Setiap Kamis, Pamong di Desa Jambu Jepara Berlurik dan Berbahasa Jawa Dalam Melayani Warga 

Layani warga, pamong Desa Jambu, Kecamatan Mlonggo, Jepara menggunakan baju lurik dan berbahasa Jawa setiap hari Kamis.(MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Setiap hari Kamis, suasana di Kantor Petinggi (Kepala Desa) Jambu, Kecamatan Mlonggo, Jepara, selalu berbeda. Khusus hari tersebut, seluruh pamong (petugas) yang bekerja mengenakan busana lurik dan berbahasa Jawa saat melayani warga. 

Ahmad Zaenudin, Staf Tata Usaha (TU) Desa Jambu mengatakan, hal tersebut mengacu pada Surat Edaran Bupati Jepara No. 430/6807 tertanggal 20 Oktober 2014, tentang Penggunaan Bahasa Jawa di Lingkungan Pemkab Jepara. Selain itu, penggunaan bahasa Jawa juga didasarkan atas Perda Provinsi Jateng No 9/2012 tentang Bahasa dan Aksara Jawa.

Wonten edaran saking gubernur Jawa Tengah dinten kamis pelayanan kapurih migunakaken Basa Jawa (Ada edaran dari Gubernur Jawa Tengah supaya hari Kamis pelayanan diimbau menggunakan bahasa Jawa),” tuturnya, Kamis (27/7/2017). 

Dirinya mengatakan, pengaplikasian peraturan tersebut baru dilakukan pada tanggal 8 Juni 2017. Hal itu menurutnya, karena pihaknya memerlukan banyak persiapan. 

Persiapan menika ngatur kebiasaan saking pamong piyambak. Biasanipun kan melayani ngagem Basa Indonesia, sakmenika kedah ngagem Basa Jawa  (Persiapan berasal dari kebiasaan pamong sendiri, biasanya pelayanan kan memakai bahasa Indonesia, kini harus memakai bahasa Jawa),” tambahnya. 

Dirinya mengucapkan, motivasi penerapan bahasa Jawa di lingkungan Pemdes Jambu adalah untuk turut melestarikan budaya. Zaenudin berkata, kalangan anak muda mulai kehilangan antusiasme berbahasa ibu Jawa. Hal itu menurutnya karena sejak di lingkungan keluarga, generasi mereka tidak dibiasakan menggunakan bahasa Jawa. 

Sementara itu, terkait pakaian lurik, semuanya berasal dari inisiatif Pemdes Jambu. Dikatakannya, busana khas Jawa dibeli dari kantong pribadi petinggi desa itu Muhammad Arif. Adapun selama menerapkan peraturan berbahasa Jawa, dirinya mengalami kendala karena tak serta merta dapat menggunakannya untuk semua warga.

Sampun antawis kalih wulan ngagem Basa Jawa saben dinten Kamis, nanging tasih wonten kendala, terkadang basane taksih campur-campur lan ugi mboten sedaya warga saged basa Jawa. Yen pun mekaten nggih ngagem Basa Indonesia. Menawi nglayani tiyang enem ingkang mboten ngertos krama inggil nggih ngagem ngoko (Sudah dua bulan memakai bahasa Jawa setiap hari Kamis tetapi masih ada kendala. Terkadang bahasanya masih campur-campur dan juga tidak semua warga bisa berbahasa Jawa. Kalau sudah begitu ya terpaksa memakai bahasa Indonesia, tidak bisa dipaksakan. Kalau melayani orang muda yang tak bisa berbahasa Jawa halus, ya memakai bahasa ngoko),” terang Zaenudin. 

Seorang warga Wuryanti (40) mengatakan apresasinya terhadap langkah Pemdes Jambu. Namun ia mengaku kaget mengetahui jajaran pamong yang memakai pakaian lurik dan menggunakan bahasa Jawa.

Ya baru tahu juga tentang peraturan ini, biasanya kan tidak pakai pakaian seperti ini,” ujar warga Jambu Barat itu sambil tersenyum.  

Editor : Kholistiono

Pelatihan Membatik di BLK Kudus Minim Peminat

Sejumlah warga membatik di Kabupaten Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Satu dari sekian banyak progam Balai Latihan Kerja (BLK) Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Kudus 2017 adalah pelatihan membatik. Sayangnya, dalam pelatihan itu tak ditunjang dengan besarnya minat masyarakat.

Sekretaris Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Kudus Sajad mengatakan peminat pelatihan membatik memang kurang sejak sedari awal penyelenggaraan. Akibatnya, kegiatan pelatihan membatik di BLK terpaksa dihentikan sampai peminatnya banyak. m”Kudus memiliki tempat batik yang terbatas karena memang bukan sentra batik. Untuk itulah dalam lahan bekerja juga memiliki batasan. Dampaknya kurang diminati,” katanya.

Peminat batik juga anjlok pada tahun ini. Yang artinya dari dinas tak melaksanakan. Meski demikian, tak menutup kemungkinan tahun berikutnya, pelatihan membatik bisa dilaksanakan jika peminat tinggi. Tak hanya batik, mantan kepala UPT BPL itu  juga menuturkan sejumlah keterampilan lain yang juga sepi peminat. Seperti  menjahit tas, menjahit topi, teknisi HP, dan teknisi komputer. 

Sedangkan jurusan yang paling banyak, lanjutnya, adalah jurusan tata boga, menjahit busana, tata kecantikan kulit, setir mobil, membuat baki lamaran, dan tata kecantikan rambut. “Dengan rata-rata diikuti 200 peserta,” ucapnya.

Editor : Akrom Hazami

Keistimewaan Batik Blora Ini yang Membuatnya Terbang Sampai Luar Negeri

Sutik Sudarwati, ketua kelompok usaha bersama (KUB) Cengkir Gading memperlihatkan batik dengan pewarna alami buatan kelompoknya. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Sutik Sudarwati, ketua kelompok usaha bersama (KUB) Cengkir Gading memperlihatkan batik dengan pewarna alami buatan kelompoknya. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

BLORA – Batik Blora dengan pewarna alami, tembus hingga luar negeri. Hal tersebut tidak lepas dari sponsor Pertamina yang memberdayakan masyarakat Blora, khususnya sekitar area operasi Pertamina.

Sutik Sudarwati, ketua kelompok usaha bersama (KUB) Cengkir Gading yang merupakan kelompok yang memproduksi batik alami mengatakan, batik yang memiliki keunggulan berupa perbedaan warna pada setiap potongnya. Dan juga, ramah lingkungan, karena dari pewarna alami. Dengan kata lain, limbahnya tidak berbahaya dan tidak ada efek samping.

”Batik pewarna alami belum banyak dikembangkan, padahal bahan-bahan batik alami tersedia di Blora. Motif dan corak batiknya dengan pewarna alami terlihat natural berbeda dengan batik lainnya. Itu yang menjadi keunggulan dan khas,” tutur Sutik kepada MuriaNewsCom.

Sementara, Sudharto mewakili Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Sosial Kabupaten Blora mengapresiasi kepedulian Pertamina terhadap masyarakat sekitar operasinya yang diberdayakan, bahkan disponsori hingga ke Singapura dan Malaysia.

Ia juga mengatakan, pengembangan batik dengan pewarna alami ini merupakan terobosan baru. Kualitas produk juga harus diperhatikan, karena menurutnya keunggulan batik menarik dari sisi motif.  Untuk itu, perajin diharapkan untuk tidak patah semangat, paling tidak untuk kelompok Cengkir Gading salah satu pioner untuk mengembagkan batik di Blora.

”Keseriusan ini diharapkan Blora punya ikon batik pewarna alami. Blora menjadi basis batik pewarna alami,” ujar Sudharto.

Yuliantio perwakilan dari pihak PT Pertamina EP Asset 4 Cepu mengungkapkan, batik dengan pewarna alami nantinya tidak hanya dengan kain saja. ”Pengaplikasiannya tidak hanya kain saja, tetapi juga produk jadi yang lain. Dan tentu, perajin harus lebih berinovasi agar bisa mengembangkan motif,” tuturnya dalam penutupan pelatihan membatik dengan warna alam tahap II Kleompok Usaha Bersama Cengkir Gading belum lama ini. (RIFQI GOZALI/TITIS W)

Tak Sengaja Buat Motif Kelapa Kopyor, Batik Warga Dukuhseti Ini Diminati Pasar Kanada

a menunjukkan batik motif kelapa kopyor khas Dukuhseti buatannya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

a menunjukkan batik motif kelapa kopyor khas Dukuhseti buatannya. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Ida Qomariyah, warga Desa Kenanti, Kecamatan Dukuhseti, Pati tak sengaja menciptakan batik dengan motif kelapa kopyor yang menjadi keunikan lokal khas Dukuhseti. Kendati begitu, batik motif khas kelapa kopyor buatan Ida diminati pasar di luar negeri, yakni Kanada, Amerika Utara.

Awalnya, Ida menjadi salah satu penitia dalam kegiatan pelatihan membatik di kampungnya pada 2014. Dalam kegiatan tersebut, minat warga sangat sedikit lantaran disibukkan banyak hal. Akibat minim peserta, Ida yang semula menjadi panitia akhirnya ikut menjadi peserta.

Pada awal 2015, ada lomba membuat motif batik pada telapak meja tingkat Kecamatan Dukuhseti. “Setelah mendapatkan bekal dari pelatihan, saya ikut lomba. Panitia lomba minta motif batik harus diambil dari sesuatu yang khas dari Dukuhseti. Akhirnya, saya iseng memilih motif kelapa kopyor,” tutur Ida kepada MuriaNewsCom, Sabtu (28/11/2015).

Dari lomba tersebut, Ida mencoba untuk memasarkan produk-produk batik motif kelapa kopyor pada teman-temannya. Dari Dukuhseti, peminatnya sampai pada sejumlah daerah di Indonesia.

“Pesanan dari teman-teman di Pati sendiri ada. Pesanan dari luar pulau juga ada. Terakhir, ada saudara yang bekerja di Kanada. Saya tawari, ternyata di sana banyak yang berminat. Mungkin ini rezeki saya agar menggeluti dunia batik,” tukasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

PNS Mulai Bikin Takut Perajin Batik

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo (MuriaNewsCom/Lismanto)

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

REMBANG – Rencana pemerintah memberlakukan peraturan seragam bagi PNS yang tertuang dalam Permendagri Nomor 68 tentang Pakaian Dinas Harian (PDH), menuai kekhawatiran para perajin batik di Lasem Kabupaten Rembang.

“Kami khawatir atas Permendagri tentang seragam PNS itu. Yang jelas itu tidak berpihak pada kami perajin batik. Apalagi Jateng sebagai sentra batik nusantara,” ujar Ketua Koperasi Batik Lasem, Maksum saat berdialog dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Batik Lasem, Kamis (5/11).

Dikutip dari situs resmi Pemprov Jateng, dia menilai, kebijakan pemerintah tersebut akan mengancam perkembangan industri batik serta nasib pengusaha dan buruh batik di Tanah Air, khususnya di Jateng. Di Rembang saja, saat ini tercatat memiliki 90 pengusaha batik dengan jumlah pekerja kurang lebih 700 orang. Belum lagi jumlah pembatik di Pekalongan dan Solo sebagai sentra batik di Jateng.

Gubernur Ganjar menjelaskan, Pemprov Jateng harus menyikapi Permendagri Nomor 68 Tahun 2015 tentang ketentuan pakaian dinas PNS di lingkungan Kementerian Dalam Negeri dan pemerintah daerah. Dalam Permen tersebut seluruh PNS hanya diperkenankan mengenakan batik satu hari dalam sepekan. Sedangkan empat hari lainnya memakai pakaian dinas yang ditentukan pemerintah.

“Saat ini industri batik sudah tumbuh bagus. Sehingga kalau ada peraturan baru soal seragam PNS industrinya menjadi lesu. Saya akan jelaskan kepada Mendagri. Saya akan minta izin kepada Mendagri untuk Jateng agar tetap mengenakan batik lebih dari satu hari,” katanya. (AKROM HAZAMI)

Fashion Batik dan Tenun Jadi Ajang Promosi

Seorang anak tampil dengan gaya batiknya di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Seorang anak tampil dengan gaya batiknya di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Sejak beberapa tahun terakhir ini kalangan pelestari batik dan tenun melaksanakan even fashion batik dan tenun di Kabupaten Jepara. Acara itu diharapkan mampu menjadi ajang promosi bagi batik dan tenun khas Jepara.

Hal ini seperti yang disampaikan Ratna Handayani, pegiat fashion di Kabupaten Jepara. Menurutnya, even fashion batik dan tenun ini dapat meningkatkan citra batik dan tenun khas Jepara.

“Sejak dua tahun terakhir ini, batik dijadikan busana wajib yang harus dikenakan para peserta, sehingga harapannya mampu mendongkrak popularitas batik khas Jepara,” ujar Ratna kepada MuriaNewsCom, Sabtu (24/10/2015).

Menurutnya, antusiasme peserta fashion kali ini juga cukup besar. Ratusan peserta dari usia kecil hingga dewasa memeriahkan acara ini. Harapannya, ke depan acara semacam ini lebih meriah lagi agar batik dan tenun khas Jepara semakin dikenal publik.

Sementara itu, Ketua Lembaga Pelsetari Seni Ukir, Batik, dan Tenun Jepara, Hadi Priyanto, mengatakan, pihaknya berharap besar melalui even yang digelar tiap tahun ini mampu mendongkrak dan mempromosikan potensi yang dimiliki Kabupaten Jepara. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Paguyuban Batik Yogyakarta Ajak Kudus Gali Motif dan Pertahankan Batik Tulis

Paguyuban batik Yogyakarta saat perlihatkan kekhasan batik asli Yogyakarta di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Paguyuban batik Yogyakarta saat perlihatkan kekhasan batik asli Yogyakarta di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Paguyuban pecinta batik Indonesia Sekar Jagad dari Yogyakarta berkunjung ke Kudus Kamis (22/10/2015), kunjungan tersebut sebagai wujud mengajak perajin batik agar bisa bertahan dan meningkatkan kreativitasnya terutama unsur motif.

Pengurus Paguyunan Pecinta Batik Indonesia Sekar Jagad Eni Februaria mengatakan, mengajak perajin batik dibeberapa daerah untuk bisa bergabung dan saling bertukar pikiran. Sehingga, batik tulis tetap bertahan.

”Perajin batik jangan sampai berpikiran untuk beralih ke printing. Karena bisa merusak kreativitas dan hilangnya keunikan dalam pembuatan batik. Yang membuat orang tertarik dan kagum itu dibuat dengan cara manual yakni dicanting, sehingga memiliki nilai mahal,” katanya saat berkunjung ke Kudus.

Dia juga menambahkan, perajin batik tidak sekadar perbanyak motif, tapi harus memiliki filosofi atau cerita di dalamnya. Seperti di Yogyakarta memiliki batik Gagrak yang beragam jenis motif dan semuanya memiliki cerita.

Contohnya, batik motif Celeng Kewengen. Eni menjelaskan, para perempuan zaman dulu menunggu suaminya pulang kerja yang sampai larut malam disambi membuat batik dan tercetuslah motif tersebut.

”Ada batik klasik yang usianya ratusan tahun yang dibuat sendiri kanjeng kasultanan Yogyakarta. Ada motif Sido Mukti yang khusus diperuntukkan bagi pengantin dan batik Truntun yang artinya kisah cinta bersemi kembali dan dipakai untuk malam Midodareni,” jelasnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Lomba Membatik Siap Digelar Dinperindapkop Rembang Awal Oktober Nanti

Sejumlah pekerja tengah membatik salah satu motif khas Batik Tulis Lasem. (MuriaNewsCom/Ahmad Feri)

Sejumlah pekerja tengah membatik salah satu motif khas Batik Tulis Lasem. (MuriaNewsCom/Ahmad Feri)

 

REMBANG – Dalam rangka memperingati hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 Oktober 2015 mendatang, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang melalui Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi (Dinperindagkop) dan UMKM setempat berencana menggelar lomba membatik. Rencananya kegiatan lomba bagi pelajar ini akan digelar di Showroom Batik Tulis Lasem pada Selasa (6/10/2015).

”Pihak panitia sebelumnya juga sudah menyampaikan surat edaran ke sejumlah sekolah-sekolah. Harapannya kita akan lebih mudah dalam menjaring anak didik yang memiliki bakat untuk berkarya lewat karya batik ini,” ujar Arifin, Kepala Bidang Perindustrian pada Dinperindagkop dan UMKM Kabupaten Rembang, Senin (28/9/2015).

Arifin menyebutkan Lomba Membatik bakal dibagi menjadi tiga kategori, yakni jenjang SD, SLTP, SLTA sederajat, dan umum. Menurutnya, lomba kali ini dilakukan secara mandiri atau perseorangan. Arifin menyebutkan tema membatik bagi siswa jenjang SD adalah menggunakan latar belakang Motif Batik Tulis Lasem Latohan, SLTP memakai motif Batik Tulis Lasem Pecahan, dan untuk SMA dan umum temanya adalah Batik Tulis Lasem Motif Sekar Jagad.

”Kegiatan ini kita harapkan mampu meningkatkan kemampuan dan kreativitas siswa dalam menciptakan desain membatik. Sehingga Batik Tulis Lasem tetap eksis dan mampu bersaing di kancah internasional. Dari lomba ini kita juga harapkan tercipta motif baru dari kreativitas peserta,” kata Arifin. (AHMAD FERI/TITIS W)

Perajin Batik Blora Ciptakan Motif Baru

Perajin batik Nimas Barokah sedang melakukan proses cantingannya. Saat ini batik Nimas Barokah tengah membuat motif baru untuk menarik pelanggan. (MURIA NEWS / PRIYO)

BLORA – Untuk terus bisa bersaing dalam pemasaran, penrajin batik di Blora terus melakukan kreasi dan inovasi baru. Salah satunya dengan membuat motif-motif baru yang lebih berwarna dan variatif. Motif tersebut sangat beragam.

Lanjutkan membaca

Batik Lasem Butuh Sentuhan Generasi Muda

Lasem merupakan kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Kota terbesar kedua di Kabupaten Rembang setelah kota Rembang. Lasem dikenal juga sebagai “Tiongkok kecil” karena merupakan kota awal pendaratan orang Tionghoa di tanah Jawa dan terdapat perkampungan Tionghoa yang sangat banyak. Namun yang paling dikenal dari daerah ini adalah kain batik. Batik Lasem sangat terkenal karena cirinya sebagai batik pesisir yang indah dengan pewarnaan yang berani, terutama warna merahnya.
Batik Lasem atau sering disebut Batik Laseman merupakan batik bergaya pesisiran yang kaya motif dan warna. Nuansa multikultur sangat terasa pada lembaran Batik Lasem. Kombinasi motif dan warna Batik Lasem yang terpengaruh desain budaya Tionghoa, Jawa, Lasem, Belanda, Champa, Hindu, Buddha serta Islam tampak berpadu demikian serasi, anggun dan memukau. Warna cerah Batik Lasem khususnya warna merah sangat terkenal di kalangan pecinta batik Indonesia.
Ciri khusus Batik Lasem yang tidak akan temui pada batik manapun adalah warna merahnya yang terkenal, dengan nama warna abang getih pithik atau warna darah ayam. Warna ini terbuat dari akar mengkudu dan akar jiruk ditambah air Lasem yang kandungan mineralnya sangat khas. Warna ini bahkan tidak dapat dibuat di labolatorium.
Selain indah, Batik Lasem juga kuat. Makin dicuci, warnanya makin keluar. Warna merah tersebut telah diakui sebagai warna merah terbaik yang tidak dapat ditiru pembuatannya di daerah sentra batik lainnya. Akibatnya, tidaklah mengherankan jika banyak pengusaha batik di daerah lain (misal: Pekalongan, Surakarta, Yogyakarta, Semarang dan Cirebon) berusaha mendapatkan kain blangko bang-bangan, yaitu kain yang baru diberi pola dasar dan dicelup warna merah pada sebagian motifnya. Selain itu, Batik Lasem klasik pun memiliki warna lain dan motif yang khas.
Motif Batik Lasem secara umum hanya ada dua motif, yakni motif Cina dan non Cina. Batik Lasem Motif Non Cina ini didominasi motif batik Jawa, diantaranya motif Sekar Jagad, Kendoro Kendiri, dan lainnya. Batik Lasem Motif Cina, unsur orientalnya sangat kental dan dominatif, diantaranya motif fauna Cina plus non Cina.

Lanjutkan membaca

Riwayat Batik Bakaran Juwana

Motif batik tulis Bakaran bila dilihat dari segi warna mempunyai mempunyai ciri tersendiri, yaitu warna yang mendominasi batik Bakaran adalah hitam dan coklat. Unsur corak atau motifnya beraliran pada corak motif batik Tengahan dan batik Pesisir. Aliran Tengahan, karena yang memperkenalkan batik tulis pada wilayah Desa Bakaran adalah dari kalangan kerajaan Majapahit. Dan Jenis motif tengahan ini diindikasikan pada corak batik Padas Gempal, Gringsing, Bregat Ireng, Sido Mukti, Sido Rukun, Namtikar, Limanan, Blebak Kopik, Merak Ngigel, Nogo Royo, Gandrung, Rawan,Truntum, Megel Ati, Liris, Blebak Duri, Kawung Tanjung, Kopi Pecah, Manggaran, Kedele Kecer, Puspo Baskora, ungker Cantel, blebak lung, dan beberapa motif tengahan yang lain.
Sedangkan beraliran batik tulis pesisir, karena secara geografis letak wilayah Desa tersebut memang terdapat dipesisir pantai dan aliran pesisir ini diindikasikan pada motif batik tulis, blebak Urang, dan loek Chan. Pada umumnya corak batik Bakaran berbeda dengan corak batik daerah lain, baik dari segi gambar, ornamen maupun warnanya. Pada setiap motif umumnya mempunyai makna yang sangat filosofis.
Dari laman humas.patikab.go.id, keterampilan membatik tulis bakaran di Desa Bakaran tak lepas dari buah didikan Nyi Banoewati, penjaga museum pusaka dan pembuat seragam prajurit pada akhir Kerajaan Majapahit abad ke-14.
Motif batik yang diajarkan Nyi Banoewati adalah motif batik Majapahit, misalnya, sekar jagat, padas gempal, magel ati, dan limaran. Sedangkan motif khusus yang diciptakan Nyi Baneowati sendiri yaitu motif gandrung. Motif itu terinspirasi dari pertemuan dengan Joko Pakuwon, kekasihnya, di Tiras Pandelikan.
     Waktu itu Joko Pakuwon berhasil menemukan Nyi Banoewati. Kedatangan Joko Pakuwon membuat Nyi Banoewati yang sedang membatik melonjak gembira. Sehingga secara tidak sengaja tangan Nyi Banoewati mencoret kain batik dengan canting berisi malam, yang memang saat itu aktifitasnya disibukkan dengan membatik.

Lanjutkan membaca

Peluang Bisnis Batik Lokal Semakin Berkembang

Perjuangan Yuli Astuti dalam mempelajari khasanah budaya batik lokal Kudus selama bertahun-tahun, kini mulai menampakkan hasil perjuangannya. Batik karyanya yang ia beri nama batik Muria, kini semakin berkembang di kota kudus sendiri, bahkan hingga kancah mancanegara.
Berawal dari kepeduliannya terhadap batik khas Kudus yang hampir punah, Yuli astuti mulai mempelajari batik Kudus lebih mendalam. Mulai riset yang dilakukan ke tempat-tempat bersejarah di Kudus, kemudian menuangkan ke media kain dengan pola batik khasnya.
Tak disangka hasil karya membatiknya tersebut, disambut baik oleh masyarakat. Sehingga tak membutuhkan waktu lama, Yuli mulai memiliki banyak pelanggan. Banyaknya pesanan yang datang, membuat Yuli kuwalahan memenuhinya. Hingga akhirnya ia merekrut beberapa karyawan, yang merupakan ibu-ibu rumah tangga disekitar rumahnya. Yang tak jarang pula, banyak ibu-ibu yang belum bisa sama sekali membatik, Yuli pun bersedia mengajarinya terlebih dahulu.
Kini usaha batik Muria milik Yuli Astuti semakin pesat, dilihat dari jumlah pesanan yang selalu datang, baik pelanggan lokal maupun luar Kudus, bahkan luar negeri tak segan-segan memesan bahkan datang langsung ke rumah Yuli yang bertempat di Karangmalang, Gebog Kudus secara langsung. Seperti Adim seorang pengajar, yang jauh-jauh dari Jakarta, untuk membeli batik khas Kudus.

Lanjutkan membaca

Batik Muria Semakin Menggeliat

Batik Kudus mulai ada sejak tahun 1935, dan mengalami perkembangan pesat pada tahun 1970an. Motif dan corak yang dimiliki batik Kudus pun sangat beragam, karena pada masa itu pengrajin batik Kudus sebagian berasal dari keturunan etnis Cina, selebihnya penduduk asli atau pribumi.
Ke khasan batik Kudus terletak pada corak yang lebih condong kepada batik pesisiran, ada sedikit kemiripan dengan batik Pekalongan maupun Lasem. Hal tersebut terjadi disebabkan letak geografis Kudus yang berdekatan dengan kota-kota tersebut. Batik Kudus yang dibuat oleh pengrajin Cina dikenal dengan batik nyonya atau batik saudagaran, yang memiliki ciri khas kehalusan dan kerumitannya deja’ng Dan isen-isennya. Batik tersebut kebanyakan dipakai oleh kalangan menengah ke atas.
Batik Kudus yang dibuat oleh pengrajin asli Kudus atau pribumi, coraknya dipengaruhi oleh budaya sekitar yang bertempat tinggal di sekitar wilayah Sunan Kudus atau dikenal dengan sebutan Kudus Kulon. Motif yang dibuat mempunyai arti ataupun kegunaan, misalnya untuk acara akad nikah ada corak Kudusan seperti busana kelir, burung merak dan adapula motif yang bernafaskan Islam atau motif Islamic Kaligrafi. Motif yang bernafaskan kaligrafi, karena dipengaruhi oleh sejarah walisongo yang berada di Kudus yaitu Sunan Kudus (Syech Dja’far Shodiq) dan Sunan Muria (Raden Umar Said).

Lanjutkan membaca