Dinbudparpora Bakal Gandeng Disdik Rembang untuk Kenalkan Batik Lasem ke Siswa

Beberapa murid SD sedang membatik dalam sebuah kegiatan di Gedung Sanggar Budaya Rembang beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Beberapa murid SD sedang membatik dalam sebuah kegiatan di Gedung Sanggar Budaya Rembang beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Dinbudparpora) bakal menggandeng Dinas Pendidikan (Disdik) Rembang untuk mengenalkan batik Lasem kepada siswa.

Plt Kepala Dinbudparpora Rembang Suyono mengatakan, pengenalan batik Lasem perlu dikenalkan sejak dini kepada siswa, sehingga, produk lokal dan budaya lokal khas Rembang nantinya tidak punah ditelan waktu.

“Kita ingin bersama-sama melestarikan kebudayaan khas Rembang, salah satunya adalah batik Lasem. Untuk itu, kita ingin menggandeng Disdik, dalam upaya melestarikan batik Lasem ini. Karena Disdik sebagai pemangku kebijakan dalam hal pendidikan,” ujarnya.

Upaya pengenalan dan pelestarian batik Lasem tersebut, nantinya, bisa dengan cara membuat ekstra kurikuler di setiap sekolah, yang materinya tentang batik Lasem. Baik itu mulai sejarahnya maupun cara pembuatan batik.

Dengan cara seperti itu, diharapkan, anak-anak dan generasi muda mengenal dan mencintai batik Lasem. Sehingga, nantinya, mau untuk melestarikan batik lokal Rembang ini dan batik Lasem juga bisa semakin dikenal masyarakat.

Editor : Kholistiono

Batik Lasem Ternyata Pernah Masuk 5 Besar Batik yang Ngehits di Nusantara pada Era Pra Kemerdekaan

Sigit Witjaksono pemilik Rumah Batik Sekar Kencana Lasem menunjukan kreasi Batik Lasem dengan motif Cina. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Sigit Witjaksono pemilik Rumah Batik Sekar Kencana Lasem menunjukan kreasi Batik Lasem dengan motif Cina. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Perkembangan batik di Indonesia mengalami pasang surut. Tak terkecuali dengan Batik Lasem, yang juga mengalami hal yang sama, seiring dengan perkembangan zaman.

Siapa sangka, Batik Lasem, ternyata pada era pra kemerdekaan sangat terkenal di Nusantara. Bahkan, ketika itu, Batik Lasem masuk jajaran lima besar, batik yang dikenal di Nusantara. Yakni, Batik Pekalongan, Batik Banyumas, Batik Yogyakarta, Batik Solo dan Batik Lasem.

“Pada zaman penjajahan Belanda, memang Batik Lasem sebagai salah satu dari kelima batik lainnya yang sangat terkenal di Nusantara. Namun, lambat laun, Batik Lasem justru malah tenggelam dibandingkan dengan batik khas lainnya,” ujar Sigit Witjaksono (88), pemilik Rumah Batik Sekar Kencana Lasem.

Semakin pudarnya Batik Lasem tersebut, katanya, tak lepas dari keengganan para pemuda untuk menggunakan Batik Lasem dan ikut melestarikannya. Hal itu juga, karena semakin majunya perkembangan zaman.

Pada tahun 2000 an, dirinya mengaku pernah diundang oleh pemerintah pusat terkait sejarah dan perkembangan Batik Lasem. Ketika itu pula, pemerintah mengizinkan untuk memadukan motif lokal dengan motif Cina.

Ia katakan, pada saat usaha Batik Lasem masih menggeliat, perajin batik lokal atau batik tulis Lasem jumlahnya lebih dari 120 an orang. Namun demikian, lambat laun, jumlahnya hanya tersiasa sekitar 12 orang saja.

“Memang jumlahnya anjlok sangat signifikan. Banyak pengusaha batik yang gulung tikar. Hal ini karena minat masyarakat terhadap Batik Lasem semakin berkurang, ditambah lagi, pengusaha batik ketika itu tak bisa bersatu,” ungkapnya.

Namun demikian, pengusaha batik di Lasem, kini mulai bangkit lagi dan memiliki keoptimisan yang tinggi terhadap perkembangan Batik Lasem. Apalagi, masyarakat juga sudah mulai akrab dengan batik sebagai fashion. Dengan perpaduan corak dan gaya yang menarik, kini usaha batik terus mengalami peningkatan.

“Saat ini pemerintah pusat maupun daerah membuka peluang untuk perkembangan batik. Pemda Rembang sendiri, kini juga sering mengadakan studi banding, mengadakan pameran UMKM dan sejenisnya. Sehingga nama Batik Lasem kembali  terangkat. Terlebih, saat ini Lasem juga sudah mulai dikenal dengan berbagai budayanya,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Kerennya Batik Lasem Dikenakan Model-model Cantik Ini

Peserta Karnival Batik berlenggak-lenggok di atas catwalk di komplek Museum RA Kartini hingga Alun-alun Rembang, Sabtu (15/10/2016). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Peserta Karnival Batik berlenggak-lenggok di atas catwalk di komplek Museum RA Kartini hingga Alun-alun Rembang, Sabtu (15/10/2016). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Dalam rangka memperingati Hari Batik Dinas Koperasi dan UMKM Rembang menggelar fashion batik khas Rembang.Peragaan busana di komplek Museum RA Kartini, pada Sabtu (15/10/2016).

Sedikitnya, 38 model asal Rembang, baik mulai dari tingkat SD hingga dewasa, menggunakan catwalk ruas jalan Museum Kartini hingga Alun-alun Rembang dengan membawakan busana batik khas Lasem dengan segala kreasinya. Ada yang mengenakan desainnya sendiri, ada pula yang membawakan desain hasil rancangan orang lain.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Rembang Muntoha mengatakan, ajang fashion batik di jalanan ini tidak sekedar menarik wisatawan, tetapi juga sebagai pemantik kreativitas pengrajin batik di Kabupaten Rembang. “Kami ingin melibatkan masyarakat secara langsung dalam promosi batik Lasem dan menumbuhkan kecintaan pada batik lokal,” katanya.

Event ini dibuat untuk menunjukkan kalau tempat sederhana juga  bisa menjadi tempat pertunjukkan istimewa. Sebab peraga busana yang turun dalam fashion batik juga diikuti model profesional, serta model dadakan dari kalangan pelajar dan umum.

Selain peragaan busana, dalam kesempatan tersebut, juga digelar lomba membatik dan mendesain batik. Hal ini bertujuan untuk memacu kreativitas generasi mudah untuk mengangkat potensi batik lokal khas Kabupaten Rembang.

Sementara itu, Bupati Rembang Abdul Hafidz mengapresiasi atas kegiatan tersebut. Pemkab, katnaya, akan selalu mendukung kegiatan yang bernuansa seni,terlebih untuk mengangkat potensi lokal.”Saya sangat senang dengam kegiatan ini. Selain itu, mengenai hasil batik atau desain para peserta yang akan direkomendasikan ke saya dan akan dijadikan seragam PNS, tentunya akan kita setujui,” ucapnya.

Editor : Kholistiono

Pemkot Jambi Bakal Kirimkan Perajin Batik untuk Belajar di Rembang

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM Rembang Muntoha (tengah) memberikan plakat ke Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Jambi Komari (kiri) pada acara ramah tamah di showroom Dekranasda Lasem beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM Rembang Muntoha (tengah) memberikan plakat ke Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Jambi Komari (kiri) pada acara ramah tamah di showroom Dekranasda Lasem beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Pemerintah Kota (Pemkot) Jambi bakal menindaklanjuti hasil pertemuan dengan Pemkab Rembang dalam acara studi komparatif di showroom Dekranasda Lasem, pada Rabu (31/08/2016) lalu.

Rencananya, Pemkot Jambi melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) bakal mengirimkan perajin batik Jambi untuk belajar lebih mendalam mengenai Batik Lasem. Sebab, ada kemiripan antara Batik Jambi dengan Batik Lasem.

Kepala Disperindag Kota Jambi Komari mengatakan, pihaknya akan melakukan kerjasama mengenai batik dengan Pemkab Rembang. Dalam waktu dekat, pihaknya akan mengirimkan beberapa perajin dari Jambi untuk belajar mengenai Batik Lasem.“Untuk pastinya kapan, kami belum tahu, karena masih akan kami bahas terlebih dahulu. Namun, kami usahakan tahun ini juga akan dilaksanakan kerjasama ini,” katanya.

Pihaknya juga ingin belajar mengenai proses pembuatan Batik Lasem hingga manajemen pemasarannya. Kemudian, juga terkait cara menyatukan perajin batik yang ada di Rembang. Hal ini, nantinya diharapkan ada yang bisa diterapkan di Kota Jambi.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi dan UMKM Rembang Muntoha mengatakan, pihaknya menyambut baik jika pihak Kota Jambi mau bekerjasama dengan Pemkab Rembang terkait pengembangan batik.

“Jangan khawatir mengenai fasilitas. Sebab setiap pengrajin Batik Lasem ini juga mempunyai hom stay. Jadi tidak usah menginap di hotel. Kerja sama itu, diharapkan dapat memajukan kerajinan batik. Sebab, ini merupakan warisan leluhur,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Batik Jambi dan Batik Lasem Disebut Ada Kemiripan

 Ketua Dekranasda Kota Jambi Yuliana Fasha (dua dari kanan) bersama Hasiroh Hafidz, Ketua Dekranasda Rembang saat acara ramah tamah di Showroom Dekranasda Lasem, Rabu (31/8/2018). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


Ketua Dekranasda Kota Jambi Yuliana Fasha (dua dari kanan) bersama Hasiroh Hafidz, Ketua Dekranasda Rembang (tengah) saat acara ramah tamah di Showroom Dekranasda Lasem, Rabu (31/8/2018). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Dalam kunjungannya ke Kabupaten Rembang, Ketua Dekranasda Kota Jambi Yuliana Fasha mengatakan, jika salah satu tujuannya adalah untuk melihat secara langsung bagaimana proses dan hasil dari kerajinan Batik Lasem.

Menurutnya, antara Batik Lasem dengan Batik Jambi terdapat kemiripan, khususnya coraknya yang memiliki ciri warna merah bata. “Ada sebuah kemiripan batik di tempat kami dan juga Batik Lasem ini. Makanya, kami sengaja melakukan studi komparatif di Rembang,” ujarnya, Rabu (31/08/2016).

Bukan hanya corak saja yang memiliki kemiripan, Yuliana juga menyebut, dalam proses pembuatan batik yang masih menggunakan alat tradisional juga memiliki kesamaan. Sehingga kedatangannya tersebut diharapkan bisa mendapatkan pembanding, dan nantinya bisa diaplikasikan di Jambi.

Dia juga mengatakan, jika untuk saat ini Kota Jambi terdapat sekitar 30 perajin batik yang masih aktif. Bahkan, katanya, untuk Sumatera bagian tengah yang memiliki batik tradisional khas adalah Jambi. “Kalau daerah lain itu adalah ulos dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Dekranasda Kota Jambi Belajar Kerajinan Batik di Rembang

 Ketua Dekranasda Rembang Hasyiroh Hafidz (kiri) memberikan cindera mata kepada Ketua Dekranasda Kota Jambi Yuliana Fasha, pada acara kunjungan kerja di Showroom Dekranasda Lasem, Rabu (31/08/2016). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


Ketua Dekranasda Rembang Hasyiroh Hafidz (kiri) memberikan cindera mata kepada Ketua Dekranasda Kota Jambi Yuliana Fasha, pada acara kunjungan kerja di Showroom Dekranasda Lasem, Rabu (31/08/2016). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Jambi, melakukan kunjungan ke Kabupaten Rembang untuk belajar pengelolaan berbagai potensi kerajinan yang ada di Rembang, khususnya Batik Lasem, Rabu (31/08/2016).

Dalam kesempatan tersebut, Pemkab Rembang mengenalkan berbagai potensi kekayaan alam maupun potensi industri yang dimiliki pemerintah setempat, khususnya Batik Lasem. Sebab, Batik Lasem memiliki ciri khas, dan saat ini pemasarannya sebagaian sudah tembus luar negeri.

Kepala Dinas Perindakop dan UMKM Rembang Muntoha mengatakan, memiliki potensi kekayaan alam dan lainnya. “Di Rembang ada pertanian tebu, tembakau, perikanan, sentra pembuatan garam, wisata laut, pertanian padi hingga industri Batik Lasem,” ujar Muntoha di Showroom Dekranasda di Jalan Untung Suropati Lasem, Rabu (31/8/2016).

Untuk Batik Lasem sendiri, katanya, sampai sekarang ini terdapat sekitar 82 pengusaha yang menggeluti kerajinan batik. Dari jumlah tersebut, katanya, sudah mampu menyerap sebanyak 5.269 karyawan.

Terkait dengan kunjungan Dekranasda Kota Jambi, pihaknya juga menyambut baik jika ada perajin batik dari Jambi untuk belajar atau studi banding mengenai Batik Lasem. Hal tersebut, justru bisa menjadi media untuk mengenalkan Batik Lasem ke khalayak lebih luas.

Sementara itu, di hadapan rombongan Dekranasda Kota Jambi, Ketua Dekranasda Rembang Hasyiroh Hafidz  juga menyampaikan jika Rembang memiliki potensi kerajinan lain. “Seperti halnya kerajinan limbah kayu yang dijadikan pernak pernik, kerajinan tas dari kulit ikan dan lainnya,” paparnya.

Editor : Kholistiono

Wagub Jateng Kesengsem dengan Batik Lasem

Wakil Bupati Jateng Heru Sudjatmoko bersama Bupati Rembang Abdul Hafidz saat meninjau stand batik di halaman Pendapa Kabupaten (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Wakil Bupati Jateng Heru Sudjatmoko bersama Bupati Rembang Abdul Hafidz saat meninjau stand batik di halaman Pendapa Kabupaten (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

 

MuriaNewsCom, Rembang – Wakil Gubernur Jawa Tengah Heru Sudjatmoko menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-54 Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) yang digelar di Kabupaten Rembang. Kegiatan ini dilaksanakan di Pendapa Kabupaten Rembang, Rabu (24/8/2016).

Dalam kesempatan tersebut, Wagub Jateng juga meninjau beberapa stand pameran yang ada di halaman Pendapa Kabupaten. Tampak, Wagub melihat beberapa stand, di antaranya adalah stand Batik Lasem. “Bagus ya batiknya, coraknya bermacam-macam,” ujarnya.

Wagub berharap, Batik Lasem bisa terus dikembangkan oleh pemda setempat, sehingga keberadaan batik tersebut bisa lebih dikenal masyarakat luas. Produk lokal seperti ini harus dilestarikan, sehingga tidak tergerus dengan budaya luar.

Sementara itu, panitia kegiatan HUT PWRI Jawa Tengah Sumargo mengatakan, acara peringatan HUT ke-54 ini dihadiri sekitar 350 anggota PWRI se-Jawa Tengah. “Undangan yang kita sebar sekitar 350, untuk perwakilan di 35 kabupaten yang ada di Jateng,” katanya.

Dirinya mengatakan, secara keseluruhan, anggota PWRI se-Jawa Tengah jumlahnya mencapai 70 ribu lebih. “Untuk di Kabupaten Rembang sendiri, anggotanya itu jumlahnya mencapati lebih dari 2 ribu orang,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

 

 

Percaya Bisa Tangkal Penyakit, Bule Asal Belanda Rela Borong Batik Bekas dari Lasem

Salah seorang perajin batik Lasem sedang menunjukkan batik yang sudah jadi (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Salah seorang perajin batik Lasem sedang menunjukkan batik yang sudah jadi (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

 

MuriaNewsCom, Rembang – Batik Lasem ternyata tak hanya terkenal di Indonesia saja, namun sudah mendunia. Hal ini terlihat dari wisatawan yang sengaja berburu batik asal Lasem. Tak hanya turis lokal, namun juga mancanegara.

Bahkan ada cerita, jika turin dari mancanegara tidak hanya sekadar ingin mengoleksi batik Lasem yang baru diproduksi, namun, ada beberapa bule yang sengaja mengoleksi batik-batik bekas yang pernah dipakai orang tua.

Jamiatun (50) pembuat batik tulis dari Desa Selopuro, Lasem mengaku pernah didatangi bule asal Belanda untuk membeli batik. “Dulu banyak turis yang datang kemari. Saya kira mau beli batik yang baru, nggak tahunya malah cari batik bekas yang pernah dipakai orang tua,” ujarnya.

Katanya, beberapa warga dari mancanegara tersebut memiliki keyakinan, jika batik yang pernah dipakai orang tua memiliki khasiat, yakni bisa menangkal penyakit. Tak hanya itu, batik bekas disebut memiliki nilai seni yang tinggi.

“Kemudian ya saya carikan ke rumah-rumah warga yang punya batik bekas dan mau dijual. Saya keliling kampung untuk mencari batik bekas ini, karena memang bule tersebut butuhnya banyak, lebih dari 50 buah,” ujarnya.

Menurutnya, untuk harga batik  bekas ketika itu, sekitar tahun 1995 sekitar Rp 250 ribu per buahnya. “Kalau untuk sekarang ini ya mungking harganya mencapai Rp 1,5 juta per buahnya,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

 

Begini Cara Bedakan Batik Tulis Lasem Asli atau Bukan

Proses penjemuran batik tulis Lasem. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)(

Proses penjemuran batik tulis Lasem. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Ada cara yang cukup mudah untuk mengetahui dan membedakan batik tulis Lasem dengan produk lain, atau yang palsu.”Untuk mengetahuinya, batik Lasem ini bisa dilihat dari warna dan motifnya. Yakni batik Lasem ini bercirikan mempunyai warna merah darah ayam.

Menurutnya, kalau tidak dari segi warna, batik Lasem juga bisa dilihat dari motifnya. Yakni batiknya banyak bunga-bunga kecil atau biasa disebut dengan sebutan sekar jagad,” kata Fathur Rohim, Perajin Batik Lasem.

Sementara itu, dalam pembuatan batik Tulis Lasem, katanya, dirinya lebih memilih dengan mengunakan cara tradisional atau dengan cara dilukis menggunakan canting. Hal inilah yang membuat batik Lasem cenderung mahal, dibandingkan batik yang diproduksi secara modern.

“Saat ini kita masih menggunakan canting. Dan jangan heran bila saat ini batik Lasem tersebut masih dibilang mahal. Sebab harga batik juga tergantung kerumitan membatik gambar atau polanya,” ungkapnya.

Untuk harga batik Lasem sendiri masih dibilang mahal. Sebab untuk harganya mulai dari Rp 250 ribu hingga Rp 2.5 juta. “Untuk harganya berfariasi. Baik dari Rp 250 ribu hingga Rp 2.5 juta. Dan itu juga tergantung motifnya maupun halus kasarnya. Terlebih letak kerumitannya,”tuturnya.

Untuk membuat batik Lasem, para pekerjanya biasanya membutuhkan waktu sekitar satu pekan, untuk menyelesaikan batik dalam ukuran kain sepanjang 270 cm dan lebar 1,15 cm. Itupun sering diselesaikan dua karyawan.

“Untuk pembuatannya yakni, kain putih polos tersebut diberikan pola terlebih dahulu menggunakan pensil. Setelah itu, pola tesebut dilapisi malam yang sudah dituang di canting. Nah setelah membatik pola, maka batikan itu dikasih isen-isen (titik titik, hiasan red),” bebernya.

Dia melanjutkan, setelah itu, diulangi di bagian belakang kainnya. Supaya batik itu tidak terlihat tembus. Kemudian bisa dilapisi dengan lilin. Supaya proses pewarnaan tidak merusak batiknya. Dan setelah itu bisa diplorot atau pembersihan warna.

Editor : Kholistiono

Kisah Fathur, Perajin Batik Lasem yang Rasakan Moncernya Omzet Penjualan Batik di Era Orba

f-batik 1 (e)

Perajin tengah melukis batik Lasem menggunakan canting (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Dalam dunia fashion, batik saat ini semakin moncer. Apalagi, semenjak batik bisa diakui UNESCO sebagai warisan Indonesia, batik semakin berkembang pesat. Hampir di setiap daerah muncul pengusaha-pengusaha batik khas.

Seperti halnya di Kabupaten Rembang, yang mempunyai batik khas yakni batik tulis Lasem. Meski di tengah gempuran batik-batik modern, batik khas Lasem ini tetap diproduksi dengan cara manual atau tradisional. Inilah yang menjadikan batik ini cukup istimewa.

Batik tulis Lasem ini yang mengantarkan Fathur Rohim (53), menemukan masa kejayaan pada era tahun 1990-an. Pengusaha batik asal Dukuh Tulis, Desa Selopuro, Kecamatan Lasem, Rembang, ini hingga kini masih setiap menerapkan cara tradisional untuk memroduksi batiknya.

Rohim menceritakan, usaha batik ini didirikan tak lepas dari kebiasaannya membantu sang ibu, yakni Maunah, pada tahun 1970-an. Saat itu ibunya sudah merintis usaha batik sejak zaman penjajahan Jepang.

Saat masih berusia 10 tahun, ia sering membantu keluarganya mengirimkan batik ke penjual di wilayah Rembang, Jatirogo, hingga Tuban. Selain itu, dirinya juga tak jarang membantu ikut menjemur hasil batik tersebut.

Hingga akhirnya, ia tergerak untuk membuka usaha sendiri pada tahun 1980-an. “Saya bisa membuka usaha batik juga lantaran tahu dan sering membantu dalam pembuatan batik ini. Sehingga saya memberanikan diri untuk membuka usaha ini,” ujarnya.

Dari sembilan bersaudara, hanya ia dan kakanya yang nomor empat yang meneruskan usaha batik ibunya. Mereka berdua ini yang sejak kecil ikut membantu usaha ibunya itu. Sementara saudaranya yang lain memilih usaha atau pekerjaan lain.

Saat ini tempat usahanya itu bisa mempekerjakan 50 karyawan. Namun diakuinya, saat ini penjualan batik tak semoncer tahun 1990-an lalu, sebelum adanya krisis moneter.

“Meskipun omzetnya agak berkurang, yang penting usaha ini harus tetap bisa bertahan. Sebab saat ini pengusaha batik Lasem tinggal sedikit dibanding dengan tahun-tahun lalu,” ungkapnya.

Dia melanjutkan, pada tahun 1990-an, batik Lasem cukup laris. Baik itu dibeli oleh warga negara asing maupun lokal.  Dahulu ia bisa mengantongi untung mencapai Rp 15 juta per hari. Dan setelah krisis datang, penjualan bati terus merosot.

Editor : Kholistiono