Setengah Tahun Terakhir 43 Ribu Warga Jateng Tak Lagi Miskin

Warga miskin di Kabupaten Blora. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jateng Sri Puryono menyebut, dalam waktu enam bulan jumlah warga miskin di Jawa Tengah berkurang sebanyak 43,03 ribu jiwa.

Data tersebut berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah. Jika dibandingkan  dengan  jumlah  penduduk  miskin  pada September 2016, selama enam bulan tersebut  terjadi penurunan jumlah  penduduk miskin sebesar 43,03 ribu orang.

“Sementara apabila dibandingkan dengan Maret 2016 jumlah penduduk miskin mengalami penurunan sebanyak 56,17 ribu orang dari total 4,50 juta orang (13,27 persen),” ujarnya.

Saat ini Pemprov Jateng tengah menggenjot perbaikan infrastruktur untuk mempercepat upaya penurunan angka kemiskinan. Sri Puryono menyebut, dengan infrastruktur yang baik, akses perekonomian, pendidikan, kesehatan, dan lainnya juga semakin baik.

“Dengan begitu diharapkan dapat menjadi salah satu bagian memutus mata rantai kemiskinan,” katanya.

Pemerintah juga terus mendorong kerja sama dengan industri, khususnya industri padat karya dengan mempermudah perizinan. Bahkan, beberapa waktu lalu, di stand PRPP, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah melayani perizinan pabrik gula baru dengan nilai investasi Rp 1,3 triliun dalam waktu tidak lebih dari tiga jam.

”Kerja sama dengan industri juga didorong di SMK-SMK, baik negeri maupun swasta, sehingga dapat menekan angka pengangguran setelah lulus,” terangnya.

Data BPS jumlah penduduk miskin di Jawa Tengah pada Maret 2017 sebesar 4,45 juta orang (13,01 persen).

Editor : Ali Muntoha

Siswi SMP 4 Demak yang Lumpuh Setelah Imunisasi Sudah Bisa Gerakkan Kaki

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menjenguk Niken Angelia, siswi SMP yang lumpuh setelah menjalani imunisasi campak rubella. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Semarang – Setelah tiga hari mendapat perawatan di RSUP dr Kariadi Semarang, Niken Angelia, siswi SMP di Demak, yang lumpuh setelah imunisasi campak rubella, Jumat (18/8/2017) dijenguk Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

Saat mengetahui orang nomor satu di Jateng masuk ke ruang bangsal untuk menjenguknya, Niken terlihat langsung tersenyum. Ganjar dan Niken tampak berbincang-bincang.

Ibu Niken, Yuli Suryaningsih mengatakan, kondisi niken mulai membaik. Walaupun hingga saat ini pinggulnya belum kuat menopang, sehingga belum bisa duduk.

“Belum bisa duduk, masih sakit. Alhamdulillah sudah ada perkembangan. Makan sudah banyak,” kata Yuli kepada Ganjar.

Kemajuan kondisi Niken ditunjukkan gadis itu sendiri dengan mulai menggerakkan dan menggoyangkan kakinya. “Oh sudah bisa gerak, Alhamdulillah,” kata Ganjar saat melihat kaki Niken bisa digerakkan.

Mantan Anggota DPR RI ini mengapresiasi pihak rumah sakit yang melakukan penanganan dengan intensif terhadap Niken. Ia berharap masyarakat tidak langsung menghakimi musibah yang dialami Niken berhubungan dengan imunisasi yang dilakukannya.

“Dokter mendalami intens sampai tungkai sudah bisa digerakkan. Ini ditangani baik. Jangan sampai kemudian orang buat judgment itu karena imunisasi. Tidak ada, (kelumpuhan Niken) itu bawaan sebelumnya, maka kita rawat,” ujarnya.

Konsultan Spesialis Anak RSUP dr Kariadi Semarang, dr Wistiani juga mengatakan kejadian yang menimpa Niken bukan disebabkan karena vaksin, melainkan sakit bawaan. Pihak rumah sakit sudah melakukan penelusuran termasuk menerjunkan tim ke tempat Niken imunisasi di Kabupaten Demak.

“Ketika dilakukan penelusuran, ternyata terbukti tidak ada hubungan kelemahan tungkai dengan imunisasi. Anak ini memang ada kelemahan kedua tungkai sejak kecil,” terang Wistiani.

Wistiani meminta untuk pasien yang memiliki penyakit bawaan atau sedang sakit, sebaiknya disampaikan kepada dokter sebelum imunisasi.

“Kalau mau diimunisai, anak kondisi sehat tidak demam. Kalau ada hal-hal yang membuat ibu cemas, tanyakan ke dokter. Misal punya penyakit kronis, bisa diberitahukan ke petugas atau konsultasi dulu,” terang Wistiani.

Sebelumnya diberitakan, badan bagian bahwah Niken lemas tidak bisa digerakkan setelah imunisasi MR di sekolahannya. Niken sempat ditangani rumah sakit di dekat tempat tinggalnya hingga akhirnya dirujuk ke Semarang.

Editor : Ali Muntoha

6 Daerah di Jateng Darurat Kekeringan, Pemprov Siapkan 3 Ribu Tangki Air

Warga di Kabupaten Grobogan ngangsu air dari tengah hutan, karena sudah mulai dilanda kekeringan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Semarang – Setidaknya enam daerah di Jawa Tengah telah mengeluarkan status darurat kekeringan, dan belasan lainnya krisis air bersih. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah menyiapkan 3.000 tangki air jika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

Keenam daerah di Jateng yang menyatakan siaga darurat kekeringan itu, antara lain Boyolali, Temanggung, Kebumen, Banjarnegara, dan Cilacap.

Kepala Pelaksana Harian (Kalahar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jateng, Sarwa Pramana mengatakan, enam kepala daerah itu telah mengeluarkan SK tentang siaga darurat kekeringan. SK tersebut menurutnya juga telah diperkuat dengan SK Gubernur Jateng.

Sarwa mengatakan enam pemerintah kabupaten/kota tersebut telah mengajukan bantuan ke Pemprov Jateng.

“Provinsi masih memiliki 3000 tanki air dan kita juga akan meminta bantuan kepada BNPB. Biasanya ada sih tiap tahun rata-rata Rp 800 miliar hingga Rp 900 miliar,” katanya.

Saat ini menurut dia, ada 12 daerah yang sudah dipasok air bersih. Terdiri dari 22 kecematan dengan 46 desa/kelurahan dengan total 158 tanki air yang sudah dipasok.

Bahkan menurut dia, daerah yang sebelumnya tak pernah dipasok air, tahun ini juga meminta bantuan, yakni Banjarnegara. Dalam melakukan penyaluran air 3000 tanki milik pemprov, terdapat mekanisme yang harus dilalui yakni melalui Pemkab, dan diteruskan ke pihaknya.

“Kita bekerjasama dengan PDAM, dan menggunakan mekanisme harga korporate. Kalau ada permintaan saya langsung transfer dana ke PDAM,” terangnya.

Meski belum ada kejadian gawat darurat bencana, namun sudah ada peristiwa kebakaran yang terjadi di Kabupaten Wonogiri. Di Wonogiri terjadi kebakaran lahan dengan sedkit kebakaran di Gunung Gandul. Kebakaran tersebut diakui Sarwa sudah diatasi secara manual. 

“Yang menjadi sulit ketika kita menangananinya di daerah kebakaran hutan dengan minim air di dalamnya. Kecuali ada aliran sungai atau waduk yang dekat dengan lokasi kebakaran. Gak mungkinlah pakai pesawat,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Rustriningsih Malu-malu Pengen Kembali Nyalon Gubernur

Mantan Wakil Gubernur Jateng Rustriningsih. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Mantan Wakil Gubernur Jateng Rustriningsih, tampaknya masih malu-malu menyatakan niatnya merebut kursi gubernur di Pilgub Jateng 2018 mendatang. Meski belum secara tegas menyatakan maju atau tidak, namun Rustri menyebut masih ada cukup waktu untuk memikirkan langkahnya.

Terlebih menurut dia, proses untuk pendaftaran calon gubernur di KPU Jateng masih lama. Sehingga masih ada waktu yang panjang baginya untuk memikirkan hal tersebut.

“Justru proses masih panjang, masih ada waktu untuk berpikir mempersiapkan diri. Dan pada saatnya nanti bisa dilihat arahnya ke sana atau tidak,” kata Rustri usai mengikuti upacara HUT RI di Lapangan Pancasila Simpanglima, Kamis (17/8/2017).

Mantan politisi PDI Perjuangan ini menyebut, langkah untuk mencalonkan diri pada pemilihan kepala daerah harus berasal dari hati nurani, bukan hanya berdasarkan minat semata.

“Kalau saya menggarisbawahi, mencalonkan diri dalam pemilihan kepala daerah itu, bukan didasarkan pada minat atau tidak. Tapi ini sebuah panggilan yang dirasakan seseorang untuk ikut berpartispasi dalam proses regenarasi dalam kepemimpinan,” ujarnya.

Terkait kabar adanya parpol yang melamar dirinya untuk diusung sebagai cagub, Rustri menyebut, pihaknya tetap menjaga komunikasi dengan partai-partai politik. Menurutnya, lamaran tersebut merupakan sebuah kehormatan bagi dirinya.

“Kalau ada yang melamar, itu satu kehormatan besar, karena tidak mudah tentunya untuk bisa dicalonkan oleh partai. Apa lagi saya sebagai orang yang sekarang ada di luar, biasanya (partai) mendahulukan kader,” akunya.

Usai menjadi wakil gubernur Jateng, Rustri juga mengaku hanya sibuk berkegiatan di rumah. Terlebih upayanya untuk maju dalam Pilgub Jateng 2014 lalu gagal, lantaran tak mendapat rekomendasi dari DPP PDIP. Meski demikian, Rustri menyebut, kalau dirinya terus mengikuti perkembangan politik saat ini.

Sementara itu, pengamat politik dari Unwahas Semarang Joko Prihatmoko menyebut, Rustri harus segera menegaskan sikap untuk maju atau tidak dalam Pilgub Jateng 2018. Rustri menurutnya, tak perlu malu-malu.

“Rustri tidak perlu malu. Kalau tampil iya, kalau tidak, tidak. Sikap dia yang selalu ingin bersih justru akan melemahkan dia,” paparnya.

Ia juga menilai, statemen yang menyebut Rustri masih menjalin komunikasi dengan parpol adalah sinyal bahwa mantan bupati Kebumen itu masih mempunyai hasrat untuk menjadi gubernur.

”Bahasa ia mengaku sudah melakukan komunikasi politik dengan parai itu bahasa halusnya ia ada minat untuk mencalonkan diri,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Pemprov Klaim Pabrik di Pati Bisa Kendalikan Harga Garam

Seorang petani garam sedang mengumpulkan garam dari lahan yang ada di Desa Kedung Malang, Kecamatan Kedung-Jepara. Pemprov Jateng bakal membangun pabrik garam besar di Pati. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang- Pemprov Jateng akan mulai membangun pabrik garam berkapasitas 40 ribu ton di Desa Raci, Kecamatan Batangan, Pati, Oktober 2017 mendatang. Pabrik ini nantinya akan menghasilkan garam dengan kualitas unggul, serta mampu mengendalikan harga garam, sehingga tak merugikan petani.

Kepala Biro Infrastruktur dan Sumberdaya Alam Setda Pemprov Jateng, Peni Rahayu, mengatakan, pabrik garam ini nantinya akan menghasilkan garam kualitas baik untuk kebutuhan konsumsi industri. Setidaknya kadar yodium garam atau Natrium Chlorida (NaCl) mencapai angka 96.

“Saat ini garam rakyat yang ada rata-rata NaCl-nya baru 86. Maka nanti menggunakan teknologi tertentu agar NaCl bisa lebih tinggi,” katanya.

Teknologi yang dibuat BPPT, saat ini masih diperhitungkan biayanya. Karena untuk mengalirkan air laut butuh lahan sangat luas.

Meskipun semakin luas area lahan untuk perlintasan air lautnya, maka kualitas garam makin bersih dan kadar NaCl makin tinggi. “Jadi nanti garamnya benar-benar putih,” ujarnya.

Pada dasarnya, imbuh Peni, adanya pabrik garam ini adalah untuk mengendalikan harga ketika ada panen raya agar harga tidak anjlok karena dipermainkan tengkulak. Nantinya, petani garam menjual produksinya ke pabrik milik pemerintah dengan harga yang ditetapkan.

“Ke depan harapan kita ada penetapan harga garam misalnya harga pembelian pemerintah (HPP) seperti pada beras,” jelasnya.

Baca juga : Pati Akan Dibangun Pabrik Garam Besar, Ganjar Minta Oktober Mulai Digenjot

Sebelumnya Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meminta agar pabrik garam di Pati ini digenjot pembangunannya.

Ia menyebut, studi kelayakan atau feasibility study (FS) dan Detail Engineering Design (DED) rencana pembangunan pabrik garam kapasitas besar di Jateng telah tuntas. Pemprov menargetkan, Oktober tahun ini harus sudah mulai dibangun.

“Saya sudah meminta Oktober tahun ini diground breaking (peletakan batu pertama) agar lebih cepat, kalau itu bisa dilaksanakan maka intervensi Pemprov Jateng akan segera dimulai,” katanya.

Editor : Ali Muntoha