Kantor BPN Pati Pun Ikut Digeledah Tim Saber Pungli, Apa Hasilnya?

Polisi yang tergabung dalam Tim Saber Pungli memeriksa dokumen di loket pelayanan Kantor BPN Pati, Rabu (30/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Pati juga digeledah polisi bersama Tim Saber Pungli Pati, Rabu (30/8/2017). Penggeledahan dilakukan setelah adanya laporan masyarakat yang menyebut ada indikasi pungutan di sana.

“Informasi yang kami terima dari masyarakat, ada pungli di Kantor BPN Pati. Kami langsung mendatangi kantor tersebut dan melakukan penggeledahan di loket-loket pelayanan masyarakat,” kata Ketua Tim Saber Pungli Pati Kompol Sundoyo.

Dari hasil penggeledahan, polisi tidak menemukan adanya indikasi pungli. Pelayanan di BPN Pati diakui sudah berjalan sesuai dengan prosedur dan administrasi.

Tak hanya penggeledahan dokumen, polisi juga bertanya kepada sejumlah pengunjung yang sedang mengurus di BPN Pati. Mereka mengaku tidak ada pungli di sana.

Namun, Kompol Sundoyo melihat papan pengumuman prosedur pengurusan di BPN Pati tidak begitu jelas. Karena itu, ia meminta kepada Kepala BPN Pati untuk memasang agar masyarakat tahu.

Baca juga : Edaan…Makelar di Pelabuhan Juwana Ini Bahkan Punya Kantor Khusus

Menanggapi hal itu, Kepala BPN Pati Yoyok Hadimulyo Anwar akan segera melakukan evaluasi penempatan poster prosedur pengurusan di BPN Pati. “Sebetulnya sudah ada, tapi kami kesulitan mau menempel di mana, nanti akan kami benahi,” kata Yoyok.

Penggeledahan di Kantor BPN Pati sempat membuat banyak pegawai dan pengunjung kaget. Namun, pegawai mempersilakan untuk melakukan pemeriksaan, setelah Kompol Sundoyo mengenalkan diri sebagai Tim Saber Pungli.

Editor : Ali Muntoha

Edan…Makelar di Pelabuhan Juwana Ini Bahkan Punya Kantor Khusus

Tim Saber Pungli mendatangi makelar yang beroperasi di sebelah Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Juwana, Rabu (30/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Tim Saber Pungli Kabupaten Pati yang dipimpin Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo menemukan makelar yang mangkal di kawasan Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Juwana, Rabu (30/8/2017).

Makelar tersebut memiliki kantor yang jaraknya hanya beberapa meter dari Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Juwana. Saat ditanya petugas, dia mengenalkan diri dengan nama Kliwon.

Namun, setelah dicecar petugas, dia baru mengaku bila namanya Karyanto. Di kantor tersebut, Karyanto melayani berbagai macam pengurusan surat.

Salah satu pelayanan yang diberikan, antara lain SIUP, SIPI, surat laut, pengesahan surat ukur internasional, sertifikat garis muat, balik nama gros akte, dan halaman tambahan. Sayangnya, tidak ada pengunjung yang menggunakan jasanya saat Tim Saber Pungli memeriksanya.

Saat ditanya apakah Karyanto menyetor sejumlah uang kepada pegawai Kantor Pelabuhan Juwana untuk memuluskan profesinya sebagai makelar, dia hanya tersenyum dan tidak menjawabnya. Kompol Sundoyo lantas memerintahkan anggota Tim Saber Pungli untuk melakukan investagasi lebih lanjut.

“Kami memerintahkan kepada tim deteksi untuk melakukan investasi lebih lanjut apakah ada jaringan makelar yang melibatkan pegawai kantor pelabuhan. Sebab, kami menemukan adanya prosedur pengurusan surat di kantor pelabuhan yang sengaja tidak transparan,” ungkap Kompol Sundoyo.

Baca juga : Kantor Pelabuhan Juwana Digeledah Tim Saber Pungli

Menurutnya, informasi prosedur pengurusan surat ada indikasi dibuat tidak transparan, agar menggunakan jasa makelar yang sudah bekerja sama dengan pegawai. Hanya saja, pihaknya belum menemukan bukti yang menguatkan indikasi tersebut.

Ia mengimbau kepada masyarakat untuk mengurus surat-surat di kantor pelabuhan secara langsung, tanpa menggunakan jasa perantara. Bila sudah mengurus surat di kantor secara langsung tapi ada pungutan, dia meminta kepada masyarakat untuk tidak segan melaporkan kepada Tim Saber Pungli di Mapolres Pati.

“Pegawai sudah digaji negara. Kalau masih saja melakukan pungutan kepada masyarakat, artinya mereka menghianati negara. Ini harus diberantas sampai akar-akarnya,” tandas Kompol Sundoyo.

Editor : Ali Muntoha

Kantor Pelabuhan Juwana Digeledah Tim Saber Pungli

Tim Saber Pungli mendatangi Kantor Unit UPP Kelas III Juwana untuk pemeriksaan adanya dugaan pungli, Rabu (30/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Juwana diperiksa Tim Saber Pungli, Rabu (30/8/2017). Semua ruangan digeledah dan diperiksa.

Ketua Tim Saber Pungli Kabupaten Pati Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo mengatakan, pemeriksaan Kantor UPP Kelas III Juwana tersebut melibatkan semua unsur, dari polisi, TNI, pemkab, propam, dan inspektorat.

“Ada laporan dari masyarakat yang menyebutkan adanya indikasi pungutan liar di sana. Laporan itu kami tindak lanjuti dengan memeriksa seluruh ruangan untuk menemukan barang bukti,” kata Kompol Sundoyo.

Belasan petugas Tim Saber Pungli yang datang, langsung masuk ke berbagai ruangan untuk memeriksa berkas-berkas. Sasaran utama yang diperiksa paling awal adalah ruang pelayanan umum.

Di ruangan itu, Tim Saber Pungli mencium adanya prosedur penerbitan sertifikat kelayakan pada Kantor UPP Juwana yang tidak transparan. Hanya saja, pihaknya tidak menemukan adanya pelanggaran administrasi yang menunjukkan adanya pungli.

“Soal transparansi prosedur pelayanan masyarakat masih kurang. Tapi secara keseluruhan sudah sesuai dengan ketentuan administratif,” tambahnya.

Dia meminta kepada pegawai Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Juwana untuk melengkapi tata cara prosedur pelayanan sesuai dengan aturan.

Dengan demikian, masyarakat bisa paham dengan mudah prosedur pengurusan di UPP Juwana.

Editor : Ali Muntoha

Panen Brambang Melimpah, Warga Sidoharjo Pati Nanggap Wayang Kulit

Dalang asal Solo, Ki Bayu Aji Pamungkas saat memainkan wayang di Desa Sukoharjo, Wedarijaksa, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Warga Desa Sidoharjo, Kecamatan Wedarijaksa, Pati memanfaatkan momen akhir bulan Apit dalam kalender Jawa untuk mengagendakan bersih desa dengan wayang kulit.

Pagelaran itu sekaligus menjadi wujud rasa syukur petani setempat karena panen bawang merah yang melimpah.

Kepala desa setempat, Bogi Yulistanto mengatakan, komoditas utama yang dihasilkan petani di Desa Sidoharjo adalah bawang merah dan padi. Karena itu, padi dan brambang diikat di atas panggung pada pagelaran wayang kulit agar pertanian warga diberkahi.

“Kondisi bawang merah cukup bagus, tapi harganya yang saat ini masih kurang memuaskan. Di sini, petaninya hampir separuh lebih merupakan anak muda. Mereka suka bertani bawang merah,” ungkap Bogi, Senin (28/8/2017).

Bupati Pati Haryanto yang hadir dalam pagelaran wayang tersebut memberikan apresiasi kepada pemerintah desa yang masih nguri-uri budaya Jawa melalui kesenian. Sebab, kesenian dan budaya tradisional saat ini mulai dilupakan di tengah kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat.

Menurutnya, ada tiga hal penting yang bisa diambil manfaat saat petani mengungkapkan rasa syukur pada prosesi bersih desa melalui kesenian. Pertama, pembersihan desa dari aspek jasmani, lingkungan maupun spiritual.

Jiwa masyarakatnya dibersihkan agar tidak gampang iri, dengki dan sifat-sifat buruk lainnya. Sebaliknya, bersih desa bisa dimanfaatkan untuk gladi agar manusia punya sifat yang bersih, baik dan bertindak sesuai dengan ajaran agama.

Kedua, kesenian bisa memupuk semangat persatuan dan kesatuan bangsa, karena masyarakat “tumplek blek” menonton bersama tanpa membedakan status sosial. Ketiga, tontotan tradisional bisa meningkatkan tali silaturahmi dan persaudaraan.

Sementara Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo menambahkan, potensi pertanian di Kabupaten Pati sangat luar biasa. Bawang merah menjadi salah satu komoditas andalan yang dihasilkan dari bumi Wedarijaksa.

“Setiap tahun, Pati selalu memberikan kontribusi yang baik untuk ketahanan pangan nasional. Hal itu tidak lepas dari perjuangan para petani di Pati. Kami berharap, Pati akan terus menjadi lumbung pertaniannya Indonesia,” tutur Firman.

Pagelaran wayang sendiri mengambil lakon “Pendawa Manunggal”. Lakon itu mengisahkan perjuangan Pandawa dalam merebut tahta kepemimpinan Kurawa yang mendasarkan ego, kepentingan pribadi, dan angkara murka dalam setiap kebijakannya untuk rakyat.

Editor : Ali Muntoha

Ratusan Siswa SDN 1 Muktiharjo Pati Ikuti Aksi Makan Bergizi Serentak

Siswa SDN 01 Muktiharjo mengikuti program makanan B2SA yang digalakkan Dinas Ketahanan Pangan Jateng, Sabtu (26/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ratusan siswa SDN 01 Muktiharjo Pati mengikuti aksi makan makanan bergizi secara serentak, Sabtu (26/8/2017). Kegiatan tersebut diadakan di masing-masing kelas.

Mereka nampak lahap memakan menu yang disediakan pihak sekolah bekerja sama dengan Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah. Menu yang dimakan terdiri dari karbohidrat, protein, dan mineral.

Viona Bilqis (10), salah satu siswi kelas 5 mengatakan, selama ini dia suka dengan sayur-sayuran seperti yang disarankan dalam aksi makan bergizi serentak. Sementara lauk-pauk yang paling ia gemari adalah ikan.

“Saya suka sayur. Untuk lauk-pauk sukanya ikan. Ini yang kita makan lengkap, ada ikan, telur, tahu, tempe, dan sup sayuran,” kata Viona.

Suhartono, petugas dari Dinas Ketahanan Pangan Jawa Tengah yang meninjau lokasi tersebut menuturkan, SDN 01 Muktiharjo menjadi sasaran program makan bergizi bersama, karena jumlah siswanya mencapai lebih dari 250 orang. Selain itu, sekolah tersebut berada di pinggiran kota.

“Kita sasar sekolah yang berada di pinggiran kota, karena sekolah di kota rata-rata sudah mendapatkan pemahaman soal makanan bergizi. Selain itu, SDN 01 Muktiharjo siswanya banyak,” kata Suhartono.

Di Jawa Tengah, ada sebelas sekolah plus satu pesantren di sepuluh kabupaten yang menjadi sasaran program sosialiasi makanan beragam, bergizi, seimbang dan aman (B2SA). Pati menjadi salah satu daerah yang menjadi sasaran program.

Sementara itu, Kepala SDN 01 Muktiharjo Kusriah menuturkan, program tersebut akan dilakukan sebanyak sepuluh kali. Lima kali dilakukan pada Agustus, sedangkan lima agenda lainnya akan dilakukan pada September 2017.

“Sekarang makanan empat sehat lima sempurna sudah diganti dengan B2SA. Tidak harus dengan susu, asal ada karbohidrat, protein hewani, nabati, vitamin dan mineral itu sudah sangat cukup untuk kebutuhan gizi anak,” pungkas Kusriah.

Editor : Ali Muntoha

Mantan Intelijen Kodim Pati Ungkap Kondisi Indonesia 10 Tahun Mendatang

Kapten Inf Yahudi saat mamaparkan kondisi Indonesia sekarang dan kemungkinannya yang terjadi pada 10 tahun mendatang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Mantan Perwira Seksi (Pasi) Intel Kodim 0718/Pati yang saat ini menjabat sebagai Danramil Juwana Kapten Inf Yahudi mengungkap kondisi Indonesia pada 10 tahun mendatang. Hal itu disampaikan dalam berbagai forum kebangsaan di sejumlah daerah.

Apa yang disampaikan Kapten Inf Yahudi bukan prediksi, apalagi ramalan. Dia mengungkapkan sesuai dengan analisis intelijen yang didasarkan pada kondisi Indonesia saat ini.

“Penjajahan yang terjadi di Indonesia sekarang ini adalah proxy war, perang tanpa bentuk, tanpa pasukan. Penjajah pasang mata-mata, politik dikacaukan, ekonomi dikacaukan, berbagai aspek dibeli,” katanya.

Semua aspek dikacaukan dengan tujuan agar kondisi Indonesia tidak stabil. Negara-negara lain juga disebut menanamkan pengaruhnya untuk merebut sumber daya alam (SDA) Indonesia yang begitu melimpah.

Berbagai “ranjau” yang ditebar untuk mengacaukan Indonesia itu memiliki ragam bentuk, dari narkoba yang merusak generasi bangsa, konflik politik yang mengguncang stabilitas nasional, terorisme dan kelompok radikal, hingga isu bangkitnya komunisme.

“Indonesia adalah negara equator, negara subur. Sepuluh tahun ke depan, negara yang tidak punya alam akan berbondong-bondong ke negara-negara equator untuk merebut SDA,” terangnya.

Dari data intelijen yang disampaikan, Indonesia akan menentukan nasibnya pada 28 tahun mendatang. Dia akan menjadi negara emas dan berjaya atau negara gagal yang penuh dengan kekacauan.

Karena itu, dia meminta kepada masyarakat untuk ikut bersama-sama menjaga persatuan dan kesatuan NKRI, tidak mudah terprovokasi untuk memusuhi saudara sendiri. Serta mengawasi generasi emas bangsa dari budaya asing, narkoba, serta perilaku tawuran antarpelajar.

“Maka, Indonesia saat ini perlu kita perjuangkan kembali. Masalah-masalah yang timbul jangan sampai membuat NKRI terpecah. Ini menyangkut nasib dan masa depan kita bersama,” tandas Kapten Inf Yahudi.

Editor : Ali Muntoha

Aksi Parkir Serentak, Petani Tebu di Pati Mbengok soal Pajak 10 Persen

Peserta aksi membentangkan spanduk berisi tuntutan di Jalan Wedarijaksa-Tayu, Kamis (24/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Petani tebu di Kabupaten Pati, menggelar aksi dengan secara serentak memarkirkan truk tebu mereka di kawasan Jalan Wedarijaksa-Tayu, sebelum Polsek Wedarijaksa hingga plasement PG Trangkil, Kamis (24/8/2017).

Aksi tersebut sebagai bentuk keprihatinan terkait kebijakan pemerintah dalam mengatur pergulaan nasional.

Selain aksi parkir serentak, mereka memanjatkan doa bersama agar hasil pertanian dan perkebunan seperti komoditas gula pasir masuk barang strategis, sehingga tidak dikenakan pungutan PPN 10 persen.

“Kebijakan PP Nomor 31 Tahun 2007 menjelaskan bahwa komoditas gula pasir tidak masuk barang strategis. Akibatnya, ada pungutan pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 10 persen. Ini cukup memberatkan,” ujar koordinator aksi, Suharno.

Ada lima hal yang mereka tuntut dalam aksi tersebut. Pertama, menolak PP Nomor 31 Tahun 2007. Kedua, menuntut Presiden RI untuk mengubah kebijakan pemerintah supaya berpihak pada petani tebu dan gula nasional.

Ketiga, hentikan gula impor dan beli gula petani dengan harga Rp 11 ribu per kilogram. Rembesan gula rafinasi juga diharapkan bisa disetop pemerintah.

“Kami juga menuntut kepada Menteri BUMN terkait janji kompensasi dari impor, yakni jaminan rendemen 8,5 persen pada 2016, kompensasi rendemen renndah pada 2017, revitalisasi pabrik gula, dan jangan tutup pabrik gula sebelum mendirikan pabrik gula baru,” tututnya.

Mereka juga menuntut agar Menteri Keuangan untuk melakukan pembebasan gula tani dari PPN. Aksi tersebut mendapatkan pengamanan ketat dari kepolisian. Mereka tampak berjaga-jaga bila ada hal yang tidak diinginkan.

Editor : Ali Muntoha

Dini Hari Tadi, Ratusan Jemaah Haji Pati Kloter 89 Bertolak ke Tanah Suci

Calon jemaah haji Pati kloter 89 berada di Halaman Kantor Setda Pati, sebelum bertolak ke Tanah Suci, Rabu (23/8/2017) dini hari. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebanyak 353 calon jemaah haji dari Pati Kloter 89 bertolak ke Tanah Suci dari Halaman Kantor Setda Kabupaten Pati, Rabu (23/8/2017) dini hari.

Mereka berasal dari Kecamatan Tlogowungu, Gabus, Winong, Tambakromo dan Jakenan. Delapan armada bus diterjunkan yang dikawal satu unit ambulans, satu voorijder, dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

Sejumlah pejabat yang hadir dalam agenda pemberangkatan, antara lain Bupati Pati Haryanto, Wakil Bupati Pati Saiful Arifin, Dandim 0718/Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma, Wakapolres Pati Kompol Nyamin, Kepala Kemenag Pati Mundzakir, dan Ketua MUI Pati KH Abdul Mudjib Sholeh.

“Tahun ini, ada 1.665 warga yang menjadi calon jemaah haji. Mereka dibagi menjadi enam kloter pemberangkatan, kemarin kloter 88 sudah berangkat. Ini kloter 89 yang berangkat,” kata Mundzakir.

Sementara itu, Haryanto dalam sambutannya memberikan pesan kepada calon jemaah untuk disiplin, kompak dan saling kerja sama dalam menjalankan ibadah haji. Sesama jemaah diharapkan bisa saling membantu.

Haryanto yang baru saja dilantik sebagai Bupati Pati juga memohon doa kepada calon jemaah agar Kabupaten Pati selalu diberikan rasa aman, damai, dan kondusif. Sebab, doa para jemaah haji di Tanah Suci sangat mustajab.

Editor : Ali Muntoha

Kejari Pati 6 Kali ‘Ping Pong’ Berkas Kasus CIMB Niaga, Kenapa?

Korban CIMB Niaga melakukan aksi long march menjemput keadilan sepanjang 25 km pada akhir 2015 lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kejaksaan Negeri (Kejari) Pati sudah enam kali mengembalikan berkas kasus dugaan tindak pidana perbankan yang dilakukan oknum Bank CIMB Niaga kepada polisi. Hal itu disampaikan kuasa hukum korban, Nimerodi Gulo, Selasa (22/8/2017).

“Terakhir, Kejari Pati meminta polisi membuktikan pemalsuan sertifikat rumah tanah ganda. Yang kami tuntut adalah kejahatan perbankan karena CIMB Niaga lalai, jaksa malah meminta polisi membuktikan pemalsuan sertifikat. Ini di luar tuntutan. Ada apa dengan jaksa,” ungkap Gulo kesal.

Menurut Gulo, kasus tersebut sudah jelas karena CIMB Niaga terbukti lalai dan melanggar pasal 49 ayat 2 huruf b UU Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. Penetapan tersangka kepada oknum CIMB Niaga juga sudah dilakukan polisi.

Bukti-bukti yang disodorkan juga dianggap sudah cukup. Seperti bukti kredit yang dicairkan dan adanya prinsip ketidakhati-hatian dari pihak perbankan. Tim kredit CIMB Niaga diduga sengaja mencairkan kredit dengan membuat surat palsu, kendati Tim Appraisal CIMB Niaga sudah mewanti-wantinya.

“Kasus ini sudah jelas, tapi jaksa sengaja mengaburkan kasus. Dari kacamata hukum, mestinya sudah P 21 (lengkap), karena unsur-unsur pidana perbankan sudah terpenuhi. Anehnya, jaksa sudah memberikan catatan kepada polisi untuk dilengkapi, begitu dilengkapi, dikasih catatan lagi. Begitu terus sampai enam kali. Ini jelas membuktikan Kejari Pati tidak profesional,” tuding Gulo.

Sebelumnya diberitakan, Mashuri Cahyadi membeli sertifikat tanah yang dilelang CIMB Niaga melalui Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Semarang. Namun, dia tidak bisa menguasai tanah yang dibelinya, karena ternyata bersertifikat ganda.

Sertifikat yang dibeli Mashuri dari lelang atas nama Kuswantoro, sedangkan sertifikat lainnya atas nama Sunoto. Meski Tim Appraisal CIMB Niaga disebut sudah memperingatkan masalah tersebut, tetapi Tim Kredit CIMB Niaga diduga nekat membuat surat keterangan yang menyebut Sunoto hanya menyewa.

Setelah dicek laboratorium oleh pihak kepolisian, surat keterangan sewa tersebut adalah palsu. Artinya, Gulo mengganggap Tim Kredit CIMB Niaga sudah melakukan rekayasa agar utang dengan agunan tanah tersebut dicairkan.

“Surat yang ternyata palsu itu dibuat untuk menangkis nasehat dari tim appraisal. Tampak dengan jelas ada kesengajaan untuk mencairkan kredit, meski tim appraisal tahu itu bermasalah karena sertifikatnya ganda. Lagipula, semestinya posisi surat keterangan tidak bisa mengalahkan sertifikat asli Sunoto,” imbuhnya.

Dia berharap, Kejari Pati bisa bekerja secara profesional dan tidak melakukan “ping pong” berkas kasus yang dilimpahkan dari polisi. Sebab, kasus itu sudah bergulir ke polisi sejak 26 Mei 2015 hingga sekarang.

Sementara saat dikonfirmasi, Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Pati menolak bertemu dengan wartawan. Alasan yang disampaikan petugas keamanan, ia sedang melakukan pemeriksaan.

Editor : Ali Muntoha

Ratusan Mahasiswa dan Guru PAUD Digembleng Peningkatan Kompetensi di IPMAFA Pati

Kaprodi PIAUD IPMAFA Pati Sumiati memberikan materi kepada peserta diklat berjenjang tingkat dasar, Sabtu (19/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebanyak 268 mahasiswa dan guru mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) berjenjang tingkat dasar yang diadakan Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati, Sabtu (19/8/2017).

Peserta dilatih berbagai materi PAUD, seperti konsep dasar PAUD, perencanaan pembelajaran PAUD, kesehatan dan gizi, peer teaching, dan berbagai materi yang menunjang proses kompetensi guru PAUD.

Kepala Prodi PIAUD IPMAFA Pati Sumiati mengatakan, diklat berjenjang tingkat dasar sangat dibutuhkan bagi pendidik PAUD. Setelah mengikuti diklat, peserta diharapkan memiliki sertifikat kompetensi yang akan menguatkan mereka di lapangan.

“Kebetulan prodi PIAUD di IPMAFA, lulusannya menjadi guru PAUD. Sebagian besar mahasiswa kita yang akan lulus dan wisuda tahun ini sudah mengajar, sehingga prodi perlu memberikan pembekalan berupa diklat,” ujar Sumiati.

Awalnya, diklat berjenjang tingkat dasar hanya diperuntukkan bagi mahasiswa tingkat akhir dan alumni IPMAFA. Namun, pihaknya mengakomodasi guru dari umum mengingat permintaan dari luar cukup tinggi.

Hanya saja, kuota dari guru umum tetap dibatasi. Karena itu, kuota yang semestinya hanya 200 orang ditingkatkan menjadi 268 orang.

Setiap peserta wajib mengikuti 48 jam pelajaran yang dibagi selama enam hari, setiap Sabtu dan Minggu. Peserta juga mengikuti pre-test yang kemudian dilakukan penilaian pada post-test, sesudah mendapatkan materi diklat dasar.

“Jadi, nanti ada peringkat nilainya. Kami berharap, para peserta bisa mengerjakan post-test dengan baik, sehingga bisa lulus dan menjadi bekal untuk mengajar di lembaga pendidikan tingkat PAUD,” imbuhnya.

Guru RA AN Nur Tempur, Keling, Jepara, Endang Muati yang mengikuti diklat dasar mengaku senang mendapatkan kesempatan menjadi peserta. Pasalnya, diklat dasar sangat dibutuhkan bagi guru PAUD.

Terlebih, diklat tersebut menyesuaikan kurikulum 2013 yang nantinya menjadi bekal penting bagi para guru agar lebih kompeten. Bagi dia, diksar merupakan inovasi baru untuk membangun kreativitas dan kemampuan guru untuk diajarkan kepada peserta didik.

Editor : Ali Muntoha

Harga Ketela Naik Rp 1.450, Denyut Ekonomi Petani dan Industri Tapioka di Pati Mulai Bergeliat

Suasana di industri kecil menengah (IKM) tapioka di Ngemplak, Margoyoso yang kembali bergeliat setelah harga ketela naik. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Petani dan penggiling ketela di Pati sujud syukur setelah komoditas ketela mulai merangkak naik dari Rp 600 per kg menjadi Rp 1.450 per kg. Hal itu disampaikan Khoirul Umam, salah satu penggiling ketela di kawasan Ngemplak, Margoyoso, Pati.

“Kami sujud syukur karena harga ketela mulai naik. Sebagai penggiling, kami tentu akan menaikkan harga beli ketela sesuai dengan harga pokok produksi (HPP), karena harga ketela disesuaikan dengan kenaikan harga tepung tapioka,” ujar Umam, Sabtu (19/8/2017).

Menurutnya, kenaikan harga singkong akan menghidupkan kembali para petani, pekerja, karyawan hingga pengusaha yang bekerja di penggilingan tapioka. Sebab, petani sempat mogok dan tidak mau menjual singkongnya saat harganya anjlok beberapa waktu lalu.

Akibatnya, beberapa mesin penggiling sempat berhenti beroperasi. Karena itu, dia berharap agar permintaan tapioka terus meningkat dengan harga yang layak, sehingga akan menghidupkan kembali mesin-mesin yang berhenti beroperasi.

Saat ini, harga singkong tanpa milih sudah mencapai Rp 1.350 per kilogram. Sementara singkong super yang biasa digunakan untuk ekspor kerupuk udang lebih besar Rp 100, yakni Rp 1.450 per kilogram.

Terkait dengan pemotongan terhadap harga barang atau rafaksi, dia memastikan sudah sesuai kesepakatan dan aturan yang saling menguntungkan. Rafaksi yang dilakukan mengacu pada kotoran yang menempel pada ketela, termasuk berat keranjang yang dibawa.

“Kalau ada yang bilang rafaksi tidak sesuai, itu tidak benar. Karena sudah ada kesepakatan. Rafaksi dihitung dari kotoran yang menempel pada ketela dan berat keranjang. Jadi ada aturan mainnya,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Bupati Pati Bingung Dikabarkan jadi Korban Penipuan Swissindo

Bupati Pati Haryanto. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Bupati Pati Haryanto dikabarkan terkena penipuan berkedok voucher human obligation dan biaya peningkatan kesejahteraan hidup yang mengatasnamakan UN-Swissindo.

Kabar itu bersumber dari Direskrimsus Polda Jawa Tengah Kombes Pol Lukas Akbar dalam sebuah pemaparan di Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Tengah, Rabu (16/8/2017).

Namun, Haryanto justru tidak mengetahui apa itu UN-Swissindo. Dia juga tidak tahu tentang kabar tentang penipuan yang mencatut namanya.

“Apa itu UN-Swissindo. Saya malah tidak tahu. Itu diklarifikasi ya,” ujar Haryanto saat ditemui MuriaNewsCom, usai menghadiri upacara penyerahan remisi umum narapidana di Lapas Kelas II B Pati, Kamis (17/8/2017).

Sebelumnya, Kombes Pol Lukas Akbar menyebut Bupati Pati Haryanto mejadi salah satu korban penipuan yang mengatasnamakan UN-Swissindo. Saat ini Ditreskrimsus Polda Jateng tengah melakukan penelurusan, termasuk kerugian yang ditimbulkan akibat kejadian itu.

Baca juga : Bupati Pati Juga Diduga Kena Tipu Swissindo

Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo menyebut ada sekitar 30 warga Pati yang terkena penipuan UN-Swissindo. Mereka membayar sejumlah uang untuk menjadi anggota UN-Swissindo.

Korban dijanjikan mendapatkan fasilitas berupa pelunasan hutang ke enam prime bank, seperti Mandiri, BNI, BRI, BCA, Danamon, dan CIMB Niaga. Namun, surat kuasa yang diberikan kepada anggota untuk melunasi hutang di bank dipastikan pihak OJK sebagai bentuk penipuan.

Editor : Ali Muntoha

Nah lho…Bupati Pati Juga Diduga Kena Tipu Swissindo

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Pati – Kasus penipuan yang dilakukan UN-Swissindo yang menimpa puluhan warga Kabupaten Pati, ternyata diduga menimpa orang nomor satu di Bumi Mina Tani.

Bupati Pati Haryanto dikabarkan ikut menjadi korban penipuan berkedok voucher human obligation dan biaya peningkatan kesejahteraan hidup tersebut.

Hal ini diterangkan Direskrimsus Polda Jawa Tengah Kombes Pol Lukas Akbar, saat mendatangi Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jateng, Rabu (16/8/2017). Menurutnya, dari hasil penyelidikan yang dilakukan pihaknya, bupati Pati menjadi salah satu korban.

Saat ini, pihaknya telah menerjunkan petugas untuk menyelidiki sejauh mana kerugian yang ditimbulkan akibat aksi kejahatan tersebut.

“Sedang kami dalami termasuk yang menimpa bupati Pati. Jika ditemukan akan diproses hukum sesuai pasal 378 tentang Penipuan, diperkuat UU ITE jika mereka melakukan penipuan via media online. Ancaman hukumannya sampai empat tahun,” katanya dikutip dari Metrojateng.com.

Menurutnya, dari hasil monitoring yang dilakukan, kasus penipuan ini telah merambah di dua kota di Jateng. Yakni di Kabupaten Pati dan Purwokerto. Di Pati sendiri dilaporkan ada 30-an warga yang menjadi korban.

“Kami memonitor bahwa ada temuan adanya pemberian surat kuasa Swissindo tersebut masuk Pati dan Purwokerto. Kami mengimbau kepada masyarakat untuk melapor ke pihak berwajib jika ada relawan yang menawarkan surat kuasa atas nama Swissindo,” ujarnya.

Kepala OJK Jateng Moch Ihsanuddin masih menyelidiki aksi tipu-tipu yang dilakukan Swissindo dengan menyebar surat kuasa palsu.

Baca juga : Duh, 30 Warga Pati Jadi Korban Penipuan UN Swissindo

Menurutnya ada indikasi sejumlah perbankan lainnya yang jadi korban kasus penipuan tersebut. Yakni tujuh bank umum, 41 BPR, satu lembaga pembiayaan serta PT Permodalan Nasional Madani (Persero).

Ia menegaskan, kegiatan Swissindo ilegal karena tidak mengantongi izin dari OJK. Ia pun mengimbau kepada para debitur dan pelaku jasa keuangan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penawaran palsu tersebut.

“Para korban sebaiknya menempuh upaya hukum agar dapat mencegah kerugian yang lebih besar,” tegasnya.

Baca juga : Puluhan Anggota UN Swissindo di Pati Berencana Datangi Bank Mandiri

Sebelumnya, Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo setelah ada korban hingga 30 nasabah. “Penipuan ini sudah ada di sejumlah daerah, termasuk Pati. Ada sekitar 30 nasabah yang tertipu UN-Swissindo di Pati,” kata Kompol Sundoyo, Sabtu (12/8/2017).

Modus dari penipuan tersebut, salah satunya meminta korban untuk mencari debitur bermasalah untuk diajak bergabung, meminta korban membayarkan sejumlah uang pendaftaran untuk menjadi anggotanya dan mencari korban yang terlibat kredit macet, serta menjanjikan akan menyelesaikan hutangnya dengan jaminan surat berharga negara.

Editor : Ali Muntoha

Stok Blanko Habis, Pembuatan E-KTP di Pati Tersendat

Sejumlah warga tengah mengurus kependudukan di Kantor Disdukcapil Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Lebih dari 27.000 warga Pati terpaksa belum memiliki E-KTP baru, lantaran stok blanko habis. Mereka harus bersabar menunggu hingga material untuk pembuatan E-KTP tersedia.

Riyanto, seorang warga Kayen yang hendak mengurus E-KTP karena pindah ke kawasan Sukoharjo, Margorejo mengeluhkan kondisi tersebut. Sejak April 2017 mengurus, sampai saat ini belum bisa mendapatkan E-KTP.

“Agustus 2017 ini saya cek lagi ke Kantor Kecamatan Margorejo, diminta untuk menunggu hingga Januari 2018. Itupun kata petugas belum ada kepastian, cuma diminta datang awal 2018,” ungkap Riyanto, Kamis (17/8/2017).

Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Pati Dadik Sumarji membenarkan adanya ketersendatan pembuatan E-KTP, karena ketersedian blanko terbatas. Saat ini, sudah lebih 27.000 warga yang sudah mengikuti rekam tapi belum dicetak.

Padahal, pihaknya mendapatkan material E-KTP sebanyak 10.000 pada April 2017 dan 26.000 blanko pada Mei 2017. Total blanko sebanyak 36.000 itu sudah digunakan untuk cetak, sehingga ketersediaan sekarang habis.

Pada Juni 2017, dia juga sudah melakukan kunjungan ke Jakarta dan mendapatkan tambahan blanko sebanyak 6.000. Terakhir, Disdukcapil mendapatkan tambahan 2.000 bersamaan dengan penambahan kuota di delapan kabupaten dan kota di Jawa Tengah.

Hanya saja, berbagai penambahan kuota itu ternyata masih belum mencukupi untuk kebutuhan pembuatan E-KTP di Kabupaten Pati. Untuk saat ini, dia memprioritaskan kepada warga yang sama sekali belum punya E-KTP.

Untuk mengatasi masalah tersebut, pihaknya memberikan surat keterangan sementara yang fungsinya sama dengan E-KTP. Namun, kelemahannya, surat sementara yang terbuat dari kertas diakui mudah rusak.

“Warga yang butuh KTP untuk keperluan administrasi, kami buatkan surat keterangan sementara. Meski memang mudah rusak karena terbuat dari kertas biasa, kami meminta harap maklum karena ini kendalanya dari pusat,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Pemuda di Pati Tewas Terbenam di Sawah Bersama Motornya

Petugas kepolisian melakukan olah TKP di areal persawahan Desa Karangwage, Trangkil, Pati, Rabu (16/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Seorang pemuda bernama Agus Supartono (17), warga Tanjungrejo RT 20 RW 5, Margoyoso, Pati, ditemukan meninggal dunia di areal persawahan Desa Karangwage, Trangkil, Pati, Rabu (16/8/2017).

Korban ditemukan dalam keadaan telungkup bersama dengan sepeda motornya, Jupiter Z bernopol K 6661 BH. Adapun kepala korban dalam posisi terbenam ke dalam lumpur sawah.

Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan tim medis, korban meninggal dunia delapan jam sejak ditemukan pada pukul 06.30 WIB. Korban mengalami pendarahan pada hidung dengan kondisi lidah menjulur dan tergigit.

“Korban meninggal dunia karena terbenam dalam lumpur dan mengalami afiksasi. Tidak ada tanda-tanda penganiayaan dalam tubuh korban,” ungkap salah satu tim medis, dr Wahyu Setyawarni.

Pihak kepolisian yang melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) menyimpulkan, korban mengalami kecelakaan. Saat terjatuh, posisi kepala terendam lumpur sehingga tidak bisa bernapas.

Sejumlah barang milik korban yang ditemukan di TKP, antara lain uang tunai Rp 100 ribu, telepon seluler warna hitam, sepeda motor, dan sandal merek Carvil. Penemuan mayat tersebut sempat menjadi tontonan warga setempat.

Editor : Ali Muntoha

Penipu dari Iran yang Hipnotis Karyawan Konter HP di Juwana Tak Bisa Bahasa Inggris, Begini Reaksi Polisi

Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo menjelaskan penangkapan empat WNA asal Iran, Selasa (15/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Jajaran Polres Pati mengonsultasikan penangkapan empat warga Iran ke Kedutaan Besar (Kedubes) Iran di Jakarta. Empat warga Iran itu ditangkap karena diduga melakukan tindak pidana penipuan di kawasan Juwana, Pati.

Saat ini, petugas masih terkendala saat akan melakukan proses penyidikan. Pasalnya, empat dari WNA yang ditangkap, hanya satu yang bisa menguasai bahasa Inggris. Sementara tiga WNA lainnya hanya berbahasa Persia.

“Kami terkendala bahasa juga. Dari empat yang kami amankan, hanya satu yang bisa bahasa Inggris. Bahasa Arab pun tidak bisa,” ungkap Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo, Selasa (15/8/2017).

Meski demikian, dua dari empat WNA sudah terbukti melakukan tindak pidana pencurian dengan pemberatan. Selain uang dan handphone curian yang menjadi alat bukti, polisi mengantongi rekaman CCTV yang menunjukkan aksi mereka.

Bukti CCTV tersebut yang akan didalami untuk proses penyidikan lebih lanjut. Hanya saja, polisi masih menunggu koordinasi dengan pihak Kedubes Iran di Jakarta.

Terkait dengan adanya dugaan jaringan, Kompol Sundoyo menepisnya. Sebab, keempatnya tidak terindikasi adanya sebuah jaringan untuk melakukan penipuan.

“Dikatakan jaringan, tidak. Dikatakan individu ya tidak. Anehnya, mereka yang hanya berbekal bahasa Inggris dan Persia, kok bisa berkomunikasi dengan warga Juwana. Ini yang kami sedang dalami,” kata Kompol Sundoyo.

Baca juga : Menghipnotis Karyawan Toko HP di Pati, 4 Warga Iran Dibekuk di Polisi

Sebelumnya diberitakan, empat WNA asal Iran ditangkap petugas Polsek Juwana yang bekerja sama dengan Polres Rembang. Keempatnya ditangkap karena diduga melakukan penipuan di dua konter HP di Juwana dengan menggasak uang dan handphone.

Keempat WNA tersebut masih diamankan di Mapolres Pati untuk kepentingan penyidikan lebih lanjut. Sementara kendaraan yang digunakan untuk mobilisasi, Avanza B 1904 PIA terlihat terparkir di depan Ruang Satrekrim.

Editor : Ali Muntoha

HUT Jateng ke-67, Pemkab Pati Diminta Tak Pelit Layani Masyarakat

Pegawai negeri sipil (PNS) Pemkab Pati sedang mengikuti upacara HUT Jateng ke-67, Selasa (15/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Jajaran Pemkab Pati melaksanakan kegiatan upacara untuk memperingati Hari Jadi Provinsi Jawa Tengah yang ke-67 di halaman Pendapa Kabupaten Pati, Selasa (15/8/2017).

Upacara tersebut dihadiri Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), anggota DPRD Pati, dan Organisasi Perangkat Derah (OPD). Mereka terlihat khidmat saat mengikuti upacara bendera.

“Di sini hanya upacara yang dihadiri pejabat Pati saja. Sebab, upacara HUT Pemrov Jateng kali ini dipusatkan di Jepara. Alhamdulillah berjalan lancar,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Sekda Pati Haryono.

Dalam HUT kali ini, pemkab di seluruh Jawa Tengah mendapatkan tugas dari Gubernur Jateng Ganjar Pranowo untuk mengutamakan pelayanan masyarakat yang lebih mudah, murah dan ramah. Sebab, tugas pemerintah memang melayani masyarakat dengan baik.

“Yang dilihat masyarakat itu layanannya. Soal infrastruktur dan yang ada fisik-fisiknya itu gampang kalau ada duitnya. Maka, problemnya saat ini bagaimana melayani masyarakat sesuai deklarasi revolusi mental,” tuturnya membacakan amanat Ganjar.

Ganjar juga menekankan kepada setiap pemda untuk melakukan pembenahan di bidang pendidikan dan kesehatan. Pasalnya, masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan pemda terkait dengan masalah di bidang pendidikan dan kesehatan.

Tak hanya itu, pemda bersama dengan aparat dan masyarakat diminta untuk benar-benar melawan radikalisme-terorisme. Hal itu bisa dilakukan dengan berbagai upaya, salah satunya deteksi dini terhadap paham radikal yang berpotensi mengganggu pertumbuhan dan pembangunan masyarakat.

Editor : Ali Muntoha

Pemprov Klaim Pabrik di Pati Bisa Kendalikan Harga Garam

Seorang petani garam sedang mengumpulkan garam dari lahan yang ada di Desa Kedung Malang, Kecamatan Kedung-Jepara. Pemprov Jateng bakal membangun pabrik garam besar di Pati. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang- Pemprov Jateng akan mulai membangun pabrik garam berkapasitas 40 ribu ton di Desa Raci, Kecamatan Batangan, Pati, Oktober 2017 mendatang. Pabrik ini nantinya akan menghasilkan garam dengan kualitas unggul, serta mampu mengendalikan harga garam, sehingga tak merugikan petani.

Kepala Biro Infrastruktur dan Sumberdaya Alam Setda Pemprov Jateng, Peni Rahayu, mengatakan, pabrik garam ini nantinya akan menghasilkan garam kualitas baik untuk kebutuhan konsumsi industri. Setidaknya kadar yodium garam atau Natrium Chlorida (NaCl) mencapai angka 96.

“Saat ini garam rakyat yang ada rata-rata NaCl-nya baru 86. Maka nanti menggunakan teknologi tertentu agar NaCl bisa lebih tinggi,” katanya.

Teknologi yang dibuat BPPT, saat ini masih diperhitungkan biayanya. Karena untuk mengalirkan air laut butuh lahan sangat luas.

Meskipun semakin luas area lahan untuk perlintasan air lautnya, maka kualitas garam makin bersih dan kadar NaCl makin tinggi. “Jadi nanti garamnya benar-benar putih,” ujarnya.

Pada dasarnya, imbuh Peni, adanya pabrik garam ini adalah untuk mengendalikan harga ketika ada panen raya agar harga tidak anjlok karena dipermainkan tengkulak. Nantinya, petani garam menjual produksinya ke pabrik milik pemerintah dengan harga yang ditetapkan.

“Ke depan harapan kita ada penetapan harga garam misalnya harga pembelian pemerintah (HPP) seperti pada beras,” jelasnya.

Baca juga : Pati Akan Dibangun Pabrik Garam Besar, Ganjar Minta Oktober Mulai Digenjot

Sebelumnya Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meminta agar pabrik garam di Pati ini digenjot pembangunannya.

Ia menyebut, studi kelayakan atau feasibility study (FS) dan Detail Engineering Design (DED) rencana pembangunan pabrik garam kapasitas besar di Jateng telah tuntas. Pemprov menargetkan, Oktober tahun ini harus sudah mulai dibangun.

“Saya sudah meminta Oktober tahun ini diground breaking (peletakan batu pertama) agar lebih cepat, kalau itu bisa dilaksanakan maka intervensi Pemprov Jateng akan segera dimulai,” katanya.

Editor : Ali Muntoha

Spot Sayap Burung Hantu jadi Daya Tarik Baru Bukit Pandang Durensawit Pati

Salah satu pengunjung berfoto di spot sayap burung hantu, kawasan wisata bukit pandang, Durensawit, Kayen. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kawasan wisata bukit pandang di Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati, terus berbenah. Selain penambahan spot-spot baru, pengelola melakukan perluasan kawasan wisata.

Salah satu spot yang menjadi daya tarik wisatawan baru-baru ini adalah sayap burung hantu. Banyak wisatawan yang antre untuk berswafoto di dua spot tersebut.

Satu spot berada di pinggiran jurang bukit, sehingga pemandangannya cukup mengesankan. Satu spot lagi berada di perbukitan yang dilalui wisatawan.

Septi Nursanti (16), pengunjung asal Bumiayu, Wedarijaksa mengatakan, spot sayap burung hantu cukup menarik dan unik. Terlebih, dia belum pernah menemukan kawasan wisata yang dilengkapi spot unik untuk berswafoto tersebut.

“Hasilnya di foto cukup mengejutkan. Kita seolah-olah punya sayap. Kalau fotografinya pinter, kesannya kita melayang di atas pegunungan. Konsepnya mirip dengan wisata yang lagi ngetren di Jogja,” kata Septi, Selasa (15/8/2017).

Krisno, pengelola bukit pandang menuturkan, pemasangan dua spot baru berupa sayap burung hantu tidak lepas dari tuntutan pengunjung. Ada sejumlah pengunjung yang menyarankan pemasangan sayap burung.

Setelah dipertimbangkan dan melakukan uji coba, ternyata cukup menarik. Hasilnya, wisatawan saat ini punya banyak pilihan spot untuk berswafoto dan mengunggahnya ke situs jejaring sosial.

“Pengunjung masih didominasi dari pengguna Facebook, disusul Instagram. Kebanyakan pengunjung yang datang juga berasal dari rekomendasi teman atau penasaran, karena lagi booming di sosmed waktu fotonya diunggah,” pungkas Krisno.

Editor : Ali Muntoha

Pati Akan Dibangun Pabrik Garam Besar, Ganjar Minta Oktober Mulai Digenjot

Petani di Jepara tengah memanen garam. Pemprov Jateng akan mulai membangun pabrik garam besar di Pati pada Oktober 2017 mendatang. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah bakal membangun pabrik garam dengan kapasitas besar di Kabupaten Pati. Rencananya, pabrik dengan kapasitas produksi mencapai 40 ribu ton itu bakal dibangun di Desa Raci, Kecamatan Batangan, Pati.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo memastikan persiapan untuk pembangunan pabrik garam itu telah siap. Mulai dari studi kelayakan atau feasibility study (FS) dan Detail Engineering Design (DED) telah tuntas, sehingga pembangunan bisa segera digenjot.

“Saya sudah meminta Oktober tahun ini di-ground breaking (peletakan batu pertama) agar lebih cepat, kalau itu bisa dilaksanakan maka intervensi Pemprov Jateng akan segera dimulai,” katanya, Senin (14/8/2017).

Untuk pembangunan pabrik garam itu telah disiapkan lahan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati dan desa setempat. Ia menyebut, pemerintah desa setempat juga bersedia mendukung penyediaan lahan milik kas desa Raci seluas 700 hektare.

“Bahkan desa tetangga, juga bersiap mendukung penyediaan lahan,” ujarnya.

Secara nasional, kebutuhan garam industri secara nasional mencapai 2 juta ton. Sedangkan pabrik garam kapasitas besar di Jateng ini nantinya mampu memproduksi sekitar 40 ribu ton. Sehingga setidaknya dapat membantu kebutuhan garam industri nasional.

Dari hasil koordinasi dengan pihak petambak garam, lanjutnya, para petambak siap dengan penerapan teknologi geomembrane atau ulir. Namun petani garam membutuhkan kepastian harga.

“Karena selama ini mereka menjualnya ke tengkulak, maka yang seperti ini mesti diselesaikan,” katanya.

Selain itu, para petambak berharap ada  gudang untuk stok garam. Terkait hal ini, Pemkab Demak juga bersedia menyediakan lahan. Menurutnya, gudang garam ini penting yang nantinya bisa dimanfaatkan untuk intervensi dari pemprov melalui resi gudang.

“Kalau pabrik sudah jadi, harapan saya ada contoh yang bisa ditiru,” ujarnya.

Terkait supply bahan baku produksi, nantinya para petambak akan setor ke pabrik, kemudian pabrik akan mengolah dan menjualnya. Petambak juga meminta agar mereka bisa menjual ke pabrik secara langsung, tidak melalui perantara.

Sementara untuk kontinyuitas persediaan bahan baku, Ganjar juga meminta pada Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi (BPPT) untuk menyuntikan teknologi yang tepat supaya bisa berkelanjutan. Sejumlah daerah yang memiliki ‘air tua’ atau kadarnya bagus untuk garam yakni di Pati, Demak, Brebes, Jepara, dan Rebang.

“Apalagi ini ada momentum bagus, kondisi cuaca rasanya sudah masuk kemarau, maka ini potensi yang segera harus dilakukan,” kata Ganjar.

Editor : Ali Muntoha

Dishub Diminta Tertibkan Truk Tebu di Jalan Ronggokusumo Pati

Truk tebu yang terguling di kawasan Jalan Ronggokusumo, Kajen, Margoyoso, baru-baru ini. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Pati diminta untuk menertibkan truk tebu yang melintas di Jalan Ronggokusumo, Kajen, Margoyoso, Pati.

Kawasan jalan tersebut terbilang padat lalu lintas. Ada banyak sekolah dan pusat perbelanjaan di sana, sehingga kerap dijadikan lalu lalang para siswa dan penduduk.

“Jalan Ronggokusumo tidak layak dilewati truk tebu. Selama ini warga sudah banyak yang mengeluhkan, tapi polisi dan dinas terkait tidak tanggap terhadap masalah tersebut,” ujar warga setempat, Sunarto, Senin (14/8/2017).

Dalam sejumlah kasus, truk tebu yang melintas di jalan tersebut menabrak kabel hingga tebu yang jatuh berceceran. Terakhir, truk tebu terguling di jalan yang menghubungkan Jalan Pati-Tayu dan Jalan Juwana-Tayu tersebut.

Praktis, jalan kecil yang menjadi akses dengan padat penduduk tersebut macet. Karena itu, dia meminta kepada polisi dan dinas terkait untuk tegas mengatur truk tebu.

“Ini kan kawasan padat penduduk, banyak lembaga pendidikan dan pusat perbelanjaan. Ada jalan lain yang bisa dilalui, tapi kenapa sopir truk tebu memilih untuk lewat sini,” keluhnya.

Saat dikonfirmasi, Kepala Dishub Pati Tri Haryama mengaku akan meninjau lokasi tersebut. Pihaknya akan berkomunikasi dengan para pihak untuk melakukan penertiban.

“Kami akan tinjau terlebih dahulu. Setelah itu, nanti akan saya komunikasikan dengan para pihak,” tandasnya.

Editor : Ali Muntoha

Menghipnotis Karyawan Toko HP di Pati, 4 Warga Iran Dibekuk di Polisi

Kawanan penipu berkewarganegaraan Iran yang ditangkap polisi karena menipu di kawasan Juwana, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Empat warga kenegaraan Iran terpaksa harus dibekuk petugas kepolisian, setelah melakukan penipuan dengan cara hipnotis di sejumlah toko handphone di kawasan Juwana, Pati.

Mereka adalah Bizan (52), Farhad (26), Farzad (31) dan Zhaleh (49). Keempatnya dibekuk petugas saat berada di Hotel Fave Rembang.

Satu dari empat komplotan penipu tersebut merupakan perempuan. Mereka menggasak sejumlah barang berharga seperti handphone, setelah berhasil menghipnotis karyawan yang menjaga toko.

“Modus operandi yang dilakukan dengan cara membuat karyawan toko tidak sadarkan diri. Metode yang dilakukan hipnotis. Setelah karyawan tidak sadarkan diri, barang-barang dibawa kabur,” ungkap Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo, Senin (14/8/2017).

Korban pertama adalah Adi Sulistya, pemilik konter HP Pusat Phone di Desa Pajeksan, Juwana dengan kerugian ditaksir sekitar Rp 5 juta. Sementara korban kedua, Kasmijah pemilik konter di kawasan Pasar Porda Juwana yang mengalami kerugian hingga Rp 16 juta.

Adi Sulistya membeberkan, awalnya kasus tersebut terungkap setelah ia mendapatkan telepon dari Nurika, salah satu karyawannya. Nurika mengaku tidak sadarkan diri, setelah berbincang dengan komplotan penipu tersebut.

Setelah sadar, barang-barang yang ia jual raib. “Setelah mendapatkan informasi itu, saya langsung melapor polisi,” tuturnya.

Pihak kepolisian yang berhasil menangkap kawanan penipu juga mengamankan sejumlah barang bukti, di antaranya satu unit mobil Avanza B 1904 PIA yang digunakan pelaku dan uang Rp 17,3 juta yang diduga hasil tindak kejahatan.

Editor : Ali Muntoha

Bagi-bagi Nasi Besek Bertuah jadi Tradisi Unik Sedekah Bumi di Wedusan Pati

Pembagian nasi besek kepada salah satu pedagang dalam festival budaya di Desa Wedusan, Dukuhseti, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Desa Wedusan merupakan salah satu desa terpencil di Kabupaten Pati yang berada di Kecamatan Dukuhseti, berada di kawasan hutan kaki Pegunungan Muria dan laut utara Jawa.

Pada bulan Apit dalam kalender Jawa, sebagaimana tradisi orang Jawa pada umumnya, desa tersebut mengadakan sedekah bumi. Namun, masing-masing desa ternyata punya keunikan sendiri dalam merayakan sedekah bumi.

Di Wedusan, ada tradisi bagi-bagi nasi besek kepada puluhan pedagang yang berjualan di sepanjang areal pentas seni wayang dan ketoprak. Nasi itu dibagikan setelah didoakan bersama di balai desa setempat.

Solikul Huda, salah satu panitia yang membagikan nasi besek mengungkapkan, tradisi itu sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam. Konsep sedekah menjadi spirit utama dalam agenda bagi-bagi nasi besek.

“Ini sudah menjadi tradisi, seolah agenda wajib. Nasi besek isinya cuma nasi, ayam, telur dan aneka lauk-pauk. Yang membuatnya istimewa karena sudah didoakan, sehingga dipercaya akan membawa berkah,” kata Huda.

Mutmainah, salah satu pedagang yang berjualan di festival budaya Desa Wedusan mengatakan, nasi itu diakui membawa berkah tersendiri. Karenanya, sebagian dari nasi besek itu dikeringkan dan dijadikan sebagai pelaris dagangan.

Para penjual sebagian besar datang dari luar daerah. Mereka berdatangan untuk mencari rezeki dengan berjualan, sekaligus mendapatkan nasi besek yang dipercaya memeliki tuah untuk pelarisan.

Editor : Ali Muntoha

Camat Wedarijaksa Diminta Tegas Tangani Persoalan Sampah

Seorang pesepeda tengah melintas di kawasan jalan yang menghubungkan Desa Jetak dan Guyangan, Desa Jatimulyo, Wedarijaksa yang dipenuhi dengan sampah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Camat Wedarijaksa diminta tegas menangani persoalan sampah yang menumpuk di kawasan pinggir jalan yang menghubungkan Desa Jetak dan Guyangan, Desa Jatimulyo, Wedarijaksa, Pati.

Pasalnya, kawasan tersebut kerap menjadi sasaran warga untuk membuang sampah. Akibatnya, polusi udara yang ditimbulkan mengganggu kenyamanan penduduk setempat dan pengguna jalan.

Ahmadi, warga Asempapan, Trangkil mengatakan, tempat tersebut awalnya hanya digunakan untuk membuang sampah satu-dua bungkus. Namun, sudah setahun ini, kawasan tersebut penuh dengan sampah yang menggunung.

“Pengelolaan sampah masih belum maksimal, terutama di desa-desa. Belum ada kesadaran dari masyarakat sendiri maupun pemerintah, baik pemdes atau pemkab,” kata Ahmadi, Jumat (11/8/2017).

Karena itu, dia meminta kepada pemerintah untuk tegas mengatur persoalan sampah. Jika tidak, warga setempat menjadi korban dari pencemaran lingkungan yang baunya hingga masuk ke sejumlah rumah warga.

Tegas yang dimaksud bisa berupa fasilitasi maupun pemberian sanksi kepada orang yang membuang sampah sembarangan. Sebab, tak jauh dari lokasi tersebut terdapat tempat pembuangan sampah yang jaraknya hanya sekitar 200 meter.

“Mungkin di tingkat kecamatan harus dibuatkan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah, biar pengelolaan sampah bisa dilakukan secara terpadu dan tidak mengganggu masyarakat. Dalam hal ini, peran pemerintah sangat dinantikan,” tandasnya.

Editor : Ali Muntoha

Dishub Pastikan yang Bakal Mengaspal di Pati Bukan Taksi Online

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Pati – Beredar rumor yang menyebutkan, Pati akan memiliki taksi online yang siap mengaspal dalam waktu dekat. Namun, rumor itu ditepis Kepala Seksi Angkutan Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Pati Heru Suyanta.

“Tepatnya bukan taksi online ya, tapi taksi reguler, umum. Ada delapan unit taksi yang sudah diajukan pengusaha kepada kami,” ujar Heru kepada MuriaNewsCom, Jumat (11/8/2017).

Taksi tersebut akan mangkal di sejumlah titik di kawasan Pati Kota, dengan operasional di seluruh daerah di Jawa Tengah. Salah satu yang diperbolehkan Dishub untuk mangkal, antara lain hotel, rumah sakit, dan tempat strategis yang tidak bersinggungan dengan angkutan umum.

Syarat itu diberlakukan agar tidak terjadi bentrok dengan angkutan umum. Kendati beda segmen, tetapi pihaknya perlu mempertegas aturan tersebut supaya keberadaan taksi dan angkutan umum bisa berjalan bersamaan.

“Surat perintah izin operasional (SPIO) sudah turun, tinggal kelengkapan lain ada yang belum. Mungkin sedang proses,” katanya.

Heru membocorkan, taksi yang akan beroperasi di Pati menggunakan mobil Avanza. Untuk melengkapi syarat, dua kursi di bagian belakang Avanza harus dihilangkan agar seperti taksi pada umumnya.

Sejumlah syarat seperti desain dan cat khusus, lampu dan atribut yang menunjukkan mobil tersebut sebuah taksi juga harus dipenuhi pemohon. Seperti angkutan pada umumnya, taksi yang akan mengaspal di Pati menggunakan pelat kuning.

Editor : Ali Muntoha