Pelatihan Membatik di BLK Kudus Minim Peminat

Sejumlah warga membatik di Kabupaten Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Satu dari sekian banyak progam Balai Latihan Kerja (BLK) Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Kudus 2017 adalah pelatihan membatik. Sayangnya, dalam pelatihan itu tak ditunjang dengan besarnya minat masyarakat.

Sekretaris Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Kudus Sajad mengatakan peminat pelatihan membatik memang kurang sejak sedari awal penyelenggaraan. Akibatnya, kegiatan pelatihan membatik di BLK terpaksa dihentikan sampai peminatnya banyak. m”Kudus memiliki tempat batik yang terbatas karena memang bukan sentra batik. Untuk itulah dalam lahan bekerja juga memiliki batasan. Dampaknya kurang diminati,” katanya.

Peminat batik juga anjlok pada tahun ini. Yang artinya dari dinas tak melaksanakan. Meski demikian, tak menutup kemungkinan tahun berikutnya, pelatihan membatik bisa dilaksanakan jika peminat tinggi. Tak hanya batik, mantan kepala UPT BPL itu  juga menuturkan sejumlah keterampilan lain yang juga sepi peminat. Seperti  menjahit tas, menjahit topi, teknisi HP, dan teknisi komputer. 

Sedangkan jurusan yang paling banyak, lanjutnya, adalah jurusan tata boga, menjahit busana, tata kecantikan kulit, setir mobil, membuat baki lamaran, dan tata kecantikan rambut. “Dengan rata-rata diikuti 200 peserta,” ucapnya.

Editor : Akrom Hazami

Dari Hanya Bisa Perbaiki Sepeda, Hidup Fahturozi Berubah karena Hal Ini

Fahturozi, (31), warga Kabupaten Kudus, akhirnya bisa membuka bengkel. (Istimewa)

Fahturozi, (31), warga Kabupaten Kudus, akhirnya bisa membuka bengkel. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Kudus – Setiap orang pasti memiliki mimpi yang indah, yang kemudian sesuai dengan keinginannya. Namun terkadang, ada saja halangan untuk bisa mewujudkan impian tersebut.

Demikian juga dengan anak-anak muda di Kabupaten Kudus. Mereka memiliki impian, yang tentunya sesuai dengan apa yang diinginkannya supaya terwujud. Namun, hanya kerja keras dan tidak kenal menyerah, yang bisa membuat impian itu terwujud.

Kata menyerah juga tidak ada dalam kamus seorang Fahturozi, (31), warga Kabupaten Kudus. Impiannya untuk bisa memiliki memiliki ilmu mengenai mesin dan perbengkelan, terus menyala dalam dirinya. Sehingga dirinya berusaha untuk menambah ilmu yang ada.

”Semula saya hanya bisa memperbaiki sepeda saja. Tapi memang saya ingin supaya saya bisa menambah wawasan saya agar bisa memperbaiki mesin. Apakah itu mesin motor atau mobil. Itu cita-cita saya,” tuturnya.

Keinginan kuat itu, lantas membawa Fahturozi ke Balai Latihan Kerja (BLK) Kudus. Di sana, dirinya kemudian memilih pelatihan yang sesuai dengan keinginannya. ”Saya pertama memilih kursus mesin. Karena memang saya ingin memperdalam ilmu saya soal itu,” katanya.

Berbekal ilmu yang diterimanya di BLK itu, Fahturozi lantas mendirikan bengkel di rumahnya. Dia mulai berani untuk memperbaiki mesin-mesin lain selain mesin sepeda. ”Inilah yang kemudian saya sebut banyak manfaatnya sekali belajar di BLK. Karena ilmu saya bertambah, ketrampilan saya bertambah. Sehingga bisa mengaplikasikannya langsung di kehidupan saya sehari-hari,” paparnya.

BLK sendiri memang memiliki program untuk membantu warga Kudus, terutama anak-anak muda yang memiliki mimpi berwirausaha, dengan memberikan aneka pelatihan. Sehingga anak-anak muda itu, bisa memiliki ketrampilan yang digunakan untuk bekerja di kemudian hari.

Program-program di BLK memang dibuat sedemikian rupa, sebagai bagian dari kegiatan yang didanai Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang diterima Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus.

Ini sudah sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 28/PMK.07/2016 tentang Penggunaan, Pemanfaatan, dan Evaluasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau, termasuk juga sosialisasi Peraturan Bupati Kudus Nomor 32 Tahun 2013 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Kabupaten Kudus.

”Saya berharap, Pemkab Kudus bisa menambah lagi jenis-jenis ketrampilan yang ada, sehingga ilmu kami bertambah banyak. Termasuk juga bantuan-bantuan alat, yang akan membantu kami dalam bekerja,” harap Fahturozi. (HMS/SOS/CUK)

Editor: Merie

2016, Jurusan Favorit BLK di Kudus Bakal Dibuatkan Tingkat Lanjut

Kepala Dinsosnakertrans Ludhful Hakim (kiri) didampingi kepala BLK Sajad memberikan penjelasan terkait pelatihan lanjutan. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kepala Dinsosnakertrans Ludhful Hakim (kiri) didampingi kepala BLK Sajad memberikan penjelasan terkait pelatihan lanjutan. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Selama 2016 ini, Balai Latihan Kerja (BLK) Kudus tengah mempersiapkan adanya pelatihan keterampilan lanjutan. Meski demikian, jurusan yang dipilih untuk pelatihan lanjutan adalah jurusan yang menjadi favorit atau banyak peminat.

Kepala Dinsosnakertrans Kabupaten Kudus Ludhful Hakim didampingi kepala BLK Sajad mengungkapkan, pelatihan lanjutan sedang dipersiapkan oleh pihak BLK. Namun untuk jurusan yang kurang banyak peminat, tidak disiapkan adanya pelatihan lanjutan.

”Kami lakukan berdasarkan dari permintaan para peserta BLK. Mereka menginginkan adanya pelatihan tingkat lanjutan untuk jurusan yang diambil mereka,” katanya kepada MuriaNewsCom.
Mengenai materi yang diberikan, katanya adalah materi lanjutan dari yang pernah diberikan pada tingkat dasar. Dengan demikian, otomatis peserta yang dapat mengikuti materi pelatihan adalah mereka yang sudah memiliki sertifikat pelatihan sebelumnya.

”Ada beberapa jurusan yang menjadi favorit, yaitu pelatihan menjahit, bengkel motor, tata rias salon, kecantikan rambut, kecantikan kulit, rias pengantin serta tata boga,” ujarnya.

Baca juga : Sesuaikan Tuntutan Zaman, BLK Kudus Tambah Jurusan Keterampilan

Dia mencontohkan, materi untuk tata boga bukan hanya mengajarkan cara membuat kue saja. Melainkan juga mengajarkan cara membuat masakan lain. Misalnya bakso, serta kuliner lainnya.
Mengenai instruktur yang terdapat pada BLK, kata dia adalah sebagian besar sudah ada. Namun beberapa di antaranya kerja sama dengan bimbingan belajar atau kursus yang terdapat di Kudus.
”Untuk instruktur sebagian besar sudah ada. Namun yang belum adalah jurusan tata boga dan salon kecantikan,” ungkapnya.

Selain itu, instruktur las dan otomotif juga sangat dibutuhkan di sini. Sebab banyaknya peminat yang mengambil jurusan tersebut.

Baca juga:

Tak Ada Bantuan Alat, Peserta Pelatihan di BLK Kudus Tetap Membeludak

Begini Cara Menyulap Alumni BLK Jadi Pengusaha Sukses

Ribuan Warga Terserap Bekerja di Sektor Formal dan Mandiri Usai Mengikuti Pelatihan di BLK

Berkembangnya Pabrik Garmen di Blora, BLK Menjahit Paling Diminati

Editor : Titis Ayu Winarni

Ini Trik Bupati Kudus Biar Pengusaha dapat Modal

Bupati Kudus Musthofa saat hadir dalam acara BLK. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Bupati Kudus Musthofa saat hadir dalam acara BLK. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

KUDUS – Bupati Kudus Musthofa mengatakan dalam membangun usaha menang membutuhkan modal. Dan di Kudus, hal itu sudah dilakukan dengan progam KUP.

“Silakan bagi yang menggunakan progam KUP. Itu akan sangat membantu dalam menjalankan usahanya,” kata Musthofa.

Bahkan, dia berharap semua alumni BLK dapat meminjam KUP. Dengan demikian, maka dapat membantu mengembangkan usahanya. Terlebih sekarang alumni BLK yang baru sudah tidak mendapatkan batuan alat.

Sebagai bupati, dia sepakat kalau alat tidak ada. Sebab banyak yang salah menggunakan fasilitas itu, sehingga bagi dia lebih baik dihapus.

Dia menjelaskan, banyak dari alumni BLK yang sudah mendapatkan alat malah menjualnya dan pindah tangan. Padahal cara tersebut juga tidak benar karena tujuan alat adalah membuat usaha.
“Saya juga tidak percaya kalau 60 persen alumni yang berhasil. Pasti tidak ada segitu. Saya yakin,” ujarnya ragu. (FAISOL HADI/AKROM HAZAMI)

Dinsosnakertrans Gelar Pelatihan yang Diikuti Ribuan Peserta dari Lingkungan IHT Kudus

Salah satu pelatihan yang digelar Balai Latihan Kerja (BLK) Kudus. (BLK Kudus)

Salah satu pelatihan yang digelar Balai Latihan Kerja (BLK) Kudus. (BLK Kudus)

 

KUDUS – Pembinaan lingkungan Industri Hasil Tembakau (IHT) yang menjadi salah satu alokasi dana Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) terus dimaksimalkan. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20/PMK.07/2009 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK.07/2008 tentang Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Sanksi Atas Penyalahgunaan Alokasi DBHCHT.

Dalam hal ini, Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus pada tahun 2015 telah melatih 3.500 peserta dari masyarakat di lingkungan IHT Kudus. Hal ini juga mengacu kepada Peraturan Bupati Kudus Nomor 22 Tahun 2010 tentang perubahan atas Peraturan Bupati Kudus Nomor 12 Tahun 2009 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Kabupaten Kudus.

Menurut Sajad, Kepala UPT Balai Latihan Kerja (BLK) Conge Ngembalrejo Kudus, pelatihan keterampilan kerja disesuaikan dengan pangsa kerja yang ada. Perencanaan dan penentuan pangsa kerja berdasarkan Muskerbang sesuai dengan aspirasi masyarakat.

BLK milik Dinsosnakertrans Kudus itu pada tahun 2015 telah menargetkan peserta sebanyak 3.500 mengikuti pelatihan kerja. Sebanyak 25 jenis kejuruhan pelatihan kerja telah diminati peserta pelatihan.“Peserta pelatihan hanya boleh mengikuti satu pilihan jurusan saja,” ujarnya.
Untuk memaksimalkan peran dalam penggunaan DBHCHT, pihak BLK terus melakukan evaluasi. Termasuk evaluasi yang penting dilakukan, menurutnya, menyesuaikan jenis pelatihan dengan perkembangan pasar kerja.

“BLK terus melakukan kreatifitas dalam penentuan dan penambahan jurusan. Hal ini dibuktikan dengan semakin bertambahnya pilihan kejuruan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja,” ungkapnya. (Ads)

Pemkab Kudus Bantu Warga Kembangkan Keterampilan Melalui BLK

Suasana pelatihan jurusan otomotif mobil di Balai Latihan Kerja (BLK) Kudus. Pelatihan ini telah sukses mencetak tenaga kerja siap pakai di bidang otomotif. (Foto: BLK Kudus)

Suasana pelatihan jurusan otomotif mobil di Balai Latihan Kerja (BLK) Kudus. Pelatihan ini telah sukses mencetak tenaga kerja siap pakai di bidang otomotif. (Foto: BLK Kudus)

 

KUDUS – Dana cukai yang terima Kabupaten Kudus juga digunakan untuk meningkatkan keterampilan warganya untuk menjadi pelaku wirausaha yang mumpuni. Salah satunya yang dilakukan Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Kegiatan yang dilaksanakan selalu berpedoman pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20/PMK.07/2009 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK.07/2008 tentang Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Sanksi Atas Penyalahgunaan Alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau serta Peraturan Bupati Kudus Nomor 32 Tahun 2013 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau di Kabupaten Kudus.

Melalui Balai Latihan Kerja (BLK), Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kudus membuka pelatihan berbagai keterampilan bagi warga di lingkungan Industri Hasil Tembakau (IHT). Keterampilan yang diajarkan di BLK antara lain pelatihan kerja kejuruan otomotif, komputer, bahasa asing, menjahit, dan aneka kejuruan lainnya.

Pelatihan ketrampilan ini mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20/PMK.07/2009 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK.07/2008 tentang Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Sanksi Atas Penyalahgunaan Alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau. Pasal 7 Ayat (1) huruf a menyebutkan, pembinaan kemampuan dan ketrampilan kerja masyarakat di lingkungan IHT dan / atau daerah penghasil bahan baku Industri Hasil Tembakau.

Selain itu, juga berdasarkan pada Peraturan Bupati Nomor 32 Tahun 2013 Lampiran III.A.3. Program Pembinaan Lingkungan Sosial, pada kegiatan b.1) a) pengurangan di lingkungan IHT melalui pelatihan dan bantuan sarana usaha bagi pencari kerja.

”Kami berupaya meningkatkan kemampuan berwirausaha warga di lingkungan IHT dengan cara pelatihan dan pemberian bantuan alat. Sesuai pengarahan dari Bapak Bupati (Musthofa, red), kegiatan-kegiatan yang dibiayai oleh dana DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau) harus benar-benar bisa dirasakan warga di lingkungan industri hasil tembakau,” kata Kepala Bagian Humas Setda Kudus Putut Winarno.

Kepala UPT BLK Kabupaten Kudus Sajat menyatakan, pelatihan ini telah mampu mencetak tenaga-tenaga siap pakai untuk bersaing di dunia kerja. Sekaligus, berkontribusi dalam menekan angka pengangguran di wilayah Kudus.

Di jurusan menjahit misalnya, peserta pelatihan tidak hanya dilatih cara menjahit. Namun, peserta pelatihan yang diikuti warga di lingkungan industri hasil tembakau (IHT) ini juga diberikan berbagai keahlian lain yang menunjang ketrampilannya. Keahlian tersebut antara lain dapat mengoperasikan mesin jahit standar, melakukan proses jahit, bisa membaca pola, dan menerapkan standar kualitas. Selain itu, peserta juga dibekali pelatihan prosedur Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di tempat kerja, melalukan pemeliharaan kecil pada mesin jahit, serta dapat bekerja sebagai anggota dalam tim. (ADS)

Berkembangnya Pabrik Garmen di Blora, BLK Menjahit Paling Diminati

Sejumlah peserta pelatihan saat melakukan pelatihan menjahit di Balai Latihan Kerja, Blora. (MuriaNewsCom/Priyo)

Sejumlah peserta pelatihan saat melakukan pelatihan menjahit di Balai Latihan Kerja, Blora. (MuriaNewsCom/Priyo)

 

BLORA – Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Sosial melalui Bidang Balai Pelatihan Kerja (BLK) menggelar pelatihan kerja tahap ke II bagi masyarakat umum. Dalam pelatihan ini dilakukan selama satu bulan, dengan enam bidang pelatihan dan dilaksanakan secara gratis.

”Dalam pelatihan ini para peserta pelatihan banyak yang berminat dengan jurusan pelatihan menjahit. Hal ini menyusul adanya pabrik garmen yang ada di kabupaten Blora sedangkan untuk lainya hampir berimbang,” jelas Kepala UPTD-BLK Dinakertransos Blora Sri Budi Lestari, Senin (28/9/2015).

Selain itu pelatihan tahap ke II ini diharapkan bisa mengurangi pengangguran bagi. Dan mendorong mereka agar mampu membangun usaha sendiri.

”Melihat banyak peminatnya, ke depan kami akan buka hanya untuk tiga jurusan yaitu menjahit dua kelas dan las,” ungkapnya.

Pihaknya mengaku dalam pelatihan ini masih banyak kendala. Terutama dari segi peralatan dan instruktur dalam pelatihan. Oleh karena itu, hal ini tentu menjadi perhatian pihak BLK untuk terus melakukan pembenahan.

”Kendalanya adalah kurangnya instruktur. Sebab saat ini kami baru bekerja sama dengan non PNS untuk menjadi rekanan dalam pelatihan ini,” imbuhnya.

Namun demikian pihaknya berharap peserta tetap serius dalam mengikuti pelatihan, agar ke depan bisa memanfaatkan ilmu yang didapat. Selain itu, diharapkan mereka juga bisa menyalurkan ilmunya ini baik untuk kerja maupun berwirausaha. (PRIYO/TITIS W)

Tak Ada Hibah Alat, Jadi Ujian Keseriusan Peserta BLK

Subkhan, Kepala Bidang Pelatihan Tenagakerja dan Transmigrasi (Pentatrans) pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Subkhan, Kepala Bidang Pelatihan Tenagakerja dan Transmigrasi (Pentatrans) pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Seiring adanya aturan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 yang menyatakan penerima hibah atau bantuan harus memiliki badan hukum. Praktis peserta Balai Latihan Kerja (BLK) Jepara tak lagi dapat menerima bantuan alat kerja. Bagi Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Jepara, ini akan jadi ujian keseriusan para peserta pelatihan kerja.

”Itu akan menjadi tolok ukur keseriusan peserta. Bila animo peserta turun, bisa jadi peserta hanya menginginkan bantuannya,” kata Subkhan.

Dia juga mengatakan, kalau hal itu terjadi, dia nilai wajar-wajar saja. Sebab, selama ini memang banyak bantuan bagi para peserta. Meski begitu, ia menekankan esensi dari pelatihan adalah pemberian keterampilan bagi terciptanya lapangan dan tenaga kerja di masyarakat.

Lebih lanjut ia mengatakan, saat ini ada 20 kelas pelatihan kerja. Tiap kelas terdiri dari sekitar 20 peserta. Jadi untuk tahun ini peserta yang tak dapat mengakses bantuan alat kerja itu mencapai 400 orang.

Terhadap tersumbatnya aliran bantuan alat tenaga kerja, pihaknya akan mengupayakan agar kegiatan berikutnya dapat diakses peserta. Pihaknya mengaku akan melakukan upaya konsultasi dengan sejumlah pihak. (WAHYU KZ/TITIS W)

Ratusan Peserta BLK Tak Lagi Dapat Bantuan

Bantuan mesin jahit untuk peserta BLK tahun 2014. Tahun ini, peserta BLK tak lagi dapat terima bantuan alat kerja. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Bantuan mesin jahit untuk peserta BLK tahun 2014. Tahun ini, peserta BLK tak lagi dapat terima bantuan alat kerja. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Sedikitnya 400 peserta Balai Latihan Kerja (BLK) Jepara tak lagi mendapatkan bantuan berupa alat dari pemerintah. Pasalnya, sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku pada nomor 23 tahun 2014, penerima bantuan hibah harus memiliki badan hukum.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Pelatihan Tenagakerja dan Transmigrasi (Pentatrans) pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Jepara Subkhan. Menurutnya, lantaran tak ada alokasi hibah kepada peserta BLK, praktis ratusan peserta hanya akan mendapatkan keterampilan dan sertifikat saja.

”Tidak ada bantuan alat kerja itu disebabkan berlakunya undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 mengenai Pemerintah Daerah. Sesuai aturan itu, penerima bantuan harus berbadan hukum,” ujar Subkhan kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, meski peralatan bantuan itu hanya bersifat bantuan, namun dinilai mekanisme pemberian sama dengan pemberian hibah. Dia menilai, kebijakan itu merupakan bentuk kehati-hatian pemerintah. ”Itu bentuk kehati-hatian pemerintah agar tidak menuai masalah dalam pemberian bantuan,” katanya.

Dia menambahkan, sebelumnya peserta pelatihan kerja masih dapat memperoleh bantuan peralatan kerja. Pihaknya mengatakan, baru untuk 2015 ini peserta mulai tak mendapatkan bantuan. (WAHYU KZ/TITIS W)