Batik Kudus, Harta Karun Kota Kretek yang Belum Digali Maksimal

Supriyadi terassupriyadi@gmail.com

Supriyadi
terassupriyadi@gmail.com

PERHELATAN akbar Indonesia Fashion Week (IFW) di Jakarta Convention Centre, Minggu (5/2/2017) akhir pekan lalu, menjadi saksi kehebatan batik Kudus di mata dunia. Selebritis sekaligus desainer kondang Ivan Gunawan berhasil membuat ribuan pasang mata terpana dengan harta karun terpendam di Kabupaten Kudus itu.

Dengan menggandeng desainer terkemuka Tanah Air, Rudy Candra, Ariry Arka, dan Defrico Audy, desainer yang akrab disapa Igun itu juga berhasil menunjukkan menawannya batik Kudus. Bahkan ia juga berhasil menunjukkan kalau batik dan bordir bisa disatukan dan menjadi pakaian mewah tanpa menghilangkan unsur kearifan lokalnya.

Hebatnya lagi, di perhelatan akbar yang menjadi tren berbusana di Tanah Air dan mendapat perhatian dunia itu, batik Kudus tak hanya tampil sekali. Masing-masing desainer seakan berlomba-lomba dengan menampilkan minimal 16 rancanangan busana apik sesuai dengan ide kreatifnya masing-masing.

Akibatnya, animo masyarakat yang menyaksikan IFW tersebut juga sangat tinggi. Terbukti, arena sudah dibanjiri pengunjung sejak sore. Padahal, peragaan busan baru dimulai pukul 19.30 WIB.

Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus Sudiharti yang datang ke lokasi dibuat kagum dengan antusias penonton tersebut. Apalagi, saat acara dimulai, busana yang dirancang dengan bahan batik Kudus itu terlihat menawan, elegan, mewah, dan terlihat sangat modern.

Hal itu memang tak lepas dari sentuhan tangan-tangan kreatif para desainer terkemuka tersebut. Nama besar Ivan Gunawan di kancah Tanah Air menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi penonton.

Hanya saja, ide kreatif untuk memadukan bordir dan batik Kudus yang memiliki motif unik menjadi sebuah busana apik harus diacungi jempol. Terlebih, Igun sendiri sudah kepincut saat kali pertama melihat bordir dan batik Kudus yang memiliki motif yang unik dibandingkan dengan batik dan bordir di kota lain.

Dari situ, Igun pun menguras otaknya untuk membuat design baju yang lebih modern. Ia pun seakan-akan tak mau terjebak dengan design baju konvensional yang hanya terbentur pada kemeja batik pria dan kebayak batik putri. Hingga akhirnya ia menemukan formulasi design baju kekinian dalam waktu dua pekan.

Keberanian berinovasi ini lah yang seharusnya dicontoh dan dimiliki desainer lokal, khususnya yang berasal dari Kudus. Dengan keberanian tersebut, bordir dan batik Kudus bisa berkembang dan tidak menjadi harta karun yang tertimbun jauh di dasar laut.

Tanpa inovasi, bordir dan batik Kudus sudah pasti akan kalah dengan batik-batik luar kota yang sudah mengemuka. Sepertihalnya batik Pekalongan ataupun batik Lasem yang sudah menguasai pasar sejak puluhan tahun lalu. Padahal, batik Kudus memiliki potensi untuk berkembang dan dikenal secara nasional.

Ivan Gunawan pun Tak Mau Potensi Batik Kudus Mandek di Daerah

Ivan Gunawan (Igun) yang menjadi nahkoda design di IFW bahkan tak mau potensi batik Kudus mandek di daerah. Ia bahkan mengaku tak rela jika potensi itu hanya berada di daerah tanpa diketahui khalayak umum.

”Potensi daerah harus dikembangkan. Jangan hanya menjadi kekayaan daerah dan terhenti di sana. Karena itu, harus dibawa ke tingkat nasional,” kata Igun saat jumpa pers IFW.

Bagi Igun, hal yang pertama kali dibenahi memang mental dan keberanian berinovasi. Hal itu bahkan terlihat jelas dengan kesanggupannya menularkan ilmu yang dimiliki sebagai salah satu guru ekstrakurikuler untuk SMK di Kabupaten Kudus.

Di sisi lain, kesanggupan Igun tersebut praktis menjadi peluang emas bagi Kabupaten Kudus. Apalagi, diakui atau tidak, fashion sangat cepat untuk mengenalkan kekayaan daerah seperti batik dan bodir lebih dikenal di lingkup nasional.

Sementara itu, Kudus sendiri memiliki tempat produksi bordir dan batik secara menyentral di beberapa desa. Setiap hari produksinya bisa mencapai ribuan. Meski sudah merabah ke pasar tradisonal di beberapa Kabupaten/Kota di Indonesia, produksi tersebut sifatnya personal dan keuntungan perbiji baju minim.

Lain halnya jika Kudus memiliki butik dengan binaan desainer terkemuka. Dilihat dari nilai jualnya, sudah pasti berbeda. Keuntungan satu baju juga berlipat ganda dibandingkan dengan suplay ke pasar.

Secara kelas, batik Kudus dalam hal ini sudah jadi barang jadi juga akan naik kelas dan berkesempatan dikenal secara nasional. Baik dalam bentuk kain ataupun dalam bentuk barang jadi.

Hanya saja, hal tersebut juga tak bisa dikerjakan sendirian. Baik pengrajin batik, pemerintah, dan para desainer harus satu visi dan satu misi. Meski tak bisa mensuport dana paling tidak mereka harus saling melengkapi. Mulai dari perizinan, hak paten, hingga pemberian informasi pameran dan peragaan busana.

Jika hal itu bisa dilakukan, bukan tidak mungkin batik Kudus bakal dikenal secara luas mulai dari lokal hingga manca negara. (*)

Batik Kudus Melaju Mantap di Panggung Catwalk Jogja Fashion Week

Model-model yang memeragakan baju muslim batik Kudus karya Yuli Astuti, pada ajang Jogja Fashion Week (JFW), di Jogja Expo Center, pada Sabtu (27/8/2016) malam kemarin. (MuriaNewsCom/Merie)

Model-model yang memeragakan baju muslim batik Kudus karya Yuli Astuti, pada ajang Jogja Fashion Week (JFW), di Jogja Expo Center, pada Sabtu (27/8/2016) malam kemarin. (MuriaNewsCom/Merie)

MuriaNewsCom, Kudus – Keberadaan batik Kudus tampaknya akan semakin dikenal banyak kalangan. Ini seiring dengan ruang gerak batik ini yang semakin meluas ke catwalk Jogja Fashion Week (JFW) The Heritage.

Ya, sejumlah gaun dari batik rancangan Yuli Astuti, pemilik Muria Batik Kudus, menjadi salah satu yang ditampilkan di even JFC, yang digelar di Jogja Expo Center (JEC), pada Sabtu (27/8/2016) malam.

Yuli sendiri merupakan satu di antara sekian perancang busana atau desainer, yang menampilkan karyanya di JFW. Karena tema utamanya adalah batik, maka gaun-gaun yang dirancang Yuli, memang diaplikasikan dengan kain-kain batik yang cantik.

”Saya mengangkat tema The Soul of Batik Kudus. Biar semua bisa melihat bahwa batik Kudus itu bisa masuk ke dalam berbagai jenis rancangan pakaian. Dan ternyata memang bisa,” jelas Yuli, kepada MuriaNewsCom, Senin (29/8/2016).

Ada kurang lebih 10 baju batik yang didesain Yuli dan dipentaskan malam itu. Mengambil tema busana muslim, masing-masing kain motif batik Kudus itu berpadu indah di atas panggung catwalk JFW. Kombinasi dengan motif-motif batik Kudus yang unik, memang membuat baju-baju Yuli menjadi berbeda.

Menurut Yuli, dengan tema JFW tahun ini yang mengangkat 1.001 batik, membuat pihaknya leluasa untuk bisa berkreasi dengan beragam motif batik yang dimilikinya. Sehingga menghasilkan karya yang indah dan mampu memikat pengunjung catwalk JFW malam itu.

”Busana muslim memang sedang sangat tren belakangan ini. Saya lantas berpikir bahwa harusnya busana muslim yang ada, bisa dipadukan dengan motif-motif batik yang saya miliki. Dan ternyata bisa. Itu yang membuat saya senang sekali,” tuturnya.

Apresiasi penonton yang bagus, menjadikan baju rancangan Yuli mendapat perhatian tersendiri. Rata-rata tertarik dengan baju muslim yang dikombinasikan dengan batik Kudus itu.

”Saya malah senang sekali melihat banyak yang tertarik dengan batik Kudus. Karena memang tujuan saya memperkenalkan batik Kudus ke seluruh khalayak dengan mengikuti ajang JFW ini. Semoga batik Kudus makin dikenal banyak orang di mana-mana,” imbuhnya.

Editor: Merie

 

Mantap, Batik Kudus Dipajang Megah di Jerman

Buku Batik Kudus The Heritage tampak diperlihatkan di Pendapa Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Merie)

Buku Batik Kudus The Heritage tampak diperlihatkan di Pendapa Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Merie)

 

KUDUS – Pembina batik Kudus, Miranti Serad Ginanjar, bertandang ke Pendapa Kabupaten Kudus, Selasa (3/11/2015) sore. Dalam kesempatan itu, dia bertemu Bupati Musthofa.

Diceritakan, ia begitu tertarik mempelajari dan menekuni seputar dunia batik Kudus, usai bertemu dengan seorang perajin batik khas Kudus, Yuli Astuti (owner Muria Batik), pada 2008.

Selain itu, ia juga begitu terpana oleh keindahan karya pembatik Kudus era 1930-an, Liem Boe In, yang dipajang di museum Rudolf Siemens, di Cologne, Jerman.

“Ternyata batik Kudus pada masa lalu cukup fenomenal, banyak diburu kolektor dunia. Dari situ, saya kemudian bertekad mengumpulkan dan mendokumentasikan berbagai corak dan motif batik Kudus, untuk dibukukan, beserta sejarahnya. Awalnya, muncul kesulitan lantaran tak semua kolektor mau meminjamkan koleksinya,” terang dia.

Bupati Kudus, Muthofa, mengatakan di wilayahnya punya potensi motif dan corak batik yang luar biasanya banyak, dibandingkan daerah lain. Menurut dia, selama ini potensi batik itu belum digarap secara maksimal.

“Ke depan, dengan munculnya para desainer bertangan terampil, tentu akan lebih mengangkat nama dan gengsi batik Kudus. Contoh, lihat saja tadi batik yang dipakai mbak Miranti, semua orang, baik tua-muda, pasti tertarik,” kata dia. (MERIE/AKROM HAZAMI)

Keren, Pesona Batik Kudus Bisa Diintip dari Lembaran Buku

Buku Batik Kudus The Heritage tampak diperlihatkan di Pendapa Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Merie)

Buku Batik Kudus The Heritage tampak diperlihatkan di Pendapa Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Merie)

 

KUDUS – Kini pesona batik Kudus bisa diintip dari lembaran buku. Ya, kini batik Kudus telah dibukukan. Hal ini tampak saat pembina batik Kudus, Miranti Serad Ginanjar, bertandang ke Pendapa Kabupaten Kudus, Selasa (3/11/2015) sore.

Miranti adalah penulis buku berjudul Batik Kudus The Heritage. Dia datang dengan balutan kebaya warna putih dan bawahan batik warna gelap.

Selain berbincang seputar sejarah dan perkembangan batik, dengan Bupati Kudus Musthofa, dalam kesempatan itu Miranti juga menyerahkan buku karyanya.

“Buku ini harus menjadi kebanggaan masyarakat Kudus. Di dalamnya terangkum sejarah besar dan perkembangan batik Kudus,” ujar Miranti. (MERIE/AKROM HAZAMI)

Batik Kudus Sudah Sangat Terkenal dan Jadi Potensi Andalan Wisata Lokal

Paguyuban batik Yogyakarta saat perlihatkan kekhasan batik asli Yogyakarta di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Paguyuban batik Yogyakarta saat perlihatkan kekhasan batik asli Yogyakarta di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Kunjungan tamu asal Yogyakarta, disambut baik oleh Pemkab Kudus. Perwakilan dari Pemkab Kudus menjelaskan kalau batik asal Kudus juga semakin dikenal oleh masyarakat Kudus dan luar Kudus.

Hal itu disampaikan Asisten II Budi Rahmad, menurutnya batik Kudus sudah mulai dikenal, termasuk menjadi salah satu potensi wisata lokal. Tiap kali ada pejabat dari luar kota atau tamu-tamu dari perusahaan di Kudus, pasti minta diantarkan ke pusat galeri batik Kudus.

”Jadi patut bangga, memiliki perajin batik yang mulai menyadari untuk memperkenalkan hasil produknya ke luar Kudus. Misalnya ikut pameran dan memperluas jaringan dengan memanfaatkan media sosial, sehingga orang lebih tahu batik Kudus,” katanya saat menyambut tamu di lantai empat.

Ia menambahkan, apalagi, pas kebetulan saat kunjungan jatuh pada Kamis, semua pejabat Pemkab Kudus juga diharuskan memakai batik, hal itu untuk mengenalkan batik asli Kudus. (FAISOL HADI/TITIS W)

Siswa SD Kini Tak Bingung Motif Batik Kudus

Seorang perajin batik menyelesaikan pekerjaannya di Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Seorang perajin batik menyelesaikan pekerjaannya di Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Selain menjadi pengusaha batik Kudus, Ummu Asiyati juga menjadi pembimbing membatik siswa siswi sekolah dasar di gerainya di Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kudus.

Biasanya, bimbingan itu hanya bimbingan biasa. Serta dilakukan atas dasar kerja sama dengan instansi pendidikan jelang Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat Sekolah Dasar (SD).

“Memang siswa SD harus dikenalkan dengan kearifn lokal membatik ini. Yaitu dengan cara aktif di lomba membatik,” katanya.

Sejauh ini, dia membimbing cara membatik motif Kudus. Seperti corak cengkeh, tembakau, menara dan sebagainya. Tujuannya agar siswa mengetahui corak batik khas Kabupaten Kudus. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

Ini Detail Fisik Batik dengan Pewarna dari Limbah Tembakau

Ummu Asiati menunjukkan batik Kudus yang diwarnai dengan limbah tembakau (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

Ummu Asiati menunjukkan batik Kudus yang diwarnai dengan limbah tembakau (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS – Daerah Kudus yang merupakan produsen rokok yang besar, membuat Ummu Asiati, warga Gribig, Kecamatan Gebog, Kudus memiliki ide untuk menggunakan limbah rokok sebagai pewarna batik Kudus. Pemilik Industri Batik Alfa ini berhasil membuat terobosan baru di bidang kerajinan batik.

Batik ini, meskipun menggunakan pewarnaan yang tidak umum, akan tetapi mampu menghasilkan batik yang sangat bagus. “Batik ini memiliki warna yang lembut, coklat keabu-abuan yang tidak dimiliki oleh Batik Kudus dengan pewarnaa biasa,” ungkapnya.

Ditambah dengan motif khas Kudus berbentuk daun tembakau, membuat batik ini menyita perhatian masyarakat. Dalam pengerjaannya, limbah tembakau yang digunakan adalah limbah cair yang direbus dan dikentalkan.

“Awalnya limbah direbus hingga mengental dan pekat. Biasanya dari 5 liter limbah jadi 3 liter.Kemudian kain batik yang sudah dimotif dengan lilin, dicelupkan pada limbah tersebut hingga lima kali. Proses selanjutnya kain dicelupkan pada air trawas dan kapur,” katanya. (AYU KHAZMI/KHOLISTIONO)

Mantap! Warga Ini Manfaatkan Limbah Pabrik Rokok untuk Pewarnaan Batik

Ummu Asiati menunjukkan batik Kudus yang diwarnai dengan limbah tembakau (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

Ummu Asiati menunjukkan batik Kudus yang diwarnai dengan limbah tembakau (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS – Sebagai salah satu daerah di Jawa Tengah yang memiliki segudang budaya, Kudus banyak dikenal oleh banyak orang. Dari wisata religi, keindahan alam, kota pesantren dan kota Kretek. Hal ini membuat Kudus jadi destinasi wisata yang mempesona.

Salah satu budaya yang juga telah diakui dunia adalah dari seni batiknya. Ya, batik Kudus bahkan telah diakui sebagai warisan budaya tak berwujud warisan manusia (Representative List of The Intangible Cultural Heritage of Humanity) oleh UNESCO. Bahkan kini batik Kudus telah dikembangkan dengan cara yang unik.

Oleh Ummu Asiati, warga Gribig, Kecamatan Gebog, batik Kudus ini makin bernilai dengan cara pembuatannya yang unik. “Untuk batik yang satu ini tidak menggunakan pewarna yang biasa dipakai. Namun menggunakan limbah tembakau, ” ujarnya pada MuriaNewsCom.

Pewarnaan dengan limbah tembakau ini ditemukannya saat melakukan eksperimen dengan salah satu sekolah SMA Negeri di Kudus satu tahun silam. Dirinya mengaku mendapatkan limbah tembakau dari perusahaan rokok di Kudus.

Saat ini dirinya hanya memiliki 1 lembar kain saja. “Sebenarnya ada dua, yang satu milik saya dan satu lagi milik siswa yang dulunya menjadi rekan eksperimen kami, ” jelasnya.

Batik dengan warna dari limbah tersebut sangat diminati, bahkan oleh warga asing. Beberapa kali dirinya menceritakan jika batik dari limbah tembakau miliknya sudah banyak diincar, namun dirinya tidak ingin menjual. (AYU KHAZMI/KHOLISTIONO)

Disayangkan, Terkendala Bahan Batik Kudus Limbah Tembakau Belum Bisa Berkembang

www.muriabatikkudus.com

www.muriabatikkudus.com

 

KUDUS – Meski Kudus terkenal dengan kota Kretek yang memiliki banyak perusahaan rokok, tidak lantas membuat jalan Ummu mulus. Harapannya untuk mengembangkan batik Kudus dengan pewarnaan limbah tembakau ini berhenti, akibat tidak tersedianya bahan.

Sebelumnya, untuk percobaan dirinya mendapatkan limbah dari salah satu perusahaan rokok Kudus. ”Namun untuk produksi dalam jumlah banyak, tentunya membutuhkan limbah yang sangat banyak dan selalu tersedia,” katanya.

Menurutnya, pengembangan batik ini akan semakin berkembang dan dikenal jika diproduksi secara masal. Ummu menceritakan sudah banyak orang yang tertarik ingin membeli batik buatannya tersebut.

”Sempat Guru besar UGM, wisatawan dan masyarakat yang ingin membelinya. Akan tetapi tidak saya perbolehkan karena memang hanya satu,” ungkapnya.

Saat ini beberapa upaya sudah dilakukannya untuk mendapatkan izin dan limbah dari perusahaan, namun belum didapatkannya hingga sekarang. ”Semoga nanti pemerintah bisa memberikan bantuan agar produsen semakin semangat mengembangkan batik, serta kecukupan bahan baku,” harapnya. (AYU KHAZMI/TITIS W)

Aisa Senang Bisa Belajar Membatik

Para siswa SD N 2 Getasrabi belajar membatik Batik Kudus di pusat kerajinan batik Asyyofa. (MURIANEWS / EDY SUTRIYONO)

KUDUS – Setelah dikenalkan peralatan membatik, mulai dari canting, malam, dan kompor batik, para siswa SD N 2 Getasrabimulai membatik. Meski hasilnya belum maksimal, para siswa senang bisa mengenal Batik Kudus.

Lanjutkan membaca