Camat Undaan : Pembukaan Pintu Air Bendung Wilalung Harus Sesuai SOP, Jika Dilanggar Fatal Akibatnya

Camat Undaan Catur Widiyanto memantau debit air di Bendung Wilalung, Kabupaten Kudus, Kamis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus –  Camat Undaan Catur Widiyanto mengatakan, aksi yang dilakuan warga Jati, untuk meminta membuka pintu air Bendung Wilalung, Rabu (15/2/2017), tak bisa dilakukan karena terganjal SOP. Jika itu sampai dilanggar, maka dampaknya bisa sangat fatal mengingat ribuan orang akan terdampak.

Hal itu diungkapkannya saat meninjau Bendung Wilalung, Kamis (16/2/2017). Dikatakan kalau SOP harus dijalankan, yaitu jika debit airnya mencapai 800 meter kubik per detik. Jika belum, maka pintu bendung tak bisa dibuka meskipun warga menginginkan hal tersebut.

“Selama ini sudah ada kesepakatan antarwilayah dalam pembuatan SOP. Dan kesepakatan itu juga dibuat untuk kepentingan bersama dan keamanan bersama pula, jadi tidak bisa demikian,” katanya.

Menurutnya, jika sampai pintu dibuka tak sesuai aturan, ribuan warga bakal ngamuk. Khususnya warga yang terdampak seperti dari Pati. Sebab, pintu air tersebut akan langsung mengarah ke Pati, yang mana sebagian besar saat ini sawahnya akan panen

 

Tidak hanya Pati, namun juga di Undaan. Jika sampai terbuka, dipastikan warga bisa marah karena hanya mengakomodasi sejumlah kalangan saja, sementara warga lainnya bakal menjadi korban. “Saya sudah ketemu dengan mereka. Saya jelaskan tentang dampak jika dibuka, dan mereka bersedia menerimanya setelah dijelaskan lebih lanjut,” ucapnya

Untuk itu, dia meminta pengertian atas apa yang terjadi. Jika banjir yang dirasakan tak kunjung surut, maka bukan karena pintu air Wilalung tak terbuka, namun lebih pada curah hujan tinggi dan kiriman dari wilayah pegunungan Muria. “Air laut juga sedang tinggi, jadi tidak bisa ngurangi airnya yang mengendap. Jadi tunggu dulu sampai air bisa mengalir kembali,” ungkapnya.

Saat ini, debit air Wilalung per pukul 13.00 WIB mencapai 560 meter kubik per detik. Jumlah tersebut dianggap tinggi, dan masuk dalam siaga III. Petugas jaga harus waspada.  Melihat hal itu, dia juga melakukan komunikasi secara aktif dengan pihak bendung. Sebab jika sampai terbuka lagi, maka akan disampaikan kepada warga melalui kepala desa tentang air yang akan dialirkan.

Editor : Akrom Hazami

Korban Banjir Pintu Air Bendung Wilalung Minta Pintu Bendung Wilalung Dibuka

Petugas pengawas Bendung Wilalung Kudus Noor Ali (kaos ungu) saat menjawab pertanyaan warga yang datang, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Petugas pengawas Bendung Wilalung Kudus Noor Ali diminta Rombongan dari perumahan Tanjung Jati Permai, Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, Kudus untuk membuka pintu air.

Hal itu disampaikan puluhan warga perumahan Jati yang mendatangi Bendung Wilalung. Mereka datang ke bendung karena geram daerahnya banjir. Warga menduga jika banjir di daerahnya karena Bendung Wilalung tak maksimal beroperasi.

Ali diminta untuk membuka pintu air. Tapi dia menjelaskan jika itu sesuai dengan SOP. Termasuk di antaranya, pintu bendungan baru bisa dibuka setelah debit airnya mencapai 800 meter kubik per detik. Itupun baru dilakukan setelah kordinasi dengan pimpinan untuk dapat membukanya.

“SOP tersebut dibuat oleh wilayah. Yaitu Demak Kudus dan Pati waktu itu. jadi apa yang sudah disepakati dijalankan. Karena banyak yang sudah tanda tangan dalam SOP tersebut,” kata Ali.

Saat ini debit air hanya mencapai 506 meter kubik pe detik pada pukul 11.00 WIB.  Pintu yang dapat dibuka hanya pintu 8 saja dengan pintu manual. Sedangkan untuk pintu 6 dan 7 yang menggunakan mesin sedang rusak sehingga tak bisa dioperasikan. Hal itu membuat air yang dialirkan berkurang lantaran pintu rusak.

“Saya hanya petugas, jadi yang saya lakukan hanya menjalankan tugas dari atasan. Jika atasan meminta untuk dibuka maka saya akan membukanya. Tapi jika tidak ya tidak,” ujarnya.

Soal banjir yang di Jati, juga kiriman dari hujan di Gunung Muria. Jadi air menjadi meluap dan menggenangi. Sedangkan untuk membuka pintu di Jati harus kordinasi terlebih dulu.

Editor : Akrom Hazami

Bendung Wilalung Kudus Penuh Sampah

Petugas Bendung Wilalung meninjau kondisi sampah  yang menumpuk, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petugas Bendung Wilalung meninjau kondisi sampah  yang menumpuk, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Bendung Wilalung Kudus dipenuhi tumpukan sampah di ujung pintu air. Hal itu berbeda dari biasanya, karena kali ini sampah mengambang di bendung. Hal itu disampaikan penjaga Bendung Wilalung Noor Ali di Kudus, Rabu (8/2/2017).

Menurutnya, sampah saat ini masih menutup akses air meski debit ai telah berkurang. “Biasanya sampah langsung hilang saat air surut. Tapi kali ini masih ada. Jumlah sampah juga cukup banyak,” kata Ali.

Sampah yang ada itu merupakan kiriman dari berbagai tempat. Seperti halnya sampah dapur dan permukiman. Namun di antara sampah itu yang banyak adalah sampah pohon pisang. Menyikapi hal itu, pihaknya sudah mengajukan  surat kepada balai besar terkait hal itu.

Surat tersebut, merupakan laporan kepada atasan untuk mengatasi sampah. Namun sampai sekarang belum ada instruksi tentang pembersihan sampah. “Biasanya ada pekerja yang membersihkan sampah. Modelnya dengan menghanyutkan sampah ke sungai dan terbawa arus. Soalnya kalau diambil sangat sulit dan tak ada kendaraan,” imbuh dia.

Editor : Akrom Hazami

Debit Air Bendung Wilalung Kudus Turun Drastis

 Warga melintas di sekitar Bendung Wilalung, Kabupaten Kudus, Rabu (8/2/2017). ( MuriaNewsCom/Faisol Hadi)


Warga melintas di sekitar Bendung Wilalung, Kabupaten Kudus, Rabu (8/2/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ancaman banjir dari arah selatan, atau dari Bendung Wilalung Kudus,  dipastikan aman. Sebab debit air turun drastis, serta minimnya kiriman air dari arah Sungai Lusi dan Serang.

Petugas jaga Bendung Wilalung Noor Ali mengatakan, saat ini per pukul 06.00 WIB pagi debit air Wilalung di angka 367 meter kubik per detik. Jumlah tersebut turun drastis dibanding sebelumnya mencapai 813 meter per kubik per detik.

“Informasi demikian, sejak semalam tak ada hujan dari aliran dua sungai tersebut. Namun sebaliknya, hujan deras dari arah pegunungan Muria, sehingga banjir terjadi di sejumlah tempat,” katanya saat memantau Bendung Wilalung, Rabu (8/2/2017)

Jika debit mencapai 800 meter kubik per detik maka harus dibuka sesuai dengan SOP. Tapi jika di bawah 800 meter kubik per detik maka harus ditutup. Makanya, untuk sekarang kondisi pintu air Wilalung sudah ditutup. Karena debit rendah.

Pintu bendung dibuka ke arah Kudus-Pati, Selasa (7/2/2017) pagi sekitar pukul 07.30 WIB. Saat itu debit air mencapai 814 meter kubik per detik. Debit air kemudian turun drastis di bawah 800 meter kubik per detik pada pukul 18.30 WIB di hari yang sama.

Pintu air tak dibuka sepenuhnya, yakni hanya10 cm. Hal itu sudah cukup guna membagi air. “Kalau sekarang cukup aman, jika debit rendah seperti ini pemantauan sehari dua kali, yaitu pagi dan petang atau malam. Namun jika tinggi maka tiap jam harus monitor,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Desa Karangturi  Kudus Terendam Air Akibat Bendung Wilalung Dibuka

Petani menerobos jalanan yang digenangi air di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Selasa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petani menerobos jalanan yang digenangi air di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Selasa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Dibukanya pintu air Bendung Wilalung, Undaan ternyata berdampak di sejumlah tempat. Salah satunya di Dukuh Karangturi, Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu. Air menggenangi area jalan dan persawahan desa.

Argo, petugas penyuluh pertanian lapangan (PPL) di Kecamatan Kaliwungu mengatakan, air menggenangi sawah milik warga sejak Selasa (7/2/2017) pukul 05.00 WIB. “Kalau puncaknya pagi tadi, sekitar jam 06.00 WIB. Informasi yang saya terima, air sampai setinggi sekitar 20 centimeter di jalanan menuju kampung. Namun kini sudah mulai surut airnya terlihat air yang mulai meresap di jalanan,” katanya di lokasi.

Dikatakan, penyebab banjir di kawasan tersebut adalah dibukanya pintu air Bendung Wilalung kemarin. Akibatnya, air sampai meluber. Menurutnya, air di dukuh tersebut belum sempat masuki rumah milik warga. Hanya saja, air sudah menggenang di pertanian warga mencapai 32 hektare lahan tanaman padi. Padahal, sebagian tanaman padi sudah menguning dan siap untuk dipanen.

Dikatakan, kemungkinan padi untuk dapat dipanen masih tinggi karena air bening dan rendaman saja. Berbeda jika air yang datang bercampur lumpur maka padi sudah tak dapat diselamatkan lagi. Selain tanaman padi, juga ada tanaman tebu. Dikatakan, sebenarnya kawasan lain di Kaliwungu juga ada yang terdampak banjir, yaitu kawasan Desa Banget. Namun air masih dalam kategori aman Lantaran hanya menggenangi sawah dan di tanggul.

Editor : Akrom Hazami

 

Debit Air Bendung Wilalung Kudus Meningkat, Warga Diinstruksikan Siaga

 Petugas memantau kondisi Bendungan Wilalung, Undan, Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petugas memantau kondisi Bendungan Wilalung, Undan, Kudus, Senin. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Hujan deras yang masih mengguyur Kudus dan sekitarnya dalam beberapa hari terakhir, membuat debit air di Bendungan Wilalung di Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan, meninggi. Petugas meminta warga mewaspadai bertambahnya debit air bendungan.

Petugas jaga Bangunan Pengendali Banjir Wilalung Lama (BPBWL) Noor Ali, mengatakan, status siaga sekarang adalah status paling gawat atau siaga III. Hal itu lantaran kondisi air di waduk sudah mampir memenuhi batas maksimal tampungan air.  “Untuk siaga satu, kadar tamping 400 hingga 500 kubik, siaga II 500 hingga 550 dan untuk siaga tiga atau yang paling waspada adalah di atas 550,” katanya kepada MuriaNewsCom, Senin (14/11/2016).

Menurutnya, kadar tampung Bandung Wilalung kini hanya mencapai 800 meter kubik. Padahal, sebelumya masih menampung hingga 1.100 meter kubik.Kondisi tersebut lantaran beberapa hal, seperti pendangkalan. “Kalau sekarang posisi sudah 700 meter kubik per detik. Jumlah itu diprediksi bakal meningkat lantaran ada kiriman air dari Klambu Grobogan. Jadi, perkiraan siang ini debit air akan meningkat,” ujarnya.

Kiriman air tersebut akan sampai di Wilalung sekitar pukul 13.00 WIB. Kiriman air tersebut nantinya akan membuat aliran mencapai 780 meter kubik. Jumlah tersebut sangat menghawatirkan. Karena mendekati kapasitas maksimal tampungan. Jumlah tersebut merupakan jumlah kapasitas tertinggi bendungan. Karena, sebelumnya kapasitas air tidak mencapai angka tersebut. Hal itu juga yang membuat status siaga III diberlakukan.

Dengan status siaga yang demikian, maka pemantauan dilakukan dan dilaporkan tiap jam. Hal itu guna memantau kondisi air guna mengantisipasi bendungan yang meluber. Dia mengatakan, ancaman air juga masih berpeluang terjadi jika melihat kondisi cuaca saat ini. Jika hujan deras kembali terjadi, maka besar kemungkinan batas maksimal akan terisi. Sehingga pintu air harus dibuka untuk mengalirkan air.

Hanya, untuk mengalirkan air dengan membuka pintu air harus menunggu perintah dari Balai Besar. Kordinasi juga harus dilakukan dengan berbagai daerah sekitar, seperti halnya Pati, yang menjadi sasaran pembuangan air. “Semuanya harus sesuai dengan aturan. Jadi kordinasi harus tetap dilakukan untuk antisipasi pencegahan yang dilakukan,” ungkapnya.

Saat ini, pintu air yang dapat dibuka atau ditutup yakni nomor enam, tujuh dan delapan. Untuk pintu nomor enam dan tujuh  bisa dibuka dengan elektronik. Sedangkan pintu nomor delapan dengan manual atau tenaga manusia, padahal berat pintu mencapai 30 ton.  Pintu air lainnya yang mengarah ke sungai Juwana, yakni 1 – 5 dan 9 sudah ditutup secara permanen. Dua pintu air lainnya, yaitu nomor 10 dan 11 mengarah ke sungai Wulan sudah dipotong pada bagian bawahnya. Tujuannya untuk mengurangi potensi tumpukan sampah di depan pintu air. Kondisi tersebut diperkirakan akan merusak atau paling tidak, mempengaruhi kekuatan bangunan bendung.

Camat Undaan Catur Widiyatno menambahkan, komunikasi dengan pihak terkait dilakukan. Dia berharap tidak ada yang egois terkait limpasan air mengingat dampaknya tidak hanya satu wilayah, namun juga wilayah lain. “Semuanya ada prosedur yang harus dilalui. Jadi tinggal mentaati prosedur yang diberlakukan saja,” jelasnya saat mengunjungi lokasi.

Kunjungan yang dilakukan juga dengan petugas bendungan, beserta Kades di Undaan. Selain itu juga petugas dari TNI yang juga sering memantau perkembangan waduk.

Editor : Akrom Hazami