September Krisis Air di Jepara Diprediksi Semakin Parah

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Krisis air  bersih di Jepara diperkirakan meluas di bulan September 2017. Hal itu disebutkan oleh Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jepara Jamaludin, Rabu (30/8/2017). 

Prediksi tersebut dikatakannya melihat kondisi cuaca yang sangat panas dan mentari yang terik. “Diperkirakan pada bulan September akan banyak desa yang mengajukan bantuan air bersih. Hal itu terutama bagi yang menjadi langganan krisis air bersih,” kata dia. 

Menurutnya, saat ini baru tiga desa yang mengalami krisis air bersih. Yakni Desa Kedung Malang dan Kalianyar yang ada di Kecamatan Kedung dan Raguklampitan di Kecamatan Batealit.

Jamaludin menjelaskan, bantuan air bersih dilakukan dua kali dalam sepekan pada dua desa di Kecamatan Kedung. Sementara itu di Raguklampitan, droping air dilakukan sebanyak tiga kali dalam sepekan.

Untuk mengatasinya, BPBD Jepara telah menyiapkan khusus untuk memberikan bantuan air bersih. Namun demikian, langkah tersebut dilakukan untuk penanggulangan jangka pendek. Untuk langkah lebih lanjut seperti pembuatan sumur pantek, hal itu belum bisa dilakukan. 

Editor : Ali Muntoha 

Puting Beliung Ancam Keselamatan Warga Jepara

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara mengingatkan warganya untuk waspada terhadap terpaan angin kencang ataupun puting beliung yang belakangan melanda.

Angin kencang berpotensi menyebabkan rumah roboh dan pohon tumbang, yang membahayakan warga.

“Sepekan terakhir di wilayah Jepara memang dilanda angin kencang. Hal itu menyebabkan potensi rumah roboh dan pohon tumbang,” kata Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Jepara Pujo Prasetyo, Senin (28/8/2017). 

Menurut catatannya, sudah ada dua kasus rumah roboh yang terjadi di Jepara, akibat hantaman angin kencang. Pujo menyebut, selain faktor alam, robohnya rumah tersebut juga dipengaruhi kondisi rumah yang sudah lapuk.

Adapun laporan rumah ambruk karena diterpa angin kencang terjadi di Desa Menganti, Kecamatan Kedung. Di tempat tersebut angin merobohkan rumah milik Sutinah (60). Sementara itu di Desa Sinanggul Kecamatan Mlonggo, angin menghantam rumah milik Suadah (56) warga RT 11/4. 

“Kami juga menerima informasi terbaru, hari ini ada cabang pohon asam di SDN 1 Desa Pelang, Mayong patah, akibat terpaan angin yang cukup kencang. Hal itu sempat mengganggu arus lalu lintas,” ujar Pujo.

Editor : Ali Muntoha

Air Sungai Menghitam, Maryanto Pilih Buang Limbah Tahu Tempe ke Sawah

Perajin tahu tempe di Pecangaan Wetan, Jepara, mengangkut limbah mereka ke sawah, menggunakan tong plastic. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Perajin tahu tempe di Pecangaan Wetan, Jepara, kini memilih membuang limbah mereka ke sawah, daripada dialirkan ke alur Sungai Pecangaan yang juga melintasi Sungai Gede Karangrandu.

Selain menghindari dampak cemaran limbah, hal itu juga dilakukan untuk menhindari adanya potensi konflik dengan warga yang berada di sekitar bantaran sungai.

“Saat ini limbah saya bawa ke sawah milik ayah saya, kemudian di buang kesana. Baru beberapa hari ini. Saya angkut menggunakan tong plastik berukuran besar, lalu dinaikan menggunakan truk atau pikap,” kata Ahmad Maryanto, seorang perajin tahu-tempe di Pecangaan Wetan, Senin (28/8/2017). 

Ia mengatakan, langkah yang ditempuhnya saat ini merupakan inisiatif pribadi. Hal itu karena beberapa warga yang tinggal di sekitar bantaran sudah mengeluhkan bau yang ditimbulkan. 

Maryanto mengatakan, pembuangan limbah tahu-tempe di aliran sungai sudah dilakukan beberapa tahun terakhir.

Hal itu sebenarnya tak menjadi masalah kala saat musim hujan, karena air hujan melarutkan limbah. Namun di kala kemarau seperti, debit air yang menurun dan panas yang menerpa menjadikan sisa produksi tahu tempe tak bisa mengalir lancar. Akibatnya, bau pun meruap. 

Dirinya mengatakan, kapasitas produksi tahu tempe perhari mencapai 2 ton. Adapun limbah yang dihasilkan mencapai 15 tong besar. 

“Kalau kemarin diangkut pakai truk 15 ton bisa sekali angkut. Namun karena truknya saat ini sedang di bengkel, maka dari itu saya gunakan pikap, ya sekali angkut paling-paling tujuh tong harus bolak-balik,” terang dia.

Ditanya mengenai efek limbah yang dibuang ke sawah Maryanto meyakinkan bahwa limbah organik tersebut tak berpengaruh pada ekosistem sawah. Hal itu karena, limbah tahu tempe termasuk organik.

“Bahkan Pak Kades Pecangaan Wetan meminta supaya dibuang ke lahan sawah miliknya. Namun untuk saat ini saya buang ke sawah milik ayah saya dulu,” urainya. 

Terakhir ia mengharapkan agar pemerintah dapat membantu perajin tahu dan tempe dalam mengatasi limbah.

“Harapannya dikasih mobil tanki atau tankinya saja juga tidak apa-apa, setelah itu limbahnya tidak lagi dibuang ke sungai, tapi di tempat lain,” pinta Maryanto.

Editor : Ali Muntoha

Beredar Kabar Saluran Limbah Industri Tahu-tempe ke Sungai ‘Hitam’ Jepara Ditutup, Ini Kebenarannya

Kondisi Sungai Karangrandu Jepara yang airnya menghitam akibat pencemaran. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Belum tuntasnya penanganan limbah yang mengalir di alur Sungai Gede Karangrandu, Jepara, yang airnya menghitam menjadi bola liar.

Belakangan muncul pesan melalui aplikasi perpesanan What’s App bahwa Pemerintah Desa Karangrandu menutup saluran pembuangan limbah dari perajin tahu-tempe yang mengarah ke sungai. 

Berita Gembira…!!! Baru saja aku diberitahu bpk maskuri ladu, bhw corongan limbah tahu/tempe sebagian besar sdh disumpal pakai semen oleh tem pemdes Karangrandubersama dengan warga pecangaan kulon yang terkena dampak limbah. Dan selebihnya yang belum akan segera disumpel lagi. Demikian harap maklum. Alhamdulillahi rabbil alamin…Terimakasih Pak petinggi Karangrandu. Terimakasih pak Maskuri dan teamnya…Terimakasih warga Pecangaan kulun yang turut serta mbunteti paralon limbah…!!!, tulis pesan yang dikirimkan oleh akun yang bernama Musyafak pada grup perpesanan WA Jepara Berintegritas, Minggu (27/8/2017) malam.

Menerima informasi tersebut, MuriaNewsCom berusaha mengkroscek pada sumber pengirim dan menghubungi melalui nomor yang tertera. Namun saat dihubungi, nomor tersebut tidak aktif.

Petinggi (Kepala Desa) Karangrandu Syahlan, menampik keras kabar tersebut. Ia menyebut pihaknya selaku pemerintah desa tak pernah melakukan aksi menutup saluran limbah tahu tempe.

“Hal itu tidak benar, kami pemerintah desa tidak pernah melakukan hal itu. Tidak ada perintah atau seruan menutup saluran limbah, yang mengarah ke sungai, yang juga mengalir ke Sungai Gede Karangrandu,” tegasnya ditemui di ruangan kerjanya, Senin (28/8/2017). 

Namun demikian, ia mengakui pernah ada warga yang sempat mengutarakan berniat menutup saluran limbah tahu tempe. Akan tetapi dirinya hanya mendiamkan, tidak mengiyakan juga tidak melarang.

“Warga dalam keadaan terganggu, karena kondisi sungainya tercemar menjadi hitam dan berbau. Memang pernah ada warga yang bilang mau menutup saluran limbah, namun saya tidak menging (melarang) apalagi ngongkon (menyuruh). Informasinya ada yang di-bunteti enam atau berapa, tapi saya tidak tahu kepastian itu,” imbuh dia. 

Menurutnya, sebagai pemerintah desa ia berusaha tidak memihak. Ia memahami perasaan warganya yang merasa terganggu akan limbah, namun dirinya juga tidak bisa bergerak sendiri, karena Pemkab Jepara sudah turun tangan.

Syahlan memastikan, akan segera memanggil orang yang mengirimkan pesan tersebut. Ia mengaku sudah mengetahui siapa orang yang melakukan hal itu.  “Ini nanti dia akan kami panggil ke sini,” urainya. 

Dirinya berharap kepada Pemkab Jepara  segera ada penuntasan akan permasalahan aliran limbah di Sungai Gede Karangrandu. 

Terpisah seorang perajin tahu tempe Ahmad Maryanto, mengaku belum tahu akan adanya aksi tersebut. “Nek kabarnya begitu, tapi kalau ada atau tidaknya aksi itu (penutupan saluran limbah dengan semen) sejauh pengetahuan saya belum ada,” kata warga Pecangaan Wetan itu. 

Adapun, lokasi perajin tahu-tempe di Pecangaan Wetan memang berdekatan dengan alur sungai. Mereka memang terbiasa membuang limbah tahu ke sungai. Meski demikian, akhir-akhir ini Maryanto mengaku sudah tak membuang limbahnya ke sungai.

Diberitakan sebelumnya, air Sungai Gede Karangrandu menjadi hitam dan berbau sebulan belakangan. Dari hasil laboratorium, sungai tersebut tercemar zat Fenol dan BOD-COD. Langkah sementara telah diambil pemkab Jepara dengan melakukan pembersihan alur sungai. Namun seminggu setelah itu, air sungai tetap menghitam dan bau.

Editor : Ali Muntoha

Geger…Persijap Walk Out Saat Lawan Persibat Meski Sudah Unggul

Petugas keamanan mengungsikan wasit karena pertandingan antara Persijap Jepara vs Persibat Batang semakin ricuh. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Pertandingan Persijap vs Persibat di Stadion Gelora Bumi Kartini, Minggu (27/8/2017), berakhir tanpa peluit panjang.

Hal itu karena kontroversi keputusan wasit yang memberikan hadiah penalti di menit akhir pertandingan, dalam kondisi tim tuan rumah unggul 2-1. Tak terima dengan keputusan wasit, Laskar Kalinyamat pun walk out.

Babak pertama Laskar Kalinyamat kebobolan terlebih dahulu di menit 28. Keunggulan sementara bagi Persibat itu dicetak oleh Hapidin, yang menyepak bola dari tendangan sudut. 

Proses gol terjadi saat  Hapidin menendang dari sisi kiri pertahanan Persijap itu, sempat ditepis oleh penjaga gawang Amirul Kurniawan. Namun sayang antisipasi yang dilakukannya, justru membuat si kulit bundar bersarang di gawangnya. 

Sementara Persijap yang berusaha membobol pertahanan tim tamu, tak bisa menceploskan satupun gol. Hingga wasit Supriawan meniup peluit jeda babak pertama, kedudukan unggul bagi tim tamu Persibat. 

Babak kedua dimulai, Persijap Jepara terus berusaha menekan pertahanan Persibat. Hingga menit di 51, Tommy Oropka berhasil membobol gawang Laskar  Alas Roban.

Gol berawal dari kemelut di depan gawang, sesaat setelah sepakan pojok yang dilepaskan oleh Adit Wafa.  Bola yang disambut oleh sundulan kepala Abdul latif Hasim, terdampar di kaki Tommy Oropka. Pemain asal Papua ini lantas mengarahkan tendangan lemah ke sisi kiri gawang Muh Sendri Johansyah, dan gol. Skor imbang. 

Di menit ke 62, Tommy kembali mencatatkan namanya di papan skor. Bola yang ditendang oleh penjaga gawang Persijap Amirul Kurniawan, melambung jauh dan disambut oleh pemain berambut jambul itu. Ia lolos tanpa kawalan ketat dan menceploskan bola. Skor 2-1, Laskar Kalinyamat unggul. 

Petaka bagi Persijap terjadi pada menit-menit akhir pertandingan. Pemain nomor 32 Persibat, Ishak Yustinus Mesak Djober terjatuh di kotak penalti, akibat singgungan dengan pemain Persijap Syarif Wijianto. 

Wasit Supriawan kemudian memberikan kartu kuning, namun belum jelas ditujukan kepada siapa. Saat itulah keadaan lapangan pun ricuh. Tim Persijap mengklaim pemainnya tak melakukan pelanggaran, dan melakukan sapu bersih. Namun wasit bersikukuh.

Baca juga : Persijap Bakal Laporkan Kepemimpinan Wasit Supriawan

Keadaan pun semakin riuh dengan protes yang dilancarkan oleh  tim pelatih Persijap Carlos Raul Sciucatti. Adu argumen pun sempat terjadi, hingga tim tuan rumah memberikan bukti berupa rekaman pertandingan untuk diperlihatkan kepada tim wasit. 

Akan tetapi titik temu tak terjadi. Persijap akhirnya walk out pada menit ke 93. Sedangkan tim Persibat bersama wasit kembali le lapangan dan hendak mengeksekusi penalti.

Namun hal itu dibatalkan, karena keadaan stadion semakin ricuh. Akhirnya petugas keamanan mengungsikan wasit dan dibawa pergi menggunakan kendaraan lapis baja meninggalkan arena pertandingan.

Editor : Ali Muntoha

Idul Adha Sudah Dekat, Tapi Pasar Pon Bangsri Kok Masih Sepi

Pedagang sapi di Pasar Pon Bangsri Jepara, mengeluhkan sepinya pembeli meski Hari Raya Kurban sudah dekat. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Harga sapi dan kambing di Pasar Hewan “Pon” Bangsri sudah mulai merangkak naik. Namun demikian, para pedagang mengaku minat pembeli masih lesu, Sabtu (26/8/2017).

Sutoyo seorang pedagang sapi mengatakan, berdasarkan pengalamannya 20 hari menjelang Idhul Adha biasanya pembeli telah menyerbu dagangannya. Namun kini, hingga sepekan jelang hari raya kurban, ia mengeluh sepinya pembeli. 

“Pembelinya masih belum ada peningkatan. Saya belum tahu apa penyebabnya, mungkin karena kondisi ekonomi,” katanya. 

Ia mengatakan, harga sapi jualannya masih relatif terjangkau. Ia memperkirakan mendekati hari raya harga sapi bisa meningkat di atas Rp 20 juta. Untuk jenis sapi segon yang dipunyainya, dijual dengan harga Rp 19,5 juta.

“Kalau yang lebih kecil lagi ya harganya Rp 17,5 juta. Bergantung besar kecilnya sapi,” tuturnya. 

Hal serupa diungkapkan oleh pedagang Suwono. Menurutnya, harga sapi berada di kisaran 10-20 juta rupiah per ekor. 

Sementara itu harga kambing ditawarkan Rp 2-5 juta per ekor. Harga tersebut diakui oleh seorang pedagang Kasmuri selisih Rp 500 ribu dari hari biasa. 

“Sekarang harganya ya dua sampai lima juta rupiah untuk yang jantan. Kalau dibandingkan hari biasa ya kacek (selisih) Rp 200-500 ribu,” urainya.

Ia mengungkapkan, Kamis adalah hari terakhir pasaran. Kasmuri berharap dagangannya bisa laku dihari tersebut. “Nanti hari terakhir itu Kamis. Ya kalau bisa laku ya laku, kalau tidak ya tidak,” ungkapnya.

Editor : Ali Muntoha

Pengusaha Tahu Tempe Mengaku Belum Bisa Kurangi Limbah Produksi

Kondisi pipa buangan limbah tahu tempe di Desa Pecangaan Wetan. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Menghitamnya Sungai Gede Karangrandu disinyalir adanya kontribusi buangan limbah tahu-tempe yang ada di Pecangaan Wetan. Di wilayah itu, ada sekitar 40 perajin tahu dan tempe yang membuang sisa produksinya ke alur sungai Pecangaan, yang juga melewati sungai di Desa Karangrandu. 

Hal itu diperkuat, setelah Bupati Jepara melakukan inspeksi di alur Sungai Pecangaan hingga Karangrandu, yang bermuara di Laut Jawa, Sabtu (19/8/2017). Di antara Sungai Pecangaan dan Sungai Gede Karangrandu berdiri puluhan pabrik tahu-tempe.

Pantauan MuriaNewsCom, pipa pembuangan sisa produksi dialirkan langsung ke alur Sungai. Hal itu juga menimbulkan bau tidak sedap, dari pembuangan hampir mirip yang terjadi di Desa Karangrandu.

Kholid seorang perajin tahu mengatakan, memang pihaknya belum mampu mengatasi limbah buangan ke Sungai. Namun demikian, hal itu sudah dilaporkannya ke Bupati, bersamaan dengan kunjungan tersebut.

“Faktor x limbah itu memang ada, sudah berkali-kali sampaikan belum bisa kurangi limbah. Tadi sudah lapor ke bapake (bupati) minta diberi bantuan tangki, agar limbah bisa disedot dan dibuang ketempat lain,” katanya.

Kholid menyebut, dari 40 perajin, kapasitas usahanya bermacam-macam mulai dari satu ton perhari dan enam kuintal.

Ia berujar, sumur resapan memang telah dibuat untuk mengatasi limbah. Namun karena alasan medan yang datar, hal itu tak bisa maksimal. Terkait rencana bantuan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) ia mengaku agak kesulitan mencari lahan.

“Kalau disuplai (dibantu) ya kami minta tangki yang bisa nyedot limbah dari septictank, kemudian nanti bisa dibuang ke laut,” ujarnya.

Editor : Ali Muntoha

DPR RI pun Turun Tangan Atasi Menghitamnya Sungai Gede Karangrandu

Anggota DPR RI Komisi VI Abdul Wachid (satu dari kanan) terlihat berbincang dengan Bupati Jepara Ahmad Marzuqi (kiri), terkait menghitamnya sungai Gede Karangrandu, Sabtu (19/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Menghitamnya Sungai Gede Karangrandu menyita perhatian anggota dewan pusat dan Jawa Tengah.

Dalam inspeksi Bupati Jepara ke lokasi tersebut, Anggota DPR RI Komisi VI Abdul Wachid nampak disertai dengan Anggota Komisi D DPRD Provinsi Jateng Iskandar Zulkarnaen, Sabtu (19/8/2017). 

Abdul Wachid mengaku prihatin atas kondisi tersebut. Ia berharap pemangku wilayah dalam hal ini Pemkab Jepara duduk bersama dengan pelaku dunia usaha untuk mengatasi hal tersebut. 

“Saya melihat dari siaran televisi kondisi Sungai di Karangrandu kok seperti ini maka dari itu saya sempatkan datang kesini untuk melihat kondisi yang sebenarnya,” ujarnya. 

Dalam kesempatan itu, pihaknya pun sempat berbincang dengan Bupati Jepara Ahmad Marzuqi, didampingi oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara Fatkhurrahman. Melihat kondisi tersebut, pihaknya juga mengambil sampel air untuk dilakukan pengujian laboratorium sebagai pembanding.

Sementara itu, Iskandar Zulkarnaen menilai pemerintah kabupaten dan warga perlu hati-hati dalam menyikapi menghitamnya sungai tersebut. Hal itu agar pelaku usaha (pabrik) juga tidak lantas menjadi kambing hitam.

“Perlu penanganan yang komprehensif dalam menangani masalah ini, kita memerlukan standar pembuktian,” katanya. 

Zulkarnaen menyebut, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Jratun Seluna, terkait penanganan masalah tersebut. Hal itu mengingat alur sungai Pecangaan merupakan wewenang balai tersebut.

Editor : Ali Muntoha

Maling di Jepara Ini Hanya Butuh 15 Detik untuk Bobol Kunci Sepeda Motor

Pelaku pencurian sepeda motor saat diamankan Polres Jepara, Sabtu (19/8/2017). Mereka dibekuk dalam Operasi Jaran Candi 2017. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Anda tahu berapa waktu yang dibutuhkan maling sepeda motor membobol kunci kontak ketika sedang beraksi? Ternyata hanya butuh hitungan 15 detik, setelahnya mereka langsung menggelandang kabur. 

Hal itu dikatakan seorang maling spesialis roda dua, saat diinterogasi di Polres Jepara. Adalah Mohammad Ardiyan Laksana alias Kethek yang membeberkan rahasia dapurnya, di depan pewarta, Sabtu (19/8/2017).

Ia terjaring operasi dengan sandi Jaran Candi 2017, yang menyasar pencurian sepeda motor (curanmor), yang dilaksanakan selama 20 hari, dari bulan Juli hingga pertengahan Agustus. Kethek sendiri tertangkap pada Minggu (30/7/2017).

Warga Perumnas Bangsri, Desa Wedelan, Kecamatan Bangsri, Jepara, itu ketahuan menggondol sebuah motor matic, bermerk Honda Scoopy bernomor K 2718 VQ dengan menggunakan kunci letter T.

“Hanya 15 detik saya bisa melakukan pembobolan kunci, setelah itu saya bawa kabur. Saya melakukan bersama seorang teman saya, saya yang mengawasi dia yang bobol karena dia masih baru,” katanya. 

Dalam melakukan operasinya, ia mengaku terlebih dulu berputar-putar mencari “mangsa”. Ia mengaku mengincar motor yang terparkir didalam rumah namun kondisi lingkungan tengah sepi. 

“Biasanya waktu yang saya gunakan untuk mencuri adalah sehabis maghrib atau diwaktu dhuhur (tengah hari),” ujarnya. 

Kapolres Jepara AKBP Yudianto Adi Nugroho mengatakan, tersangka terancam hukuman di atas lima tahun akibat perbuatannya.

Editor : Ali Muntoha

Fadhil Tak Menyangka Motornya yang Digondol Maling Bisa Kembali

Penyerahan secara simbolis kendaraan roda dua oleh Kapolres Jepara AKBP Yudianto Adi Nugroho kepada pemilik. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Satuan Reserse Polres Jepara berhasil menangkap 11 tersangka pencurian motor, selama Operasi Jaran Candi 2017. Operasi yang berlangsung selama 20 hari mulai dari bulan Juli hingga pertengahan Agustus 2017, berhasil mengamankan 12 barang bukti. 

Kapolres Jepara AKBP Yudianto Adi Nugroho mengatakan, barang bukti tersebut akan dikembalikan kepada pemiliknya, begitu persidangan rampung. Sebanyak 12 barang bukti berupa motor tersebut, telah diklaim oleh pemiliknya.

“Hal itu dibuktikan dengan kepemilikan surat-surat kendaraan dan laporan polisi atas peristiwa kehilangan sepeda motor,” ujarnya Sabtu (19/8/2017).

Dirinya mengatakan, kejahatan pencurian sepeda motor yang berhasil diungkap pada operasi itu, terjadi di hampir seluruh penjuru wilayah. Mulai dari Nalumsari, Jepara kota, Batealit, Pakis Aji, dan Batealit.

Kasat Reserse Polres Jepara AKP Suharta mengatakan, selain 12 barang bukti yang telah diklaim oleh pemiliknya, masih ada empat sepeda motor yang belum menemukan pemiliknya. Ia mengimbau, bagi yang merasa kehilangan menghubungi kantor polisi terdekat, atau langsung ke Mapolres Jepara.

“Masih ada empat yang belum kita ketemukan pemiliknya. Untuk dapat mengambilnya pemilik cukup membawa bukti kepemilikan berupa BPKB, STNK atau jika masih kredit, ada keterangan dari diler motor. Dan itu tidak dikenakan biaya alias gratis,” tuturnya.

Sementara itu, Mohammad Fadhil mengaku senang motornya berhasil ditemukan lagi. Ia sempat menyangka motornya itu tak bakal kembali.

Warga Kudus itu mengatakan, sepeda motornya itu dicuri saat dipakai anaknya melihat pertunjukan musik di daerah perbatasan Jepara-Kudus. “Alhamdulillah bisa ketemu,’ ucapnya singkat.

Editor : Ali Muntoha

Ini Janji Pemkab Jepara Terhadap Penyebab Sumber Menghitamnya Air Sungai Gede Karangrandu

Air Sungai Gede Karangrandu, Jepara menghitam. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara masih menunggu hasil uji laboratorium, terkait Sungai Gede Karangrandu yang menghitam.

“Janji dari Cito (laboratorium swasta) akan ada hasilnya dalam rentang sepekan. Pengambilan sampel dilakukan beberapa hari lalu (Kamis, 10/8/2017- red), jadi kami harap Senin (21/8/2017) sudah ada hasilnya,” kata Kepala DLH Jepara Fatkurrahman, saat mendampingi Bupati Jepara inspeksi di alur sungai Pecangaan, Sabtu (19/8/2017). 

Menurutnya, setelah hasil laboratorium keluar, pihaknya akan memberikan rekomendasi kepada pemkab Jepara, terkait langkah selanjutnya. Adapun pengambilan sampel air dilakukan di alur Sungai Pecangaan pada beberapa titik.

Di antaranya tiga kilometer dari pabrik garmen (Jiale), bendungan Pecangaan, titik pabrik tahu tempe dan di Sungai Gede Karangrandu.

“Nantinya setelah hasil uji laboratorium keluar akan menghasilkan rekomendasi. Misalnya jika sumber pencemar itu dari pabrik (garmen-red) kita kan komunikasikan lalu kalau perlu dilakukan tindakan ya kita lakukan tindakan. Sementara kalau itu dari perajin tahu-tempe kita akan support (beri bantuan) berupa IPAL,” kata dia.

Fatkurrahman menyebut, pihaknya sudah pernah memberikan bantuan IPAL pada perajin tahu-tempe. Hanya saja ketika produksi meningkat, upaya perajin untuk memelihara instalasi pengolahan air limbah bantuan pemkab Jepara dinilai kurang. 

“Dulu kita sudah pernah memberi bantuan namun untuk perawatannya oleh masyarakat masih kurang,” urainya.

Editor : Ali Muntoha

 

Bupati Jepara Telusuri Alur Sungai  Inspeksi Sebab Menghitamnya Sungai Gede Karangrandu

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi bersama pejabat terkait meninjau air sungai yang menghitam, Sabtu (19/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Bupati Jepara Ahmad Marzuqi bersama jajaran pemerintah kabupaten, melakukan inspeksi terkait menghitamnya Sungai Gede Karangrandu, Desa Karangrandu, Sabtu (19/8/2017). 

Memulai inspeksinya, ia bersama Wakil Bupati Dian Kristiandi, Sekretaris Derah Sholih, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara Fatkhurrahman, Kabid Pengairan DPU-PR Jepara Ngadimin, Camat Pecangaan Muh Tahsim dan jajaran terkait, menengok bendung Sungai Pecangaan.

Sungai tersebut diketahui satu alur dengan Sungai Gede Karangrandu yang diduga tercemar limbah, dan menjadi hitam. 

Pantauan MuriaNewsCom, kondisi Sungai Pecangaan nampak tidak menghitam. Beberapa biota seperti ikan pun masih nampak berenang. Kemudian, rombongan pun melanjutkan tinjauan ke sentra usaha tahu-tempe yang ada di Pecangaan Wetan.

Di sana rombongan disuguhkan pemandangan dan bau menyengat dari sisa produksi tahu tempe, yang dibuang ke alur sungai, yang juga mengalir ke Karangrandu. Dari tempat itu bupati lantas bertolak ke Sungai Gede Karangrandu yang menghitam. 

“Hari ini langsung kita ambil tindakan, pintu air (bendungan) yang ada di Karangrandu akan kita buka. Sebelumnya sampah yang ada akan kita bersihkan. Nanti sedimentasi akan kita keruk menggunakan alat berat yang sudah kita bawa. Biar endapan yang ada bisa mengalir lancar,” kata dia. 

Alat berat disiapkan untuk membersihkan Sgai Gede Karangmandu yang menghitam. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

 

Ditanya pewarta, Marzuqi enggan menyimpulkan biang pencemar sungai di Karangrandu. Namun ia mengaku akan mengambil tindakan, agar warga Desa Karangrandu bisa kembali menikmati air yang sehat, bebas dari cemaran limbah.

“Pabrik tahu-tempe akan kita buatkan IPAL (instalasi pengolahan air limbah) terlepas apakah pencemarnya dari situ atau bukan. Namun IPAL itu bisa bermanfaat untuk pembuatan biogas,” ujarnya. 

Lebih lanjut Marzuqi mengatakan, pemkab akan menunggu hasil laboratorium terkait biang pencemaran lingkungan. 

Sementara itu, Petinggi (Kades) Karangrandu Syahlan mengatakan, solusi tersebut dinilai dapat menyelesaikan masalah yang dialami warganya. 

“Ya senang diperhatikan oleh pemerintah, semoga solusi ini dapat segera meredakan permasalahan warga,” urainya.

Hingga berita ini diturunkan, alat berat yakni ekskavator dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU-PR) Jepara tengah melakukan pembersihan di sepanjang bantaran Sungai Gede Karangrandu. Sedimentasi yang ada di sungai pun lantas diangkut menggunakan dua truk besar.

Editor : Ali Muntoha

HNSI Jepara Yakin Pencabutan Solar Subsidi untuk Nelayan Tak Bakal Terjadi

Perahu nelayan tengah antre untuk membeli solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan. HSNI Jepara yakin pencabutan solar bersubsidi hanya sekadar wacana. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jepara tak menganggap serius wacana yang dilontarkan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti tentang pencabutan solar bagi nelayan.

“Saya pikir itu hanya sekadar wacana, tidak mungkin mencabut bahan bakar minyak (solar) bersubsidi untuk nelayan. Sampai hari ini kami anggap hal itu masih sebagai wacana,” ucap Ketua HNSI Jepara Sudiyatno, Rabu (16/8/2017).

Meski demikian, ia menegaskan bahan bakar bersubsidi bagi nelayan masih sangat dibutuhkan. Dirinya menyebut, organisasinya satu kata dalam urusan tersebut.

Hal tersebut juga akan dibahas pada musyawarah nasional HNSI yang akan digelar pada bulan September 2017.

“Rencananya pada bulan September kita akan menggelar Munas. Di sana akan terbuka (pembahasan isu maupun persoalan nelayan). Tapi prinsipnya, dari DPP HNSI sampai dengan DPC sikapnya sama, nelayan harus diberikan BBM bersubsidi,” ujarnya.

Sudiyatno mengatakan, distribusi solar bagi nelayan di Jepara tidak bermasalah. Dirinya menyebut, dari sekitar empat Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBBN) yang ada, sudah mencukupi kebutuhan dan tidak ada kebocoran.

“SPBBN di Ujung Batu, Mlonggo, Donorojo, dan Kedung cukup melayani kebutuhan dan hanya diperuntukan bagi nelayan. Tidak ada kebocoran alias zero persen, karena nelayan kan tahu mana yang nelayan mana yang tidak. Jika harus membeli dari SPBU, pun menggunakan surat keterangan dari dinas terkait dan hal itu lebih disebabkan jika ada ketersendatan bbm,” urainya.

Editor : Ali Muntoha

Ini Nih Tempat Baru yang Keren Buat Swafoto di Jepara

Puluhan payung melayang warna-warni di Perumahan Griya Jepara Asri yang membuat suasana perumahan semakin syahdu. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Beragam cara dilakukan warga Jepara dalam memeriahkan HUT ke-72 Kemerdekaan RI. Satu di antaranya dengan menghias kampung.

Hal itu pula yang dilakukan warga Perumahan Griya Jepara Asri, Kelurahan Mulyoharjo RT/RW 8/4, Kecamatan Jepara. Mereka menghias areal jalan permukiman dengan payung warna-warni melayang.

Suasana semakin syahdu jika malam tiba, puluhan payung tersebut akan berpendar karena di bawahnya telah diletakan bohlam kecil.

Arif Sasongko warga setempat mengungkapkan, ide hiasan payung tersebut muncul secara spontan dari obrolan penduduk perumahan itu. Lantaran di kampung tersebut akan diadakan penilaian lomba antargang, menyambut ulang tahun Indonesia.

“Kemarin hasil ngobrol-ngobrol dengan warga kampung, kami akhirnya sepakat menambah ornamen payung yang diberi penerangan lampu. Jadi kalau malam hari nampak indah,” katanya, Rabu (16/8/2017) pagi.

Menurutnya, setelah obrolan tersebut warga kemudian beriur sesuai kemampuan mereka. Iuran itu dipergunakan untuk membeli payung sejumlah 45 buah secara bertahap dan aksesoris penunjang lain.

Arif mengatakan, dari panjang jalan perumahan sekitar 700 meter, baru lebih kurang 50 meter yang telah diberi payung plus lampu kecil. Sementara sisanya, baru dihias dengan payung melayang saja.

“Rencananya sisa (jalan) nanti akan dipasang payung dan diberi lampu. Untuk sementara baru segini saja,” tuturnya. 

Ia mengungkapkan, setelah penjurian lomba antargang payung-payung itu tak lantas dibredel. “Rencana dipertahankan, kalau ada yang mau foto-foto di gang ini juga silakan,” ujarnya sambil menyungging senyum. 

Editor : Ali Muntoha

KMC Express Bahari Berangkatkan 2 Kapal Layani Penyeberang Ke Karimunjawa

Dua KMC Express Bahari disiapkan untuk menampung peningkatan penumpang ke Karimunjawa. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Dua Kapal Motor Cepat (KMC) Express Bahari disiapkan untuk mengangkut penumpang ke Karimunjawa, di libur panjang hari Kemerdekaan. Dua kapal tersebut adalah KMC Express Bahari 9C dan Express Bahari 2C. 

“Tanggal 18 (Jumat) akan ada dua trip yang dilayani oleh dua kapal (KMC Express Bahari 9C dan 2C). Untuk hari tersebut sudah ada permintaan dari penumpang,” kata Manajer Cabang Jepara PT Pelayaran Sakti Makmur Sugeng Riyadi, sebagai operator Kapal Express Bahari, Selasa (15/8/2017). 

Menurutnya, dua kapal tersebut berkapasitas total 761 tempat duduk. Rinciannya, KMC Express Bahari 9C sebanyak 410 kursi dan 2C ada 351 kursi. Sugeng menyebut, untuk hari tersebut kursi penumpang sudah terpesan.

Ia mengungkapkan, KMC Express Bahari 2C berfungsi sebagai cadangan. Jadi setelah melayani penumpang menyeberang di hari Jumat, kapal tersebut akan siaga di Karimunjawa sampai hari Minggu. Hal itu terkait paket wisata yang telah dipesan oleh penumpang. 

Sementara itu, KMC Express Bahari 9C akan melayani penumpang secara reguler. Terkait harga, dirinya mengatakan tidak ada perubahan.

“Kalau untuk tiket tidak ada perubahan, untuk eksekutif harganya Rp 150 ribu, untuk VIP Rp 175 ribu,” ungkap Sugeng.

Editor : Ali Muntoha

Jelang Libur Panjang Tiga Kapal Disiagakan Angkut Penumpang Ke Karimunjawa

Kapal Express Bahari 2C saat mengikuti even Lomban beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Menjelang libur panjang hari kemerdekaan RI ke 72, tiga kapal penyebrangan ke Karimunjawa disiagakan. Selain Kapal Mesin Penumpang (KMP) Siginjai dan Kapal Mesin Cepat (KMC) Express Bahari 2C, adapula KMC Express 9C yang siap melayani jika jumlah penumpang membengkak. 

Hal itu diungkapkan Kasi Pelabuhan Penyeberangan Kartini Supomo, Selasa (15/8/2017). Menurutnya, untuk penambahan trip (keberangkatan) hingga kini belum ada. 

“Sampai saat ini untuk penambahan trip  belum ada. Untuk hari Kamis (17/8/2017) penyeberangan dari Jepara-Karimunjawa off (libur) sebagaimana hari normal. aktivitas normal kembali pada hari Jumat (18/8/2017),” kata dia.

Dirinya menerangkan, pada hari Jumat baik Siginjai maupun Express Bahari telah memliki jadwal pemberangkatan ke Karimunjawa. Namun khusus KMC Express Bahari disiagakan satu kapal lagi, jika antusiasme penumpang ke pulau tropis tersebut meningkat.

“Kapal (KMC Express Bahari 9C) disiagakan di dermaga Jepara. Jika ada permintaan untuk pemberangkatan, maka akan diberangkatkan,” tuturnya.

Hal itu dibenarkan oleh Kabid Perhubungan Laut Dinas Perhubungan Jepara, Suroto.  Menurutnya, kehadiran dua kapal Express Bahari guna mengantisipasi keadaan yang tak diinginkan. 

“Iya betul, Express Bahari ada dua kapal, yang satu bersifat cadangan, bilamana yang satu rusak, tetap dijalankan,” ungkap Suroto. 

Menurutnya, untuk saat ini memang kapal tersebut sandar di Jepara. Terkait angkutan jelang libur panjang, dirinya mengungkapkan pemberangkatannya akan bersifat kondisional.

“Paling kalau ada kelebihan muatan akan dioperasikan, dua-duanya akan diberangkatkan. Akan tetapi hal itu melihat antusiasme dari penumpang,” tuturnya.

Editor : Ali Muntoha

Lucunya Tingkah Polah Siswa TK-SD di Jepara Berdandan Pahlawan saat Karnaval Kebangsaan

Siswa mengenakan kostum salah satu pahlawan perempuan Jepara Ratu Shima dalam karnaval kebangsaan, Senin (14/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Jelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-72 Indonesia, ribuan murid TK dan SD mengikuti karnaval kebangsaan, Senin (14/8/2017) siang. Mereka mengenakan berbagai kostum yang menyimbolkan adat dan keberagaman yang ada di republik ini. 

Mereka terlihat lucu, dan beberapa kali tingkah polah anak-anak membuat penonton terpingkal-pingkal.

Seperti yang dikenakan oleh siswa-siswi TK Nurul Iman Desa Senenan, Kecamatan Tahunan-Jepara. Selain memamerkan parade siswa yang mengenakan seragam merah putih, mereka juga menampilkan sosok pahlawan perempuan Jepara yakni, Ratu Shima, Ratu Kalinyamat dan RA Kartini.

Selain itu mereka juga mengingatkan mengenai belum tuntasnya perjuangan para pahlawan, melalui sebuah tulisan.  “Kami telah berjuang kini saatnya kalian meneruskan perjuangan kami,” bunyi tulisan yang diusung murid taman kanak-kanak tersebut. 

Dalam daftar panitia, ada 62 sekolah setingkat TK atau Paud yang ikut serta. Mereka berasal dari Kota Jepara dan daerah satelit, seperti Tahunan dan Kedung. Sementara itu pada kategori SD ada 41 sekolahan yang mengikuti karnaval tersebut.

Setelah memamerkan busana dan kebolehannya di depan unsur Muspida Kabupaten Jepara, mereka akan berjalan sesuai rute. Untuk kategori TK dan Paud akan melintasi jalur sepanjang 600 meter, dari alun-alun, Jl Diponegoro, Jl Veteran dan Jl AR Hakim. Sementara untuk SD menempuh jarak sepanjang satu kilometer, dari Alun-alun, Jl Diponegoro, Jl Veteran, Jl AR Hakim dan berakhir di Sanggar Pramuka.

Kabid Pemasaran  Wisata Florentina Budi Kurniawati mengatakan kegiatan tersebut bertema mengangkat produk unggulan dan potensi Jepara. Hal itu dimaksudkan agar semua lapisan masyarakat mengetahui segala potensi yang dimiliki oleh kabupaten di pesisir utara pulau Jawa tersebut. 

“Hal itu mengandung maksud, jika masyarakat mengenal potensi yang dimilikinya, maka masyarakat ikut membangun negara, dengan memaksimalkan berbagai macam potensi daerah yang dipunyai. Selain itu, kami juga ingin untuk menggali kreatifitas dan masyarakat secara umum,” ungkap Florentina.

Editor : Ali Muntoha

Warga Bangsri Jepara Urunan Perbaiki Rumah Mbah Temu Yang Hampir Roboh

Warga Desa Bangsri, Jepara, bergotong royong memperbaiki rumah janda tua secara swadaya. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Tak tega melihat rumah Mbah Temu (74) hampir roboh, warga Rukun Warga 12, Desa Bangsri, Kecamatan Bangsri, Jepara, urunan merenovasi rumah janda tua itu. 

Haryanto warga setempat mengungkapkan, kesepakatan tersebut tercapai setelah adanya rembug warga. Dengan iuran secara sukarela, mereka lantas mengumpulkan sumbangan sebagai modal untuk memperbaiki rumah kayu berukuran 5×7 meter itu.

Menurutnya, Mbah Temu merupakan seorang janda tua miskin yang memiliki tiga anak. Dua anaknya yang juga miskin, kini merantau ke luar daerah. Sementara anaknya yang terakhir tinggal bersamanya, hanya saja ia tak pernah mengenyam pendidikan formal.

“Ia (Mbah Temu) rumahnya telah lapuk termakan usia. Lalu kami dari warga sekitar berinisiatif dan beriuran secara swadaya untuk melakukan perbaikan rumahnya,” ujarnya, Senin (14/8/2017). 

Haryanto menyebut, untuk memperbaiki rumah Mbah Temu membutuhkan dana sekitar Rp 15 juta. Rencananya, rumah berdinding kayu itu akan direnovasi menjadi rumah tembok.

Untuk perbaikannya, warga mengerjakannya secara bergotong royong. “Alhamdulilah banyak warga yang membantu program ini. Warga akan mengerjakan perbaikan secara bahu membahu bersama-sama untuk memperbaiki rumah Mbah Temu,” ucapnya. 

Selain rumah Mbah Temu, rencananya warga akan memperbaiki rumah warga tak mampu lainnya. Haryanto menyebut, ada dua rumah warga yang akan diperbaiki. 

“Kami rencananya akan memperbaiki tiga rumah warga yang akan dibangun. Mereka semua adalah warga tak mampu di lingkungan kami,” tutur dia.

Sementara itu Mbah Temu mengaku hanya bisa terharu atas inisiatif warga memperbaiki rumahnya. “Saya hanya bisa mengucapkan terimakasih kepada semua yang sudah membantu memperbaiki rumah saya. Semoga lebih bermanfaat ketika nanti jadi,” ucapnya.

Editor : Ali Muntoha

Ini Alasan Marzuqi Idamkan Kursi Wakil Gubernur Jateng

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi, yang ikut meramaikan bursa calon wakil gubernur Jateng. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Ahmad Marzuqi nampaknya serius untuk memperebutkan kursi wakil gubernur Jateng pada pilkada serentak 2018 mendatang. Kamis (10/8/2017) hari ini, ia mengembalikan formulir pendaftaran Cawagub ke kantor DPD PDI Perjuanga Jateng di Kota Semarang.

Sebelumnya diberitakan, Marzuqi mewakilkan pengambilan formulir pendaftaran Cawagub kepada Agus Sutisna, Selasa (1/8/2017). Ia adalah anggota DPRD Jepara asal partai PPP.

“Dari segi kelengkapan formulir insyaallah sudah kami lengkapi. Pak Marzuqi nantinya yang akan mengembalikannya sendiri, didampingi beberapa petinggi parpol dan ormas serta membawa grup kesenian khas Jepara,” kata Agus Sutisna, yang ikut dalam rombongan pengembalian formulir ke Semarang.

Perlu diketahui, Ahmad Marzuqi merupakan politisi asal partai berlambang kabah, PPP. Namun saat pemilihan bupati Jepara 2017, ia diusung oleh PDI Perjuangan. Bersama wakilnya Dian Kristiandi, ia kemudian dinobatkan sebagai pemenang pemilu, dan ditahbiskan memimpin Jepara hingga 2022.

Namun belum sampai enam bulan, ia mengambil langkah untuk mencalonkan menjadi Jateng 2 (wakil gubernur).

Disinggung alasan Ahmad Marzuqi, Agus Sutisna tak mengetahui lebih detil. Namun dirinya mengaku pernah diajak bicara soal tersebut.

“Kalau alasanya apa saya rasa Pak Marzuqi yang lebih mengetahui. Namun demikian Pak Marzuqi pernah diusung oleh PDIP, yang bersangkutan juga menerima amanat dari DPP PDIP dan perintah dari DPW PPP untuk ambil formulir (pencalonan cawagub). Jadi sebagai kader partai (PPP) ia berusaha taat atas apa yang diperintahkan,” ujarnya.

Baca juga : Baru Kembali Terpilih jadi Bupati Jepara, Marzuqi Kini Incar Posisi Wakil Gubernur

Agus juga menerangkan, alasan Marzuqi memilih mendaftar cawagub dari partai berlambang banteng.

“Kalau PPP sendiri kan tidak bisa mengusung pencalonan gubernur atau wakil gubernur, karena kursinya tak terpenuhi. Sementara PDIP sendiri adalah partai di Provinsi Jateng yang memenuhi untuk mengusung Cagub dan Cawagub sendiri di Jawa Tengah,” urainya.

Editor : Ali Muntoha

Baru Kembali Terpilih jadi Bupati Jepara, Marzuqi Kini Incar Posisi Wakil Gubernur

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi. Setelah kembali terpilih sebagai bupati, Marzuqi kini mengincar posisi wakil gubernur Jateng. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Ahmad Marzuqi, baru saja terpilih kembali sebagai bupati Jepara pada Pilkada Serentak Februari 2017 lalu. Tiga bulan setelah dilantik menjadi bupati, Ahmad Marzuqi punya ambisi lain, yakni mengincar posisi wakil gubernur Jateng.

Hal ini dibuktikan dengan keikutsertaanya dalam penjaringan bakal calon gubernur dan wakil gubernur yang dibuka DPD PDI Perjuangan Jateng.

Kamis (10/8/2017) hari ini, Marzuqi mengembalikan formulir pendaftaran bakal Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Jawa Tengah ke Kantor DPD PDI Perjuangan Jateng, di Panti Marhaen Kota Semarang.

Untuk mengembalikan formulir dan berkas-berkas pendaftaran ini, Marzuqi diantar sekitar 850 orang dengan menumpang 17 bus.

Agus Sutisna, anggota DPRD Jepara dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ikut serta dalam rombongan. Menurutnya, selain unsur partai politik dan organisasi masyarakat, pihaknya juga mengikutsertakan rombongan kesenian, yang nantinya akan dipertontonkan kepada khalayak di ibukota Jawa Tengah. 

“Pak Marzuqi tentu saja ikut dalam rombongan. Selain itu ada tokoh dari DPC PDIP Jepara, PPP, Fatayat NU, Muslimat, Wanita PPP, KNPI dan sanggar seni budaya, serta alim ulama berikut tokoh masyarakat. Wakil Bupati Dian Kristiandi juga ikut mendampingi,” ucapnya, melalui sambungan telepon. 

Dirinya mengatakan, sesampainya di Semarang pihaknya akan menyajikan kesenian khas Jepara. Seperti tari Laskar Kalinyamat, rebana, terbang telon dan pertunjukan perkusi hasil kreasi seniman Jepara. 

Disinggung masalah komunikasi dengan calon lain, Agus mengungkap pihaknya belum berpikir sejauh itu. 

“Komunikasi dengan calon lain belum ada, kita fokus pada pengembalian formulir dulu. Baru ke depannya setelah kita memang diterima dan mendapatkan rekomendasi kita akan mengembangkan komunikasi dengan seluruh jajaran partai dan calon gubernur yang juga telah mendapatkan rekomendasi,” jelas Agus.

Editor : Ali Muntoha

Dengan Soda dan Obat Sakit Kepala, SN Gugurkan Kandunganya yang Berumur 7 Bulan

SN (40), ibu yang nekat menggugurkan kandungannya dan tega membuang jasad bayinya dengan dibungkus kresek. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Pelaku pembuang bayi di Mayong Lor, Jepara, SN (40) terancam mendekam di penjara selama 15 tahun.

Kabag Humas Polres Jepara AKP Sarwo Edy Santosa mengatakan, yang bersangkutan melanggar pasal 80 junto 76 C ayat 2 UU RI no 35/2014 tentang perubahan UU RI 23/2002 tentang Perlindungan Anak.

“Tersangka diringkus di rumahnya, semalam (Selasa, 8/8/2017). Hal itu dari informasi dan petunjuk yang dikumpulkan penyidik dan mengerucut kepada tersangka,” tuturnya, dalam konferensi pers, Rabu (9/8/2017).

Dirinya menuturkan, tersangka bekerja sebagai pelinting di sebuah pabrik rokok, yang ada di Desa Brantak Sekarjati, Kecamatan Welahan.

“Kepada petugas tersangka menyebut alasannya untuk mengugurkan bayinya hanya karena sering diejek oleh teman sekerjanya. Ia kemudian menggugurkan dengan meminum soda yang dicampur dengan obat sakit kepala,” urainya.

Sementara itu tersangka SN menyebut, selama masa awal kehamilan hingga usia tujuh bulan, ia menyembunyikannya dari suaminya.

“Sampai tadi malam saya ditangkap, suami saya tidak tahu bahwa saya hamil. Ketika di hadapannya selalu saya tutupi dengan memakai pakaian longgar. Dan setiap kali dia tanya saya selalu menghindar,” jelas SN sambil tertunduk.

Kini hanya penyesalan yang menggelora di hati ibu empat anak itu. Ia tak lagi berkumpul bersama suami dan keempat anaknya.

Baca juga : Ibu di Jepara Ini Nekat Buang Bayinya yang Baru Lahir karena Malu Diejek

Ia mengakui meminum soda yang dicampur dengan obat sakit kepala Minggu (16/7/2017), untuk mengugurkan anak kelimanya yang masih dalam kandungan tersebut. Saat digugurkan, SN mengaku umur jabang bayi sudah mencapai 7 bulan.

Lalu, pada Senin (17/7/2017) ia merasakan mulas hebat. Begitu buang air, si jabang bayi juga ikut keluar. Saat diteliti, SN mengklaim bayi telah meninggal dunia.

“Saya minum soda dicampur obat sakit kepala sehari tiga kali. Lalu keesokan harinya saya mulas dan bayi keluar. Saat itu bayinya sudah tidak bernapas, lalu saya bungkus dengan pakaian saya dan saya wadahi lagi dengan plastik dan saya taruh di dalam baskom plastik kemudian disembunyikan di dalam rumah,” urai dia. 

Lalu pada hari Selasa (18/7/2017) malam, yang bersangkutan kemudian berniat membuang jasad anaknya. Ia kemudian memasukan plastik berisi mayat bayi ke dalam sebuah tas belanja dan mengajak anaknya yang paling kecil (2 tahun) untuk ikut menutupi bungkusan itu.

Editor : Ali Muntoha

Ibu di Jepara Ini Nekat Buang Bayinya yang Baru Lahir karena Malu Diejek

Polisi memeriksa pelaku pembuangan bayi di Jepara yang ternyata ibu kandungnya sendiri. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Masih ingat kasus pembuangan bayi di Desa Mayong Lor, Jumat (21/7/2017) lalu? Polres Jepara malam tadi (Selasa, 8/8/2017) menangkap pelakunya.

Ternyata tersangkanya adalah ibunya sendiri SN (40). Kepada penyidik ia mengaku sengaja mengugurkan dan membuang jabang bayi karena malu terus-terusan diejek oleh teman sekerjanya. 

“Saya malu akan anggapan teman-teman, mereka menggunjingkan saya orang miskin kok anake akeh (anaknya banyak). Dari situ saya lantas berniat mengugurkan bayi yang saya kandung,” ujar warga Kecamatan Nalumsari, Jepara itu.

Ejekan teman-teman seprofesi di pabrik rokok itu, ternyata membuat ibu empat anak itu gelap mata. Ia lantas mengonsumsi minuman soda yang dicampur dengan obat sakit kepala Minggu (16/7/2017), untuk mengugurkan anak kelimanya yang masih dalam kandungan tersebut. Saat digugurkan, SN mengaku umur jabang bayi sudah mencapai 7 bulan. 

Lalu, pada Senin (17/7/2017) ia merasakan mulas hebat. Begitu buang air, si jabang bayi juga ikut keluar. Saat diteliti, SN mengklaim bayi telah meninggal dunia. 

“Saya minum soda dicampur obat sakit kepala sehari tiga kali. Lalu keesokan harinya saya mulas dan bayi keluar. Saat itu bayinya sudah tidak bernapas, lalu saya bungkus dengan pakaian saya dan saya wadahi lagi dengan plastik dan saya taruh di dalam baskom plastik kemudian disembunyikan di dalam rumah,” urai dia. 

Lalu pada hari Selasa (18/7/2017) malam, yang bersangkutan kemudian berniat membuang jasad anaknya. Ia kemudian memasukan plastik berisi mayat bayi ke dalam sebuah tas belanja dan mengajak anaknya yang paling kecil (2 tahun) untuk ikut menutupi bungkusan itu. 

Dari rumahnya, ia lantas berkeliling tanpa tujuan menggunakan motornya, guna mencari tempat pembuangan. “Saya tak tahu waktu itu mau buang ke mana. Akhirnya saya melihat ada sawah di Mayong Lor lalu membuangnya di situ,” tambahnya. 

Ia sendiri mengaku sudah memunyai empat anak, berumur 12 tahun, 10 tahun, 5 tahun dan yang paling kecil 2 tahun. Saat ini pelaku tengah mendekam di tahanan Mapolres Jepara. 

Baca juga : Tega Bener, Bayi yang Baru Lahir Ini Dimasukkan Kantong Plastik Lalu Dibuang di Persawahan

Adapun, kasus jabang bayi ditemukan di persawahan Desa Mayong Lor. Penemunya saat itu adalah Ngasiman (50), saat menggarap lahan dan mencurigai ada tas belanja yang berbau busuk.

Editor : Ali Muntoha

Pikap Pengangkut Mebel di Jepara Diduga Sengaja Dibakar Orang

Proses evakuasi bangkai mobil pikap yang terbakar di Jalan Jalan Ngasirah, Kelurahan Mulyoharjo, Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Kebakaran mobil pikap pengangkut mebel bernomor polisi H 1855 SQ, di Jalan Ngasirah, Kelurahan Mulyoharjo RT 5 RW 1, Jepara, Senin (7/8/2017) kemarin, diduga ada unsur kesengajaan. Sebelum terbakar, mobil tersebut diduga sudah dibuntuti orang tak dikenal, yang kemudian melempar sesuatu ke dalam mobil.

Hal ini dikatakan Syafi’i, warga di sekitar lokasi kejadian. Menurutnya, saat ia sampai di lokasi kejadian, api sudah membesar dan melalap hampir seluruh mobil. Awalnya ia melihat asap membumbung tinggi, karena penasaran ia memeriksa lokasi.

“Saat itu saya tengah menonton pertandingan bola voli di lapangan desa. Tahu-tahu ada asap dan suara sirine berbunyi, saya langsung ke tempat ini dan ternyata ada mobil pikap terbakar,” ujarnya.

Ia mengatakan, sebab terbakarnya pikap tersebut, diduga karena ada sesuatu yang dilemparkan seseorang ke dalam bak muatan tersebut. Hal itu diketahuinya dari perbincangan sopir nahas dan warga di tempat kejadian.

“Jadi saya dengar, mobil dari timur sudah diikuti oleh motor. Nah kebetulan ada motor lain yang juga di belakang mobil. Pengendara motor pertama melihat sesuatu dilempar ke bak mobil, lalu memberitahukan sopir pikap. Kemungkinan itu puntung rokok,” urai dia. 

Baca juga : Diguyur Air, Pikap Pengangkut Mebel di Jepara Justru Langsung Berkobar

Informasi yang dikumpulkan MuriaNewsCom, selain sopir kendaraan itu juga ditumpangi seorang kernet yang bernama Ali Imron. Adapun pemilik kendaraan bernama Setiawan Purwanto, Warga Pakintelan, Gunungpati, Kota Semarang. 

Meski demikian, pihak kepolisian masih mendalami keterangan sopir tersebut. Aparat kepolisian yang datang ke lokasi kejadian juga meminta keterangan sejumlah saksi dan memeriksa bangkai mobil.

Editor : Ali Muntoha

Diguyur Air, Pikap Pengangkut Mebel di Jepara Justru Langsung Berkobar

Polisi memeriksa mobil pikap yang terbakar di Jalan Ngasirah, Kelurahan Mulyoharjo, Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Sebuah kendaraan bak terbuka yang memuat furnitur bernomor polisi H 1855 SQ terbakar, Senin (7/8/2017). Kejadian ini berlangsung pada pukul 16.30, di Jalan Ngasirah, Kelurahan Mulyoharjo RT 5 RW 1, Jepara.

Girah warga setempat mengatakan, saat kejadian sopir kendaraan yang belakangan diketahui bernama Apriel (22) warga Gunungpati Semarang, meminta tolong kepada warga. Girah yang saat itu berada di dalam rumahnya kemudian keluar.

“Waktu itu sopir dan kernetnya meminta air untuk memadamkan api di mobilnya. Muatannya kursi yang sudah diberi jok, lalu ada beberapa benda di dalamnya. Saat itu api sudah mulai membakar, namun kecil. Saya mendengar katanya sudah terbakar mulai dari arah timur,” tutur dia.

Lalu pengemudi kendaraan mengguyurkan air ke sumber api. Namun tak dinyana, api justru membesar. 

“Diguyur dari belakang, eh apinya malah menyembur ke depan dan bertambah besar. Saya sih tidak berani mendekat, takut ada apa-apa,” imbuh warga Mulyoharjo tersebut.

Proses evakuasi berlangsung hingga petang datang, karena mendatangkan alat berat untuk mengangkut bangkai kendaraan.

Hingga Selasa (8/8/2017) kasus terbakarnya mobil tersebut masih didalami Polres Jepara. Pasalnya, ada dugaan jika kebakaran tersebut bukan karena masalah korsleting pengapian mobil, melainkan ada unsur kesengajaan dari pihak lain.

Editor : Ali Muntoha