Warga Kecele, Lantaran Expo Batu Akik Ditarik Biaya Masuk

Suasana Expo Batu Akik Nasional yang digelar di Gedung Graha Mustika, Getas Pejaten, Kecamatan Jati Rabu (21/10/2015). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Suasana Expo Batu Akik Nasional yang digelar di Gedung Graha Mustika, Getas Pejaten, Kecamatan Jati Rabu (21/10/2015). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Banyak warga Kudus kecewa, dengan Expo Batu Akik Nasional yang akan memperebutkan piala bupati tersebut. Pasalnya, dalam even tersebut pengunjung ditarik biaya masuk ke area Gedung Graha Mustika Getaspejaten, Kecamatan Jati dimana even diselenggarakan.

Salah satu pengunjung dari Desa Kramat, Kecamatan Kota, Noviana mengatakan, kalau sudah ditarik parkir Rp 2 ribu seharusnya tidak ada biaya tiket masuk pameran. ”Ini saya sudah terlanjur sampai di sini dengan anak-anak, ya mau gimana lagi. Masuk aja lah meski harus bayar,” katanya.

Hal senada juga diiyakan pengunjung lainnya Sunardi, Warga Loram Wetan. Dia menuturkan, pihaknya juga kaget saat akan memasuki pintu masuk gedung.
”Langung ditarik petugas untuk membayar. Ya sudah saya bayar. Begitu juga dengan teman-teman saya yang tidak mengira ada biaya tiket masuk lagi setelah ditarik parkir,” ungkapnya.

Sementara itu, terkait biaya tiket masuk ke area pameran, salah satu panitia Expo Batu Akik Nasional Fendi membenarkannya. ”Iya memang bayar, meski tadi pada saat belum dibuka resmi belum kami tarik biaya masuk. Kami menyiapkan 30 ribu lembar karcis untuk pengunjung. Karcis tersebut pun akan diundi untuk memperoleh hadiah diperuntukkan khusus pengunjung,” jelasnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Warga Kudus Ternyata Sudah Tak Sabar Tunggu Pameran Batu Akik

Warga tampak berada di salah satu stan pameran akik di Kudus, (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Warga tampak berada di salah satu stan pameran akik di Kudus, (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Even pameran batu akik di Kudus menunjukkan geliatnya. Acara yang digelar 21 Oktober sampai dengan 25 oktober 2015 di gedung Graha Mustika Getaspejaten, Kecamatan Jati, nantinya akan diikuti sekitar 60 peserta yang akan menempati stan yang ada.

Salah satu pengunjung dari Jati Kulon, Supeno mengatakan, pihaknya datang lebih awal lantaran ingin melihat lihat terlebih dahulu. “Saya tidak mau ketinggalan even ini,” kata Supeno.

Selain itu, dia juga berkeinginan untuk hadir tepat waktu di saat pembukaan acara ini. Tujuannya agar lebih puas melihat pameran akik. (Edy Sutriyono/AKROM HAZAMI)

Idu Kumis Resah, Peminat Batu Akik Kudus Mulai Menurun

Stan batu akik milik Idu Kumis sedang ramai dikerumuni pengunjung Kudus Expo 2015. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Stan batu akik milik Idu Kumis sedang ramai dikerumuni pengunjung Kudus Expo 2015. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Salah satu stan Kudus Expo 2015 di Alun-alun Kudus yang masih banyak pengunjungnya ialah penjualan batu akik. Namun hal itu tak lantas membuat penjualan akik laris manis. Sebab rata-rata pengunjung stan tersebut hanya bertanya, mencoba memakai dan melihat-lihat.

Penjaga stan batu akik Idu Kumis mengaku, mulai hari pertama Expo ini dibuka, pihaknya hanya mendapatkan penjualan senilai Rp 1 juta saja. Padahal biasanya ia mampu meraup untuk belasan juta setiap even.

Rata-rata batu akik yang dijualnya tersebut berkisar Rp 20 ribu sampai dengan Rp 50 ribu, yang terdiri dari beragam jenis batu dari Nusantara. Yaitu bacan, oncom, nogosui, sleman madu dan lainnya. Namun pengunjung juga belum berminat untuk membelinya.

”Kalau menurut saya, mereka juga tertarik, tapi masih enggan membeli. Mungkin menanti hari terakhir expo ini digelar. Mulai kemarin sampai sekarang sudah ada ratusan pengunjung yang mampir ke stan batu akik saya. Tapi kebanyakan belum berminat membeli,” imbuhnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Gara-gara Akik, Cucu Aniaya Kakek Sampai Terluka Parah

jelang persidangan putusan kasus cucu aniaya kakek gara-gara akik di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

jelang persidangan putusan kasus cucu aniaya kakek gara-gara akik di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Pamor akik ternyata tak selalu membawa keuntungan. Justru di Jepara ini, hanya gara-gara akik, seorang pemuda tega menganiaya kakeknya sendiri hingga terluka parah.

Dia adalah Rifan suudi (24), warga desa Beringin Rt 5, Rw 3, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara. Rifan tega menganiaya kakeknya sendiri bernama Kaskmuni (75).

Penganiayaan tersebut dilakukan pada minggu 14 Juni 2015 lalu, sekitar pukul 16.30 WIB di kediaman korban. Kasus tersebut telah dilaporkan ibu kandung pelaku sendiri ke pihak kepolisian.

Saat ini kasus tersebut sudah melalui beberapa persidangan, dan hari ini dijadwalkan sidang putusan terhadap terdakwa.

Jaksa Penuntut Umum pada kasus ini, Basuki Eko Y mengatakan, pelaku atau terdakwa memang melakukan kekerasan kepada kakeknya sendiri lantaran tak diberi akik oleh kakeknya.

“Kronologinya, korban duduk di rumah, kemudian datang terdakwa. Terdakwa merebut akik milik korban dengan mengancam milih mati atau milih hidup dengan menyerahkan akik. Namun korban menolak kemudian terjadi tarik menarik dan pemukulan dengan tangan kosong dan dengan pecahan genteng hingga korban terluka berat,” kata Basuki.

Sampai saat ini, proses persidangan baru akan dimulai. Terdakwa dituntut sekitar enam bulan penjara dengan pasal kekerasan dalam rumah tangga, yakni pasal 44 ayat 1 UU nomor 23 tahun 2014. Sesuai jadwal, persidangan ini akan dipimpin hakim Kun Triharyanto. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Hati-hati, Ada Penjual Misterius Tawarkan Batu Akik Kebal Santet, Uang Jutaan Rupiah Melayang

Aktivitas jual beli batu akik di kawasan Alun-alun Pati. Popularitas batu akik kini dimanfaatkan oknum yang menipu pembeli. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ilustrasi transaksi batu akik. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sejumlah penjual batu akik misterius yang membawa mobil hitam di kawasan Kecamatan Tambakromo mengejutkan warga. Sekali buka lapak, mereka berhasil menjual batu akik yang katanya bisa menolak teluh, santet, dan maling kepada 35 warga.

Sarto, warga Desa Kedalingan, Kecamatan Tambakromo kepada MuriaNewsCom, Kamis (1/10/2015) mengaku bukan penggila akik. Namun, ia tiba-tiba bisa tertarik dan merogoh kocek hingga Rp 800 ribu.

”Kamis kemarin, ada segerombolan orang, saya kira ada kecelakaan. Ternyata ada orang bertelanjang dada dengan muka dicoret warna putih tengah bersila di tengah-tengah tali tampar plastik. Warga yang menonton diminta menginjak tampar. Setelah itu depan tampar disiram air secara melingkar,” curhat Sarto.

Selanjutnya, kata dia, setiap warga diberikan batu akik dan diminta untuk menggenggam. Salah satu warga dipotong rambutnya menggunakan pisau dan putus.

”Warga diminta membuka tangan dan penjual meneteskan air warna hijau pada batu akik. Setelah itu, salah satu rambut warga dipotong lagi dan tidak mempan. Lantas, warga percaya bahwa batu akik bercampur air warna hijau itu mengandung tuah,” cerocosnya.

Penjual juga mengatakan, batu akik yang ia jual bisa melindungi pemakai dari teluh, sihir, guna-guna, santet maupun maling. Di tengah pengaruh hipnotis, warga mematuhi setiap perkataan penjual.

Tanpa ragu, semua uang yang dibawa warga diserahkan penjual akik. ”Saya sendiri bayar batu akik itu senilai Rp 800 ribu, ada juga yang memberi Rp 1,5 juta. Ada sekitar 35 warga yang tertipu. Orangnya membawa mobil hitam dan kabur entah ke mana,” imbuhnya.

Ia berharap agar warga segera melapor ke pihak kepolisian jika ada peristiwa serupa. ”Saya bingung mau lapor polisi. Pelakunya tidak kenal, identitasnya apa lagi,” tandasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Batu Akik Langka Jepara Dijual, Separuh Hasilnya untuk Anak Yatim

Cincin batu akik buatan Bagong siap bersaing dengan batu akik dari daerah lain. Dia berkomitmen, dari hasil penjualan batu akik tersebut dibagikan ke yatim piatu. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Cincin batu akik buatan Bagong siap bersaing dengan batu akik dari daerah lain. Dia berkomitmen, dari hasil penjualan batu akik tersebut dibagikan ke yatim piatu. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Tak ingin begitu saja mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya dari penjualan batu akik khas Jepara yang ditemukan. Warga Desa Krapyak Kecamatan Tahunan Jepara, Joko Pramono alias Bagong berkomitmen jika hasil dari penjualan batu akik yang berbuat dari batu mulai khas Jepara akan dibagikan dengan anak yatim piatu.

“Saya dan teman-teman saya sudah berniat dan berjanji jika separuh dari uang yang kami dapat dari penjualan batu akik khas Jepara ini akan kami bagi dengan anak yatim piatu,” ujar Bagong kepada MuriaNewsCom, Sabtu (8/8/2015).

Menurut Bagong, pembagian akan dilakukan 50 persen bagi anak yatim piatu, dan sisanya baru dibagi antara dirinya dengan teman-temannya yang ikut menemukan batu mulia khas Jepara.

Sebab, kata Bagong, sebagian dari harta yang diperoleh terdapat hak bagi anak yatim piatu.

“Itu sudah komitmen kami. Misalkan dari penjualan batu mulia seharga Rp1 juta, maka Rp500 ribu kami berikan ke anak yatim, dan sisanya baru saya bagi dengan teman-teman,” ungkapnya.

Lebih lanjut dia mengemukakan, penjualan batu mulia khas Jepara yang dia temukan cukup laris manis. Bahkan, setiap kali dia buat cincin akik, selalu langsung diambil oleh pembeli. Sehingga stok cicin akik yang siap pakai berbahan batu mulia khas Jepara sangat minim di kediamannya.

“Kalau yang masih bongkahan batu masih sangat banyak. Tapi kalau yang sudah jadi cincin sangat sedikit karena selalu langsung dibeli orang,” katanya. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Ini Nama-nama Batu Akik Khas Jepara Temuan Bagong

Beberapa jenis batu mulia khas Jepara yang dijadikan akik oleh Bagong. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Beberapa jenis batu mulia khas Jepara yang dijadikan akik oleh Bagong. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Batu mulia khas Jepara temuan Bagong sangat besar dan bervariatif. Bahkan, Bagong memberi nama sejumlah batu akik yang ditemukannya di kawasan pegunungan Clering Kecamatan Donorojo Jepara. Nama-nama batu akik tersebut, di antaranya Permata Clering, Gedek, Lapis, dan Mata Butho.

Sang penemu, Bagong menjelaskan, dia memberi nama batu yang ditemukan tersebut berdasarkan banyak hal, terutama berdasarkan lokasi penemuan dan motif yang ada di batu tersebut. ”Misalnya jenis Gedek, itu karena lokasi penemuannya di bukit Gedek yang ada di kawasan pegunungan Clering. Kemudian lapis karena motif yang ada di batu berlapis-lapis,” ujar Bagong kepada MuriaNewsCom, Sabtu (8/8/2015).

Menurut Bagong, usai ia beri nama dari masing-masing jenis batu yang dia temukan, dia menjualnya kepada pecinta batu akik, baik dari dalam maupun luar kota Jepara. Harganyapun bervariatif mulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah.

”Tapi ada yang tidak saya jual, karena ada kenangan tersendiri bagi saya. Misalnya batu yang pertama saya temukan sebelum ketemu yang lainnya,” katanya.

Dia menambahkan, meskipun batu temuannya tersebut belum populer di kalangan pecinta batu mulia. Namun sejumlah penggemar batu akik sudah banyak yang berminat. Sebut saja sejumlah pejabat di Kabupaten Jepara, dan para penggemar akik dari luar Jepara yang telah banyak membeli batu akik khas Jepara miliknya.

”Setiap kali saya buat, langsung ada yang beli,” imbuhnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Heboh, Batu Akik Khas Jepara Temuan Bagong Capai 5 Ton

Bagong menunjukkan potongan batu mulia yang ditemukan di pegunungan Clering Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Bagong menunjukkan potongan batu mulia yang ditemukan di pegunungan Clering Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Batu akik khas Jepara yang ditemukan warga Desa Krapyak, Kecamatan Tahunan, Jepara, Bagong beratnya ditaksir mencapai 5 ton. Perkiraan tersebut dikemukakan oleh Bagong kepada MuriaNewsCom, Sabtu (8/8/2015).

Menurut Bagong, batu yang dia temukan di Pegunungan Clering, Kecamatan Donorojo, Jepara, itu memang sangat besar. Pasalnya, untuk membawa pulang saja dia merasa tidak sanggup. Padahal telah dibantu oleh beberapa orang rekannya.

”Besar sekali mas, kalau 5 ton ada. Tapi saya potong dan bawa pulang sebagian saja,” ujar Bagong.

Lebih lanjut dia mengemukakan, posisi batu yang dia temukan seberat 5 ton itu berada di dalam tanah berkedalaman sekitar hampir satu meter. Dia kemudian keruk dan memotong sebagiannya saja untuk dibawa pulang. ”Kalau dibawa pulang langsung tidak bisa mas. Berat sekali,” tandasnya.

Dia menambahkan, setelah batu tersebut dipotong dan dibawa pulang sebagian, kemudian batu yang tersisa di pegunungan kembali di “pendem” dalam tanah. Hal itu dilakukan agar tidak diketahui oleh orang lain.

”Saya berkeyakinan jika Jepara pasti memiliki batu mulia banyak sekali. Sebab, penguasa Jepara era dulu adalah wanita alias ratu yang pasti memiliki kegemaran terhadap batu mulia yang dibuat perhiasan,” ungkapnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Bagong Temukan Batu Akik Khas Jepara

Bagong membersihkan batu akik yang dia temukan dari Pegunungan Clering Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Bagong membersihkan batu akik yang dia temukan dari Pegunungan Clering Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Bagong, warga RT 02, RW 02, Desa Krapyak, Kecamatan Tahunan, Jepara, berhasil menemukan batu mulia alias akik khas Jepara. Dia menemukan batu akik khas Jepara itu bersama temannya di pegunungan Clering, Kecamatan Donorojo.

Menurut Bagong, penemuan tersebut berkat usahanya untuk mencari batu mulia khas Jepara. Dia mengaku gelisah ketika batu akik booming di berbagai daerah namun di Jepara masih sepi.

”Awalnya gelisah kenapa batu yang terkenal hanya di Garut, Pacitan, dan luar Jawa. Saya yakin Jepara punya batu mulia karena Jepara juga ada pegunungan dan lautan,” ujar Bagong kepada MuriaNewsCom, Sabtu (8/8/2015).

Lebih lanjut dia menceritakan, mulai dari kegelisahan tersebut akhirnya dia bersama temannya berinisiatif mencari batu akik ke daerah pegunungan di Jepara. Tepat di malam Jumat Wage jelang bulan puasa lalu dia menemukan batu mulia di kawasan Clering.

”Saya temukan banyak, tapi tidak saya bawa pulang semua. Hanya sebagian saya,” kata Bagong.

Dia menambahkan, berkat penemuannya tersebut, Jepara memiliki batu akik khas yang berbeda dengan batu akik dari daerah lain. (WAHYU KZ/TITIS W)

Tempat Gosok Batu Akik Makin Menjamur

Ilustrasi akik www.slowfooddelmarva.com

GROBOGAN – Demam batu akik tampaknya masih jadi lahan potensial untuk mendapatkan penghasilan. Hal ini bisa dibuktikan dengan makin menjamurnya tempat penggosokan batu akik.

Di kawasan kota Purwodadi saja, hingga saat ini sudah ada belasan tempat penggosokan batu akik. Baik yang ada di emperan rumah maupun toko serta di pinggir trotoar.

Setiap hari, hampir semua tempat penggosokan batu akik itu tidak pernah sepi orang. Bahkan, beberapa tempat ada yang buka hingga dinihari karena banyak pesanan yang harus diselesaikan. Untuk biaya pembuatan akik rata-rata berkisar Rp 15 hingga Rp 25 ribu per biji.

”Saya kadang tidur di emper toko demi menyelesaikan pesanan yang masuk. Setiap hari, saya bisa menyelesaikan sekitar 30 batu akik,” kata Karno, salah satu penggosok batu akik. (DANI AGUS/TITIS W)

Oalah! Lima Pemburu Akik di Grobogan Ini Dikeroyok Warga, Apa Penyebabnya?

Ilustrasi pemukulan

GROBOGAN – Nasib nahas menimpa lima warga Babat, Kebonagung, Demak. Bermaksud mencari batu akik di Desa Termas, Kecamatan Karangrayung, justru disangka kawanan pencuri. Akibatnya, mereka sempat dikeroyok warga di depan balaidesa, Kamis (20/7) malam sekitar pukul 21.00 WIB.

Amukan warga ini menyebabkan dua orang mengalami luka dan dilarikan ke RS Yakkum Purwodadi. Adalah, Bustari yang mengalami luka dibagian kepala dan bisa menjalani rawat jalan. Satu lagi, Sunardi terpaksa harus menjalani rawat inap karena luka yang dideritanya cukup parah. Sementara tiga orang lainnya berhasil diselamatkan polisi sebelum kena amukan warga.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, sejak sore, kelima orang itu sudah tiba di desa tersebut dan menuju ke salah satu sumur tua di pinggiran desa. Di tempat itu mereka melakukan ritual untuk mengambil batu akik merah delima yang dikabarkan ada di dasar sumur.

Setelah selesai melakukan ritual, kelima orang itu bermaksud pulang. Sunardi dan Bustari pulang lebih dulu. Sementara tiga rekannya akan menyusul belakangan.

Dalam perjalanan pulang, Sunardi dan Bustari tiba-tiba dicegah warga setempat dan diajak ke balaidesa. Namun, sesampai di tempat itu mereka justru dipukuli warga, kendati sebelumnya sudah menjelaskan identitas dan tujuannya berada di Desa Termas. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Warga Wedusan Temukan Batu Akik Sebesar Sapi

Lokasi penemuan batu akik. (MuriaNewsCom/KHOLISTIONO)

Lokasi penemuan batu akik. (MuriaNewsCom/KHOLISTIONO)

PATI – Baru-baru ini, warga Desa Wedusan, Kecamatan Dukuhseti menemukan batuan jenis baru yang lokasinya berada di bukit. Batu tersebut, memiliki diameter yang cukup besar, sehingga sulit untuk dipindahkan. Bahkan, batu itu juga memiliki kadar kekerasan yang tinggi. Lanjutkan membaca

Wow..Kawasan Desa Wedusan Banyak Ditemukan Jenis Batu Akik

Inilah beberapa jenis batu akik yang ditemukan di kawasan Desa Wedusan. (MuriaNewsCom/KHOLISTIONO)

Inilah beberapa jenis batu akik yang ditemukan di kawasan Desa Wedusan. (MuriaNewsCom/KHOLISTIONO)

PATI – Batu akik tengah menjadi tren masa kini. Hampir di semua daerah di Indonesia demam batu akik, termasuk di Kabupaten Pati. Tidak kalah dengan daerah lainnya, Pati juga memiliki batuk akik khas, yakni Jolo Sutro yang terdapat di Pati selatan atau di kawasan Pegunungan Kendeng. Lanjutkan membaca

Asyiknya Ngabuburit Bersama Batu Akik di Cepu

Masyarakat Kecamatan Cepu menikmati indahnya batu akik di Jalan Ketapang Cepu sambil nunggu buka puasa. (MuriaNewsCom/Priyo)

Masyarakat Kecamatan Cepu menikmati indahnya batu akik di Jalan Ketapang Cepu sambil nunggu buka puasa. (MuriaNewsCom/Priyo)

BLORA – Memasuki Bulan Ramadan warga Cepu mulai dimanjakan saat ngabuburit. Banyaknya penjual batu akik yang menjajahkan diri di trotoar  seputar Kota Cepu menjadi menu utama sebelum berbuka. Terutama di Jalan Ketapang dan Jalan Raya Cepu.

”Sambil menunggu adzan maghrib melihat-lihat cincin batu akik. Sebab, hal tersebut merupakan hal yang positif. Dari pada bergunjing, kan lebih baik nonton batu akik,” kata Tri Juono, warga Cepu yang sedang menikmati batu akik, Minggu (28/6/2015).

Meski tidak membeli, lanjutnya, namun hal tersebut sudah membuat senang. Lantaran selain bisa melihat-lihat cincin batu mulia tersebut, hal ini juga bisa bersilaturahmi dengan banyak orang sambil menunggu adzan magrib.

”Bisa silahturahmi dan bisa tukar pendapat. Apalagi kalau bicara akik tentu tidak ada habisnya,” terangnya. (PRIYO/SUPRIYADI)

Dari Perhiasan Monel hingga Batu Akik

Dwi Handayani memamerkan koleksi dagangannya. (MURIANEWS/HANA RATRI)

Dwi Handayani memamerkan koleksi dagangannya. (MURIANEWS/HANA RATRI)

KUDUS – Tren batu akik, hingga saat ini masih cukup tinggi. Peluang inilah yang membuat beberapa masyarakat untuk terjun dalam bisnis tersebut. Seperti halnya Dwi Handayani, warga asli Jekulo dan kini bermukim di Jepara. Berawal dari bisnis perhiasan monel sejak delapan tahun silam, saat ini dirinya juga sudah merambah batu akik. Namun, dalam hal ini, dirinya hanya melayani pemesanan pelanggan.  Lanjutkan membaca

Meski Punya Potensi Bahan Tambang, Namun Grobogan Minim Batu Akik

f-tambang (e)

Sampel bahan tambang yang berasal dari Grobogan (MURIANEWS/DANI AGUS)

GROBOGAN – Meski selama ini Grobogan lebih dikenal sebagai salah satu penghasil bahan galian C namun kandungan batu yang bisa diolah jadi bahan akik masih minim. Kalaupun ada yang berhasil menemukan bahan akik Jala Sutra khas pegunungan kendeng, jumlahnya tidak begitu besar. Lanjutkan membaca

Pebisnis Batu Akik Diharap Dukung Ekonomi Kreatif

Sejumlah orang saat memandati di stan akik pada Festival Tosan Aji di GOR Mustika. (MURIA NEWS / PRIYO)

BLORA – Demam batu akik terus menyebar dan merambah ke seluruh penjuru daerah. Tidak terkecuali di Kabupaten Blora. Hal ini terlihat pada Festival Tosan Aji IV beberapa waktu lalu di GOR musika. Mereka sangat antusias untuk melihat  batu akik dari beberapa daerah.

Lanjutkan membaca

Dihargai 1 Unit Mobil, Sudarno Emoh Lepas Batu Giok Bermotif Kuntilanak

Batu Giok bermotif 3D milik perajin batu akik asal Kemadu Sulang, Sudarno. Sebagian kolektor dan pencinta motif batu menyebut pola gambar yang ada di batu ini berbentuk perempuan (Dewi Lanjar dan Dewi Sumbi), kepala harimau dan si kuntilanak alias si

REMBANG – Batu Giok bermotif tiga dimensi (3D) bermotif kuntilanak ternyata menarik minat para kolektor dan pencinta seni motif batu mulai untuk memburunya.

Lanjutkan membaca

Batu Giok Motif Kuntilanak Gegerkan Warga Rembang

Batu Giyok bermotif 3D milik perajin batu akik asal Kemadu Sulang, Sudarno. Sebagian kolektor dan pencinta motif batu menyebut pola gambar yang ada di batu ini berbentuk perempuan (Dewi Lanjar dan Dewi Sumbi), kepala harimau dan si kuntilanak alias si

REMBANG – Usai dihebohkan dengan penemuan Batu Rubi, kini masyarakat Desa Kemadu, Kecamatan Sulang, Rembang kembali dihebohkan dengan Batu Giok bermotif tiga dimensi (3D) bermotif kuntilanak.

Lanjutkan membaca

Efek Batu Akik Masih Mewabah di Blora

Sejumlah pecinta batu akik saat memadati penjual akik, Selasa (12/5/2015). Mereka ramai-ramai datang untuk melihat batu-batu yang dijual. (MURIANEWS/PRIYO

BLORA – Animo masyarakat Blora tentang batu akik ternyata masih tinggi. Hal ini terbukti masih menjamurnya penjual aksesoris batu akik tersebut. Mereka selalu dipadati pecinta batu akik di Kota Sate ini.

Lanjutkan membaca