Harga Cabai Rawit dan Bawang Merah di Kudus Anjlok

Sejumlah petani di Kabupaten memanen cabai di sawahnya, belum lama ini. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Harga cabai rawit dan bawang putih di Kabupaten Kudus, Jumat (11/8/2017) turun drastis. Turunnya harga dua komoditas tersebut lantaran stok yang melimpah sementara daya beli masyarakat masih sama.

Petugas pengumpul data pada Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus Noor Rokhis mengatakan, anjloknya harga dua komoditas tersebut terlihat jelas di tiga pasar tradisional. Untuk cabai rawit rata-rata turun antara Rp 3 ribu hingga Rp 5 ribu per kilogram.

”Di Pasar Bitingan, harga cabai rawit mengalami penurunan dari Rp 17 ribu menjadi Rp 14 ribu per kilogram. Kemudian di Pasar Kliwon dari Rp 20 ribu menjadi Rp 15 ribu per kilogram. Sedangkan di Pasar Jember harganya dari Rp 18 ribu jadi Rp 15 ribu per kilogram,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Sementara, untuk bumbu dapur jenis bawang, harganya juga mengalami penurunan. Untuk bawang merah yang semula Rp 22 ribu, kini turun menjadi Rp 20 ribu per kilogram. Sedangkan untuk bawang putih, harganya yang pernah melambung hingga Rp 31 ribu  kini hanya Rp 30 ribu per kilogram.

Sedang, untuk komoditas lainnya masih cenderung stabil. Seperti telur ayam negeri yang harganya masih Rp 20 ribu per kilogram, gula pasir Rp 12 ribu per kilogram, dan daging sapi KW 1 seharga Rp 110 ribu per kilogram.

“Harganya berkembang tiap hari, namun perkembangan masih fluktuatif, tergantung stok dagangan,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Petani Bawang Merah Grobogan Dibikin Melek Metode Soil Block

Petani bawang merah dari Desa Kandangrejo, Kecamatan Klambu mendapat pembelajaran cara membuat persemaian biji menggunakan soil block, Kamis (27/7/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Inovasi untuk mempermudah pembuatan benih bawang merah melalui sistem true seed shallot (TSS) atau tanam biji dikenalkan pada petani di Desa Kandangrejo, Kecamatan Klambu, Grobogan, Kamis (27/7/2017). Yakni, melalui metode persemaian biji menggunakan soil block.

Pengenalan metode melalui kegiatan temu lapang ini diberikan tim ahli dari Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah yang dipimpin Profesor Agus Hermawan. Hadir pula dalam kesempatan itu, Sekretaris Dinas Pertanian Grobogan Ahmad Zulfa Kamal dan sejumlah pegawai di bidang hortikultura.

TSS merupakan cara penanaman dengan menggunakan biji bawang merah. Selama ini, penanaman yang lazim dilakukan petani adalah menggunakan umbi bawang merah.

Pada penanaman bawang merah sistem TSS, biji disemai di lahan dan butuh areal cukup luas. Dengan metode soil block, biji bawang merah cukup ditempatkan pada media tertentu yang dipadatkan dan membentuk media padat.

Saat proses pembuatan soil block, di tengah media sudah otomatis terdapat lubang untuk menaruh biji bawang merah yang akan disemai. Melalui metode ini, memungkinkan petani untuk menghasilkan bibit bawang merah dengan perakaran yang bagus dan bisa tumbuh dengan baik ketika nantinya dipindah tanam ke lahan.

Dengan metode ini, petani tidak perlu butuh lahan luas untuk membuat bibit lewat TSS. Tetapi, bisa memanfaatkan lahan kosong atau pekarangan rumah dengan diberi peneduh.

Selain dikenalkan, tim ahli juga mengajari langsung para petani cara membuat soil block. Kemudian, pihak BPTP Jateng juga memberikan peralatan untuk membuat soil block bagi petani. Diharapkan, nantinya petani dari Desa Kandangrejo bisa menjadi penangkar benih TSS lewat metode soil block tersebut.

Profesor Agus Hermawan menyatakan, tujuan temu lapang tersebut di antaranya adalah untuk menyebarluaskan inovasi pengembangan produksi umbi benih bawang merah asal biji (TSS). Yakni, melalui metode tanam benih langsung (tabela) dan pindah tanam dari media soil block pada petani.

“Melalui kegiatan ini juga bertujuan untuk mempercepat alih inovasi pengembangan produksi umbi benih bawang merah asal biji (TSS). Pada tahun 2017 ini, BPTP Jateng bekerjasama dengan Dinas Pertanian Grobogan serta petani kooperatif  membuat demplot percontohan di Kandangrejo,” jelasnya.

Kepala Dinas Pertanian Grobogan Edhie Sudaryanto menambahkan, sejauh ini, penamanan bawang merah dengan TSS sudah cukup familiar dengan petani. Setidaknya, petani di tiga kecamatan sudah berhasil membudidayakan bawang merah dengan TSS. Yakni, Kecamatan Klambu, Tanggungharjo, dan Penawangan

 

Editor : Akrom Hazami