringan selama musim kemarau,” ungkapnya.

Dia mengakui, sampai saat ini sisa anggaran untuk tanggap darurat dan logistik menyisakan sekitar lima persen saja. Sedangkan 95 persen lainnya sudah terserap untuk belanja modal. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

BPBD Jepara Menilai Koordinasi Kebencanaan Lintas Sektor Lambat

Kasi pencegahan dan kesiapsiagaan menunjukkan peta rawan bencana di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Kasi pencegahan dan kesiapsiagaan menunjukkan peta rawan bencana di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara telah melakukan evaluasi pelaksanaan kegiatan selama tahun 2014 lalu. Salah satu poin yang dievaluasi adalah lemahnya koordinasi lintas sektoral, dalam menangani bencana terutama ketika musim hujan.

”Salah satu yang jadi masalah dari evaluasi yang kami lakukan adalah koordinasi. Misalnya, kordinasi dari pemerintah desa ke BPBD terbilang lambat, sehingga akibatnya penanganan juga tidak bisa lebih cepat,” ujar Kepala BPBD Jepara Lulus Suprayitno melalui Kasi pencegahan dan kesiapsiagaan, Kusdiyarto kepada MuriaNewsCom, Kamis (12/11/2015).

Menurut dia, hal itu terjadi ketika bencana misalnya tanah longsor, puting beliung maupun banjir. Pemerintah Desa semestinya langsung berkoordinasi dengan pihak BPBD, untuk selanjutnya dapat lebih cepat dilakukan penanganan.

”Harapannya, dengan kordinasi yang cepat maka penanggulangan juga dapat dilakukan dengan cepat. Selain itu juga agar informasi tidak simpang siur di masyarakat,” katanya.

Dia juga mengatakan, pihaknya berencana melakukan rapat dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Se-Kabupaten Jepara untuk mempersiapkan segala hal, terkait dengan menyambut musim hujan yang berpotensi terjadi bencana. Sesuai rencana, rapat tersebut bakal digelar pecan depan di kantor Sekretariat daerah (Sekda). (WAHYU KZ/TITIS W)

Sudah Siapkah Tanggul Sungai di Jepara Hadapi Musim Hujan?

Salah satu sungai di Welahan yang kerap terjadi banjir akibat tanggul yang tak mumpuni. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Salah satu sungai di Welahan yang kerap terjadi banjir akibat tanggul yang tak mumpuni. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara berharap, agar semua tanggul yang ada di sungai dipastikan siap menghadapi musim penghujan tahun ini. Sebab, sebagaimana pengalaman tahun-tahun sebelumnya beberapa tanggul tidak siap dan akhirnya terjadi bencana banjir.

”Dari pantauan kami ada beberapa tanggul yang retak akibat kemarau panjang. Sehingga kami berharap, kerja sama dari instansi terkait untuk memperhatikan hal itu,” ujar Kepala BPBD Jepara Lulus Suprayitno melalui Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Jamaluddin kepada MuriaNewsCom.

Menurut dia, kemarau panjang tahun ini memang berpotensi besar mengakibatkan sejumlah tanggul sungai retak. Terlebih, musim hujan diperkirakan dimulai pada awal Desember mendatang.

”Sejumlah tanggul sungai yang retak, akibat kekeringan harus segera dibenahi. Sehingga, pada musim hujan nanti, tanggul tidak runtuh ke sungai dan mengakibatkan banjir,” ungkapnya.

Selain berharap kepada instansi terkait untuk memperhatikan kondisi tersebut. Pihaknya juga berharap kepada masing-masing kecamatan maupun desa untuk siap siaga menghadapi musim hujan yang akan datang. (WAHYU KZ/TITIS W)

Berikut Anggaran dan Lokasi Pembangunan Sumur BPBD Jepara

Sejumlah warga mendapatkan droping air untuk memenuhi kebutuhan air. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Sejumlah warga mendapatkan droping air untuk memenuhi kebutuhan air. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara merealisasikan pembuatan sumur untuk mengatasi bencana kekeringan yang terjadi di beberapa wilayah. Tahun ini direalisasikan pembuatan empat sumur yakni dua sumur bur, satu sumur pantek, dan satu sumur gali.

Kepala BPBD Jepara melalui Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Jamaluddin mengatakan, pembuatan sumur tersebut menggunakan anggaran yang didapatkan dari pusat. Setiap sumur dialokasikan anggaran sekitar Rp 28 juta.

”Lokasinya ada di Kecamatan Kedung, Bangsri, dan Mlonggo,” kata Jamaluddin kepada MuriaNewsCom, Rabu (4/11/2015).

Menurut dia, proses pembangunan sudah dimulai dan saat ini masih dalam proses. Dia juga mengatakan dana tersebut tidak hanya untuk pembuatan sumur belaka tapi juga untuk pipa saluran air. Masing-masing sumur akan disediakan pipa untuk mendistribusikan air ke tempat warga.

”Pembuatan sumur itu memang sesuai dengan rencana kami sebelumnya. Diharapkan dengan sumur tersebut kebutuhan air bersih bagi warga dapat terpenuhi,” imbuhnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

BPBD Jepara Tak Tega Hutan Muria Kebakaran

BPBD Hutan Muria 1 FOTO (e)

epala BPBD Jepara Lulus Suprayitno. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara tak tega hutan di Gunung Muria terbakar. Karenanya, mereka menyatakan siap untuk membantu mengatasi bencana kebakaran hutan di Gunung Muria. Hal itu dikatakan Kepala BPBD Jepara Lulus Suprayitno, Selasa (29/9/2015).

Menurut Lulus, pihaknya sudah menawarkan diri untuk merapat ke Kabupaten Kudus ketika beredar kabar hutan di kawasan gunung Muria tepatnya di area objek wisata air tiga rasa Rejenu turut desa Japan, Kecamatan Dawe, Kudus. Tapi kelihatannya dari pihak Kudus belum membutuhkan bantuan yang lebih besar. Sebab, area kebakaran hutan tidak terlalu luas.

“Dari informasi yang kami terima, kebakaran terjadi sekitar 2-3 hektare lahan saja,” kata Lulus.

Lebih lanjut Lulus mengungkapkan, jika pihaknya diminta untuk merapat, maka pihaknya berjanji bakal sesegera mungkin merapat dan memberikan bantuan. Sebab, bagaimanapun juga pegunungan Muria juga wilayahnya masuk di wilayah Kabupaten Jepara, meski area yang terbakar bukan di Jepara. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Sebelum Dimanfaatkan, Sumur Diteliti Dulu

Lulus Suprayitno, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Lulus Suprayitno, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara, Lulus Suprayitno mengemukakan, setelah melakukan pendataan sumur-sumur tua yang akan dimanfaatkan lagi. Selanjutnya dilakukan penelitian apakah sumur tersebut masih mengeluarkan air atau tidak.

”Jika memang diketahui sudah kering, akan diteliti lebih lanjut apakah di bawah tanahnya masih memiliki sumber air atau tidak,” ujar Lulus kepada MuriaNewsCom.

Menurut Lulus, sejauh ini sudah ada sejumlah sumur yang didatangi. Sejauh yang diketahui, sumur tersebut sudah tak berair. Kesimpulan sementara, disebabkan terlalu lama tak terawat sehingga terjadi sedimentasi yang menyebabkan sumber air tertutup.

”Untuk masalah ini, kami akan gandeng pihak yang sudah berpengalaman. Dalam hal ini PDAM,” kata Lulus.

Selain sumur peninggalan sejumlah instansi tersebut, BPBD juga akan meneliti sumur milik warga. Khususnya di daerah yang masuk peta rawan krisis air bersih. Hal itu dilakukan karena diprediksi krisis air bersih di masa yang akan datang bakal kian parah. Hal ini diperburuk dengan sumber air di Gunung Muria yang kian menyusut.

”Ini bentuk upaya untuk mengantisipasi krisis air di masa yang akan datang,” imbuhnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

 

BPBD Jepara Akan Manfaatkan Puluhan Sumur Tua

BPBD-Jepara

Lulus Suprayitno, Kepala BPBD Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara berencana memanfaatkan kembali sumur-sumur tua yang terbengkalai. Langkah itu akan dilakukan menyusul krisis air bersih dibeberapa wilayah di Kabupaten Jepara pada musim kemarau.

Kepala BPBD Jepara Lulus Suprayitno mengemukakan, hal itu dilakukan sebagai antisipasi krisis air bersih yang diperkirakan kian parah di tahun-tahun mendatang. Saat ini, pihaknya tengah melakukan proses pendataan sumur-sumur tua yang sudah tidak terpakai. Diperkirakan, ada puluhan sumur milik sejumlah instansi yang dibangun untuk keperluan pengairan warga, pertanian, maupun yang sifatnya kedaruratan.

”Sejalan dengan kian meluasnya jaringan air perpipaan, sumur-sumur itu terbengkalai. Padahal dulu banyak instansi yang membangun sumur-sumur untuk berbagai keperluan,” ujar Lulus Suprayitno kepada MuriaNewsCom.

Menurut Lulus, krisis air bersih merupakan akibat logis dari kemarau. Tapi akan menjadi bencana jika menimbulkan kerugian materi, bahkan jiwa. Untuk itu, BPBD saat ini tidak hanya fokus pada bantuan air bersih untuk konsumsi, tapi juga air baku untuk keperluan peternakan dan pertanian.

”Kebutuhan air untuk ternak juga kami pikirkan. Kami juga pikirkan kebutuhan air baku untuk pertanian. Maka, kami saat ini sedang gencar membuat program pembuatan sumur pantek. Anggarannya kami minta di BNPB pusat,” katanya. (WAHYU KZ/TITIS W)

 

Asyik, Pekan Ini Tandon Air Dikirim ke Wilayah Kekeringan

Kepala BPBD Jepara Lulus Suprayetno menunjukkan tandon air yang akan dikirim ke Desa yang mulai terkena bencana kekeringan. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Kepala BPBD Jepara Lulus Suprayetno menunjukkan tandon air yang akan dikirim ke Desa yang mulai terkena bencana kekeringan. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Tandon air yang dimiliki Badan Penanggulangan Bencana daerah (BPBD) Kabupaten Jepara, dalam pekan ini dikirimkan ke sejumlah Desa yang mulai terkena bencana kekeringan. Hal itu disampaikan Kepala seksi (Kasi) Rehabilitasi dan Rekonstruksi pada BPBD Jepara, Jamaludin kepada MuriaNewsCom, Senin (3/8/2015).

Menurut Jamaludin, pihaknya masih memiliki sekitar 60 tandon yang disimpan di gudang dan area kantor BPBD Jepara. Untuk itu, mulai hari ini dijadwalkan sudah dimulai melakukan pengiriman ke sejumlah Desa yang sudah mulai terjadi bencana kekeringan.

”Pekan ini kami jadwalkan pengiriman tandon air ke Desa yang sudah mulai terjadi kekeringan selesai,” ujar Jamaludin.

Lebih lanjut Jamaludin mengemukakan, setelah nantinya tandon terkirim. Rencananya, desa-desa yang terjadi kekeringan yang sudah siap menerima suplai air bersih, maka akan langsung dikirimkan suplai air bersihnya. Sebab, mengaca pada tahun lalu, jika Desa belum siap maka dapat terjadi kerusakan pada tandon yang diisi air.

”Desa juga harus siap, karena pengisian air ke tandon butuh beberapa orang agar berjalan lancar,” imbuhnya. (WAHYU KZ/SUPRIYADI)