Hujan Sebentar, Jalan di Kawasan Menara Kudus Terendam Air

Pezaiarah tampak berjalan kaki di kawasan Menara Kudus, Kamis sore. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Kawasan Menara Kudus terendam pascahujan yang turun, Kamis (20/7/2017) sore sekitar pukul 17.00 WIB. Bahkan hingga sekitar pukul 18.00 WIB, hujan masih belum reda.

Di kawasan Menara Kudus, air merendam di beberapa sudut. Tentu saja kondisi itu mengganggu aktivitas peziarah yang sedang berlalu lalang.

“Jalannya terendam. Tapi tidak masalah. Yang penting masih tetap bisa berziarah di makam Sunan Kudus,” kata salah seorang peziarah, M Udin.

Ketinggian air di kawasan Menara Kudus mencapai sekitar 5 cm-10 cm. Meski demikian, para peziarah tetap memadati. Hanya saat hujan, peziarah memanfaatkan emperan toko untuk tempat berteduh. Air yang merendam di wilayah itu biasanya cepat surut begitu hujan reda. 

Editor : Akrom Hazami

 

Banjir Rendam Purwodadi Grobogan Usai Hujan Turun Satu Jam

Kendaraan menerobos banjir yang melanda Purwodadi Grobogan, Senin. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Kota Purwodadi sempat terendam air, Senin (10/4/2017). Tidak hanya jalanan di kawasan kota saja tetapi juga di perkampungan penduduk di kawasan kota juga tergenang air cukup tinggi.

Tergenangnya banyak ruas jalan disebabkan hujan yang mengguyur kota Purwodadi selama hampir satu jam, mulai pukul 16.30 WIB. Akibat hujan yang sangat deras, saluran drainase yang tidak bisa menampung debit air.

Selain jalan, banyak juga rumah warga yang kemasukan air hingga 30 cm tingginya. Seperti di kampung Jagalan, Jengglong dan Jetis.

“Biasanya, air tidak pernah masuk meski hujan deras. Tetapi, kali ini air masuk dalam rumah. Hujannya memang deras banget tadi,” kata Ridhwan, warga Jengglong yang sedang membersihkan air di dalam rumahnya.

Selain drainase, penyebab tergenangnya ruas jalan dan perkampungan itu diduga disebabkan pintu pembuangan air dari kota ke Sungai Lusi tidak dibuka penuh. Akibatnya, air tidak bisa cepat terbuang menuju sungai dan sebagian meluber ke jalan dan perkampungan.

Banjir dadakan memang tidak berlangsung lama. Menjelang magrib, air yang menggenangi jalan dan perkampungan sudah mulai surut seiring berhentinya hujan. “Banjirnya memang tidak lama. Tapi sempat bikin repot,” ujar Liswati, warga lainnya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Grobogan Subiyono menyatakan, saat hujan deras masih mengguyur, pihaknya langsung meminta petugasnya untuk mengecek beberapa titik pintu pembuangan. “Sudah kita minta cek semua pintu pembuangan. Curah hujannya tadi memang tinggi sekali,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

 

Diterjang Banjir Bandang, Puluhan Perahu di Sungai Alasdowo Pati Terbalik

Sejumlah nelayan mencoba mengevakuasi perahu yang karam di Sungai Alasdowo, Jumat (7/4/2017), akibat diterjang banjir bandang. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sedikitnya 70 perahu yang bersandar di sungai Desa Alasdowo, Kecamatan Dukuhseti, Pati, terbalik akibat diterjang banjir bandang, Kamis (7/4/2017) dini hari.

Dari informasi yang dihimpun, hujan yang terjadi selama beberapa jam membuat Sungai Alasdowo diterjang banjir bandang. Akibatnya, beberapa perahu jenis wawu tersebut mengalami kerusakan pecah, terbalik, hingga tenggelam.

Ketua Kelompok Nelayan Pantai Alasdowo, Samian menuturkan, perahu yang bersandar di tepi sungai tersebut merupakan jenis perahu berkapasitas dua gross tonage (GT) dengan panjang tujuh meter dan lebar 2,5 meter. Puluhan perahu tersebut disandarkan di tepi sungai menggunakan tali tambang yang diikatkan pada pohon.

“Sekitar pukul 01.00 WIB, hujan lebat terjadi dalam waktu beberapa jam. Setelah itu, muncul banjir bandang dari arah barat, menerjang perahu-perahu yang disandarkan di tepi sungai,” ucap Samian.

Akibat banjir bandang tersebut, puluhan perahu saling berbenturan hingga menyebabkan kerusakan hingga terbalik. Bahkan, sebagian perahu hanyut terbawa arus banjir lantaran ikatan tali pada perahu lepas.

“Kami sempat melakukan evakuasi bersama warga, anggota polisi, TNI dan relawan. Ada lima perahu yang belum ditemukan, sedangkan perahu berukuran besar kondisinya masih terbalik sehingga butuh alat berat untuk melakukan langkah evakuasi lebih lanjut,” tuturnya.

Sebanyak 70 perahu yang diterjang banjir bandang tersebut merupakan milik 65 orang nelayan. Tidak ada korban jiwa dalam tragedi tersebut, sementara kerugian material masih belum bisa diperkirakan.

Editor : Kholistiono

Hujan Sebentar, Halaman SD 1 dan 2 Dersalam Kudus Terendam Banjir

Sejumlah siswa bermain di halaman sekolah yang digenangi banjir di SD 1 dan 2 Dersalam Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Halaman SD 1 dan 2 Dersalam Kudus, tergenang air setelah diguyur hujan, Kamis (6/4/2017) siang tadi. Hal itu berakibat terganggunya akses keluar masuk siswa dan guru.

Sulastri, guru SD 1 Dersalam, mengatakan hujan mengguyur di wilayah tersebut sekitar pukul 11.00 WIB hingga 11.30 WIB. Hujan berakibat tergenangnya halaman sekolah setinggi sekitar 10 centimeter.

Menurutnya, kondisi halaman yang lebih rendah ketimbang jalan membuat air yang menggenang semakin banyak. Ditambah lagi, selokan di luar sekolah yang mampet, membuat air susah mengalir. “Sebenarnya dalam sehari saja sudah surut, asalkan tidak diguyur hujan lagi. Karena dalam waktu beberapa jam air dalam selokan sudah mengalir meski tak banyak,” ungkap dia.

Di sekolah tersebut, tiap kali hujan pasti tergenang air. Halaman SD 1 dan 2 Dersalam menyatu. Karena, kedua SD tersebut saling berhadapan dengan sisi timur untuk SD 1 dan sisi barat untuk SD 2.  Dia berharap pemerintah dapat membantu mengatasi masalah tersebut. Karena, selain sudah berlangsung lama, juga menganggu proses pembelajaran. Para siswa harus belajar dengan tanpa alas kaki lantaran sepatunya basah.

Kabid Dikdas pada Disdikpora Kudus Kasmudi mengatakan, pihaknya belum tahu detail persoalan sekolah itu. Namun pihaknya akan menindaklanjuti hal tersebut dan membantu dalam anggaran. “Nanti bisa diusahakan, kalau perlu dicarikan solusi agar siswa belajar dengan nyaman tanpa adanya genangan. Apakah itu ditinggikan ataukah bagaimana,” ucap Kasmudi.

Editor : Akrom Hazami

Tiap Hujan Kerap Banjir, Warga Minta Sungai di Desa Kalimaro Grobogan Dinormalisasi

Kaposek Kedungjati AKP Sapto (pakai sepatu boot) bersama anggotanya sedang mengecek sekitar jembatan Mliwang yang sempat tergenang air, Senin (3/4/2017) sore. (MuriaNewsCom / Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah warga mendesak upaya normalisasi sungai kecil di bawah jembatan Dusun Mliwang, Desa Kalimaro, Kecamatan Kedungjati. Sebab, setiap hujan deras mengguyur, jalan raya Gubug-Kedungjati yang ada di atas jembatan selalu tergenang air. Seperti yang terjadi pada Senin (3/4/2017) sore.

“Sore tadi, jalan di atas jembatan yang posisinya agak rendah tergenang air. Arus lalu lintas sempat tersendat dari kedua arah. Kondisi seperti ini sudah berlangsung cukup lama. Salah satu solusinya adalah menormalisasi sungai Mliwang,” kata Surono (45), warga setempat.

Genangan air yang menutup jalan memang tidak berlangsung lama. Biasanya, berkisar 1-3 jam tergantung kondisi curah hujan. Jika hujan sudah berhenti, maka tidak lama kemudian, genangan air akan hilang dengan sendirinya. Saat air surut, tumpukan sampah biasanya banyak tertinggal di atas jembatan dan butuh waktu sejenak untuk membersihkan.

Kaposek Kedungjati AKP Sapto saat dikonfirmasi membenarkan info jika sore tadi genangan air sempat menutup jalan raya yang menghubungkan wilayah Kabupaten Semarang dan Salatiga tersebut. “Banjir di lokasi ini sudah langganan tiap hujan deras. Saat jalanan tergenang kami tempatkan petugas untuk membantu kelancaran arus lalu lintas. Menjelang magrib tadi, air sudah hilang dari jalan,” jelasnya.

Setelah air surut, Sapto sempat mengecek kondisi jalan di sekitar jembatan yang sebelumnya tergenang air. Dari hasil pengecekan, ada ruas bahu jalan di sebelah utara jembatan di sisi timur yang ambrol terkikis air.

“Ini ada satu titik bahu jalan yang ambrol kena air dan akan kita laporkan pada instansi terkait supaya segera diperbaiki. Salah satu solusi untuk menghilangkan banjir dadakan ini memang mengeruk sungai yang kondisinya memang sudah dangkal. Sungai ini tidak ada muaranya karena fungsinya sebagai pembuangan air dari kawasan hutan,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

Banjir Terjang Desa Krikilan Rembang

Jembatan dan jalan di Desa Krikilan, Kecamatan Sumber tergenang banjir. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Hujan deras yang mengguyur Rembang pada Jumat (10/3/2017) malam, membuat sebagian wilayah kebanjiran. Salah satu wilayah yang kena banjir yaitu Desa Krikilan, Kecamatan Sumber, Rembang.

Sarminah, salah seorang warga Desa Krikilan mengatakan, hujan yang mengguyur wilayahnya sangat deras. Hal itu, membuat air sungai yang berada di desanya meluap dan sempat melebihi tinggi jembatan Desa Krikilan. “Air itu juga sempat meluber ke jalan raya antara Desa Krikilan dan Desa Kedungtulup,” katanya.

Dengan adanya banjir tersebut, membuat aktivitas warga sempat terganggu. Seperti halnya anak-anak yang mau berangkat sekolah, atau warga yang akan berangkat kerja atau ke sawah. “Tadi pagi anak-anak sekolah harus diantarkan orang tuanya. Supaya bisa melewati luberan air itu. Akan tetapi saat ini air juga sudah mulai surut,” ucapnya.

Terpisah, Kepala Desa Krikilan Sukirno mengutarakan, dengan adanya kondisi ini, menurutnya normalisasi sungai yang ada di perlintasan Sumber – Sulang harus dilakukan. “Selain itu, pendangkalan sungai Kedungsapen Jatihadi supaya bisa diutamakan. Sebab dengan pendangkalan itu, maka air juga sulit untuk mengalir dengan lancar. Sehingga di saat ada hujan, airnya langsung meluber ke jalanan,” paparnya.

Kepala BPBD Rembang Suharso mengatakan, saat ini pihaknya tengah berkoordinasi dengan pihak Kecamatan Sumber untuk sama-sama memantau banjir. “Taka da korban jiwa dalam banjir ini, tetapi warga harus tetap hati-hati dan saling menginformasikan kondisi yang ada di wilayahnya masing-masing,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Drainase Mampet Dibiarkan jadi Pemicu  Perkotaan di Kudus Sering Banjir

Warga menerobos jalan yang terendam air di Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom /Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Sam’ani Intakoris menuturkan persoalan paling mendasar adanya banyak genangan air di wilayah perkotaan adalah tidak berfungsinya drainase dengan semestinya. Akibatnya, air dari hujan tidak dapat dialirkan seperti semestinya ke drainase dan dialirkan ke sungai.

“Kondisi seperti itu sudah berlangsung cukup lama. Dan kondisi drainase sudah banyak lumpur dan juga dipenuhi dengan banyaknya sampah,” katanya di Kudus, Selasa (7/3/2017). 

Upaya yang dapat dilakukan supaya air di jalan bisa masuk ke dalam draenase adalah dengan memperbanyak imlet, atau jalan air Menuju drainase. Dengan demikan air dapat lebih mudah masuk drainase saat hujan.

Selain itu, upaya mengatasi persoalan macetnya drainase memang butuh adanya normalisasi. Saat ini, petugas khusus dari Pemkab Kudus sudah membentuk tim khusus untuk menormalisasi drainase. Hanya saja itu masih kurang maksimal karena panjangnya drainase.

Pihaknya berharap pemerintah desa dapat berperan aktif dalam hal melakukan normalisasi. Apalagi, desa dan masyarakat khususnya di perkotaan merupakan wilayah yang paling terdampak jika banjir menyerang. 

“Sebenarnya desa juga bisa membantu dalam hal mengatasi drainase yang mampet. Sekarang desa punya dana besar dan itu bisa dimanfaatkan. Meski milik kabupaten, namun dengan izin bupati diperbolehkan,” ungkapnya.

Berdasarkan pantauan, sejumlah titik saat hujan sesaat pasti dipenuhi dengan air. Seperti halnya dikawasan perempatan Jember, kawasan Kliwon dan juga sejumlah titik lainnya.

Editor : Akrom Hazami 

3 Kecamatan di Pati Diterjang Banjir Bandang, Jalan Jakenan-Winong Lumpuh

Kawasan jalan Desa Glonggong, Kecamatan Jakenan yang lumpuh karena terkena banjir bandang, Sabtu (4/3/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sejumlah daerah di tiga kecamatan di Kabupaten Pati diterjang banjir bandang, Sabtu (4/3/2017). Ketiga kecamatan yang diterjang banjir, antara lain Kecamatan Jakenan, Winong, dan Pucakwangi.

Dari informasi yang dihimpun, banjir bandang melanda sejak pagi dengan volume debit air yang semakin tinggi memasuki pukul 13.00 WIB. Banjir kiriman diduga berasal dari kawasan Pegunungan Kendeng.

Sontak, akses Jakenan-Winong dan sejumlah jalan di sekitarnya lumpuh. “Tadi pagi saya ngantor di Kecamatan Jakenan. Setelah pukul 09.00 WIB, banjir semakin tinggi sehingga mobil saya taruh di kawasan Glonggong. Saya langsung naik sepeda motor roda tiga,” ungkap Camat Jakenan Aris Soesetyo.

Akibat banjir bandang tersebut, tanggul sungai Desa Glonggong di kawasan SMPN 2 Jakenan jebol. Sejumlah pihak sudah mengirimkan puluhan sak berisi pasir. Namun, derasnya arus tidak memungkinkan untuk membendung tanggul yang jebol sepanjang lima meter.

“Tanggul di sekitar SMPN 2 Jakenan jebol. Arusnya sangat deras, sehingga upaya untuk membuat bendungan sementara menggunakan sak berisi pasir akan dijadwalkan Minggu (5/3/2017) besok,” imbuh Aris.

Di wilayah Kecamatan Winong, sejumlah daerah yang terkena banjir bandang, di antaranya Botok, Ketanji, Wirun, Pekalongan, dan lainnya. Di sejumlah titik, banjir mencapai setinggi paha orang dewasa.

“Banjir bandang biasanya sebentar dan langsung surut, ini kok awet. Di Pekalongan dan Ketanji sudah sejak pagi, sedangkan Wirun baru siang ini. Ini banjir kiriman dari wilayah selatan,” ucap Husna, warga Wirun, Winong.

Editor : Kholistiono

Kaki Korban Banjir Jatiwetan Kudus Ini Gatal dan Melepuh

Warga melintasi jalan banjir yang mulai surut di Desa Jatiwetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Selasa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Warga di wilayah yang kena banjir di Jatiwetan, Kecamatan Jati, mulai menderita penyakit. Di antaranya adalah penyakit gatal dan melepuh di bagian kaki. Itu tak lepas dari seringnya kaki mereka menerobos banjir.

Hal ini dialami Suparmi (55), dan anak-anaknya. Rumah mereka terendam banjir. Mereka memilih berada di rumah, ketimbang di tempat pengungsian. Akibatnya mau tak mau, mereka harus melintasi bagian lantai rumah yang terendam banjir.”Kaki seperti melepuh. Rasanya gatal sekali, saar habis kena air. Selain itu juga ada bagian kaki berwarna merah,” kata Suparmi ditemui di lokasi banjir desa itu, Selasa (21/2/2017).

Petugas kesehatan telah memeriksa penyakit gatal warga. Mereka kerap melakukan pemeriksaan kepada warga. Tidak hanya kesehatan, korban banjir juga mendapatkan bantuan logistik, meski tak setiap hari. Warga lain yang memilih bertahan di rumah saat banjir terjadi adalah Sudiman (70). Kakek ini mengaku tak ingin jauh dari rumah.
“Sudah dari kecil di rumah, jadi kondisi apapun kalau bisa, berada di rumah. Apalagi hanya banjir yang tidak terlalu tinggi,” ucap Sudirman.

Sebelumnya rumah milik Sudirman terendam hingga lutut orang dewasa, beberapa hari lalu. Kini, banjir sudah surut.  Camat Jati Andreas Wahyu mengatakan, pihaknya memantau para pengungsi yang sudah pulang ke rumah. Meski sudah pulang, namun beberapa tempat masih tergenang air.

“Saat ini ada lima KK yang masih bertahan di pengungsian. Mereka itu yang kali pertama datang karena paling awal kebanjiran. Namun infonya juga akan pulang,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Pengungsi Banjir Jatiwetan Kudus Tak Sabar Bersihkan Rumahnya yang Terendam

Warga membersihkan rumahnya yang sebelumnya terendam banjir di Desa Jatiwetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Selasa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Para pengungsi banjir Desa Jatiwetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, tak sabar ingin kembali ke rumahnya usai dari posko, Selasa (21/2/2017). Mereka ingin kembali hidup normal di rumahnya.

Seperti halnya Sukoco, warga Dukuh Barisan, Desa Jatiwetan. Dia mengatakan ingin kembali dari pengungsian bersama anak dan istrinya. Mereka ingin segera membersihkan rumah setelah sebelumnya digenangi banjir. “Tetangga sudah pada pulang, jadi ikutan pulang. Kondisi wilayah sekitar rumah juga sudah mulai aman dari banjir,” kata Sukoco saat ditemui di posko pengungsian Balai Desa Jatiwetan.

Sepengetahuannya, saat ini banjir tak setinggi sebelumnya yang mencapai setengah meter. Kini air banjir yang merendam rumah sudah surut. Yaitu mencapai sekitar 30 cm. Menurutnya, ketinggiannya saat ini terbilang aman untuk melakukan aktivitas.

Pihaknya yakin dalam waktu dekat, banjir akan cepat surut. Apalagi pintu air sungai Wulan di Tanggulangin juga sudah dibuka. Itu berdampak air cepat mengalir. “Paling nanti atau besok pagi sudah bersih airnya. Soalnya aliran airnya deras, kecuali kalau ada kiriman air lagi atau hujan turun,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Pengungsi Banjir Jatiwetan Kudus Nekat Pulang

 

Warga bersiap kembali ke rumahnya dari tempat pengungsian di Balai Desa Jatiwetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Selasa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)#banj

MuriaNewsCom, Kudus – Ratusan orang pengungsi banjir di Desa Jatiwetan, Kecamatan Jati, Kudus, dipulangkan, Selasa (21/2/2017). Pemulangan para pengungsi, disebabkan sudah menyurutnya banjir yang menggenangi permukimannya.

Kades Jatiwetan Suyitno, mengatakan pemulangan para pengungsi dilakukan secara berangsur. Pemulangan dimulai sejak pagi tadi. Rencananya, semua pengungsi bakalan pulang hari ini juga. Dengan pemulangan paling lambat sore nanti.

“Total pengungsi  di sini ada 300 lebih. Itu merupakan jumlah pengungsi se-Jatiwetan. Semuanya meminta untuk pulang hari ini juga,,” katanya di lokasi pengungsian, kepada MuriaNewsCom, Selasa.

Saat ini masih tersisa belasan orang yang belum pulang dari pengungsian. Mereka menunggu saudaranya pulang dari kerja. Mereka ingin bersama saudaranya pulang. Pemulangan para pengungsi merupakan inisiatif dari warga. Melihat kondisi rumah yang mulai terbebas dari banjir, mereka memutuskan untuk pulang.

Kendati tidak semua titik permukiman sudah surut banjirnya. Tapi warga tidak sabar. “Kami sudah bilang kepada warga agar tetap di pengungsian sampai kondisi aman. Namun mereka lihat tetangganya pada pulang, jadinya mereka ikut pulang,” ujarnya.

Dikatakan, dalam pengungsian yang bertempat di balai desa juga dicukupi segala sesuatunya. Seperti halnya makanan serta kebutuhan harian lainnya. Bahkan dalam posko pengungsian juga dilengkapi dengan hiburan televise dan lainnya.

“Kalau masyarakat merasa rumah belum aman, kami meminta untuk mereka kembali ke pengungsian. Kami buka untuk warga yang mau kembali, sambil menunggu waktu yang aman,” ungkap dia.

Editor : Akrom Hazami

 

Jalan Terendam Banjir, Akses Kudus-Purwodadi Terganggu

Sejumlah kendaraan menerobos banjir di jalan Kudus-Pati turut Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Sabtu (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Banjir masih menggenangi wilayah Kudus, Sabtu (18/2/2017). Salah satunya Jalan Kudus-Purwodadi. Akibatnya kendaraan harus hati-hati saat melintas. Terutama roda dua. Sebab tidak sedikit sepeda motor yang mesinnya mati saat memaksa terobos genangan air.

Salah seorang pemotor, Edy M, warga Undaan, mengatakan, genangan air berada di sepanjang Tanjung,  yaitu sekitar SPBU Tanjung Karang. “Yang paling dalam itu di bagian utara SPBU, kedalamannya mencapai 40 centimeter. Kendaraan yang melintas​ banyak yang mogok karena menerobos.  Kalau di  bagian selatannya hanya sekitar 15 centimeter. Lumayan aman dilalui,” kata Edy.

Praktis, penggun jalan mutlak lebih waspada saat melintasi jalanan banjir. Belum lagi, saat kendaraan melintas dari lawan arah dengan kecepatan tinggi, maka kendaraan kecil kena limpasan air. “Kalau jalan satu arah tak terlalu masalah, lha ini ada kendaraan dari arah berlawanan. Khususnya truk, maka ombak dari terjangan truk bisa membasahi motor dan menyebabkan mesin mati,” ucap dia. 

Dia menjelaskan kalau banjir sudah terjadi selama sepekan lebih. Namun hingga kini belum ada tanda-tanda banjir bakalan surut.

Editor : Akrom Hazami

Banjir, 137 Hektare Lahan Padi Gagal Panen di Kudus

Anak-anak bermain di lahan sawah yang terendam banjir di salah satu sudut di Kabupaten Kudus, beberapa hari lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Ribuan hektare (Ha) lahan pertanian di Kudus mengalami genangan air akibat hujan yang terus mengguyur, beberapa waktu terakhir. Akibatnya, sekitar 137 Ha lahan padi  mengalami gagal panen puso.

Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Kudus, Catur Sulistiyanto mengatakan, pihaknya mencatat sedikitnya terdapat 1.080 Ha padi yang terendam air. Lahan itu menyebar di sembilan kecamatan di Kudus.

Rinciannya, lahan di 29 desa tersebar di lima kecamatan. Masing- masing di Kecamatan Undaan ada 377 Ha di 12 desa, di Kecamatatan Jati 142 Ha di 5 desa, Mejobo 301 Ha di 7 desa, Jekulo 199 Ha di 2 desa, dan Kecamatan Kaliwungu seluas 61 Ha di tiga desa.

Di Kecamatan Jati, dari lima desa yang sawahnya terendam, paling luas berada di Desa Jetiskapuan dan Pasuruan Kidul, masing- masing 60 Ha dan 55 Ha.  Di Mejobo, genangan terjadi di Desa Kesambi, Kirig, Jojo, Mejobo, Payaman, Gulang dan Temulus. Di Kecamatan Jekulo ada di Bulungcangkring dan Bulung Kulon. Sementara di Kecamatan Kaliwungu ada di Garung Kidul, Banget dan Setrokalangan.

Di Kecamatan Undaan, ada 12 desa yang lahannya terendam. “Tapi paling parah di Desa Wonosoco sekitar 100 Ha dan Ngemplak 70 Ha. Sedangkan sisanya yang terendam luasnya bervariasi,” kata Catur di Kudus, Jumat (17/2/2017).

Dari total yang terendam, sejauh ini memang 137 Ha tanaman padi yang dipastikan puso. Hal itu disebabkan usianya antara 55 hari hingga 85 hari. Serta lama terendamnya lebih dari sepuluh hari.

Sebagai daerah yang lahannya juga mengalami puso, Camat Undaan Catur Widiyanto tak bisa berbuat banyak. Bahkan dirinya juga mendapat kabar ada petani wilayahnya yang sampai tiga kali musim tanam, alami gagal panen.  “Ada yang sampai tiga kali tanam, yaitu di Desa Wonosoco, tapi tidak bisa panen karena tanamannya mati terendam air,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

100 Rumah Kebanjiran di Tlogotirto Grobogan

Warga bersiaga di lokasi banjir Desa Tlogotirto,Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bencana banjir melanda wilayah Kecamatan Gabus, Grobogan, Kamis (16/2/2017) malam. Penyebabnya, hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut mulai menjelang magrib hingga pukul 21.30 WIB.

Daerah paling parah terkena banjir berada di Desa Tlogotirto. Di desa ini, ada puluhan rumah yang kemasukan air dengan ketinggian 10-40 cm. Air yang masuk ke rumah warga berasal dari luapan sungai Ngrejeng yang melintas di desa tersebut.

Selain rumah warga, luapan air juga sempat menggenangi jalan raya setinggi 10 cm. Akibat adanya genangan arus lalu lintas sempat tersendat karena kendaraan berjalan pelan.

“Banjir hanya berlangsung sebentar, sekitar satu jam saja. Prosesnya seperti banjir bandang. Rumah warga yang kemasukan air hampir mencapai 100 unit,” kata Kades Tlogotirto Adi Saputra.

Menurut Adi, banjir dadakan sudah sering kali terjadi. Namun, kali ini dinilai paling parah. Musibah itu disebabkan makin dangkalnya sungai dan sempitnya jembatan yang ada di atasnya sehingga air tidak bisa mengalir lancar.

“Solusinya memang ada pelebaran jembatan dan normalisasi sungai,” imbuhnya.

Selain di Desa Tlogotirto, guyuran hujan deras juga menyebabkan banjir di Desa Banjarejo. Namun, bukan rumah warga yang terkena dampak banjir tetapi areal persawahan. Sedikitnya, ada belasan hektare sawah di Dusun Medang yang tergenang air hampir 50 cm.

“Areal sawah yang terendam baru ditanami padi seminggu lalu. Pagi ini air mulai berangsur surut. Dalam dua hari terakhir memang turun hujan sangat deras dan berlangsung cukup lama,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik 

Editor : Akrom Hazami 

Polwan Cantik Hibur Murid RA di Posko Pengungsian Banjir di Jati Kudus

Polwan bermain dengan sejumlah anak di posko pengungsian banjir di Desa Jatiwetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sampai saat ini masih ada warga Kudus yang mengungsi akibat banjir, Selasa (14/2/2017). Di antaranya di Jatiwetan, Kecamatan Jati. Meski berada di pengungsian banjir, tidak lantas warga berhenti beraktivitas. Seperti  aktivitas mengajar anak-anak di RA.

Pantauan MuriaNewsCom di lokasi, kondisi kemeriahan tampak di tempat pengungsian. Anak-anak belajar sambil bermain. Kali ini, mereka ditemani sejumlah anggota Polwan.

Nailun Nidhom, guru RA Basirulana Tanggulangin mengatakan, kehadiran polwan di tengah-tengah aktivitas belajar amat membantu. “Membantu sekali, dan mereka sangat sabar bermain dengan anak-anak. Jarang dapat kesempatan semacam ini,” kata Nidhom di lokasi.

Keberadaan polwan sangat menarik perhatian anak-anak. Jika biasanya anak suka bermain-main sendiri dan lari kesana kemari, maka saat belajar dengan polwan, anak-anak tenang dan terlihat nurut.

Sebelumnya, pembelajaran sempat terhenti selama sepekan karena anak didik mengungsi bersama keluarga. Melihat hal itu, RA berinisiatif untuk mengajar di posko pengungsian mulai hari ini. Rencananya, kegiatan belajar tetap akan dilangsungkan.

Sementara itu, langkah para polwan membantu para pengungsi untuk belajar diapresiasi oleh Kapolres Kudus AKBP Andy Rifa’i. “Polwan dapat membantu, memberikan rasa aman dan nyaman di dalam pengungsian. Termasuk juga dengan membantu mengajar anak-anak. Itu bagus,” kata Andy.

Editor : Akrom Hazami

Rumah Pengungsi Banjir di Kudus Dipastikan Aman


Kapolres Kudus AKBP Andy Rifa’i saat meninjau kondisi pengungsian banjir di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom Kudus – Kapolres Kudus AKBP Andy Rifa’i mendatangi lokasi pengungsi banjir di sejumlah tempat. Kapolres datang bersamaan Kodim (Dandim) 0722 Kudus Letkol (CZi) Gunawan Yudha Kusuma . Kedatangan mereka meyakinkan pengungsi kalau rumah yang ditinggal akan aman.

Andy Rifa’i mengatakan, pihaknya sudah melakukan kordinasi dengan polsek yang ada di wilayah yang terdampak banjir.  “Kami ada 30 personel yang siaga dalam tiap pos. Jadi modelnya pengamanannya adalah dengan melakukan patroli di sejumlah tempat yang terdampak banjir,” katanya Senin (13/2/2017).

Model pengawasan dilakukan dengan perahu karet. Sejumlah perahu karet sudah disiapkan polres. Mengenai model patroli dan waktunya, dipercayakan kepada pihak polsek masing-masing. Namun dia mengimbau anggotanya agar makin rutin melakukan patroli. “Sejauh ini tak ada gangguan soal barang yang hilang. Sebab kami juga berkordinasi dengan pihak kodim dan tentunya pemkab, dalam hal keamanan dan penanganan bersama,” ujarnya.

Sementara, Letkol (CZi) Gunawanb mengatakan, pihaknya juga sudah menugasi koramil untuk mengamankan wilayahnya masing-masing.  Sehingga apa yang menjadi kebutuhan masyarakat dapat dibantu termasuk dalam hal keamanan wilayahnya.

“Kodim  masih memantau, sebab yang mengamankan wilayahnya adalah dari koramil masing-masing. Tentunya dengan kordinasi dengan polres dan juga pihak Pemkab Kudus,” imbuh dia usai memberi bantuan.

Editor : Akrom Hazami

Banjir Rendam Sebagian Besar Desa Setrokalangan Kudus

Seorang bapak memanggul anaknya saat melintas banjir di Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Kamis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Seorang bapak memanggul anaknya saat melintas banjir di Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Kamis. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Banjir yang merendam di Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, semakin meninggi, pada Kamis (9/2/2017). Bahkan, banjir hampir rata merendam desa. Kondisi demikian berakibat terganggunya aktivitas warga.

Ketinggian banjir rata-rata mencapai sekitar setengah meter. Banjir paling parah terjadi di Dukuh Karangturi. Seperti di jalan kampung Garung Kidul Karangturi. Suratman, warga setempat mengatakan, ketinggian air banjir mencapai sekitar setengah meter.

Untuk menuju desa, dia memilih jalan kaki ketimbang naiki kendaraan sepeda motor. “Kalau motor bebek tak bisa lewat. Pasti mesinnya mati karena air bisa sampai menutupi mesin. Daripada mesinnya mati, lebih baik jalan kaki,” kata Suratman di lokasi.

Banjir terjadi sejak kemarin. Kemudian saat malam hari hingga pagi tadi, air semakin meninggi. Akibatnya, warga yang mau beraktivitas menjadi terhambat. Warga berharap pemerintah membantu seperti menyediakan perahu untuk menyeberangi banjir.

Lokasi lain yang terendam banjir yakni di Dukuh Setro. Dengan kedalaman air rata-rata mencapai sekitar 40 cm. Di lokasi ini ada sekitar 10 rumah warga yang kemasukan air. Hal itu juga terjadi di Dukuh Kalangan.

Warga dibantu TNI dan polisi membersihkan rumah yang terendam banjir di Dukuh Goleng, Pasuruan Lor, Kudus. (ISTIMEWA)

Warga dibantu TNI dan polisi membersihkan rumah yang terendam banjir di Dukuh Goleng, Pasuruan Lor, Kudus. (ISTIMEWA)

 

Banjir juga terjadi di Dukuh Goleng, Desa Pasuruan Lor. Dengan ketinggian air sekitar mencapai 30 cm. Sekitar 30 rumah kemasukan air. Di antara pemicu banjir adalah intensitas hujan yang meninggi sejak semalam hingga pagi tadi. Polisi, TNI dan warga bahu membahu membersihkan rumah yang terendam banjir.

Editor : Akrom Hazami

Banjir di Karangturi Kudus Setinggi 40 Cm

Sejumlah warga berjalan kaki melintas di permukaan jalan yang terendam banjir di jalan Garung Kidul, Karangturi dan Dukuh Karangturi, Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Sejumlah warga berjalan kaki melintas di permukaan jalan yang terendam banjir di jalan Garung Kidul, Karangturi dan Dukuh Karangturi, Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Banjir yang merendam sepanjang jalan Garung Kidul, Karangturi dan Dukuh Karangturi, Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, semakin meninggi, Rabu (8/2/2017).  

Sundup, warga setempat mengungkapkan kalau genangan air sudah semakin tinggi dari sebelumnya. Hal itu nampak dari semakin banyaknya jalan yang tergenang air di Karangturi.”Kalau sebelumnya sebagaian jalan masih belum terendam. Tapi sekarang yang terendam semakin mendekati jalan raya,” kata Sundup kepada MuriaNewsCom di lokasi banjir desa itu.

Diperkirakan, kalau genangan di jalan yang awalnya sekitar 30 cm, kini semakin meninggi hingga 40 cm. Kondisi demikian membuat warga kian hati-hati saat melintas di jalan yang terendam banjir. Menurutnya, kemarin sore, (7/2/2017) air sudah perlahan surut. Namun mulai semalam hingga pagi tadi, (8/2/2017) air malah semakin tinggi.

Diperkirakan hal itu terjadi karena hujan yang mengguyur di sejumlah tempat.”Kalau kampung itu aman, yang parah itu jalannya. Tapi jika air masuk kampung, maka jalan hilang dan tak bisa dilalui,” ungkap dia

Sementara, Kepala BPBD Kudus Bergas Catursasi Penanggungan menyebutkan, banjir di Karangturi karena kiriman Sungai Wulan. Dan kemarin debit Sungai Wulan sudah berangsur turun, sehingga memungkinkan debit air menurun pula. “Hanya di sejumlah tempat ada hujan deras. Jadi kalaupun debit menurun namun selang beberapa waktu akan kembali naik,” ungkap dia.

Pihaknya juga sudah menyiapkan kendaraanuntuk evakuasi warga bila sewaktu-waktu dibutuhkan. “Ada perahu dan mobil, namun sekarang masih bisa dilalui motor, jadi masih aman,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Siswa Terobos Banjir Demi Bisa Sekolah di Karangturi Kudus

Siswa berangkat ke sekolah dengan menerobos jalanan yang banjir di Dukuh Karangturi,  Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Siswa berangkat ke sekolah dengan menerobos jalanan yang banjir di Dukuh Karangturi,  Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sejumlah siswa asal Dukuh Karangturi,  Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, nekat menerobos genangan banjir yang menutupi jalan. Para siswa tak mau absen sekolah meski kondisi jalan memprihatinkan.

Seperti halnya diungkapkan M Rizki, siswa SMA di Kudus. Dia rela menerobos banjir dengan jalan kaki dari desanya hingga jalan raya. Dia tak mau absen meski kondisi tak memungkinkan. “Kalau jalan kaki masih aman, jadi tetap lanjutkan sekolah. Sedangkan kalau pakai motor belum tentu aman, tergantung jenis motor dan yang mengendarai,” kata Rizki, di lokasi, Rabu (8/2/2017).

Waluyo, warga setempat juga menerjang banjir agar tetap bisa berangkat sekolah. “Iya masih sekolah, masih bisa lewat kok, jadi ya masuk sekolah saja,” ucapnya sambil jalan.

Berdasarkan pantauan, para siswa yang menerobos banjir tak semuanya jalan kaki, ada yang mengendarai sepeda motor dan sepeda. Beberapa siswa membawa pakaian ganti. Serta ada yang membungkus pakaian seragam dan sepatunya  supaya tak basah.

Ada juga orang tua yang mengantarkan anaknya ke sekolah. Sundup, misalnya. Dia mengantarkan anaknya ke sekolah. Sebab dia merasa kasihan jika anaknya harus jalan kaki dalam kondisi banjir.

Editor : Akrom Hazami

 

Puluhan Rumah dan Lahan Pertanian di Desa Kasihan Pati Terendam Banjir

 Sejumlah kendaraan melintas di jalan perkampungan Desa Kasihan yang terendam banjir. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah kendaraan melintas di jalan perkampungan Desa Kasihan yang terendam banjir. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Puluhan rumah di Desa Kasihan, Kecamatan Sukolilo, Pati terendam banjir, Selasa (7/2/2017). Genangan air setinggi 30 cm tersebut merupakan sisa dari banjir setinggi 50 cm yang melanda kawasan tersebut pada Senin (6/2/2017).

Akibat banjir tersebut, jalur alternatif Pati-Kudus sempat tergenang air sehingga akses transportasi tersendat. Dari pantauan di lapangan, aktivitas warga terganggu karena rumahnya yang digenangi air.

Apalagi, hujan kembali mengguyur kawasan tersebut dan sebagian besar wilayah Kabupaten Pati, Selasa (7/2/2017) hingga sekitar pukul 15.00 WIB. Sontak, genangan air belum juga surut sehingga warga tidak bisa beraktivitas.

Karis, penduduk setempat mengatakan, banjir di Desa Kasihan sempat masuk ke rumah hingga ketinggian 30 cm. “Ini banjir langganan setiap tahunnya saat hujan deras mengguyur. Terlebih, daerah ini mendapatkan limpahan air dari Pegunungan Kendeng,” ujar Karis.

Bahkan, banjir kiriman dari Pegunungan Kendeng yang datang secara tiba-tiba acapkali membuat warga belum sempat mengamankan barang-barang dalam rumah, seperti televisi. Hal itu yang membuat sejumlah warga harus kehilangan barang-barang elektronik saat banjir melanda.

Tak hanya menggenangi pemukiman dan jalan raya, banjir juga merendam areal persawahan penduduk seluas 20 hektare. Para petani yang rata-rata menanam padi dan masih berusia dua bulan dipastikan mengalami kerugian.

Editor : Kholistiono

Kaliwungu Siapkan Pengungsian untuk Antisipasi Korban Banjir

Warga menerjang banjir di Kaliwungu, Kudus. (MuriaNewsCom /Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Debit air yang makin meninggi di Dukuh Karangturi, Desa Setro kalangan, Kecamatan Kaliwungu, membuat pemerintah kecamatan was-was. Guna mengantisipasi air yang makin meninggi, pihak kecamatan menyiapkan tempat evakuasi untuk masyarakat.

Sekcam Kaliwungu M Fitrianto mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan sejumlah tempat di Kecamatan guna menangani pengungsian. Beberapa lokasi di antaranya di aula, musala dan gedung lain yang bisa dimanfaatkan.

“Kami berharap debit air makin turun. Sebab pagi tadi dari laporan yang saya terima, debit sungai Wulan sudah turun sekitar enam centimeter,” katanya saat dihubungi MuriaNewsCom. 

Pihak kecamatan sudah melakukan kordinasi dengan pemerintah desa untuk mengantisipasi segala hal yang mungkin terjadi. Melihat genangan yang makin tinggi, dia juga mengingat masyarakat agar tetap waspada.

Dia mengatakan, jika sampai air mengenai dalam rumah warga di Karangturi, maka dapat dipastikan daerah akan terisolasi. Jalan menuju kampung juga tak bisa dilalui lantaran dalamnya genangan.

“Soalnya kampung sama jalan itu tinggi kampung, jadi jika sampai masuk rumah warga semakin dalam, maka jalan dipastikan tak bisa dilalui,” imbuhnya.

Saat ini kordinasi dengan pihak BPBD sudah dilakukan. Hal itu guna mengantisipasi air yang makin tinggi, sehingga warga butuh evakuasi dengan cara aman. Pihaknya meminta mobil tinggi digunakan untuk evakuasi warga nantinya, bahkan perahu jika memang arus terlalu tinggi. 

“Kami pantau terus, dan mudah-mudahan air dapat segera surut dari wilayah tersebut,” ungkapnya.

Dikatakan, sebenarnya genangan tak hanya menimpa Karangturi saja. Namun Dukuh Kacu, Desa Banget juga ada. Bahkan mulai sore kemarin lima rumah sudah kemasukan air. 

Editor : Akrom Hazami 

Desa Karangturi  Kudus Terendam Air Akibat Bendung Wilalung Dibuka

Petani menerobos jalanan yang digenangi air di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Selasa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petani menerobos jalanan yang digenangi air di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Selasa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Dibukanya pintu air Bendung Wilalung, Undaan ternyata berdampak di sejumlah tempat. Salah satunya di Dukuh Karangturi, Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu. Air menggenangi area jalan dan persawahan desa.

Argo, petugas penyuluh pertanian lapangan (PPL) di Kecamatan Kaliwungu mengatakan, air menggenangi sawah milik warga sejak Selasa (7/2/2017) pukul 05.00 WIB. “Kalau puncaknya pagi tadi, sekitar jam 06.00 WIB. Informasi yang saya terima, air sampai setinggi sekitar 20 centimeter di jalanan menuju kampung. Namun kini sudah mulai surut airnya terlihat air yang mulai meresap di jalanan,” katanya di lokasi.

Dikatakan, penyebab banjir di kawasan tersebut adalah dibukanya pintu air Bendung Wilalung kemarin. Akibatnya, air sampai meluber. Menurutnya, air di dukuh tersebut belum sempat masuki rumah milik warga. Hanya saja, air sudah menggenang di pertanian warga mencapai 32 hektare lahan tanaman padi. Padahal, sebagian tanaman padi sudah menguning dan siap untuk dipanen.

Dikatakan, kemungkinan padi untuk dapat dipanen masih tinggi karena air bening dan rendaman saja. Berbeda jika air yang datang bercampur lumpur maka padi sudah tak dapat diselamatkan lagi. Selain tanaman padi, juga ada tanaman tebu. Dikatakan, sebenarnya kawasan lain di Kaliwungu juga ada yang terdampak banjir, yaitu kawasan Desa Banget. Namun air masih dalam kategori aman Lantaran hanya menggenangi sawah dan di tanggul.

Editor : Akrom Hazami

 

Begini Tanggapan Perhutani KPH Purwodadi Soal Banjir Bandang yang Melanda Klambu

 

Administratur Perhutani KPH Purwodadi Damanhuri (paling kiri) saat meninjau kawasan hutan di BKPH Penganten pasca musibah banjir bandang. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Administratur Perhutani KPH Purwodadi Damanhuri (paling kiri) saat meninjau kawasan hutan di BKPH Penganten pasca musibah banjir bandang. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah pihak meminta supaya pihak Perhutani melakukan upaya lebih serius untuk mencegah terjadinya banjir bandang di wilayah Kecamatan Klambu. Permintaan itu disampaikan karena penyebab banjir bandang tersebut berasal dari air yang mengguyur dari kawasan hutan di Pegunungan Kendeng Utara.

Permintaan warga tersebut barangkali cukup beralasan. Sebab, banjir bandang bukan terjadi kali ini saja. Pada pertengahan Desember 2015 lalu, banjir bandang juga melanda wilayah tersebut.  Proses kejadian dan desa yang terkena dampak banjir hampir sama dengan peristiwa pada Minggu (5/2/2017) malam.

Administratur Perhutani KPH Purwodadi Damanhuri ketika dimintai tanggapannya menyatakan, banjir yang terjadi di Klambu disebabkan adanya hujan deras yang berlangsung dari pukul 18.00-22.00 WIB. Berdasarkan pengamatan pada SPL curah  hujan di BKPH Penganten, kapasitasnya tercatat sampai 750 ml.

Banyaknya air hujan tersebut akhirnya menyebabkan banjir bandang yang menimpa perkampungan penduduk, perkantoran dan sekolahan. Terutama, di Desa Penganten, dan Desa Klambu.

“Dari pengamatan yang kita lakukan, air yang menyebabkan banjir tersebut diperkirakan berasal dari petak 24, 25, 26, 27, 28, 29 dan petak 30 di BKPH Penganten. Di kawasan itu, rata-rata didominasi tanaman dengan tegakan Kelas Umur Muda,” jelasnya pada wartawan, Senin (6/2/2017).

Damanhuri menjelaskan, jauh sebelum terjadi banjir, pihaknya telah melakukan banyak pohon di kawasan tersebut. Namun, sebagian besar tanaman yang sudah tumbuh tinggi itu telah dirusak oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Kemudian, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan beberapa instansi lainnya untuk menangani penggarapan liar di kawasan hutan. Yakni, adanya lahan terlarang milik Perhutani yang ditanami jagung oleh masyarakat.

“Kami akan berkoordinasi lebih intensif dengan jajaran Pemkab Grobogan, Polres Grobogan, Polres Kudus dan Pati untuk pengamanan hutan dan menangani masalah penggarapan liar. Untuk diketahui, petak hutan yang kita perkirakan jadi penyebab bencana itu berada di tiga wilayah kecamatan di tiga kabupaten. Yakni, Kecamatan Undaan (Kudus), Klambu (Grobogan) dan Sukolilo (Pati). Kami bersama berbagai instansi terkait lainnya akan berupaya keras untuk mencegah terulangnya musibah banjir bandang ini,” tegas mantan Administatur KPH Bondowoso itu.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Kelas Terendam Banjir, Siswa SDN 01 Klambu Grobogan Tak Bisa Belajar

Siswa dan guru membersihkan kelas usai terendam banjir di SDN 01 Klambu, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Siswa dan guru membersihkan kelas usai terendam banjir di SDN 01 Klambu, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Selain rumah penduduk, dampak banjir bandang di Kecamatan Klambu, Kabupaten Grobogan, ternyata juga melanda sekolahan. Salah satu sekolah paling parah terkena dampak banjir adalah SDN 01 Klambu. Bahkan, akibat terkena terjangan banjir, kegiatan belajar diliburkan. Gara-garanya, semua bangunan sekolahan terendam air.

“Tadi pagi pas jam masuk sekolah semua ruangan masih penuh air setinggi 10 cm. Anak-anak terpaksa kita liburkan Saat ini airnya mulai surut dan kita sedang kerja bakti membersihkan sisa air dan lumpur,” kata Kusiyati, guru kelas IV yang ditemui di lokasi, Senin (6/2/2017).

Menurutnya, banjir yang melanda sekolahnya datang sekitar pukul 22.00 WIB. Air yang merendam sekolah berasal dari limpasan di utara jalan raya di depan bangunan sekolah. “Tadi malam ketinggian air di ruangan sekitar 30 cm. Semua ruangan kelas dan kantor kemasukan air. Halaman sekolah juga penuh air tadi malam. Air berangsur surut menjelang subuh,” jelasnya.

Selain kegiatan belajar, dampak banjir bandang juga mengakibatkan terganggunya pelaksanaan seleksi Popda cabang olahraga bola voli dan sepak takraw. Sedianya, seleksi dilangsungkan di halaman SDN 01 Klambu. “Hari ini harusnya ada seleksi Popda SD di sini. Lantaran lokasi tidak memungkinkan, tempatnya dipindahkan ke SDN 01 Wandankemiri,” ungkap Rajin, guru olahraga SDN 01 Klambu.

Dari pantauan di lapangan, selain guru dan penjaga sekolah, puluhan siswa juga ikut membantu kegiatan bersih-bersih sisa banjir. Baik yang ada di ruangan maupun di halaman. Kegiatan pembersihan sisa banjir juga dibantu sejumlah personel dari Perhutani KPH Purwodadi. Bahkan, Administratur KPH Purwodadi Damanhuri dan Wakilnya Ronny Merdyanto ikut hadir di sekolahan yang ada di sebelah timur kantor Kecamatan Klambu tersebut.

“Kita memang mengerahkan anggota untuk bakti sosial menyusul adanya bencana membantu warga yang kena musibah,” ungkap Ronny.

Editor : Akrom Hazami

Sering Terendam Air, MI NU Basyirul Anam Jatiwetan Kudus Berharap Bupati Turun Tangan

Siswa saat melakukan aktivitas di MI NU Basyirul Anam Desa Jatiwetan, Kecamatan Jati, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Siswa saat melakukan aktivitas di MI NU Basyirul Anam Desa Jatiwetan, Kecamatan Jati, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sejumlah ruang kelas di MI NU Basyirul Anam, di Desa Jatiwetan, Kecamatan Jati, Kudus, terendam air banjir, sejak beberapa hari terakhir. Hal ini membuat proses belajar agak terhambat.

Kepala MI NU Basyirul Anam, Hayati Nimah, mengatakan banjir merendam sekolahnya semenjak Sabtu lalu. Banjir disebabkan akibat hujan lebat sebelumnya. “Ada satu ruang untuk MI, dan ada satu ruang lainnya yang terendam yakni untuk TK. Meski demikian KBM masih tetap dilanjutkan seperti biasanya,” katanya kepada MuriaNewsCom di lokasi, Selasa (31/1/2017).

Menurutnya, untuk kelasdi  MI yang terendam air, proses pembelajaran dialihkan pada bangunan lantai II. Di atas, terdapat ruangan kosong, yang dapat dimanfaatkan untuk proses pembelajaran seperti biasanya.

Sedangkan untuk TK, proses pembelajaran juga masih dilanjutkan. Dengan cara mengalihkan pembelajaran di musala sekolah. Sebab hanya musala saja yang dapat dimanfaatkan untuk proses pembelajarannya. “Sekolah di sini swasta, modelnya juga yayasan, jadi satu sama lainnya saling membantu. Termasuk juga untuk TK dan juga untuk MI di sini juga demikian,” ujarnya.

Dikatakan, kalau sekolah yang berdiri sejak 1958 itu menjadi langganan genangan tiap kali terjadi cuaca ekstrem. Dalam beberapa bulan saja, halaman sekolah tercatat tergenang hingga 20 kali. Dan kali ini masuk ke ruangan kelas dengan genangan sekitar 25 centimeter.

Untuk mengantisipasi hal itu, pihak yayasan merencanakan peninggian kelas. Hal itu dapat membantu proses pembelajaran agar tak terganggu dengan adanya genangan air yang kerap menimpa sekolah. “Kami juga menginginkan bantuan kepada Bupati Kudus. Beberapa kali kami sudah mengajukan bantuannya dalam hal peninggian bangunan sekolah,” harapnya.

Editor : Akrom Hazami