Hendak Ambil Beras, Warga Desa Mangunrejo Grobogan ini Kaget Lihat Suaminya Gantung Diri

Polisi memeriksa korban gantung diri yang dilakukan warga Dusun Mamboyo, Desa Mangunrejo, Kecamatan Pulokulon. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa orang gantung diri terjadi lagi di Grobogan, Jumat (25/8/2017). Seorang warga Dusun Mamboyo, Desa Mangunrejo, Kecamatan Pulokulon ditemukan tewas gantung diri di rumahnya sekitar pukul 09.00 WIB. Pelaku gantung diri diketahui bernama Suwardi, seorang kakek berusia 70 tahun.

Informasi yang didapat menyebutkan, sebelum kejadian, korban masih sempat ngobrol dengan istrinya Saliyem (65) di dalam rumah. Kemudian, sekitar pukul 07.00 WIB, Saliyem pamit mau ngarit atau mencari rumput ke sawah.

Sekitar dua jam kemudian, Suliyem pulang karena sudah dapat sekeranjang rumput buat pakan ternaknya. Setelah menaruh rumput dan cuci tangan, ia bermaksud mengambil beras di dalam kamar lantaran mau memasak nasi buat makan siang.

Saat masuk kamar penyimpanan beras, Suliyem sontak kaget. Sebab, di dalam kamar itu, ia mendapati tubuh Suwardi sudah tergantung di bawah belandar dengan leher terjerat tali.

Melihat kenyataan itu, Saliyem selanjutnya lari keluar rumah sambil berteriak minta pertolongan warga. Mendengar teriakan tersebut, warga langsung berdatangan ke lokasi kejadian.

Saat diperiksa, korban diketahui sudah dalam keadaan meninggal dunia. Selanjutnya, warga melaporkan kejadian itu pada perangkat desa dan diteruskan pada pihak kepolisian.

Kapolsek Pulokulon AKP Juhari menyatakan, setelah menerima laporan, pihaknya langsung melakukan olah tempat kejadian perkara. Setelah dilakukan pemeriksaan dari tim medis Puskesmas Pulokulon dan inafis Polres Grobogan, tidak ditemukan tanda penganiayaan pada tubuh korban.

“Korban murni bunuh diri dan tidak ada bekas kekerasan yang ditemukan pada tubuh korban. Pihak keluarga sudah menerima dan jenazahnya sudah kita serahkan untuk dimakamkan,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Meski Produksi Beras Capai 96 Persen, Pemkab Jepara Tetap Harus Waspada

Meski Produksi Beras Capai 96 Persen, Pemkab Jepara Tetap Harus Waspada

Meski Produksi Beras Capai 96 Persen, Pemkab Jepara Tetap Harus Waspada

 

JEPARA – Target produksi pangan jenis beras tahun 2015 di Kabupaten Jepara sebesar 270.706 ton. Sampai di penghujung bulan Oktober lalu telah mencapai 261.380 ton atau 96 persen dari total target. Meski begitu, Pemkab Jepara harus tetap waspada agar target terpenuhi dan bahkan bisa surplus seperti tahun lalu yaitu sekitar 3.381 ton.

Wakil Bupati Jepara Subroto mengatakan, jika melihat adanya panen raya di beberapa hari ke depan, maka target tersebut diperkirakan dapat terpenuhi bahkan akan surplus kembali. Namun semua pihak terutama Dinas/Instansi terkait diharapkan tetap waspada, mengingat hasil pertanian ini sangat tergantung alam dan iklim.

”Meskipun sudah 96 persen target dicapai, tapi harus tetap waspada, karena sekarang sudah memasuki musim hujan. Resiko gagal panen bisa saja terjadi,” kata Subroto yang juga menjabat sebagai ketua dewan ketahanan pangan Jepara.

Menurutnya, disisi lain perlu dan mendesak adanya berbagai upaya diversifikasi pangan untuk mengantispasi penyusutan lahan yang berimbas pada turunnya produksi bahan pangan, utamanya PAJALE (padi, jagung dan kedelai). Meski saat ini target ketiga komoditas pangan PAJALE, khususnya padi dan jagung meningkat. Namun produksi kedelai tahun 2015 terjadi penurunan. Tercatat produksi jagung pada tahun 2014 hanya 46.057 ton meningkat pada tahun 2015 menjadi 52.163 ton.

Sementara produksi kedelai mengalami penurunan dan harus terus ditingkatkan, yaitu dari 54 ton tahun 2014 menurun menjadi 12 ton pada tahun 2015. Khusus mendukung dalam program diversifikasi pangan, Pemkab Jepara juga mengeluarkan Istruksi Bupati No 2 Tahun 2009 tentang penggunaan makanan lokal dalam pertemuan-pertemuan, pemanfaatan dan pemberdayaan pekarangan rumah dengan Konsep Rumah Pangan Lestari serta program restocking sungai-sungai.

”Harapannya melalui berbagai kegiatan ini dapat mempertahankan ketersediaan pangan lokal dan kelestarian alam untuk kehidupan anak cucu mendatang,” katanya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Jurus Ampuh Supaya Tak Boros Beras

Ilustrasi Beras

Ilustrasi Beras

 

GROBOGAN – Mahalnya harga beras seperti yang terjadi beberapa waktu lalu sebaiknya tidak perlu membuat risau masyarakat. Sebab, pada kenyataannya masih banyak sumber pangan lainnya yang bisa dijadikan alternatif.

“Mulai sekarang, ketergantungan terhadap beras ini harus bisa kurangi. Caranya, dengan sering mengonsumsi bahan pangan nonberas,” kata Kepala Badan Ketahanan Pangan Grobogan Muhammad Hidayat.

Menurut Hidayat, di luar beras masih banyak bahan pangan yang bisa diolah menjadi makanan bergizi dan lezat. Misalnya, dari singkong, jagung, ubi, buah-buahan dan sayuran. Namun sejauh ini, bahan pangan yang mudah sekali ditemukan itu belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.

“Dalam beberapa tahun ini, kami sudah beberapa kali menggelar lomba cipta menu masakan dari bahan nonberas. Dengan diolah dan dikemas sedemikian rupa, hasilnya ternyata cukup mengagumkan,” kata mantan Kabag Perekonomian itu.

Terkait dengan kondisi itu, Hidayat menyatakan, perlu dilakukan upaya sosialisasi kepada masyarakat luas. Utamanya masyarakat pedesaan. Mereka harus kembali diajarkan untuk memanfaatkan bahan pangan yang tersedia melimpah di daerahnya.

”Kalau masyarakat sudah bisa mengolah bahan pangan ini dengan baik maka setidaknya bisa mengurangi ketergantungan akan beras,” imbuhnya. (DANI AGUS/AKROM HAZAMI)