BPBD Grobogan Siapkan Dana Rp 135 Juta Tangani Kekeringan

Meski sudah masuk musim kemarau namun warga di desa langganan bencana kekeringan masih belum mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. (MuriaNewsCom/Dani Agus)ben

MuriaNewsCom, Grobogan – Memasuki awal musim kemarau, pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan mulai mengantisipasi terjadinya bencana kekeringan. Terutama, persiapan untuk melaksanakan drop air bersih ke desa langganan bencana kekeringan.

Kepala BPBD Grobogan Agus Sulaksono menyatakan, untuk penanganan bencana kekeringan tahun ini sudah dialokasikan anggaran sekitar Rp 135 juta. Dana ini disiapkan untuk melakukan drop air bersih pada masyarakat.

“Saat ini sudah masuk kemarau tetapi belum ada laporan desa yang terkena bencana kekeringan. Meski demikian, upaya penanganan sudah kita siapkan. Kita juga sudah koordinasi dengan PDAM Grobogan untuk persiapan menyalurkan droping air jika sewaktu-waktu dibutuhkan,” jelasnya.

Menurut Agus, dana untuk penanganan kekeringan tiap tahun selalu disiapkan. Namun, khusus tahun 2016 lalu, dana yang disiapkan praktis tidak terpakai.

Soalnya, tahun lalu curah hujan masih sering turun ketika musim kemarau. Kondisi ini menyebabkan masyarakat tidak kesulitan air.

Dijelaskan, dari 280 desa/kelurahan yang ada, hampir separuhnya rawan bencana kekeringan. Sementara dari 19 kecamatan, hanya ada empat kecamatan yang relatif  aman dari bencana kekeringan. Yakni Kecamatan Godong, Gubug, Klambu dan Tegowanu.

Agus menambahkan, pada tahun 2015 jumlah desa yang terkena bencana kekeringan cukup banyak. Jumlahnya mencapai 100 desa yang tersebar di 14 kecamatan.

Editor : Akrom Hazami

 

Angin Ribut Terjang Desa Mantingan Jepara

 

Angin ribut menerjang salah satu rumah warga di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Jepara, Sabtu (6/5/2017).(Pusdalops BPBD Jepara)

MuriaNewsCom, Jepara – Angin ribut menyasar Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Jepara, Sabtu (6/5/2017) siang. Akibatnya, sebuah rumah sekaligus warung milik Isfarotun (45) dan penggergajian kayu, roboh. Bukan hanya itu, tercatat ada empat brak (tempat kerja) mebel, mengalami kerusakan terutama dibagian atap. 

Seorang warga, Sofwan mengatakan, kejadian tersebut berlangsung pada pukul 14.00 WIB. Ia berujar, angin besar menerjang sekitar seperempat jam. “Anginnya besar itu muser-muser. Lalu bagian brak itu ikut terbawa,” ujarnya.

Hal itu juga dibenarkan oleh Mastono. Ia mengaku saat itu dalam kondisi hujan yang deras disertai angin. Ketika kejadian berlangsung, istrinya sedang memasak di dapur. 

“Anginnya besar disertai hujan. Saat itu, istri saya sedang memasak di dapur. Begitu ada angina, ia lantas keluar, namun apinya lupa dimatikan. Baru setelah kejadian rumah roboh api dimatikan.   Beruntung tidak ada korban jiwa,” ujar Tono yang merupakan suami dari Isfarotun.  

Ia menaksir, kerugian yang dideritanya sebesar Rp 30 juta. Saat ini ia belum bisa berbuat banyak atas musibah tersebut, namun ia sangat mengharapkan bantuan dari pemerintah. 

Hingga sore hari, warga terdampak bencana terlihat masih membersihkan puing sisa dari rumah atau brak yang rusak. 

Catatan Pusdalops BPBD Jepara, tidak ada korban jiwa akibat kejadian tersebut. Pihaknya pun telah melakukan assesment awal sebagai langkah pertama untuk pengambilan keputusan selanjutnya.

Berdasarkan catatan Pusdalops BPBD Jepara, beberapa bangunan yang ikut terdampak musibah angin di antaranya, brak mebel milik Suliyah (48) RT 21 RW 7, brak mebel milik Makrum (67) RT 4 RW 1, brak mebel milik Anggun Susanto (33) RT  4 RW 1 dan brak mebel milik Miftakhul Imam (46) RT 29 RW 1. Rerata mengalami kerusakan ringan hingga sedang pada atap. (*)

Editor : Kholistiono

Warga Undaan Kudus Kembali Lanjutkan Kerja Bakti Akibat Kerusakan Rumah

Warga memasang genting di salah satu rumah yang rusak kena angin puting beliung di Undaan, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Warga Kecamatan Undaan Kudus kembali melanjutkan kerja bakti di sejumlah rumah yang rusak karena angin kencang, Selasa (14/3/2017).

Diketahui, bencana angin kencang melanda wilayah setempat, Senin (13/3/2017). Ada tiga desa di Kecamatan Undaan, Kudus, yang dilanda bencana angin puting beliung. Yaitu Desa Glagah Waru, Berugenjang dan juga Kalirejo.

Ada sekitar ratusan unit rumah yang rusak. Dengan tingkat kerusakan mulai sedang sampai berat. Warga telah melakukan kerja bakti sejak kemarin.

Camat Undaan Catur Widiyanto mengatakan, kerja bakti dilakukan oleh masyarakat dan juga dari relawan dan BPBD.

“Masyarakat sudah ada yang kerja bakti lebih dulu dengan fasilitas yang seadanya,” katanya di Kudus.

Pihaknya juga meminta bantuan genting kepada BPPKAD dan BPBD serta personel untuk perbaikan rumah. Selain itu, meminta bantuan logistik.

“Undaan itu kompak membantu. Terutama jika ada desa yang kena bencana, maka wilayah lain yang aman pasti membantu. Itu sudah berjalan cukup lama,” ucapnya.

Editor : Akrom Hazami

NU Berharap Adanya Sinergi Penanggulangan Risiko Bencana 

Pertemuan stakeholders Penanggulangan Risiko Bencana dan Penanggulangan Bencana (PRB-PB) Program Steady LPBI NU. ((ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Sinergi dalam penanggulangan risiko bencana dan penanggulangan bencana sangat penting dilakukan. Dengan begitu, dalam melakukan penanggulangan bencana bisa dilakukan secara efektif dan tepat sasaran.

Hal itu disampaikan Rurit Rudiyanto dari Pengurus Pusat Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (PP LPBI) NU di Ruang Rapat Lantai II Gedung Rektorat Universitas Muria Kudus (UMK), Sabtu (4/3/2017).

”Masing-masing seperti TNI dan Polri, punya Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam penanganan bencana, termasuk LPBI NU juga punya SOP sendiri. Biar tidak jalan sendiri-sendiri, maka harus ada sinergi di lapangan,” ujarnya dalam pertemuan stakeholders Penanggulangan Risiko Bencana dan Penanggulangan Bencana (PRB-PB) Program Steady LPBI NU.

Dia berpandangan, sinergi ini menjadi penting, karena fakta di lapangan, seringkali ada ‘benturan’ antar masing-masing. ”Pentingnya sinergi ini adalah agar tidak ada benturan. Fakta di lapangan, tak jarang saat bencana yang terjadi tidak besar, relawannya banyak. Sebaliknya, ketika bencana yang terjadi besar, relawannya malah sedikit,” paparnya.

Dalam pertemuan yang dibuka oleh Wakil Ketua PCNU Kudus yang juga Wakil Rektor IV UMK, Subarkah itu, Rurit pun berpesan semua pihak membangun kebersamaan dan saling menguatkan. ”Selain itu, perlu ditingkatkan komitmen dan kesadaran dalam menanggulangi bencana,” tuturnya.

Pada kesempatan itu, Rurit juga menyinggung pentingnya untuk membuat Peraturan Daerah (Perda) Penanggulangan Bencana di Kabupaten Kudus, apalagi di kabupaten ini sudah memiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

”Secara nasional, memang sudah ada aturan terkait dengan penanggulangan bencana, hanya saja ini bersifat umum di Indonesia. Perda sendiri dibutuhkan, karena diharapkan aturan tersebut berbasis karakter lokal yang ada,” jelasnya.

Ketua pantia kegiatan, M Khoirul Anam, menyampaikan, tujuan pertemuan ini adalah melakukan komunikasi antar-stakeholders dalam penanganan bencana di Kabupaten Kudus dan mensinergikan kegiatan-kegiatan LPBI NU dalam penanganan bencana.

”Tujuan lain, yaitu membangun komunikasi melalui diskusi-diskusi rutin untuk membahas isu-isu tentang bencana daerah dan menginisiasi pembentukan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) di Kabupaten Kudus,” katanya.

Subarkah menilai, bahwa Kabupaten Kudus sudah waktunya memiliki Perda Penanggulangan Bencana, karena melihat realitasnya, bencana-bencana sering terjadi di kabupaten ini, baik longsor, banjir, dan yang baru terjadi adalah puting beliung di Desa Honggosoco (Jekulo) dan Desa Kandangmas (Dawe) belum lama ini.

”Adanya Perda Penanggulangan Bencana, maka kerja-kerja penanggulangan bencana akan bisa dilakukan secara maksimal dan terkoordinasi dengan baik. Semoga Perda Penanggulangan Bencana di Kabupaten Kudus bisa secepatnya terwujud,” harapnya.

Sementara itu, pertemuan stakeholders PRB-PB LPBI NU Kabupaten Kudus ini dihadiri oleh berbagai pihak, antara lain dari BPBD Kudus, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora), UMK, TNI, Polri, dan beberapa pimpinan dari industri (perusahaan).

Editor : Akrom Hazami

Ratusan Hektare Lahan Pertanian di Pasuruan Kidul Kudus Kebanjiran

Warga berada di salah satu lahan yang terendam banjir di Dukuh Goleng, Desa Pasuruan Kidul, Jati, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga berada di salah satu lahan yang terendam banjir di Dukuh Goleng, Desa Pasuruan Kidul, Jati, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ratusan hektare (Ha) lahan pertanian di Dukuh Goleng, Desa Pasuruan Kidul, Jati, Kudus tak bisa digarap. Hal itu disebabkan dengan adanya banjir yang menggenangi lahan pertanian, Selasa (7/2/2017).

Seperti diungkapkan warga setempat, Shodikin. Diungkapkan kalau luas lahan pertanian yang terendam mencapai sekitar 150 Ha. Beruntung, tak semua lahan sedang ditanami pemiliknya. “Di sini kebanyakan baru penyemaian padi, jadi yang merugi ya yang baru mereka para petani yang sudah menyemaikan padinya,” katanya kepada MuriaNewsCom di lokasi.

Menurutnya yang juga seorang petani, menuturkan, selain tanaman padi, sejumlah petani ada juga yang menanam buah melon. Melihat situasi lahan yang terendam air,  maka besar kemungkinan melon gagal panen.

Warga khawatir jika genangan tak kunjung surut bakal masuk ke permukiman warga. Sebab arus air yang sangat deras. Terlebih, cuaca hujan saat ini masih terus terjadi. Pihaknya berharap penanganan pemerintah. Karena, tanggul yang membendung Sungai Gelis juga sudah penuh. Itu berpotensi melimpas.

Editor : Akrom Hazami

 

Braakk! Angin Kencang Robohkan Pagar Pengaman Sekeliling Alun-alun Purwodadi

Pengguna jalan melintas di dekat pagar pengaman di sekeliling Alun-alun Purwodadi, Grobogan, Rabu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Pengguna jalan melintas di dekat pagar pengaman di sekeliling Alun-alun Purwodadi, Grobogan, Rabu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah pengendara yang melintasi kawasan Alun-alun Purwodadi, Rabu (3/1/2017) siang sempat dibikin kaget. Penyebabnya, ada banyak pagar seng pengaman proyek alun-alun yang mendadak roboh saat mereka sedang melintas. Beberapa kendaraan bahkan sempat terkena pagar seng yang roboh ke arah jalan raya tersebut.

“Tidak apa-apa. Untung tadi hanya kena ujung pagar seng saja. Saya tadi kebetulan mengambil jalur agak di tengah jadi sempat nyenggol dikit. Kalau tadi ambil jalur mepet kanan pasti kena lebih parah,” kata pengendara yang mengaku bernama Citra itu.

Dari pantauan di lokasi, pagar seng yang roboh ada beberapa titik. Yakni, di sebelah timur di depan kantor BRI cabang Purwodadi ada dua titik pagar yang roboh.

Kemudian, sisi selatan di depan kantor Setda Grobogan. Sementara di depan Masjid Baitul Makmur atau dis ebelah barat ada dua titik.

Robohnya pagar pengaman setinggi 2 meter itu disebabkan ada hembusan angin kencang, sekitar pukul 13.30 WIB. Saat angin berhembus, kondisi cuaca sebenarnya cukup cerah. Di atas langit kota Purwodadi saat itu hanya terlihat mendung tipis.

Ambruknya pagar pengaman proyek revitalisasi Alun-alun Purwodadi itu tidak hanya mengagetkan pengendara yang melintas. Sejumlah warga yang sedang makan di warung PKL sekitar alun-alun juga sempat dibikin terkejut. Pasalnya, robohnya pagar itu sempat menimbulkan suara cukup keras.

“Suaranya keras banget tadi. Semula saya kira ada kendaraan yang tabrakan. Ternyata pagar seng ambruk kena angin,” kata Robi, salah seorang warga yang saat itu tengah makan siang di warung PKL di sebelah utara alun-alun. 

Editor : Akrom Hazami

Rumah Gebyok di Mojoluhur Pati Terbakar

Petugas pemadam kebakaran tengah memadamkan api di rumah milik Suwikyo, warga Mojoluhur, Jaken, Pati, Rabu (14/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petugas pemadam kebakaran tengah memadamkan api di rumah milik Suwiknyo, warga Mojoluhur, Jaken, Pati, Rabu (14/12/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sebuah rumah gebyok milik Suwiknyo (55), warga Desa Mojoluhur RT 8 RW 1, Kecamatan Jaken, Pati, terbakar, Rabu (14/12/2016) sekitar pukul 14.00 WIB. Tidak ada korban jiwa dalam tragedi tersebut. Namun, kerugian material akibat kebakaran ditaksir mencapai Rp 350 juta, karena rumah bagian depan dan belakang lengkap dengan isinya ikut terbakar.

Dwi Santoso (17), salah satu saksi mengatakan, asap hitam keluar dari rumah bagian belakang. Dia berlari menuju lokasi untuk mematikan sekring listrik dan mencoba menyelamatkan barang berharga.

Namun, api telah menjalar cepat dan melalap bagian atap rumah hingga terdengar suara ledakan yang berasal dari dalam rumah. “Setengah jam kemudian, ada mobil tangki pengisian air minum melintas. Warga menghentikan mobil dan meminta tolong supaya membantu memadamkan kebakaran,” ujar Dwi.

Diduga, kebakaran terjadi akibat korsleting listrik. Percikan api mengenai bangunan yang terbuat dari kayu itu,  hingga terbakar dan meluas. Selang beberapa lama, tiga unit mobil pemadam kebakaran Pemkab Pati tiba di lokasi.

“Berdasarkan keterangan dari korban, rumah ditinggal dalam kondisi hanya menghidupkan lemari es. Semua peralatan elektronik lainnya tidak dalam keadaan hidup. Berhubung rumah terbuat dari kayu, api menjadi cepat menjalar hingga meludeskan bangunan rumah,” kata Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo saat dikonfirmasi MuriaNewsCom.

Saat terjadi kebakaran, penghuni tidak berada di rumah sehingga tidak ada antisipasi sebelumnya. Pihaknya mengimbau kepada warga untuk berhati-hati dan waspada terhadap instalasi listrik di rumah, terutama rumah kayu yang mudah terbakar. Pasalnya, korsleting menjadi salah satu penyebab kebakaran yang sering terjadi di Pati.

Editor : Akrom Hazami

 

Bencana Ancam Kudus, Ini yang Dilakukan BPBD

Petugas BPBD Kudus mengecek kondisi perahu di kantor BPBD setempat, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petugas BPBD Kudus mengecek kondisi perahu di kantor BPBD setempat, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus menyiagakan diri untuk menghadapi ancaman bencana seiring tingginya intensitas hujan beberapa waktu terakhir ini.

Kepala BPBD Kudus Bergas Catursasi Penanggung mengatakan, pihaknya akan mengerahkan 10 relawan yang siaga 24 jam. Mereka akan siaga bergantian di kantor BPBD setempat.

“Jumlah yang siaga di kantor, biasanya bertambah. Sebab jumlah relawan juga sangat banyak. Namun 10 relawan yang pasti selalu siap, bahkan tengah malam sekalipun,” katanya kepada MuriaNewsCom di kantor BPBD setempat, Rabu (7/12/2016).

Menurutnya, selama ini BPBD memang banyak terbantu dengan adanya relawan yang selalu siap. Bahkan, di antara relawan itu memiliki kemampuan yang unggul dan spesialis. Seperti halnya ahli kapal, ahli mesin dan keahlian lainnya.

Jumlah tenaga ahli dari relawan, sekitar 15 personel dari 30 relawan yang terdaftar. Keberadaan relawan sangat membantu mengingat PNS di BPBD hanya 10 orang,  dan dianggap terbatas tanpa adanya relawan.

Sementara antisipasi bencana yang dilakukan saat ini adalah menyiagakan belasan unit perahu, meliputi perahu karet tujuh buah, perahu lipat satu buah dan perahu lainnya.

“Sekarang ini sudah masuk musim hujan. Dan daerah-daerah rawan bencana terus dipantau. Kami sudah lakukan koordinasi di masing-masing kecamatan dan perangkat desa lainya,” ujarnya.

Selain itu, alat seperti tenda darurat juga telah diperbaiki. Bergas mengatakan, semua perlengkapan terus dicek. Kapal-kapal karet yang rusak, seperti karet sobek atau mesin macet, saat ini dalam proses perbaikan.

Sedangkan logistik, dia mengambil kebijakan tahun ini tidak mengadakan. Namun itu tidak mengurangi kebutuhan lantaran dia meyakini provinsi akan memenuhi kebutuhan jika memang nantinya diharapkan butuhkan. 

Editor : Akrom Hazami

Hati-hati, Air di Jepara Sudah Tewaskan Belasan Orang, Ini Buktinya

Petugas BPBD bersama relawan mencari korban hanyut di sungai, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Petugas BPBD bersama relawan mencari korban hanyut di sungai, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Air yang selama ini dicari untuk memenuhi kebutuhan, ternyata juga ganas. Di Kabupaten Jepara, sejak Januari hingga saat ini, air mampu menewaskan belasan orang. Hal itu sebagaimana data dari Badan Penanggulangan Bencana Daeah (BPBD) Kabupaten Jepara.

Kepala pelaksana BPBD Jepara Lulus Suprayitno mengatakan, sejak awal tahun 2016 hingga saat ini pihaknya telah melakukan operasi dan penanganan terhadap 30 kasus. Hampir kesemua kasus tersebut terjadi di air, baik di lautan maupun air di darat.

”Dari 30 kasus tersebut diketahui ada sekitar 15 orang yang meninggal dunia. Hampir semuanya merupakan kasus di air, baik di laut, di Sungai maupun di saluran irigasi,” ujar Lulus, Rabu (4/5/2016).

Rincian tiap bulan untuk korban jiwa, yakni Januari dua kasus, Februari tujuh kasus, Maret lima kasus, April satu kasus. Kasus-kasus tersebut memang didominasi kecelakaan air. Biasanya, untuk kecelakaan di laut terjadi pada nelayan maupun warga yang mencari ikan, kemudian tenggelam maupun ditemukannya mayat yang ada di laut.

”Kalau di sungai, memang biasanya korban main lalu terpeleset dan terbawa arus hingga meninggal dunia. Sama halnya dengan di saluran irigasi, korban masih berusia balita dan terseret arus hingga meninggal dunia,” ungkapnya.

Data tersebut menunjukkan bahwa tingkat terjadinya bencana di Kabupaten Jepara masih cukup tinggi. Untuk itu, kewaspadaan terhadap terjadinya bencana harus ditingkatkan. Terlebih wilayah Kabupaten Jepara juga banyak yang termasuk wilayah perairan baik laut maupun sungai.

Editor: Supriyadi

Puluhan Nyawa Melayang Akibat Bencana Alam di Jawa Tengah, Ini Buktinya

Kepala Kantor Basarnas SemarangAgus Haryono. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Kepala Kantor Basarnas SemarangAgus Haryono. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Angka bencana alam di Provinsi Jawa Tengah ternyata masih cukup tinggi. Dari 70 kasus bencana alam yang ditangani Basarnas, 40 orang diketahui meninggal dunia.

Hal itu seperti yang disampaikan Kepala Kantor Basarnas Semarang, Agus Haryono. Menurutnya, data dari Kantor Basarnas Semarang sejak Januari hingga April 2016 ini, sudah ada sekitar 70 kasus bencana, korban jiwa mencapai 40 orang.

“Kecelakaan air ternyata paling mendominasi dibanding bencana lainnya. Baik yang terjadi di sungai, laut, maupun waduk,” ujar Agus kepada MuriaNewsCom, saat berkunjung di Jepara, Selasa (3/5/2016).

Menurut dia, sampai hari ini, jajarannya masih melakukan pencarian korban tenggelam di tiga lokasi berbeda. Yaitu, pemancing yang tenggelam di waduk Penjalin Kabupaten Brebes, pemancing di waduk Jatibarang Semarang, dan seorang nelayan di Kabupaten Rembang.

”Di Brebes 6 orang pemancing, 2 sudah ditemukan meninggal, di waduk Jatibarang dan nelayan Lasem masih dilakukan pencarian,” kata Agus.

Kecelakaan air juga sering terjadi di Kabupaten Jepara. Baru-baru ini terjadi kecelakaan di sungai yang ada di Kecamatan Donorojo. Seorang bocah berusia tujuh tahun hanyut dan ditemukan sudah tak bernyawa.

Selain kecelakaan di air, wilayah Jawa Tengah, juga potensi terjadi bencana di darat. Itu seperti angin puting beliung dan tanah longsor.

”Potensi bencana alam di Jawa Tengah komplit. Mulai dari air sampai darat. Jawa Tengah juga memiliki gunung berapi. Itu sebabnya Jawa Tengah termasuk daerah rawan bencana di Indonesia,” katanya.

Editor: Supriyadi

PKS Blora siapkan 150 Relawan Siaga Bencana

Latihan penanugalan bencana dipandu langsung oleh BPBD Kabupaten Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Latihan penanugalan bencana dipandu langsung oleh BPBD Kabupaten Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

 

MuriaNewsCom, BloraWilayah Indonesia dikenal sebagai kawasan rawan bencana karena berada dikawasan cincin api. Bencana dinegeri ini seakan terjadi silih berganti, gempa bumi, longsor, kebakaran hingga banjir kerap meluluhlantakkan daratan indonesia.

Dewan Pengurus Daerah Partai Keadilan Sejahtera (DPD PKS) Blora ambil bagian dengan menyelengarakan latihan tanggap bencana bagi kader dan simpatisan. Pelatihan dilaksanakan di daerah Waduk Greneng, Tunjungan Blora (30 April – 1 Mei 2016).

Ketua DPD PKS Blora Santoso Budi Susetyo mengatakan, kegiatan ini merupakan kegiatan rutin setahun sekali. Dalam kegiatan ini kader PKS Blora mendapat pelatihan dasar dari bagaimana menangani bencana yang terjadi secara tiba-tiba.

”Pelatihan ini meliputi dua hal, pertama ketahanan fisik kader dan kedua keterampilan dalam menangani bencana. Harapannya dengan pelatihan dasar ini kader PKS Blora siap terjun dimana saja ketika terjadi bencana, dan membantu melakukan penanganan,” kata Budi kepada MuriaNewsCom melalui rilisnya, Selasa (3/5/2016).

Semantara itu, hadir dimalam hari menyaksikan pelantikan Relawan Pandu Keadilan Bupati Blora Djoko Nugroho dan memberikan apresiasi kepada PKS Blora atas terselengaranya kegiatan ini.

”Ini adalah kegiatan positif, saya bangga kepada PKS Blora, PKS Blora mampu mengambil peran dalam masalah kebencanaan, mari kita bersama-sama rapatkan barisan menjadi garda terdepan dalam penanggulangan bencana” ucapnya.

Kegiatan ini diikuti oleh 150 kader muda PKS Blora. Peserta mendapatkan materi kebencanaan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kab Blora, lalu olah ketahanan fisik, terakhir peserta menikmati Permainan sederhana dengan penuh kecerian sebagai bagian dari kekompakan tim. Selain itu semua, peserta juga diwajibkan menjaga kekuatan ruhiyahnya dengan menjaga sholat berjamaah 5 waktu, tilawah 1 juz per hari dan sholat malam.

Editor: Supriyadi

 

 

Padi Siap Panen di Blora Ambruk Diterjang Angin Kencang

f-padi, upload jam 16

Petani sedang mengikat padi yang roboh akibat terjangan angin. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Hujan disertai angin kencang yang melanda Kabupaten Blora pada Kamis (31/3/2016) siang, membuat lahan pertanian padi terkena dampaknya. Akibat dari kencangnya hembusan angin, membuat beberapa padi milik petani roboh. Padahal, diperkirakan dua minggu lagi padi tersebut sudah panen.

Para petani kemudian mengikat batang padi dengan disangga bambu. Hal itu dilakukan agar bulir padi tidak membusuk akibat rendaman air di bawahnya. Sebab, jika bulir padi terendam air, akibatnya bulir tersebut membusuk dan petani urung memanen padinya.

“Ya tidak keseluruhan roboh. Untuk antisipasi pada membusuk, saya ikat batangnya, soalnya sudah siap panen,” terang Karminingsih, salah seorang petani warga Desa Kamolan.

Petani lainnya, Radi mengeluhkan dengan kondisi yang terjadi, karena hasil panen akan tidak maksimal lantaran tanaman padi sudah roboh diterjang angin.

“Gara-gara roboh itu, maka bulir padi ada yang berjatuhan di tanah dan kalau dibiarkan roboh dan terendam air akan membusuk dan bersemi,” kata petani Kelurahan Mlangsen tersebut.

Mengetahui kondisi tersebut, Dinas Pertanian Perkebunan Peternakan dan Perikanan Blora, langsung memantau ke lokasi.

“Luas yang roboh sekitar dua hektare, kondisi tanaman sudah siap panen. Jadi tidak ada kerugian dari petani,” kata Kepala UPTD Dintanbunnakikan Kecamatan Blora, Sukaryo.

Editor : Kholistiono

Kisah Syaifuddin, Korban Luka Terhantam Seng saat Puting Beliung Menerjang

Kondisi puing-puing genteng yang berjatuhan akibat disapu angin puting beliung. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kondisi puing-puing genteng yang berjatuhan akibat disapu angin puting beliung. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Sore itu, Jumat (18/3/2016) sekitar pukul 14.30 WIB, tidak ada yang mengira bila angin puting beliung lewat dan menghantam puluhan rumah di Desa Sundoluhur, Kecamatan Kayen, Pati.

Warga setempat beraktivitas seperti biasanya. Ada yang berada di rumah, juga ada yang beraktivitas di luar rumah. Dari informasi yang dihimpun, angin puting beliung datang dari arah selatan atau daerah Wuwur menuju ke utara menuju Desa Sundoluhur dan Karaban. “Durasi angin puting beliung sekitar 2 sampai 3 menit, datang dari arah selatan ke utara, lalu berbalik lagi ke selatan lalu menghilang,” tutur Ketua RAPI Pati Gunawan saat berbincang dengan MuriaNewsCom, Sabtu (19/3/2016).

Saat angin puting beliung berlangsung, seorang warga Desa Sundoluhur bernama Mohammad Syaifuddin (15) sedang menjemur padi di halaman selepan, dekat Balai Desa Sundoluhur. “Tiba-tiba ada seng yang melayang terbawa angin dan mengarah kepada saya. Kejadian begitu cepat sehingga mengenai punggung bagian kanan,” ungkapnya.

Akibat insiden tersebut, Syaifuddin harus dirawat intensif dan mendapatkan 15 jahitan di bagian punggung bagian kanan. Ia masih bersyukur, karena masih diberi selamat. Sebab, angin puting beliung yang berputar-putar sempat memporak-porandakan genting dan bagian atap rumah hingga berjatuhan. Kerugian total akibat bencana itu diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : 2 Desa di Pati Diterjang Angin Ribut, 82 Rumah Rusak Ringan dan 15 Rumah Rusak Berat

Puluhan Polisi, TNI dan Relawan Evakuasi Rumah yang Kena Puting Beliung

Kondisi salah satu rumah warga yang miring hampir roboh pascaditerjang angin puting beliung, Sabtu (19/3/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kondisi salah satu rumah warga yang miring hampir roboh pascaditerjang angin puting beliung, Sabtu (19/3/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Puluhan polisi, TNI dan relawan dari berbagai organisasi dikerahkan untuk melakukan evakuasi terhadap puluhan rumah di Desa Karaban, Kecamatan Gabus dan Desa Sundoluhur, Kecamatan Kayen yang terkena angin puting beliung, Sabtu (19/3/2016).

Di Desa Karaban, polisi yang dipimpin Kapolsek Gabus AKP Sudarsono mengerahkan 20 personel dibantu dengan pasukan satu peleton dari Dalmas. Di Desa Sundoluhur, polisi yang dipimpin Kapolsek Kayen AKP Sutoto menerjunkan 25 personel dibantu satu peleton dalmas dan 35 personel dari staf Polres Pati.

“Jumlah personel yang kita terjunkan di Kayen memang lebih banyak, karena kerugian material yang diderita pemilik rumah lebih besar di Desa Sundoluhur,” ujar Kapolres Pati AKBP R Setijo Nugroho kepada MuriaNewsCom.

Sementara itu, jumlah TNI yang diterjunkan ke lapangan sekitar 50 personel yang terdiri dari prajurit dari Kodim dan Koramil setempat. “Kelima puluhpersonel itu akan membantu melakukan evakuasi puing-puing, termasuk genting yang berjatuhan di dua desa,” kata Dandim 0718/Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma.

Tak hanya itu, puluhan relawan dari organisasi juga ikut membantu. Mereka saling bahu membahu memperbaiki genting yang berjatuhan akibat disapu angin puting beliung.

“Rumah semi permanen yang sudah miring dan parah, kita bantu untuk dirobohkan karena akan berbahaya,” tukas Ketua RAPI Pati Gunawan.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :
Warga Sundoluhur dan Karaban Pati yang Terkena Puting Beliung Diungsikan
Puting Beliung Hajar 38 Rumah di Desa Karaban Pati
2 Desa di Pati Diterjang Angin Ribut, 82 Rumah Rusak Ringan dan 15 Rumah Rusak Berat